Berita

Napak Tilas peringati 68 Tahun Heroisme “Maguwo”

Dibaca: 7 Oleh 30 Jul 2015Tidak ada komentar
IndonesianAF 1
#TNIAU 

Tiga pesawat peninggalan Jepang, masing-masing satu pesawat Guntai dan dua pesawat Cureng, Selasa 29 juli 1947 pagi hari, lepas landas dari Pangkalan Udara Maguwo menuju Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Pesawat-pesawat yang diterbangkan para Kadet Penerbang itu mengemban tugas untuk melakukan serangan udara terhadap benteng pertahanan Belanda.

Pesawat Guntai dengan Kadet Penerbang Muljono dan juru tembak Abdurrahman menyerang Semarang. Sementara dua pesawat Cureng masing-masing diterbangkan Kadet Penerbang Sutardjo Sigit dan juru tembak Sutardjo untuk menyerang Salatiga, Suharnoko Harbani dan juru tembak Kaput menyerang benteng pertahanan Belanda di Ambarawa. Para Kadet Penerbang tadi menjalankan misi rahasia dari Kepala Staf Angkatan Udara Komodor S. Suryadharma sebagai reaksi balasan terhadap agresi Militer Belanda I yang melaksanakan serangan udara di wilayah-wilayah RI termasuk pangkalan udara di Jawa dan Sumatra. Sedangkan satu pesawat yang diawaki oleh Kadet Penerbang Bambang Saptoaji batal menjalankan misi karena ada kerusakan pesawat. Para kadet penerbang tadi masih berusia sangat belia 19 tahun.

Baca juga:  Pangkohanudnas Kunjungi Kosek Hanudnas II dan Satuan Radar Jajaran

Peristiwa heroik yang terjadi 68 tahun lalu itu dan merupakan operasi udara pertama yang dilakukan oleh Angkatan Udara, kini Rabu (29/7) pukul 04.30 diperingati oleh generasi penerus TNI Angkatan Udara dengan melaksanakan Napak Tilas Rute Penerbangan Serangan Udara ke tiga kota itu. Menggunakan pesawat latih terbaru milik TNI AU, Grob G 120 TP-A, kegiatan yang dilaksanakan di Base Ops Pangkalan Udara Adisutjipto ini diawali dengan sambutan Komandan Pangkalan Udara Adisutjipto Yogyakarta Marsekal Pertama TNI Imran Baidirus, SE. Selanjutnya ada simulasi dan teatrikal yang dilaksanakan para siswa instruktur penerbang lengkap menggunakan pakaian kadet penerbang pada jaman itu. Setelah mendapat perintah dari Perwira Operasi Komodor Udara Halim Perdanakusumah mereka mengadakan briefing singkat serta dilanjutkan dengan pelaksanaan misi operasi. Suasana yang dibangun benar-benar mengingatkan tentang peristiwa heroik dan bersejarah tersebut.

Dalam sambutannya, Marsekal Pertama TNI Imran Baidirus, SE mengatakan, Serangan Udara memperlihatkan kegigihan, keuletan, ketangguhan, keyakinan dan semangat juang para pendahulu TNI Angkatan Udara dalam mengemban tugas mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Ditengah keterbatasan yang dimiliki oleh rintisan Sekolah Penerbang TNI AU, para “Tentara Langit” tetap mampu menunjukkan darma bhakti terbaiknya sebagai bentuk eksistensi Angkatan Udara menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca juga:  Jaga Kelestarian Lingkungan Hidup, Lanud ZAM Tanam Pohon

Melalui Napak Tilas Serangan Udara, Marsekal Pertama TNI Imran Baidirus, SE berharap agar generasi penerus TNI Angkatan Udara dapat meneladani jiwa patriotisme dan rasa nasionalisme para pelaku Serangan Udara, yang kemudian dapat diimplementasikan dalam tugas sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing, tegasnya.

Hadir dalam kegiatan napak tilas tersebut Danwingdikterbang Kolonel Pnb Azhar Aditama, SE, Kadispers Letnan Kolonel Pnb Dedy Susanto, Kadislog Letnan Kolonel Tek Jefry D. Ritau, Danskadik 101 Letkol Pnb Onesmus GRA, Danskadik 102 Letkol Pnb Fery Yunaldi, Danskadik 104 Letkol Pnb Safeano Cahyo serta para pejabat di lingkungan Lanud Adisutjipto, perwakilan anggota Lanud Adisutjipto, AAU dan RSPAU dr. Hardjolukito, Siswa Sekolah Penerbang dan PSDP serta perwakilan Taruna AAU.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel