Berita Kotama

Riwayat Skadron 461 Paskhas (halaman 2)

Dibaca: 677 Oleh 28 Jan 2010Tidak ada komentar
2015 06 02 00002
#TNIAU 

AKTIVITAS DAN PENUGASAN – PENUGASAN

Lebih Baik Mandi Keringat dalam Latihan daripada Mandi Darah dalam Pertempuran.

”Lebih Baik Mandi Keringat dalam Latihan daripada Mandi Darah dalam Pertempuran”, semboyan atau dapat dikatakan sebagai sebuah motto ini sudah sejak lama dikenal oleh semua satuan di jajaran TNI dan nampaknya bukan merupakan istilah yang asing lagi, bahkan sudah melekat didada setiap prajurit tempur. Munculnya motto ini mungkin berawal dari situasi pertempuran yang tidak menyenangkan apalagi bagi pihak-pihak yang kalah. Oleh karena itu setiap pihak tentu berupaya untuk tidak terlibat dalam pertempuran apalagi menjadi pecundang.

Semboyan tersebut mempunyai makna bahwa prajurit-prajurit di dalam suatu satuan lebih baik berlatih dengan keras sampai bermandi keringat untuk dapat menguasai keterampilan dan kemampuan dalam berolah yudha sehingga diharapkan jika sewaktu-waktu ditugaskan dalam pertempuran dapat menang tidak kalah dan berlumuran darah (luka terkena tembakan atau gugur). Atau secara lugas dapat diartikan bahwa prajurit itu lebih baik banyak latihan saat di home base agar dapat melaksanakan tugas dengan berhasil jika ditugaskan.

Sebagaimana di satuan-satuan lainnya, semboyan ini juga telah melekat dalam dada setiap prajurit Skadron 461 Pakhas dan diaplikasikan dalam kegiatan latihan yang telah diprogramkan oleh satuan. Latihan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kebutuhan tugas yang diembannya yaitu diseusaikan dengan tugas pokok dan fungsi satuan ini sebagai Pasukan yang berciri khas Matra Udara, sehingga materi yang dilatihkan juga bervariatif yang bernuangsa darat dan udara seperti pengendalian tempur, pengendalian pangkalan, taktik tempur darat, infiltrasi melalui tri media (darat, laut dan udara), M-5 (menghilang, mengguling, meninjau, membidik dan menembak) pertahanan udara (hanud) dan lain-lain yang intinya prajurit diharapkan mempunyai kemampuan sebagai Pasukan yang berciri khas Matra Udara. Sebagai Pasukan yang berkualifikasi Komando, maka prajurit dituntut dapat bertugas melalui Tri Media (darat, laut dan udara). Disamping itu diberikan latihan lain seperti PHH agar dapat bertugas membantu pihak kepolisian bersama-sama satuan TNI lainnya jika dibutuhkan seperti pada Pengamanan Tidak Langsung (Pam Tak Langsung) Pemilu, Pam Tak Langsung Sidang Umum MPR dan Pam Ibu Kota untuk menghalau massa demontrasi dan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi seperti pada awal era Reformasi pada bulan mei 1997. Latihan-latihan yang dilaksanakn tersebut bersifat bertahap dan berlanjut serta terukur. Tujuan dari latihan-latihan tersebut intinya untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan setiap prajurit Skadron 461 Paskhas untuk menghadapi tugas-tugas yang dibebankan.

Latihan yang dilaksanakan dapat latihan mandiri di dalam satuan sendiri, latihan gabungan di lingkungan Korpaskhas bersama satuan-satuan Paskhas lainya misalnya dalam latihan pemantapan Dallan, Dalpur, Sarpur dan lain-lain, latihan gabungan di lingkup TNI AU seperti Angkasa Yudha, Rajawali Perkasa, Jalak Sakti, Mandi Yudha dan lain-lain serta latihan gabungan dengan Angkatan lain seperti Latihan Gabungan TNI, PPRC dan lain-lain. Melalui latihan-latihan ini akan menambah keprofesionalan para prajurit seperti yang diharapkan oleh tuntutan tugas, Korps, TNI dan rakyat Indonesia pada umunya.

Tugasku Merupakan Kehormatan Bagiku

Sebagai salah satu unsur tempur TNI khususnya TNI AU, Skadron 461 Paskhas sejak kelahirannya sampai sekarang selalu ikut berperan aktif tergabung dalam penugasan-penugasan yang dipercayakan dari pimpinan, bangsa dan negara. Tugas-tugas tersebut bahkan dilaksanakan oleh sebagian besar para prajurit dari satuan ini jauh sebelum satuan ini terbentuk, seperti tugas-tugas dalam penumpasan pemberontakanDI/TII, PRRI, Permesta, Trikora (pembebasan Irian Barat), Dwikora (konfrontasi dengan Malaysia), PKI (Blitar Selatan Jawa Timur), PGRS/Paraku dan lain-lain sejalan dengan tugas-tugas yang di emban PGT/Kopasgat saat itu sejak kelahirannya tanggal 17 Oktober 1947 sampai dengan 1 April 1979.

Setelah satuan ini dinyatakan secara resmi sebagai Batalyon 461 Pasgat, tugas-tugas yang diembannya semakin berat sejalan dengan perjalanan sejarah, situasi dan kondisi NKRI sampai sekarang ini. Tugas-tugas yang diemban tersebut bervariatif meliputi tugas-tugas tempur dan juga tugas-tugas non tempur membantupihak kepolisian jika dibutuhkan. Lingkup atau wilayah tugas juga bervariatif yaitu meliputi tugas di dalam negeri dan tugas di luar negeri sesuai dengan kebutuhan dan perintah yang ada.
Skadron 461 Paskhas sebagai salah satu unsur tempur selalu siap untuk menerima tugas-tugas yang dipercayakan dan dilaksanakan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan satuan. Dalam pembinaan setiap waktunya selalu ditekankan dan ditegaskan agar terpatri dalam setiap dada prajurit Skadron 461 Paskhas bahwa tugas yang dipercayakan kepadanya itu adalah merupakan kehormatan yang diberikan pimpinan bangsa dan negara kepada para prajurit dan satuan serta lebih luas lagi kepada Korps dan TNI Angkatan Udara.

Satuan Tugas Parikesit I dilaksanakan di Timor Timur dalam rangka integrasi wilayah tersebut ke dalam wilayah NKRI yang saat itu terus berlanjut. Anggota-angota dari Batalyon 461 Pasgat bersama-sama anggota lain di jajaran Kopasgat tergabung dalam Pasukan Komando ABRI untuk melaksanakan tugas tersebut. Gabungan Pasukan Komando ABRI terdiri dari tiga satuan dari ketiga Angkatan yaitu dari Kopasandha, Marinir dan Kopasgat.

Gabungan Pasukan Komando ABRI tersebut berangkat dari pangkalan udara Husein Sastranegara Bandung menuju pangkalan udara Komoro Dili yaitu tangggal 2 Desember 1978 dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules TNI AU. Gabungan Pasukan Komando ABRI itu disusun menjadi sebuah Satuan Tugas (Satgas) yang dipimpin oleh Mayor Inf Sitorus (Kopasandha) dan wakil komandannya adalah Mayor Mar. Tatang S (Marinir). Kasi-kasi masing-masing dijabat oleh Kapten Psk Chaerudin (Kopasgat), Kapten Inf Yudomo S. (Kopasandha) dan Kapten Inf Adeng (Kopasandha).  Satgas dibagi dalam 3 Kompi, yaitu (1) Kompi Banteng (Kopasandha), (2) Kompi Baruna (Marinir) dan (3) Kompi Bronco (Kopasgat). Anggota Kopasgat yang tergabung dalam Kompi Bronco dipimpin oleh Lettu Psk Suyitno sebagai Komandan Kompi dan Komandan-Komandan Peletonnya yaitu Letda Psk Jhon Ferry Rumawatine, Capa Oman Irawan dan Capa Budi Waluyo.

Baca juga:  Upacara Mingguan di Makosekhanudnas III

Mereka semula mendapat tugas untuk menghancurkan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) di daerah Matabean Komplek. Tetapi karena daerah tersebut sudah dapat dikuasai oleh satuan ABRI lainnya , maka tugas dialihkan untuk mengejar tokoh GPK yaitu Nicolao Lobato, Antonio Qurvarino dan lain-lainnya. Akhirnya tokoh-tokoh GPK tersebut dapat dikejar dan dapat dihancurkan.

Operasi Parikesit I dilaksanakan sampai dengan tanggal 26 Maret 1979. Anggota-anggota yang tergabung dalam satgas ini kemudian dikembalikan ke satuan masing-masing. Kopasgat kembali dari pangkalan udara Baucau ke pangkalan udara Husein Sastranegara Bandung. Setelah diterima oleh Komandan Jenderal (Danjen) Kopasgat Marsekal Pertama TNI Sukarseno secara resmi dalam suatu upacara penyambutan, selanjutnya anggota-anggotanya dikembalikan ke Batalyon masing-masing. Untuk anggota-anggota Batalyon 461 Pasgat kembali ke Jakarta.

Operasi Selanjutnya adalah Operasi Parikesit II yang merupakan kelanjutan dari Operasi Parikesit I . Anggota-anggota dari Kopasgat termasuk anggota-anggota dari Batalyon 461 Pasgat yang tergabung dalam Gabungan Pasukan Komando ABRI diberangkatkan dari pangkalan udara Husein Sastranegara menuju Baucau. Satgas yang terdiri dari Kopasandha, Marinir dan Kopasgat ini dipimpim oleh Mayor Inf Sunarto (Kopasandha) dan Wakil Komandannya adalah Mayor Mar Boy Malonda (Marinir). Saat itu Kapten Psk Siagian (Kopasgat) menjabat sebagai Kasi Personel. Sedangkan Lettu Psk Hasibuan (Kopasgat) menjabat sebagi Komandan Kompi Bronco. Anggota-anggota dari Batalyon 461 Pasgat tergabung dalam Kompi Bronco ini.

Modus operasi ini sama dengan modus operasi pada Operasi Parikesit I, yaitu mengadakan pengejaran dan penghancuran terhadap GPK yang masih bersembunyi di gunung-gunung dan hutan-hutan. Setelah melaksanakan manuver selama dua bulan, Kompi Banteng yang berada di sektor Barat ditarik untuk bergabung kembali dengan Kompi Baruna dan Kompi Bronco yang berada di sektor Timur, sebab sektor Barat sudah dianggap aman.

Selanjutnya mereka terus bergerak, sehingga banyak GPK yang berhasil ditangkap dan sebagian dapat dihancurkan. Prajurit-prajurit terus bermanuver seolah-olah tidak mengenal lelah walaupun kadang jiwanya terancam dan dihadapkan pada sulitnya mereka mencari persembunyian GPK serta beratnya medan dan cuaca di medan operasi. Usaha-usaha mereka mendapatkan perhatian dari Kasi Personel saat itu yang melalui Komandan Satgas mengajukan permohonan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) terutama bagi prajurit-prajurit yang berpangkat Kopral (tingkat Tamtama) untuk menjadi Sersan (tingkat Bintara) kepada Menhankam/ Pangab Jenderal M. Yusuf. Ternyata permohonan tersebut disetujui dan dikabulkan sehingga banyak prajurit yang mendapatkan kenaikan pangkat secara KPLB tersebut.

Operasi dilaksanakan selama empat bulan, yaitu sejak bulan Maret 1979 sampai dengan pertengahan bulan Juli 1979. Setelah selesai melaksanakan tugas ini, para anggota dari Kopasgat dikembalikan ke satuan masing-masing. Untuk anggota yang dari Batalyon 461 Pasgat dikembalikan ke Jakarta.

Operasi yang dilaksanakan di wilayah Timor Timur terus dilakukan dalam rangka integrasi wilayah tersebut ke dalam NKRI. Operasi selanjutnya setelah Operasi Parikesit II adalah Operasi Geser. Operasi tersebut dilaksanakan sejak tahun 1981 sampai dengan 1999 (lepasnya wilayah Timor Timur dari NKRI). Tugas maupun susunan pasukan dalam Operasi Geser tersebut berbeda dengan Operasi Parikesit I maupun Parikesit II. Tugas Kopasgat sampai dengan namanya menjadi Paskhas adalah mengamankan pangkalan-pangkalan udara yang ada di wilayah tersebut dan susunan pasukan bukan tergabung dalam pasukan gabungan ABRI (sekarang TNI).

Sebagai contoh, Operasi Geser XIX yang dilaksanakan oleh Detasemen Paskhasau yang dipimpin oleh Kapten Psk Benu Santoso periode bulan Agustus 1986 sampai dengan bulan Pebruari 1987. Pasukan yang tergabung dalam Detasemen tersebut terdiri dari beberapa satuan di jajaran Paskhasau antara lain dari Mapuspaskhasau, Skadron 461, 462,463, 464 dan 466 Paskhas. Tugas pokoknya adalah mempertahankan dan mengamankan Pangkalan beserta Alut Sista yang ada di dalamnya serta tugas-tugas Dallan, Dalpur, Sarpur dan kewilayahan. Pangkalan yang diamankan adalah pangkalan udara Dili dan Baucau. Dengan demikian pasukan yang berjumlah 240 orang di bagi menjadi dua tempat. 40 orang ditempatkan di pangkalan udara Dili yang dipimpin oleh Lettu Psk W. Kateno dan 200 orang ditempatkan di pangkalan udara Baucau yang dipimpin oleh Lettu Psk Adrean Wattimena.

Sesuai dengan tugasnya, maka pasukan bertugas mempertahankan pangkalan dengan sistem pertahanan pangkalan Horizontal, pertahanan Vertikal maupun operasi Matra Udara. Dalam Pertahanan Horizontal pasukan ditempatkan pada pos-pos (Pos Djupri, Pos Lanud, Pos Ilyusin dan Pos Yupiter) secara bergiliran dan bergantian disesuaikan dengan situasi. Pertahanan Vertikal dilaksanakan dengan menggunakan senjata penangkis serangan udara (PSU) Triple Gun dan operasi Matra Udara dilakukan jika sewaktu-waktu diperlukan.

Untuk itu, maka disiapkan satu Tim yang diletakkan di Kelompok Komando Pangkalan Udara (Pokko Lanud) baik di Dili maupun di Baucau yang siap melaksanakan tugas-tugas Dallan, Dalpur dan Sarpur jika dibutuhkan. Begitulah tugas yang diemban Paskhas dalam operasi Geser dari periode ke periode sampai dengan tahun 1999 (lepasnya Timor Timur dari wilayah NKRI).

Masih dalam rangka upaya integrasi Timor Timur ke wilayah NKRI, maka TNI juga menugaskan pasukan gabungan TNI yang ditambah dari Polri yaitu dari satuan Brimob yang tergabung dalam Operasi Rajawali/Garuda. Pada tahun 1998 Paskhas juga ikut dalam operasi tersebut yaitu dalam Operasi Rajawali IV/Garuda I. Sebagian besar anggota sebanyak 1 Kompi dari unsur Paskhas berasal dari Skadron 461 Paskhas yang dipimpin oleh Kapten Psk Rolland Waha. Operasi tersebut diikuti juga dari satuan lain seperti Kopassus, Marinir, Kodam-Kodam dan Brimob. Sebelum berangkat operasi, dilaksanakan latihan pratugas di Grup 3 Kopassus Batujajar selama 3 bulan. Tugas dari Satgas ini adalah mengadakan pencarian dan pengejaran terhadap GPK yang terus bersembunyi dan sewaktu-waktu mengadakan serangan terhadap personil-personil Polri maupun TNI yang bertugas di sana. Tugas dilaksanakan selama 11 bulan yaitu dari bulan Agustus 1998 sampai dengan Juni 1999.

Baca juga:  Foto Kegiatan

Operasi yang diikuti oleh para prajurit dari satuan ini juga dilakukan di wilayah Aceh sejalan dengan semakin tidak kondusifnya situasi keamanan di daerah tersebut dengan adanya gerakan separatis yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan dirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kelompok tersebut intinya ingin menjadikan Aceh sebagai suatu negara yang terlepas dari wilayah NKRI (ingin memisahkan diri dari NKRI) dengan berbagai alasan dan dalih yang penuh dengan nuansa politik. Dalam melancarkan gerakannya, mereka mempengaruhi rakyat Aceh serta membentuk dan melatih semacam “tentara” sendiri dengan persenjataan yang standar sebagaimana yang digunakan oleh TNI. Oleh karena itu, untuk mengatasi gerakan tersebut pemerintah RI terus berupaya melakukan upaya-upaya “damai” atau lebih tepat lagi istilahnya “menyadarkan” kembali bahwa mereka adalah bagian dari rakyat Indonesia dan bagian dari wilayah NKRI. Upaya tersebut dilakukan dengan jalan persuasif melalui negosiasi/ajakan dan melalui pemulihan keamanan dengan menugaskan satuan-satuan dari TNI dan Polri.

Skadron 461 Paskhas sebagai salah satu satuan tempur dijajaran TNI juga mengirimkan anggotanya ke wilayah ini untuk melaksanakan tugas-tugas keamanan termasuk mengamankan dan mempertahankan Alut Sista TNI AU seperti lapangan udara yang berada di wilayah tersebut termasuk juga instalasi dan peralatan yang ada di dalamnya. Paskhas termasuk anggota yang berasal dari Skadron 461 Paskhas yang ditugaskan untuk pengamanan (pam) Alut Sista misalnya pada Operasi Pemulihan Keamanan Aceh pada bulan Oktober 2000 sampai dengan Pebruari 2002. Dalam operasi ini sebanyak 139 peronil dari satuan ini yang dipimpin oleh Lettu Psk Roy Rassy F.M. Bait ditugaskan di wilayah ini. Kemudian digantikan (diaplos) oleh anggota Paskhas berikutnya yang dipimpin oleh Kapten Psk Drs. Heru Hermawan (dari 462) beserta para anggotannya (saat itu yang berasal dari Skadron 461 Paskhas berjumlah 52 personel) Selanjutnya tugas Pam Alut Sista ini dilanjutkan pada tahun 2002. Dari satuan ini menugaskan sejumlah 25 personel yang dipimpin oleh Lettu Psk Dili Setiawan yang bergabung dengan personel lain dari satuan lain di jajaran Korpaskhas.

Satuan ini juga menugaskan personilnya pada tugas-tugas pengamanan bersama satuan lain di jajaran TNI di wilayah Aceh tersebut, seperti pada Operasi Rencong Terbang ’91 tahun 1991, Operasi Rencong Terbang ’95 tahun 1995. Pada operasi-operasi tersebut, Komandan Skadron 461 Paskhas Letkol Psk Chaerul Akbar ditunjuk sebagai Komandan Unsur (Dansur) Paskhas dibawah komando langsung oleh Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara I (Pangkoopsau I) yang saat itu dijabat oleh Marsekal Muda TNI I Gede Sudana yang kemudian digantikan oleh Marsekal Muda TNI Purnomo Sidhi.

Sebanyak 68 personil yang dipimpin Lettu Psk Pronie, S.H. bersama-sama personil Paskhas lainnya (TNI AU) serta personil dari Kostrad (TNI AD) dan Marinir (TNI AL) pada tahun 2002 juga ditugaskan kewilayah ini yang tergabung dalam Operasi Rajawali yang bertugas untuk bermanuver di wilayah tersebut sebagai satuan yang mobile (bergerak). Operasi Rajawali ini juga terus berlanjut.

Sejalan dengan perkembangan situasi keamanan dan politik, akhirnya disepakati perjanjian damai antara GAM dan pemerintah RI pada bulan Januari 2003. Untuk memantau perkembangan situasi pasca perjanjian tersebut, dari satuan ini juga menugaskan Perwirannya yaitu Kapten Psk Djuanda yang tergabung dalam Tim Pengawas Pasca Perjanjian Damai antara GAM dan pemerintah RI di wilayah Aceh.

Sementara itu, dari satuan ini juga menugaskan anggota-anggotanya untuk tugas ke wilayah Maluku yang bertugas untuk memulihkan keamanan wilayah tersebut yang disebabkan adanya kerusuhan antar kelompok yang bernuansa SARA yang terjadi sejak tanggal 19 Januari 1999 sampai dengan sekarang (2003, belum pulih total) yang telah banyak menimbulkan korban jiwa dan harta benda serta kehancuran sendi-sendi kehidupan lainnya. Anggota-anggota dari satuan ini sebanyak 1 Kompi (ada beberapa anggota dari 462 dan 465) yang dipimpin oleh Kapten Psk Drs. Marsono ditugaskan ke wilayah tersebut yang tergabung dalam Batalyon Gabungan II (Yon Gab II) TNI bersama-sama dengan satuan lain dari TNI AD dan TNI AL yaitu dari Kopassus (dari Grup 2 Kartosuro, Solo) dan dari Marinir (dari Batalyon 3 Brigif I Marinir Surabaya). Tugas pokoknya adalah sebagai penengah jika terjadi konflik atau pertikaian termasuk konflik senjata antar dua kelompok yang mengatasnamakan Kelompok Putih atau Kelompok Acang (baca: Hasan; identik dengan kelompok yang beragama Islam) dan Kelompok Merah atau Kelompok Obet (baca: Robert: identik dengan kelompok yang beragama Kristen). Oleh sebab itu sikap “netral” atau “netralitas” benar-benar harus dilaksanakan dari Satgas tersebut.

Tugas dilaksanakan sejak bulan Nopember 2000 sampai dengan September 2001, yang sebelumnya dilaksanakan latihan pratugas selama 2 minggu di Brigif 2 Marinir Jakarta dan Grup I Kopassus Serang. Perwira lain dari Paskhas yang ikut dalam tugas ini antara lain Lettu Psk Nevy Hutagalung (465, menjadi Kapten saat penugasan), Lettu Psk F.X. Wisnu Mudiantoro (461, Kapten saat penugasan), Lettu Psk Agung (462), Lettu Psk Komang (462) dan Lettu Psk Hadi S. (465).
Tugas di wilayah tersebut juga dilaksanakan oleh Yon Gab I TNI dan Satuan Gabungan Intelijen (SGI) beserta satuan-satuan lain dari jajaran TNI maupun dari Polri (Brimob) yang ditugaskan mendahului Yon Gab II TNI. Sehingga beberapa waktu lamanya (kurang lebih 5 bulan) tugas bersama-sama dengan Yon Gab I TNI dan SGI. Salah satu Perwira Paskhas yang tergabung dalam Yon Gab I TNI adalah Mayor Psk Lintong S. Siregar (sebagai Kasi II/Operasi Yon Gab II TNI) yang sekarang menjabat sebagai Komandan Skadron 461 Paskhas (sejak 2000 – sekarang/2003), yang sebelumnya bertugas di Mako Korpaskhas Bandung.

Baca juga:  Workshop Yasarini Ditutup

Selain tugas-tugas yang telah disebutkan di atas, Skadron 461 Paskhas juga mengemban tugas-tugas lain seperti pengabdian pada masyarakat yang tergabung dalam tugas-tugas TNI Masuk Desa (TMD; dulu terkenal dengan sebutan ABRI Masuk Desa/AMD) di berbagai daerah dari waktu ke waktu sejak satuan ini berdiri, membantu evakuasi korban banjir yang terjadi di beberapa lokasi di Jakarta (2001), membantu masyarakat dalam kebersihan pasca banjir (2001) dan sebagian anggota yang tergabung dalam Tim SAR membantu menolong evakuasi korban-korban bencana alam seperti meletusnya gunung Galungung (1982), gempa bumi di Liwa Lampung (1994), dan lain-lain.

Satuan ini juga ikut aktif dalam tugas-tugas pengamanan yang bersifat esidentil seperti pengamanan
pangkalan udara Singkawang II Kalimantan Barat dan sekitarnya dengan adanya kerusuhan yang disebabkan terjadinya konflik antar etnis setempat (Dayak) dengan etnis pendatang (Madura), dimana saat itu etnis pendatang tersebut sebagian diamankan di dalam kompleks pangkalan udara Singkawang II yang saat itu anggota dari Skadron 461 Paskhas sebanyak 1 Kompi di tugaskan di sana dan dipimpin oleh Lettu Psk Novlamirsyah, pengamanan pangkalan udara Timika dan PT. Freeport Indonesia Corporation (FIC) yang dipimpin oleh Letda Psk Wahyu Hidayat (1997) dan Letda Psk Samikun (1999), pengamanan dalam rangka pelaksanaaan Pemilihan Umum (1997), pengamanan Ibu Kota bersama-sama satuan lain dari jajaran TNI yang tergabung dalam unsur Pengamanan Tidak Langsung (Pamtaksung) membantu pihak Polri saat kerusuhan Mei 1997, awal dari era Reformasi yang saat itu banyak terjadi demontrasi dan pembakaran pusat-pusat pembelanjaan dan lain-lain.

Itulah tugas-tugas yang selama ini telah diemban oleh Skadron 461 Paskhas. Tugas-tugas itu telah dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Sejalan dengan perjalanan waktu, tentu masih banyak lagi tugas-tugas yang akan datang yang akan diemban satuan ini yang belum dapat dicantumkan dalam buku ini (saat penulisan buku ini bulan Pebruari 2003). Semoga tugas-tugas yang akan datang dapat dilaksanakan lebih baik lagi, lebih berhasil dan dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Disamping itu, tugas-tugas tersebut dapat dilaksanakan secara professional dan prajurit-prajuritnya tetap dalam keadaan sehat dan selamat sampai selesainya penugasan.

Selamat Jalan Pahlawanku

Seiring dengan bergulirnya roda sejarah perjalanan dan tugas-tugas yang diemban oleh Skadron 461 Paskhas sebagai salah satu unsur tempur TNI AU, rasa suka/gembira dan duka/sedih juga silih berganti mengiringi dan dirasakan dalam kalbu para prajurit beserta keluarganya. Rasa suka atau gembira datang dikala mendapat keberhasilan dalam tugas dan pulang dengan selamat serta mendapatkan prestasi-prestasi lainnya. Rasa Suka juga dapat dirasakan oleh para prajurit dan keluarga serta satuan dikala kembali tugas dalam keadaan sehat dan selamat. Anak, istri, keluarga dan satuan akan menyambut dengan gembira setelah sekian waktu berpisah dapat berkumpul kembali di satuan dan di keluarga masing-masing (bagi yang telah berkeluarga/kawin), bagi yang belum kawin gembira dapat bertemu lagi dengan teman-temannya para prajurit lain di barak serta mungkin akan gembira bertemu dengan calon istri dan lain-lain.

Rasa kegembiraan itu di saat-saat tertentu dapat berubah menjadi rasa duka atau kesedihan yang mendalam dikala ada di antara prajurit yang gugur saat bertugas. Sang anak, istri, keluarga, satuan, Korps bahkan bangsa dan negara ikut merasakan duka dan kehilangan atas gugurnya prajurit tersebut. Dapat dibayangkan rasa duka sang anak, istri atau keluarga serta satuan dan Korps yang menyambut kedatangan prajurit itu kembali sudah dalam keadaan jenazah. Itupun masih dapat bertemu jika dapat dibawa kembali, karena ada yang gugur langsung dikebumikan di tempat tugas bahkan ada yang hilang tidak diketemukan jenazahnya karena keadaan medan tugas yang kadang membuat hal tersebut dapat terjadi.

Sebagai keluarga prajurit memang sudah menyadari sejak awal akan resiko yang harus diterima jika prajurit tersebut harus bertugas dalam berbagai penugasan. Tetapi sebagai insan manusia biasa, sangatlah wajar jika sang anak, istri, keluarga dan satuan kehilangan orang-orang yang disayanginya.

“Selamat jalan pahlawanku….” Itulah kata-kata terakhir yang dapat diberikan jika mengantar jenazah prajurit untuk dikebumikan diiringi do’a tulus “Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa dapat menerima arwahmu di sisi-Nya, Amin”. Prajurit gugur sebagai bunga bangsa : “Perjuangan dan pengabdianmu akan kami teruskan” begitulah kata-kata yang berbisik dalam hati sanubari prajurit-prajurit dan generasi penerusnya.

Sebenarnya jika direnungkan lebih mendalam, ternyata dibalik rasa duka itu terbersit rasa bangga yang tiada kira terhadap Sang Pahlawan yangtelah gugur dalam medan tugas. “Dia prajurit sejati, yang telah membuktikan Dharma Bhaktinya kepada bangsa dan negara walaupun sampai tetes darah yang penghabisan, walaupun jiwanya harus ia serahkan”. Dan rasa duka akan berangsur hilang dikala menyadari bahwa semua itu Tuhanlah yang Maha Tahu dan yang Maha Kuasa mengatur dan menghendaki semua itu, “Ajal di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa”.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel