BeritaKohanudnas

PANGKOHANUDNAS NARASUMBER SEMINAR NASIONAL, DAMPAK PENGAMBILALIHAN RUANG UDARA TERHADAP KEDAULATAN NASIONAL

Dibaca: 95 Oleh 02 Mar 2018Tidak ada komentar
PANGKOHANUDNAS NARASUMBER SEMINAR NASIONAL, DAMPAK PENGAMBILALIHAN RUANG UDARA TERHADAP KEDAULATAN NASIONAL
#TNIAU 

TNI AU. Bertempat di Hotel Novotel Tangerang, Panglima Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsda TNI Imran Baidirus, S.E., tampil sebagai salah satu narasumber Seminar Nasional yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Kamis (1/3).  Seminar yang diselenggarakan Himpunan Taruna Jurusan Keselamatan Penerbangan (Kespen) STPI tersebut bertemakan, “Tinjauan Efektifitas Rute Penerbangan Jalur Selatan Serta Rencana  Pengambilalihan Ruang Udara Sektor A,B,C dan Dampaknya Terhadap Perekonomian, Pertahanan dan Kedaulatan Nasional”.

Dalam sambutan pembukaannya, Ketua STPI Curug Capt. Novyanto Widadi, S.AP, MM., menyatakan seminar nasional terselenggara atas kerja sama berbagai pihak di lingkungan Kementerian Perhubungan dan lembaga-lembaga penerbangan terkait di tanah air. Ketua STPI juga berharap melalui seminar nasional tersebut dapat semakin memperkuat kerja sama antara semua unsur dalam dunia penerbangan nasional, sehingga ke depan dapat bersinergi untuk mendukung program pengembalian pengelolaan ruang udara di wilayah udara Indonesia yang ada atas di Kepulauan Riau dan Natuna yang menjadi harapan Presiden RI Joko Widodo.

Marsda TNI Imran Baidirus, S.E.,  dalam paparannya menyampaikan sebagai negara yang berdaulat Indonesia berdasarkan Konvensi Chicago 1944 mempunyai kedaulatan yang utuh dan penuh atas wilayah udaranya.  Dengan dimilikinya kedaulatan yang utuh tersebut, Indonesia berhak mengatur dan mengelola ruang udaranya tanpa intervensi dari negara lain dan tidak ada satupun pesawat asing yang melintasi negara lain tanpa perizinan sebelumnya.  Sebagai penjaga wilayah udara nasional adalah TNI AU dan Kohanudnas merupakan pelaksana tugas TNI AU dalam hal pertahanan udara (hanud).  Tugas Hanud yang dilaksanakan Kohanudnas antara lain melalui operasi pertahanan udara dengan tahapan kegiatan deteksi, identifikasi dan penindakan terhadap pesawat asing yang melintas tanpa izin.

Baca juga:  Peringatan ke-72 Hari Bhakti TNI Angkatan Udara Tahun 2019 di Medan

Mengenai Flight Information Region (FIR), adalah suatu ruang udara yang ditetapkan dimensinya, dimana di dalamnya diberikan Flight Information Service.  Flight Information Service adalah pelayanan yang dibentuk dan dipersiapkan untuk memberikan saran dan informasi secara penuh untuk keselamatan dan efisiensi penerbangan. Pengaturan FIR dalam hukum internasional terdapat pada ANNEX 11 Konvensi Chicago tentang Air Traffic Services.  Sebagai negara anggota organisasi penerbangan sipil internasional (ICAO), Indonesia berkewajiban memenuhi sarana dan prasarana keselamatan dan keamanan penerbangan sesuai standar internasional. Namun FIR Indonesia sejak 1973 hingga kini tidak mencakup seluruh wilayah kedaulatan Indonesia karena sebagian wilayah (Kepulauan Riau dan Natuna) masih dikendalikan oleh Singapura, di sekitar Pulau Selaru dikendalikan oleh FIR Brisbane dan di sekitar Pulau Miangas dikendalikan oleh Manila FIR.  Untuk itu, ke depan melalui sinergis berbagai pihak di tanah air diharapkan pengelolaan ruang udara di wilayah udara Indonesia yang ada atas di Kepulauan Riau dan Natuna dapat diupayakan kembali ke NKRI.

Baca juga:  BANK BRI TARAKAN ADAKAN FPK (FORUM PENINGKATAN KINERJA) DI LANUD TARAKAN

Dalam seminar tersebut diadakan pula sesi tanya jawab.  Selain Pangkohanudnas tampil pula narasumber lain yaitu Triyanto Moeharso, Direktur Operasi Garuda, M. Hasan Bashory, Kasubdit Operasi Navigasi Penerbangan Kemenhub dan Moeji Soebagyo, ST., Perwakilan Direktur Operasi Airnav Indonesia dengan moderator Ir. R. Yuliantika MS.,MH. PSCM.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel