Berita Kotama

PEREBUTAN, PENUGASAN DAN PEMBANGUNAN

Dibaca: 60 Oleh 26 Jan 2010Tidak ada komentar
PEREBUTAN, PENUGASAN DAN PEMBANGUNAN
#TNIAU 

Perebutan, Penguasaan dan Pembangunan.
 
Keadaan kala itu Perang Dunia II makin menghebat, daerah ini selanjutnya dijadikan sasaran perang oleh Jepang, sehingga pemerintah Belanda menyatakan Lap-Ter “Sabah Uyah” sebagai daerah berbahaya. Pada tanggal 11 Januari 1942 keadaan makin bertambah gawat, tentara Jepang dapat merebut dan menduduki Pulau Kalimantan secara bertahap mulai dari utara dan makin meluas keseluruhnya. Tentara sekutu/Belanda makin terjepit dan pada tanggal 9 Maret 1942 mereka menyerah kepada Jepang.
 
Berikutnya pada tanggal 30 Maret 1942 kapal perang Jepang merapat di Pelabuhan Kumai Pangkalan Bun dan mengambil para tawanan perang pasukan Belanda dan pada tanggal 2 April 1942 seluruh tawanan termasuk LWJ Buhu JS yang saat itu sebagai Controleur dibawa ke Banjarmasin.
 
Dalam aksi penyerbuan yang dilakukan oleh tentara Dai Nippon ternyata Lap-Ter “Sabah Uyah” tidak dibombardir sepenuhnya, sehingga tidak mengalami rusak berat dan masih dapat digunakan oleh pemerintah
 
Jepang. Pemerintah Jepang pada masa pendudukannya saat itu dapat bekerjasama baik dengan Pemerintah Swapraja, pemerintah Jepang tidak melakukan tindakan sewenang-wenang dan perlakuan yang diberikan kepada rakyat serta kepada Romusha yang didatangkan dari luar daerahpun cukup baik, hal ini sangat berbeda dengan pemerintahan Belanda sebelumnya.
 
Pada tanggal 25 September 1945 karena dinamika perang dengan seluruh gejolaknya bala tentara Jepang didaerah ini kemudian menyerah kepada Sekutu, namun sebelumnya pemerintah Jepang telah memberikan suatu dorongan motivasi kepada masyarakat di Kotawaringin Barat untuk “Merdeka”, apalagi ditambah dengan dengung Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 masih terngiang-ngiang di telinga seluruh masyarakat Kotawaringin Barat. Pada kondisi demikian pengelolaan Lapangan Terbang “Sabah Uyah” menjadi terbengkalai, karena Sultan sebagai pemegang kekuasaan penuh belum menguasai secara hukum arti kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh Pemerintah Pusat. Suasana daerah masih tidak menentu karena disana-sini masih tampak suatu ketidakpastian dan keragu-raguan dari pihak pemerintahan maupun masyarakat, sehingga banyak sarana fasilitas Lapangan Terbang “Sabah Uyah” dijarah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab atau banyak material alat peralatan yang hilang tanpa bekas.
 
Pada akhir tahun 1945 tentara Australia yang diboncengi pasukan NICA /Belanda mendarat di pelabuhan Kumai, pada mulanya mereka mendapat perlawanan sengit dari masayrakat Kotawaringin Barat yang tidak mau dijajah lagi, namun karena keterbatasan kemampuan dan senjata yang dimiliki masyarakat setempat, maka daerah ini dapat diduduki kembali oleh penjajah NICA/Belanda.
 
Lapangan Terbang “Sabah Uyah” karena situasi dan kondisinya yang sudah berantakan kemudian dibongkar lantas diperbaiki kembali untuk difungsikan lagi sebagai Lapangan Terbang dengan ditempatkannya seorang Controleur Belanda bernama GA. Hartiwig yang menjalankan kekuasa-annya dari tanggal 18 Juli 1949 sampai dengan tanggal 21 Maret 1950 dan pada masa berakhir jabatannya langsung menyerahkan penguasaan Lapangan Terbang “Sabah Uyah” kepada pemerintah Swapraja yang pada saat itu diwakili oleh Wedana Basri.

Baca juga:  Komandan Lanud Sjamsudin Noor Serahkan Alat Semprot Desinfektan dan Thermometer Infrared  di Lanud Sjamsudin Noor  

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel