TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

PANJI-PANJI AURI SWA BHUWANA PAKSA

By 28 Apr 2014 Pustaka
indonesianf16pesawat0170_tniau

Gagasan dan Perwujudan. 

Dalam masa penyusunan kembali organisasi AURI tercetus adanya keinginan untuk menciptakan lambang AURI yang sesuai dengan watak serta sifat-sifat khas AURI sebagai alat pertahanan keamanan maupun sosial politik serta pelopor pembinaan kedirgantaraan nasional. Tercatat dalam sejarah AURI nama seorang prajurit sebagai pencetus hasrat untuk melahirkan sebuah lambang AURI, prajurit tersebut adalah Opsir Udara II R.S. Hupudio. Pada tahun 1949 dibentuklah panitia sayembara yang mendapat bantuan dari Kepala Penerangan AURI OMU II R.J. Salatun dan beberapa perwira lainnya. 

Sayembara ini ditujukan kepada masyarakat umum khususnya murid-murid Sekolah Menengah di Yogyakarta. Dengan tidak adanya peserta yang memenangkan sayembara tersebut, OU II R.S. Hupudio membuat sketsa lambang AURI dengan motto dari bahasa latin “Alae Patriae” yang berarti Sayap Tanah Air. 


Sketsa logo dengan tulisan “Alae Patriae”

Pada bulan Nopember 1949, disaat OU II R.S. Hupudio piket bersama dengan Sersan Udara Saridjan, beliau memberikan petunjuk-petunjuk untuk melukis lambang AURI tersebut. Berkat ketekunan dan kerja yang baik antara OU II R.S. Hupudio dengan Sersan Udara Saridjan maka dalam waktu singkat terciptalah sebuah lambang yang benar-benar sebagai pancaran jiwa AURI dengan motto “Alae Patriae”. Lambang ini merupakan rancangan awal lambang AURI yang kemudian oleh panitia memenuhi persyaratan sayembara. Mengingat situasi dan kondisi tahun 1949 sangat memerlukan lambang, maka rancang awal lambang AURI tersebut meskipun belum diresmikan, sempat digunakan dalam surat-surat dinas AURI. 


Sketsa logo dengan tulisan “Swa Bhuwana Pakca”

Pada tahun 1950 tanpa mengurangi isi motto yang telah ditentukan, diusahakan suatu motto dalam bahasa Sansekerta/Jawa Kuno. Untuk itu LU II R.J. Salatun memerintahkan Letnan Muda Udara II Agus Suroto menghubungi Prof. Dr. R. Ng. Purbotjaroko seorang mahaguru ahli bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, untuk meminta petunjuk tentang motto lambang AURI. Prof. Dr. R. Ng. Purbotjaroko memberikan dua motto yaitu “ Ring Angkasa Ring Angkasa Juga” (Sekali di Udara tetap di Udara) dan “Swa Bhuana Paksa” (Sayap Tanah Air). Untuk tidak merubah pengertian yang sudah ada, kemudian kedua motto ini setelah diteliti dan dipelajari, maka panitia menetapkan lambang AURI mengalami perubahan hanya mottonya saja, dari “Alae Patriae” menjadi “Swa Bhuanan Paksa” dengan tulisan S pakai titik di bawahnya (S). 

Peresmian Panji-panji TNI Angkatan Udara 

Pada tanggal 5 Oktober 1952 di Lapangan Banteng Jakarta, Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang menganugerahkan Panji-panji kepada TNI AD, AL dan AU sebagai tanda peringatan kepada jasa-jasa angkatan dalam kemerdekaan di masa lampau dan sebagai lambang kebulatan, keutuhan dan kejayaan untuk masa selanjutnya selaku pengawal bangsa dan tanah air. Masing-masing Panji-panji angkatan memuat dua buah lambang yaitu sisi kanan lambang negara Garuda Pancasila dan di sisi kiri lambang masing-masing angkatan. Panji-panji TNI AU menggunakan burung Garuda sebagai inti lambang yang dilengkapi dengan atribute lainnya dengan menggunakan tulisan motto “Swa Bhuana Paksa” sebagai lambang. 


Kasau S. Surjadarma menerima Panji TNI AU dari Presiden”

Sejak penganugerahan Panji-panji TNI AU berdasarkan Keputusan Presiden No. 137 tahun 1952 maka lambang yang tergambar dalam panji-panji resmi lambang TNI AU adalah sebagai berikut : 

a. Burung Garuda menoleh ke arah Timur sambil merentangkan sayap yang jumlahnya 17 helai dengan perincian bulu bagian luar 8 helai, tengah 5 helai dan bagian dalam 4 helai.

b. Pita dengan tulisan motto “ Swa Bhuana Paksa”.

c. Anak panah sebanyak 5 buah.

d. Perisai bergambar Peta Indonesia.

e. Lidah api kiri perisai 4 buah dan sebelah kanan 5 buah.

f. Manggar baik kiri maupun kanan berjumlah 17 butir.

g. Arti dan Makna Lambang 


Panji-Panji TNI AU “Swa Bhuwana Paksa”

Figur Burung Garuda. Burung garuda adalah burung yang kondisi maupun struktur tubuhnya kuat, gagah, anggun dan memiliki keberanian di samping itu dari segi sejarah maupun warisan budaya nenek moyang kita burung garuda dengan kondisi dan struktur tubuh seperti telah diagungkan pula sebagai lambang keperkasaan, yaitu pada jaman Raja Airlangga di mana identitas pemerintahannya menggunakan lambang Garuda dalam bentuk Cap Garuda Muka. Oleh karena itu pilihan burung Garuda sangatlah tepat sebagai lambang TNI AU dengan tulisan motto “Swa Bhuana Paksa “. Aspek selanjutnya dari burung Garuda lambang TNI AU dapat dijelaskan sebagai berikut : 

1. Sayap Burung Garuda. Garuda pada lambang TNI AU tertera sedang merentangkan sayapnya, melambangkan kesiapsiagaan melaksanakan tugas, dalam hal ini sebagai perwujudan bahwa TNI AU senantiasa waspada dan siap siaga melaksanakan tugas.

2. Bulu Sayap. Bulu sayap burung Garuda tersebut disusun dalam tiga kelompok/baris, yaitu kelompok bagian luar delapan helai, bagian tengah lima helai dan bagian dalam empat helai. Jadi jumlah bulu seluruhnya 17 helai, angka-angka tersebut mengandung makna sebagai berikut :

a) Jumlah seluruh bulu 17 helai menunjukkan tanggal hari proklamasi.

b) Jumlah bulu kelompok bagian dalam empat helai bila digabungkan dengan jumlah bulu kelompok bagian tengah lima helai akan membentuk angka 45 ( dibaca dari arah dalam ke luar). Apabila angka-angka tersebut (satu, dua dan tiga) digabungkan akan membentuk angka keramat 17-8-45.

3. Posisi Kepala. Dalam sejarah lahirnya lambang TNI AU, pada rancangan awal lambang TNI AU dengan motto “Alae Patriae” posisi kepala burung menoleh ke kanan. Kondisi yang demikian baik menoleh ke kanan maupun ke kiri sama sekali tidak mengandung maksud/arti/makna apa-apa, kecuali pengaruh estetika dan artistik saja. Dalam perkembangan selanjutnya sesudah lambang TNI AU “Swa Bhuana Paksa” yang disyahkan bersamaan dengan pengesahan panji-panji angkatan, posisi kepala burung Garuda menoleh ke arah Timur (arah peta pada perisai) yang mempunyai arti dan makna filosofis atau filsafati. Secara filsafati, dalam nilai-nilai kebudayaan Timur warisan budaya nenek moyang, Timur adalah menunjukkan daerah hidup atau lahir di mana sang surya mulai menampakkan sinarnya

Pita. Pita bertulisan motto “Swa Bhuana Paksa” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Sayap Tanah Air. Kata sayap diartikan pula sebagai pelindung, jadi semboyan Sayap Tanah Air atau “Swa Bhuana Paksa” dalam bahasa Sansekerta merupakan proyeksi dari pada tugas TNI AU, yaitu mewujudkan pertahanan nasional di udara untuk melindungi keamanan, kemerdekaan, kedaulatan, integritas maupun kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Anak Panah. Burung Garuda pada lambang TNI AU digambarkan sedang mencengkeram lima buah anak panah, dalam warisan budaya nenek moyang, panah merupakan salah satu senjata utama bagi seorang ksatria. Kondisi ini menunjukkan adanya suatu perpaduan erat antara sistem senjata TNI AU dengan lima dasar negara kita. Dengan demikian tersiratlah bahwa Garuda mencengkeram lima buah anak panah tersebut adalah melambangkan keterkaitan/keterpaduan TNI AU beserta alutsista udaranya dengan Pancasila. Gambaran burung Garuda mencengkeram lima buah anak panah tersebut melambangkan atau mempunyai makna bahwa TNI AU dengan alutsista udaranya, dalam melaksanakan tugas selalu berpegang teguh pada lima dasar negara yaitu Pancasila. 

5. Perisai. Pada masa yang silam perisai merupakan alat pelindung diri bagi setiap prajurit/ksatria dalam melaksanakan tugas pertempuran di medan perang. Perisai bergambarkan peta Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam lambang TNI AU menggambarkan/mengandung makna TNI AU sebagai pelindung pertahanan negara. Pada rancangan awal lambang TNI AU perisai berlukiskan Sang Dwi Warna Merah Putih. Untuk mempertegas bahwa yang dilindungi adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia maka gambar Sang Dwi Warna diganti dengan peta Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian perisai bergambarkan peta Indonesia melambangkan bahwa TNI AU adalah sebagai perisai negara yang mempunyai tugas mempertahankan keamanan nasional di udara Negara Kesatuan Republik Indonesia

6. Lidah Api. Api melambangkan semangat, sedang lidah api melambangkan kobaran semangat. Lidah api berjumlah empat dan lima di sebelah kanan dan kiri perisai melambangkan angka keramat tahun 45 yang melambangkan dan mempunyai makna arti bahwa negara yang dilindungi adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lahir di dalam kancah api perjuangan ( Revolusi 45) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

7. Manggar (Bunga Kelapa). Dalam kehidupan sehari-hari pohon kelapa yang merupakan pohon yang serba guna dari daun sampai akarnya. Misalnya dalam aspek warisan budaya nenek moyang, daun dan bunga kelapa berperan penting dalam segala upacara adat. Dalam upacara adat ini kedudukan manggar atau bunga kelapa dianggap sebagai pengganti atau sama dengan bunga pinang yang disebut mayang. Kata mayang biasa dihubungkan dengan kata “bejo kemayangan” kondisi yang menunjukkan keberuntungan. Atas dasar ini bunga kelapa (manggar) maupun mayang biasa dimaksudkan sebagai lambang keberuntungan atau kesejahteraan. Dalam lambang Swa Bhuana Paksa ini yang dimaksud dengan manggar adalah sebagai perlambang kemakmuran, kesejahteraan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

PANJI-PANJI AURI SWA BHUWANA PAKSA