Berita Kotama

Peran Pangkalan Udara Supadio Dalam Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Dibaca: 1057 Oleh 17 Jan 2010Tidak ada komentar
BAe Hawk 209
#TNIAU 

Operasi Penumpasan PRRI/PERMESTA.
 
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia didalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sejarah telah mencatat bahwa pada awal tahun 1957 telah berdiri Dewan-dewan di daerah, adapun salah satu dari Dewan-dewan itu adalah daerah Sulawesi Utara berdiri Dewan Manguni. Dalam perkembangan berdirinya Dewan Manguni, maka melahirkan Piagam Perjuangan Semesta (Permesta) di Makasar pada tanggal 2 Maret 1957. Dengan kehadiran Permesta ini, telah membuka terjadinya ketegangan-ketegangan di daerah Sulawesi.
 
Dalam situasi yang gawat, Keadaan tambah kacau dengan adanya pemberontakan Permesta, dimana Letnan Kolonel D.j Somba sebagai Komandan Komando Daerah Militer Sulawesi Utara (KDMST) dan pada tanggal 17 Pebruari 1958 menyatakan bahwa Sulawesi Utara memutuskan hubungan dengan Pemerintah pusat dan menyatakan dukungan terhadap berdirinya PRRI. Seperti halnya terhadap PRRI, maka Pemerintah Pusat dalam peristiwa “Permesta” inipun mengambil sikap tegas dan Kabinet segera bersidang dan memutuskan memecat semua pimpinan Permesta. Diketahui bahwa sikap Permesta yang memberontak itu ditentang oleh rakyat dan alat negara yang tetap loyal kepada Pemerintah pusat.
 
Menindak lanjuti situasi yang demikian, maka Markas Besar Gabungan di Jakarta menyusun rencana operasi dengan teliti dan mengambil pengalaman-pengalaman dari pelaksanaan kegiatan operasi di daerah Sumatera. Pelaksanaan kegiatan Operasi terhadap pemberontakan Permesta ini dinamakan Operasi “Merdeka”. Dalam pelaksanaan operasi ditunjuk sebagai Komandan Gabungan Operasi diangkat Letnan Kolonel Rukmito Hendratimena dengan Wakil I Letnan Kolonel (KKO) Hunholz dan Wakil II Mayor Udara Leo Wattimena, adapun tujuan utama dari pelaksanaan Operasi “Merdeka” adalah untuk merebut Sulawesi Utara dengan ibukota Menado dan merebut daerah sekitarnya, yakni Gorontalo, Sangir Talaud, Morotai, Jailolo, Palu dan Donggala. Pelaksanaan operasi-operasi di luar kota Menado sangat penting untuk dilaksanakan dalam rangka mengepung kota Menado dan akhirnya kita dapat membuat daerah tumpuan operasi taktis. Selain itu, untuk daerah lain dilaksanakan operasi-operasi di daerah Sulawesi Tengah secara gabungan antara ketiga angkatan, disamping itu, juga dilaksanakan operasi mandiri oleh pesawat B-25 dengan sasaran kota Menado. Tujuan pelaksanaan kegiatan operasi tersebut, secara umum dimaksudkan untuk menghancurkan obyek-obyek vital yang dapat mempengaruhi jalannya operasi.

Upacara Militer Dalam Pelepasan Pasukan TNI AD
 
Pada bulan Mei 1958 terjadi perubahan pergantian pimpinan terhadap Kompi I/602, yang semula dibawah pimpinan Letda Bambang Prastowo kemudian digantikan oleh Lettu Anton Shahib. Adapun Kompi I/602 memiliki tugas untuk menumpas para gerombolan PRRI didaerah Parapat (Sumatera Utara) dan selanjutnya tugas ini, dilanjutkan oleh KI III/602 pimpinan Letda Asmidi. Dalam pelaksanaan operasi penumpasan PERMESTA di daerah Toli-Toli telah ditugaskan Kompi II/602 selama 6 bulan, dibawah pimpinan Kapten JJ. Korah dan pelaksanaan tugas ini dimulai pada bulan Januari 1961.
 
Operasi Dwikora Tahun 1963
 
A. Pembentukan Negara Federasi Malaysia
 
Gagasan dari pembentukan federasi antara Malaysia dan daerah-daerah Inggris di Kalimantan Utara sudah lama ada, namun masalah ini baru dimunculkan dan dibahas secara resmi pada tanggal 27 Mei 1961. Perdana Menteri Malaysia Tengku Abdurachman untuk pertama kalinya mengeluarkan pernyataan tentang kemungkinan diadakannya suatu penggabungan politik antara Malaya, Singapura, Sabah, Serawak dan Brunei dengan mendapat persetujuan dari Inggris.
 
Untuk maksud tersebut, pada bulan Nopember 1961 telah datang Tengku Abdulrachman dari London mengadakan pembicaraan, adapun tujuan pembicaraan adalah untuk meminta persetujuan dengan Pemerintah Inggris, khususnya yang berkaitan dengan daerah-daerah di Kalimantan Utara. Pada tanggal 23 Agustus 1961 antara Perdana Menteri Malaya dengan Perdana Menteri Singapura tercapai persetujuan tentang prinsip penggabungan kedua daerah tersebut.
 
Hasil dari pembicaraan di London pada tanggal 20- sampai tanggal 22 Nopember 1961 antara Menteri Inggris dengan Malaya telah dicapai kata sepakat adalah sebagai berikut :
 
1) Membentuk Federasi Malaysia yang meliputi Malaya, Singapura, Sabah, Serawak dan Brunei.
 
2) Untuk kepentingan Malaysia nanti, perjanjian pertahanan yang telah ada antara Inggris dengan Malaya akan diperluas meliputi daerah-daerah lain, Inggris akan mempertahankan pangkalannya di Singapura untuk kepentingan Malaysia maupun SEATO.
 
Pada tanggal 17 September 1963 Pemerintah Indonesia telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Negara Malaysia dan dilanjutkan dengan pemutusan lalu lintas ekonomi dengan daerah Malaysia dan Singapura, adapun penyebabnya adalah laporan pelaksanaan misi tidak sah dan tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh KTT Manila. Dengan semakin meruncingnya ketegangan antara kedua negara dan keadaan semakin memburuk disebabkan adanya pernyataan dari Presiden RI tentang rencana usaha untuk membantu rakyat Kalimantan Utara yang tidak menyetujui Federasi Malaysia.
 
Dampak dari pernyataan Presiden RI adalah keluarnya ucapan dari Presiden RI tentang pelaksanaan komando aksi sukarelawan yang lebih dikenal dengan sebutan “Dwikora (Dwi Komando Rakyat). Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa Presiden Soekarno memperkuat ketahanan Resolusi Indonesia dan membantu pelaksanaan perjuangan revolusioner rakyat Malaysia, Singapura, Sabah, Serawak dan Brunai Darussalam untuk membubarkan Negara Boneka Malaysia.
 
Pembentukan Federasi Malaysia ini diproklamasikan pada tanggal 16 Desember 1963, tetapi pencetusan gagasan pembentukan Federasi Malaysia ini mendapat tantangan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Hampir semua partai pemerintah di daerah-daerah Malaysia menyetujui dan dapat disimpulkan bahwa golongan yang menentang gagasan Malaysia itu adalah partai oposisi, 39 organisasi buruh Singapura dan tantangan-tantangan secara ilegal yang datang dari Rakyat Brunei khususnya serta rakyat Kalimantan Utara pada umunya.
 
Puncak dari gerakan anti berdirinya Federasi Malaysia adalah pada saat diproklamasikannya Negara Kalimantan Utara pada tanggal 8 Desember 1962. Dengan terbentuknya Negara Kesatuan Kalimantan Utara mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno, sambutan hangat itu dapat diketahui dari pernyataan–pernyataan yang diucapkan oleh Presiden Soekarno sendiri sebagai Panglima Komando Tertinggi atas Pengganyangan Federasi Malaysia.
 
b. Pembentukan Komando Operasi Tertinggi.
 
Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka menghadapi konfrontasi dengan Negara Malaysia segera mempersiapkan diri dalam rangka menghadapi segala kemungkinan terjadinya perang terbuka. Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat dibubarkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 142 tahun 1963. Selanjutnya dibentuk Komando Operasi Tertinggi disingkat KOTI, dengan tujuan untuk menghadapi Negara Malaysia. Adapun realisasi tindakan nyata dalam rangka mengimbangi kekuatan Malaysia, maka telah digelar beberapa macam operasi dan operasi yang digelar meliputi Operasi Terang Bulan I dan II, Operasi Sapu tangan, Operasi Waspada, Operasi Gincu, Operasi Kelelawar, Operasi Antasari I, Operasi Nantang dan operasi lainnya.
 
Persengketaan antara Negara Indonesia dengan Negara Malaysia semakin meningkat karena Malaysia dianggap telah melanggar persetujuan Manila (Manila Agreement), adapun dampak dari pelanggaran tersebut adalah Presiden Soekarno membentuk suatu operasi yang dinamakan operasi “Dwi Komando Rakyat”. Pelaksanaan kegiatan dalam rangka pengerahan daya kekuatan dari segenap potensi ABRI serta unsur-unsurnya di seluruh Indonesia, maka Pemerintah Republik Indonesia menunjuk seseorang sebagai Penguasa Pelaksana Dwikora Daerah (Pepelrada)
.
 
c. Sasaran Operasi Dwikora
 
Selama tahun 1963-1965 Dalam pelaksanaan kegiatan operasi Dwikora telah diadakan pelaksanaan kegiatan operasi udara didaerah Sumatra, Riau, Kalbar, Kaltim dan daerah Semanjung Malaysia. Adapun sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan operasi “Dwikora” adalah sebagai berikut :
 
 1) Pengintaian dan Pemotretan udara di Malaysia Barat dan Timur serta Lautan Selatan Pulau Jawa.
 2) Patroli udara dengan sasaran memeriksa “Reaction Time” lawan di Singapura dan Jeseltron.
 3) Penerjunan yang dilaksanakan oleh anggota PGT AURI di daerah lapis serta Hilir Kuala Lumpur.
 
d. Sasaran Yang Akan Dikosongkan :
 
1) Di Semanjung Malaysia : Kuala Lumpur, Port Swittenham dan Malaecea, sedangkan Pangkalan yang digunakan adalah PAU Medan.

Baca juga:  Sebanyak 72 Siswa Bintara Dan Tamtama TNI AU Menjadi Keluarga Besar Pomau

2) Di Singapura : Singapura Kota, Tengah Airfield dan Pelabuhan Singapura. Pangkalan yang digunakan dalan misi penyerangan adalah Pangkalan Tangjung Balai Karimun dan Pulau Penuha.

3) Di Kalimantan Utara : Labuhan Airfield Jesselton Airfield, Kuching Kota dan Tawao Airfield. Pangkalan yang digunakan untuk penyerangan adalah satuan Debsema AURI Bulutambang, satuan Debsema AURI Kemayoran, PAU Iswahyudi dan Pangkalan Udara Waru.
 
Untuk meningkatkan efek politis dari serangan balasan terbatas, maka diadakan operasi Tavip. Dalam rangka pelaksanaan operasi ini, telah disiapkan pesawat Dakota/C-47 dan Avia serta 130 orang pasukan dari Komando Strategi Udara Siaga. Komando operasi berada ditangan Pangkostraga Laksamana Madya Oemar Dani yang berkedudukan di Wing Operasi 001 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Dalam menghadapi konfrontasi dengan Negara Malaysia, AURI telah mengerahkan hampir seluruh pesawat tempurnya, seperti TU-16/TU-16KS, C-130/ Hercules, C-47 Dakota, B-25/B-26, P-51 Mustang dan beberapa UF1/2 Albatros.
 
e. Peran Pangkalan Udara Sungai Durian dalam Operasi Dwikora.
 
Dampak adanya pelaksanaan kegiatan Operasi “Dwikora”, maka peranan Detasemen Angkatan Udara Pontianak mengalami peningkatan status. Alasan dengan adanya peningkatan status ini disebabkan karena dalam pelaksanaan kegiatan operasi “Dwikora” banyak melibatkan pesawat-pesawat AURI yang digelar di Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian. Dampak adanya penggelaran pesawat-pesawat ABRI dalam skala besar di Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian, maka kemampuan Detasemen Angkatan Udara ditingkatkan menjadi Lanu Sei./Sungai Durian.
 
Adapun dampak lain dengan adanya peningkatan kemampuan ini adalah pelaksanaan pembangunan Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian, khususnya pembangunan Landasan dan Appron. Dengan banyaknya pesawat ABRI yang standby di Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian (Pesawat Bomber B-29, Mustang dan Hellikopter) maka untuk tercapainya dukungan pelaksanaan kegiatan operasi “Dwikora”, dilaksanakannya peningkatan jumlah kekuatan personil dan peningkatan personil ini terjadi diantaranya pada peningkatan jumlah personil Pegawai meningkat jumlahnya menjadi 121 orang. Pegawai Negeri ini banyak didrop ke spot-spot/daerah-daerah untuk melayani dukungan operasi penerbangan pesawat Hellikopter.
 
Dengan adanya penggelaran kekuatan TNI AU dalam kegiatan pelaksanaan Operasi “Dwikora” maka atas pertimbangan Keamanan untuk Kantor Detasemen Angkatan Udara di Losmen Djeruju pindah Ke Kantor Angdam XII/Tanjungpura yang menumpang di pojok sebelah kanan. Saat itu, AURI mulai dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas penunjang operasi penerbangan dengan tenaga ahli lengkap dengan peralatannya, adapun kelengkapan yang dimaksud meliputi petugas Meteo, PHB, PLLU, Sandi, PK, dan Dokter Petugas Kesehatan AURI yang bertugas Detasir, berasal dari M.B.A.U, Korud II Banjarmasin, PAU Singkawang dan dari Pangkalan lain, disamping sebagian petugas itu telah dipindahkan ke Pontianak.
 
Dalam waktu yang lama, maka kantor Detasemen Angkatan Udara dari Angdam XII/Tanjungpura dipindahkan lagi ke Kantor Kodim 1207 Pontianak (sekarang Swalayan Harum Manis), jadi pada waktu itu untuk kondisi Kantor Detasemen Angkatan Udara Pontianak selalu berpindah-pindah. Penyebab lain dari sering dipindahkannya kantor Detasemen Angkatan Udara Pontianak disamping pertimbangan keamanan adalah untuk lebih mendekatkan hubungan kerja antara AURI dengan Kodam XII/ Tanjungpura karena kehadiran pesawat-pesawat tempur AURI di Pontianak adalah untuk membantu kelancaran Operasi Kodam XII/ Tanjungpura sesuai perintah KOTI.
 
Detasemen Angkatan Udara Pontianak selain bertugas untuk melayani dukungan operasi pesawat di Lapangan Udara Sei./Sungai Durian juga mengatur penempatan Perwakilan AURI di daerah-daerah. Adapun yang dimaksud dari Perwakilan AURI di daerah-daerah, meliputi Perwakilan Sintang, Putussibau, Sanggau Kapuas, Semitau dan Ngabang dan memiliki tugas untuk melayani penerbangan/pengisian bahan bakar pesawat Helikopter yang terlibat dalam pelaksanaan tugas operasi “Dwikora”, sedangkan untuk pelaksanaan kegiatan dukungan Logistik dan Personil ditangani oleh Detasemen Angkatan Udara Pontianak.
 
Di daerah Sintang, pihak AURI sempat membuat Lapangan Terbang yang dikerjakan oleh pasukan PGT Pioneer AURI yang diterjunkan didaerah tersebut. Lamanya waktu dalam pelaksanaan pekerjaan ini, diselesaikan selama ± 6 bulan dengan tenaga mekanis dan beberapa kompi pasukan PGT. Dalam perkembangan selanjutnya, bahwa setelah selesai pelaksanaan kegiatan Operasi “Dwikora”, Lapangan Terbang ini menjadi rusak karena sudah tidak dirawat sama sekali sehingga kondisi lapangan terbang menjadi hutan kembali.
 
Akibat dari adanya pemberontakan G-30S/PKI yang akan menjatuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka perhatian dan konsentarsi kekuatan yang dipusatkan untuk pelaksanaan Operasi Dwikora, kemudian dipusatkan untuk menanggulangi pemberontakan tersebut. Keuntuhan dan kehidupan sebagai bangsa lebih penting dari pada melaksanakan konfrontasi dengan Negara Malaysia, sehingga timbul pemikiran dari para pemimpin bangsa kita untuk segera mengakhiri konfrontasi yang tak ada manfaatnya itu.
 
Dengan dilaksanakannya perundingan damai di Bangkok yang berlangsung tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1966 oleh Pemerintah RI dan Malaysia serta ditandatanganinya hasil perundingan tersebut, maka akhirnya segala macam bentuk konfrontasi yang pernah terjadi antara kedua negara serumpun itu. Korban yang jatuh dari kedua belah pihak sebenarnya tidak perlu terjadi, namun semua itu merupakan tanda peringatan bahwa dalam hidup berdampingan sebagai bangsa dan negara diperlukan adanya saling pengertian dan tenggang rasa. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Yang telah berlalu, biarlah berlalu dan perjuangan hidup ke masa depan sebagai bangsa telah menanti”.
 
OPERASI PENUMPASAN GEROMBOLAN PGRS/ PARAKU.
 
Ketika terjadi konfrontasi Indonesia dengan Malaysia, kurang lebih 850 pemuda Cina Serawak menyeberang ke daerah RI dan umumnya mereka adalah orang-orang Cina yang pro-komunis. Selanjutnya, Pemerintah RI memberikan latihan kemiliteran dan mempersenjatai mereka secara persenjataan militer dalam rangka menghadapi konfrontasi antara Negara Indonesia dengan Negara Malaysia.
 
Mereka dibagi menjadi dua kesatuan, yaitu Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paruku). Kedua pasukan tersebut dibawah komando Brigadir Jenderal TNI Supardjo, yang pada saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Tempur IV Mandau dengan pusat kedudukan di Bengkayang Kalimantan Barat. Setelah konfrontasi antara Negara Indonesia dengan Negara Malaysia telah berakhir, maka anggota PGRS/Paraku diinstruksikan untuk menyerahkan kembali senjata-senjata yang mereka pakai. Namun sebagian besar anggota PGRS/Paraku membangkang, bahkan selanjutnya mereka membentuk kesatuan sendiri dan pasukan-pasukan PGRS atau Paraku melakukan aksi pengacauan di daerah sekitar perbatasan Negara Indonesia dengan negara Malaysia, khususnya didaerah-daerah yang tidak terdapat kesatuan militer.
 
Mereka menga
jak pemuda-pemuda untuk menjadi anggota kelompoknya, bahkan mereka diberikan latihan-latihan militer dan setelah pemberontakan G.30.S/PKI dapat digagalkan, maka gerombolan PGRS/Paraku berafiliasi dengan PKI ilegal yang dipimpin oleh S.A. Sofyan. Di samping itu, mereka juga berhubungan dengan organisasi PKI Cina di Semenanjung Malaysia, di sana mereka mengadakan Battle Training Center. Jumlah mereka berkembang dengan cepatnya, dari kekuatan awal yang mereka miliki sekitar seribu orang, kemudian mengalami perubahan peningkatan menjadi sekitar dua puluh ribu orang. Di antaranya terdapat orang-orang Cina yang sengaja didatangkan dari Pulau Hainan, RRC.
 
Operasi yang dilakukan oleh ABRI, pada mulanya menghadapi kesulitan dalam pelaksanaannya karena PGRS/Paraku berhasil mempengaruhi dan menggalang suku Dayak untuk memusuhi Pemerintah Republik Indonesia. Namun ketika gerombolan PGRS/Paraku melakukan pembunuhan terhadap seorang pemimpin suku Dayak dan memeras serta merampas bahan makanan mereka, maka Suku Dayak kemudian menjadi berbalik melakukan perlawanan terhadap gerombolan PGRS/Paraku.
 
Dalam suasana pembalasan itu, orang-orang Cina yang bukan komunis menjadi korban sehingga hal itu membuat mereka menjadi ketakutan. Hal ini menyebabkan orang Cina di pedalaman melakukan pengungsian besar-besaran ke kota-kota pesisir, bahkan ke Jawa guna mencari perlindungan. Situasi baru reda setelah suku-suku Dayak itu diberi peringatan dan dikoordinasikan oleh ABRI dalam melakukan penumpasan terhadap kaum gerilya komunis Cina dan sisa-sisa G.30.S/PKI. Gerakan Operasi Tertib yang menghancurkan 50% dari kekuatan personel dan persenjataan gerombolan Cina komunis.
 
a. Lahirnya Task Force Saber Kilat.
 
Guna mendukung pemulihan keamanan dan ketertiban didaerah Kalimantan Barat serta dengan adanya gangguan gerombolan PGRS/PARAKU, maka oleh Pangab diperintahkan
 kepada KODAM XII/TPR untuk mengadakan pelaksanaan kegiatan pembersihan terhadap gerombolan PGRS/ PARAKU. Menindaklanjuti perintah tersebut, maka KODAM XII/ TPR segera membentuk Operasi Gabungan yang diberi nama “Operasi Saber Kilat”, yang ditunjang oleh segenap kekuatan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
 
Dengan demikian TNI AU dan segenap anggota Pangkalan Udara Singkawang II ikut mendukung didalam pelaksanaan kegiatan operasi tersebut. Berdasarkan Intruksi dari Panglima Angkatan Udara Cq. Deputy Operasi dengan Instruksi nomor INS OPS/01/68/OPS tanggal 14 Januari 1968, maka melaksanakan perintah untuk menggabungkan Operasi Kilat I dan Operasi Kilat II menjadi satu nama Task Force Saber Kilat dengan penambahan kekuatan unsur udara. Markas Komando Saber Kilat yang berada di Pangkalan Udara Supadio Pontianak yang terdiri dari :

Baca juga:  KASAU : Saat Ini TNI AU Bangun Kekuatan Ideal

 1) Komandan/Wakil Komandan.
 
 2) Kepala Staff.
 
 3) Staf Umum.
 
 4) Staf Khusus.
 
 5) Sekretaris Umum.
 
 6) Perwira Kesehatan.
 
 7) Pasukan Pelaksana terdiri dari :
 

 (a) Pasukan Batalyon Satpur Kopasgat.
 (b) Squadron Bantuan Tempur.
 
Di Pangkalan Udara Singkawang II dipersiapkan 1 (satu) buah pesawat jenis UF-1 Albatros, sedangkan pesawat Helikopter jenis MI-4 dan M-I6 berpangkalan di Pangkalan Udara Supadio. Kekuatan Pengamanan Pangkalan di Pangkalan Udara Singkawang II sebanyak 1 (satu) Kompi dan yang lainnya ditempatkan diluar pangkalan, selanjutnya lamanya pelaksanaan Operasi Saber Kilat berlangsung sampai bulan Desember 1969 dan operasi dapat berjalan dengan lancar.
 
b. Pembubaran Komando Mandala Siaga (Kolaga).
 
Pada awal tahun 1967 dilakukan pembubaran Komando Mandala Siaga (Kolaga) dan tugas-tugas operasi diserahkan kepada Kodam XII/Tanjungpura dan seluruh Kosatgas Mandau dan Batalyon Brimob Alang-alang ditarik ke kesatuan semula. Penyerahan wewenang operasi kepada Kodam XII/Tanjungpura, menyebabkan beban tugasnya semakin berat, karena selama ini dalam pengamanan wilayah Kalimantan Barat, Kodam hanya berfungsi sebagai supporting unit.
 
Dalam periode peralihan itu, Kodam XII/ Tanjungpura merencanakan suatu operasi pembersihan yang disebut dengan Operasi Sapu Bersih (Saber) yang dilaksanakan beberapa tahap yaitu :
 
 1) Operasi Sapu Bersih I pada bulan April 1967 sampai dengan bulan Juli 1967.
 2) Operasi Sapu Bersih II pada bulan Agustus 1967 sampai dengan bulan Februari 1969.
 3) Operasi Sapu Bersih III pada bulan Maret 1969 sampai dengan bulan Desember 1969
 
Operasi Sapu Bersih I dimaksudkan untuk menghancurkan rencana Cina komunis yang akan menjadikan Kalimantan Barat sebagai basis dalam melanjutkan perjuangan melawan pemerintah RI. Operasi Sapu Bersih I berada di bawah pimpinan Kolonel Infanteri Yunus Jahor dengan kekuatan enam Kompi Senapan Organik dari Batalyon Infanteri 641 dan 642 Tanjungpura, dua peleton Hanudri D/BS Kodam XII Tanjungpura, satu peleton Zipur Kodam XII/Tanjungpura serta kesatuan-kesatuan teritorial yang terdiri dari Komando Resort Militer.
 
Operasi itu khusus dilaksanakan untuk menumpas gerombolan yang dipimpin oleh Lim A Liem dan Gerombolan itu berkekuatan 600 orang dengan dialokasikan Gunung Sentawi/Sempatung Kompleks dan Sungkung Kompleks. Operasi ini bertujuan menumpas gerombolan Paraku pimpinan Cong (Yusuf Said) yang berkekuatan kurang lebih 250 orang dengan dislokasi Bemula Martinus Kompleks. Kedua pasukan tersebut memiliki kekuatan persenjataan sekitar tiga ratus pucuk senjata Sten, lima pucuk Bren Medsen, satu pucuk MO 5, empat puluh dua pucuk LE, tiga puluh tiga pucuk Mauser, empat puluh satu pucuk pistol dan granat tangan.
 
Pada mulanya Operasi Sapu Bersih I dapat berjalan dengan lancar karena musuh belum sempat melaksanakan konsolidasi diri sepenuhnya, sebagai akibat dari operasi-operasi yang dilancarkan oleh Komando Kesatuan Tugas M/IV dalam Operasi Tertib I dan II. Akan tetapi, akibat dari panjangnya garis komunikasi yang harus dikuasai, maka pada hari-hari berikutnya inisiatif beralih ke tangan musuh, bahkan keadaan tambah diperparah lagi karena lumpuhnya jaringan intel.
 
Dalam pelaksanaan konfrontasi untuk masalah intelijen praktis berada ditangan Komando pertempuran, kemudian dengan ditariknya Kopur maka jaringan intel menjadi lumpuh sama sekali. Kesulitan-kesulitan yang dialami dalam bidang intel adalah dengan adanya penambahan keunggulan lawan yang mempunyai masyarakat dan bahasa sendiri yang tidak dimengerti, sehingga mengakibatkan musuh sukar ditembus oleh tim intel Kodam. Dengan demikian kegiatan-kegiatan musuh sukar diketahui,dalam pergerakkannya, padahal kegiatan anti gerilya sangat tergantung pada intelijen yang baik.
 
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka Kodam XII/Tanjungpura menyusun kembali tim/satuan intel dari permulaan dengan memanfaatkan bantuan kekuatan-kekuatan dari Cina Komunis sendiri yang bisa dipercaya. Sedangkan untuk melakukan perang urat syaraf disiapkan suatu pemancar khusus dalam bahasa Cina dan bahasa daerah Dayak dan di bidang pers diterbitkan sebuah harian dalam huruf Cina. Kedua kegiatan ini penting untuk menjatuhkan moril lawan dan sekaligus mengajak mereka untuk mengakhiri pemberontakan dan segera menyerahkan diri kepada pemerintah.
 
Operasi Sapu Bersih I, yang digelar oleh Kodam XII/Tanjungpura, belum mampu untuk melaksanakan penghancuran gerombolan, karena gerombolan terpencar di wilayah yang sangat luas sepanjang perbatasan Kalimantan Barat dan tersebar di daerah yang sebagian besar penduduknya merupakan keturunan Cina. Panglima Kodam XII/Tanjungpura yang baru, Brigadir Jenderal A.J Witono, kemudian menyusun rencana operasi untuk melaksanakan penghancuran yang lebih terarah dengan kekuatan yang lebih besar dan Operasi yang digelar diberi nama Operasi Bersih II.
 
Kodam XII/Tanjungpura sedang mempersiapkan pelaksanaan Operasi Sapu Bersih I, telah terjadi penyerangan terhadap gudang senjata AURI, di Pangkalan Udara Singkawang II-Sanggau Ledo pada tanggal 16 Juli 1967 penyerangan dilaku
kan oleh gerombolan Komunis PGRS/Paraku. Gedung tersebut dijaga oleh 6 (enam) orang, yang kemudian disergap dari jarak dekat sehingga 4 (empat) anggota Pasukan PGT gugur. Gerombolan dapat merampas persenjataan yang terdapat didalam gedung tersebut.

Baca juga:  Ceramah Binpotdirga Di Lanud Surabaya

Pesawat-pesawat Hellikopter Yang Standby
dalam Operasi “Penumpasan PGRS PARAKU”
 
Peristiwa Pangkalan Udara Singkawang II, mendapat perhatian sepenuhnya pada rapat pemerintah pusat di Jakarta, sehingga kekuatan pelaksanaan operasi ditambah. Secara berturut-turut antara bulan Juni s/d Nopember 1967 didatangkan pasukan-pasukan dari pusat sebagai berikut : 1 (satu) kompi Passusad /RPKD, satu kompi Kopasgat atau AURI, Tim dari Pelaksana Intelijen Angkatan Darat (Dipiad), satu Batalyon Para R.600, satu Kompi Batalyon Zipur 6, satu Kompi Batalyon Para R.328/Slw, satu Batalyon Para R.100/Koanda Sumatera dan satu Kompi KKO-AL. Dalam pelaksanaannya, operasi itu mendapat bantuan dari unsur-unsur ABRI setempat yang terdiri dari Komdak XI/Kalimantan Barat dengan unsur-unsur tempur Batalyon 837 Brimob/Polri, ditambah dengan tujuh Komres dan Polisi Airud.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel