Berita

Profesionalisme Seorang Prajurit

Dibaca: 46 Oleh 03 Jan 2013Tidak ada komentar
Profesionalisme Seorang Prajurit
#TNIAU 

Profesionalisme seorang prajurit merupakan proses berkesinambungan. Hal tersebut tidak hanya diperoleh dalam waktu singkat. Untuk memperoleh seorang prajurit yang berkualitas memang tidak dilahirkan, tetapi dibentuk. Belajar adalah sebuah proses dan pengalaman panjang yang harus terus ditingkatkan melalui pengetahuan khusus, ketrampilan, pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan secara terprogram, terjadwal, dan berkesinambungan.

Hal tersebut disampaikan Komandan Lanud Sulaiman Kolonel Pnb Elianto Susetio, S.I.P dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kadisops Letkol Lek Taufik Hari Wicaksono, S.T selaku Irup pada upacara pembukaaan pendidikan SBIT Angkatan ke-41, Sejurba Jurkom Angkatan ke-13, dan Sejurba Paskhas Angkatan ke-16 di lapangan upacara staf II Lanud Sulaiman Bandung. Upacara tersebut dihadiri pula oleh para pejabat satuan samping, para kepala dinas, komandan skadik, dan para perwira serta diikuti oleh seluruh anggota Lanud Sulaiman termasuk PNS. (Kamis, 3/1).

Dijelaskan bahwa lembaga pendidikan merupakan kawah candradimuka bagi personel dalam upaya peningkatan kualitas. Personel yang mengawaki haruslah pribadi yang memiliki sikap profesional. Artinya, memiliki sikap tanggung jawab yang tinggi dalam pekerjaan pendidikan pada umumnya, dan dalam perencanaan pendidikan khususnya. ” Misalnya, merasa bertanggung jawab terhadap materi yang disampaikan kepada siswa, meningkatkan kompetensi, kecakapan, ketrampilan, dan menilai hasil belajar, ” kata Kadisops saat membacakan amanat Danlanud.

Baca juga:  LANUD SULTAN HASANUDDIN TERIMA MOBIL AMBULANCE DARI PEMERINTAH PUSAT

Ditegaskan pula bahwa tenaga instruktur dalam aktivitasnya sehari-hari akan banyak menjumpai permasalahan di lapangan. Dengan intuisi yang tajam serta kepekaan seorang instruktur diharapkan mampu memberi alternatif solusi terhadap berbagai permasalahan yang timbul. Sehingga proses pembelajaran yang terjadi akan tercipta dua arah. Siswa bukan lagi dipandang sebagai objek melainkan ikut berperan aktif

Danlanud pun menekankan agar para instruktur diharapkan untuk selalu berusaha meningkatkan mutu pendidikan yang didasarkan pada tiga fokus, yaitu pendekatan kualitas, pendekatan ilmu, dan kerjasama tim. Tentunya, dengan senantiasa berorientasi kepada keberhasilan pelaksanaan tugas pokok tni angkatan udara. Di samping itu, kepada para siswa yang nantinya akan mengawaki alutsista, diharapkan mempunyai suatu kesadaran sekuriti, rasa tanggung jawab yang tinggi, dan rasa memiliki, sehingga dapat tercipta postur prajurit yang profesional, efektif,efisien, dan modern.

Pendidikan Sekolah Bahasa Inggris Teknik (SBIT) Angkatan ke-41 yang dilaksanakan di Skadik 201 ditempuh para siswa selama tujuh bulan dengan 964 jam pelajaran. Sedangkan Sekolah Kejuruan Bintara Juru Komunikasi (sejurba jurkom) Angkatan ke-13 menempuh 940 jam pelajaran untuk kurun waktu lima bulan, dan sekolah kejuruan bintara paskhas (sejurba paskhas) angkatan ke ke-16 akan menempuh pendidikan selama tiga bulan dengan 576 jam pelajaran.

Baca juga:  Lanud Abd Saleh Adakan Pameran Dirgantara di Museum Angkut

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel