Berita

Melihat “si mata-mata” Operasi Trikora di Musdirla

Dibaca: 318 Oleh 10 Jun 2010Tidak ada komentar
indonesianf16pesawat0170 tniau
#TNIAU 

Operasi Trikora tentu telah dikenal, dikenang sekaligus tercatat dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Peristiwa Pembebasan Irian Barat tersebut telah melahirkan tokoh-tokoh pejuang yang menjadi kusuma bangsa. Namun di balik kebesaran Operasi Trikora sangat sedikit orang yang tahu atau mengenal alutsista pendukungnya. Salah satunya adalah Radar Darat Nysa buatan negara Polandia tahun 1960.

Melalui Radar Darat Nysa lalu lintas udara dapat dimonitor, sehingga akan diketahui apakah itu keberadaan pesawat milik musuh atau pesawat pihak sendiri. Radar yang pernah menjadi “mata-mata” untuk mengamati secara dini hadirnya pesawat musuh ini, kini menjadi benda koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantala Mandala Yogyakarta. Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Museum Pusat TNI AU Dirgantala Mandala Yogyakarta Letkol Sus Drs. Sudarno saat memandu rombongan dari SMP PGRI 9 Cipayung Jakarta, Kamis (10/6)

Di hadapan rombongan siswa SMP tersebut Kepala Museum kemudian menceritakan kembali tentang Operasi Trikora. Dikisahkan setelah dengan usaha-usaha diplomasi untuk mengembalikan Irian Barat selalu mengalami jalan buntu, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menggunakan kekuatan militer. “Dalam rapat raksasa di Alun-alun Yogyakarta, tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat atau Trikora dalam rangka membebaskan Irian Barat dari belenggu kolonialisme Belanda.,” terangnya.

Baca juga:  SURVIVAL SISWA-SISWI C.A.T. DI LANUD ASTRA KSETRA

Dalam panduannya Kepala Museum mengatakan bahwa di museum seluas 8765 m² ini banyak tersimpan kisah perjalanan TNI AU. Tidak hanya cerita sejarah, namun di museum yang memiliki 40 koleksi pesawat terbang ini juga tersimpan suri tauladan para pendahulu TNI Angkatan Udara. “Meski hanya memamerkan koleksi pesawat dan barang-barang jaman dulu, namun justru lewat koleksi-koleksi ‘besi tua’ itu cerita tentang kebesaran TNI AU dan kegagahan “elang-elang perkasa” penjaga Dirgantara Indonesia dapat dituturkan kepada generasi penerus, “ tandas Kepala Museum mengakhiri penjelasan.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel