Pustaka

Penerbangan 2012 : Dalam Dinamika Kemajuan Ada Kesedihan

Dibaca: 29 Oleh 13 Des 2012Tidak ada komentar
c130 hercules indonesian air force approaching
#TNIAU 
Penerbangan 2012 : Dalam Dinamika Kemajuan Ada Kesedihan

Tahun 2012 penerbangan di dalam negeri baik sipil maupun militer diwarnai dengan beragam peristiwa. Peristiwa yang terjadi ada yang menyedihkan namun juga ada yang menggembirakan. Semua tentu memberikan nilai refleksi yang dapat kita petik pelajaran dan hikmahnya. Mengiringi masa pergantian tahun 2012 menuju ke tahun baru 2013, berikut rangkuman lintasan peristiwa tersebut dan tinjauannya, disarikan oleh Gatot RahardjoRoni Sontani, dan Ninok Leksono.

———-

Ketika orang berhenti sejenak dari derap kerutinan, lalu menyempatkan diri menoleh ke belakang, lazimnya muncul kesan mendua. Sebagaimana ciri kehidupan, tak semuanya berisi hal sedih, karena di sana-sini juga ada hal yang membesarkan hati. Dalam jagad kedirgantaraan, kesan mendua – atau mixed-feeling – ini juga kita lihat untuk tahun 2012.

Harapan cerah bukan saja karena bandara tambah sibuk, atau maskapai gencar membeli pesawat baru, tetapi juga karena pabrikan pesawat umumnya melihat wilayah Asia-Pasifik menggantikan Eropa sebagai wilayah pertumbuhan yang dinamis. Tidak heran kalau pabrikan seperti Bombardier di ajang Singapore Airshow, Februari silam, berani mengatakan, bahwa dalam 20 tahun ke depan di Asia-Pasifik akan ada pembelian 1.700 pesawat pesawat penumpang. (Aviation Week & Space Technology, 6/2)

Ramalan tersebut bukan isapan jempol, karena didukung oleh fenomena nyata. Di arena Pameran Kedirgantaraan Singapura itu pula Lion Air mengumumkan kontrak pembelian jet Boeing – yakni seri 737MAX dan 737-900ER – senilai AS$ 22,4 miliar, kontrak yang luar biasa, nyaris Rp 224 triliun untuk kurs rupiah di penghujung tahun 2012 ini.

Untuk maskapai nasional, Garuda juga membeli sejumlah pesawat baru. Bila di Singapura yang disebut hanya kontrak pembelian pesawat CRJ-1000 buatan Bombardier, menjelang akhir tahun, Garuda mengumumkan, bahwa maskapai ini tahun depan akan menerima 24 pesawat baru, senilai AS$ 1,57 miliar. Dengan itu Garuda akan bisa melayani rute baru ke Brisbane, London, dan Auckland. Dengan program pengadaan pesawat baru itu, armada Garuda akan dua kali lipat dari yang ada sekarang ini pada tahu 2015. (Jakarta Post, 10/11)

Selain pengadaan pesawat baru, pada tahun ini muncul berita adanya akuisisi maskapai Batavia oleh Air Asia pada bulan Oktober silam, meski tak lama berselang muncul keraguan atas tindak lanjut berita tersebut. Tak lama setelah berita akuisisi Batavia, muncul berita yang mencoba menyaingi dari sisi dramatisnya, yakni tentang Lion Air yang bekerjasama dengan NADI (National Aerospace and Defence Industries) Sdn Bhd akan membuka maskapai Malindo Airways di Malaysia. Menambah kesan dramatisnya, penanda-tanganan kesepakatan di Malaysia pada 11 September ini dihadiri pula oleh Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak.

Selebihnya adalah berita inovasi kecil namun pantas dicatat dalam derap  dinamika industri angkutan penerbangan ini, yaitu ketika Garuda memasukkan airport tax atau passenger service charge ke dalam harga tiket di bulan Oktober. Praktik yang kurang lazim di berbagai bandara lain di dunia ini rupanya coba dihapus oleh Garuda, dan tentu saja penumpang senang saja dengan pemangkasan proses check-in yang lebih praktis ini.

Dalam industri penerbangan sipil, Februari tahun ini juga ditandai dengan tertangkapnya pilot menggunakan narkoba. Mengetahui bahwa hal itu bisa membahayakan penumpang, komunitas pilot pun berupaya membersihkan citra profesi. Kita tentu menggaris-bawahi, bahwa selain penggunaan narkoba dilarang hukum, pelanggaran yang terjadi bertambah bobot keparahannya, mengingat yang melanggar justru profesi yang diamanati menerbangkan puluhan hingga seratusan penumpang dengan aman selamat.

Baca juga:  K. 25

Di luar berbagai catatan di atas, satu peristiwa yang mengguncangkan dunia penerbangan nasional tak pelak lagi adalah musibah pesawat Sukhoi Superjet 100 yang tengah melakukan terbang muhibah ke Indonesia 9 Mei lalu. Duka bertambah lagi bagi majalah ini, karena dua sahabat kami ikut menjadi korban, yakni Didik N Yusuf dan Dody Aviantara.

(tulisan selengkapnya dapat dibaca di Angkasa edisi Desember 2012)

 

————

 

Penerbangan 2012 : Dalam Dinamika Kemajuan Ada Kesedihan

 

Dibayangi Tragedi Sukhoi

            Hingga akhir tahun 2012, bayang-bayang kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor pada Mei lalu masih terasa. Kabar baiknya, masyarakat Indonesia semakin sadar dengan keberadaan dunia penerbangan Indonesia. Semua pemegang kepentingan di dunia  penerbangan nasional pun semakin terpacu untuk memperbaiki diri. Kabar sebaliknya, tidak semua progres perbaikan diri tersebut berlangsung lancar dan cepat.

            Misalnya soal pemandirian Navigasi Penerbangan, sampai akhir tahun ini dipastikan belum terjadi. Aturan keberadaannya sudah disahkan, namun karena waktunya sudah menjelang akhir tahun, realisasi pembentukan organisasi tersebut pun mundur hingga tahun depan. Padahal navigasi penerbangan dianggap salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan Sukhoi tersebut.

Narkoba

            Tahun 2012 dibuka dengan peristiwa yang mencoreng dunia penerbangan Indonesia. Seorang pilot Lion Air bernama Hanum Adhyaksa ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional  (BNN). Hanun tertangkap sedang pesta sabu (sejenis narkotika) di studio karaoke sebuah hotel di Makassar pada 10 Januari. Hanum mengaku mengkonsumsi narkoba untuk menghilangkan stress akibat beban pekerjaan yang berat.

            Peristiwa ini kontan mengagetkan masyarakat. Sebagai pilot aktif, Hanum diharuskan selalu prima dan menjaga baik fisik maupun mental agar dapat menerbangkan pesawat dengan baik. Sebagai pilot penerbangan sipil komersial, ia mempunyai tanggung jawab terhadap keselamatan penumpang yang jumlahnya ratusan jiwa.

            Fenomena pilot nyabu ini juga berimbas pada bidang lain. Yaitu terkait dengan pendidikan pilot dan beban pekerjaan pilot di maskapai penerbangan. Sekolah pilot dianggap ikut bertanggung jawab. Karena lembaga pendidikan ini selain mengajarkan keterampilan terbang, seharusnya juga mengajarkan kedisiplinan dan prinsip-prinsip airmanshipyang kuat.

            Di sisi lain, perusahaan penerbangan juga mendapat sorotan tajam. Bertambah banyaknya frekuensi penerbangan untuk mengadopsi pertumbuhan jumlah penumpang, tidak dibarengi dengan penambahan jumlah pilot. Dengan demikian seharusnya pihak perusahaan penerbangan harus mengekang keinginan untuk menambah frekuensi penerbangan jika jumlah pilot tidak mencukupi.

            Perusahaan tempat pilot tersebut bekerja juga harus memperhatikan beban kerja pilot. Jangan demi kepentingan bisnis, beban kerja pilot ditambah, walaupun dengan iming-iming tambahan materi. Jam kerja pilot, menurut aturan dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) adalah 1.050 jam terbang tiap tahun. Jam kerja ini kemudian diaplikasikan ke tiap maskapai, sesuai dengan keperluan yang dipakai. Namun demikian, pengaplikasian tersebut harus mempertimbangkan kondisi fisik dan mental dari pilot yang bersangkutan.

            Fenomena pilot nyabu ini mengkhawatirkan. Apalagi saat Hanum membeberkan bahwa banyak pilot dan pramugari sejawatnya yang juga mengonsumsi narkoba. Hal tersebut terbukti saat bulan Februari, satu lagi pilot Lion Air bernama Syaiful Salam ditangkap oleh BNN ketika sedang mengkonsumsi sabu di sebuah hotel di Surabaya.

Baca juga:  Kemenhan Yakinkan DPR Soal IFX/KFX

            Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pun mengeluarkan surat edaran no. HK010/1/1/DRJU -2012 tanggal 12 Januari 2012  tentang standar prosedur pencegahan terkait penyalahgunaan narkoba oleh personel operasi pesawat udara. Dijen Hubud juga menginstruksikan kepada seluruh operator penerbangan agar segera mengintensifkan pelaksanaan prosedur dimaksud dan melaporkan hasilnya apabila ditemukan bukti positif penyalahgunaan narkoba oleh personil pesawat udara.

            Beberapa maskapai penerbangan pun juga mendeklarasikan diri bebas narkoba, terutama untuk para pilot dan pramugarinya. Sebagian perusahaan tersebut mengundang BNN untuk melakukan tes terhadap karyawannya.

Tragedi Sukhoi

            Tragedi yang menimpa sebuah pesawat Sukhoi Superjet (SSJ) 100 nomor registrasi 97004 dan nomor ekor RA 36801 di Gunung Salak, Bogor pada penerbangan tamasya (Joyflight) tanggal 9 Mei 2012 adalah kejadian terbesar dan paling menyita perhatian secara nasional di tahun ini. Semua penumpang dan awak pesawat (termasuk dua staf redaksi majalah Angkasa) yang berjumlah 45 orang menjadi korban tewas.

            Lokasi kecelakaan yang relatif dekat dengan Jakarta serta faktor pesawat yang buatan Rusia memicu munculnya banyak isu. Kemudian disusul dengan isu adanya ketidakberesan dalam pemanduan navigasi oleh ATC dan beberapa berita lain. Alhasil, tidak ada pemberitaan tentang kecelakaan pesawat di Indonesia sebelumnya yang seramai pemberitaan peristiwa ini. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menyempatkan diri menemui keluarga korban di Terminal Bandara Halim Perdana Kusuma untuk memberi doa dan dukungan.

            Peristiwa kecelakaan ini juga sangat kental bernuansa internasional. Pesawatnya masih menggunakan registrasi Rusia. Begitu juga pilotnya dan beberapa penumpang juga berkebangsaan Rusia. Tak pelak pihak Rusia pun ikut meramaikan suasana dengan berbagai macam komentar. Misalnya tentang adanya persaingan bisnis industri pesawat internasional. Rusia juga sempat menuduh dunia penerbangan Indonesia tidak aman.

            Sesuai aturan internasional, Rusia pun ikut menerjunkan tim evakuasi beserta beberapa peralatan ke lokasi kejadian. Sayangnya tim Rusia tidak menunjukkan itikad dan kerjasama yang baik. Beberapa perjanjian dengan tim evakuasi lokal dan KNKT dilanggar.

            Tanggal 1 Agustus 2012, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia  sudah mengeluarkan laporan awal (preliminary report) dari investigasi yang dilakukan atas kecelakaan ini. Beberapa temuan awal dan rekomendasi telah diberikan. Di antaranya kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan pihak Sukhoi di Rusia. Untuk mendapatkan laporan akhir, KNKT membutuhkan waktu beberapa bulan lagi.

Bisnis

            Dari sisi bisnis, tahun 2012 ditandai dengan beberapa kejadian penting. Di antaranya kontrak penambahan pesawat-pesawat baru oleh beberapa maskapai. Juga diberikannya Air Operator Certificate (AOC) kepada beberapa maskapai baru. Serta rencana akuisisi Batavia Air oleh grup maskapai AirAsia dari Malaysia. Grup AirAsia juga memperkokoh bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor pusat AirAsia ASEAN di Jakarta.

(tulisan selengkapnya dapat dibaca di Angkasa edisi Desember 2012)

 

————-

 

Penerbangan 2012 : Dalam Dinamika Kemajuan Ada Kesedihan

 

TNI AU Membangun Kekuatan

Keinginan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat untuk menjadikan TNI AU sebagai Angkatan Udara Kelas Satu (First Class Air Force) merupakan cita-cita yang dicanangkan sejak ia menerima estafet kepemimpinan TNI AU pada 12 November 2009 dari KSAU sebelumnya, Marsekal TNI Subandrio. Tiga hari sebelumnya, 9 November 2009, Marsekal Madya TN Imam Sufaat bersama dengan Letnan Jenderal TNI George Toisutta dan Letjen TNI Agus Suhartono, dilantik oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, menjadi KSAU, KSAD, dan KSAL.

Baca juga:  Penuhi kebutuhan TNI AU, PT DI bakal produksi pesawat C-295

            Menyoroti kinerja TNI AU semasa kepemimpinan Marsekal TNI Imam Sufaat (hingga November 2012), dapat dikatakan TNI AU mengalami beberapa kebangkitan. Utamanya bangkit secara moril-psikologis dari kondisi di mana pada saat sebelumnya TNI AU secara bertubi-tubi dirundung duka akibat musibah beruntun menyebakan beberapa pesawatnya jatuh menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit.

            Namun, tidak berarti bahwa dalam masa kepemimpinan Marsekal Imam Sufaat, KSAU ke-18, musibah tidak terjadi. Dua peristiwa terakhir pada tahun 2012, yakni jatuhnya pesawat F27 yang menewaskan delapan orang (militer dan sipil), serta jatuhnya satu pesawat Hawk 200 menunjukkan kepada kita bahwa risiko jatuhnya pesawat itu tetap ada.

            Sebuah Angkatan Udara yang mengoperasikan alutsista terbang, di mana pun, memang menghadapi risiko ini. Maka dari itu peta jalan menuju nol kecelekaan (roadmap to zero accident) telah dijalankan oleh KSAU-KSAU sebelumnya secara berkesinambungan.

Mantan Danlanud Iswahjudi dan Pangkohanudnas, almarhum Marsda (Purn) F. Djoko Poerwoko suatu saat pernah berkomentar lugas. Ia mengatakan, pesawat TNI AU harus tetap terbang. Latihan tidak boleh dikurangi, kemampuan di udara harus ditingkatkan. “Kalau mau zero accident, ya pesawatnya ditaruh saja di hanggar,” ujarnya enteng. Makna yang dapat kita petik adalah, TNI AU memang tidak perlu ciut hati. Bahkan sebaliknya harus tetap percaya diri.

Oleh karena itu pula, selayaknya kemampuan dan profesionalisme TNI AU dalam merawat dan mengoperasikan alutsistanya ini harus tetap dipertahankan, bahkan terus ditingkatkan. Hal itu yang kemudian diperlihatkan oleh Marsekal Imam Sufaat secara masif kepada publik dalam peringatan HUT TNI AU selama tiga tahun terakhir. Puluhan pesawat ditarik ke jakarta untuk melakukan demonstrasi udara berupa flypass, manuver, maupun penerjunan pasukan.

Infrastruktur

Tahun 2012 ditinjau dari sisi penambahan alutsista TNI AU, sebagaimana telah dipaparkan di tulisan pertama, memberikan harapan yang mencerahkan. Datangnya empat pesawat EMB 314 Super Tucano (dari 16 yang direncanakan) dan dua unit C295 (dari 9 yang direncanakan) menjadi modal awal untuk meneruskan peran pesawat yang telah di-grounded. Lalu pembelian 24 pesawat F-16C/D dari AS, 16 T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan, pesawat latih Grob dari Jerman untuk mengganti AS-202 Bravo, pesawat Hercules dari Australia, maupun penambahan enam pesawat Sukhoi Su-30MK2, juga membangkitkan semangat untuk menambah kekuatan tempur dalam tataran Minimum Essential Forces (MEF).

Penataan infrastruktur guna mendukung operasionalisasi alutsista, juga sedang disiapkan oleh TNI AU. Di antaranya pembangunan skadron baru di Pekanbaru untuk pesawat F-16, pembangunan skadron baru di Halim untuk pesawat angkut C295, lalu rencana peningkatan beberapa tipe Pangkalan Udara dari Tipe B ke Tipe A, di antaranya Lanud Roesmin Nurjadin di Pekanbaru, Lanud Supadio di Pontianak, dan Lanud Suryadarma di Kalijati. Di Pontianak dan di Kalijati rencananya juga akan dibangun skadron teknik untuk menambah kekuatan dari sisi pemeliharaan pesawat, selain tentu sebagai salah satu persyaratan sebuah lanud Tipe A. Masih di Kalijati, terdengar kabar bahwa kemungkinan juga akan dibangun skadron baru untuk helikopter EC-725 Cougar.

 

Sumber: //www.angkasa.co.id

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel