Berita

Napak Tilas Penyerangan Semarang, Salatiga Dan Ambarawa

Dibaca: 208 Oleh 30 Jul 2015Tidak ada komentar
P-51 Mustang, Perintis Tim Aerobatik TNI Angkatan Udara
#TNIAU 

Untuk mengenang peristiwa operasi udara pertama yang dilakukan oleh para pejuang Angkatan Udara, pada dini hari tanggal 29 Juli 1947 para siswa Sekolah Penerbang (Sekbang ) melaksanakan napak tilas peristiwa penyerangan terhadap tangsi-tangsi Belanda di Salatiga, Semarang dan Ambarawa.

Dengan mengenakan seragam penerbang tempo dulu para siswa Sekbang melaksanakan apa yang dilakukan oleh para Kadet pada 68 tahun yang lalu. Bedanya hanya pada jenis pesawat yang digunakan. Dahulu para Kadet menggunakan pesawat peninggalan Jepang jenis Cureng dan Guntei, sedangkan para siswa Sekbang menggunakan pesawat latih dasar Grob buatan Jerman.

Hal tersebut merupakan peristiwa monumental yang setiap tahun selalu diperingati oleh TNI Angkatan Udara, sebagai “Hari Bakti TNI AU”. Peringatan tersebut dilatarbelakangi oleh dua peristiwa penting yang terjadi dalam satu hari pada 29 Juli 1947. Pertama, peristiwa pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, Semarang, Salatiga, dan Ambarawa yang dilakukan oleh Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei. Kedua, peristiwa ditembaknya pesawat Dakota VT-CLA oleh pesawat Kitty Hawk Belanda dan jatuh di desa Ngoto Yogjakarta. Tiga perintis TNI AU, Adisutjipto, Abdurahman Saleh dan Adisumarmo yang berada di dalam pesawat Dakota VT-CLA tersebutpun gugur akibat penembakan itu.

Baca juga:  Danlanud Lwm Jalin Silaturahmi dengan AJM

Untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan ketiga perintis TNI AU tersebut, pada Juli Tahun 2000, dibangun monumen perjuangan TNI AU berupa sebuah tugu dan relief tentang dua peristiwa yang melatarbelakanginya di lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA. Di lokasi monumen juga terdapat makam Adisutjipto dan Abdurachman Saleh beserta istri mereka.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel