Pustaka

Menhan: Tak Ada Broker dalam Pembelian Sukhoi

Dibaca: 13 Oleh 07 Mar 2012Tidak ada komentar
c130 hercules indonesian air force approaching
#TNIAU 
VIVAnews — Pemerintah membeli enam buah pesawat Sukhoi Su-30 MK2 buatan Rusia untuk memperkuat armada TNI Angkatan Udara dalam mengamankan wilayah Nusantara. Namun, sejumlah persoalan mengemuka terkait pembelian pesawat tempur ini: isu penggelembungan dana hingga dugaan peran broker. 

Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro membantah ada campur tangan broker alias calo dalam pengadaan Sukhoi. “Broker yang mana? Kalau kami di Kementerian Pertahanan nggak ada, karena kami langsung ke Rosoboronexport,” kata Purnomo di Kementerian Pertahanan, Selasa 6 Maret 2012.

Dia menjelaskan, saat melakukan pembelian, Pemerintah Rusia langsung menunjuk JSC Rosoboronexport sebagai wakil resmi pemerintah Rusia dalam pengadaan pesawat Sukhoi. “Kami deal-nya sama Rosoboroneksport,” tambah dia.

Purnomo lantas menjelaskan proses pengadaan Sukhoi di dalam negeri diawali dari TNI Angkatan Udara, lalu ke Mabes TNI. “Lalu ke Kementerian Pertahanan. Tak ada peran rekanan, “Kami tidak ada hubungan dengan rekanan, langsung dengan Rusia, dalam hal ini Rosoboroneksport,” tambah dia.

Purnomo mengaku bingung, mengapa isu-isu tak sedap soal pengadaan Sukhoi baru muncul belakangan ini. Padahal proses pengadaannya sudah dua bulan lalu. “Dapat informasinya dari mana, suruh ketemu sama kami,” kata dia.

Baca juga:  K. 111

Lalu bagaimana dengan dugaan adanya mark-up?

Purnomo menjelaskan, harga sebuah pesawat Sukhoi adalah
US$54,5 juta. “Kita sudah punya 10, jadi beli 6 lagi untuk lengkap 1 skuardon. Tahun ini rencananya datang 2, pada 2013 datang lagi 3 Sukhoi, tahun 2014 1 Sukhoi,” tambah dia.

Senin kemarin, Purnomo juga membantah mentah-mentah dugaan adanya penggelembungan anggaran Sukhoi. Dia mengatakan, selisih dana yang ada disebabkan faktor inflasi. “Contohnya kalau kita beli makanan dua tahun yang lalu dan sekarang beda, dan itu tidak banyak, kecil sekali,” kata dia di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin, 5 Maret 2012.

Meski demikian, Purnomo tidak bisa membeberkan secara rinci berapa selisih harga tersebut. “Angkanya saya nggak ingat, tetapi tidak ada kenaikan yang signifikan karena kita juga tidak bodoh,” tegasnya.

Dugaan penggelembungan

Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin dan Indonesia Corruption Watch (ICW) mencium ketidakberesan dalam proses pengadaan 6 Sukhoi dari Rusia. ICW mencurigai ada penggelembungan dengan nilai total Rp1.596 triliun.

“Sejak awal proses pengadaan 6 Sukhoi oleh pemerintah Indonesia yang diwakili Kemenhan dan Rusia, diduga menggunakan mekanisme kredit eksport (KE). Ini diperkuat dengan adanya agen atau pihak ketika PT Trimarga Rekatama. Hal inilah yang membuat harga dalam pengadaan Sukhoi ini menjadi sangat fantastis,” ujar Wakil Koordinator Ketua ICW, Adnan Topan Husodo hari ini.

Baca juga:  KSAU : delapan pesawat tempur akan lengkapi alutsista

Disampaikan dia pada tahun 2010 harga Sukhoi diketahui US$55 juta per unit, namun kemudian menjadi US$83 juta per unit pada 2011-2012. Karena itu diperoleh selisih harga US$ 28 juta untuk setiap unitnya.

“Sehingga total penggelembungan atau mark up untuk 6 unit mencapi US$168 juta. Kalau dihitung di rupiah US$1 adalah Rp 9.500 maka totalnya menjada Rp1.596 triliun,” papar Adnan. (sj)

Sumber: http://nasional.vivanews.com/news/read/293850-menhan–tak-ada-broker-dalam-pembelian-sukhoi

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel