Pustaka

Perkembangan Status dan Kronologis Penembakan Malaysia Airlines MH17

Dibaca: 62 Oleh 11 Agu 2014Tidak ada komentar
c130 hercules indonesian air force approaching
#TNIAU 

9A317E-Buk-M2E-TELAR-1S

Ilustrasi Series BUK SA-11/SA-17 (Sumber foto : ausairpower.net)

Fakta-fakta bahwa penggunaan peluru kendali anti pesawat udara yang merontokkan Malaysia Airlines semakin mengerucut berasal dari arsenal Rusia.  Pejabat Amerika Serikat telah mengkonfirmasi pada hari Sabtu (19/7/2014) bahwa Rusia telah memasok peluncur rudal canggih untuk kelompok separatis di Ukraina Timur dan mendeteksi kemudian adanya upaya  memindahkan rudal tersebut kembali melintasi perbatasan Rusia setelah pada hari Kamis menembak jatuh MH17.

Seorang pejabat intelijen AS yang tidak disebut namanya mengatakan kepada Washington Post,  “We do believe they were trying to move back into Russia at least three BUK (missile launch) systems. U.S. intelligence was starting to get indications . . . a little more than a week ago, that the Russian launchers had been moved into Ukraine.”

Sementara  Kepala Kontra Intelijen dari Badan Keamanan Ukraina,  Vitaly Nayda, telah menawarkan foto dan mengatakan bahwa Ukraina memiliki bukti pergerakan tiga buah peluru kendali  sistem rudal anti pesawat BUK dari wilayah yang dikuasai pemberontak ke wilayah Rusia pada Jumat pagi, kurang dari  12 jam setelah MH17 ditembak  jatuh. Pejabat Ukraina mengatakan bahwa rudal  peluncur itu yang digunakan untuk menembak jatuh pesawat tersebut.

Dikatakan lebih rinci oleh Nayda, bahwa dua sistem antipesawat itu terlihat memasuki Rusia dari Ukraina pada pukul  02:00/LT, Jumat (18/7/2014). Salah satu memiliki lengkap  empat rudal, tapi yang lain berkurang satu dari series empat buah. Dalam waktu dua jam, tercatat  konvoi tiga kendaraan, termasuk salah satu peluncur dan truk kontrol komando telah menyeberang ke wilayah Rusia.

Nayda juga mengonfirmasikan, menolak  berita yang mengatakan bahwa rudal BUK telah dicuri dari pihak Ukraina. Ditegaskannya bahwa  militer Ukraina tidak meninggalkan satupun rudal BUK saat pangkalan mereka di Ukraina Timur pada tahun ini direbut pemberontak. Dia meyakini bahwa diketahui adanya BUK yang berasal dari Rusia di gelar pada wilayah pemberontak sejak hari Senin (14/7/2014). Kelompok pemberontak menyatakan membantah memiliki rudal, walaupun salah satu tokohnya Igor Girkin pernah di media sosial membanggakan kepemilikan sistem itu, klaim dihapus setelah diketahui pesawat yang jatuh ditembak adalah pesawat komersial (MH17).

Pemerintah Ukraina nampaknya hanya mengetahui status ancaman (hanud titik)  hingga hari Minggu (13/7/2014) bahwa separatis (pemberontak) dalam pertempuran dengan militer Ukraina, memiliki rudal panggul pencari panas yang dikenal sebagai MANPADS dengan jarak jangkauan tembak  12.000 ft.

Pada beberapa hari sebelum penembakan MH17, ternyata pemberontak telah dilengkapi dengan peluru kendali BUK SA11M-1, rudal yang dikendalikan dengan radar,  jarak jangkau hingga 49.000 ft, dengan kecepatan tiga kali kecepatan suara. Pada hari Senin, rudal SA11 tersebut telah merontokkan pesawat angkut AU Ukraina Antonov AN-26 pada ketingian 21.000 ft. Hari Senin itu juga  otoritas penerbangan Ukraina mengeluarkan Notam bagi pesawat yang melintas di daerah konflik, untuk terbang dengan ketinggian diatas 32.000 ft sebagai ketinggian yang dinilai aman.

Setelah penembakan AN-26, pertempuran berkecamuk dengan keras di Ukraina Timur, diketahui adanya serangan udara ke kota Snizhne, sebuah kota yang terletak 12 kilometer dari perbatasan Rusia. Kedua pihak saling menuduh serangan dilakukan oleh AU Ukraina atau AU Rusia tetap tidak jelas. Itulah awal konflik yang semakin berbahaya dengan digunakannya alutsista udara (pesawat tempur). Pada Rabu malam (16/7/2014), terjadi pertempuran udara, dimana sebuah pesawat tempur AU Ukraina jenis Sukhoi-25 telah ditembak jatuh oleh Mig-29 dari AU Rusia, sementara satu pesawat tempur AU  Ukraina lainnya mengalami kerusakan tetapi dapat melarikan diri.

Pada hari Kamis, para pejabat militer Ukraina menyatakan bahwa militer Rusia semakin serius terlibat dalam pertempuran dengan melibatkan senjata berat,  siang itu Malaysia Airlines MH17 take off dari Amsterdam menuju ke Kuala Lumpur melalui rute yang melintas di wilayah udara Ukraina. Pada saat MH17  report ke ATC Ukraina, nampaknya penerbang mengajukan clearance flight level 35.000 ft, tetapi hanya diijinkan pada ketinggian 33.000 ft. Ketinggian itu menurut otoritas Ukraina sudah berada di ketinggian aman. Dilain sisi, Menteri Transportasi Malaysia Liow Tong Lai mengatakan bahwa pesawat Malaysia Airlines MH17 itu terbang dengan mengikuti rute aman.

Pada saat yang hampir bersamaan dengan waktu penerbangan MH17, menurut laporan media Interfax, sore itu sebuah pesawat angkut Jet Rusia yang membawa Presiden Rusia Vladimir Putin juga sedang dalam penerbangan  di atas Eropa Timur kembali dari tur enam harinya ke Amerika Latin. Pesawat Presiden Rusia itu terbang di sekitar wilayah udara yang sama dengan MH17,  dari Warsawa menuju Moscow pada ketinggian 33.000 ft, dan terpisah waktunya sekitar 37 menit dengan MH17. Peristiwa penembakan MH17 terjadi saat pesawat Putin masih mengudara, saat mendarat di Moscow, dia mendapat telpon dari Presiden Obama tentang kejadian penembakan.

Demikian status dan kronologis penembakan MH17 terkait dengan situasi dan kondisi wilayah Ukraina Timur yang bergolak. Memang Ukraina telah memperingatkan penerbangan komersial agar terbang diatas ketinggian 32.000 ft dengan perhitungan adanya ancaman rudal panggul MADPADS. Tetapi sebenarnya wilayah tersebut dapat di kategorikan sebagai danger area karena beberapa hari sebelumnya ada pesawat AN-26 yang ditembak dengan ketinggian diatas jarak jelajah rudal pemberontak (MADPADS).

Disamping itu juga telah terjadi  dog  fight (pertempuran udara) antara pesawat tempur Ukraina dan Rusia.  Menurut penulis seharusnya baik otoritas Ukraina dan maskapai yang melalui wilayah konflik, positif menghindari rute tersebut. Hanya sayang informasi intelijen tidak dimonitor oleh negara-negara yang mengoperasikan pesawatnya melintasi Ukraina. Nah, nasi sudah menjadi bubur, kini jelas tidak ada satupun maskapai penerbangan yang menggunakan rute Ukraina.

Ini adalah sebuah pelajaran, disatu sisi Malaysia menjadi korban, penumpang menjadi korban, termasuk 12 warga Indonesia, sebuah bukti bahwa pesawat yang terbang di wilayah konflik di dunia lain sebaiknya di dukung dengan informasi intelijen. Jangan sepelekan konflik dibelahan dunia lainnya, intelijen harus mampu memberikan perkembangan situasi dunia, dan maskapai Indonesia jangan terlalu yakin dengan hukum udara, terbukti kini  sebuah pesawat komersial tanpa ampun di rontokkan oleh rudal di daerah konflik, nampaknya hanya karena mereka tidak bisa membedakan apakah itu musuh atau pesawat komersial.

Kesimpulannya jelas menakutkan, dan bahkan mengerikan bagi penumpang. Apakah informasi ganti rugi sebesar US$154.000/korban bisa menjadi  pengobat kesedihan? Jelas tidak. PRAYforMH17, penulis turut berduka bagi para penumpang serta crew yang menjadi korban, wabil khusus para saudaraku dari Indonesia yang juga tewas.  Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik bagi mereka, Aamiin.

Sumber: //ramalanintelijen.net

Baca juga:  LOGISTIK DAN PENERBANG ANGKATAN UDARA

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel