Berita Kotama

Mengenang kembali sejarah bangsa

Dibaca: 375 Oleh 28 Jan 2010Tidak ada komentar
Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala
#TNIAU 

A. Puncak Perjuangan Bangsa

Pada tahun 1945 Jepang menyerah kalah tanpa syarat kepada sekutu, setelah tentara sekutu dibawah pimpinan Amerika Serikat berhasil mengebom kota Hirosima dan Nagasaki. Berita menyerahnya Jepang kepada Sekutu sampai juga kepada Rakyat Indonesia yang pada waktu itu terus berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman penjajahan. Para Pemimpin rakyat Indonesia yang sudah lama untuk memerdekakan rakyat Indonesia dari tangan penjajah segera memproklamirkan kemerdekaanya.

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 membawa situasi baru bagi bangsa Indonesia, perubahan situasi baru ini merupakan titik balik dan peralihan dari suatu keadaan yang penuh dengan tekanan, penindasan dan eksploitasi untuk menuju kejaman baru dalam alam kemerdekaan.

Didaerah-daerah berita Proklamasi Kemerdekaan ini relatif cepat sampai dan tersebar luas dikalangan rakyat. Para pemuda pejuang mulai sadar dan bertekad untuk menghimpun kakuatan dengan tujuan merebut kekuasan dari tangan Jepang yang masih lengkap persenjataannya.

Sekalipun Jepang telah mengakui kekalahan dari Sekutu dan menyadari bahwa Indonesia telah merdeka, namun Jepang tetap tidak mau menyerahkan kekuasaanya kepada bangsa Indonesia. Keadaan ini menyebabkan para pemuda dan pejuang berbondong-bondong menyerbu tempat-tempat kedudukan tentara Jepang. Instalasi-instalasi militer dan juga pangkalan-pangkalan udara menjadi sasaran serangan para pemuda dan pejuang tersebut tanpa mendapat perlawanan yang berarti. Insiden-insiden perebutan senjata, barang-barang dan perlengkapan militer lain dari tangan jepang semakin memuncak dan hal ini sangat mengkhawatirkan para pemimpin bangsa karena pergerakan-pergerakan para pemuda dan pejuang pada saat itu belum terkoordinir dan terpimpin.

Melihat kondisi yang demikian maka pada tanggal 23 Agustus 1945 Presiden Soekarno menyerukan tentang pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan semua mantan prajurit dari PETA, HEIHO, KNIL dan Pemuda-pemuda yang terbentuk dari kelaskaran-kelaskaran untuk sementara waktu masuk dan bekerja dalam BKR. Seruan pemerintah melalui pidato radio Presiden Soekarno ini disambut baik oleh para pemuda dan pejuang ditiap-tiap daerah di Indonesia.

B. Awal Perjalanan Kekuatan Udara

Setelah ternyata Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, maka rakyat Indonesiapun menghimpun kekuatan untuk merebut kekuasaan dari Jepang dan membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Sebagian dari mereka merebut lapangan udara yang dikuasai oleh Jepang, kemudian membentuk Badan Keamanan Rakyat Udara (BKRO) sesuai lapangan perjuangan dan sejalan dengan tugas pengabdianya.

Adanya perubahan dan penyempurnaan organisasi BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) maka BKRO pun berubah menjadi TKR Udara yang lazim kitan kenal dengan nama TKR jawatan penerbangan. Sejalan dengan peningkatan TKR menjadi Tentara Republuk Indonesia (TKRI) pada tanggal 25 Januri 1946, maka TKR jawatan penerbangan juga mengalami perubahan menjadi TRI Udara (TRIO).

Makin lama, kepercayaan pemerintah dan rakyat makin besar, terbukti dengan keluarnya penetapan pemerintah No 6 / SD Tahun 1946 tertanggal Yogjakarta 9 April 1946 tentang pengesahan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) yang kemudian kita kenal hingga sekarang dengan nama TNI Angkatan Udara sejajar dengan TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.

Dalam perkembangan BKRO untuk dapat menjamin kelancaran operasi penerbangan militer, maka dibentuklah organisasi darat sebagai unsur bantuan dan pelayanan seperti : PLLU, Meteo, Perminyakan, Administrasi, dan lain sebagainya. Disamping itu dibentuk pula Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) yang mempunyai tugas pengamanan terhadap seluruh fasilitas dan instalansi pangkalan serta pertahanan terhadap serangan lawan.

PPP masih bersifat lokal dan berkedudukan dipangkalan Udara Bugis (Malang), Mojoagung (Surabaya), Cibeureum (Tasikmalaya), Kalijati (Subang), Pameumpeuk (Garut), dan di luar Jawa antara lain Palembang dan Padang.

Perundingan Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den haag Belanda yang ditanda tangani pada tanggal 27 Desember 1949, menandai berakhirnya masa kolonial belanda di Indonesia. Dengan demikian negara RI telah diakui kedaulatanya baik secara De facto maupun De jure oleh negara-negara lain di dunia Internasional. Salah satu pasal yang termuat dalam perundingan Konfrensi Meja Bundar tersebut mengenai upaya reorganisasi angkatan perang, khususnya Angkatan Udara yang akan diselesaikan dalam waktu enam bulan setelah pengakuan kedaulatan. Selanjutnya secara bertahap dilaksanakan serah terima Pangkalan Udara di seluruh Indonesia.

Baca juga:  Rapat Pemeliharaan Genset TA 2019 di Mako Koharmatau

Sesuai dengan tahap yang berlaku maka AURI juga mulai menyusun kembali kekuatannya, setelah selama periode perang kemerdekaan berjung bergerilya bersama-sama rakyat. Langkah dan usaha yang disemangati oleh kesetiaan dan pengabdian kepada nusa dan bangsa telah mempercepat proses konsolidasi dan pembinaan Angkatan Udara, sehingga dengan demikian mempercepat proses pembangunan lebih lanjut yaitu pembentukan dan pembinaan organisasi.

C. Perjalanan Sejarah Korpaskhas

Gubernur Kalimantan Ir.Pangeran Muhammad Noor mengajukan permintaan kepada AURI agar mengirimkan pasukan payung ke Kalimantan untuk tugas : membentuk dan menyususn gerilyawan, membantu perjuangan rakyat di kalimantan, membuka stasiun radio induk untuk memungkinkan hubungan antara yogjakarta dan kalimantan, dan mengusahakan serta menyempurnakan daerah penerjunan (Dropping Zone) untuk penerjunan selannjutnya.

Maka pada tanggaal 17 Oktober 1947 tiga belas orang anggota diterjunkan di Sambi Kotawaringin Kalimantan Tengah. Mereka adalah : Heri Hadi Sumantri, Iskandar, Kosasi, F.Suyoto, Bachri, J.Bitak, C.Williem, Imanuel, Amirudin, Ali Akbar, M.Dahlan, J.H.Darius dan Marawi. Kesemuanya belum pernah mendapat pendidikan secara sempurna kecuali mendapatkan pelajaran teori dan latihan didarat (Ground Training).

Peristiwa Penerjunan yang dilakukan oleh ke tiga belas prajurit AURI tersebut merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan tempur pasukan khas TNI Angkatan Udara. Dan sesuai keputusan MEN/PANGAU No.54 Tahun 1967, tanggal 12 Oktober 1967. Bahwa tanggal 17 Oktober 1947 ditetapkan sebagai hari jadi Komando Pasukan Gerak Cepat (KOPASGAT) yang sekarang dikenal dengan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (KORPASKHAS).

Dalam perjalanan sejarahnya organisasi Korpaskhas mengalami perubahan, berawal dari kebutuhan Badan Keamanan Rakyat Udara (BKRO) untuk melindungi pangkalan udara yang direbut dari tentara Jepang terhadap serangan tentara Belanda. Setelah Indonesia merdeka sekaligus konsolidasi BKRO dibentuklah organisasi darat yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) yang masih bersifat lokal. Baru pada tahun 1950 PPP dipusatkan di Jakarta dengan sebutan Air Base Defence Troop (ABDT) membawahi 8 kompi PPP

Pada tahun 1950 diadakan sekolah terjun payung di Lanud Andir dalam rangka mempersiapkan pembentukan pasukan PARA, hasil didik dari sekolah para inilah yang kemudian disusun kompi-kompi pasukan para. Setelah terbentuk kompi-kompi pasukan para, pada bulan februari 1952 dibentuk Pasukan Gerak Tjepat (PGT) sehingga pada tahun 1952 Pasukan TNI AU terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara).

Dalam rangka pembebasan Irian Barat, sesuai perintah MEN / PANGAU dibentuk Resimen Tim Pertempuran Pasukan Gerak Tjepat (RTP PGT).
Pada tanggal 15 Oktober 1962 berdasarkan Keputusan MEN / PANGAU No : 159 dibentuk Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU) yang terdiri dari markas Komando berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung. Resimen PPP membawahi 5 Batalyon masing-masing di Palembang, Banjarmasin, Makassar, Biak dan Jakarta sedangkan Resimen PGT membawahi 3 Batalyon masing-masing di Bogor, Bandung dan Jakarta.

Bedasarkan hasil seminar pasukan di Bandung pada tanggal 11 s/d 16 April 1966, sesuai dengan Keputusan MEN / PANGAU Nomor : 45 Tahun 1966, tanggal 17 Mei 1966, KOPPAU disahkan menjadi Komando Pasukan
Gerak Tjepat (KOPASGAT) yang terdiri dari 3 Resimen :

Resimen I Pasgat di Bandung, membawahi :
– Yon A Pasgat di Bogor
– Yon B Pasgat di Bandung

Resimen II Pasgat di Jakarta, membawahi :
– Yon A Pasgat di Jakarta
– Yon B Pasgat di Jakarta
– Yon C Pasgat di Medan
– Yon D Pasgat di Banjarmasin

Resimen III Pasgat di Surabaya, membawahi :
– Yon A Pasgat di Makassar
– Yon B Pasgat di Madiun
– Yon C Pasgat di Surabaya
– Yon D Pasgat di Biak
– Yon E Pasgat di Yogjakarta

Selanjutnya bedasarkan Keputusan KASAU Nomor 57 Tanggal 1 Juli 1970 Resimen diganti menjadi WING.

Sejalan dengan dinamika penyempurnaan organisasi dan pemantapan satuan-satuan TNI, maka berdasarkan Keputusan KASAU Nomor : Kep / 22 / III / 1985 tanggal 11 Maret 1985 Kopasgat berubah menjadi Pusat Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (PUSPASKHASAU).

Baca juga:  Kasau Buka Puasa Bersama Ratusan Anak Yatim Di Lanud Sultan Hasanuddin

Seiring dengan penyempurnaan organisasi TNI dan TNI Angkatan Udara, maka tanggal 17 Juli 1997 sesuai Skep PANGAB Nomor : SKEP / 09 / VII / 1997, status Puspaskhas ditingkatkan dari Badan Pelaksana Pusat menjadi Komando Utama Pembinaan sehingga sebutan PUSPASKHAS berubah menjadi Korp Pasukan Khas (KORPASKHAS)

Setelah berubah status menjadi Kotamabin berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor : SKEP / 73 / III / 1999 tanggal 24 Maret 1999 Korpaskhas membawahi WING Paskhas (WING I, WING II, WING III), Detasemen Bravo Paskhas (Den Bravo Paskhas) dan Detasemen Kawal Protokol Paskhas (Den Walkol Paskhas).

WING I Paskhas di Jakarta, membawahi :

– Skadron 461 Paskhas.
– Skadron 462 Paskhas.
– Skadron 465 Paskhas.
– Flight A Paskhas BS Medan.
– Flight B Paskhas BS Pekan Baru.
– Flight C Paskhas BS Bogor.
– Flight D Paskhas BS Pontianak.

WING II Paskhas di Malang, membawahi :

– Skadron 463 Paskhas.
– Skadron 464 Paskhas.
– Skadron 466 Paskhas.
– Flight E Paskhas BS Adi Sucipto.
– Flight F Paskhas BS Manuhua / Biak.

WING III / Pendidikan dan Latihan di Lanud Sulaiman Bandung.
Den Bravo Paskhas di Lanud Sulaiman.
Den Walkol Paskhas di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta.

Sejak kelahirannya hingga sekarang sejalan dengan bergulirnya perjuangan bangsa, prajurit-prajurit korpaskhas telah banyak terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti agresi militer I dan II, operasi penumpasan PRRI di Riau, operasi menumpas PERMESTA di Sulawesi Utara, operasi TRIKORA untuk membebaskan Irian Barat, operasi DWIKORA, operasi penumpasan 30 S / PKI, operasi penumpasan PGRS/ PARAKU di Kalimantan dan operasi Timor-Timur serta operasi militer lainnya.Keterlibatan Paskhas dalam misi perdamaian di luar negri dibawah bendera PBB seperti tergabung dalam kontingen garuda di Vietnam, Konga XIV dibawah Unprofor di Yugoslavia, Konga XIV A-B di Bosnia, Konga XVII dibawah OKI di Philiphina dan penugasan militer di luar negri lainnya.

Selain mengabdikan dirinya dalam tugas-tugas operasi militer, prajurit paskhas juga ikut berpartisipasi dalam misi kemanusiaan seperti operasi Tinumbala dan Tampomas penanggulangan bencana alam, Tentara Masuk Desa dan karya bakti TNI lainnya.

Selama masa pengabdian.Korpaskhas telah mendarma baktikan dirinya diberbagai medan operasi baik di dalam negri maupun di luar negeri serta tugas-tugas lainnya dibidang kegiatan kemasyarakatan dalam upaya mensejahterakan dan mengatasi kesulitan yang dialami bangsa Indonesia guna mensukseskan cita-cita nasional yaitu masyarakat adil dan makmur.Adapun landasan perjuangan prajurit Korpaskhas Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana selalu melekat dalam setiap pelaksanaan tugas dimanapun dan kapanpun sehingga jiwa dan raga Prajurit Korpaskhas dikorbankan demi kejayaan negara dan bangsa tercinta Republik Indonesia.

1. Periode Perjuangan (1945 – 1950)

Sejalan dengan tuntutan tugas dan perkembangan situasi perjuangan pada saat itu, BKR/BKRO berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945 dan secara otomatis BKRO berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan. Sebagai Komandannya adalah R. Soerjadi Soerjadarma sedangkan wakilnya dijabat oleh Soekarnen Martodisumo. Meskipun pada tanggal 8 Januari 1946 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berubah nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat.

Kemudian tiga bulan selanjutnya mengalami perubahan dan penyempurnaan organisasi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan TKR Jawatan Penerbangan meleburkan diri menjadi Tentara Republik Indonesia Oedara (TRIO) pada tanggal 25 Januari 1946. selanjutnya melalui Penetapan Pemerintah Nomor : 6/SD/1946 tanggal 9 April 1946 di Yogyakarta dikukuhkan menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI AU). Sebagai Kepala Staf TRI AU adalah Komodor Udara R. Soerjadi Soerjadarma.

Maka pada tanggal 17 Oktober 1947 sejumlah 13 peterjun atau Pasukan Payung AURI diterjunkan di Kotawaringin Kalimantan dalam rangka membuka Stasiun Radio Induk untuk melancarkan cita-cita perjuangan. Peristiwa tersebut merupakan cikal bakal pasukan-pasukan payung Indonesia atau Pasukan Lintas Udara yang pertama. Momen sejarah ini akhirnya selalu diperingati sebagai Hari Jadi Pasukan Gerak Tjepat (PGT) atau Korpaskhasau.

2. Periode Konsolidasi (1950 – 1960)

Sebagai wakilnya L.U.I. R. Suprantijo. Selanjutnya memasuki pertengahan tahun 1957, PGT berkembang menjadi 4 (empat) Kompi yaitu Kompi I dipimpin L.U.I. Soetoro, Kompi II dipimpin oleh L.U.I. Kusno, Kompi III dipimpin oleh L.U.I. Z. Rachiman dan Kompi IV dipimpin oleh L.U.I. Heru Achjar.

Baca juga:  Menhan RI: Jadikan Loyalitas Sebagai Jati Diri Prajurit TNI

Keempat Kompi tersebut berada di bawah Komando Group Komposisi/KGK terdiri dari PPP dan Pasukan Penangkis Serangan Udara (PSU).

Pada periode tahun 1950 – 1960 operasi-operasi yang telah dilaksanakan Pasukan Gerak Tjepat adalah Operasi Penumpasan Pemberontakan, antara lain DI/TII di daerah Aceh, APRA di daerah Bandung, RMS di daerah Maluku, PRRI/PERMESTA.

Memasuki tahun 1960, dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat, atas perintah Men/Pangau dibentuklah Resimen Tim Pertempuran Pasukan Gerak Tjepat (RTP PGT) yang bermarkas di Pangkalan Andir Bandung.

3. Periode Pengembangan Organisasi (1960 – 1965)

Susunan organisasi KOPPAU terdiri atas Markas Komando, berkedudukan di Bandung, Resimen PPP berkedudukan di Jakarta yang membawahi beberapa Batalyon, yaitu :

a. Batalyon I PPP berkedudukan di Pangkalan Udara Palembang dan kemudian pindah ke Pangkalan Udara Medan.
b. Batalyon II PPP berkedudukan di Pangkalan Udara Banjarmasin.
c. Batalyon III PPP berkedudukan di Pangkalan Udara Makassar.
d. Batalyon IV PPP berkedudukan di Biak.
e. Batalyon V PPP berkedudukan di Pangkalan Udara Halim Jakarta.

Sedangkan Resimen Pasukan Gerak Tjepat (PGT) berkedudukan di Pangkalan Udara Andir Bandung. Resimen PGT di Bandung membawahi :

a. Batalyon I PGT berkedudukan di Jakarta (Batalyon III Kawal Kehormatan Resimen Cakrabhirawa).
b. Batalyon II PGT berkedudukan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta.
c. Batalyon III PGT berkedudukan di Pangkalan Udara Husein Sastranegara Bandung.

Pada periode tahun 1960 – 1965 telah banyak peran serta dalam perjuangan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Kegiatan operasi yang telah dilaksanakan antara lain :

a. Penumpasan Pemberontakan DI/TII tahun 1962 dilakukan oleh 2 (dua) Kompi PGT Bandung.
b. TRIKORA tahun 1962 satu tim PGT dipimpin Sersan Mayor Udara Picaulima diterjunkan pertama kali di Irian Barat (Fak Fak, Teminabuan Sorong yang dipimpin oleh L.U.II. Manuhua, Merauke yang dipimpin L.M.U.I. Benyamin Matitatutih dan Kaimana).
c. DWIKORA pada tanggal 3 Mei 1964 dicetuskan oleh Presiden/Panglima Tertinggi ABRI dan selanjutnya PGT melaksanakan operasi di daerah Kalimantan Utara, Tanjung Balai Karimun yang terdiri dari 3 Peleton PGT yaitu 1 Peleton dari Jakarta dan 2 Peleton dari Bandung. Namun dalam misi ini tidak pada sasaran sehingga PGT dipimpin oleh Letkol Udara S. Soekani dan Letnan Udara Satu Suroso terjebak dalam pertempuran dengan tentara Malaysia yang dibantu oleh Sekutu yang akhirnya gugur bersama-sama dengan 83 orang PGT.

4. Periode Penyempurnaan Organisasi dan Pemantapan Integrasi (1965 – Sekarang) Dalam perkembangannya Kopasgat membawahi 3 (tiga) Resimen, yaitu :

a.     Resimen I Pasgat berkedudukan di Pangkalan Udara Husein Sastranegara Bandung, membawahi :

        1)    Batalyon Tempur “A” berkedudukan di Pangkalan Udara Atang Senjaya Bogor.

        2)     Batalyon Tempur “B” berkedudukan di Pangkalan Udara Husein Sastranegara.

b.     Resimen II Pasgat berkedudukan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta, membawahi :

        1)     Batalyon Tempur “A” berkedudukan di Halim Perdanakusuma Jakarta.

        2)     Batalyon Tempur “B” berkedudukan di Halim Perdanakusuma Jakarta.

        3)     Batalyon Tempur “C” berkedudukan di Pangkalan Udara Medan.

        4)     Batalyon Tempur “D” berkedudukan di Pangkalan Udara Samsudin Noor.

c.     Resimen III Pasgat berkedudukan di Surabaya, membawahi :

       1)     Batalyon “A” berkedudukan di Pangkalan Udara Hasanudin Ujung Pandang.

       2)     Batalyon “B” berkedudukan di Pangkalan Udara Iswahjudi Madiun.

       3)     Batalyon “C” berkedudukan di Pangkalan Udara Surabaya.

       4)     Batalyon “D” berkedudukan di Pangkalan Udara Biak Irian Jaya.

       5)     Batalyon “E” berkedudukan di Pangkalan Udara Adi Sutjipto Yogyakarta.

Selanjutnya pada tahun 1970, tepatnya tanggal 1 Juli 1970 Resimen Pasgat diganti menjadi Wing Pasgat. Dengan komposisi kekuatan Batalyon Tempur “D” Wing III Pasgat Pangkalan Udara Biak dimasukkan ke dalam Batalyon Tempur “A” Wing III Pasgat yang masing-masing sebagai Peleton dan Kompi.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel