Berita

Napak Tilas 2017

Dibaca: 31 Oleh 31 Jul 2017Tidak ada komentar
TNI Angkatan Udara
#TNIAU 

Lanud Adisutjipto kembali menggelar napak tilas peristiwa operasi militer udara pertama Indonesia, 29 Juli 1947, sebagai bagian dari acara peringatan Hari Bakti Ke-70 TNI AU, Sabtu (29/7). Napak tilas dilakukan dengan menerbangkan 3 pesawat KT 1B Woon Bee buatan Korea Selatan dari Landasan Udara Adisutjipto dengan rute penerbangan serangan udara ketiga kota yaitu Semarang, Salatiga dan Ambarawa sekitar pukul 04.30 WIB.

Skenario peristiwa benar-benar dibuat menyerupai suasana heroik 70 tahun lalu. Ada simulasi dan treatikal dari para pemeran pelaku napak tilas yang berasal dari para instruktur penerbang dan taruna dengan menggunakan pakaian kadet penerbang jaman itu. .Tiga pesawat yang mendukung giat tersebut dipiloti oleh Mayor Pnb Iwan setiawan dengan pesawat KT 1B Woong Bee LL 0105, Mayor Pnb Oktavianus menggunakan pesawat KT 1B Woong Bee LL 0110, Kapten Pnb Dika Mahendra menggunakan pesawat KT 1B Woong Bee LL 0113,

Selasa, 29 Juli 2047 tiga pesawat peninggalan Jepang, masing masing satu pesawat Guntai dan satu pesawat Cureng, pagi hari lepas landas dari pangkalan maguwo menuju Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Pesawat Guntai dengan dengan Kadet Penerbang Muljono dan juru tembak Abdurrahman menyerang Semarang. Sementara dua pesawat Cureng masing-masing diterbangkan Kadet Penerbang Sutardjo Sigit dan juru tembak Sutardjo untuk menyerang Salatiga, Suharnoko Harbani dan juru tembak Kaput menyerang benteng pertahanan Belanda di Ambarawa.

Baca juga:  Nonton Bareng Piala Aff 2016

Para Kadet Penerbang tadi menjalankan misi rahasia dari Kepala Staf Angkatan Udara Komodor S. Suryadharma sebagai reaksi balasan terhadap agresi Militer Belanda I yang melaksanakan serangan udara di wilayah-wilayah RI termasuk pangkalan udara di Jawa dan Sumatera. Sedangkan satu pesawat yang diawaki oleh Kadet Penerbang Bambang Saptoaji batal menjalankan misi karena ada kerusakan pesawat. Pesawat-pesawat yang diterbangkan para Kadet Penerbang itu mengemban tugas untuk melakukan serangan udara terhadap benteng pertahanan Belanda.

“Mereka yang bermodalkan pesawat peninggalan Jepang dan didorong oleh semangat juang tinggi, telah berhasil melakukan tindakan dan langkah berani dengan melaksanakan serangan udara terhadap kubu penjajah Belanda di kota Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Serangan tersebut membuktikan bagi bangsa Indonesia bahwasanya TNI masih ada dan mampu membuat Belanda tidak percaya dan menjadi perhatian dunia Internasional. Peristiwa heroik tersebut telah membuka mata dunia, bahkan PBB memaksa pemerintah Belanda agar melaksanakan pertemuan dengan Indonesia, selanjutnya pertemuan tersebut dikenal dengan nama Konferensi Meja Bundar”, ungkapnya.

Baca juga:  SOSIALISASI   PERATURAN   MILITER   DASAR   DI WINGDIKTEKKAL              

Kasau berharap peristiwa gugurnya para perintis dan pendiri TNI Angkatan Udara, antara lain Komodor Muda Udara A. Adisutjpto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Komodor Muda Udara Adi Sumarmo agar dapat meneladani jiwa patriotisme dan rasa nasionalisme para pejuang dan perintis TNI Angkatan Udara, yang selanjutnya kita implementasikan dalam tugas sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing.

”Aksi treatikal dalam napak tilas kali ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Pasalnya kali ini didukung oleh beberapa komunitas seni di Yogyakarta diantaranya Komunitas 45 dan Komuninitas fotografer Yogyakarta yang ikut terlibat dalam giat tersebut. Ini membuktikan bahwa aksi heroik para pahlawan TNI AU menjadi moment yang bersejarah dan dikenal luas oleh kalangan masyarakat,” pungkasnya.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel