sejarah

Monumen Bakti Prajurit

Oleh 17 Okt 2017 Tidak ada komentar
TNI Angkatan Udara
#TNIAU 

Monumen Bakti Prajurit
Monumen Bakti Prajurit

Lokasi : Depan gerbang menuju Lanud Adisutjipto Yogyakarta.

Bentuk : Monumen ini berbentuk tugu dengan dinding tegak melengkung dan di dinding atas tengah terpancang Swa Bhuwana Paksa, pada permukaan dinding terukir nama nama 57 prajurit TNI AU korban serangan 19 Desember 1948.

Peresmian : 19 Desember 1989 oleh Kasau Marsekal TNI Oetomo.

Maksud Pembuatan: 

Untuk memberikan penghargaan dan mengenang pengorbanan 70 prajurit TNI AU yang gugur akibat serangan udara tentara Belanda tanggal 19 Desember 1948 di Maguwo (sekarang Lanud Adisutjipto) Yogyakarta.

Latar Belakang Sejarah

Tanggal 18 Desember 1948, pukul 23.30 WIB, Wakil tinggi Mahkota Belanda Dr.Beel menyatakan bahwa belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian Renville , pagi harinya dimulailah Argesi Militer yang ke II terhadap RI.

Pagi hari tanggal 19 desember 1948, pukul 06.00 WIB, tentara Belanda atas perintah Letnan Jenderal Spoor mulai mengadakan serangan besar-besaran ke ibu kota RI Yogyakarta dan seluruh daerah Republik lainnya dengan kekuatan darat, laut maupun udara , 5 buah pesawat mustang dan 8 pesawat Kiity hawk serta beberapa buah pesawat angkut belanda mulai menjalankan aksinya di atas kota Yogyakarta, tak luput pula pangkalan Udara Maguwo sebagai pintu gerbang masuk melalui udara mendapat serangan gencar dari pesawat-pesawat Belanda dengan penembakan-penembakan udara, roket dan pemboman dari udara terhadap posisi-posisi pertahan prajurit kita. Bersama dengan itu pasukan payung belanda  diterjunkan secara mendadak.  Menyadari bahwa Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Lanud Adi sutjipto) mendapat serangan mendadak, maka prajurit TNI-AU dan Karyawan sipil yang sedang piket hari itu di bawah pimpinan Kadet Kasmiran segera mengambil posisi pertahanan masing-masing di sekitar parit dan rel kereta api Maguwo. Pasukan payung Belanda segera mendapat sambutan hangat dari pasukan kita, pasukan kita dengan jumlah kecil dan peralatan seadanya ini mempertahankan Pangkalan Udara Maguwo sampai titik darah terakhir.   Dalam pertempuran tersebut 70 anggota prajurit dan karyawan gugur termasuk Kadet Kasmiran sebagai kusuma bangsa demi tegaknya Negara RI.

Hari itu, Ibu Kota Republik berhasil mereka duduki.  Presiden, Wakil Presiden dan para pemimpin Republik lainnya mereka tawan, tetapi bebrapa saat sebelumnya, dengan perantaraan radio, Presiden telah memindahkan kekuasannya dengan instruksi kepada Mr. Sjarifrudin Prawiranegara (Menteri Kemakmuran RI) yang saat itu sedang berada di Sumatra untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia.

Panglima Besar Jenderal Sudirman beserta pimpinan teras TNI, disertai Komandan pasukan TNI di Yogyakarta Letnan Kolonel Suharto memutuskan untuk mengundurkan diri keluar kota beserta anak buahnya. Suatu perang gerilya terhadap tentara Belanda akan di laksanakan seperti yang telah disepakati sebelumnya.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel