Pustaka

NIKMATNYA MENGINGAT ALLAH SAAT MENYIBAK AWAN DI LAUT CINA SELATAN

Dibaca: 57 Oleh 24 Jan 2014Tidak ada komentar
indonesianf16pesawat0170 tniau
#TNIAU 

Saat Tangan-Nya turun ke bumi, saat isak tangis hamba-Nya yang shaleh bermunajat kepada-Nya, saat yang tepat dimana doa-doa diijabah, tersadarlah saya dari lelapnya tidur, sembari melihat jam di Hand Phone menunjukkan pukul 01.30  pagi, rupanya Allah mengundang saya untuk hadir dalam limpahan Karunia-Nya. Suasana yang begitu teduh dan kusyuk membuat saya harus hanya pasrah kepada Allah yang  tiada seorang makhluk pun yang dapat menandingi, tiada sekutu bagi-Nya, tiada kekuatan dan kekuasaan melainkan hanya dari-Nya.

Teng…teng… pukul 02.00 pagi, mata saya pun tertuju pada jam dinding yang berada disudut ruang tamu. Suasana kepasrahan pun lambat-laun menimbulkan semangat yang luar biasa, semangat akan keyakinan bahwa Allah lah yang menetukan  dan manusia hanya bisa berencana. Suasana inilah yang mengantar saya untuk segera mandi dan berpakaian overall. Dengan menggunakan motor mio berwarna putih saya pun lekas menuju ruang briefing.

Briefing pagipun di mulai tepat pukul 02.30. Satu persatu satuan mulai memaparkan rencana penerbangan  yang akan dilaksanakan, mulai unsur tempur, jun satpur, dallan, bekkul dan Kodal.  Tampak suasana ruangan sedikit lain dari biasanya, cemas bercampur tegang menyelimuti briefing pada pagi hari itu. Maklum saaat itu adalah Manlap Latihan PPRC TNI 2008 sebagai rangkaian sebelum Latgab TNI 2008 yang mengambil pangkalan aju salah satunya di Lanud Supadio.  

Briefingpun berakhir pada pukul 04.00. Segera Elang Flight yang terdiri dari Mayor Pnb Radar Suharsono alumni AAU 1995 (elang 1) sebagai leader, Lettu Pnb Wanda Surijohansyah alumni AAU 2001 (elang 2) sebagai wingman dan Kapten Pnb Supriyanto alumni AAU 2000 (elang 3) sebagai deputy lead bersiap-siap menuju ruang alkat untuk menggunakan G-suitku (baju terbang). Terlintas dalam benakku “ Ya Allah suasana gelap gulita seperti ini siapakah yang dapat menuntunku jikalau bukan hanya Engkau seorang “

“Wah pertempuran akan segera dimulai”. Sahut saya disela-sela menggunakan G-suit (baju terbang) dan disambut tawa dari Mayor Radar dan Kapten Supriyanto. Tak bisa saya hindari rasa gugup dan cemas mulai menyelimuti, gugup karena dihadapkan suatu misi  penerbangan dan cemas bagaimana melaksanakan shalat shubuh nanti jika berada terbang di pesawat. Ini adalah misi penembakan rocket yang mengambil lokasi target di Lanud Ranai yang berada sebelah utara lanud Supadio sekitar berjarak 250 Nm. Selain itupun misi ini di combain dengan Air refuelling. Pelaksanaan Air Refuelling ini dilakukan karena berdasarkan perhitungan fuel, pesawat hawk  tidak mampu melaksanakan penembakan rocket di Lanud Ranai dan segera kembali ke Lanud Supadio. Sehingga dibutuhkan tambahan fuel berupa pengisian bahan bakar di udara dengan catatan jika tidak dapat melaksanakan pengisian bahan bakar di udara maka pesawat tidak mungkin dapat kembali ke home base dan harus mendarat di landasan Lanud Ranai. Ini adalah tantangan tersendiri dalam misi ini walaupun perkenaan nanti hasilnya sangat bagus namun jika tidak dapat melaksanakan Air Refuelling dan mengharuskan mendarat di Lanud Ranai tentu akan ada kesan tersendiri yang muncul, kata orang“ cemar” He..he..he…

Perlahan namun pasti para penerbang yang tergabung dalam Elang Flight berjalan menuju pesawat untuk melaksanakan persiapan penerbangan. Satu-persatu bagian dari pengecekan exterior pesawat diperiksa dengan lebih teliti oleh penerbang dengan menggunakan lampu senter. 

”Elang Flight Cx in….. Elang2 ….3.   Elang  flight start 1 go.” Deru 3 suara mesin jet Turbo fan Adour MK  871 memecah keheningan malam dan lampu-lampu pesawat  ikut menghiasi gelapnya malam. “ Alhamdulillah tadi saya sudah mengambil wudhu” kataku. Hal ini lah yang dapat mengurangi perasaan cemas saya agar dapat melaksanakan shalat shubuh nanti. Sudah menjadi kodrat manusia bahwa apapun yang ada di dunia ini tidak akan diridhoi oleh Allah  jika kita tidak ingat kepada–Nya yaitu melalui Shalat, karana shalat adalah ibadah yang paling utama dalam ajaran Islam. Saya  teringat akan suatu riwayat di jaman Rasulullah SAW bahwa Beliau tetap melaksanakan Ibadah Shalat berjamaah disaat pasukan musuh berada di hadapan mereka yaitu dengan cara shalat berjamaah bergantian , satu pasukan melaksanakan shalat yang lain waspada terhadap serangan musuh. Hal inilah yang membuat saya begitu yakin bahwa sesulit apaun kondisi  kita tetapi tetap harus melaksanakan shalat kecuali bagi mereka yang telah mati baik secara fisik maupun hatinya.

Baca juga:  TNI AU Siagakan Dua Hercules untuk Bencana Aceh

”Bismillahirrahmaanirrahiim”….. saya mulai  melepaskan brake pesawat agar dapat melaju di atas landasan untuk segera air born menyusul pesawat Elang 1 yang air born terlebih dahulu dengan selisih 20 sec dan disusul dibelakang saya elang 3 dengan selisih 20 sec juga.

Sesaat setelah pesawat air born perasaan terkesimapun muncul ”Ya Allah begitu mulianya Engkau, kota Pontianak yang begitu besar dengan taburan lampu-lampu jalan yang bekilauan terlihat begitu kecil apalagi manusia yang lebih kecil lagi bahkan tak terlihat sama sekali namun kesombongan manusia dapat menggetarkan seisi jagat raya karena secara hakiki seluruh benda dan makhluk di buka bumi ini bertasbih dan memuji kepada Allah kecuali manusia dan jin yang ingkar kepada-Mu”. ” Ya. Allah ampunilah hambamu yang nista ini.” Sambung saya dalam ketakjuban melihat keindahan ciptaan Allah. 

Semakin tinggi altiutude yang dicapai, maka semakin kecil dan tak terlihat pemandangan di bumi. Sesekali kami berkomunikasi dengan santai untuk menghilangi rasa sepi saat penerbangan dan kantuk yang mungkin akan muncul. ”Astaghfirullah …” tanpa disadari mata  saya terpaku melihat jam yang berada yang pesawat “ Sudah jam 5 “ Saya terperanjat karena belum melaksanakan ibadah shalat shubuh , akhirnya saya pun berniat melaksanakan shalat diatas pesawat, ”Allahu Akbar …” dengan kedua tangan tetap pada posisi Hotas, saya mulai melaksanakan gerakan shalat dengan isyarat anggukan kepala. Gerakan demi gerakan dapat saya selesaikan hingga akhirnya sampai pada tasyahud akhir, rupanya Elang 1 melaksanakan pengecekan sistem pesawat semua member dan hal ini harus dilaporkan kondisi pesawat kita agar dapat tetap termonitor. Saya  sempat bingung menyelesaikan shalat atau melaporkan konsisi pesawat. Elang 1 akhirnya memanggilku kedua kalinya melalui radio UHF antar pesawat akhirnya akupun membatalkan shalat “Wah kan tinggal dikit lagi selesai, jadi batal deh “ gumamku. Rupanya Elang 1 yang diawaki oleh Mayor Pnb Radar Suharsono tidak hanya mengecek kondisi pesawat member tetapi memberikan kesempatan shalat secara bergantian kepada kami ”Alhamdulillah”  akhirnya saya pun mendapat giliran pertama untuk melaksanakan shalat dengan tenang tanpa harus khawatir akan diganggu lagi. Setelah selesai mengerjakan Shalat saya melaporkan kepada Elang 1 bahwa saya sudah selesai shalat. Elang 1 pun bergantian melaksanakan shalat subuh begitupun elang 3. Alhamdulillah kali pertama dalam sejarah penerbangan saya dapat melaksanakan Shalat shubuh di pesawat tempur dan lebih mengesankan lagi adalah seluruh member dapat melaksanakan shalat shubuh. Ternyata perasaan ini bukan hanya saya sendiri rasakan karena setelah diketahui bahwa Mayor Radar dan Kapten Supri pun baru kali ini melaksanakan shalat shubuh di pesawat tempur. ”Apakah seluruh penerbang tempur pernah mengerjakannya?”

Baca juga:  DANSATGAS POM TNI HADIR PADA MEDAL PARADE ABK KRI SIM-367

Sesaat terlintas di benak saya jika saja kami menyepelekan Shalat Shubuh waktu itu pasti Allah akan sangat murka kepada kami dan mungkin akan diberikan cobaan di luar kemampuan kami sebagai peringatan saat itu. Perasaan cemas pun hilang setelah kami dapat menyelesaikan Shalat dan berganti dengan perasaan tenang. ”Subhanallah” memang benar Firman Allah dalam Al Qur’an bahwa Hanya dengan mengingat Allahlah Hati akan menjadi tenang”.

Perjalanan yang berawal  gelap gulita hanya radar mapping dan kepasrahan kepada Allah sajalah yang menjadi acuan ditambah kondisi cuaca yang berawan pada jarak 100 Nm sebelum memasuki pulau Ranai. Akhirnya dengan keyakinan dan  informasi yang diberikan oleh Letkol Pnb Kustono sebagai RSO yang berada di sekitar target penembakan, kondisi suasana di target penembakan sedikit demi sedikit mulai terang dan kami pun menjadi tenang .

Sesampainya di Holding point pada pukul 05.20’ ternyata kami masuk ke dalam awan, timbul kekhawatiran kami akan sulitnya untuk melihat pesawat yang lain. Akhirnya kamipun turun kebawah awan dan Alhamdulillah kondisi perawanan lebih baik meskipun masih belum bisa melihat permukaan air laut pada ketinggian 1500 Ft.

Sesuai dengan perhitungan waktu kami  meninggalkan Holding Point satu persatu mulai dari elang 1 kemudian elang 2 dan disusul oleh elang 3 dengan separasi 1.8 Nm. Kamipun turun ke ketinggian 500 Ft AGL. Saat-saat genting akan mendekati Initial Point tiba-tiba pesawat Hawk 209 yang saya awaki mengeluarkan asap putih melalui Air Conditioning yang menyebabkan kondisi cockpit penuh dengan asap dan berimbas kepada HUD berembun sehingga saya tidak dapat melihat penunjukan HUD juga pesawat didepan serta ketinggian yang ada disekitar rute . Dalam keadaan demikian saya mematikan AC ( Air Conditioning ) sebelum  memutuskan untuk segera naik diatas ketinggian 1500 Ft karena sepanjang  rute Holding Point menuju Initial Point banyak terdapat ketinggian dan saya tidak dapat melihat apa-apa didepan kecuali asap putih di dalam cockpit. Dalam kondisi yang ”Stress” tersebut keluar dari mulut saya istighfar dan memohon pertolongan Allah.” Ya Allah tidak sulit bagi-Mu menghilangkan asap putih ini jika Engkau mengatakan Jadi maka Terjadilah” hanya hal ini yang terlintas dalam benak saya waktu itu perasaan hanya menyerahkan segala urusan kepada Allah. Kondisi ini terus berlanjut hingga meninggalkan Initial Point menuju Pop Up Point (PUP). Saat meninggalkan PUP saya yang hanya mempercayai penunjukan head down instrument dan MPD yakin posisi pesawat saya sudah bebas dari ketinggian dari Map Reading yang telah dibriefingkan sebelumnya, saya pun turun ke 500 Ft sambil menyapu kondisi HUD dengan Gloves dengan harapan embunnya akan hilang. Detik-detik menjelang PUP, saya pun mulai panik jika saat akan final penembakan masih kondisi seperti ini maka saya pun akan membatalkan penembakan. Tetapi tiba-tiba entah apa dan siapa yang berbuat kecuali atas kehendak Allah, asap yang berwarna putih yang keluar dari AC pun hilang dan dan embun yang berada  di HUD pun  menjadi jelas. Seingat saya, yang dapat saya lihat pertama setelah kondisi kembali normal adalah Elang 1 sudah pada posisi Climb/ Pup  menuju ke ketinggian yang diinginkan. Akhirnya saya pun mengikutinya, dengan berulang-ulang kali mengucap syukur saya dapat melihat target yang akan dihancurkan dan yang membuat saya tenang lagi adalah kondisi target sudah terbakar alias elang 1 sudah menghancurkannya pada Time Over Target ( TOT ) 05.35’ sesuai dengan perencanaan yang telah ditentukan. Sayapun menembak ke arah kobaran api tersebut. Disusul oleh elang 3.

Baca juga:  ITB Bisa Buat, Tak Perlu Beli Pesawat Israel

Alhamdulillah tugas penembakan dapat terlaksana dengan baik kami yakin sekali bahwa tidak sulit bagi Allah membuat kami tidak dapat melihat target ataupun membuat kami tidak konsentrasi ataupun membelokkan arah rocket kejadian ini hanyalah atas karunianya. Saya yakin bahwa hal ini terjadi karena karunia-Nya pada saat kami melaksanakan Shalat subuh di pesawat . “ Alhamdulillah Allah Ridho “ kata saya kepada elang 1 dan disambut dengan hangat  “ Betul Wan . Allah Ridho dengan kita “ kata Elang 1.  

Perasaan senang dan bangga waktu itu tiba-tiba berubah menjadi kecemasan kembali setelah Elang 1 menyampaikan agar tiap member mempersiapkan diri untuk melaksanakan Air Refuelling. Wah bagi saya misi ini lebih ” menyeramkan” dibandingkan misi penembakan karena resiko jika salah satu member saja tidak dapat melaksanakan Air refuelling karena sesuatu hal maka mau tidak mau seluruh member mendarat di Lanud Ranai…..” Cemar…. Dong..”

Komunikasi pun dapat kami lakukan dengan pesawat Tanker yang mengambil Air Refuelling  Control Point ( ARCP ) berjarak 30 Nm dari target. ” Oke , Elang Flight sekarang Tanker berpindah ARCP  karena ARCP yang semula direncanakan terdapat awan CB yang berpotensi hujan” Info dari Tanker yang diawaki oleh Mayor Pnb Aji lulusan Akabri 1993. Otomatis hal tersebut menambah beban bagi Elang 1 yang segera mencari posisi Tanker dengan bantuan Radar dan info dari navigator Tanker. ”Ya Allah ku serahkan segala urusan hanya kepada –Mu.” Doaku waktu itu khawatir jika tidak dapat bertemu dengan Tanker. 

Syukur kami dapat visual contact dengan tanker yang memakan waktu 2 kali lebih lama dari budgeting. Hal ini berimbas kami pun harus menambah fuel yang lebih pula dari semula yang kami rencanakan. Saat menegangkan pun tiba saat Elang1 dan 2 menuju stabilise position untuk melaksanakan engage. . Berulang kali kami berusaha untuk engage  namun semakin susah yang kami rasakan padahal fuel terus terbakar di engine Hawk.” Relaks….relaks….” Kata Elang1 yang tidak kalah Stresnya  karena tidak dapat engage dengan segera.

” Elang 2 Engage ” Kata saya dan segera disusul Elang 1. Akhirnya kamipun berhasil melaksanakan Air Refuelling  dengan sukses. Hal ini pun diikuti oleh elang 3 yang tidak begitu susah melaksanakan engage dan air refuelling.

Alhamdulillah  misi penembakan dan Air Refelling pun dapat kami laksanakan dengan sukses dan selamat . Dengan Canda dan Tawa Mayor Radar  mengatakan ; Ayo .. kita makan pecel yuk…… hahahahaha…” disambut dengan tawa saya dan  Kapten Supriyanto yang diakhiri ucapan ” Insya Allah ” dari leader dalam mengiringi perjalanan kami kembali ke home base dengan selamat. 

Selamat dan Sukses Elang Khatulistiwa

” LITTLE BUT LETHAL ”

_________________________________

” By Russell ”

Lettu Pnb Wanda Surijohansyah 

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel