Berita

Museumkan Dua Kamera Pemotretan Udara

Dibaca: 126 Oleh 10 Jul 2017Tidak ada komentar
TNI Angkatan Udara
#TNIAU 

Dua kamera pemotretan udara yang digunakan TNI AU (jawatan Pemotretan Udara) periode 1945 – 1950 jenis Vertikal AFA-33 dan Oblique Fairchil A-8 akhirnya menjadi penghuni museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta. Prosesi penyerahan kamera dilakukan oleh Sekertaris Dinas Pemotretan Udara TNI AU Sesdissurpotrudau) Kolonel Sus Dadang Taufik kepada Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma TNI Jemi Trisonjaya, M.Tr (Han) di Mabesau, Cilangkap. Jakarta, Senin (10/7).

Kamera udara vertikal AFA-33 merupakan salah satu kamera udara otomatis buatan Uni Sovyet (USSR) tahun 1943. Operasional kamera ini menggunakan instrumen remote control dan didesain untuk melakukan pemotretan udara dengan tehnik lajur, luasan dan spot atau individu obyek untuk tujuan akuisisi foto dari observasi fotografi. Dalam sejarah Perang Dunia II (PD II), kamera ini digunakan untuk menentukan daerah pemboman wilayah musuh yang menjadi target.

Sementara kamera Oblique Fairchild A-8 yang buatan Januari 1929 oleh perusahaan kamera asal New York dan Boston Amerika Serikat ini, merupakan kemera format besar pada masa Perang Dunia II. Dengan bobot sekitar 7,1 kg, kamera ini dioperasionalkan secara handheld sehingga lebih fleksibel untuk mendapatkan perspektif foto yang dihasilkan.

Baca juga:  Peringatan ke-72 TNI AU di Lanud Iskandar

Pada tahun 1930 Fairchild A-8 banyak digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil. Pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat pada US Armforce Show pada tahun 1931 di New York, sedangkan untuk kepentingan sipil digunakan sejak tahun 1930.

Di TNI AU kamera vertikal AFA-33 dan Oblique Fairchild A-8 dioperasionalkan oleh Jawatan Pemotretan Udara (sekarang Dinas Survey dan Pemotretan Udara– Dissurpotrudau) dari tahun 1945 hingga tahun 1970. Kamera ini dipasang pada pesawat B-25 Mitchel, Tupolev, PBY-5 A Catalina dan Auter Pipercup. Kamera ini pernah digunakan pada operasi militer penumpasan pemberontakan DI/TII, PRRI dan Permesta. Sedangkan pada pembangunan nasional dimanfaatkan untuk pemotretan proyek bendungan Jati Luhur, pembuatan City Planning Kebayoran Baru dan penanggulangan bencana alam.

 

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel