Berita Kotama

PEMBENTUKAN AURI KUTARAJA

Dibaca: 130 Oleh 16 Jan 2010Tidak ada komentar
Sukhoi Su-27
#TNIAU 

PEMBENTUKAN KOMANDEMEN III AURI KUTARAJA

Setelah perang kemerdekaan semua instalasi peninggalan tentara Jepang menjadi terbengkalai tidak terurus. Maka diambillah keputusan oleh Pemerintah untuk menyerahkan pengelolaan semua fasilitas peninggalan tentara Jepang kepada TRI. Dengan demikian semua fasilitas bidang keudaraan diserahkan kepada AURI dan mulailah AURI membentuk perwakilan di berbagai wilayah.

Periode 1946 – 1950 Pembentukan Perwakilan AURI di Kutaraja

Pada tanggal 12 November 1946, untuk pertama kalinya dibentuk perwakilan AURI diwilayah Aceh yang berkedudukan di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), dengan komandannya Sersan Djajusadi dan bermarkas di Neusoe, Kutaraja. Anggota staf waktu itu hanya 4 orang saja, kemudian ditambah personil yang didatangkan dari Maguwo (Yogyakarta) dan Padang, sehingga akhirnya personil AURI waktu itu menjadi 17 orang. Lapangan terbang yang digunakan untuk keperluan operasi waktu itu adalah :

1. Lapangan terbang Lhok Nga (sebelah selatan kota Banda Aceh).

2. Lapangan terbang Blang Bintang (sebelah timur kota Banda Aceh).

Dalam tahun 1948, dibentuklah Komandemen III AURI yang berkedudukan di Kutaraja. Bertindak selaku Komandan Komandemen AURI Kutaraja waktu itu adalah O.U.I. Soeyoso Karsono. Dalam tahun itu pula dibentuk Pendidikan Penerbang, yang berpusat dilapangan terbang Lhok Nga dengan instrukturnya Kapten Udara Mulyono. Baru puluhan pemuda pelajar yang ikut melamar, setelah mengikuti testing dengan ketat menurut ukuran waktu itu, 5 orang pemuda yang lulus yaitu :

1. Maimun Saleh.
2. T. Zainal Abidin.
3. T. Iskandar
4. Abubakar.
5. Mukhtar.

Disamping pendidikan Penerbang tersebut diatas, sejak tahun 1948-1950 di lapangan terbang Lhok Nga juga telah dibuka Sekolah Tehnik Udara yang dipimpin oleh O.M.U.i Sadjad, dengan para instrukturnya anggota AURI dari Maguwo (Yogyakarta). Pendidikan tersebut bersifat teori dan praktek. Dalam praktek, para siswa melakukan perbaikan sebuah pesawat terbang pemburu Hayabusha bekas peninggalan Jepang yang tadinya hanya tinggal rongsokan saja, akhirnya berkat ketekunan para siswa Tehnik Udara tersebut, pesawat tersebut telah dapat dihidupkan mesinnya tetapi belum sempat diterbangkan.

Baca juga:  Bantuan Paramedis Satgas Paskhas

Pada masa perjuangan fisik rakyat Aceh telah menyumbangkan sebuah pesawat Dakota RI-001 “Seulawah” kepada pemerintah RI untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan RI dan sebagai modal kekuatan udara yang menghubungkan daerah-daerah di Sumatera-Jawa yang sekaligus untuk memelihara Persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia. Pesawat RI-001 melakukan operasi penerbangan keluar negeri yaitu ke Burma. Dari hasil operasi penerbangan Pesawat RI-001 ini antara lain untuk membeli sebuah pesawat Dakota lagi, untuk membiayai pendidikan AURI di luar negeri serta untuk membeli senjata.

Sedangkan Lapangan Terbang Lhok Nga dipergunakan untuk mendarat pesawat RI-001 yang masih berkedudukan di Burma. Pendaratan dilakukan pada malam hari sekitar pukul 01.00 s/d 03.00 WIB untuk kerahasiaan, dengan mengangkut alat perlengkapan militer, amunisi juga mengangkut tokoh-tokoh perjuangan yang bertugas sebagai penghubung Pemerintah RI. Secara tidak berlebihan dan sebagai fakta peranan AURI dan Lapangan Terbang Lhok Nga pada waktu perjuangan fisik telah memberikan andil/modal yang cukup besar bagi kelanjutan perjuangan RI. Seperti diketahui satu-satunya daerah yang tidak sempat diduduki oleh Belanda pada perang kemerdekaan I dan II adalah daerah Aceh, yang merupakan daerah salah satu modal dasar perjuangan kemerdekaan RI selanjutnya.

Dalam uraian ini dapat di catat tokoh-tokoh AURI yang bergerilya di Aceh pada waktu perang kemerdekaan I dan II adalah sebagai berikut :

Baca juga:  Gambar dalam berita

1. O.U. I Soeyoso Karsono.
2. O.U. II Berahim Bakti.
3. Kapten Ud. Mulyono.
4. O.M.U. I R. Sadjad.
5. O.M.U. II Zaidun Bakti.
6. O.M.U. II Soenaryo.
7. O.M.U. III Haryono.
8. O.M.U. III Moekarto.
9. O.M.U. Soeratmo.
10. O.M.U. III Djoenaidi.

Lapangan-lapangan terbang yang masih berada dalam keadaan baik sewaktu perang kemerdekaan I dan II di daerah Aceh adalah sebagai berikut :

1. Lapangan terbang Lhok Nga Aceh Besar.
2. Lapangan terbang Blang Bintang Aceh Besar.
3. Lapangan terbang Cot Ba’u Sabang.
4. Lapangan terbang Blang Petik Pidie.
5. Lapangan terbang Tutut Semayum.
6. Lapangan terbang Tambo Bireuen.
7. Lapangan terbang Teupin Mane Bireuen.
8. Lapangan terbang Blang Lacang Lhokseumawe.
9. Lapangan terbang Sungai Yu Kuala Simpang.
10. Lapangan terbang Cot Gapu Bireuen.

Berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Perang Nomor : 023/P/KSAP/1950 tanggal 25 Mei 1950 tentang Lapangan Terbang serta Bangunan-bangunan yang termasuk Lapangan dan Alat-alat yang berada di Lapangan dan sungguh-sungguh diperlukan untuk pemeliharaan Lapangan-lapangan menjadi milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Yang ditandatangani oleh Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB. Simatupang. Dengan adanya surat keputusan tersebut maka menjadi jelas pangkalan mana saja yang menjadi tanggung jawab AURI, dengan demikian AURI perlu membentuk perwakilan untuk mengelola pangkalan-pangkalan tersebut.

Periode 1950 – 1958 Penetapan Sabang sebagai Pangkalan AURI

Dalam bulan Pebruari 1950 sebagian Perwira, Bintara, dan Tamtama AURI Banda Aceh dibawah pimpinan Kapten Udara Mulyono, dipindahkan ke Polonia (Medan), untuk mengadakan penerimaan penyerahan lapangan terbang Polonia dari Militaire Luchvaart Belanda kepada AURI. Ikut serta kadet-kadet penerbang yang dilatih secara teori di kutaraja (Lhok Nga) untuk melanjutkan praktek terbang. Dan dilapangan terbang Polonia ini pula kapten udara Mulyono belajar terbang dengan pesawat Mustang P-51, dibawah pimpinan/instruktur perwira-perwira penerbang Belanda.

Baca juga:  Komandan Lanud Ngurah Rai Buka Rapat Koordinasi Perhimpunan Putra-Putri TNI AU (P3AU)

Disamping itu beberapa orang Bintara dan Karyawan Sipil AURI Banda Aceh juga dikirim ke Sabang untuk ditetapkan sebagai penghubung/perwakilan AURI Banda Aceh di Sabang, yang bermar -kas di jln. Melati No. 5 Sabang. Anggota-anggota AURI Banda Aceh yang dikirim ke Sabang diantaranya adalah :

1. Sersan udara Yusuf.
2. Sersan udara Siam.
3. PNS Djakfar.
4. PNS Islan.

Pada tahun 1953-1957 pecah peristiwa DII/TII di Aceh. Perhubungan darat Kutaraja – Medan nyaris terputus, yang sesekali dilewati dengan mempergunakan konvoi, maka peranan pesawat AURI pada waktu itu memegang peranan yang cukup penting dalam mengangkut amunisi, bahan makanan, pasukan dan lain sebagainya, untuk keperluan penumpasan pemberontakan DII/TII tersebut. Mengingat kondisi keamanan di Lhok Nga tidak mengijinkan lagi karena pecahnya peristiwa DII/TII tersebut, maka pada tahun 1958, KSAU Marsekal Suryadarma telah memerintahkan agar AURI yang berkedudukan di Kutaraja/Banda Aceh segera pindah ke Sabang. Pemindahan tersebut dibawah pimpinan Komandan AURI Kutaraja LMU I R. Oetoyo. Sebagian anggota AURI ada yang tinggal di Kutaraja ditetapkan sebagai penghubung/perwakilan dan perwakilan AURI wilayah Aceh berkedudukan di Sabang.

Mulai saat itu pangkalan udara Sabang ditetapkan menjadi pangkalan udara AURI dalam bentuk detasemen udara dan seluruh operasi udara di wilayah Aceh dikendalikan dari Lanu Sabang.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel