Berita

Pesawat Guntai, Riwayatmu Dulu

Dibaca: 665 Oleh 23 Jul 2012Tidak ada komentar
c130 hercules indonesian air force approaching
#TNIAU 

Bagi yang pernah berkunjung ke Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala, apabila mendengar nama museum pesawat terbang, ingatan langsung tertuju kepada museum yang berada di lingkungan Pangkalan Udara Adisutjipto Yogyakarta itu. Sebagian orang memang menyebut Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala dengan sebuatan museum pesawat terbang.

Di museum yang menempati areal seluas lebih kuang 5 hektar dengan luas bangunan sekitar 8.765 meter persegi itu, tersimpan 42 pesawat. Ke -42 pesawat terdiri dari berbagai jenis, baik pesawat angkut, pesawat latih maupun pesawat tempur. Salah satu pesawat tempur yang menjadi penghuni di museum pesawat terbang adalah pesawat Guntai.

Kepala Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala Letkol Sus Drs. Sudarno, Senin (23/7) di Ruang Kerjanya menerangkan, pesawat Guntai merupakan pesawat jenis pembom tukik buatan Jepang tahun 1930. Pesawat Guntai merupakan salah satu kekuatan udara Jepang pada Perang Dunia II.

Selain pernah menjadi kuatan udara Jepang di era Perang Dunia II, bersama pesawat Cureng, pesawat Guntai juga pernah menjadi andalan kekuatan TNI Angkatan Udara di masa Perang Kemerdekaan. Dalam pengabdiannya, jenis pesawat Guntai ini dulunya digunakan Kadet Penerbang Mulyono pada tanggal 29 Juli 1947 untuk melancarkan pemboman ke tangsi militer Belanda di Semarang dalam Perang Kemerdekaan RI pertama. Sementara pesawat peninggalan Jepang lainnya, dua Pesawat Cureng menyerang tangsi Belanda di Salatiga dan Ambarawa.

Pemboman ke tangsi-tangsi militer Belanda tentu saja bukan tanpa alasan, karena pemboman tersebut merupakan jawaban atas tantangan militer Belanda dalam Agresi Militer Belanda pertama. Dalam agresinya, dengan mengerahkan kekuatan sekitar 125.000 orang, Belanda menyerbu ke wilayah Republik Indonesia pada tanggal 21 Juli 1947. Pasukan mereka terdiri dari 110.000 KL (Koninklijk Leger), 12.000 KM (Koninklijk Marinier) dan sisanya adalah anggota KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger).

Pasukan Belanda bergerak ke Jakarta dan Bandung untuk menguasai Jawa Barat, dan dari Surabaya untuk menguasai Madura dan wilayah Jawa Timur serta gerakan-gerakan pasukan yang lebih kecil mengamankan wilayah Semarang. Di Agresi Militer I, Belanda berhasil menguasai tempat di kota-kota, sedangkan Indonesia menguasi daerah di luar kota. Pasukan TNI memutuskan mundur ke pedalaman sambil menjalankan taktik bumi hangus dan taktik gerilya.

Kepala Museum menuturkan, berbekal pesawat peninggalan Jepang, TNI Angkatan Udara melancarkan Operasi Udara, dengan menyerang kedudukan Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa.

“Walaupun tidak menghancurkan sama sekali tangsi Belanda, gaung keberanian elang muda dalam Operasi Udara berhasil membangkitkan moral bangsa Indonesia dalam melawan Belanda. Selain itu, melalui Operasi Udara pula, bangsa Indonesia ingin menunjukkan kepada Belanda bahwa TNI masih ada,” tutur Kepala Museum.

Untuk mengenang pengabdian jenis pesawat Guntai dalam kancah Perang Kemerdekaan, yang sisa-sisanya ditemukan di Babo atau Fak-fak Irian Barat itu, setelah direstorasi, pada tahun 1987 diabadikan di Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala.

Baca juga:  Lanud SMO Sembelih 48 Hewan Kurban

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel