#TNIAU 

Penetapan Pemerintah No. 6/SD tanggal 9 April 1946 merupakan moment terpenting bagi TNI AU karena menjadi dasar pembentukan dan lahirnya TNI AU.  Ketetapan tersebut menunjuk Komodor Udara R. Soerjadi Soerjadarma sebagai Kepala Staf Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI AU) yang pertama dan saat itu berkedudukan di Jogyakarta.

Soerjadi Soerjadarma lahir di Kota Banyuwagi, Propinsi Jawa Timur, 6 Desember 1912, anak dari R. Suryaka Soerjadarma pegawai bank di Banyuwangi, yang masih memiliki garis keturunan dari Kraton Kanoman, Cirebon.   Buyutnya adalah Pangeran Jakaria alias Aryabrata dari Kraton Kanoman.   Sedangkan kakeknya adalah Dokter Pangeran Boi Suryadarma. Suryadarma ikut keluarga kakeknya di Jakarta setelah menjadi yatim piatu.

Selain keturunan keraton, Soerjadarma hidup dalam keluarga yang memiliki pendidikan modern dan berpandangan luas.  Pada usia enam tahun, tepatnya tahun 1918, Suryadarma masuk sekolah ELS (Eropese Lagere School) yaitu Sekolah Dasar khusus untuk anak Eropa atau Cina dan anak-anak Indonesia yang miliki keturunan bangsawan atau anak pejabat yang kedudukanya bisa disamakan dengan Bangsa Eropa.  Tahun 1926, Soerjadarma menyelesaikan pendidikanya di ELS, yang kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya yaitu HBS (Hogere Burgere School) di Bandung.   Namun sebelum berhasil menamatkan sekolahnya di kota ini, ia harus berpindah ke Jakarta dan melanjutkan di KWS-III (Koning Willem School) Jakarta, sekolah ini sederajat dengan HBS, dan berhasil diselesaikan tahun 1931.

Setelah lulus dari KWS-III, Soerjadarma terus berusaha mengejar cita-citanya yang sudah tertanam sejak kecil, yaitu menjadi penerbang. Kemauan keras Soerjadarma untuk menjadi penerbang, dijalaninya dengan penuh semangat tanpa putus asa. Namun untuk mengejar cita-citanya ini jalan yang ditempuh masih panjang. Dari KWS ia tidak dapat langsung mengikuti pendidikan penerbang, Ia harus menjadi perwira dahulu. Untuk menjadi perwira, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti pendidikan perwira di KMA (Koninklijke militaire Academic), yang saat itu hanya ada di Breda Negeri Belanda. Kemudian pada Bulan September 1931, Soerjadarma mendaftarkan diri masuk pendidikan perwira di KMA Breda dan   menjadi kadet (taruna) KMA.

Dasar-dasar kemiliteran dan kepemimpinan Suryadarma diperolehnya ketika mengikuti Akademi Militer di Breda, Belanda yang  ditempuh selama tiga tahun. Setelah lulus dari Akademi Militer Breda pada tahun 1934, Soerjadarma ditempatkan di Satuan Angkatan Darat Belanda di Nijmigen, Negeri Belanda, akan tetapi satu bulan kemudian dipindahkan ke Batalyon I Infantri di Magelang sampai bulan November 1936.  Dengan status sebagai perwira dengan pangkat Letnan Dua, akhirnya Soerjadarma mendaftarkan diri sebagai Calon Cadet Penerbang.   Dua kali mengikuti test masuk Sekolah Penerbang, namun selalu gagal dengan alasan ia menderita sakit Malaria. Namun berkat keuletan dan kemauan yang keras, pada test yang ketiga Soerjadarma akhirnya dapat diterima menjadi siswa penerbang yang diselenggarakan di Kalijati.

Soerjadarma menyelesaikan pendidikan Sekolah Penerbang pada bulan Juli 1938, namun tidak pernah diberikan brevet penerbang berhubung adanya politik diskriminasi Belanda, yang tidak mengizinkan seorang pribumi untuk menjadi penerbang karena Militaire Luchtvaartdient merupakan kelompok elite Belanda saat itu. Teman sekamarnya ketika di Akademi Militer Breda, Captain A.L. Cox yang telah menjadi instruktur penerbang di Kalijati sudah tiga kali mengajukan Soerjadarma untuk di checkride, akan tetapi tetap ditolak dan hanya diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian sebagai navigator.

Bulan Juli 1938, Soerjadarma mengikuti pendidikan di Sekolah Pengintai (Waarnemerschool), yang kemudian pada bulan Juli 1939 ia ditugaskan sebagai navigator pada Kesatuan Pembom (Vliegtuiggroep) Glenn Martin di Andir Bandung.  Bulan Januari 1941, ia dipindahkan untuk menjadi instruktur pada Sekolah Penerbang dan Pengintai (Vlieg en Waarnemerschool) di Kalijati.  Setelah satu tahun menjadi instruktur, sejak Desember 1941 ia ditempatkan pada Kesatuan Pembom di 7 e Vliegtuig Afdeling, Reserve Afdeling Bommenwerners, yang dilaksanakan sampai bala tentara Jepang mendarat di Indonesia tanggal 8 Maret 1942

Pada masa penjajahan Jepang, para perwira KNIL mendapat kesempatan untuk melarikan diri ke Australia, namun Soerjadarma tetap memilih untuk tetap tinggal di tanah air.  Selama penjajahan Jepang, Soerjadarma banyak mengalami kesulitan.  Melalui ajakan Komisaris Polisi Yusuf, ia menjadi Polisi Jepang.  Sebagai orang yang pernah mendapat pendidikan militer, Soerjadarma menjalani tugasnya di kepolisian dengan disiplin dan suka bekerja.  Semula ia menjabat sebagai Kepala Seksi III/2 dan kemudian menanjak menjadi Kepala Administrasi Kantor Polisi Pusat di Bandung sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.  Sesudah proklamasi, ia bergabung dengan pejuang-pejuang bangsa lainnya dalam mempertahankan dan menegakkan kedaulatan Republik Indonesia.  Sejak saat itu Soerjadi Soerjadarma sepenuhnya ikut dalam kancah revolusi Indonesia. Meskipun mendapat ancaman dari Jepang, tetapi ia bertekad untuk tetap bergabung dengan pejuang-pejuang Indonesia lainnya untuk ikut mendharmabhaktikan dirinya dalam upaya menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, PPKI melaksanakan sidang pertamanya pada 22 Agustus 1945, yang salah satu keputusannya adalah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR).  Atas dasar keputusan tersebut, maka di daerah-daerah yang memiliki pangkalan udara dibentuklah BKR Udara, yang keanggotaannya terdiri dari para pemuda bekas anggota penerbangan jaman penjajahan Belanda dan Jepang serta para pemuda lainnya.  Usaha pertama dari BKR dan rakyat adalah merebut pangkalan-pangkalan udara dari Jepang.

Pada 5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang selanjutnya dibentuk MT TKR (Markas Tertinggi TKR) di Yogyakarta.  Sebagai Kepala Staf Umum dijabat oleh Mayor Jendral Urip Sumohardjo.  Sejalan dengan pembentukan TKR, timbul gagasan dari Kepala Staf Umum TKR Mayor Jendral Urip Sumohardjo untuk membentuk suatu kekuatan udara di Indonesia.   Untuk mewujudkan gagasan tersebut,  Mayor Jendral Urip Sumohardjo memanggil Soerjadi Soerjadarma.  Panggilan pertama, Soerjadarma belum memenuhinya, karena  sedang melaksanakan tugas yang diberikan Bung Karno untuk menangani BKR di Priangan.  Akhirnya pada bulan September 1945, dipenuhinya panggilan Urip Sumohardjo untuk berangkat ke Markas Tertinggi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Yogyakarta.  Gagasan yang bersifat perintah ini, kemudian disampaikan kepada Soerjadarma.  Dalam pernyataan kesanggupan untuk melaksanakan perintah tersebut, Soerjadarma mengajukan saran, bahwa angkatan udara yang akan dibentuk seyogyanya merupakan suatu angkatan udara yang mendiri, seperti halnya Royal Air Force (RAF) di Inggris.  Ketika diserahi tugas membentuk angkatan udara pada bulan September 1945, ia dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan dan mengemban “mission impossible” sehingga benar-benar berangkat dari kilometer nol karena keterbatasan peralatan dan alusista pesawat terbang yang ada, ketidakadaan sumber daya manusia, bahkan sumber anggaran pembangunan AURI juga belum jelas.

Setelah dilaksanakan Konferensi TKR Djawatan Penerbangan pada tanggal 12 November 1945, kemudian realisasinya dikeluarkan pengumuman yang ditandatangani Kepala Staf Umum Letnan Jenderal Oerip Soemoharjo pada tanggal 12 Desember 1945 di Yogyakarta, yang menyatakan :

  1. Pembentukan bagian penerbangan dalam MT TKR.
  2. Terhitung mulai 10 Desember 1945 semua kekuatan bagian penerbangan di Indonesia, termasuk prajurit, pegawai pangkalan dan alat-alatnya ditempatkan di bawah Kepala Bagian Penerbangan.
  3. Kepala Penerbangan berkedudukan di Markas Besar Umum dan ditetapkan Soerjadi Soerdarma sebagai Kepala TKR Bagian Penerbangan dan Sukarnen Martokusumo sebagai Wakilnya.

Dengan terbentuknya TKR Bagian Penerbangan, maka pangkalan-pangkalan yang semula di bawah panglima divisi diserahkan kepada MT TKR yang selanjutnya diserahkan kepada TKR Bagian Penerbangan.  Sedangkan untuk mengembangkan kekuatan udara, maka diadakanlah perbaikan terhadap pesawat-pesawat tua peninggalan Jepang jenis latih, pemburu, pembom, pengintai dan lainnya sebagai modal pertama TKR Bagian Penerbangan. Tanggal 27 Oktober 1945, untuk pertama kalinya para juru teknik TKR bagian penerbangan mampu memperbaiki sebuah pesawat latih “Cureng” yang berbendera merah putih dan dapat mengudara di atas Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.  Pesawat yang berhasil diperbaiki tersebut kemudian dimanfaatkan dalam rangka penerbangan mengunjungi pelosok-pelosok di daerah Pulau Jawa.  Hal itu dilakukan sebagai media dalam mengobarkan semangat perjuangan dan menumbuhkan minat dirgantara nasional, sekaligus untuk menunjukkan eksistensi AURI sejajar dengan Angkatan lainnya.

Pada tanggal 24 Januari 1946 TKR Bagian Penerbangan menjadi TRI Jawatan Penerbangan, dengan markas di Jalan  Terban Taman No. 1 Yogyakarta yang berseberangan dengan  Markas Besar TKR.  Kebijakan pertama yang digariskan oleh Suryadi Suryadarma selaku pimpinan TRI Jawatan Penerbangan adalah :

  1. Konsolidasi organisasi pusat (Markas Besar).
  2. Persiapan untuk ikut segera dalam operasi perjuangan kemerdekaan (Kesatuan Udara, lapangan terbang dan fasilitasnya).
  3. Melaksanakan pendidikan bagi calon penerbang, baik yang bersifat ulangan, lanjutan mapun baru.

Dalam membangun kekuatan udara Indonesia, Suryadarma memanggil Agustinus Adisujtipto di Salatiga untuk ikut membantu menyusun kekuatan udara  Indonesia.  Selain itu, untuk konsolidasi TRI Jawatan Penerbangan, para eks penerbang Belanda maupun tenaga-tenaga yang pernah bekerja pada penerbangan Jepang, baik yang berada di Jawa maupun di luar Jawa dipanggil melalui media massa.

Meskipun dalam keadaan serba kekurangan, namun semangat Soerjadarma dalam membangun dan menyusun kekuatan udara Indonesia tidak pernah kendor.  Pangkalan-pangkalan udara yang telah diserahkan ke TRI Jawatan Penerbangan, mulai diperbaiki.   Banyak lapangan terbang yang dalam keadaan terlantar, bahkan ada yang sudah jadi kebun penduduk, sehingga tinggal landasannya saja.  Semuanya ini memerlukan kerja berat dan pembiayaan banyak.   Padahal keadaan ekonomi pada waktu itu sangatlah sulit, ditambah lagi adanya blokade ekonomi yang dilancarkan oleh Belanda.   Selain itu juga harus dibentuk dinas-dinas yang belum ada, seperti dinas teknik, dinas perminyakan, dinas perhubungan, dinas pemberitaan cuaca, dan lain-lain.

Dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden No. 6/SD/1946, TRI Jawatan Penerbangan dirubah menjadi TRI Angkatan Udara, dan diresmikan pula penggunaan sebutan dan tanda pangkat dilingkungan TRI Angkatan Udara, dengan susunan sebagai berikut :

  1. Pimpinan Tertinggi TRI AU : Panglima Besar Jenderal Sudirman.
  2. Kepala Staf TRI AU : Soerjadi Soerjadarma dengan pangkat Komodor Udara (sama dengan Mayor Jendral di Angkatan Darat)
  3. Wakil Kepala Staf TRI AU I : R. Sukarnen Martokusumo dengan pangkat Komodor Muda Udara (sama dengan kolonel).
  4. Wakil Kepala Staf TRI AU II : Agistinus Adisutjipto, dengan pangkat Komodor Muda Udara.

Dalam perkembangan selanjutnya TRI AU lebih dikenal dengan nama AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia), yang merupakan angkatan yang berdiri sendiri, sederajat dengan Angkatan Darat dan Angkatan Laut.  Tanggal 9 April tersebut kemudian diperingati  sebagai Hari Jadi TNI Angkatan Udara.

Tugas dan tanggung jawab Soerjadarma sebagai KSAU cukuplah berat, lebih-lebih pada waktu itu masih banyak masalah nasional maupun masalah dalam tubuh AURI sendiri yang harus diselesaikan dan dibenahi.  Lahirnya AURI bersamaan waktunya dengan masa perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan dan mempertahankan kedaulatan serta kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia.  Oleh karena itu, disamping membenahi dan menyempurnakan tubuh AURI yang masih muda itu, juga sekaligus mengembangkan misi dalam perjuangan. Dengan demikian, maka terbentuknya TRI Angkatan Udara tidak terlepas dari jerih payah Soerjadarma dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan negara kepadanya.

Sejak memegang pimpinan AURI, Soerjadarma banyak melakukan penerbangan ke berbagai daerah di Indonesia. Ia dengan berani ikut terbang ke Yogyakarta, dari cross-country flight ke Gorda (Serang), dengan menggunakan Cureng, pesawat peninggalan Jepang, meskipun akhirnya harus mengadakan pendaratan darurat. Hal ini dilakukan untuk membuktikan kepada dunia luar, bahwa AURI memiliki kekuatan udara di wilayah Nusantara. Walaupun yang digunakan adalah pesawat tua peninggalan Jepang. Namun, oleh karena didorong oleh tekad perjuangan dan semangat yang membaja, maka pesawat-pesawat rongsokan tersebut berhasil diperbaiki oleh tenaga teknisi AURI.

Pada tanggal 27 Februari 1948, Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma mendapat tugas rangkap sebagai KSAP (Kepala Staf Angkatan Perang) Republik Indonesia. Dan ketika Belanda melakukan aksi Militer II tahun 1948, ia ikut tertawan bersama pimpinan Republik yang lain, dan dibuang ke Pulau Bangka. Kemudian tahun berikutnya, dalam memperkuat delegasi Indonesia menghadapi perundingan dengan pihak Belanda di KMB, Soerjadarma turut sebagai penasihat militer. Demikian juga pada waktu penyerahan kedaulatan tahun 1949. Pada tanggal 27 Juni 1950, Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma dengan resmi menerima penyerahan Markas Besar Koninklijke Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara Belanda) kepada Angkatan Udara Republik Indonesia. Upacara ini mengakhiri serangkaian upacara penyerahan pesawat udara militer dan pangkalan Angkatan Udara  di beberapa tempat di Indonesia kepada AURI. Tahun itu juga, ia menyelenggarakan program pendidikan Kadet, antara lain mengirim sejumlah calon penerbang ke luar negeri, yaitu pada bulan  Mei 1948 sebanyak 20 Kadet AURI dikirim ke India, tujuannya adalah mengusahakan pendidikan penerbang. Tidak kurang dari 60 orang Kadet dikirim ke Amerika, selain itu juga memperbanyak awak pesawat dan staf personalia. Pada tahun yang sama, ia mulai merintis pembentukan Pasukan Payung Angkatan Udara yang disebut Pasukan Gerak Cepat, yang kemudian dikenal sebagai Kopasgat.

Tanggal 1 April 1954, Soerjadi Soerjadarma mendapat kenaikan pangkat dari Komodor Udara menjadi Laksamana Muda Udara.  Tanggal 1 Juli 1958, ia mendapat kenaikan pangkat dari Laksamana Muda Udara menjadi Laksamana Madya Udara, dan 1 Juli 1959, Soerjadi Soerjadarma mendapat kenaikan pangkat Laksamana Udara.  Pada tanggal 18 Febuari 1960, Soerjadi Soerjadarma Suryadi Suryadarma diangkat menjadi Menteri/Kepala Staf AURI.

Pada tanggal 19 Januari 1962, Presiden Soekarno memberhentikan Laksamana Udara R. Soerjadi Soerjadarma sebagai Kasau dan mengangkat Laksamana Muda Udara Omar Dani sebagai Kasau. Kemudian ia diangkat menjadi penasihat Militer Presiden RI di Jakarta sampai dengan tahun 1965, dan kemudian menjabat sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi (Postel) di Jakarta. Tahun 1966 ia diperbantukan pada Menteri/PANGAU, dan pada 13 Desember 1968, Soerjadi Soerjadarma diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun.

Setelah pensiun berbagai aktifitas dan kegemaran dilaksanakan seperti berburu dan menembak, mengoleksi batuan mineral/mulia, menulis, koleksi perangko, membaca dan lain-lain. Diusia yang ke-63 tahun, kesehatannya mulai menurun dan mengidap sakit.  Pada minggu kedua Agustus 1975, Soerjadi Soerjadarma mulai dirawat di Rumah Sakit Husada, Jakarta selama seminggu. Ia  meninggal dunia pada Hari Sabtu tanggal 16 Agustus 1975 pukul 05.45 WIB.  Jenazahnya kemudian disemayamkan di rumah duka dan di Markas Besar TNI Angkatan Udara Jalan Gatot Subroto. Pemakamannya dilaksanakan pada 17 Agustus pukul 13.00 WIB di Pemakaman Umum Karet, Jakarta secara militer dengan Inspektur Upacara KASAU Marsekal TNI Saleh Basarah.        Sampai dengan akhir hayatnya, Laksamana Udara (Purn) R. Soerjadi Soerjadarma selalu didampingi oleh istri tercintanya Utami,  anak kelima keluarga Martokusumo, yang dinikahinya pada tanggal 3 Juni 1938.  Mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Dra. Awaniduhita Priyanti, Erlangga Suryadarma dan Adityawarman Suryadarma.

TNI Angkatan Udara terlahir dari tidak ada, hingga menjadi angkatan udara paling canggih dan ditakuti di kawasan Asia Tenggara pada era tahun 1960-an merupakan wujud dari pengabdian Soerjadi Soerjadarma kepada negara dan Bangsa Indonesia dalam membangun dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia selama 17 tahun menjabat KSAU yang pertama.  Melalui mottonya “Kembangkan Terus Sayapmu demi kejayaan tanah air tercinta ini, Jadilah Perwira sejati pembela tanah air”, Soerjadi Soerjadarma terus mengajak perwira-perwira muda AURI untuk terus bersemangat dalam menumbuh kembangkan AURI.

Pada tahun 2000 Suryadarma dikukuhkan oleh KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan sebagai Bapak AURI sesuai surat keputusan KSAU nomor SKEP/68/VI/2000 tanggal 20 Juni 2000.   Selain itu, untuk mengenang jasa-jasanya, sejak 7 September 2001, nama Soerjadi Soerjadarma diabadikan menggantikan nama Lanud Kalijati.  Dipilihnya Lanud Kalijati, karena Lanud Kalijati merupakan salah satu pangkalan cikal bakal berdirinya TNI Angkatan Udara, yaitu tempat dilaksanakannya sekolah penerbang pertama dan sekolah-sekolah pendukung penerbangan lainya.

Beberapa tanda kehormatan yang dimiliki Suryadarma, antara lain, Bintang Maha Putra Adipurna, Bintang Sakti, Bintang Dharma, Bintang Garuda, Bintang Sewindu RI, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana GOM I (Madiun), Satya Lencana GOM II (RMS), Satya Lencana GOM IV (Sulawesi Selatan), Satya Lencana GOM V (Jawa Barat), Satya Lencana GOM VII (Aceh), Satya Lencana Sapta Marga, Satya Lencana Kesetiaan VIII & XVI Tahun, Medali 10 Tahun AURI,  Middle of Yugoslav People Army First Class, The Grand Gordon of the Order of the Republik Thai, Order of the Crown, First Class Thai, Order of the White Elephant Second Class Thai.

Selain itu, Soerjadi Soerjadarma sebenarnya mendapat medali penghargaan dari pemerintah Belanda atas jasanya melawan tentara Jepang semasa pendudukan Jepang di Indonesia, akan tetapi medali tersebut tidak pernah diberikan oleh Belanda kepadanya karena dianggap menyeberang memihak Indonesia saat perang kemerdekaan.  Hingga saat ini medali tersebut masih dipajang di museum perjuangan Negara di Negeri Belanda.

Pesan Moral Yang Perlu Diteladani

Perjalanan hidup Soerjadi Soerjadarma dalam mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara terutama dalam merintis pembentukan kekuatan udara nasional Indonesia melalui TNI Angkatan Udara, memberikan pelajaran moral yang dapat diteladani oleh generasi muda, khususnya para perwira muda TNI AU;

  1. Memiliki kemauan Keras. Hal ini dapat terlihat dari tekadnya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penerbang.
  1. Berjiwa Pemberani. Keberaniannya dapat dilihat pada peristiwa heroik saat menghadapi pasukan Jepang dalam mengawal armada kapal Belanda sehingga ia memperoleh penghargaan dari Pemerintah Belanda. Ia berani melaksanakan uji terbang dengan pesawat-pesawat tua peninggalan Jepang yang berhasil diperbaiki.
  1. Berpandangan luas dan Berjiwa Besar. Tidak pernah membeda-bedakan asal usul dari pemuda-pemuda yang ia tempa untuk menjadi prajurit angkatan udara.   Ia merintis pendidikan penerbang untuk menjadi kader sebagai  penerus angkatan udara.  Ia senantiasa memberikan Eresaluut  kepada para pejuang yang telah gugur dan mengajak kepada segenap prajurit untuk berjanji meneruskan dan meneladaninya untuk kebesaran TNI AU. Mengabadikan nama-nama prajurit yang telah gugur di medan tugas menjadi nama pangkalan udara.
  1. Menjunjung Tinggi Sportifitas dan Kejujuran. Ia dengan tegas menolak sesuatu yang bukan haknya serta senantiasa menyampaikan segala hal tentang dirinya secara jelas dan lugas.
  1. Rendah Hati dan Sederhana. Ia seorang yang tidak membeda-bedakan status orang dan senantiasa berada diantara prajurit yang dipimpinnya.  Ia lebih memilih dimakamkan di pemakaman umum walaupun memiliki hak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
  1. Menjunjung Tinggi Tugas dan Kewajiban serta Kehormatan Diri. Ia selalu menekankan hal tersebut kepada semua prajuritnya,melalui nasihatnya : “Kewajiban menuntaskan setiap tugas dengan baik adalah ciri khas seorang perwira sejati dan perwira terhormat! Reputasi dan prestasi perwira adalah senapas!”.
  1. Memiliki Rasa Nasionalisme yang Tinggi. Kecintaannya kepada tanah air, bangsa dan Negara dipegang teguh hingga menjelang akhir hayatnya. Ia berpesan : “Pengabdian tanpa pamrih kepada perjuangan, cinta kepada tanah air dan bangsa, dan pimpinan yang memberi tauladan, perlu kita amalkan sebaik-baiknya.”