TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

Mengenang Pesawat Dakota RI-001 Seulawah

By 23 Mar 2018Berita
111

TNI AU.   Pesawat Dakota yang diberi nomor Register RI-001 dibeli dari hasil dana (fond) Dakota yang dibentuk atas gagasan KSAU Komodor Udara S. Suryadarma. Pengumpulan dana tersebut diserahkan kepada Biro Rencana dan Propaganda pimpinan Opsir Muda Udara II Wiweko Soepono yang dibantu oleh Opsir Muda Udara III Nurtanio Pringgodisuryo.

Dalam pelaksanaannya Kepala Biro Penerangan Opsir Muda Udara IRJ. Salatun ditugaskan untuk mengikuti perjalanan Presiden Sukarno keliling Sumatera. Sebagai sarana digunakan beberapa buah model (miniatur) Dakota yang dibuat oleh bengkel Rencana dan Konstruksi.

Daerah Sumatera dijadikan sasaran propaganda dana Dakota, hal ini ditinjau dari beberapa segi antara lain, karena teritorialnya merupakan daerah propaganda strategis yang memungkinkan diadakannya hubungan dagang dengan luar negeri. Di samping itu potensi kekayaan alam letak geografisnya memungkinkan mendapatkaan devisa dengan cara penyeludupan barang ke luar negeri, yang terpaksa harus dilakukan karena adanya blokade Belanda yang tidak memungkinkan melaksanakan perdagangan dengan luar negeri secara wajar. Karena potensi itulah Sumatera sangat tepat untuk dijadikan sasaran dana Dakota. Daerah yang dituju adalah Lampung, Bengkulu, Jambi, Pekanbaru, Bukittinggi, Tapanuli, dan Aceh.

Dalam pengumpulan dana Dakota tersebut, Presiden Sukarno telah berpidato untuk pertama kalinya pada tanggal 16 Juni 1948 di “Hotel Aceh” Kutaraja. Pidato yang disampaikan mampu menggugah semangat rakyat Sumatera, khususnya di Aceh. Dengan serta merta terbentuklah Panitia Dana Dakota yang diketuai oleh Djuned Yusuf dan Muhammad Al Habsji. Dalam waktu dua hari masyarakat Aceh telah berhasil mengupulkan uang 130.000 straits Dollar. Untuk pelaksanaan pembelian pesawat terbang, AURI telah menugaskan Opsir Muda Udara II Wiweko Supono sebagai ketua misi pembelian. Opsir Muda Udara II Wiweko Supono ditunjuk sebagai ketua misi pembelian karena keahliannya dalam bidang teknik pesawat dan kedudukannya sebagai Kepala Biro Rencana dan Konstruksi.

Pesawat ini tiba di Indonesia pada bulan Oktober 1948. Sebulan setelah kedatangannya, pesawat ini telah mengantarkan Wakil Presiden melakukan kunjungan ke Sumatera melalui rute; Maguwo – Jambi-Payakumbuh -Kutarajasa pulang pergi. Rute penerbangan dari Jogjakarta ke ujung barat Indonesia adalah rute yang cukup panjang yang melewati daerah yang sebagian besar dikuasai oleh Belanda yang mempunyai beberapa skadron pemburu. TNI AU menentukan rute tersebut tentu setelah melalui pertimbangan yang matang dan dengan keyakinan bahwa misi penerbangan pasti dapat dilaksanakan dengan baik. Penerbangan ini merupakan penerbagan perdana setelah menjadi milik Indonesia. Di Aceh, pesawat ini disambut dengan gembira dan suka cita, bahkan sempet diadakan terbang perkenalan kepada pemuka masyarakat Aceh. Penerbangan berikutnya adalah penerbangan dari Maguwo tanggal 1 Desember 1948 menuju Piobang (Payakumbuh) membawa beberapa personel untuk memperkuat militer di Sumatera. Tiga hari di Payakumbuh, tanggal 4 Desember pesawat bertolak ke Kutaraja untuk mengangkut kadet ALRI dari Payakumbuh ke Kutaraja yang dipimpin oleh Kasal Laksamana Laut Subijakto.

Dalam perawatan mesin berkala (periodical overhaul) dan pemasangan tangki jarak jauh (long range tank), pada tanggal 6 Desember pesawat langsung menuju Calcuta-India. Pesawat diawaki oleh Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot Opsir Udara III Sutardjo Sigit, juru radio Opsir Muda Udara III Adi Sumarmo serta seorang juru mesin Caesselbery. RI-001 membawa empat penumpang, saudagar Aceh yang akan merintis hubungan dagang dengan luar negeri.

Dakota RI-001 dinyatakan layak operasional sejak tanggal 20 Januari 1949. Namun tidak memungkinkan untuk kembali ke tanah air berhubung berkecamuknya perang menghadapi Agresi Belanda II. Berhubung sudah terputusnya hubungan dengan pimpinan di tanah air maka Wiweko Supeno, Sutarjo Sigit, dan Sudaryono bersepakat untuk berjuang di luar negeri dengan cara lain. Dengan dasar pemikiran bahwa perjuangan menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan RI membutuhkan dana dan persenjataan. Mereka bersepakat untuk mengoperasikan pesawat di luar negeri melalui penerbangan komersial. Awalnya penerbangan komersial ini direncanakan di India, namun karena sudah ada perusahaan penerbangan India Nation Airline (INA) yang melayani penerbangan dalam negerinya sehingga perhatian dialihkan ke Birma.

Untuk bisa beroperasi di Birma, RI-001 harus dalam bentuk perusahaan air lines. Maka atas prakarsa Opsir Udara II Wiweko Supeno dan bantuan Bapak Marjuni (perwakilan RI di Birma) tanggal 26 Januari 1949 didirikanlah sebuah perusahaan penerbangan niaga {air lines) dengan nama “Indonesian Airways” yang berpangkalan di Ranggon (Birma). Indonesian Airways berdiri dengan modal utama satu pesawat RI-001 Seulawah dengan personel antara lain J.H. Maupin (pilot), Alan Ladmore dan Caesselbery (juru mesin) dibantu oleh tenaga Indonesia, Opsir Udara III Wiweko Supomo, Opsir Udara II Sutardjo Sigit, dan Opsir Udara Sudarjono. Tanggal 26 Januari 1949, Indonesian Airways sudah berada di Bandara Mingladon, Burma berjajar diantara perusahaan penerbangan lainnya. Pada hari itu juga RI-001 melaksanakn penerbangan pertamanya sebagai pesawat komersial.

RI-001  Seulawah yang dioperasikan dengan nama perusahaan Indonesian Airways sebagai pesawat komerisal tidak seperti perusahaan penerbangan air line lainnya. RI-001 Seulawah tidak mengangkut penumpang perorangan. Pesawat RI-001 dicharter oleh pemerintah Birma sebagai pesawat dalam oprasi militer. Memang pada saat itu di Birma sedang terjadi pemberontakan dan pemerintahannya sibuk menumpas pemberontakan tersebut. Untuk itu militernya sangat membutuhkan pesawat angkut untuk dropping pasukan dan amunisi maupun bom ke daerah operasi.

Meskipun di Birma sudah ada beberapa perusahaan penerbangan dalam negeri maupun dari luar negeri (Union of Burma Airways, Philippine Airways dan Siamese Airways), tetapi mereka tidak mau menjalani penerbangan militer yang memang karena penuh resiko. Kesempatan itulah yang diambil oleh Indonesian Airways dengan pesawat RI-001-nya. Dalam kontrak penyewaan pesawaat RI-001 telah terjalin kerjasama yang baik dan saling pengertian dengan Jenderal Ne Win (Kepala Staf Angkatan Darat Birma) sehingga Indonesian Airways mendapat pembayaran tunai dalam melaksanakan angkutan udara untuk operasi militer.

Pada awalnya, RI-001 melakukan penerbangan militer antara lain pengangkutan pasukan pemerintah Birma, pengangkutan senjata, amunisi, dan logistik bagi pasukan pemerintah yang terkepung, pengangkutan para pejabat pemerintah Birma, serta pengecekan dan testing lapangan terbang yang baru.

 Berkaitan dengan misi tersebut pesawat sempat beberapa kali jadi sasaran tembak kaum pemberontak Burma yang menyebabkan terdapatnya beberapa lubang bekas peluru di bodi pesawat. Salah satunya pernah terjadi saat terbang diatas bagian barat Rangoon. Dalam penerbaangan itu ikut serta beberapa perwira Angkatan Darat sebagai penunjuk posisi pasukan pemerintah. Dari bawah mendapat tembakan mitraliur sehingga body pesawat RI-001 Seulawah berlubang-lubang akibat tembakan pemberontak. Dalam penerbangan berikutnya tidak seorang pun perwira AD Birma bersedia ikut terbang lagi karean sudah jera dalam penerbangan operasi yang penug resiko besar.

RI-001 Seulawah juga sering mendapat tembakan gencar dari pemberontak dalam beberapa penerbangan menuju Lapangan Udara Mingladon dari Rangoon. Begitu juga ketika pesawat ini diparkir di lapngan udara di Lapangan Udara Mingladon pernah mendapat hujanan mortir pemberontak namun tidak berhasil mengenai pesawat sehingga pesawat dapat terbang kembali.

Dalam suatu operasi dropping perbekalan bagi pasukan pemerintah yang terkepung oleh pemberontak pesawat RI—001 Seulawah kembali ke pangkalannya penuh dengan lubang peluru. Tidak kurang terdapat 11 lubang peluru dan banyak serempetan peluru mengenai badaan pesawat. Bahkan tangan Radio Telegrafis Udara Muharto luka-luka terkena peluru sewaktu melemparkan perbekalan di tengah-tengah hujanan peluru musuh. Setelah lubang-lubang tersebut ditutup kembali, keesokan harinya RI-001 Seulawah sudah mengangkasa lagi dan tidak seorangpun awak pesawat yang ciut nyalinya.

Saat penerbangan dari Rangoon ke Loikaw dengan misi mengantarkan seorang Menteri pemerintahan Birma, ketika akan mendarat pesawat RI-001 Seulawah masuk dalam perangkap jarak tembak mitraliur pemberontak yang mengambil posisi di pegunungan sekitar pangkalan. Tembakan mitraliur sempat mengenai pipa bahan bakar sehingga hydroulik pesawat RI-001 Seulawah mengalami rusak berat yang mneyebabkan pesawat kehilangan lebih kurang 500 liter bahan bakar. Atas persetujuan menteri tersebut, maka pesawat RI-001 Seulawah terpaksa kembali ke Rangoon. Akibat kehilangan minyak hydrolik, roda pendarat dengan sendirinya tidak dapat terbuka dengan prosedur biasa. Untuk mengeluarkan roda pendarat harus diponpa secara manual masih mengandung resiko, jika minyak habis. Dengan harap-harap cemas, Radio Telegrafis Udara memompa untuk mendapatkan tekanan yang diperlukan, sehingga roda pendarat dapat keluar sampai terkunci (locked) yang berarti aman melakukan pendaratan. Dalam peristiwa itu sebutir peluru yang menembus badan pesawat yang jarknya 10 cm dari tempat duduk sang menteri.

Pada suatu penerbangan pesawat RI-001 Seulawah beserta crew dan penumpangnya hampir jatuh ke tangan pemberontakan. Peristiwa ini terjadi ketika RI-001 Seulawah akan mendaraat di Lapangan Udara Meiktila. Sebelum roda pesawat menyentuh landasan, pesawat mendapat tembakan gencar dari pemberontak yang berkedudukan di ujung landasan. Untuk mereka hanya menggunakan stengnum, sehingan tembakan itu tidak menenbus badan pesawat. Dengan cepat pilot mendorong throttle dan menarik stick sehingga pesawat mengudara kembali tidak menjadi mendarat. Ternyata lapangan udara Meiktila telah jatuh ke tangan pemberontak. Hal ini tidak diketahui sebelumnya, karena pada umunya pangkalan-pangkalan udara tidak dilengkapi dengan alat komunikasi dan Aeronautic Fixed Telecotnmunication Network.

Pernah pula sewaktu RI-001 Seulawah mendarat di salah satu lapangan udara, ternyata telah dikuasai oleh pemberontak. Setelah mendarat dan awak pesawat melapor ke kantor Union Of Burma Airways (UBA) setempat, awak pesawat diangkut dengan kendaraan menuju ke kota bersama-sama beberapa orang perwira yang ada di situ. Setelah berada di ruang makan, barulah diberi tahu bahwa awak pesawat telah berada ditangan pemberontak. Tingkah laku para pemberontak itu sopan tidak menunjukan tanda-tanda permusuhan. Setelah makan bersama, para crew diminta untuk mengangkut pasukan pemberontak ke Anisakan. Dalam pada itu Radio Telegrafis Udara sempat memberi tahu ke Rangoon bahwa lapangan udara tersebut sudah dikuasai oleh pemberontakan. Setelah meberikan bantuan angkutan udara, maka dengan alasan untuk menambah bahan bakar yang tidak dapat dilakukan disetiap lapangan udara, kemudian RI-001 Seulawah dilepaskan.

Hampir semuan wilayah Birma telah dijelajahi dan didarati oleh peswat RI-001 Seulawah. Sejak dari ujung Utara sampai ke Selatan dan dari Barat ke Timur baik untuk keperluan niaga maupun untuk keperluan pemerintah dan militer.

Meskipun beroperasi di Birma, Pesawat RI-001 dua kali menerobos blokade udara yang dilakukan oleh Belanda dari Ranggon ke Aceh dengan membawa bantuan persenjataan dan amunisi guna melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Penerbangan menerobos blokade ini dipimpin oleh Opsir Udara II Wiweko Soepono sendiri yang mendaratkan pesawatnya pada malam hari di Pangkalan Udara Lhok Nga yang disambut oleh Kolonel Hidajat, Opsir Udara II Sujoso Karsono dan Kapten Muzakir Walad.

Dalam mendukung penerbangan di Burma, Indonesia Airways mendirikan Stasiun Radio di Rangon yang dipimpin oleh Opsir Muda Udara II Soemarno (terakhir Marsma) dengan eall sign SMN. Bila semula stasiun radio ini hanya mengadakan hubungan untuk kepentingan intern TNI-AU, belakangan juga menjelma menjadi “jembatan” bagi PDRI dengan para perwakilan RI di luar negeri termasuk dengan perwakilan RI di PBB (Bapak Palar). Dengan adanya stasiun ini memungkinkan perencanaan dan pelaksanaan penerobosan blokade ke Aceh.

Pesawar RI-001 ini merupakan pelopor penerbangan sipil nasional karena dengan pesawat inilah didirikan Indonesia Airways yang beroperasi di Burma. Dana yang diperoleh oleh operasi penerbangan di Birma ini digunakan untuk membiayai kadet-kadet udara yang belajar di India dan Filipina. Selain membiayai para kadet yang menjalani pendidikan, operasi RI-001 dapat membeli beberapa pesawat Dakota lainnya yang diberi nomor registrasi RI-007 dan mencharter pesawat RI-009.

Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda dan pemulihan kekuasaan Pemerintah RI, khusus di lingkungan TRI AO dilakukan perubahan organisasi dan personil di lingkungan AURIS.26 Perubahan itu juga menyangkut keberadaan Indonesian Airways” di Ranggon (Birma). Atas keputusan Kepala Staf AURIS “Indonesian Airways dilikuidasi dan semua kegiatan di wilayah Burma dihentikan.

Semua personil yang berasal dari AURI harus kembali ke Tanah Air dan kembali bergabung menjadi anggota organik AURIS. Sesuai dengan keputusan Kasau tersebut, pertengahan Juni 1950 sebagian personel Indonesian Airways kembali ketanah air, yakni Opsir Udara III Sutardjo Sigit, Opsir Udara III Sudarjono, Opsir Muda Udara III Sumarno, Kadet Udara Budiarto Iskak, dan Kadet Udara Sjamsuddin Noor, dengan pesawat Commersial Airlines dari Rangoon melalui Bangkok ke Jakarta. Sedangkan pesawat RI-001 Seulawah tiba di Pangkalan Udara Andir pada tanggal 3 Agustus 1950 jam 11.35 setelah melewati rute Rangoon-Bangkok-Medan-Andir.

Setelah tidak beroperasi sebagai pesawat komersial Indonesia Airways, pesawat RI-001 Seulawah ditempat di Pangkalan Udara Andir Bandung. Di Andir pesawat tersebut digunakan untuk “joy flight”. Setelah tidak digunakan lagi pada awal tahun 1950, pesawat RI-001 diserahkan ke bagian teknik dan diparkir di ujung landasan sebelah barat PU Andir.

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *

Mengenang Pesawat Dakota RI-001 Seulawah