Berita Kotama

Proyeksi Kekuatan Lanud Hasanuddin

Dibaca: 246 Oleh 25 Jan 2010Tidak ada komentar
emb 314
#TNIAU 

PROYEKSI PERKUATAN LANUD HASANUDDIN

REORGANISASI ABRI PADA RENSTRA HANKAM II

Periode Renstra Hankam II tahun 1982, yang sangat menonjol pada masa reorganisasi ABRI dimana terjadinya perubahan besar-besaran sistem garis Komando ABRI yang dalam lingkungan TNI AU terjadi perubahan Komando Utama dilanjutkan jajaran dibawahnya termasuk Lanud Hasanuddin yang saat itu menjabat sebagai Komandan Laud Hasanuddin adalah Letkol Pnb STEVEN ADAM periode 1980 – 1982 yang selanjutnya digantikan oleh Letkol Pnb DANIEL BORROH masa bhakti 1982 – 1985.

Demikian pula halnya dengan Komando Daerah Udara (KODAU) yang saat itu terdiri dari KODAU I untuk wilayah Sumatera berkedudukan di Medan, KODAU III untuk wilayah Sulawesi dan Kalimantan berkedudukan di Makassar, KODAU IV untuk wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara berkedudukan di Surabaya, KODAU V untuk wilayah Jawa Barat berkedudukan di Jakarta dan KODAU VII untuk wilayah Maluku dan Irian Jaya berkedudukan di Biak, dimana masing-masing KODAU membawahi beberapa Lanud sesuai wilayahnya.Adapun Komando Utama yang dilikuidasi saat itu adalah Komando Paduan Tempur Udara (KOPATDARA) beserta jajaran dibawahnya berupa Wing Operasi 001 Lintas Udara, dengan kekuatan Skadron Udara 2, Skadron Udara 17, Skadron Udara 31 dan Skadron Teknik 021 berkedudukan di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, Wing Operasi 002 Tempur Taktis, dengan kekuatan Skadron Udara 3, Skadron Udara 5 dan Skadron Teknik 022 berkedudukan di Lanud Abd Saleh Malang dan Wing Operasi 004 Helikopter (Parna Sarva Artham) atau Kendaraan Serba Guna dengan kekuatan Skadron Udara 6, Skadron Udara 7, Skadron Udara 8 dan Skadron Teknik 024 berkedudukan di Lanud Atang Sanjaya Bogor.

Seluruh KODAU dan KOPATDARA dilikuidasi yang dilebur menjadi dua bagian Komando Utama yaitu KOOPSAU I untuk wilayah Indonesia Barat dipimpin seorang Panglima yang berkedudukan di Jakarta dan KOOPSAU II untuk wilayah Indonesia Timur dipimpin seorang Panglima yang berkedudukan di Makassar. Setelah Komando Utama ini operasional maka secara garis Komando, Lanud Hasanuddin dibawah pengendalian KOOPSAU II bersama beberapa Lanud lainnya mulai menatah kembali mekanisme kerja yang akan dilaksanakan menyikapi setiap permasalahan yang akan dihadapi.

Lanud Hasanuddin yang tadinya hanya sebagai Pangkalan pendukung operasi pesawat yang datang dan pergi melewati Lanud Hasanuddin, setelah
reorganisasi mendapat kepercayaan untuk menjadi Home Base dari Skadron Udara 5 Intai Strategis dengan kekuatan awal 3 buah pesawat UF 1-2 Albatross, 1 buah PC-130 Hercules dan selanjutnya digantikan dengan 3 buah pesawat Boeing 737 versi maritim. Setelah sukses mengemban dan mendukung sistem operasional Skadron Udara 5, maka pada medio 1989 didatangkan lagi satu Skadron Udara dari Lanud Iswahyudi Madiun yang selanjutnya menjadi Skadron Udara 11 dengan kekuatan awal 16 pesawat tempur A-4 Sky Hawk yang selanjutnya mendapatkan lagi 12 buah pesawat yang sama dari Skadron Udara 12 Lanud Pakanbaru dan pada akhir 2001 Pemerintah RI melalui Departemen Hankam membeli lagi 2 buah pesawat Tempur TA-4 Sky Hawk dari Negara New Zaeland, dimana pesawat tersebut dimanfaatkan untuk latihan bagi para penerbang Transisi.

Dari perkembangan yang ada maka mulai dipertimbangkan bagaimana memelihara pesawat tersebut dengan membangun satu Skadron Teknik yang diharapkan dapat memelihara pesawat yang ada di Lanud Hasanuddin. Sesuai fungsi Skadron Teknik untuk pemeliharaan tingkat sedang, maka pada tahun 1989 dibentuklah Skadron Teknik 044, juga dilakukan pemekaran Skadron 466 Paskhasau dari Satuan Setingkat Kompi (SSK) menjadi satu Skadron dan juga mengembangkan sistem penggunaan Lox Plan dari Dinas Logistik menjadi Satuan Pazam 734 dibawah kendali operasi Depo Pemeliharaan 70 Lanud Sulaeman Bandung.

TERBENTUKNYA KOOPSAU II

Komando Utama ini bukanlah hal yang baru untuk TNI AU, karena jauh sebelumnya telah ada suatu Komnado Operasi dalam jajaran TNI AU yang dijabat oleh Komodor Udara LEO WATTIMENA yang bertugas melaksanakan suatu operasi udara pada masa itu. Pemikiran untuk menghidupkan kembali organisasi tersebut setelah terjadinya reorganisasi ABRI, sehingga Komando Utama yang ada seperti KORUD kemudian menjadi KODAU dan KOPATDARA yang ada dilebur dalam satu Komando Utama, agar tali Komando dapat lebih efektif oleh karena itu dibentuklah suatu Komando baru dari nama Komando Utama terdahulu yaitu KOOPS menjadi KOOPSAU (Komando Operasi TNI Angkatan Udara) yang selanjutnya dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan yaitu KOOPSAU I untuk wilayah Indonesia Barat meliputi Pulau Sumatera, sebagian Pulau Jawa dan sebagian lagi Pulau Kalimantan, sementara KOOPSAU II untuk wilayah Indonesia Timur meliputi Pulau Sulawesi, sebagian Pulau Jawa, sebagian Pulau Kalimantan, Kepulauan Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara dan Pulau Irian yang selanjutnya masing-masing KOOPSAU membawahi Lanud-Lanud yang ada di wilayahnya.

Komando Operasi TNI Angkatan Udara II yang berkedudukan di Makassar, terbentuk tanggal 01 April 1985 dengan Panglima pertamanya adalah Marsekal Muda TNI WARDOYO KUSUMO, dimana salah satunya membawahi Lanud Hasanuddin yang saat itu dijabat oleh Letkol Pnb DANIEL BORROH, dari pengembangan inilah maka Lanud Hasanuddin mulai masuk pada era modernisasi dengan penggelaran Skadron Udara di luar Pulau Jawa termasuk Lanud Pakanbaru yang terus ditingkatkan ke Lanud Supadio Pontianak. Hal ini merupakan hasil kerja keras para perintis TNI AU terdahulu yang mengharapkan “SWA BHUANA PAKSA” yang berarti “SAYAP TANAH AIR” mulai terbentang dan hinggap didaerah yang dianggap strategis serta diharapkan mampu menjaga wilayah NKRI dengan cepat dan tepat untuk dapat kembali dalam keadaan selamat.

SKADRON UDARA 5 INTAI STRATEGIS

Warga Lanud Hasanuddin perlu berbangga karena telah mendapat suatu kehormatan dan kepercayaan dari Pimpinan TNI AU khususnya Pemerintah RI pada umumnya untuk menerima dan mengoperasikan Skadron Udara 5 Intai Strategis yang digeser dari Lanud Abd Saleh Malang selanjutnya menempati Hanggar barunya di Lanud Hasanuddin yang saat itu menjabat Komandan Lanud Hasanuddin adalah Letkol Pnb DANIEL BORROH, namun untuk kendali operasi penerbangan pesawat di Skadron Udara 5 masih dilaksanakan oleh Wing Operasi 002 Lanud Abd Saleh Malang.
Skadron yang awalnya didirikan pada tanggal 1 April 1951 sebagai Skadron Transisi dengan kekuatan pesawat 6 buah PBY-Catalina, 1 buah C-47 Dakota dan 4 buah Harvard dengan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara nomor : Skep/28/IV/1951 dengan Komandan pertama Kapten Udara WIRYOSAPUTRA yang berkedudukan di PAU Cililitan Jakarta selanjutnya dipindahkan di PAU Andir Bandung kemudian dibentuklah Skadron Udara 5 “Pengintai Laut” pada tanggal 23 Mei 1953, selanjutnya pada tanggal 24 April 1954 dipindahkan lagi ke PAU Bugis Malang.

Baca juga:  Irkoopsau I dan Danlanud Soewondo Diserahterimakan

Pada tahun 1957 Skadron Udara 5 mendapat tambahan pesawat UF-1 Albatross sebanyak 3 buah dan 2 buah pesawat Grumman Goose, pada tahun 1976 datang lagi 4 buah pesawat UF-2 Albatross, pada tanggal 1 Juni 1982 datang lagi 1 buah pesawat Boeing 737 versi Maritim nomor registrasi AI-7301 merupakan pesawat baru yang dimiliki oleh TNI AU yang disusul tanggal 20 Agustus 1982 mendapat tambahan 1 buah pesawat Maritim Patrol PC-130 H Hercules dengan nomor registrasi AI-1322.

Dengan kekuatan pesawat-pesawat UF-1/2 albatross, Boeing 737 dan PC-130 H Hercules yang ada saat itu, maka sesuai Keputusan KSAU nomor : 55/IX/1981 tanggal 19 Nopember 1981, Skadron Udara 5 dipindahkan dari Lanud Abd Saleh Malang ke Lanud Hasanuddin Makassar dengan sandi “Operasi Camar Boyong 5” dibawah pimpinan Komandan Skadron Udara 5 saat itu Letkol Pnb AMIN KAHAR.

Penempatan Skadron Udara 5 di Lanud Hasanuddin adalah merupakan kebijakan Pimpinan TNI AU yang sangat tepat mengingat letak geografis Makassar yang berada ditengah-tengah wilayah NKRI, sehingga untuk untuk misi pengamatan dan pengawasan keseluruh wilayah Nusantara menjadi sangat efektif.

Mengawali tugas barunya di Lanud Hasanuddin Skadron Udara 5 telah memanfaatkan pesawat PC-130 H Hercules untuk menjelajahi Nusantara tanpa mengenal lelah dengan kondisi penerbang yang sangat terbatas saat itu, sehingga terjadilah suatu musibah yang sangat menyedihkan bagi seluruh anggota TNI AU pada umumnya dan anggota Skadron Udara 5 khususnya dengan jatuhnya pesawat kebanggaannya PC-130 H Hercules AI-1322 pada tanggal 20 Nopember 1985 di pegunungan Sibayak Sumatera Utara dalam suatu misi tugas Patroli rutin di wilayah Nusantara, mereka yang gugur adalah :

1. Captain Pilot Mayor Pnb Sodik
2. Co Pilot Mayor Pnb Onny
3. Navigator Mayor Nav Gendroyono
4. JMU I Lettu Tek Suparman
5. JMU II Kapten Tek Imam Sutiman
6. Juru Radio Lettu Lek Muchsin
7. Load Master I Pelda Wagiman
8. Load Master II Serda Tugiman
9. Juru Foto Udara Pelda Suryadi
10. Juru Foto Udara Pelda Suheidi
 
Disusul lagi musibah jatuhnya pesawat Altbatros IR-0222 pada tanggal 24 Januari 1986 di Pelabuhan Makassar, mereka yang gugur adalah :
 
1. Mayor Pnb Suharyono
2. Kapten Pnb Suwarno
3. Letda Tek Almatius
4. Pelda Endang Supandi
5. Serma Suradi
 
Sementara yang selamat adalah Letda Lek ANWAR, Pelda KASAN dan Pratu SARWONO, bertindak selaku Komandan Skadron Udara 5 saat itu adalah Letkol Pnb I GEDE SUDANA dan Komandan Lanud Hasanuddin adalah Kolonel Pnb A. MULUK TANUKUSUMA periode tahun 1985 – 1987 kemudian digantikan oleh Kolonel Pnb ZAINAL ABIDIN periode tahun 1987 – 1990. Skadron Udara 5 mulai mengenal zaman pesawat Full Jet engine dengan tibanya 1 buah pesawat Boeing 737 versi Maritim dengan nomor registrasi AI-7301 yang kemudian disusul dengan 2 buah pesawat sejenis dengan nomor registrasi AI-7302 dan AI-7303 dimana saat ini merupakan kekuatan utama yang ada di Skadron Udara 5.
Kemampuan pesawat Boeing 737 ini adalah mampu mendeteksi daerah yang luas 85.000 mill persegi setiap jam, dengan kelengkapan yang ada dipesawat adalah “SLAMMR” , Rease Time, Infra Red, Seach Radar System Navigasi dan Komunikasi yang di integrasikan DPDS (Dual Processing Display System). Oleh karena itu Skadron Udara 5 dapat melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut :

1. Pengawasan dan pengintaian di lautan Nusantara dan ZEE.
2. Land Mapping
3. Pengawasan daerah musuh tanpa harus terbang di atas wilayah musuh.
4. Melaksanakan pemindahan strategis pasukan tempur.
5. Bertindak sebagai pesawat Kodal, dan tugas-tugas lainnya.

Dari rangkaian kemampuan di atas juga menjadi pokok permasalahannya ada pada manusia yang mengawaki, hingga saat ini Skadron Udara 5 telah mampu melaksanakan pemeliharaan pada tingkat check “A” dan “B” atau pemeliharaan ringan sesuai kualifikasi yang harus dilaksanakan di Skadron Udara, sementara pemeliharaan tingkat sedang dilaksanakan di Sathar 15 Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara untuk pemeliharaan tingkat berat masih harus dilaksanakan di luar Negeri.
 
SKADRON UDARA 11 TEMPUR TAKTIS

TNI Angkatan Udara yang mengemban tugas sebagai kekuatan Hankam dan pembinaan minat Dirgantara Nasional mempunyai sejumlah Skadron Udara baik Skadron Tempur, Angkut dan Helikopter serta dilengkapi dengan Skadron Pendidikan untuk pesawat latih bagi para calon penerbang TNI AU. Salah satu Skadron Udara Tempur yang dimiliki TNI AU adalah Skadron Udara 11 yang lahir pada tanggal 1 Juni 1957, yang mana pada mulanya merupakan Kesatuan Pancar Gas (KPG), pada tahun 1956 yang diresmikan oleh Menteri Panglima Angkatan Udara pada tanggal 20 Februari 1956 dengan kekuatan 8 buah pesawat jet jenis Vampire berkedudukan di PAU Andir Bandung, kemudian mengalami perubahan nama dari KPG menjadi Skadron Udara 11 berdasarkan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara nomor : 56 tanggal 20 Maret 1957 dengan kekuatan pesawat sebanyak 16 buah pesawat Vampire.

Baca juga:  Kasau Transit Di Lanud Sultan Hasanuddin

Pada era terseb
ut juga didatangkan pesawat tempur jenis MIG-15 untuk pesawat latih dan MIG-17 sebagai pesawat tempur, bermodalkan pesawat tersebut maka pada tahun 1961 para penerbang MIG-17 mulai melaksanakan operasi untuk mengatasi dan menumpas beberapa macam pemberontakan yang terjadi di Tanah Air.
Selain pesawat MIG-15 dan MIG-17 Skadron Udara 11 juga mendapat titipan pesawat IL-28 dan MIG-19 yang diperuntukkan Skadron Udara 12, dengan tingkat kepadatan inilah maka Skadron Udara 11 dipindahkan ke Kemayoran selanjutnya dipindahkan lagi ke PAU Maospati Madiun, hingga pada tahun 1963 Skadron Udara 11 dipindahkan ke PAU Bugis Malang dengan kekuatan pesawat MIG-15 dan MIG-17. Pada tahun 1966 kondisi sangat tidak memungkinkan dan untuk kepentingan organisasi maka sejumlah penerbang di mutasikan ke PAU Maguwo Jogyakarta sebagai Instruktur, maka pada tanggal 4 Maret 1974 adalah hari berkabung bagi warga Skadron Udara 11 karena pada saat itu Skadron Udara 11 dinyatakan demisioner dan logo Skadron Udara 11 diturunkan.

Para penerbang dan teknisi dari Skadron Udara 11 ada yang dipersiapkan di Satuan Sergap T-33, dilebur menjadi Skadron Tempur T-33 dibawah Wing 300 yang selanjutnya menjadi Skadron Operasional T-33, akhirnya pada tahun 1979 sebagian besar personel Skadron Operasional T-33 dipersiapkan untuk mengoperasikan pesawat A-4 Sky Hawk dengan proyek Pemerintah yang diberi nama proyek ALPHA
Pada bulan September 1980 mulai tiba di Tanah Air 16 buah pesawat A-4 Sky Hawk, kondisi ini dimanfaatkan untuk pemerataan skill dari personel yang ada di Skadron Udara 14, yang pada akhirnya semenjak pesawat A-4 Sky Hawk dioperasikan maka Skadron Udara 14 dirubah namanya menjadi Skadron Udara 11 yang saat itu masih berkedudukan di Lanud Iswahyudi Madiun.

Pada tahun 1989 untuk sekian kalinya setelah dihidupkan kembali, maka Skadron Udara 11 harus menempati Hanggar dan Shelter barunya di Lanud Hasanuddin meninggalkan Lanud Iswahyudi Madiun yang tentunya menyimpan kenangan tersendiri bagi personel Skadron Udara 11, saat itu bertindak sebagai Komandan Skadron Udara 11 adalah Letkol Pnb PA. LUMINTANG yang secara bertahap memboyong seluruh kekuatan armadanya ke Lanud Hasanuddin saat itu menjabat sebagai Komandan Lanud adalah Kolonel Pnb ZAINAL ABIDIN (periode 1987-1990). Pada tahun 1994 Mabesau menarik kekuatan pesawat A-4 Sky Hawk dari Skadron Udara 12 Lanud Pakanbaru ke Skadron Udara 11 dimana saat itu Komandan Skadron Udara 11 adalah Letkol Pnb TEDDY SUMARNO, selanjutnya pada tahun 1998 Mabesau membeli lagi 2 buah pesawat TA-4 Sky Hawk dari New Zaeland dari pengadaan tersebut maka kekuatan pesawat yang ada di Skadron Udara 11 berjumlah 21 buah merupakan rekord kekuatan dari tiap unsur Skadron Udara yang dimiliki TNI AU, namun hingga saat ini sisa 19 buah pesawat dan dalam kondisi sangat tua dari semua type pesawat Tempur yang ada di Indonesia.

SKADRON TEKNIK 044

Pangkalan Udara TNI AU Hasanuddin sebagai Home Base dari Skadron Udara 5 dan 11, tentunya menyesuaikan dengan tuntutan kondisi yang ada yang memerlukan satuan yang dapat memelihara kesiapan pesawat yang ada agar selalu siap operasional, maka Komandan Lanud Hasanuddin saat itu Kolonel Pnb PLD WATTIMENA (periode 1994-1996) selanjutnya digantikan oleh Kolonel Pnb I GUSTI MADE OKA (periode 1996-1998) mulai mencanangkan bagaimana sebaiknya untuk dapat membentuk suatu Satuan pemeliharaan tersendiri berupa Skadron Teknik dimana nantinya akan dapat melaksanakan pemeliharaan pesawat yang ada di Lanud Hasanuddin sesuai tingkat kewenangannya ialah pemeliharaan tingkat sedang dari pesawat Boeing 737 dan pesawat A-4 Sky Hawk.

Kelanjutan dari ide tersebut dan atas dukungan para Komandan Skadron saat itu maka berdasarkan Surat Keputusan Panglima Komando Operasi TNI AU II nomor : Kep/04/III/1996 tanggal 15 Maret 1996 dibentuklah Skadron Teknik 044 yang saat itu menjabat sebagai Panglima adalah Marsekal Muda TNI MAHPUDIN TAKA selanjutnya digantikan oleh Marsekal Muda TNI HANAFEI ASNAN sementara yang dipercayakan untuk menjabat Komandan Skatek 044 yang pertama adalah Mayor Tek HERDY SUPRATMAN.

Konsekwensi dari berdirinya Skatek 044 ini jelas memerlukan tenaga personel yang lebih mampu dan mempunyai motivasi membangun yang baik, maka mulailah dipilih para teknisi yang berkualifikasi Inspektor dan personel lainnya dari Skadron Udara 5 dan 11, segera menata satuan baru ini dengan memanfaatkan fasilitas Hanggar yang dihibahkan dari PT. Merpati Nusantara, para personel memulai pekerjaan pemeliharaan pesawat A-4 Sky Hawk untuk tingkat perawatan sedang walaupun dengan keterbatasan yang ada, bukanlah alasan bagi para perintis Skatek 044 untuk surut berjuang sebagaimana kata Pujangga “ Sekali layar terkembang pandang biduk surut ke pantai”…….the show must go on….. perjuangan baru saja dimulai, dan merupakan suatu kebanggaan tersendiri bahwa tugas, sedang dan akan dilaksanakan dengan baik.

Sejalan dengan perkembangan waktu maka sesuai jenjang dan kesiapan organisasi dilaksanakan regenerasi pimpinan pada tanggal 19 Februari 1999, Letkol Tek HERDY SUPRATMAN mengakhiri jabatannya yang selanjutnya digantikan oleh Letkol Tek SUWARSO selama beberapa bulan sampai bulan September 1999 Letkol Tek SUWARSO harus rela menyerahkan pimpinan Komandan Skatek 044 kepada Mayor Tek SIGIT PRIYONO dimana pada masa kepemimpinan beliau Skatek 044 mulai meningkatkan system pemeliharaan sehingga kesiapan pesawat cukup baik dan dapat melaksanakan misi operasi keluar Home Base.

Baca juga:  Danlanud RSA Sambut Menteri Susi Pudjiastuti

Selanjutnya pada bulan Juli 2002 Mayor Tek SIGIT PRIYONO digantikan oleh Mayor Tek I NYOMAN SURYAWAN, dimana dari pola kepemimpinan beliau diharapkan adanya suatu kemajuan dan dapat mensejahterakan anggota dan keluarga besar Skatek 044

Proyeksi Kekuatan Lanud Hasanuddin

SKADRON 466 PASKHASAU

Garis besar keberadaan Skadron 466 Paskhasau di Lanud Hasanuddin mungkin dapat dikatakan sejak keberadaan Lanud Hasanuddin Pasukan Gerak Tjepat (PGT) saat itu telah ada walaupun masih dalam bentuk kecil namun sangat menunjang misi operasi pengamanan suatu Pangkalan Udara, yang mana secara bertahap ditingkatkan dari Kompi BS 466 menjadi Skadron 466 yang saat ini berada dalam kendali operasi Wing 2 Korp Paskhasau.

Sesuai matranya maka Skadron 466 Paskhasau merupakan pasukan yang khas sari TNI AU yang bertugas sebagai Pasukan Pengendali Tempur, Pasukan Pengendali Pangkalan dan Tim SAR yang selalu berdampingan dengan Pasukan Cadangan Pangkalan untuk mengamankan Alut Sista yang ada di Lanud Hasanuddin maupun Pengamanan VIP/VVIP serta pengamanan aset TNI AU disekitar Pangkalan ataupun ditempat lain sesuai tingkat kebutuhan.

Sebagai Pasukan andalan TNI AU, maka Skadron 466 Paskhasau ini sangat dibutuhkkan untuk ditempatkan digaris depan dalam suatu operasi pengamanan dan pengendalian yang ada di Ring III dan II dalam jajaran Lanud Hasanuddin dan juga ditempatkan dalam misi SAR berkerja sama dengan unit Helikopter yang di standby kan di Lanud Hasanuddin secara rotasi, yang mana saat ini diperkuat dari Skadron Udara 6 dan 8 Lanud Atang Sanjaya Bogor.

Sejak tongkat Komando Kepemimpinan Skadron 466 Paskhasau dijabat oleh Mayor Psk TASPIN HASAN, maka jalinan kerjasama yang baik dengan Satuan Pasukan Cadangan Pangkalan terlihat adanya peningkatan, baik dalam koordinasi maupun dalam pelaksanaan operasi pengamanan Pangkalan. Hal demikian tentunya perlu diteruskan kepada generasi selanjutnya agar tugas operasi dapat berjalan dengan lancar aman terkendali dan mencapai tujuan yang optimal.

TERBENTUKNYA WING 5

Operasi dan Latihan adalah suatu paket yang tak terpisahkan dalam menata suatu organisasi, dimana suatu misi operasi yang sesungguhnya tidak akan dapat berhasil dengan baik tanpa didukung oleh barbagai sarana penunjang secara terus menerus oleh karena itu dalam pelaksanaannya di Skadron Udara maupun di Satuan lainnya perlu adanya suatu latihan bagi para personel untuk dapat tetap mempertahankan kualifikasi yang dimiliki sehingga dalam menghadapi tugas operasi dapat menerapkan materi yang telah dilaksanakan pada pase latihan sebelumnya.

Kondisi demikian yang memberikan masukan untuk dapatnya dihidupkan kembali Wing di jajaran Lanud yang membawahi Skadron Udara dengan versi yang berbeda semasa era keemasan Kopatdara dengan Wing Operasinya. Wing yang ada saat ini mewadai tugas dari Komandan Lanud dalam menindak lanjuti pelaksanaan latihan para awak pesawat dan personel pendukung lainnya di Skadron Udara sehingga kemampuan yang ada dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan untuk menunjang tugas operasi udara.

Dari rangkain tersebut maka terbentuklah beberapa Wing dalam jajaran TNI AU dengan penempatannya di Lanud-lanud yaitu Wing 1 di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, Wing 2 di Lanud Abd Saleh Malang, Wing 3 di Lanud Iswahyudi Madiun, Wing 4 di Lanud Atang Sanjaya Bogor dan Wing 5 di Lanud Hasanuddin Makassar, sementara yang dipercayakan menjabat sebagai Komandan pertama Wing 5 adalah Kolonel Pnb YOHAN ANDREAS. Selain itu masih terdapat beberapa Wing yang ada di Lembaga Pendidikan TNI AU maupun dalam jajaran Korp Paskhasau.

Proyeksi Kekuatan Lanud Hasanuddin

POTENSI DIRGANTARA

Pembinaan Potensi Dirgantara di Lanud Hasanuddin telah dirintis oleh para Komadan Pangkalan dan sampai saat ini telah mencapai prestasi yang cukup menggembirakan, baik itu berupa pembinaan potensi kedirgantaraan yang ada di Sulawesi Selatan berupa pendataan Lapangan Terbang dan kekuatan armada pesawat yang keluar masuk Lanud Hasanuddin dengan berbagai Maskapai Penerbangan yang ada di Indonesia maupun Maskapai Penerbangan Asing.

Untuk kegiatan olahraga kedirgantaraan yang ada saat ini di Lanud Hasanuddin adalah :

1. Pordirga Aeromodelling.
2. Pordirga Terjun Payung.
3. Pordirga Terbang Layang (Atlet ada sarana belum ada).
4. Pordirga Layang Gantung/Gantole.
5. Pordirga Pesawat Micro Light, dan
6. Pordirga Pesawat Bermotor.
 
Dari keenam cabang Pordirga yang ada itu masing-masing telah dapat memberikan data kemajuan yang cukup pesat baik untuk pembinaan peserta, regenerasi peminat olahraga kedirgantaraan ataupun pembinaan atlet dan pencanangan regenerasinya yang telah turut serta dalam beberapa kejuaraan baik Nasional maupun Internasional terutama pada bidang olahraga Terjun Payung dan Layang Gantung/Gantole dengan membawa nama Sulawesi Selatan pada Kejurnas dan PON.

Sejak kepemimpinan Pengda FASI ditangan Kolonel Pnb SUKIRNO, SE selaku Komandan Lanud Hasanuddin periode tahun 2001, maka cabang olahraga yang ada ditingkatkan dengan mendirikan Pordirga Terbang Layang dengan beberapa atlet pemula yang tangguh sehingga dapat memboyong dua Medali (Perak dan Perunggu) dalam Kejurnas 2002 di Lanud Suryadarma Kalijati. Sementara pembinaan Pramuka Saka Dirgantara juga telah dapat disejajarkan dengan Saka lainnya di Sulawesi Selatan terbukti dengan kemampuan yang di laksanakan oleh adik-adik Pramuka Saka Dirgantara dalam pelaksanaan LGJI (Lomba Gerak Jalan Indah) yang pertama se Sulawesi Selatan pada tahun 2002. Dalam acara tersebut memperebutkan Piala Bergilir Pangkoopsau II dan Pangkosekhanudnas II serta Piala tetap dari Komandan Pangkalan juga para Komandan Skadron jajaran Lanud Hasanuddin.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel