TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

Penerjunan I

By 22 Oct 2010halaman
indonesianf16pesawat0170_tniau

PENERJUNAN PERTAMA PASUKAN PAYUNG RI
DI KALIMANTAN

 

Untuk meninggikan moril dan semangat juang rakyat Kalimantan dalam usaha mempertahankan  Kemerdekaan, maka pada tanggal 25 Juli 1947 Gubernur Kalimantan yang pada waktu itu berkedudukan di Yogya Ir. Pangeran Mohammad Noor, mengirimkan surat kepada KSAU Komodor Udara S. Suryadarma meminta agar menerjunkan Pasukan Payung ke Kalimantan yang terdiri dari Putra – Putra Daerah sendiri.   

 

Memenuhi permohonan tersebut, KSSU membentuk Staf Khusus dengan tugas mempersiapkan dan melatih Pasukan Payung Mayor TJILIK RIWUT diangkat sebagai Komandan merangkap Staf Sekretaris Bagian Siasat KSU, disamping tugasnya sebagai Perwira MBT.   60  Pemuda Putra Kalimantan bersama dengan Pemuda asal Sulawesi dan Jawa memasuki Latihan Persiapan dibawah ( Ground Training ) selama satu minggu.   12 Pemuda setelah melalui seleksi dinyatakan memenuhi syarat. Mereka bersama dengan 2 anggota PHB TNI AU disiapkan untuk tugas “ Operasional Kalimantan “ yaitu :

 

  1. Membawa alat pemancar Radio lengkap dengan motor dan bahan bakar.
  2. Membangun pemancar induk hingga terselenggara hubungan Kalimantan – Sumatera – Jawa.
  3. Menghimpun dan mengkoordinir perlawanan setempat.
  4. Menyiapkan Daerah Droping.

 

Pada malam menjelang tanggal 17 Oktober 1947 di Landasan Pangkalan Udara Maguwo terlihat persiapan Operasi Pukul 01.30 semua perlengkapan selesai dimasukkan dalam Pesawat. Sementara anggota pasukan telah berdiri bersaf tak jauh dari padanya.

 

Satu-satunya penerangan hanya sebuah lampu sentar yang sebentar- sebentar saja dinyalakan.  Setelah KSAU KOMODOR  Udara S. Suryadarma selesai menyampaikan Amanat singkatnya, satu persatu anggota pasukan memasuki pesawat Transport C-47 Dakota RI – 002 yang disewa Pemerintah RI dan yang kemudian pemiliknya sendiri Robert Freeberg yang berkebangsaan Amerika, CO – Pilot adalah Opsir III M. Sohodo dan Penunjuk Arah Mayor TJILIKRIWUT pukul 02.30 Pesawat tinggal landas kemudian membelok  ke Utara menuju ‘ Heading ‘ 31°.   Dengan tiada memakai alat pengontrol Meteo yang sempurna.   Dimatikannya hubungan Radio dan tanpa pemberitahuan posisi setiap setengah jam untuk keperluan SAR, Pesawat terus mencapai ketinggian 9.000 Kaki.

 

Apabila Pilot capek kemudian diserahkan kepada CO. Pilot. Yang baginya terbang malam ini untuk pertama kalinya.

 

Dari briefing yang diberikan pasukan akan diterjunkan di Sepanniba, daerah Kotawaringin.  Mereka setelah mendarat terus mengadakan hubungan dengan Pimpinan Perjuangan Setempat dan paling lambat 3 hari setelah penerjunan, harus mengadakan hubungan radio dengan Yogya.

 

Untuk keperluan ini mereka dilengkapi dengan sebuah Pemancar BC-375.  Sebuah Penerima  BC-348.  Sebuah baterai Charger dan beberapa buah accu.  Apabila lewat mereka dianggap gugur. 

 

Pukul 06.00 Pesawat RI – 002  berada diatas rawa – rawa dan hutan Kalimantan.

 

Pukul 07.00 Melayang diatas deretan bukit dan terlihat adanya ladang dengan tonggak – tonggak  kayu serta beberapa rumah panggung dicelah – celah hutan yang masih luas.

 

Setelah Pesawat berkali kali melaksanakan putaran untuk melihat keadaan dan arah angin pada posisi yang dianggap cukup baik terdengar isyarat bel satu  kali langsung berarti pasukan harus siap.   Bel 2 kali pasukan siap dimuka pintu  yang dalam keadaan terbuka.

 

Akhirnya bel ketiga droping dan jumping dimulai, yang pertama keluar 2 buah bungkusan diikuti oleh berkembangnya dua buah payung.   Kemudian anggota pasukan dan barang – barang yang lain.

 

Jumlah yang diterjunkan ada 13 anggota, seorang karena satu dan lain hal tidak jadi terjun.   Pesawat RI – 002 setelah itu kembali ke Yogya dengan route Karimun Jawa lalu melalui Gunung Muria ( Jepara )  akhirnya belok kiri ke Yogya.

 

Untuk menghindari patroli Pesawat tempur Belanda yang berpangkalan di Semarang Pesawat RI – 002 terbang diatas gumpalan awan untuk sewaktu – waktu menyusup masuk awan. Pukul 11.00 Pesawat mendarat dengan selamat setelah terbang lebih dari 8 jam dengan sisa bahan bakar untuk 15 menit terbang saja. Adapun ke 13 anggota Pasukan Payung yang diterjunkan itu, mereka sebagian besar putra – putri Kalimantan yang nama – namanya sebagai berikut :

 

  1. Iskandar   berasal dari Sampit.
  2. J.  Bitak   berasal dari Kelapabaru
  3. Dachlan  berasal dari Sampit
  4. C. Willems berasal dari Kuala Kapuas
  5. Darius  berasal dari Kasongan
  6. Achmad Kosasih  berasal dari Mangkahui Barito
  7. Ali Akbar berasal dari Balikpapan
  8. M. Amiruddin berasal dari Kahayan Hulu
  9. Emanuel  berasal dari Kahayan Hulu
  10. Marawi  berasal Rantau Pulut
  11. Suyoto berasal dari Ponorogo
  12. Harry Hadi Sumantri berasal dari Semarang
  13. Bachri  berasal dari Barabai

 

Semula sasaran penerjunan ialah SEPANBIHA suatu daerah strategis tempat Penerjunan terletak diudik sungai Serayan (dulu termasuk daerah Kotawaringin, sekarang wilayah Kotawaringin Timur). Namun setelah terlaksananya Penerjunan I itu ternyata Daerah sasaran belum sampai.

Pasukan diterjunkan disuatu hutan belantara  yang masih perawan dengan ditumbuhi pohon-pohon raksasa seperti yang dialami J. Bitak anggota yang paling awal diterjunkan tersangkut di pohon sekitar 40 meter dan diameternya sekitar 3 meter .

Dapatlah dibayangkan dengan modal latihan hanya beberapa hari untuk persiapan Penerjunan I seperti ini tentu segi ketrampilan belum memadai. Hanya karena ditunjang oleh semangat mental yang tinggi serta mental pejuang sejati maka Penerjunan ini dapat dilaksanakan dengan baik.

Tak ada satupun diantara 13 orang anggota pasukan yang berhasil dengan mulus mendarat sampai ketanah, semuanya mengalami hambatan-hambatan  diatas pohon, baru kemudian dengan akal bisa selamat sampai ketanah .

Hari Pertama Penerjunan baru bisa berkumpul dengan sesama teman 11 orang, dua hari kemudian barulah semua anggota pasukan 13 orang itu dapat berkumpul.

Ini berarti operasi Penerjunan yang pertama kali dilakukan di bumi Indonesia oleh Putra-Putra Bangsa berhasil dengan sukses sekali, meskipun disisi lain sasaran yang dicapai pasukan itu sendiri tak seluruhnya berhasil

Jika kita ikuti dengan seksama beberapa penuturan perjalanan yang ditempuh dan dijalani oleh Pasukan Payung ini sejak diterjunkan pertama tanggal 17 Oktober 1947 sampai dengan tanggal 23 Nopember 1947 sebagaimana yang dituturkan oleh Bapak Dachlan salah seorang pelaku dari peristiwa itu sendiri  mengatakan kepada Sugiarta Sriwibawa dalam bukunya “OPERASI PASUKAN PAYUNG TAHUN 1947”, banyak hal yang sangat menarik untuk kita jadikan pelajaran-pelajaran yang berharga kususnya untuk melengkapi sejarah Perjuangan Bangsa.

Tercatat pula beberapa nama penduduk setempat beserta kampung-kampung kecil yang sempat disinggahi oleh Pasukan Payung ini, yang mungkin diantara nama-nama tersebut ada yang masih hidup sebagai saksi-saksi Sejarah (diantaranya yang penyusun kenal ialah Bapak Jagui Mamoed) sebagai salah seorang penunjuk jalan dan sangat membantu kehadiran pasukan ini.

Seperti yang dituturkan  para pelaku sejarah penerjunan pertama  ” Maka dengan bantuan 2 orang penduduk yang bernama JAGUI dan ANTON sebagai penunjuk jalan, Kubu pasukan dipindahkan kesebelah Utara Panahan kira-kira 4 kilometer.

“JAGUI dan ANTON pulang ke Panahan dengan pesan segera kembali dan memberi laporan jika serdadu Belanda kelihatan disekitar Panahan.

“JAGUI  tak pernah kembali karena ia terpaksa harus bersembunyi karena dicari oleh Belanda “ Istri Jagui sebagai ganti ditangkap Belanda – Anton juga ditangkap Belanda tanpa sempat melarikan diri “.

Dari Desa kecil Panahan inilah awal penjelajahan Pasukan Payung ini, menembus rimba belantara, tapi sebelumnya mereka menginap di Kampung Sambi melalui bantuan seorang penduduk bernama Daser dan beberapa orang lainnya, ketika mereka bertemu dihutan waktu Penerjunan I itu, orang tersebut sedang berburu dari mereka diketahui bahwa tempat Penerjunan ini dalam wilayah Kampung Sambi.

Hari kelima setelah  anggota pasukan semua berkumpul barulah ditemukan alat radio pengirim dan penerima berita, tapi sudah tidak lengkap, air accunya tumpah hingga alat tersebut tidak dapat dimanfaatkan, akibatnya hubungan dengan Yogyakarta tidak bisa dilakukan sesuai instruksi dan sandi semula.

Menyadari alat tersebut tidak dapat dimanfaatkan, maka untuk menjaga kewaspadaan salah seorang anggota pasukan bernama Marawi diperintahkan melakukan penyelidikan sekitar Sambi dan  terus  ke Rantau Pulut  ( jarak keduanya sekitar 20 Km )  untuk  mengetahui  apakah Belanda berada disekitar itu, Marawi adalah salah seorang Putra Rantau Pulut,  kepergian Marawi ditunggu tapi tak pernah kembali ke pasukan, akhirnya Iskandar memutuskan ke 12 orang anggota pasukan untuk berangkat meninggalkan Sambi dan tiba dikampung kecil Panahan seperti diceritakan diatas.

Tujuan penjelajahan pasukan adalah mencapai Daerah SEPANBIHA sebagaimana sasaran semula, namun sayang tujuan tersebut tak pernah  sampai.  karena Belanda sudah mengetahui adanya Penerjunan Pasukan Payung di Daerah ini.

Hutan rimba yang lebat, alam yang buas dan logistik yang kurang sesungguhnya bukanlah rintangan dalam operasi ini.

Tantangan yang paling tragis justru sebenarnya datang dari penghianatan Bangsa sendiri, berbulan – bulan anggota pasukan menjelajahi rimba belantara dan sempat singgah pada beberapa kampung kecil :  Sambi, Panahan, Rantau Pulut, Panyumpa, Suma, Pangke dan akhirnya tiba dikampung Mujang.

23 November 1947 di Pondok tua sebuah perladangan penduduk ditepi Sungai Menahan anak dari Sungai Seruyan merupakan akhir dari Penjelajahan Pasukan Payung R.I. pertama.

Ditempat ini ke 12 orang anggota Pasukan Payung tersebut, diserang dan ditembak Belanda, sebagai akibat dari penghianatan yang dilakukan salah  seorang warga sendiri yang kebetulan waktu itu menjabat sebagai Kepala Kampung Mujang.

Tercatat 3 orang Kusuma Bangsa yan gugur dalam penyergapan Belanda adalah Almarhum ISKANDAR pemimpin Pasukan; Almarhum Achmad Kosasih dan Almarhum Harry Hadi Sumantri.

Sedangkan yang lain – lain  meskipun berhasil lolos tapi kemudian juga berhasil ditawan Belanda.

Ketika pada akhir bulan Maret 1950, Jenazah ketiga Pahlawan ini mau diangkat dan dipindahkan ke Yogya yang diketemukan hanya Kerangka Jenazah almarhum Harry Hadi Sumantri. Sedangkan  Kerangka Jenazah Iskandar dan Achamd Kosasih  tidak diketemukan ditempat asal.  Menurut keterangan telah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan  di Tumbang Manjol.

Demikianlah sekilas riwayat Perjuangan dengan SANDI OPERASI KALIMANTAN, yang berhasil melakukan TERJUN PAYUNG PERTAMA di Indonesia.

Kini tanggal 17 Oktober setiap Tahun diperingati sebagai hari Jadinya PASKHASAU yang dulu terkenal dengan sebutan KOPASGAT (Komando Pasukan Gerak Cepat).

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *

Penerjunan I