Berita

Menanggulangi Bencana Asap, BPPT Melaksanakan TMC

Dibaca: 40 Oleh 30 Agu 2016Tidak ada komentar
emb 314
#TNIAU 

Kebakaran lahan dan hutan di musim kemarau sering terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Di propinsi Kalimantan Barat kebakaran lahan dan hutan sudah menjadi kebiasaan buruk yang terjadi tiap tahun pada musim kemarau. Pemerintah pusat dan daerah dibantupihak-pihak yang berkompeten serta masyarakat bahu-membahu melaksanakan pencegahan dan pemadaman lahan yang terbakar.

Untuk menanggulangi bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan maka Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT melaksanakan pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Bertempat di Graha Teddy Kustari Lanud Supadio, Selasa (30/8) dilaksanakan pembukaan kegiatan TMC yang diikuti Komandan Lanud Supadio Marsma TNI Tatang Harlyansyah, S.E, Deputi Kepala BPPT bidang teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) Prof. Ir. Wimpie Agoeng Noegroho A, MSCE, Ph.d, BPBD Kalbar, BMKG Supadio, PT. Angkasa Pura II Bandara Supadio, Airnav Pontianak, dan puluhan anggota gabungan Lanud Supadio, Skadron Udara 1, Skadron Udara 51, Batalyon 465 Paskhas dan Denhanud 473 Paskhas.

Danlanud Supadio mengatakan salah satu tugas pokok TNI dalam masa damai adalah operasi militer selain perang atau OMSP. Termasuk didalamnya antara lain turut membantu menanggulangi akibat bencana alam dan juga pemberian bantuan kemanusiaan, yang merupakan salah satu tugas perbantuan yang harus dilaksanakan oleh TNI sebagai implementasi OMSP.

Baca juga:  Wara Lanud J.B. Soedirman Menerima Pembekalan dari Kepala Staf Angkatan Udara

“Dengan amanat tersebut, TNI selalu berusaha tampil dan terlibat langsung dalam setiap penanggulangan bencana, termasuk pencegahan dan pengendalian kebakaran lahan dan hutan. Atas dasar pemahaman ini, maka peran TNI dalam turut serta menanggulangi setiap bencana, selalu diupayakan secara optimal dengan menciptakan keselarasan dan keserasian dengan instansi lain.

Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) Prof. Ir. Wimpie Agoeng Noegroho A, MSCE, Ph.d, menambahkan bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan selama tahun 2015, menyisakan trauma yang cukup dalam bagi masyarakat Sumatera dan Kalimantan khususnya dan Indonesia pada umumnya.

”Di tahun 2015 beberapa lembaga riset dunia dan badan-badan meteorologi beberapa negara di dunia menyatakan adanya kejadian el nino kuat, bahkan kondisi ini berlangsung hingga triwulan pertama tahun 2016 dan baru mulai menurun dibulan April 2016,” katanya.

Ia menambahkan adanya kejadian el nino tersebut secara umum telah mengurangi intensitas curah hujan disebagian besar wilayah Indonesia, termasuk curah hujan di Sumatera dan Kalimantan berdasarkan lembaga riset dunia, sejak Juni 2015 peluang terjadinya el nino semakin menurun berbalik menjadi kondisi netral dan bahkan ada kecenderungan la-nina.

Baca juga:  Upacara Peringatan HUT ke-72 TNI Angkatan Udara di Lanud Jayapura

”Namun berdasarkan data yang ada di lapangan tampak bahwa sejak awal bulan Maret hingga April 2016 mulai muncul hotspot di wilayah Kalimantan dan memasuki bulan Mei hingga Agustus 2016 jumlah hotspot yang mulai terdeteksi meningkat di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Dengan kondisi ini, pemerintah tidak berani ambil resiko, upaya antisipasi harus tetap dilaksanakan untuk menghindari timbulnya ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan beberapa propinsi rawan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan,” jelas Deputi Kepala BPPT bidang TPSA.

 

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel