Berita

PUASA BENTUK JIWA TAHAN UJI

Dibaca: 5 Oleh 01 Agu 2012Tidak ada komentar
M 458 NA B 25 Mitchell Indonesian Airforce 7168661149
#TNIAU 

Puasa merupakan upaya efektif bagi pembentukan dan pembinaan pribadi, watak dan mental, agar menjadi jiwa yang tahan uji serta sabar dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Hal tersebut sangat penting artinya manakala dikaitkan dengan situasi dan kondisi saat ini yang masih memerlukan kearifan bersama dalam perilaku dan pola tindak yang sesuai dengan norma-norma keprajuritan yang berdasarkan iman, ilmu dan amal.

Demikian disampaikan oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M. Syaugi, S.Sos, dalam acara buka puasa bersama dengan para pejabat dan unsur Muspida Kota/Kabupaten Madiun dan Magetan serta Perguruan SH Teratai dan Winongo, yang dilaksanakan di Graha Dewanto, Selasa (31/7).

Ketua MUI Kota Madiun, KH. M. Sutoyo, M.Ag., yang didaulat memberikan sentuhan rohani pada acara buka puasa tersebut mengatakan bahwa lima faktor yang dapat membatalkan pahala puasa adalah : berkata bohong, membicarakan keburukan orang lain, memfitnah, sumpah palsu, dan melihat lawan jenis dengan syahwat. Apabila kelima hal tersebut dilaksanakan, maka yang didapatkan dalam puasa hanyalah haus dan lapar tanpa ada peningkatan kepribadian apapun, apalagi pahala dari Allah, sudah pasti tidak akan mendapatkannya. Untuk itu, KH. Sutoyo mewanti-wanti agar lima hal yang tidak baik tersebut betul-betul dihindari, sehingga tidak sia-sia puasa yang dijalaninya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua MUI Madiun menyampaikan pula ciri-ciri orang berjiwa besar, yaitu suka memberi sedekah, selalu menahan diri terhadap amarah/tidak mudah tersinggung dan suka memaafkan orang lain. Orang berjiwa besar tidak pernah tersanjung ketika dipuji dan tidak tersinggung ketika dicaci. Hal ini sebagaimana tertuang di dalam hadist ; bahwa Memuji seseorang di depannya sama dengan menaburi debu di matanya. Mengkritik dan mencaci di depan seseorang sama dengan memberikan obat.

Orang berjiwa besar akan sangat menyadari bahwa dipuji hakekatnya ditutup matanya sehingga menimbulkan rasa bangga dan lupa diri serta tidak berusaha untuk menjadi lebih baik. Sedangkan dicaci dan dikritik hakekatnya diberikan motivasi yang menumbuhkan semangat untuk berusaha lebih baik lagi, sehingga akan meraih kesuksesan yang diharapkan.

Baca juga:  Bintal Mabesau Gelar Safari Bintal di Lanud Abd Saleh

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel