TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

Pangkohanudnas Undang Atase Udara Singapura dalam Coffee Morning

Kliping Berita Media

TNI AU.  Panglima Kohanudnas Marsda TNI Imran Baidirus, S.E, mengundang Atase Pertahanan Udara Singapura Letkol Davis Lee Kim Guan ke Markas Kohanudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta  dalam coffee morning Senin, (15/10). Coffee Morning diadakan di ruang VIP Sujono Makohanudnas dihadiri Kepala Staf Komando Pertahanan Udara Nasional (Kas Kohanudnas) Marsma TNI Arif Mustofa, M.M., Pangkosekhanudnas I Marsma TNI Surya Chandra Siahaan,  S.IP., DIPL of MDS.,M. Tr (Han), Kolonel Pnb Donald Kasenda dari Mabes TNI dan pejabat Makohanudnas serta Kosekhanudnas I.

Pada coffee morning tersebut, Pangkohanudnas mengawali perbincangan dengan menunjukkan hubungan baik Indonesia dengan Singapura yang telah terjalin erat. Selanjutnya disampaikan tugas Kohanudnas dalam pengawasan dan pengamanan wilayah udara Indonesia dari berbagai penerbangan illegal. Diinformasikan kepada Atase Pertahanan Udara Singapura Letkol Davis Lee Kim Guan, memasuki pertengahan tahun 2018 ini, di atas wilayah udara Indonesia, khususnya di atas Pulau Natuna dan sekitarnya yang pergerakan pesawat udaranya dikendalikan Air Traffic Control (ATC) Singapura, terjadi intensitas peningkatan pelanggaran penerbangan illegal. Guna menunjukkan intensitas tersebut, Pangkohanudnas menunjuk Letnan Kolonel Pnb Budi Susilo untuk memaparkan dalam slide kronologinya.

Dalam paparannya Letnan Kolonel Pnb Budi Susilo yang menjabat Kepala Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas) Kohanudnas menyatakan wilayah udara Indonesia dibagi dalam 4 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai jalur/koridor resmi bagi pesawat udara negara lain yang ingin melintasi di wilayah udara Indonesia. Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 4 tahun 2018 tentang Pengamanan Wilayah Udara, maka peran Kohanudnas dibutuhkan guna pengamanan wilayah udara nasional dengan utuh. Dalam PP tersebut ditegaskan, Pesawat Udara Negara Asing yang terbang ke dan dari atau melalui Wilayah Udara harus memiliki lzin Diplomatik (diplomatic clearance) dan Izin Keamanan (security clearance). Untuk Pesawat Udara Sipil Asing tidak berjadwal yang terbang ke dan dari atau melalui Wilayah Udara, menurut PP ini, harus memiliki Izin Diplomatik (diplomatic clearance), Izin Keamanan (security clearance) dan Persetujuan Terbang (flight approval). Pesawat Udara sebagaimana dimaksud yang terbang dengan tidak memiliki izin merupakan pelanggaran. Demikian bunyi Pasal 10 ayat (3) PP tersebut.

Berdasarkan pada aturan tersebut, Popunas memonitor pergerakan pesawat yang melintas di wilayah Indonesia. Dari awal Juni 2018 hingga Oktober tidak kurang dari 50 traffic yang melintas secara illegal dengan beberapa alasan. Penerbangan tersebut tentu sebelumnya telah melalui perizinan dari ATC Singapura. Dijelaskan Kapopunas terdapat beberapa jenis pelanggaran yang sering dilakukan pesawat asing yaitu tidak memiliki flight clereance (FC), FC sudah kedaluarsa masa berlakunya, rute dengan FC tidak sesuai dalam realitanya, melaksanakan manuver udara dan lainnya. Dengan adanya pelanggaran penerbangan asing itu, Pangkohanudnas berharap kepada Atase Pertahanan Udara Singapura Letkol Davis Lee untuk menjelaskan pelanggaran pesawat asing kepada ATC Singapura.  Ke depan diharapkan komunikasi tetap terjalin baik, termasuk dapat dikuranginya pelanggaran penerbangan yang terjadi di wilayah udara Indonesia.

Pangkohanudnas Undang Atase Udara Singapura dalam Coffee Morning