halaman

Pelibatan Dalam Operasi Dan Latihan

Dibaca: 152 Oleh 09 Jun 2010Tidak ada komentar
BAe Hawk 209
#TNIAU 

PELIBATAN DALAM OPERASI DAN LATIHAN

 

Operasi “HALAU”

Operasi Halau yang di laksanakan di Lanud Ranai dalam rangka mencegah subversi maupun infiltrasi melalui laut dan udara khususnya pengungsi Vietnam. Berdasarkan perintah Operasi Halau yang dikeluarkan oleh Pangkoopsau I pada tanggal 28 Mei 1985, operasi dilaksanakan mulai hari “H” tanggal 29 Mei 1985 sampai dengan selesai. Pelaksanaannya mencapai waktu lebih dari satu setengah tahun.

Dasar Untuk Melaksanakan Operasi Halau

Dengan adanya situasi dan kondisi di kawasan Asia pada tahun 1985 terutama di wilayah negara Vietnam yang menimbulkan masalah kemanusiaan berupa pengungsian besar–besaran dari Vietnam ke beberapa negara disekitarnya termasuk Indonesia, dengan masuknya pengungsi tersebut ke wilayah kepulauan Natuna dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi masyarakat Natuna dan keutuhan wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia, maka sejak tanggal 29 Mei 1985 dikeluarkan suatu tugas operasi penanggulangan pengungsi Vietnam yang dipusatkan di Pangkalan TNI AU Ranai, dengan nama operasi HALAU dengan dasar :

a. Peristiwa di pulau laut tentang penyanderaan peltu Abdul Latif anggota koramil oleh ABK Sinam tanggal 17 Mei 1985.
b. Diangkatnya Dan Lanud Ranai sebagai perwira koordinator P3V dengan surat keputusan nomor skep/102/XI/1979 tanggal 1 November 1979 oleh Panglima Daerah TNI AL 2 selaku ketua P3V daerah.
c. Radiogram Pangab nomor T/290/1985 tanggal 2 Juli 1985 tentang pengamanan dan pengintaian perairan Kep. Natuna
d. Radiogram Kasau nomor TK/458/1985 tanggal 27 Mei 1985 tentang pengamanan dan pengintaian perairan Kep. Natuna.
e. Perintah Operasi Halau tanggal 28 Mei 1985 oleh Pangkoopsau I.

Tugas Pokok Operasi Halau

Sesuai dengan perintah operasi tugas pokok Operasi Halau adalah melaksanakan pengawasan dan penghancuran sasaran di wilayah perairan kepulauan Natuna dan sekitarnya terhadap kemungkinan masuknya subversi dan infiltrasi melalui laut di mulai tanggal 29 Mei 1985 sampai dengan selesai dalam rangka menegakkan kedaulatan negara Republik Indonesia. Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut Lanud Ranai bertindak sebagai pelaksana operasi dibawah komando pengendalian Koopsau I. Untuk mencapai tugas pokok tersebut Lanud Ranai mendapat kekuatan udara

Kekuatan Udara

Berdasarkan perintah Operasi Halau, kekuatan udara yang dioperasikan di Lanud Ranai adalah sebagai berikut:

a. Satu fligt pesawat tempur taktis OV-10/Bronco sebanyak 3 pesawat di BKO-kan dari Koopsau II.
b. Satu pesawat intai Cessna C-401 BKO dari Koopsau II.
c. Satu pesawat SAR SA-330 PUMA.
d. Satuan Radar 202 Ranai.

Kekuatan udara yang mendukung operasi udara tersebut mempunyai kemampuan:

a. ARM RECCE.
b. Foto udara secara oblig dan vertical.
c. Combat SAR.

Sesuai dengan kemampuannya operasi dilaksanakan dengan jalan pengamatan/pengawasan sampai batas ZEE dan disesuaikan dengan “radius of action” pesawat tersebut, sedang penghancuran sasaran dilaksanakan atas perintah Pangkoopsau I. 

Pelaksanaan Pengintaian Udara
Pelaksanaan pengintaian secara rutin dilaksanakan 3-4 kali setiap minggu secara intensif tiap-tiap pesawat untuk mencari/menemukan perahu-perahu Sinam.Pada umumnya pelaksanaan operasi tidak mengalami kesulitan karena para penerbang sudah mempunyai cukup pengalaman operasi.

Keamanan Pesawat
Untuk menjaga keamanan pesawat terbang dibebankan kepada Flight Paskhas Operasi Siaga Natuna. Dalam melaksanakan tugasnya dilengkapi dengan sarana komunikasi HT Pamhanlan.

Koordinasi Pelaksanaan Tugas Operasi 

Unsur-unsur yang terlibat dalam penanganan Sinam meliputi darat, laut dan udara. Unsur darat ditangani oleh Kodim Tanjung Pinang yang dibawah Komando Pengendalian Kodam I Bukit Barisan, kekuatan yang ditugaskan adalah Kompi Marinir TNI AL di BKO-kan Kodam I Bukit Barisan. Unsur Laut adalah Gugus tempur laut ( Guspurla ) dan Gugus Keamanan Laut ( Guskamla ) dibawah Komando Pengendalian 

Armada Kawasan Barat. Unsur Udara adalah STU Operasi Halau yang di Operasikan oleh Lanud Ranai dibawah Komando Pengendalian Koopsau I. Dan Lanud Ranai sebagai Pakoor P3V ( Penanggulangan , Pengelolaan, Pengungsi Vietnam ) yang tugasnya sebagai pelaksanaan di lini depan merupakan pemegang inisiatif dalam penyelesaian masalah Sinam . Dalam penanganannya disamping menggunakan kekuatan udara yang dimiliki juga berkoordinasi dengan unsur ABRI dan Masyarakat setempat.

Dampak Operasi Halau

Dampak yang terdapat dengan adanya Operasi Halau adalah sebagai berikut: 

Baca juga:  LAMPIRAN PEMENANG LELANG UMUM LANUD PATIMURA

a. Idiologi. Dengan Masuknya Sinam tidak tertutup kemungkinan masuknya kader komunis kewilayah Republik Indonesia, dikaitkan dengan adanya operasi Halau maka dapat dicegah masuknya paham komunis yang dapat mempengaruhi masyarakat kepulauan Natuna.

b. Politik. Politik Pemerintah telah menggariskan sesuai dengan Kepres nomor 38 tahun 1979 bahwa Sinam jangan sampai menjadi beban bagi negara dalam arti tidak satupun yang dimukimkan di Indonesia.

c. Ekonomi . Dikaitkan dengan adanya Operasi Halau untuk mencegah masuknya Sinam berarti akan mengurangi dampak yang dapat berpengaruh dibidang pembangunan ekonomi . Dengan demikian adanya Operasi Halau mempunyai dampak positif dalam bidang ekonomi.

d. Sosial Budaya. Apabila terdapat Sinam yang jelas memasuki wilayah kota tanpa diketahui, maka akan mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Operasi Halau mempunyai dampak positif dalam kehidupan sosial budaya masyarakat.

e. Hankam. Didalam wilayah ZEE banyak terdapat kerawanan-kerawanan diantaranya masuknya Sinam, maupun infiltrasi dan subversi secara illegal kewilayah kepulauan Natuna. Kerawanan-kerawanan ini apabila tidak ditanggulangi akan berpengaruh terhadap keamanan dan stabilitas Nasional. 

Lanud Ranai sebagai pangkalan operasi terdepan di kawasan laut Cina Selatan mempunyai peranan penting dalam menjaga kedaulatan wilayah. Untuk dapat menjaga kedaulatan wilayah tersebut diperlukan kekuatan udara Operasi Halau memberi manfaat untuk kesiapan pangkalan dalam melaksanakan tugas operasi-operasi udara lainnya. Dengan demikian Lanud Ranai dituntut kesiapannya untuk mampu melaksanakan setiap operasi udara.

LATIHAN GABUNGAN ABRI III TAHUN 1996

Sesuai Program kerja ABRI tahun 1996 untuk mengadakan suatu latihan bersama yang bertujuan untuk meningkatkan kesiapan ABRI dalam melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia terutama berupa ancaman yang datangnya dari luar maka diwujudkan dalam suatu operasi LATGAB ABRI III 1996 di Pulau Natuna. Sebagai satuan ABRI yang terbesar di Kepulauan Natuna maka Lanud Ranai mempunyai peranan yang sangat strategis dalam latihan tersebut baik dalam dukungan sarana dan prasarana ,logistik maupun personil selama pelaksanaan latihan

Latihan gabungan ABRI merupakan latihan dari latihan-latihan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing Angkatan dan Polri, dipilihnya kepulauan Natuna sebagai lokasi latihan dikarenakan kawasan tersebut mampu menampung berbagai macam bentuk operasi militer, mempunyai kondisi geografi yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dan memberikan tantangan terhadap pelaksanaan operasi. Dengan Latgab tersebut ABRI pada saat itu dapat mengukur kemampuan tempur serta sebagai acuan untuk meningkatkan profesionalisme menyongsong tantangan dimasa mendatang

 

Kesiapan Latihan

Pangakalan TNI AU Ranai sebagai Markas Komando latihan memberikan kontribusi dan kesiapan yang sangat penting guna mendukung kelancaran latihan tersebut yaitu :

1. Dukungan Operasi. Fasilitas dukungan operasi di Pangkalan TNI AU Ranai yang tersedia untuk latihan adalah :

a. Fasilitas Penerbangan.

1) Run Way
a) Koordinat : 03.54–6 LU–08.24 4 BT
b) Ketinggian : 7 ft
c) Ukuran : 2550 m x 32 m 
d) Permukaan : Asphalt
e) Azimut : 180 – 360 
f) Kemampuan : 35 LCN

2) Appron

a) Appron Timur

(1) Ukuran : 120 m x 60 m 
(2) Daya Tampung satu pesawat 

C – 130 dan satu foker – 27

b) Appron Barat

(1) Ukuran : 250 m x 60 m
(2) Daya Tampung tiga pesawat C – 130

3) Hanggar 

a) Hanggar Barat : satu buah
(1) Ukuran : 26 m x 36 m
(2) Daya Tampung empat pesawat A – 4

b. Hanggar Timur : dua buah
(1) Ukuran : 26 m x 36 m
(2) Daya Tampung :empat helly/optimal

4) Shoulders. Tersedia disetiap sisi run way dengan ukuran masing – masing 2550 m x 25 m.

5) Tower. Tersedia tower yang dilengkapi dengan radio VHF dan UHF (GTA VHF/AM BECKER kondisi 65 %, GTA VHF, UHF/AM AEROCOM TX baik RS rusak ). 122.8,118.1 (Aerocom RX kurang bagus) dan 245,0 (Aerocom TRX baik).

6) Lighting.
a) A/W Light : baik
b) Taxy Way Light : baik
c) Rotaring Beacon : baik
d) Vasi : baik
e) Reil : rusak

7) Albanav. Tersedia dua NDB sebagai berikut :
a) RN–373 KC kekuatan 400 watt jangkauan100 NM
b) RN–373 KC kekuatan 50 watt jangkauan 20 NM

8) Creas Team. Setiap personil dua regu, tersedia satu unit mobil PK CO 2 ( U/S) dan satu unit mobil ambulance.PK Portable sebanyak 7 buah.

Baca juga:  LAPANGAN HALIM GOLF CLUB 2

9) Refueling tersedia dua buah, satu buah tanker car dengan kapasitas 12 ton dan satu buah tanker Pertamina dengan kapasitas 7 ton.

10) Meteo. Pelayanan meteo yang ada di Lanud Ranai terbatas pada hasil observasi saja, untuk alat komunikasi menggunakan radio Icom M 700 TY dengan cadangan radio Aerocom RF, untuk pelayanan latihan dan kegiatan sehari – hari kerja sama dengan station meteo Ranai.

b. Fasilitas Pendukung. Fasilitas pendukung yang tersedia di Lanud Ranai sebagai berikut :

1) Sumber Tenaga Listrik. Untuk dukungan yang tersedia/operasi dan penerangan rumah tersedia genset dengan rincian :

a) Genset 100 KVA : empat buah (1 U/S)
b) Genset 90 KVA :dua buah 
(duk radar1U/S).
c) Genset 35 KVA : dua buah 
(duk Radar /1 U/S).
d) Genset 25 KVA : empat buah 
(3 “US “/duk Komsat).
e) Genset 15 KVA : dua buah(duk Radio )
f) Genset 1,5 KVA : satu buah ( S )
g) Genset 4,5 KVA : dua buah (1 U/S)

2) Komunikasi. Tersedia fasilitas jaringan komunikasi telepon Komsat, telepon Telkom, telek, Komsat ABRI, radio SSB untuk Sioskombin dan Siskodal, satu unit Kommob.

3) Transportasi Khusus.
a) Ambulance : satu buah 50 % 
b) Tank car 12 ton : satu buah 85 %
c) Forklift : satu (U/S)
d) R/W Sweeper : satu buah 80 %.
e) Ranmor PK : satu buah “US”

5) Rumah Sakit. Termasuk Rumah Sakit kelas IV yang dilengkapi dengan ruang operasi, rontgent, laboratorium, poliklinik gigi, poliklinik umum, ruang bersalin, ruang perawatan dengan kapasitas sepuluh tempat tidur dan tenaga medis tiga orang serta dokter satu orang.

c. Dukungan Logistik. Kemampuan dukungan logistik dalam rangka mendukung Latihan Gabungan ABRI adalah sebagai berkut :

1) BBMP. BBMP dilayani oleh DPPU Pertamina Ranai berupa avigas dan avtur, dengan menggunakan tank car Pertamina, satu buah dan milik TNI AU satu buah (12 ton). Untuk bahan pelumas berupa oli dilayani oleh TNI AU supply dari Pertamina Pontianak

2) Ranmor. Ranmor yang dimiliki Lanud Ranai yang masih bisa digunakan untuk mendukung latihan adalah sebagai berikut:

a) Jeep Toyota Taft : dua buah
b) Jeep Kanvas : dua buah
c) Truck mercy : satu buah
d) Hiace : satu buah
e) Kijang Super : satu buah
f) Truck terbuka : satu buah

3) Mess/Asrama. Kemampuan mess/asrama di Lanud Ranai sebanyak tujuh buah.

d. Dukungan Personil. Untuk mendukung kegiatan operasi, Lanud Ranai mengerahkan seluruh personil militer yang ada sebanyak 116 orang termasuk personil Satrad 202 Ranai.

Kemampuan Lanud Ranai dalam memberikan dukungan latihan operasi gabungan ABRI tergantung dari kemampuan personil, logistik dan dukungan operasi. Dengan kemampuan fasilitas yang ada tersebut Pangkalan TNI AU Ranai siap mendukung latihan gabungan ABRI 1996. 

Peserta Latihan

Dalam latihan ini semua unsur ABRI dilibatkan karena yang akan dihadapi adalah berupa serangan dari negara lain yang mengadakan intervensi ke wilayah Indonesia. Unsur-unsur ABRI yang terlibat adalah :

1. TNI AD : Pasukan KOPASUS, Pasukan Kostrad
Pesawat N-212, CN-235 dan Helly 

2. TNI AL : Pasukan MARINIR, Pasukan Katak Tank
Amphibi, Pesawat Nomad TNIAL dan Helly 

3. TNI AU : Pasukan Khas TNI AU , Pesawat F-16,
F-5, A-4 Sky Hawk, Hercules dan
Pesawat Helly.

4. POLRI : Pasukan BRIMOB dan Pesawat Helly

LATGAB ABRI III Tahun 1996 dilaksanakan pada bulan September, dengan skenario latihan ditunjuklah Lanud Ranai sebagai pangkalan TNI AU sebagai daerah yang sedang di duduki musuh untuk langkah awal menguasai wilayah Indonesia, maka sebagai suatu kekuatan militer ABRI segera menjalankan fungsi pertahanan dengan mengirimkan semua kekuatan yang bertugas untuk merebut kembali Pangkalan TNI AU Ranai dari tangan musuh. Dalam operasi tersebut seluruh kekuatan dikerahkan dari segala medan dari laut udara dan darat yang dipimpin langsung oleh Panglima ABRI Jendral TNI Wiranto, keempat angkatan yang terlibat mengerahkan semua kekuatan yang dimiliki dan berusaha semaksimal mungkin dengan latihan ini dapat menunjukan profesional masing – masing angkatan dalam bidangnya. Sebagai daerah kepulauan maka peranan TNI AU sangat penting dalam latihan tersebut sehingga semua personil Pangkalan TNI AU Ranai dan didukung oleh Satuan Radar 202 Ranai terlibat langsung dalam latihan

Baca juga:  LAPANGAN BADMINTON

 

Penutupan Latihan

Sebagai kegiatan akhir latihan diadakan upacara penutupan latihan yang dihadiri oleh Kasum ABRI sebagai Irup dan Pangkostrad sebagai Danup, yang dilaksanakan di Lapangan RRI Pratama Ranai dan diikuti oleh semua peserta latihan.
Dampak LATGAB ABRI III tahun 1996

Dengan diadakannya LATGAB ABRI ini maka dapat menunjukan kepada masyarakat Indonesia pada khususnya dan Internasional pada umumnya bahwa ABRI mampu untuk melindungi keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari gangguan dan ancaman dari luar, dan menunjukkan kerja sama dengan masyarakat sebagai suatu bentuk kemanunggalan ABRI dengan rakyat. Latihan yang dilaksanakan untuk menunjukkan kesiapan sebenarnya dari ABRI dengan menggunakan seluruh kekuatan yang ada baik kekuatan darat sebagai penyusup, kekuatan laut sebagai infiltrasi, kekuatan udara sebagai pengintai dan penghancur serta Kepolisian sebagi dukungan keamanan merupakan latihan terbesar yang pernah dilaksanakan. 

CAMAR INDOPURA

Camar Indopura merupakan latihan bersama antara TNI Angkatan Udara dan RSAF Singapura yang bertujuan untuk mempererat hubungan kedua negara terutama dalam bidang militer dan juga untuk memantau situasi daerah perairan di wilayah kedua negara yang saling berdekatan. Dalam pelaksanaan Latihan ini TNI AU menunjuk Pangkalan TNI AU Ranai sebagai Home Base dengan pertimbangan letaknya yang sangat strategis di antara kedua negara sehingga memudahkan dalam segala aspek penunjang latihan. Dalam perkembangannya latihan ini telah diadakan beberapa kali di Lanud Ranai antara lain :

 

1. Camar Indopura I tanggal 30 Agustus s/d 2 September 1999.
2. Camar Indopura III tanggal 23 s/d 26 Mei 2000
3. Camar Indopura V tanggal 26 Februari s/d 2 Maret 2001
4. Camar Indopura VII tanggal 24 s/d 28 Juni 2002

Kegiatan yang dilaksanakan

 

1. Patroli Maritim. 

Dalam latihan Camar Indopura ini dari TNI Angkatan Udara melibatkan Skadron Udara 5 Lanud Hasanudin dengan pesawat Boeing 737 sebagai pelaksana latihan, sedangkan RSAF menggunakan pesawat Fokker 50. Sebagai langkah awal latihan tersebut kedua tim melaksanakan koordinasi untuk pelaksanaan patroli maritim dengan pengawasan dari Mabes TNI AU dan RSAF untuk melaksanakan penerbangan dengan sasaran daerah perairan Laut Cina Selatan dengan tujuan mengamankan daerah tersebut, yang didukung sepenuhnya oleh kesiapan operasional Pangkalan TNI AU Ranai sebagai Home Base latihan. Hasil dari patroli maritim tersebut dijadikan sebagai bahan pertimbangan oleh kedua tim untuk mengetahui kesiapan alutsista masing-masing dan sebagai bahan laporan tentang kondisi dan situasi di daerah perairan Laut Cina Selatan dalam upaya mendukung pertahanan dan keamanan kedua negara

Bhakti Sosial ( Pengobatan Massal )

Dalam pelaksanaan latihan diadakan Pengobatan Massal yang dilaksanakan oleh Tim Kesehatan dari TNI AU dan Tim Kesehatan dari RSAF bagi masyarakat Kabupaten Natuna yang dipusatkan di Rumah Sakit Lanud Ranai, berupa pengobatan gigi, mata, kulit dan penyakit lainnya secara gratis. Hal itu menunjukkan bahwa TNI Angkatan Udara sebagai bagian Integral dari TNI yang mempunyai tanggung jawab untuk berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan bhakti sosial yang diharapkan akan mampu memantapkan dan mempererat kemanunggalan dengan rakyat

3. Integrasi TNI AU dengan RSAF

Dalam pelaksanaan latihan tersebut untuk mengisi waktu-waktu istirahat digunakan sebagai sarana integrasi antara TNI AU dengan RSAF yang diwujudkan dengan berbagai kegiatan seperti olah raga bersama serta malam akrab dihadiri oleh Muspida Kabupaten Natuna sehingga ada keuntungan besar yang dapat diambil dari acara tersebut dimana RSAF yang mewakili Singapura dapat mengetahui apa yang menjadi keunggulan daerah Natuna untuk adanya investasi dimasa yang akan datang.Dengan adanya latihan ini diharapkan kerjasama kedua negara terutama antara TNI AU dengan RSAF semakin baik dan mampu untuk mewujudkan kawasan Laut Cina Selatan yang aman bagi kedua negara

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel