#TNIAU 

Marsda TNI Anumerta Prof.DR. Abdulrachman Saleh

Abdulrachman Saleh dilahirkan dari keluarga dokter yang mempunyai disiplin dan pendidikan yang sangat kuat.  Abdulrachman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909, di kampung Ketapang (Kwitang Barat) Jakarta. Ayah beliau, dr. Mohammad Saleh berasal dari Salatiga dan beristrikan seorang gadis Jakarta yang bernama Ismudiati.   Nama Mohammad Saleh cukup dikenal sebagai seorang dokter yang sosiawan di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat kota Probolinggo.   Beliau lulus menjadi dokter seangkatan dengan dr. Sutomo tokoh nasional pendiri Budi Utomo.

Sejak kecil Abdulrachmaman Saleh dan saudara-saudaranya selalu dalam asuhan orang tua dengan penuh kasih sayang, tetapi mereka juga dibiasakan hidup tertib dan serba mandiri.   Keluarga Mohammad Saleh merupakan keluarga besar, sebelas orang putranya, dua meninggal dunia waktu masih anak-anak dan sekarang hanya tinggal sembilan orang.  Putra dan putri keluarga Saleh mendapat didikan disiplin yang kuat, sampai-sampai pada makananpun sangat menjadi perhatian bagi keluarganya untuk pertumbuhan badan putra putrinya.   Pengetahuan merupakan prinsip utama bagi hari depan mereka.   Tidak kekecewaan yang beliau peroleh sebagai hasil jerih payah mendidik dan memberi disiplin kepada putra-putranya.  Memang hasil dari pendidikan dan pengajaran yang ditanamkan di hati setiap putra-putranya membuktikan kenyataan bahwa ketujuh putra-putrinya kesemuanya menjadi orang yang b erguna bagi masyarakat.

Maman, demikian panggilan Abdulrachman dalam kesehariannya selalu dimanfaatkan untuk mengetahui sesuatu.   Putra ini mewarisi sifat ayahnya yang memiliki sifat periang dan baik hati.   Sejak kecil Maman mempunyai sifat serba ingin tahu terhadap sesuatu yang sangat menonjol.  Setiap mainan pemberian orang tuanya selalu ingin dibongkarnya, dan senantiasa bagian-bagian mainan yang telah berserakan tak menentu, dapat dipasangnya kembali.   Hal ini sering menimbulkan kesal pada orang tuanya karena mainan yang baru tidak pernah dibiarkan utuh dalam keadaan semula.   Pembawaan sifat serba ingin tahu yang dimiliki sejak kecil, kelak menjadi dasar bagi sukses dalam hidupnya, sehingga menjadi tokoh yang all round.

Ketika belum sekolah Maman kecil tempat tinggalnya berpindah-pindah, karena keluarga Saleh mendarma baktikan ilmunya kepada masyarakat dari kota yang satu pindah ke kota yang lain.   Tenaga dokter waktu itu sangat dibutuhkan dan jumlahnya sangat sedikit sekali bila dibangdingkan masyarakat yang membutuhkan,  karena tidak adanya keseimbangan antara penderita dan dokter-dokter pribumi maka keluarga saleh selalu berpindah-pindah.   Semula dari Jakarta dipindahkan ke Boyolali, Jawa Tengah, tak lama menempati kota ini keluarga Saleh menuju Kolonedale, Sulawesi Tengah disusul lagi kepindahannya ke Bondowoso, Pasuruan, Probolinggo.

Beruntunglah Maman yang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang berpandangan luas dan jauh kedepan, oleh karena itu masalah pendidikan menjadi hal yang utama dalam keluarga tersebut.   Pendidikannya dimulai dengan Holland Indische School (HIS), Meer Urgebreid Lagere Onderwijs (MULO).   Setelah lulus MULO maksudnya hendak melanjutkan studinya ke School Tot Opleding van Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta, untuk mengikuti jejak ayahnya.   Akan tetapi baru beberapa bulan ia masuk STOVIA, sekolah itu dibubarkan.

Pemerintah Belanda beranggapan bahwa dasar sekolah ini kurang memenuhi syarat-syarat, karena untuk menjadi dokter dibutuhkan dasar yang kuat dari Algemene Middelbare School (AMS). Sekolahnya terpaksa dilanjutkan ke AMS Malang.   Kecerdasan dan kekuatan menghadapi sesuatu, merupakan modal bagi kelancaran pelajarannya, sehingga Maman terkenal anak yang pandai di kelasnya.

Sebagai seorang dokter, bapak Mohammad Saleh tentu menginginkan putra beliau melanjutkan cita-cita dan jejak beliau.   Ditambah pula lingkungan dan nilai-nilai sekolah lebih mendorong pemuda Abdulrachman untuk terjun dalam bidang kedokteran.   Kegagalannya di STOVIA tidak menghambat cita-citanya.   Setelah menamatkan AMS dengan nilai-nilai yang gemilang, ia memasuki Geneeskundige Hooge School (GHS) di Batavia.

Masa-masa kemahasiswaannya, tidak disia-siakan begitu saja.   Beliau aktif di bidang kemahasiswaan, begitu pula kegiatan-kegiatannya di luar fakultas.   Ia bukan seorang mahasiswa yang berjiwa text-book thinker.   Jiwanya yang serba ingin tahu mendorongnya untuk menyeburkan diri dalam organisasi-organisasi atau perkumpulan-perkumpulan yang sangat sesuai bagi dirinya.   Bakatnya di bidang olahraga sangat besar.   Waktu luang diisinya dengan kegiatan-kegiatan dalam organisasi keolahragaan, dimana ia dapat memupuk bakatnya.

Maman pernah menjadi anggota Indonesia Muda.   Dalam perkumpulan ini ia terjun dalam bidang olahraga atletik, berlayar, anggar.   Di samping perkumpulan olahraga, perkumpulan yang bersifat sosial juga tidak luput dari perhatiannya.   Sebelum masuk dalam Kepanduan iapun menggabungkan  diri dalam persatuan pemuda Jong Java yang bersifat kedaerahan dan ikut aktif pula di dalamnya.

Ketika Indonesische Padvinderij Organisatie (INPO) berdiri, ia masuk dalam perkumpulan itu.   Pada tahun 1925 INPO diganti nama menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia).   Peleburan ini dilakukan untuk mengganti nama Belanda dengan nama Indonesia.   Organisasi Kepanduan ini pun menuntut segenap perhatiannya.  Di kalangan KBI ia disayangi karena keramahannya dan keuletannya, dan juga disegani oleh anggota-anggota lainnya karena sifatnya yang berdisiplin.   Akhirnya ia menjadi seorang pemimpin yang berwibawa dalam Kepanduan.  Bakat-bakat kepemimpinanannya kelihatan makin nayata.   Dengan sifat yang tegas dan progresif sebagai pemimpin, Maman juga sanggup memberantas segala sesuatu yang kurang baik dalam organisasi Kepanduan.   Hal-hal yang tidak pada tempatnya selalu diusahakan untuk menjadi lebih teratur.   Ia juga tidak segan-segan mengoreksi sesama kawan yang menyeleweng atau kurang disiplin. Teman-teman Abdulrachman Saleh  lebih menyukai menyebut pemuda Abdulrachman Saleh dengan Karbol.   Karbol asalnya dari Krullebol yang waktu perpeloncoan disebut Karbol.

Sebelum Perang Dunia II, terdapatlah suatu Aeroclub di Jakarta bertempat di Kemayoran yang merupakan perkumpulan olah raga terbang.  Anggotanya sebagian besar hanya terdiri dari bangsa Belanda.   Biaya untuk masukpun dalam perkumpulan tersebut sangat tinggi, sehingga pemuda-pemuda Indonesia banyak yang tidak mampu menjadi anggota.

Bidang penerbangan ini mulai menarik baginya.   Berkat kemauannya yang keras, dan semangat pantang mundur dalam bersaing dengan pemuda-pemuda Belanda, akhirnya brevet terbang dapat diperolehnya.

Selama masa kemahasiswaan yang dilaluinya dari tahun ketahun, di samping belajar untuk menjadi dokter, ia juga mengembangkan keterampilannya dalam bidang-bidang lain sehingga ia sungguh-sungguh menjadi orang yang all-round.

Sudah menjadi tradisi bagi keluarga dr. Saleh yang menurun dari ayah kepada putra-putranya, bahwa sebelum mengakhiri masa belajarnya, mereka telah melangsungkan perkawinan terlebih dahulu.    Dalam tahun 1933 Maman memasuki kehidupan berumah tangga dengan gadis pilihannya bernama Ismudiati, seorang pendidik yang berasal dari Purworejo.    Perkenalannya dimulai di rumah Dr. Mardjono di Probolinggo,   dari perkawinan ini lahirlah dua orang putra yang bermana Pandji Saleh dan Triawan Saleh.

Setelah memperoleh gelar dokter, ia memperdalam pengetahuannya di bidang ilmu Faal.  Dokter muda ini termasuk mahasiswa yang pandai, sehingga terpilih menjadi asisten dalam ilmu Faal, mula-mula dosen pada NIAS, Surabaya, dan akhirnya iapun menjadi dosen pada Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta, dan kemudian menjadi guru besar di Klaten sampai wafatnya.

Dalam tahun 1934 berdirilah perkumpulan yang menamakan dirinya Vereniging voor Oosterse Radio-Omroep (VORO) di mana salah satu pelopor dari perkumpulan tersebut adalah Prof Dr. Abdulrachman Saleh.   Tujuan perkumpulan ini menyiarkan kesenian-kesenian ketimuran.   VORO mempunyai pemancar sendiri berkekuatan 40 watt dengan gelombang 88 meter.

Pada tahun 1936 pemimpin VORO berpindah dari Gunari ke Prof Dr. Abdulrachman Saleh.   Saat itu VORO mengalami kesulitan dalam bidang keuangan, karena itu studio berpindah tempat mencari sewa yang semurah-murahnya.   Mula-mula studio bertempat di Kramat 81 kemudian pindah lagi  ke jalan Menteng 20.   Sejak tahun 1937-1942, VORO mengalami perkembangan yang luar biasa, ini berkat kegiatan Prof Dr. Abdulrachman Saleh yang besar bantuannya dalam bidang tehnik dan keuangan.

Tanggal 14 Agustus 1945 Kota Hirosima di bom oleh Amerika Serikat disusul oleh kota Nagasaki.  Tentara Kekaisaran Jepang mulai mengakui keunggulan  pasukan sekutu di berbagai medan pertempuran.  Satu persatu wilayah kekuasaan Jepang jatuh ke tangan Sekutu termasuk wilayah Hindia Belanda. Tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaaanya. Kekalahan Jepang berarti berakhirnya penjajahan dan penindasan bangsa lain terhadap bangsa Indonesia.   Pemuda bersama seluruh rakyat bangkit melucuti sisa-sisa tentara Jepang yang masih tinggal.   Tidak ketinggalan pemuda-pemuda pegawai Kantor Radio Jepang juga merasa wajib untuk ikut berjuang dan membentuk suatu gerakan rahasia untuk menguasai kantor itu  karena radio merupakan sarana penyiaran yang utama.   Gerakan  ini diketahui oleh Kempetai (dinas rahasia Jepang), sehingga proklamasi kemerdekaan yang diucapkan atas nama Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 pada pukul 10 pagi, tidak dapat langsung disiarkan.   Penyiaran proklamasi terpaksa tertunda untuk beberapa jam lamanya.

Disinilah keahlian dan pengalaman Abdulrachman Saleh dalam bidang radio betul-betul dimanfaatkan. Untuk dapat menyiarkan proklamasi kemerdekaan dengan bantuan  pegawai-pegawai radio bagian tehnik, Abdulrachman Saleh  menyalurkan siarannya melalui pemancar yang bergelombang 16 meter, yang berada di Bandung.   Pemancar ini sudah agak lama tidak dipakai, dahulu pemancar tersebut dipergunakan oleh Markas Balatentara Jepang untuk memberi instruksi-instruksi kepada tentaranya yang tersebar luas di seluruh pelosok Indonesia.   Penggunaan siaran gelap ini diketahui oleh Pemimpin Kantor Radio bangsa Jepang.   Dua orang Indonesia diminta pertanggungan jawabnya, yaitu Bachtiar Lubis dan Jusuf  Ronodipuro.   Penyiaran berita Proklamasi dihentikan melalui pemancar di Bandung atas perintah Markas Besar Tentara Serikat di Timur Jauh.

Ketika bertemu dengan pemuda Jusuf Ronodipuro pada tanggal 18 Agustus 1945 menceritakan bahwa Hosokkyiku (pusat siaran radio pendudukan Jepang di Jl Merdeka Barat) ditutup, Abdulrachman Saleh tetap bertekad agar keberadaan Indonesia sebagai negara baru merdeka diketahui dunia Internasional. Dipelopori Prof Dr Abdulrachman Salehpendirian pemancar-pemancar illegal mulai direncanakan.Dengan bantuan beberapa pegawai radio dan keahliaanya di bidang teknik, msebuah pemancar berkekuatan 85 meter bertempat di sebuah gedung di Jalan Menteng RayaJakarta yang kemudian dipindahkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran  di jalan Salemba 6 Radio Indonesia mulai mengudara menyiarkan  berita-berita ke luar negeri dengan call This is Voice of Free Indonesia” atau Inilah “Suara Indonesia Merdeka”.   Siaran ini dilaksanakan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.   Siaran Suara Indonesia Merdeka inilah yang menyiarkan pidato Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia untuk pertama kalinya pada tanggal 25 Agustus 1945 dan Wakil Presiden Republik Indonesia Bung Hatta pada tanggal 29 Agustus 1945.

Semua ini dapat berhasil  dengan baik berkat jerih payah dan daya upaya Prof Dr Abdulrachman Saleh, yang sebenarnya bukan seorang pemimpin dari Djawatan Siaran Radio.   Tetapi karena wataknya yang ringan tangan dan demi untuk kemerdekaan negara ia mencurahkan tenaga dan pikirannya kepada perjuangan di bidang radio.   Dan berkat bimbingan Prof Dr Abdulrachman Saleh dengan dibantu oleh para aktivis radio, dapatlah disusun dasar-dasar dari Radio Republik Indonesia yang antara lain menetapkan  tanggal 11 September 1945 sebagai hari berdirinya RRI.   Terkenal sebagai Tri Prasetya RRI yang merupakan testament  Prof. Dr. Abdulrachman Saleh dengan  semboyan RRI  Sekali di udara tetap di udara.

Peran sebagai insan radio ini membawa Profesor Dr Abdulrachman Saleh sebagai ketua organisasi Radio Republik Indonesia.   Ketika stasiun radio setasiun radio sudah pindah kembali ke Jl. Merdeka Barat organisasinya sudah meliputi sepuluh stasiun yaitu: Stasiun Jakarta (Pusat), Stasiun Bandung, Stasiun Jogyakarta, Stasiun Semarang, Stasiun Surakarta, Stasiun Purwokerto, Stasiun Surabaya, Stasiun Madiun, Stasiun Kediri, dan Stasiun Magelang.

Setelah siaran-siaran RRI lancar,  Pak Karbol merasa bahwa sudah tiba saatnya beliau mempelopori perjuangan di bidang lain.   Beliau lalu mengundurkan diri dari bidang radio dan masuk kedalam Tentara Republik Indonesia untuk membentuk Angkatan Udara Nasional bersama-sama dengan Adi Sutjipto, seorang bekas murid Pak Karbol di Perguruan Tinggi Kedokteran Jakarta.

Setelah Indonesia merdeka beliau mengalihkan perhatiannya pada perjuangan di bidang kedirgantaraan, dengan memilih berjuang ke AURI.   Pada saat AURI masih dalam pertumbuhan, Prof Dr Abdulrachman Saleh bersama perintis Angkatan Udara lainnya terus berupaya untuk mengembangkan kejayaan Angkatan Udara.    Bersamaan dengan itu berdasarkan Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945 telah membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sejajar dengan peningkatan BKR menjadi TKR, maka BKR Udarapun otomatis menjadi TKR Udara yang dikenal dengan TKR Djawatan Penerbangan. Seiring pengembangan organisasi,  TKR  kemudian berganti lagi dengan nama Tentara Republik Indonesia (TRI), otomatis TKR Djawatan Penerbangan berganti menjadi TRI Djawatan Penerbangan. Dalam perkembangan selanjutnya pemerintah mengeluarkan Penetapan Pemerintah no 6/SD tahun 1946 tanggal 9 April 1946 tentang pembentukan TRI Angkatan Udara.  Pucuk pimpinannya dipegang oleh Komodor Udara  R Soerjadi Soerjadarma dan Wakil I Komodor Udara R Soekarnen Martokoesoemo, Wakil II Komodor Muda Udara A. Adisutjipto.  Kebutuhan akan tenaga penerbang saat itu sangat kurang,   ditambah pula pesawat terbang yang tersedia merupakan barang-barang  bekas peninggalan Jepang.   Demikian pula keadaannya dengan jumlah para penerbang Indonesia, hanya ada beberapa gelintir saja.  Sebagai mantan penerbang olahraga sebelum Perang Dunia ke II Prof. Dr. Abdulrachman Saleh  tidak ketinggalan menyumbangkan darma baktinya bagi bangsa dan tanah airnya.

Di Yogyakarta Prof Dr Abdulrachman Saleh belajar mengemudikan pesawat Cureng bersayap dua, dan Adisutjipto bertindak sebagai instrukturnya.   Dipelajarinya tipe-tipe pesawat lain diantaranya Glider, Hajabusja.   Pesawat-pesawat tersebut semuanya merupakan warisan Jepang yang mesin-mesinnya diperbaiki sendiri oleh beliau.   Banyak pesawat-pesawat bekas peninggalan  Jepang yang telah rusak diperbaikinya sehingga dapat dipergunakan lagi oleh AURI.

Untuk beberapa waktu lamanya beliau tinggal di Yogyakarta menjadi instruktur penerbang membantu Adisutjipto.  Tak lama kemudian pada tahun 1946 tugasnya dipindahkan untuk menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Maospati (Madiun) dan bertempat tinggal di Malang.

Ketika tinggal di Madiun putra kedua lahir.  Pemberian nama bagi putra kedua berdasarkan atas kenang-kenangan masuknya beliau ke TRI Angkatan Udara.  Nama Tri dan Awan menjadi Triawan.  sifat “air minded” yang beliau miliki kelihatan nyata, sampai-sampai putranya diberi nama demikian.

Satu kelucuan lagi dalam sifat Prof Dr. Abdulrachman Saleh yaitu pada saat kepindahan beliau dari Madiun ke Malang diikuti oleh keluarga.  Dengan menaiki pesawat  Cureng,  Triawan Saleh  yang masih bayi ditempatkan dikoper kecil, untuk menghemat tempat dalam pesawat.  Disini kelihatan sifat beliau sejak kecil yang selalu sederhana dan praktis.

Di Malang  Prof Dr Abdulrachman Saleh mendirikan  Sekolah Tehnik Udara yang pertama, di Madiun juga membentuk Sekolah Radio Udara.  Tenaga beliau sangat dibutuhkan dimana-mana, selain dibidang penerbangabn, juga dibidang kedokteran.  Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta yang selama Clash I telah dipindahkan ke Klaten, membutuhkan tenaga guru besar.   Bagaimana mungkin beliau yang tinggal di Malang harus mengajar setiah hari ke Klaten yang jaraknya cukup jauh.   Untuk melaksanakan tugas mengajar di Klaten beliau menggunakan peaswat Hayabusa  dengan diterbangkan sendiri melalui Pangkalan Udara Maospati.

Disini kita jumpai lagi keparaktisannya dalam kehidupannya setiap hari.  Untuk memudahkan tugasnya apabila ada persoalan penting yang harus beliau selesaikan di Madiun, dipasang suatu tanda oleh  ajudannya yang ada di Pangkalan Udara Maospati.  Sebaliknya apabila Prof Dr Abdulrachman Saleh  hendak menugaskan sesuatu, beliau tinggal melemparkan secarik kertas dengan pesan-pesan pada ajudannya.  Bila tak ditemuinya tanda-tanda, perjalanan dilanjutkan ke Pangkalan Udara Panasan dan dari sini dengan mengendarai sepeda motor.

Ada suatu kejadian istimewa yang mungkin hanya dapat terjadi pada diri beliau saja.  Ketika beliau mendarat di Maguwo, dengan kereta api menuju ke Klaten, tiba-tiba kereta api berhenti di tengah jalan, loko nya mogok.  Tak segan-segan beliau segera turun tangan membetulkan mesinnya yang rusak sehingga kereta dapat meneruskan perjalanan dengan selamat sampai di Klaten.  Contoh ini merupakan cermin bagi kita betapa Prof Dr. Abdulrachaman Saleh benar-benar melaksanakan asas “ilmu untuk amal”.  Dalam kehidupannya beliau sangat sederhana dalam segala hal, tidak terdapat padanya sifat-sifat sombong.  Hidupnya secara intensif dan penuh inisiatif yang menjadikan dirinya bermanfaat untuk keluarganya, masyarakat dan tanah air.

Menjelang bulan Juli 1947 Prof Dr. Abdulrachman Saleh bersama-sama dengan  Adisutjipto mendapat tugas dari pemerintah untuk pergi ke luar negeri yaitu ke India.  Tugas ini maksudnya untuk mencari bantuan luar negari berupa obat-obatan.  Seorang industrialis India bernama PatNaik meminjamkan pesawatnya jenis Dakota untuk tugas mengangkut obat-obatan  bagi PMI.   Dalam tugas ini terjadi  peristiwa yang sangat menyakitkan bangsa Indonesia yang terjadi pada sore hari tanggal 29 Juli 1947.   Pada hari itu bertolak dari Singapura pesawat Dokota India VT-CLA ke Yogyakarta dengan membawa obat-obatan  sumbangan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia.   Pemberangkatan pesawat tersebut telah mendapat persetujuan pemerintah Inggris dan pemerintah Belanda.

Tanggal 28 Juli 1947 pers dan radio Malaya telah menyiarkan berita bahwa sebuah pesawat Dakota VT-CLA dengan muatan obat-obatan akan tiba keesokan harinya (29 Juli 1947) di Yogyakarta.  Katanya sudah memperoleh persetujuan dari Pemerintah Belanda.  Namun kenyataannya ketika pada siang hari menjelang sore pesawat udara yang mengangkut obat-obatan ini hendak mendarat di Pangkalan Udara Maguwo dari arah Utara muncul dua buah pesawat Mustang Belanda.  Secara bertubi-tubi peluru dimuntahkan kearah pesawat Dakota VT-CLA..  Pesawat ini jatuh kemudian membentur pohon, patah menjadi dua dan terbakar, hanya sebagian ekornya saja yang masih utuh.  Semua awak pesawat dan penumpang meninggal dunia kecuali seorang penumpang yang kebetulan duduk di bagian ekor pesawat yang masih hidup.  Penumpangnya yang gugur adalah Komodor Muda Udara Prof Dr. Abdulrachman Saleh, Komodor Muda Udara Adisutjipto, Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusumo, Zainal Arifin, pilot Alexander Noel Constantine (Wing Comander Australia), Co pilot Squadron Leader Inggris Roy Hazelhurst, JuruTehnik India Bidha Ram dan Ny. Constantine, sedangkan yang selamat yakni Gani Handonotjokro.

Masyarakat Yogyakarta tidak menyangka samasekali bahwa pesawat terbang tersebut berisi orang-orang penting yang membawa obat-obatan, mereka hanya mengira bahwa serangan itu memang sesuai dengan siasat musuh yang akan membom Yogyakarta.   Dikalangan AURI ada anggapan bahwa apabila pesawat tersebut dikemudikan oleh  Adisutjipto dan  Abdulrachman Saleh sendiri yang mengenali dari udara kubu-kubu musuh dan daerah-daerah di sekitar Yogyakarta dengan baik, mungkin tak sampai terjadi peristiwa yang menyedihkan itu.

Tetapi bagaimanapun juga kejadian ini merupakan suatu musibah yang sangat menyedihkan seluruh seluruh rakyat Indonesia, AURI khususnya.  Betapa tidak, para pelopor dan perintis AURI telah gugur.   pesawat Dakota VT-CLA ditembak  pesawat Kitty Hawk Belanda dan jatuh di desa Tamanan, kecamatan Banguntapan, dekat desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta.

Kota Yogyakarta berkabung dengan jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA, peti-peti jenazah ditempatkan berjejer di Hotel Tugu.  Pada hari pemakaman rakyat penuh sesak disepanjang jalan Malioboro untuk memberi penghormatan yang terakhir kalinya pada pahlawan,  perintis dan pelopor AURI..  Jenazah Prof Dr. Abdulrachman Saleh dimakamkan di pemakaman Kuncen, Yogyakarta.

Sebagai penghargaan atas jasa-jasa terhadap bangsa dan negara, Komodor Muda Udara Prof Dr Abdulrachman Saleh  dianugerahi pangkat Laksamana Muda Udara Anumerta,  dan ditempat jatuhnya pesawat didirikan monumen tugu peringatan.   Selain itu nama Abdulrachman Saleh diabadikan sebagai pengganti nama Pangkalan Udara Bugis berdasarkan Surat Penetapan Kasau nomor Kep/76/48/Pen.2/KS/1952 tanggal 17 Agustus 1952.

Sebagai penghargaan jasanya yang sangat besar di bidang kedokteran umumnya  maka Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pada tanggal 5 Desember 1958 telah menganugrahi Prof Dr. Abdulrachman Saleh sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia.  Pada tanggal 16 April 1959 Presiden Soekarno  memberikan Satyalencana Bintang Garuda kepada  Prof Dr Abdulrachman Saleh..  Pada tanggal 15 Februari 1961 penghargaan dan penghormatan dari pemerintah juga diberikan  kepada Prof. Dr. Abdulrachman Saleh berupa  Bintang Mahaputra Tk IV.

Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh atau lebih dikenal dengan nama panggilan “Pak Karbol” adalah salah satu diantara Pahlawan Pembina Angkatan Udara Republik Indonesia yang serba bisa dan serba guna atau “all raound”.   Karena beliau adalah seorang penerbang dan teknik radio, seorang guru besar dalam ilmu kesehatan/ilmu faal, seorang bintang lapangan dalam olahraga, seorang pemimpin yang pandai, berwibawa dan jujur dan mendahulukan kepentingan tugas negara di atas kepentingan pribadi.   Oleh karena itu Taruna Akademi Angkatan Udara sangat perlu mengambil suri tauladan dari pahlawan tersebut dalam semangat, kepandaian dan pengorbanan.   Untuk penghargaan, penghormatan dan pengabdian nama pahlwan udara tersebut, maka sesuai dengan Surat Keputusan Komandan Akademi Angkatan Udara Nomor : 145/KPTS/AAU/1965 tertanggal 3 Agustus 1965 dianggap perlu nama “Pak Karbol” yang diberikan pada Taruna Akademi nama panggilan “Kadet” diganti dengan nama panggilan “Karbol”.   Dalam perjalanan sejarah panggilan “Karbol” berubah menjadi “Taruna”, namun sebutan “Karbol” dikukuhkan kembali sebagai panggilan Taruna Akademi Angkatan Udara   berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor : Skep/179/VII/2000 tanggal 18 Juli 2000.

Prof. Dr. Abdulrachman Saleh bukan hanya milik TNI AU saja, tetapi beliau adalah milik bangsa Indonesia, dan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor: 071/TK/1974 tanggal  9 November 1974 almarhum Marsda TNI Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.  Pada tangal 14 Juli 2000 atas prakarsa Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Hanafi Asnan kerangka jenasah Bapak Prof Dr Abdulrachman Saleh dan Adisutjipto beserta istri dipindahkan ke lokasi tempat jatuhnya pesawat VT-CLA.  Lokasi tersebut dibangun menjadi monumen yang sangat megah sekaligus sebagai makam kedua tokoh TNI AU beserta istri dengan nama Monumen Perjuangan TNI AU sebagai penganti nama Monumen Ngoto.

Pesan Moral yang perlu diteladani

Mengikuti dan mempelajari riwayat hidup dan perjuangan Marsekal Muda TNI Anumerta Prof., Dr. Abdulrachman Saleh;

  1. Totalitas pada setiap bidang yang ditekuninya. Totalitas dan ketekunannya mempelajari semua bidang yang menjadi minatnya, membuat Abdulrachman Saleh dikenal memiliki berbagai keahlian yang dapat bermanfaat bagi bangsa dan tanah airnya, seperti bidang kedokteran, radio, dan penerbangan.
  2. Ringan tangan untuk membantu setiap orang. Dalam setiap peristiwa ia tidak pernah sungkan untuk mengulurkan tangannya memberikan bantuan.
  3. Cerdas dan percaya diri. Kecerdasannya dalam segala bidang sebanding dengan rasa percaya dirinya sehingga disegani dan dihormati oleh bangsa asing (penjajah).
  4. Pemimpin yang disiplin dan Berani Menegur. Abdulrachman Saleh seseorang pemimpin yang berwibawa. Ia tegas dan berani menegur serta sanggup memberantas segala sesuatu yang kurang baik. Ia tidak segan-segan mengoreksi sesame kawan yang menyeleweng atau kurang disiplin.