Berita Kotama

Riwayat Skadron 461 Paskhas (halaman 1)

Dibaca: 1471 Oleh 28 Jan 2010Tidak ada komentar
9b842766a265b99c2bf19666b186f743
#TNIAU 

RIWAYAT SKADRON 461 PASKHAS

Cikal Bakal

Cikal bakal Skadron 461 Paskhas tidak terlepas dari proses terbentuknya Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) yang cikal bakalnya dari Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) saat penjajahan Jepang di Indonesia dan terbentuknya TNI Angkatan Udara (TNI AU) pada umumnya yang cikal bakalnya dari Badan Keamanan Rakyat Oedara (BKRO) yang merupakan bagian dari Badan Kemanan Rakyat (BKR).

Adanya perubahan dan penyempurnaan organisasi BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), maka BKRO juga menjadi TKR Oedara (TKRO) yang lazim dikenal saat itu dengan nama TKR Jawatan Penerbangan.  Selanjutnya, sejalan dengan peningkatan TKR menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tangal 25 Januari 1946, maka TKRO juga menjadi TRI Oedara (TRIO).  Pada tanggal 9 April 1946 TRIO atau TRI Jawatan Penerbangan  kemudian disahkan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) berdasarkan Penetapan Pemerintah Nomor : 6/SD/1946 Tanggal 9 April 1946 tentang Pengesahkan Tentara Republik Indonesia Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang kemudian dikenal sampai sekarang dengan nama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) yang disejajarkan dengan     TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.

Dalam rangka konsolidasi organisasi, BKRO membentuk organisasi darat yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP).  PPP dibutuhkan untuk melindungi pangkalan-pangkalan udara yang telah direbut dari tentara Jepang terhadap serangan tentara Belanda yang pada waktu itu berusaha ingin kembali menduduki wilayah RI termasuk pangkalan-pangkalan udaranya. PPP saat itu masih bersifat lokal yang dibentuk di pangkalan-pangkalan udara seperti di pangkalan udara Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Mojoagung (Surabaya), Panasan (Solo), Maguwo (Yogyakarta), Cibeureum (Tasikmalaya), Kalijati (Subang), Pameungpeuk (Garut) dan pangkalan-pangkalan udara di luar pulau Jawa seperti Talang Betutu (Palembang), Tabing (Padang) dan lain-lain.

PPP sangat berperan saat terjadi Agresi Militer I dan Agresi Militer II, yang saat itu hampir seluruh pangkalan udara mendapat serangan dari tentara Belanda baik dari darat maupun dari udara.  Serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Belanda yaitu serangan terhadap pangkalan udara Maguwo Yogyakarta yang disertai dengan Pasukan Payungnya pada tanggal 19 Desember 1948. Saat itu PPP bersama kekuatan udara di pangkalan tersebut berusaha mempertahankan pangkalan sampai darah penghabisan. Begitu pula di pangkalan-pangkalan udara lainnya yang mendapat serangan dari Belanda.

PPP inilah yang merupakan cikal bakal dari Pasukan Payung yang sebelumnya pada tanggal 11 Pebruari 1946 telah melakukan percobaan latihan penerjunan yang pertama kali di pangkalan udara Maguwo Yogyakarta dengan menggunakan payung (parachute) dan pesawat terbang peninggalan Jepang, Pasukan Payung ini pulalah yang kemudian diterjunkan di Sambi Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Oktober 1947 yang selanjutnya berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor : 54 tahun 1967 tanggal 17 Oktober 1967 ditetapkan sebagai Hari Jadi Pasukan TNI AU yang sekarang dikenal dengan nama Korps Pasukan Khas.

Dalam periode selanjutnya, yaitu sejak tahun 1950 Pasukan Payung yang saat itu masih bernama PPP berpusat di Jakarta dengan sebutan        Air Base Defence Troop (ABDT) yang membawahi 8 Kompi dan dipimpin oleh Kapten Udara A. Wiriadinata dengan wakilnya Letnan Udara I  R. Soeprantijo.  Kemudian pada pertengahan tahun 1950 dibentuk Inspektorat Pasukan Pertahanan Pangkalan yang bermarkas di Jalan Sabang Jakarta, kemudian pada bulan April 1952 dipindahkan ke pangkalan udara Cililitan Jakarta Timur.

Sementara itu, pada tahun 1950 juga diadakan sekolah terjun payung (Sekolah Para) yang diikuti oleh para prajurit dalam rangka pembentukan Pasukan Para TNI AU. Sekolah Para ini dibuka di pangkalan udara Andir Bandung sebagai kelanjutan dari embrio  Sekolah Para di Maguwo.  Hasil didik dari Sekolah Para inilah yang kemudian disusun dalam Kompi-Kompi Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang dibentuk pada bulan Pebruari 1952 dan Kapten Udara A. Wiriadinata sebagai komandannya yang saat itu merangkap sebagai komandan pangkalan udara Andir di Bandung.

Pada tahun 1950-an pasukan TNI AU terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara) yang kekuatannya terdiri dari 11 Kompi Berdiri Sendiri (BS), 8 Peleton BS dan 1 Battery PSU.

Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1958 situasi politik dan keamanan dalam negeri semakin memburuk karena munculnya pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Sumatera dan Sulawesi Utara yang mengatasnamakan Dewan Gajah, Dewan Banteng, Dewan Garuda, PRRI dan Permesta. PGT bersama satuan tempur TNI lainnya juga ditugaskan dalam rangka penumpasan pemberontakan-pemberontakan tersebut dalam berbagai operasi seperti Operasi Tegas, Operasi Sapta Marga, Operasi 17 Agustus dan Operasi Merdeka.  Selanjutnya pada tahun 1960-an PGT juga ditugaskan dalam rangka operasi pembebasan Irian Barat (Papua) yang berdasarkan perintah Men/Pangau maka dibentuklah Resimen Tim Pertempuran PGT (RTP PGT) yang bermarkas di Bandung dan Kapten Udara S. Soekani sebagai komandannya.  RTP PGT membawahi   2 Batalyon PGT yaitu Batalyon A PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Z. Rachiman dan Batalyon B PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara  J.O. Palendeng.

Pada tanggal 15 Oktober 1962, berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor : 195 dibentuklah Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU).  Panglima KOPPAU dirangkap oleh Men/Pangau dan sebagai wakilnya ditetapkan Komodor Udara A. Wiriadinata.  KOPPAU terdiri dari Markas Komando (Mako) berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung.  Resimen PPP membawahi 5 Batalyon yang berkedudukan di Jakarta, Banjarmasin, Makasar, Biak dan Palembang (kemudian pindah ke Medan). Resimen PGT terdiri dari 3 Batalyon yaitu Batalyon I PGT (merupakan Batalyon III Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa) berkedudukan di Bogor,  Batalyon II PGT di Jakarta dan Batalyon III PGT di Bandung.

Berdasarkan Surat Keputusan Men/Pangau Nomor : III/PERS/MKS/1963 tanggal 22 Mei 1963,  maka pada tanggal 9 April 1963 Komodor Udara A. Wiriadinata dikukuhkan menjadi Panglima KOPPAU dan menjabat selama 1 tahun. Kemudian pada tahun 1964 digantikan oleh Komodor Udara Ramli Soemardi sampai dengan tahun 1966.

Baca juga:  TUGAS SATHAR 32

Pada tanggal 11 sampai dengan 16 April 1966 diadakan Seminar Pasukan di Bandung.  Berdasarkan hasil dari seminar tersebut dan sesuai dengan Keputusan Men/Pangau Nomor : 45 tahun 1966 tanggal 17 Mei 1966 KOPPAU disahkan menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang terdiri dari 3 Resimen yaitu :

Resimen I Pasgat bermarkas di Bandung, membawahi :

Yon A Pasgat di Bogor
Yon B Pasgat di Bandung

Resimen II Pasgat bermarkas di Jakarta, membawahi :

Yon A Pasgat di Jakarta
Yon B Pasgat di Jakarta
Yon C Pasgat di Medan
Yon D Pasgat di Banjarmasin

Resimen III Pasgat bermarkas di Surabaya, membawahi :

Yon A Pasgat di Makasar
Yon B Pasgat di Madiun
Yon C Pasgat di Surabaya
Yon D Pasgat di Biak
Yon E Pasgat di Yogyakarta.

Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI AU (Kasau) Nomor :  57 tahun 1970 tanggal 1 Juli 1970, sebutan Resimen diganti menjadi Wing. Dengan demikian Resimen I Pasgat menjadi Wing I Pasgat, Resimen II Pasgat menjadi Wing II Pasgat dan Resimen III Pasgat menjadi Wing III Pasgat.  Sementara itu, berdasarkan Surat Keputusan Kasau tersebut, sebutan Panglima dirubah menjadi Komandan Jenderal  (Danjen).  Saat itu Komandan Kopasgat adalah Kolonel Udara Soetoro, sehingga sebutannya menjadi Danjen Kopasgat.

Pada tahun 1976, berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep/29/VI/1976 tanggal 21 Juni 1976 TNI AU membentuk Komando Paduan Tempur Udara (Kopatdara) sebagai realisasi Keputusan Menhankam/Pangab Nomor : Kep/14/IV/1976.  Dalam organisasi Kopatdara ini secara tetap disusun 1 Batalyon Pasgat dengan status Bawah Komando Operasi (BKO) yaitu Yon I  Pasgat dengan komandan Mayor Psk Affendi berkedudukan di Jakarta yang terdiri dari 3 Kompi Tempur (Kipur) dengan unsur-unsur antara lain :

1 Gugus Pengendali Tempur(Gus Dalpur)
1 Gugus Pengendali Pangkalan (Gus Dallan)

Disamping itu disusun juga Satuan Taktis (Sat Tis) Pasgat yang berkedudukan di Lanuma Husein Sastranegara Bandung dengan komandan Mayor Psk Surasmo dan 1 Batalyon Kopasgat (Batalyon II Kopasgat) berkedudukan di Jakarta dengan komandan Mayor Psk Budi Sutrisna. Disamping itu untuk luar Jakarta dibentuk Batalyon III Kopasgat berkedudukan di pangkalan udara Iswahyudi Madiun dan Batalyon IV Kopasgat berkedudukan di Surabaya lalu pindah ke pangkalan udara Abdurahman Saleh Malang.

Ketiga unsur pasukan Yon I Pasgat , Sat Tis Pasgat dan Yon II Pasgat  inilah yang merupakan cikal bakal dari satuan ini yang kemudian sekarang dikenal dengan nama Skadron 461 Paskhas.

Setiap yang ada di dunia ini pasti ada permulaannya, tidak begitu saja berwujud. Misalnya manusia, sebagai makhluk hidup yang ada di dunia ini bermula dari permulaan hidup yang dikenal dengan sebutan kelahiran  dari kandungan Sang Ibu dalam wujud bayi yang kemudian tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa dan seterusnya. Biasanya waktu kelahiran itu dijadikan momentum yang sangat sakral bagi Sang Bayi tersebut hingga akhir hayatnya. Waktu kelahiran itu dinyatakan dengan sebutan hari, tanggal, bulan dan tahun serta pada sebagian orang selalu mencatat dan mengingat bahkan menghormati hari kelahirannya itu dengan berbagai macam acara Hari Ulang Tahun (HUT) yang intinya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas lahirnya ke dunia ini dan masih diberi kesempatan kesehatan serta masih dapat menikmati hidup.

Sebagaimana halnya Sang Bayi Manusia tersebut, kelahiran Sang Bayi-Sang Bayi lain seperti “Sang Bayi suatu Kesatuan TNI” termasuk “Sang Bayi di dalam Satuan Korpaskhas” juga dianggap sangat sakral sehingga wajar kiranya jika setiap satuan di jajaran TNI dalam setiap tahunnya selalu berusaha untuk mensyukuri hari kelahirannya dengan suatu acara peringatan yang biasanya ditandai dengan adanya berbagai acara seperti acara syukuran, perlombaan olah raga, kebersihan, hiburan, upacara dan lain-lain sesuai dengan keinginan dan kemampuan dari satuan tersebut masing-masing. Harapan lain dari rasa syukur tersebut adalah rasa ingin terus berusaha membesarkan dan mendewasakan satuan yang saat kelahirannya dulu masih dianggap bayi yang harus dikembangkan agar menjadi dewasa.

Lantas timbul pertanyaan khususnya pada satuan yang dikenal dengan nama Cakra Bhaskara ini : “Kapan hari kelahiran Skadron 461 Paskhas?”  Pertanyaan ini wajar sekali muncul apalagi bagi prajurit-prajurit muda dan masyarakat umum yang ingin mengetahui “Hari Kelahiran” atau sering disebut ”Hari Jadi” dari satuan ini.

Pada manusia, hari kelahirannya sudah jelas yaitu di saat ia dilahirkan dari kandungan Sang Ibu.  Tetapi untuk menyatakan suatu hari yang dijadikan sebagai “Hari Kelahiran” atau “Hari Jadi” dari suatu satuan tidak semudah itu.  Biasanya suatu satuan akan menetapkan waktu untuk dijadikan sebagai  Hari Kelahirannya yang didasarkan bukan saja hanya pada satu kejadian seperti pada hari kelahiran manusia, tetapi dapat didasarkan pada berbagai hal, misalnya didasarkan pada peristiwa heroik dan historik seperti penerjunan 13 orang Pasukan Payung di Sambi Kota Waringin Barat Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Oktober 1947 yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kelahiran Korpaskhas atau didasarkan pada ketetapan atau keputusan pimpinan yang dinyatakan dengan suatu penetapan atau Surat Keputusan seperti Penetapan Presiden RI melalui Penetapan Pemerintah Nomor : 6/SD/1946 tanggal 9 April 1946 tentang Pengesahkan Tentara Republik Indonesia Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang sekarang dikenal dengan sebutan TNI AU yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kelahiran TNI AU atau Hari Jadi TNI AU dan lain-lain.

Khusus untuk menyatakan hari kelahiran Skadron 461 Paskhas nampaknya para sesepuh dulu dalam menetapkannya didasarkan pada jenis yang kedua yaitu berdasarkan ketetapan atau keputusan pimpinan (TNI AU) saat itu. Sebab secara resmi satuan tersebut dinyatakan ada atau berdiri yaitu setelah adanya likuidasi dari tiga Satuan yaitu Yon I Pasgat (BKO Kopatdara), Sat Tis Pasgat dan Yon II Pasgat yang dilikuidasi menjadi:

Pasukan Combatan (Tempur) masuk menjadi anggota Batalyon 461 Pasgat dengan komandan Mayor Psk Supawan berkedudukan di Lanuma Halim Perdanakusuma Jakarta.

Pasukan Non-Combatan (Non Tempur) masuk menjadi anggota Sat Tis Pasgat yang kemudian berubah menjadi Batalyon 465 Pasgat (tahun 1980) dengan komandan Mayor Psk Hubandiri berkedudukan di Kramat Jati Jakarta.

Baca juga:  Apel Khusus Pengamanan Pilkada Yonko 466 Paskhas

Peristiwa likuidasi tersebut terjadi pada tanggal  1 April 1979 dengan suatu upacara di lapangan Soeroso Dwikora Halim Perdanausuma. Asisten Operasi Kasau Marsekal Muda TNI Rusman yang bertindak sebagai Inspekstur Upacara (Irup) dan Mayor Psk Chaerudin Wakil Komandan Batalyon 461 Pasgat bertindak sebagai Komandan Upacara (saat itu Mayor Psk Supawan sebagai Komandan Batalyon 461 Pasgat sedang berada di Timor Timur ikut dalam Operasi Seroja). Berdasarkan Penetapan inilah kemudian dijadikan sebagai Hari Kelahiran Batalyon 461 Pasgat (sekarang :  Hari Kelahiran Skadron 461 Paskhas atau sebagai Hari Jadi Skadron 461 Paskhas). Oleh sebab itu setiap tahunnya yaitu pada tanggal 1 April satuan ini sewajarnya memperingatinya sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu pada tahun 1981 status Batalyon 461 Pasgat semakin kuat diakui sebagai salah satu Batalyon di jajaran TNI dengan adanya pemantapan 100 Batalyon ABRI oleh Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Yusuf. Sesuai dengan TOP ROI ’71, maka personel 1 Batalyon berjumlah 699 orang.  Dengan demikian untuk TNI AU saat itu mempunyai 4 Batalyon Kopasgat yang dimantapkan menjadi 5 Batalyon Kopasgat.  Upacara pemantapan untuk Batalyon-Batalyon di jajaran Kopasgat saat itu dilaksanakan di Ciuyah Banten, Irupnya diwakili oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Ksad) Jenderal TNI Widodo. Saat itu Danjen Kopasgat dijabat oleh Marsekal Pertama TNI Sugiantoro. Dimana sebelumnya juga telah dilaksanakan latihan gabungan pelatih Raider di jajaran TNI yang diikuti juga anggota-anggota dari Batalyon 461 Pasgat.

Apa Arti Sebuah Nama dan Mengapa “461”?

Sebuah “Nama” baik itu nama seseorang maupun nama-nama yang lainnya, sepintas nampaknya dianggap hal yang biasa-biasa saja. Tetapi jika dipahami lebih seksama ternyata nama juga mempunyai arti atau makna, bahkan hampir seluruh etnis/suku di Indonesia sangat memperhatikan hal tersebut misalnya dalam memberi nama anaknya yang baru lahir, nama suatu kampung atau desa, nama jalan, nama sebuah gedung, mesjid, gereja dan masih banyak yang lainnya. Memberi nama seseorang, suatu tempat, bangunan atau juga sebuah instansi dan peristiwa tersebut hampir semuanya didasarkan pada makna yang terkait dengan pemberian nama itu, sehinggga wajar jika mereka mempertimbangkan arti dibalik sebuah nama tersebut.

Pemberian nama pada sesuatu akan lebih berhati-hati jika dikaitkan dengan nilai-nilai sejarah, karena sebuah nama pun dapat bernilai historis.  Begitu halnya pemberian nama satuan di jajaran TNI termasuk nama satuan ini, sepintas nama Skadron 461 Paskhas memang berkesan biasa-biasa saja, tetapi ternyata masih ada yang menanyakan tentang nama satuan ini terutama tentang pemakaian angka 461: ”Mengapa 461? Apakah tidak dapat 1 (angka satu) saja?”. Pertanyaan ini juga wajar muncul bahkan muncul juga dari prajurit-prajurit baru yang ingin tahu di satuan ini.

Pada umumnya pemberian angka pada sebuah nama menunjukkan suatu urutan, misalnya di jajaran TNI AD dalam 1 Resimen terdiri dari            3 Batalyon, maka Batalyon yang pertama biasanya diberi angka 1 sehingga menjadi Batalyon 1, Batalyon kedua diberi angka 2 sehingga menjadi Batalyon 2 dan begitu juga untuk Batalyon ketiga diberi angka 3 sehingga menjadi Batalyon 3. Tetapi yang menjadi pertanyaan khususnya di jajaran Korpaskhas yang terdiri dari 6 Skadron (setingkat Batalyon) mengapa tidak memakai angka 1, 2, 3 dan seterusnya  sampai dengan angka 6, melainkan langsung memakai angka 461, 462, 463 dan seterusnya sampai dengan 466. Mungkin hal inilah yang menyebabkan munculnya pertanyaan di atas.

Ternyata pemberian angka 461 tersebut bukan sembarang atau begitu saja memberikannya dan ternyata angka 461 begitu juga angka 462 dan seterusnya mempunyai nilai historis.  Pemberian angka ini sejalan dengan peristiwa kelahiran satuan ini yaitu dengan adanya likuidasi satuan-satuan termasuk di jajaran Kopasgat saat itu yaitu dalam suatu upacara pada tanggal 1 April 1979 di lapangan bola Soeroso Dwikora Halim Perdanakusuma dengan Irup Asisten Operasi (Asops) Kasau Marsekal Muda TNI Rusman.  Saat itu beliau menyampaikan amanat Kasau (Marsekal TNI Ashadi Cahyadi) yang dalam amanatnya, disamping menjelaskan tentang pembentukan satuan baru yang saat itu diberi nama Batalyon 461 Pasgat, beliau juga menjelaskan tentang angka 461 yang tertera dalam nama tersebut. Menurut penjelasan beliau : 461 terdiri dari 46 dan 1. Angka 46 mempunyai arti tahun berdirinya TNI AU yaitu tahun 1946 tepatnya tanggal  9 April 1946 berdasarkan Ketetapan Pemerintah Nomor: 6/SD/1946 tanggal   9 April 1946 tentang Pengesahkan Tentara Republik Indonesia Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang sekarang dikenal dengan sebutan TNI AU yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kelahiran TNI AU atau Hari Jadi TNI AU. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa angka 1 mempunyai arti untuk menunjukkan bahwa Batalyon Pasgat tersebut merupakan Batalyon urutan pertama dari 6 Batalyon yang ada di jajaran Kopasgat saat itu, sehingga satuan tersebut menggunakan angka gabungan 46 dan 1 sehingga menjadi 461 yang mempunyai arti bahwa Batalyon Pasgat tersebut merupakan Batalyon yang pertama di jajaran Kopasgat dan merupakan salah satu satuan yang terdapat di dalam tubuh TNI AU. Dengan demikian penggunaan angka tersebut tidak dapat dipisah atau digunakan satu angka saja misalnya angka 1 saja, sehinga menjadi Batalyon 1 Pasgat, hal ini tidak dapat, menurut penjelasan beliau lebih lanjut, karena satuan ini merupakan bagian integral dari TNI AU.

Dari penjelasan tersebut, kiranya menjadi jelas ternyata angka 461 yang terdapat dalam nama satuan ini yang sekarang dikenal dengan nama Skadron 461 Paskhas mempunyai arti atau makna yang dalam dan bernilai historis.

Mengapa Berganti Nama atau Istilah ?

Pergantian atau perubahan nama atau istilah yang terjadi pada satuan ini tidak terlepas dari sejarah terjadinya perubahan nama atau istilah pada tingkat Korpaskhas dari waktu ke waktu. Perubahan nama tersebut sejalan dengan perubahan situasi dan tuntutan tugas serta organisasi. Perubahan-perubahan nama itu biasanya didasarkan pada kebijakan pimpinan melalui ketetapan atau keputusan yang disampaikan secara resmi.

Baca juga:  Pemerintah Indonesia Dan Amerika Diskusi ILSR (Integrated Logistics Support Review) Di Lanud Iswahjudi

Perubahan nama atau  istilah itu misalnya sebutan Panglima menjadi Komandan Jenderal (Danjen) pada tahun 1970 berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : 57 tahun 1970 tanggal 1Juli 1970 sehingga Panglima Kopasgat yang saat itu dijabat oleh Kolonel Psk Soetoro sebutannya berubah menjadi Danjen Kopasgat dan berdasarkan Keputusan itu sebutan Resimen berubah menjadi Wing sehingga Resimen I Pasgat berubah menjadi Wing I Pasgat begitu pula untuk Resimen II Pasgat dan Resimen III Pasgat berubah menjadi Wing II Pasgat dan Wing III Pasgat.

Untuk nama satuan juga mengalami berubah dari PPP, PGT dan PSU berubah menjadi KOPPAU kemudian berubah lagi menjadi Kopasgat yang disahkan berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor : 45 tahun 1966 tanggal 11 Mei 1966, lalu Kopasgat berubah menjadi Puspaskhasau pada tahun 1985 berdasarkan Keputusan Kasau Nomor :  Kep/22/III/1985 tangal 11 Maret 1985 dan terakhir nama Puspaskhasau berubah menjadi Korpaskhas pada tahun 1997 sampai sekarang berdasarkan Keputusan Pangab Nomor  : Skep/9/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997.

Untuk tingkat Batalyon di jajaran Paskhas juga mengalami perubahan nama atau istilah yaitu istilah Batalyon berubah menjadi Skadron pada tahun 1985 sejalan dengan berubahnya nama Kopasgat menjadi Puspaskhasau berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep/22/III/1985 tangal 11 Maret 1985. Dengan demikian istilah Batalyon 461 Pasgat (yang cikal bakalnya merupakan Yon  A Pasgat,  Yon B Pasgat dan Sat Tis dari Resimen II Pasgat)  yang lolos tes fisik aerobik) juga berubah menjadi Skadron 461 Paskhas.

Pergantian nama atau istilah tersebut merupakan hal yang wajar dan mungkin dapat terjadi di satuan-satuan lain di jajaran TNI sesuai dengan perjalanan sejarahnya. Alangkah baiknya, jika setiap prajurit TNI AU dan prajurit Korpaskhas serta Skadron 461 Paskhas khususnya mengetahui perubahan-perubahan nama serta perjalanan sejarah satuannya. Dengan demikian akan lebih mengenal satuannya dan jati dirinya, sehingga akan lebih menghargai para pejuang, sesepuh dan seniornya yang telah bertugas lebih dahulu dari dirinya. Disamping itu diharapkan akan meningkatkan semangat rela berkorban dan pengabdiannya.

Organisasi

Bagian terdahulu telah diuraikan tentang cikal bakal, hari kelahiran Skadron 461 Paskhas dan perubahan-perubahan sebutan atau nama yang kesemuanya itu tidak terlepas dari sejarah TNI dan Korpaskhas secara umum. Organisasi Skadron 461 Paskhas juga mengalami perubahan-perubahan seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh organisasi Korpaskhas secara keseluruhan. Perubahan-perubahan yang terjadi sejak kelahirannya sampai dengan sekarang tersebut disebabkan karena adanya reorganisasi yang disesuaikan dengan situasi, kondisi dan tuntutan tugas yang harus diemban oleh TNI khususnya TNI AU serta Paskhas dari waktu ke waktu. Perubahan organisasi itu terjadi juga seiring dengan perubahan-perubahan sebutan atau nama satuan mulai dari nama PPP, PGT, Kopasgat, Puspaskhasau sampai dengan sebutan yang sekarang dikenal dengan nama Korpaskhas.

Misalnya, dengan berdasarkan Keputusan Pangab Nomor : Skep/9/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997, nama Puspaskhasau berubah menjadi Korpaskhas. Perubahan dari istilah “Pusat” menjadi “Korps” berarti juga perubahan dari tingkat Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) menjadi Komando Utama Pembinaan (Kotamabin) TNI AU. Hal ini menunjukkan adanya perubahan organisasi sesuai dengan perubahan istilah dan status tersebut. Istilah Komandan Puspaskhas (Danpuspaskhasau) otomatis juga berubah menjadi Komandan Korpaskhas (Dankorpaskhas). Perubahan organisasi secara langsung juga terjadi di jajaran bawahannya sampai kepada tingkat Skadron. Oleh karena itu, susunan organisasi yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah susunan organisasi setelah status Paskhas menjadi Kotamabin TNI AU yaitu organisasi yang telah disahkan berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 tentang Pokok-pokok Organisasi dan Prosedur Kotama Pembinaan TNI AU Korpaskhas yang secara efektif berlaku mulai tanggal 1 April 1999.

Tugas Pokok

Tugas pokok yang diemban Skadron 461 Paskhas juga disesuaikan dengan status Paskhas sebagai Kotamabin TNI AU. Sejalan dengan tugas pokok tersebut, maka Skadron 461 Paskhas juga berkewajiban untuk menyelenggarakan fungsi sebagai satuan pemukul yang berkedudukan di Jakarta untuk mendukung tugas-tugas Korpaskhas, TNI AU dan TNI pada umumnya.
Berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 terutama pada Pasal 2 Lampiran “IV-4” dari Keputusan tersebut bahwa :

Skadron Paskhas bertugas untuk mengamankan dan mempertahankan Pangkalan / Alutsista / Instalasi TNI Angkatan Udara, Pengendalian Tempur, Pengendalian Pangkalan, Pengendalian Udara Depan, Pengendalian Pangkalan Udara Depan, SAR Tempur serta tugas-tugas lain sesuai kebijakan Panglima TNI.

Sesuai dengan tugas pokok tersebut, maka Skadron 461 Paskhas juga harus melaksanakan fungsi-fungsinya. Berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 terutama pada Pasal 3 Lampiran “IV-4” dari Keputusan tersebut juga disebutkan bahwa :

Dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut pada Pasal 2 di atas, Skadron Paskhas menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut :

a. Menyusun rencana dan program rencana serta program pembinaan Skadron Paskhas berdasarkan rencana dan program Wing I Paskhas.
b. Menyiapkan kemampuan dan kekuatan Skadron termasuk alat peralatannya untuk menjamin terlaksananya tugas pokok dengan melaksanakan latihan yang diprogramkan.
c. Menyiapkan Satuan untuk tugas pengamanan dan pertahanan Pangkalan / Alutsista / Instalasi TNI Angkatan Udara.
d. Melaksanakan operasi-operasi udara meliputi Pengendalian Tempur, Pengendalian Pangkalan, Pengendalian Udara Depan, Pengendalian Pangkalan Udara Depan dan SAR Tempur.
e. Melaksanakan Operasi Perebutan dan Pengendalian Pangkalan Udara (OP3U).
f. Melaksanakan operasi-operasi lain sesuai dengan kebijakan Panglima TNI baik dalam operasi Pertahanan maupun operasi Kamdagri serta tugas-tugas TNI lainnya.
g. Melaksanakan koordinasi dan kerja sama dengan Komando Atas/ Samping dan instalasi lain baik di dalam maupun di luar Wing Paskhas untuk kepentingan pelaksanaan tugasnya sesuai lingkup dan tingkat kewenangannya.
h. Mengajukan pertimbangan dan saran kepada Komandan Wing I Paskhas khususnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel