Berita Kotama

Riwayatmu Doeloe (halaman 1)

Dibaca: 701 Oleh 12 Feb 2010Tidak ada komentar
21722ef118dabb8b34f8ca385dddf40d
#TNIAU 

PERJALANAN HIDUP SANG BAPAK PENERBANG

Di Jalan Kemuning No. 26 Salatiga, tinggallah sepasang suami istri, yaitu Roewidodarmo dan isteri tercintanya Latifatun.
Pada tahun 1913 Roewidodarmo muda diangkat menjadi guru di Kota Salatiga, setelah menamatkan pendidikannya di Semarang. Setahun kemudian menikah dengan Raden Nganten Latifatun.Sifat dan kepribadian Roewidodarmo yang tenang, tekun, dan selalu ingin maju, ternyata menurun kepada putera-puteranya di kemudian hari.
 
Ketekunannya itu nampak jelas tatkala sedang mengikuti ujian akhir untuk mendapatkan akte Bahasa Belanda di Semarang tahun 1916. Di saat itulah putra pertamanya lahir, yang kemudian terkenal dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Dia tidak lain adalah Adisutjipto, yang mempunyai arti “cita-cita yang luhur”. Keluarga Roewidodarmo nampak cukup berbahagia. Baliau dianugerahi lima orang putera. Seperti pandawa lima saja layaknya, karena terdiri dari laki-laki semua. Setelah Adisutjipto lahir, anak kedua adalah J. Soegondho yang telah menjadi dokter, kemudian Ignatius Adisuyoso yang kini bertugas sebagai karyawan bank. Putera keempat bernama A. Daryono pernah menjadi anak didik Adisutjipto sendiri, bekerja pada Mandala Airlines. Sedang si bungsu J. Soedewo juga bekas penerbang, bertugas pada Direktorat Perhubungan Udara.
 
Lebih jauh tentang riwayat hidup dan perjuangan Agustinus Adisutjipto, ia dilahirkan pada tanggal 3 Juli 1916 di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Pendidikan pertama dialami di Sekolah Dasar Belanda, yaitu di HIS Katholik Muntilan. Ayahnya berharap di samping mendapatkan pendidikan umum, juga pendidikan keagamaan. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa Pak Roewidodarmo tidak hanya mementingkan soal kecerdasan pendidikan umum saja, tetapi segi kerohanian juga tidak diabaikan.

Riwayatmu Doeloe (halaman 1)

Bapak Penerbang Republik Indonesia

Ketika melanjutkan ke tingkat SMP (waktu itu bernama MULO), Adisutjipto satu kelas dan satu asrama dengan adiknya J. Soegondho. Sebab waktu di Sekolah Dasar, Soegondho duduk di Europese Lagere School, tanpa memasuki kelas pendahuluan.

Pada saat itu untuk memasuki MULO saja, bagi anak-anak Indonesia dari golongan awam betapa sulitnya. Kedua kakak beradik ini memasuki MULO St. Louis di Ambarawa, yang mengharuskan murid-muridnya tinggal di asrama. Di sana kebanyakan muridnya adalah anak-anak Belanda, Indo dan juga Cina. Adapun anak-anak pribumi hanya kurang lebih sepuluh orang saja.
 
Tentang putera sulungnya ini, Roewido menjelaskan, bahwa sejak kecil Adisutjipto memang cerdas, tekun dan tubuhnya atletis. Lebih-lebih ketika sudah di MULO kepandaiannya menonjol sekali. Oleh karena itu Direktur sekolah menganjurkan kepada Roewido agar kedua puteranya meneruskan pelajarannya ke sekolah kedokteran. Karena waktu itu untuk masuk sekolah kedokteran dari MULO diperbolehkan. Tetapi setelah tamat MULO Adisutjipto sendiri menolak, sehingga ayahnya memasukkan ke AMS (kini SMA) di Semarang. Sedangkan adiknya meneruskan ke Nederlandsch Indisch Artsen School.
 
Kegemaran Adisutjipto sejak kecil di bidang olah raga adalah mendaki gunung, main sepak bola dan catur. Dalam permainan catur ini, sekali peristiwa ia pernah mengalahkan jago catur dari Salatiga.

Masa Muda

Setelah menamatkan pendidikan AMS pada tahun 1936, Adisutjipto suatu hari ditanya ayahnya.
“Ingin melanjutkan ke sekolah mana kau setelah ini, nak?”
“Sekolah ke Breda!”, jawabnya singkat dan tegas.
Ayahnya terkejut sekali atas jawaban puteranya itu. Maka ia menjawab.
 
“Bagaimana mungkin, anak inlander masuk sekolah di Breda. Sedangkan anak seorang Bupati saja tidak dapat. Apalagi ayahmu ini hanya seorang penilik sekolah. Tahukah kamu, hanya putera Sultan atau Susuhunan saja yang dapat diterima di sana!”.

Mereka terdiam sejenak, hati kecil ayahnya menyadari tingginya cita-cita dan kekerasan hati anaknya itu. Tetapi Roewido sendiri sebenarnya menghendaki puteranya menjadi dokter. Sebab ia berpendapat, bahwa seorang dokter juga dapat menyumbangkan dharma bhaktinya kepada tanah air dan bangsa. Apalagi waktu itu, dokter di Indonesia masih sangat sedikit. Lebih-lebih dokter bangsa Indonesia.
 
Suatu saat keinginan Adisutjipto untuk melanjutkan pelajarannya ke Militaire Luchtvaart di Breda, didengar oleh seorang pangeran dari Surakarta, kawan dekat ayahnya. Pangeran tersebut bersedia menjadi ayah angkatnya dan menanggung biaya sekolah di Breda, asal saja setelah lulus bersedia menjadi menantunya. Betapapun hal itu merupakan itikad baik pangeran dan bantuannya yang amat berharga merupakan kesempatan yang baik, namun pada akhirnya hal itu tidak berkenan di hati Adisutjipto. Dengan tegas tapi penuh hormat ia menjawab :
“Terima kasih atas kebaikan Pangeran, tetapi sungguh saya tidak mau menyusahkan hati orang lain”.
 
Dengan demikian, maka cita-cita untuk sekolah di Breda gagal. Tidak ada pilihan lain, kecuali mengikuti dan menuruti kehendak orang tuanya, melanjutkan ke Sekolah kedokteran (Geneeskundige Hoge School) di Jakarta.
Tetapi karena minat dan cita-citanya memang tidak di bidang kedokteran, maka selama dua tahun mengikuti kuliah dirasakannnya tidak ada kemajuan. Bahkan setiap kali tentamen selalu mengulang.
 
Suatu kebetulan baginya, ketika mengikuti kuliah di GHS itu, yang menjadi asisten dokter dalam mata kuliah Ilmu Faal adalah Prof. Dr. Abdurrachman Saleh. Kemudian antara keduanya terjalinlah hubungan yang akhrab. Oleh Dr. Abdurrachman Saleh, ia mendapar informasi yang penting untuk memasuki Sekolah Penerbangan. Segera ia mengikuti latihan tes dan psiko-tes yang diberikan sendiri oleh Dr. Abdurrachman Saleh di lapangan terbang Cililitan, sekarang terkenal dengan Lanud Halim Perdanakusuma.
 
Adapun pendidikan penerbangan di jaman kolonial dimulai sejak terbentuknya penerbangan militer Hindia Belanda, pada tanggal 30 Mei 1914, bernama Proef Vliegafdeling (PVA) atau Bagian Terbang Percobaan. Namun kebijaksanaan yang diambil oleh pimpinan KNIL masih sangat terbatas. Bagi mereka bidang pertahanan udara hanya sebagai pelengkap, tidak sebagaimana posisi angkatan yang lain.
 
Bagi pemuda-pemuda Indonesia, pemerintah Hindia Belanda baru pada tahun 1937 memberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan penerbangan dengan syarat yang sangat berat. Calon siswanya harus keluaran Akademi Militer di Breda Negeri Belanda, kemudian dididik selama kurang lebih satu setengah tahun. Oleh sebab itulah, mengapa Agustinus Adisutjipto bersikeras ingin melanjutkan sekolahnya ke Breda setelah lulus pendidikannya dari AMS.
 
Jadi masuknya Adisutjipto ke sekolah kedokteran di Jakarta semata-mata untuk melegakan hati dan menghormati orang tuanya. Namun ketika kota Semarang dan Bandung dibuka Sekolah Penerbangan Militaire Luchtvaart School, Adisutjipto segera mengajukan lamarannya tanpa setahu orang tuanya. Tetapi karena lamarannya tidak disertai surat persetujuan dari orang tua, ia terpaksa ditolak walaupun dalam ujian masuk telah lulus testingnya.
 
Didorong oleh ketabahan, keuletan, serta sikap pantang menyerah dalam setiap cita-cita yang diinginkannya, maka Adisutjipto mengajukan lamaran kembali pada tahun berikutnya. Kali ini ia mengirimkan tembusan kepada Residen di Semarang dan Asisten Residen di Salatiga. Seterimanya surat tembusan itu, Asisten Residen yang dikenal baik oleh ayahnya tadi, segera memanggil Roewido. Dalam pertemuan itu barulah sang ayah menyakini, bahwa puteranya benar-benar tidak mau mundur dari cita-citanya itu.
 
Atas permintaan Asisten Residen dan demi kebahagiaan serta kemajuan putera sulungnya itu, akhirnya sang ayah mengizinkan juga. Segera ditandatanganilah surat pernyataan setuju, untuk melengkapi surat lamaran Adisutjipto ke Sekolah Penerbangan di Bandung.
 
Dan memang ternyata, sekolah yang dicita-citakan sejak semula itu dibuktikan dengan prestasi belajarnya yang gemilang. Sambujo Hurip yang lebih dahulu setahun belajar di sana, ternyata lulusnya sama-sama dengan Adisutjipto. Pendidikan yang harus dijalani selama tiga tahun, mampu diselesaikan dalam tempo dua tahun saja dan hasilnya sangat memuaskan.
 
Setelah menamatkan pendidikannya, Adisutjipto kemudian diberi kebebasan untuk memilih tempat di mana ia mau bertugas. Demikianlah untuk pertama kalinya ia bertugas di Skadron Pengintai di Jawa, dengan pangkat Letnan Muda Penerbang.
 
Dari kawan seangkatannya selain Sambujo Hurip, terdapat pula nama-nama Sulityo, H. Suyono serta enam orang lagi. Kesepuluh siswa penerbang putera Indonesia tersebut telah berhasil mencapai tingkatan Letnan Muda Penerbang jangka pendek. Tetapi karena masih ketatnya diskriminasi antara siswa penerbang kulit putih dan kulit berwarna, maka dari sepuluh siswa putera Indonesia hanya lima orang yang lulus untuk mendapatkan kleine militaire brevet.
 
Selanjutnya dari lima orang siswa tersebut hanya dua orang saja yang lulus dan berhasil memperoleh Groot Militaire Brevet yaitu Adisutjipto dan Sambujo Hurip. Bahkan Adisutjipto berhasil memperoleh observer brevet.
 
Sungguh memang briliant penerbang kita yang satu ini. Ia benar-benar sukses dalam cita-citanya yang didambakan sejak semula. Karena kecakapannya yang begitu menonjol, Adisutjipto kemudian diangkat sebagai pembantu utama Kapten Clason, seorang pejabat penting dalam Militaire Luchtvaart, dan sekaligus diangkat menjadi Sekretaris Militaire Luchtvaart untuk seluruh wilayah Hindia Belanda.
 
Ketika Perang Dunia II meletus, Adisutjipto saat itu tengah bertugas di daerah Tuban dalam garis pertahanan udara, sampai menjelang masuknya Jepang ke Indonesia.
 
Jadi jelas, bahwa Adisutjipto benar-benar seorang penerbang dan militer yang berbobot. Sebab jika tidak, maka tidak mungkin akan diberikan kepercayaan sedemikian besarnya oleh pihak Pemerintah Hindia Belanda dengan jabatan yang berat dan penuh resiko.

Menjelang K
ekalahan Belanda oleh Jepang

Pihak Belanda di Indonesia yang semula kurang yakin, pentingnya unsur kekuatan udara untuk mempertahankan daerah jajahannya yang demikian luas, akhirnya harus merubah pendiriannya setelah Perang Dunia I usai. Barulah sejak itu penerbangan militer mendapatkan perhatian serius, terutama untuk menghadapi kemungkinan peperangan selanjutnya. Proef Vliegafdeling yang didirikan tanggal 30 Mei 1914 segera dikonsolidasikan dan beberapa pesawat baru pun dibeli untuk memperkuat armada yang ada.
 
Namun sampai beberapa tahun kemudian, Pemerintah Hindia Belanda masih merasakan kurangnya pesawat, tenaga penerbang, dan teknisi lainnya. Terutama setelah situasi kemelut di Eropa kembali memuncak begitu cepat yang tentunya membawa pengaruh buruk di Asia. Karenanya pihak Militaire Luchtvaart – KNIL di Indonesia, makin mempersiapkan diri sekuat mungkin dalam menghadapi ancaman

Jepang. Lalu diadakanlah suatu mobilisasi, pengerahan dari kalangan korps penerbang sukarela.

Sementara itu pergerakan di Indonesia menunjukkan suhu politik yang meningkat. Sejak bulan mei 1939, atas inisiatif Perindra telah didirikan badan federasi organisasi politik yang diberi nama Gabungan Politik Indonesia (GAPI).
 
Demikianlah, di saat Pemerintah Hindia Belanda sibuk dengan usaha-usaha pertahanan menghadapi Jepang dan gerakan-gerakan politik di Indonesia, di Negeri Belanda sendiri, keluarga kerajaan telah mengungsi ke Inggris. Hari itu tanggal 10 Mei 1940, pada permulaan Perang Dunia II tentara Nazi Jerman telah menyerbu Belanda. Akibatnya pemerintahan Belanda melarikan diri ke London bergabung dengan Sekutu sebagai pemerintah dalam pengasingan.
 
Di pihak lain, pecah Perang Pasifik setelah Jepang menyerang Pearl Harbour (Teluk Mutiara), pangkalan Armada Amerika di Samudera Pasifik. Sebagai sekutu, Belanda menyatakan perang terhadap Jepang.
 
Tetapi di luar perhitungan pihak sekutu ternyata daerah jajahannya di daratan Asia menjadi sasaran yang empuk bagi Jepang. Satu demi satu daerah kekuasaan Barat dan pertahanan Sekutu di Asia hancur oleh kekuatan militer Jepang itu. Apalagi setelah benteng Inggris di Singapura jatuh, maka kedudukan Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia makin terjepit, sehingga tidak mungkin lagi untuk dipertahankan.
 
Pada permulaan Maret 1942 pasukan Jepang mulai mendarat di Indonesia. Meskipun dari pihak angkatan darat dan armada laut Belanda di pulau Jawa mengadakan perlawanan sengit, namun Belanda akhirnya harus menyerah kalah kepada kekuatan Jepang yang berlipat ganda itu. Belanda dipaksa menyerah tanpa syarat pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati di dekat Bandung. Gubernur Jenderal Belanda terakhir di Indonesia Tjarda van Starkenborg Stachouwer harus menerima nasib sebagai tawanan perang. Sedangkan sebagian besar pejabat-pejabat tinggi Belanda telah lebih dahulu melarikan diri ke Aurtalia.
 
Dalam keadaan demikian inilah, rakyat Indonesia berada di persimpangan jalan. Sebab kita dihadapkan kepada dua front kekuatan musuh, yaitu Sekutu dan juga Jepang. Dengan jatuhnya kekuasaan Belanda atas Indonesia, maka praktis kini kekuasaan beralih ke tangan pendudukan Jepang. Padahal selama sepuluh tahun terakhir kekuasaan Belanda di Indonesia, pemimpin-pemimpin Indonesia dari golongan moderat telah menghimbau pemerintah Hindia Belanda agar memberikan latihan militer kepada putera-putera Inddonesia, untuk membela tanah airnya dalam keadaan perang. Tetapi usul tersebut tidak mendapat tanggapan, karena mungkin dikhawatirkan akan menjadi senjata makan tuan.
 
Situasi internasional terutama di daerah Pasifik, menunjukkan kegiatan meningkat. Di samping itu keadaan sosial keuangan akibat malapetaka Wallstreet di tahun 1929, juga ikut mempengaruhi. Untuk mencegah keadaan yang makin parah, maka jalan yang ditempuh oleh Pemerintah Belanda adalah menangkapi pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang menuntut kemerdekaan. Namun tindakan tersebut tidak juga meredakan kemelut di negeri ini, malahan organisasi gerakan nasional makin meningkatkan aksi-aksi politiknya. Dan dari luar, Jepang merupakan ancaman bagi Pemerintah Hindia Belanda.
 
Keadaan dalam negeri yang sudah rapuh itu, tidak didukung oleh pertahanan militer yang mantab. Segala sesuatunya dipersiapkan dengan terburu-buru, maka wajarlah kekalahan total tidak dapat dihindarkan lagi.
 
Dalam masa pendudukan Jepang, semua bekas penerbang KNIL dibebaskan dari tugasnya masing-masing dan kembali menjadi rakyat biasa, termasuk Adisutjipto. Oleh karena itu ia kembali ke rumah orang tuanya di Salatiga.
 
Selama jaman pendudukan Jepang, kemajuan bagi bangsa Indonesia dalam bidang penerbangan hampir dikatakan tidak ada, sebab semua penerbang bangsa Indonesia tidak lagi diperlukan. Jepang telah mempunyai angkatan udaranya sendiri yang tangguh. Bahkan di dalam angkatan darat dan angkatan laut pun memiliki armada udara masing-masing yaitu Rikugun Koku Butai untuk angkatan darat dan Kaigun Koku Butai untuk angkatan lautnya.
 
Setelah menganggur beberapa waktu, Agustinus Adisutjipto memperoleh pekerjaan sebagai juru tulis di perusahaan angkutan bis “Jidosya Jumukyoku” yang dikuasai oleh Jepang. Walaupun ia bekerja di perusahaan Jepang itu, namun jiwa dan sikapnya tetap tegas, disiplin dan kritis. Dengan demikian ia tetap disegani baik kawan-kawannya maupun oleh pihak Jepang sendiri, sehingga ia diangkat menjadi wakil pimpinan perusahaan itu.
 
Sementara itu, pada kesempatan yang luang selalu dipergunakan untuk membina watak dan menanamkan rasa kebangsaan terhadap kawan-kawannya. Suatu hari Adisutjipto dipanggil oleh pimpinan perusahaan itu dengan maksud agar ia mau memihak kepada Jepang, namun pendiriannya tetap tak tergoyahkan akan bujukan itu.
 
Ketika Walikota Salatiga mengatakan kepadanya, bahwa Jepang akan menyekolahkan pemuda-pemuda Indonesia ke Tokyo, Adisutjipto tidak menanggapinya. Menurut keyakinannya, Jepang tidak akan bertahan lama lagi, sebab bahan persediaan makanan maupun lainnya sudah tidak memungkinkan lagi untuk lebih lama berperang.
 
“Saya mengetahui hal itu, karena setiap malam saya selalu mengikuti berita radio dengan pemancar gelap”, tegasnya.
Menurut keterangan ayahandanya, di rumahnya memang dibuat pemancar gelap untuk menangkap berita radio dari Sekutu dalam bahasa Inggris.
 
Adisutjipto memang fasih berbahasa Inggris, di samping bahasa Jerman dan Belanda. Oleh karena itu Adisutjipto sempat menjadi juru bahasa di Semarang, ketika diadakan perjanjian antara Jepang dengan sekutu, setelah tentara Dai Nippon kalah.
 
Dalam setiap pembicaraan dengan pihak Jepang pun, Adisutjipto selalu meminta mempergunakan bahasa Inggris, karena ia sendiri belum menguasai bahasa Jepang. Dan nyatanya orang Jepang itu mau mengikuti keinginan Adisutjipto. Padahal jarang orang yang berani menyatakan kehendaknya saat itu dengan penguasa yang cukup ditakuti itu.
 
Suatu peristiwa lagi. Suatu ketika Sudarjo, Walikota Salatiga ditawan Kenpetai, gara-gara ia tidak dapat memenuhi target yang diminta penguasa Jepang untuk mengumpulkan dana berupa emas bagi peperangan Asia Timur Raya. Mendengar hal itu Adisutjipto segera berpesan kepada ayahnya, untuk menghubungi penguasa Jepang dan minta segera dibebaskan. Ternyata dengan mudah saja Sudarjo dibebaskan lagi. Demikian pula halnya dengan Wedana Salatiga Suyitman.
 
Dari uraian di atas, secara singkat dapat diambil satu gambaran tentang kepribadian Adisutjipto yang cukup berpengaruh di kalangan penguasa Jepang. Demikian pula halnya dalam pergaulan hidup, serta kemampuan membina kawan-kawan seperjuangannya.

Awal tahun 1945 kedudukan Jepang mulai terdesak dalam setiap medan perangnya, ketika itu barulah pemerintah Jepang menaruh perhatian atas cita-cita Bangsa Indonesia. Maka dibentuklah suatu badan bernama Badan untuk Menyelidiki Usaha-usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia atau disebut Badan Penyelidik. Setelah itu dibentuk pula Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
 
Tetapi sejak bom atom tentara Sekutu dijatuhkan d
i atas kota Hiroshima dan Nagasaki, keruntuhan Jepang atas negara-negara Asia tidak dapat dielakkan lagi. Bahkan pada tanggaal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu. Namun dua hari kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.
 
Tiga bulan sebelum terjadinya penyerahan Jepang kepada Sekutu, Agustinus Adisutjipto sempat melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis bernama S. Rahayu. Wanita yang berbahagia menjadi istrinya itu, sesungguhnya masih keluarga dekat dan satu keturunan. Masih terngiang ucapan suaminya tercinta pada saat perkawinan itu; “Jadi seorang isteri pilot hendaknya engkau harus tabah dan sabar. Karena seorang pilot pada saat perjuangan ini sangat dibutuhkan negara”. Beliau menikah di saat perjuangan merebut kemerdekaan tengah memuncak, yakni tanggal 3 juni 1945.

Perjuangan A Adisutjipto

Ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang, Adisutjipto mengetahui langsung dari pemancar radionya. Berita tersebut kemudian disampaikan kepada ayahnya, yang segera meminta anaknya itu bertindak cepat karena telah tiba waktunya. Tetapi Adisutjipto justru sudah menyusun kekuatan, saat menjelang detik-detik proklamasi itu. Ia telah aktif menghimpun pemuda-pemuda dari Salatiga dan Ambarawa, untuk latihan militer yang kemudian tergabung dalam BKR. Semuanya ini nyatanya telah dipersiapkan dengan matang, kendatipun proklamasi belum kepastiannya saat itu.

Maka ketika Proklamasi Kemerdekaan didengungkan oleh pemimpin bangsa Indonesia Soekarno-Hatta, Adisutjipto bersama-sama teman sekerjanya serta pemuda-pemuda Salatiga mulai bergerak merebut kantor Jidosnya Jumukyoku tempat ia bekerja. Kemudian mereka menerunkan bendera Hinomaru dan menggantikannya dengan Sang Saka Merah Putih.
 
Berkat usahanya bersama barisan Pemuda, maka Gubernur Jawa tengah Wongsonegoro yang berkedudukan di Semarang dapat ditemui di daerah pelariannya di Ungaran. Atas anjuran Adisutjipto, Gubernur kembali masuk ke Kota Semarang untuk mengadakan perundingan dengan pihak sekutu. Kali inipun beliau menjadi juru bahasa dalam perundingan.
 
Sedang sibuk-sibuknya mengatur siasat pertahanan di kota Salatiga, datanglah kawan lamanya di Militaire Luchtvaart dulu Tarsono Rujito yang telah berpangkat Mayor TKR. Ia merupakan utusan khusus Suryadarma untuk mengajak Adisutjipto mendirikan TKR- Jawatan Penerbangan di Yogyakarta. Tentu saja ajakan itu tidak disia-siakan, karena sesuai dengan profesi dan keinginannya selama ini.
 
Sementara itu para pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat mulai mengadakan serangan ke lapangan terbang, dan berhasil merebut serta menguasainya. Namun mereka hanya mendapatkan pesawat-pesawat terbang peninggalan Jepang yang telah rusak.
 
Adisutjipto setelah memenuhi panggilan Kepala Markas Tertinggi Jawatan Penerbangan di Yogyakarta, segera langsung terjun memperbaiki pesawat-pesawat bekas Dai Nippon itu. Walaupun tugas itu cukup berat mengingat keadaan yang sangat darurat, kurangnya biaya, dan tenaga ahli, namun dengan penuh keyakinan dan semangat juang, bersama kawan-kawannya ia dapat mengatasi segala kesulitan itu. Di lapangan udara Maguwo, pihak Jepang meninggalkan kurang lebih 50 buah pesawat dengan berbagai jenis.

Beberapa saat kemudian lapangan terbang Kalibanteng di Semarang juga telah dapat direbut dari pihak musuh. Hampir semua pesawat yang ditinggalkan oleh Jepang tidak ada yang utuh dan tidak dapat segera dipakai. Maka dengan bekerja keras tanpa kenal lelah, akhirnya dapat memperbaiki beberapa pesawat dari tipe Nishikoren, Cureng, dan Cukiu, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai modal utama dalam perjuangan membela tanah air.
 
Hasil jerih payah Adisutjipto bersama kawan-kawannya itu, ternyata tidaklah sia-sia, karena sebuah pesawat Cukiu dapat diterbangkan oleh rekannya bernama Pantoh. Karena Adisutjipto sendiri berhasil menerbangkan Cureng di atas Kota Yogyakarta dengan tanda Merah Putih di badan pesawat itu. Berikutnya bersama Tarsono Rujito, kembali Adisutjipto berhasil memperbaiki tipe Nishikoren. Pesawat itu kemudian diberi nama “Banteng”
 
Dengan modal pesawat-pesawat yang telah direparasi itulah, maka di awal tahun 1946 Bagian Teknik Udara mulai mendidik dan melatih calon-calon penerbang. Adisutjipto ditunjuk sebagai instruktur, sedangkan kadetnya yang pertama adalah Iswahyudi dan Imam Wiryosaputro. Secara kilat dalam tempo tiga minggu saja, keduanya telah mampu mengadakan penerbangan solo. Saat itu telah berhasil diperbaiki sebanyak 27 pesawat tipe Cureng bersayap dua. Sedang sebulan kemudian pesawat bersayap satu Cukiu berhasil didaratkan di Maguwo dari Malang oleh Adisutjipto pula.
 
Dapatlah dibayangkan betapa dibutuhkannya tenaga Adisutjipto oleh negara, yang sedang berusaha mempertahankan kemerdekaan saat itu. Oleh karena itu isterinya menyadari, bahwa ia harus dapat menyesuaikan diri dengan tugas suaminya. Walaupun hati kecilnya terasa berat, apalagi sebagai pasangan suami isteri yang masih baru dan sering ditinggal sendiri. Sang suami hampir tidak mengenal waktu istirahat, hingga seringkali setiap hari Minggu tidak sempat mengikuti kebaktian di gereja, karena mementingkan tugas negara. Namun begitu Adisutjipto termasuk seorang pemeluk agama Katholik yang taat. Kitab Injil tidak pernah lepas dari sakunya.
 
Pada tanggal 9 April 1946 dengan keluarnya penertapan pemerintah No. 6 / SD / 1946 yang menetapkan merubah TKR – Jawatan Penerbangan menjadi TRI- Angkatan Udara, Adisutjipto diangkat sebagai Wakil Kepala Staf dengan pangkat Komodor Muda Udara, bersama R. Sukarnen Mertodisumo yang berpangkat Komodor Udara. Sedangkan Komodor Udara R. Suryadarma dikukuhkan sebagai Kepala Stafnya.
 
Sebelum ini, Suryadarma telah memperjuangkan dengan tiada jemu-jemunya agar Angkatan Udara menjadi Angkatan Perang RI yang sederajat dengan Angkatan lainnya, seperti lazimnya di negara-negara Barat yang telah maju dalam bidang angkatan udara.
Oleh karena itu tepatlah kiranya Penetapan Pemerintah tersebut, mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara kepulauan, di mana unsur angkatan udara dan angkatan laut memegang peranan penting.
 
Pada tanggal 21 sampai 26 Mei 1946 diadakan latihan penerbangan formasi. Dalam latihan tersebut dipergunakan pesawat Cureng dengan instruktur Iswahyudi dan Wiryosaputro, sedangkan Adisutjipto sebagai instruktur pesawat Cukiu. Agustinius Adisutjipto turut serta dalam Hari Penerbangan pada upacara peresmian lapangan terbang Cibeureum Tasikmalaya pada tanggal 10 Juni 1946. Bersama penerbang-penerbang lainnya dari Maguwo, mereka menggunakan lima pesawat tipe Cureng.
 
Kemudian tepat setahun sebelum Adisutjipto gugur, beliau telah mengadakan penerbangan ulangan percobaan pesawat Guntai bersama Atmo Ali. Dari hasil percobaan itu, olehnya dipandang siap dengan perbaikan-perbaikan pada bagian motor dan badan pesawat. Pada tanggal 5 Agustus 1946 dengan pesawat yang diberi nama Diponegoro I, Adisutjipto menerbangkannya dari Malang ke Maguwo dengan selamat. Tetapi dalam percobaan selanjutnya mengalami kerusakan hebat sehingga tidak dapat dipakai lagi. Pesawat Diponegoro I ini adalah jenis pembom.
 
Begitu pula halnya dengan pesawat jenis Cukiu dan Cureng mengalami kerusakan lagi karena kecelakaan. Nampaknya kondisi teknis pesawat memang sangat memprihatinkan dunia penerbangan kita saat itu, sementara suku cadangnya pun sulit didapat.
 
Pada suatu ketika, pesawat yang dikemudikan Adisujtipto mengalami kecelakaan yang fatal. Pesawat itu menabrak sebatang pohon kelapa dan karena kecepatan terbang yang cukup tinggi akhirnya jatuh dengan posisi terbalik. Saat itu Adisutjipto dapat menyelamatkan diri, tetapi kawannya Tarsono Rudjito terlempar keluar, sehingga tulang punggungnya patah dan menyebabkan kematiannya. Tarsono Rudjito merupakan korban pertama dari Angkatan Udara Republik Indonesia dalam menjalankan tugasnya. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Salatiga pada tanggal 13 September 1946.
 
Selama sembilan hari
di bulan November Adisutjipto kembali mengadakan latihan pemboman di Maguwo bagian selatan bersama Komodor Suryadarma dengan pesawat Guntai. Disaat itulah 4 November 1946, isterinya melahirkan putera pertama seorang laki-laki. Puteranya itu kemudian diberi nama Franciscus Xaverius Adisutanto, dengan nama panggilan sehari-hari Tondy. Ternyata setelah Tondy berusia sembilan bulan, ia tidak pernah melihat ayahnya lagi. Putera tunggal almarhum ini, sekarang adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
 
Sebulan kemudian latihan pemboman dilanjutkan lagi di atas Laut Jawa. Kali ini Adisutjipto didampingi oleh Eddy Sastrawijaya, Kepala Bagian Persenjataan AURI. Demikian pula latihan terbang malam, semuanya berhasil dengan memuaskan.
 
Sementara latihan penerbangan militer terus dilakukan secara intensif, agar pertahanan udara nasional dapat lebih dimantabkan, maka dirintis pula jalur penerbangan sipil, sebagaimana yang telah digariskan pemerintah kepada Markas Tertinggi Jawatan Penerbangan. Dalam hubungan penerbangan sipil inilah, Adisutjipto berkenalan dengan Patnaik, seorang pengusaha India yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Perkenalan sejak Februari 1947 itu berlangsung singkat namun cepat menjadi intim.
 
Patnaik kemudian memberi izin kepada Adisutjipto dan Iswahyudi untuk belajar mengemudikan pesawat Dakota VT-CLA, miliknya sendiri. Namun rupanya sudah semestinya, bahwasanya pesawat milik orang India itu ikut tercatat dalam sejarah perjuangan Indonesia. Dalam suatu tragedi, pesawat Dakota itu ditembak Belanda sehingga menewaskan Adisutjipto dan Dr Abdurrahman Saleh beserta beberapa penumpang lainnya.
 
Demikianlah beberapa gambaran perjuangan Adisutjipto dalam mengemban tugas yang dipercayakan kepadanya. Dia bukanlah pemimpin yang hanya memerintah saja, melainkan seorang pemimpin yang penuh tanggung jawab. Betapa tidak! Pesawat yang sudah dapat diperbaiki, sebelum dipergunakan anak buahnya, dia sendiri yang mengadakan test penerbangan. Dia tanpa menghiraukan resiko yang berbahaya, tetap berusaha untuk mengembangkan dunia penerbangan di Indonesia.
 
Dan ternyata cita-citanya kemudian menjadi kenyataan. Beliau memiliki andil yang tak ternilai bagi pertumbuhan Angkatan Udara Republik Indonesia khususnya dan dunia penerbangan di Indonesia umumnya. Segala kemampuan dan daya yang dimilikinya telah dicurahkan demi negara dan bangsanya.

Baca juga:  Kenang Jasa Pahlawan, Keluarga Besar Lanud RHF Ziarah ke Makam Pahlawan

Halaman 2

Bapak Penerbang Republik Indonesia 

Ketika melanjutkan ke tingkat SMP (waktu itu bernama MULO), Adisutjipto satu kelas dan satu asrama dengan adiknya J. Soegondho. Sebab waktu di Sekolah Dasar, Soegondho duduk di Europese Lagere School, tanpa memasuki kelas pendahuluan.
 

Pada saat itu untuk memasuki MULO saja, bagi anak-anak Indonesia dari golongan awam betapa sulitnya. Kedua kakak beradik ini memasuki MULO St. Louis di Ambarawa, yang mengharuskan murid-muridnya tinggal di asrama. Di sana kebanyakan muridnya adalah anak-anak Belanda, Indo dan juga Cina. Adapun anak-anak pribumi hanya kurang lebih sepuluh orang saja.
 

Tentang putera sulungnya ini, Roewido menjelaskan, bahwa sejak kecil Adisutjipto memang cerdas, tekun dan tubuhnya atletis. Lebih-lebih ketika sudah di MULO kepandaiannya menonjol sekali. Oleh karena itu Direktur sekolah menganjurkan kepada Roewido agar kedua puteranya meneruskan pelajarannya ke sekolah kedokteran. Karena waktu itu untuk masuk sekolah kedokteran dari MULO diperbolehkan. Tetapi setelah tamat MULO Adisutjipto sendiri menolak, sehingga ayahnya memasukkan ke AMS (kini SMA) di Semarang. Sedangkan adiknya meneruskan ke Nederlandsch Indisch Artsen School.
 

Kegemaran Adisutjipto sejak kecil di bidang olah raga adalah mendaki gunung, main sepak bola dan catur. Dalam permainan catur ini, sekali peristiwa ia pernah mengalahkan jago catur dari Salatiga.

Masa Muda

Setelah menamatkan pendidikan AMS pada tahun 1936, Adisutjipto suatu hari ditanya ayahnya.
“Ingin melanjutkan ke sekolah mana kau setelah ini, nak?”
“Sekolah ke Breda!”, jawabnya singkat dan tegas.
Ayahnya terkejut sekali atas jawaban puteranya itu. Maka ia menjawab.
 

“Bagaimana mungkin, anak inlander masuk sekolah di Breda. Sedangkan anak seorang Bupati saja tidak dapat. Apalagi ayahmu ini hanya seorang penilik sekolah. Tahukah kamu, hanya putera Sultan atau Susuhunan saja yang dapat diterima di sana!”.
 

Mereka terdiam sejenak, hati kecil ayahnya menyadari tingginya cita-cita dan kekerasan hati anaknya itu. Tetapi Roewido sendiri sebenarnya menghendaki puteranya menjadi dokter. Sebab ia berpendapat, bahwa seorang dokter juga dapat menyumbangkan dharma bhaktinya kepada tanah air dan bangsa. Apalagi waktu itu, dokter di Indonesia masih sangat sedikit. Lebih-lebih dokter bangsa Indonesia.
 

Suatu saat keinginan Adisutjipto untuk melanjutkan pelajarannya ke Militaire Luchtvaart di Breda, didengar oleh seorang pangeran dari Surakarta, kawan dekat ayahnya. Pangeran tersebut bersedia menjadi ayah angkatnya dan menanggung biaya sekolah di Breda, asal saja setelah lulus bersedia menjadi menantunya. Betapapun hal itu merupakan itikad baik pangeran dan bantuannya yang amat berharga merupakan kesempatan yang baik, namun pada akhirnya hal itu tidak berkenan di hati Adisutjipto. Dengan tegas tapi penuh hormat ia menjawab :
“Terima kasih atas kebaikan Pangeran, tetapi sungguh saya tidak mau menyusahkan hati orang lain”.
 

Dengan demikian, maka cita-cita untuk sekolah di Breda gagal. Tidak ada pilihan lain, kecuali mengikuti dan menuruti kehendak orang tuanya, melanjutkan ke Sekolah kedokteran (Geneeskundige Hoge School) di Jakarta.
Tetapi karena minat dan cita-citanya memang tidak di bidang kedokteran, maka selama dua tahun mengikuti kuliah dirasakannnya tidak ada kemajuan. Bahkan setiap kali tentamen selalu mengulang.
 

Suatu kebetulan baginya, ketika mengikuti kuliah di GHS itu, yang menjadi asisten dokter dalam mata kuliah Ilmu Faal adalah Prof. Dr. Abdurrachman Saleh. Kemudian antara keduanya terjalinlah hubungan yang akhrab. Oleh Dr. Abdurrachman Saleh, ia mendapar informasi yang penting untuk memasuki Sekolah Penerbangan. Segera ia mengikuti latihan tes dan psiko-tes yang diberikan sendiri oleh Dr. Abdurrachman Saleh di lapangan terbang Cililitan, sekarang terkenal dengan Lanud Halim Perdanakusuma.
 

Adapun pendidikan penerbangan di jaman kolonial dimulai sejak terbentuknya penerbangan militer Hindia Belanda, pada tanggal 30 Mei 1914, bernama Proef Vliegafdeling (PVA) atau Bagian Terbang Percobaan. Namun kebijaksanaan yang diambil oleh pimpinan KNIL masih sangat terbatas. Bagi mereka bidang pertahanan udara hanya sebagai pelengkap, tidak sebagaimana posisi angkatan yang lain.
 

Bagi pemuda-pemuda Indonesia, pemerintah Hindia Belanda baru pada tahun 1937 memberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan penerbangan dengan syarat yang sangat berat. Calon siswanya harus keluaran Akademi Militer di Breda Negeri Belanda, kemudian dididik selama kurang lebih satu setengah tahun. Oleh sebab itulah, mengapa Agustinus Adisutjipto bersikeras ingin melanjutkan sekolahnya ke Breda setelah lulus pendidikannya dari AMS.
 

Jadi masuknya Adisutjipto ke sekolah kedokteran di Jakarta semata-mata untuk melegakan hati dan menghormati orang tuanya. Namun ketika kota Semarang dan Bandung dibuka Sekolah Penerbangan Militaire Luchtvaart School, Adisutjipto segera mengajukan lamarannya tanpa setahu orang tuanya. Tetapi karena lamarannya tidak disertai surat persetujuan dari orang tua, ia terpaksa ditolak walaupun dalam ujian masuk telah lulus testingnya.
 

Didorong oleh ketabahan, keuletan, serta sikap pantang menyerah dalam setiap cita-cita yang diinginkannya, maka Adisutjipto mengajukan lamaran kembali pada tahun berikutnya. Kali ini ia mengirimkan tembusan kepada Residen di Semarang dan Asisten Residen di Salatiga. Seterimanya surat tembusan itu, Asisten Residen yang dikenal baik oleh ayahnya tadi, segera memanggil Roewido. Dalam pertemuan itu barulah sang ayah menyakini, bahwa puteranya benar-benar tidak mau mundur dari cita-citanya itu.
 

Atas permintaan Asisten Residen dan demi kebahagiaan serta kemajuan putera sulungnya itu, akhirnya sang ayah mengizinkan juga. Segera ditandatanganilah surat pernyataan setuju, untuk melengkapi surat lamaran Adisutjipto ke Sekolah Penerbangan di Bandung.
 

Dan memang ternyata, sekolah yang dicita-citakan sejak semula itu dibuktikan dengan prestasi belajarnya yang gemilang. Sambujo Hurip yang lebih dahulu setahun belajar di sana, ternyata lulusnya sama-sama dengan Adisutjipto. Pendidikan yang harus dijalani selama tiga tahun, mampu diselesaikan dalam tempo dua tahun saja dan hasilnya sangat memuaskan.
 

Setelah menamatkan pendidikannya, Adisutjipto kemudian diberi kebebasan untuk memilih tempat di mana ia mau bertugas. Demikianlah untuk pertama kalinya ia bertugas di Skadron Pengintai di Jawa, dengan pangkat Letnan Muda Penerbang.
 

Dari kawan seangkatannya selain Sambujo Hurip, terdapat pula nama-nama Sulityo, H. Suyono serta enam orang lagi. Kesepuluh siswa penerbang putera Indonesia tersebut telah berhasil mencapai tingkatan Letnan Muda Penerbang jangka pendek. Tetapi karena masih ketatnya diskriminasi antara siswa penerbang kulit putih dan kulit berwarna, maka dari sepuluh siswa putera Indonesia hanya lima orang

yang lulus untuk mendapatkan kleine militaire brevet.
 

Selanjutnya dari lima orang siswa tersebut hanya dua orang saja yang lulus dan berhasil memperoleh Groot Militaire Brevet yaitu Adisutjipto dan Sambujo Hurip. Bahkan Adisutjipto berhasil memperoleh observer brevet.
 

Sungguh memang briliant penerbang kita yang satu ini. Ia benar-benar sukses dalam cita-citanya yang didambakan sejak semula. Karena kecakapannya yang begitu menonjol, Adisutjipto kemudian diangkat sebagai pembantu utama Kapten Clason, seorang pejabat penting dalam Militaire Luchtvaart, dan sekaligus diangkat menjadi Sekretaris Militaire Luchtvaart untuk seluruh wilayah Hindia Belanda.
 

Ketika Perang Dunia II meletus, Adisutjipto saat itu tengah bertugas di daerah Tuban dalam garis pertahanan udara, sampai menjelang masuknya Jepang ke Indonesia.
 

Jadi jelas, bahwa Adisutjipto benar-benar seorang penerbang dan militer yang berbobot. Sebab jika tidak, maka tidak mungkin akan diberikan kepercayaan sedemikian besarnya oleh pihak Pemerintah Hindia Belanda dengan jabatan yang berat dan penuh resiko.

Menjelang Kekalahan Belanda oleh Jepang

Pihak Belanda di Indonesia yang semula kurang yakin, pentingnya unsur kekuatan udara untuk mempertahankan daerah jajahannya yang demikian luas, akhirnya harus merubah pendiriannya setelah Perang Dunia I usai. Barulah sejak itu penerbangan militer mendapatkan perhatian serius, terutama untuk menghadapi kemungkinan peperangan selanjutnya. Proef Vliegafdeling yang didirikan tanggal 30 Mei 1914 segera dikonsolidasikan dan beberapa pesawat baru pun dibeli untuk memperkuat armada yang ada.
 

Namun sampai beberapa tahun kemudian, Pemerintah Hindia Belanda masih merasakan kurangnya pesawat, tenaga penerbang, dan teknisi lainnya. Terutama setelah situasi kemelut di Eropa kembali memuncak begitu cepat yang tentunya membawa pengaruh buruk di Asia. Karenanya pihak Militaire Luchtvaart – KNIL di Indonesia, makin mempersiapkan diri sekuat mungkin dalam menghadapi ancaman

Jepang. Lalu diadakanlah suatu mobilisasi, pengerahan dari kalangan korps penerbang sukarela.
 

Sementara itu pergerakan di Indonesia menunjukkan suhu politik yang meningkat. Sejak bulan mei 1939, atas inisiatif Perindra telah didirikan badan federasi organisasi politik yang diberi nama Gabungan Politik Indonesia (GAPI).
 

Demikianlah, di saat Pemerintah Hindia Belanda sibuk dengan usaha-usaha pertahanan menghadapi Jepang dan gerakan-gerakan politik di Indonesia, di Negeri Belanda sendiri, keluarga kerajaan telah mengungsi ke Inggris. Hari itu tanggal 10 Mei 1940, pada permulaan Perang Dunia II tentara Nazi Jerman telah menyerbu Belanda. Akibatnya pemerintahan Belanda melarikan diri ke London bergabung dengan Sekutu sebagai pemerintah dalam pengasingan.
 

Di pihak lain, pecah Perang Pasifik setelah Jepang menyerang Pearl Harbour (Teluk Mutiara), pangkalan Armada Amerika di Samudera Pasifik. Sebagai sekutu, Belanda menyatakan perang terhadap Jepang.
 

Tetapi di luar perhitungan pihak sekutu ternyata daerah jajahannya di daratan Asia menjadi sasaran yang empuk bagi Jepang. Satu demi satu daerah kekuasaan Barat dan pertahanan Sekutu di Asia hancur oleh kekuatan militer Jepang itu. Apalagi setelah benteng Inggris di Singapura jatuh, maka kedudukan Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia makin terjepit, sehingga tidak mungkin lagi untuk dipertahankan.
 

Pada permulaan Maret 1942 pasukan Jepang mulai mendarat di Indonesia. Meskipun dari pihak angkatan darat dan armada laut Belanda di pulau Jawa mengadakan perlawanan sengit, namun Belanda akhirnya harus menyerah kalah kepada kekuatan Jepang yang berlipat ganda itu. Belanda dipaksa menyerah tanpa syarat pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati di dekat Bandung. Gubernur Jenderal Belanda terakhir di Indonesia Tjarda van Starkenborg Stachouwer harus menerima nasib sebagai tawanan perang. Sedangkan sebagian besar pejabat-pejabat tinggi Belanda telah lebih dahulu melarikan diri ke Aurtalia.
 

Dalam keadaan demikian inilah, rakyat Indonesia berada di persimpangan jalan. Sebab kita dihadapkan kepada dua front kekuatan musuh, yaitu Sekutu dan juga Jepang. Dengan jatuhnya kekuasaan Belanda atas Indonesia, maka praktis kini kekuasaan beralih ke tangan pendudukan Jepang. Padahal selama sepuluh tahun terakhir kekuasaan Belanda di Indonesia, pemimpin-pemimpin Indonesia dari golongan moderat telah menghimbau pemerintah Hindia Belanda agar memberikan latihan militer kepada putera-putera Inddonesia, untuk membela tanah airnya dalam keadaan perang. Tetapi usul tersebut tidak mendapat tanggapan, karena mungkin dikhawatirkan akan menjadi senjata makan tuan.
 

Situasi internasional terutama di daerah Pasifik, menunjukkan kegiatan meningkat. Di samping itu keadaan sosial keuangan akibat malapetaka Wallstreet di tahun 1929, juga ikut mempengaruhi. Untuk mencegah keadaan yang makin parah, maka jalan yang ditempuh oleh Pemerintah Belanda adalah menangkapi pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang menuntut kemerdekaan. Namun tindakan tersebut tidak juga meredakan kemelut di negeri ini, malahan organisasi gerakan nasional makin meningkatkan aksi-aksi politiknya. Dan dari luar, Jepang merupakan ancaman bagi Pemerintah Hindia Belanda.
 

Keadaan dalam negeri yang sudah rapuh itu, tidak didukung oleh pertahanan militer yang mantab. Segala sesuatunya dipersiapkan dengan terburu-buru, maka wajarlah kekalahan total tidak dapat dihindarkan lagi.
 

Dalam masa pendudukan Jepang, semua bekas penerbang KNIL dibebaskan dari tugasnya masing-masing dan kembali menjadi rakyat biasa, termasuk Adisutjipto. Oleh karena itu ia kembali ke rumah orang tuanya di Salatiga.
 

Selama jaman pendudukan Jepang, kemajuan bagi bangsa Indonesia dalam bidang penerbangan hampir dikatakan tidak ada, sebab semua penerbang bangsa Indonesia tidak lagi diperlukan. Jepang telah mempunyai angkatan udaranya sendiri yang tangguh. Bahkan di dalam angkatan darat dan angkatan laut pun memiliki armada udara masing-masing yaitu Rikugun Koku Butai untuk angkatan darat dan Kaigun Koku Butai untuk angkatan lautnya.
 

Setelah menganggur beberapa waktu, Agustinus Adisutjipto memperoleh pekerjaan sebagai juru tulis di perusahaan angkutan bis “Jidosya Jumukyoku” yang dikuasai oleh Jepang. Walaupun ia bekerja di perusahaan Jepang itu, namun jiwa dan sikapnya tetap tegas, disiplin dan kritis. Dengan demikian ia tetap disegani baik kawan-kawannya maupun oleh pihak Jepang sendiri, sehingga ia diangkat menjadi wakil pimpinan perusahaan itu.
 

Sementara itu, pada kesempatan yang luang selalu dipergunakan untuk membina watak dan menanamkan rasa kebangsaan terhadap kawan-kawannya. Suatu hari Adisutjipto dipanggil oleh pimpinan perusahaan itu dengan maksud agar ia mau memihak kepada Jepang, namun pendiriannya tetap tak tergoyahkan akan bujukan itu.
 

Ketika Walikota Salatiga mengatakan kepadanya, bahwa Jepang akan menyekolahkan pemuda-pemuda Indonesia ke Tokyo, Adisutjipto tidak menanggapinya. Menurut keyakinannya, Jepang tidak akan bertahan lama lagi, sebab bahan persediaan makanan maupun lainnya sudah tidak memungkinkan lagi untuk lebih lama berperang.
 

“Saya mengetahui hal itu, karena setiap malam saya selalu mengikuti berita radio dengan pemancar gelap”, tegasnya.
Menurut keterangan ayahandanya, di rumahnya memang dibuat pemancar gelap untuk menangkap berita radio dari Sekutu dalam bahasa Inggris.
 

Adisutjipto memang fasih berbahasa Inggris, di samping bahasa Jerman dan Belanda. Oleh karena itu Adisutjipto sempat menjadi juru bahasa di Semarang, ketika diadakan perjanjian antara Jepang dengan sekutu, setelah tentara Dai Nippon kalah.
 

Dalam setiap pembicaraan dengan pihak Jepang pun, Adisutjipto selalu meminta mempergunakan bahasa Inggris, karena ia sendiri belum menguasai bahasa Jepang. Dan nyatanya orang Jepang itu mau mengikuti keinginan Adisutjipto. Padahal jarang orang yang berani menyatakan kehendaknya saat itu dengan penguasa yang cukup ditakuti itu.
 

Suatu peristiwa lagi. Suatu ketika Sudarjo, Walikota Salatiga ditawan Kenpetai, gara-gara ia tidak dapat memenuhi target yang diminta penguasa Jepang untuk mengumpulkan dana berupa emas bagi peperangan Asia Timur Raya. Mendengar hal itu Adisutjipto segera berpesan kepada ayahnya, untuk menghubungi penguasa Jepang dan minta segera dibebaskan. Ternyata dengan mudah saja Sudarjo dibebaskan lagi. Demikian pula halnya dengan Wedana Salatiga Suyitman.
 

Dari uraian di atas, secara singkat dapat diambil satu gambaran tentang kepribadian Adisutjipto yang cukup berpengaruh di kalangan penguasa Jepang. Demikian pula halnya dalam pergaulan hidup, serta kemampuan membina kawan-kawan seperjuangannya.
 

Awal tahun 1945 kedudukan Jepang mulai terdesak dalam setiap medan perangnya, ketika itu barulah pemerintah Jepang menaruh perhatian atas cita-cita Bangsa Indonesia. Maka dibentuklah suatu badan bernama Badan untuk Menyelidiki Usaha-usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia atau disebut Badan Penyelidik. Setelah itu dibentuk pula Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
 

Tetapi sejak bom atom tentara Sekutu dijatuhkan di atas kota Hiroshima dan Nagasaki, keruntuhan Jepang atas negara-negara Asia tidak dapat dielakkan lagi. Bahkan pada tanggaal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu. Namun dua hari kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.
 

Tiga bulan sebelum terjadinya penyerahan Jepang kepada Sekutu, Agustinus Adisutjipto sempat melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis bernama S. Rahayu. Wanita yang berbahagia menjadi istrinya itu, sesungguhnya masih keluarga dekat dan satu keturunan. Masih terngiang ucapan suaminya tercinta pada saat perkawinan itu; “Jadi seorang isteri pilot hendaknya engkau harus tabah dan sabar. Karena seorang pilot pada saat perjuangan ini sangat dibutuhkan negara”. Beliau menikah di saat perjuangan merebut kemerdekaan tengah memuncak, yakni tanggal 3 juni 1945.

Baca juga:  Air Crew Lanud Halim Perdanakusuma Ikuti Ceramah Kesehatan

Perjuangan A Adisutjipto

Ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang, Adisutjipto mengetahui langsung dari pemancar radionya. Berita tersebut kemudian disampaikan kepada ayahnya, yang segera meminta anaknya itu bertindak cepat karena telah tiba waktunya. Tetapi Adisutjipto justru sudah menyusun kekuatan, saat menjelang detik-detik proklamasi itu. Ia telah aktif menghimpun pemuda-pemuda dari Salatiga dan Ambarawa, untuk latihan militer yang kemudian tergabung dalam BKR. Semuanya ini nyatanya telah dipersiapkan dengan matang, kendatipun proklamasi belum kepastiannya saat itu.
 

Maka ketika Proklamasi Kemerdekaan didengungkan oleh pemimpin bangsa Indonesia Soekarno-Hatta, Adisutjipto bersama-sama teman sekerjanya serta pemuda-pemuda Salatiga mulai bergerak merebut kantor Jidosnya Jumukyoku tempat ia bekerja. Kemudian mereka menerunkan bendera Hinomaru dan menggantikannya dengan Sang Saka Merah Putih.
 

Berkat usahanya bersama barisan Pemuda, maka Gubernur Jawa tengah Wongsonegoro yang berkedudukan di Semarang dapat ditemui di daerah pelariannya di Ungaran. Atas anjuran Adisutjipto, Gubernur kembali masuk ke Kota Semarang untuk mengadakan perundingan dengan pihak sekutu. Kali inipun beliau menjadi juru bahasa dalam perundingan.
 

Sedang sibuk-sibuknya mengatur siasat pertahanan di kota Salatiga, datanglah kawan lamanya di Militaire Luchtvaart dulu Tarsono Rujito yang telah berpangkat Mayor TKR. Ia merupakan utusan khusus Suryadarma untuk mengajak Adisutjipto mendirikan TKR- Jawatan Penerbangan di Yogyakarta. Tentu saja ajakan itu tidak disia-siakan, karena sesuai dengan profesi dan keinginannya selama ini.
 

Sementara itu para pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat mulai mengadakan serangan ke lapangan terbang, dan berhasil merebut serta menguasainya. Namun mereka hanya mendapatkan pesawat-pesawat terbang peninggalan Jepang yang telah rusak.
 

Adisutjipto setelah memenuhi panggilan Kepala Markas Tertinggi Jawatan Penerbangan di Yogyakarta, segera langsung terjun memperbaiki pesawat-pesawat bekas Dai Nippon itu. Walaupun tugas itu cukup berat mengingat keadaan yang sangat darurat, kurangnya biaya, dan tenaga ahli, namun dengan penuh keyakinan dan semangat juang, bersama kawan-kawannya ia dapat mengatasi segala kesulitan itu. Di lapangan udara Maguwo, pihak Jepang meninggalkan kurang lebih 50 buah pesawat dengan berbagai jenis.

 

Beberapa saat kemudian lapangan terbang Kalibanteng di Semarang juga telah dapat direbut dari pihak musuh. Hampir semua pesawat yang ditinggalkan oleh Jepang tidak ada yang utuh dan tidak dapat segera dipakai. Maka dengan bekerja keras tanpa kenal lelah, akhirnya dapat memperbaiki beberapa pesawat dari tipe Nishikoren, Cureng, dan Cukiu, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai modal utama dalam perjuangan membela tanah air.
 

Hasil jerih payah Adisutjipto bersama kawan-kawannya itu, ternyata tidaklah sia-sia, karena sebuah pesawat Cukiu dapat diterbangkan oleh rekannya bernama Pantoh. Karena Adisutjipto sendiri berhasil menerbangkan Cureng di atas Kota Yogyakarta dengan tanda Merah Putih di badan pesawat itu. Berikutnya bersama Tarsono Rujito, kembali Adisutjipto berhasil memperbaiki tipe Nishikoren. Pesawat itu kemudian diberi nama “Banteng”
 

Dengan modal pesawat-pesawat yang telah direparasi itulah, maka di awal tahun 1946 Bagian Teknik Udara mulai mendidik dan melatih calon-calon penerbang. Adisutjipto ditunjuk sebagai instruktur, sedangkan kadetnya yang pertama adalah Iswahyudi dan Imam Wiryosaputro. Secara kilat dalam tempo tiga minggu saja, keduanya telah mampu mengadakan penerbangan solo. Saat itu telah berhasil diperbaiki sebanyak 27 pesawat tipe Cureng bersayap dua. Sedang sebulan kemudian pesawat bersayap satu Cukiu berhasil didaratkan di Maguwo dari Malang oleh Adisutjipto pula.
 

Dapatlah dibayangkan betapa dibutuhkannya tenaga Adisutjipto oleh negara, yang sedang berusaha mempertahankan kemerdekaan saat itu. Oleh karena itu isterinya menyadari, bahwa ia harus dapat menyesuaikan diri dengan tugas suaminya. Walaupun hati kecilnya terasa berat, apalagi sebagai pasangan suami isteri yang masih baru dan sering ditinggal sendiri. Sang suami hampir tidak mengenal waktu istirahat, hingga seringkali setiap hari Minggu tidak sempat mengikuti kebaktian di gereja, karena mementingkan tugas negara. Namun begitu Adisutjipto termasuk seorang pemeluk agama Katholik yang taat. Kitab Injil tidak pernah lepas dari sakunya.
 

Pada tanggal 9 April 1946 dengan keluarnya penertapan pemerintah No. 6 / SD / 1946 yang menetapkan merubah TKR – Jawatan Penerbangan menjadi TRI- Angkatan Udara, Adisutjipto diangkat sebagai Wakil Kepala Staf dengan pangkat Komodor Muda Udara, bersama R. Sukarnen Mertodisumo yang berpangkat Komodor Udara. Sedangkan Komodor Udara R. Suryadarma dikukuhkan sebagai Kepala Stafnya.
 

Sebelum ini, Suryadarma telah memperjuangkan dengan tiada jemu-jemunya agar Angkatan Udara menjadi Angkatan Perang RI yang sederajat dengan Angkatan lainnya, seperti lazimnya di negara-negara Barat yang telah maju dalam bidang angkatan udara.
Oleh karena itu tepatlah kiranya Penetapan Pemerintah tersebut, mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara kepulauan, di mana unsur angkatan udara dan angkatan laut memegang peranan penting.
 

Pada tanggal 21 sampai 26 Mei 1946 diadakan latihan penerbangan formasi. Dalam latihan tersebut dipergunakan pesawat Cureng dengan instruktur Iswahyudi dan Wiryosaputro, sedangkan Adisutjipto sebagai instruktur pesawat Cukiu. Agustinius Adisutjipto turut serta dalam Hari Penerbangan pada upacara peresmian lapangan terbang Cibeureum Tasikmalaya pada tanggal 10 Juni 1946. Bersama penerbang-penerbang lainnya dari Maguwo, mereka menggunakan lima pesawat tipe Cureng.
 

Kemudian tepat setahun sebelum Adisutjipto gugur, beliau telah mengadakan penerbangan ulangan percobaan pesawat Guntai bersama Atmo Ali. Dari hasil percobaan itu, olehnya dipandang siap dengan perbaikan-perbaikan pada bagian motor dan badan pesawat. Pada tanggal 5 Agustus 1946 dengan pesawat yang diberi nama Diponegoro I, Adisutjipto menerbangkannya dari Malang ke Maguwo dengan selamat. Tetapi dalam percobaan selanjutnya mengalami kerusakan hebat sehingga tidak dapat dipakai lagi. Pesawat Diponegoro I ini adalah jenis pembom.
 

Begitu pula halnya dengan pesawat jenis Cukiu dan Cureng mengalami kerusakan lagi karena kecelakaan. Nampaknya kondisi teknis pesawat memang sangat memprihatinkan dunia penerbangan kita saat itu, sementara suku cadangnya pun sulit didapat.
 

Pada suatu ketika, pesawat yang dikemudikan Adisujtipto mengalami kecelakaan yang fatal. Pesawat itu menabrak sebatang pohon kelapa dan karena kecepatan terbang yang cukup tinggi akhirnya jatuh dengan posisi terbalik. Saat itu Adisutjipto dapat menyelamatkan diri, tetapi kawannya Tarsono Rudjito terlempar keluar, sehingga tulang punggungnya patah dan menyebabkan kematiannya. Tarsono Rudjito merupakan korban pertama dari Angkatan Udara Republik Indonesia dalam menjalankan tugasnya. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Salatiga pada tanggal 13 September 1946.
 

Selama sembilan hari di bulan November Adisutjipto kembali mengadakan latihan pemboman di Maguwo bagian selatan bersama Komodor Suryadarma dengan pesawat Guntai. Disaat itulah 4 November 1946, isterinya melahirkan putera pertama seorang laki-laki. Puteranya itu kemudian diberi nama Franciscus Xaverius Adisutanto, dengan nama panggilan sehari-hari Tondy. Ternyata setelah Tondy berusia sembilan bulan, ia tidak pernah melihat ayahnya lagi. Putera tunggal almarhum ini, sekarang adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
 

Sebulan kemudian latihan pemboman dilanjutkan lagi di atas Laut Jawa. Kali ini Adisutjipto didampingi oleh Eddy Sastrawijaya, Kepala Bagian Persenjataan AURI. Demikian pula latihan terbang malam, semuanya berhasil dengan memuaskan.
 

Sementara latihan penerbangan militer terus dilakukan secara intensif, agar pertahanan udara nasional dapat lebih dimantabkan, maka dirintis pula jalur penerbangan sipil, sebagaimana yang telah digariskan pemerintah kepada Markas Tertinggi Jawatan Penerbangan. Dalam hubungan penerbangan sipil inilah, Adisutjipto berkenalan dengan Patnaik, seorang pengusaha India yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Perkenalan sejak Februari 1947 itu berlangsung singkat namun cepat menjadi intim.
 

Patnaik kemudian memberi izin kepada Adisutjipto dan Iswahyudi untuk belajar mengemudikan pesawat Dakota VT-CLA, miliknya sendiri. Namun rupanya sudah semestinya, bahwasanya pesawat milik orang India itu ikut tercatat dalam sejarah perjuangan Indonesia. Dalam suatu tragedi, pesawat Dakota itu ditembak Belanda sehingga menewaskan Adisutjipto dan Dr Abdurrahman Saleh beserta beberapa penumpang lainnya.
 

Demikianlah beberapa gambaran perjuangan Adisutjipto dalam mengemban tugas yang dipercayakan kepadanya. Dia bukanlah pemimpin yang hanya memerintah saja, melainkan seorang pemimpin yang penuh tanggung jawab. Betapa tidak! Pesawat yang sudah dapat diperbaiki, sebelum dipergunakan anak buahnya, dia sendiri yang mengadakan test penerbangan. Dia tanpa menghiraukan resiko yang berbahaya, tetap berusaha untuk mengembangkan dunia penerbangan di Indonesia.
 

Dan ternyata cita-citanya kemudian menjadi kenyataan. Beliau memiliki andil yang tak ternilai bagi pertumbuhan Angkatan Udara Republik Indonesia khususnya dan dunia penerbangan di Indonesia umumnya. Segala kemampuan dan daya yang dimilikinya telah dicurahkan demi negara dan bangsanya.

Bapak Penerbang RI

Nama Agustinus Adisutjipto tidak dapat dipisahkan dengan sejarah berdirinya Angkatan Udara Republik Indonesia. Ia merupakan pembina, perintis serta penumbuh AURI. Dialah putera Indonesia yang pertama mendapatkan Brevet Penerbang Militer. Sebenarnya ada seorang lagi yakni Sambujo Hurip yang telah gugur di masa Perang Dunia II. Tetapi ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan, hanya Adisutjipto satu-satunya yang memiliki tanda itu.
 

Sejak diserahkannya wewenang bidang keudaraan kepada Jawatan Penerbangan, diantara personelnya terdapat dua orang tokoh perintis di dalam sejarah pendidikan dan pertumbuhan penerbangan di Indonesia, dan TNI AU khususnya. Siapakah kedua tukoh itu? Tidak lain ialah almarhum Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjitpo dan almarhum Mayor Udara Anumerta Tarsono Rudjito.
 

Sesuai dengan peningkatan posisi bagian penerbangan waktu itu, maka pemerintah Republik Indonesia telah menunjuk dan menetapkan S. Suryadarma sebagai Kepala Bagian Penerbangan. Sedangkan Agustinus Adisutjipto dan Sukarnen Matodisumo sebagai pembantu-pembantunya.
 

Dengan selesainya tugas penyerahan pada Markas Tertinggi Jawatan Penerbangan tersebut, maka pimpinan dihadapkan kepada suatu masalah yang cukup rumit. Yaitu bagaimana seharusnya menata dan menyusun struktur serta memanfaatkan segala materi yang telah mereka kuasai.
 

Dalam keadaan yang terbatas dan didesak oleh kepentingan nasional untuk mempertahankan kedaulatan negara, maka tercetuslah gagasan untuk mendirikan sekolah penerbang secara darurat, agar dalam waktu singkat dapat dihasilkan tenaga-tenaga pilot yang sangat dibutuhkan itu.
 

Selain itu untuk membangun penerbangan militer dan membuka penerbangan sipil kita belum mempunyai tenaga ahli yang cukup. Sedangkan pesawat yang dimiliki hanyalah terdiri dari peninggalan Jepang yang sulit diandalkan. Namun para perintisnya tidak putus harapan. Semuanya itu kendati dihadapi dengan prihatin, tetapi dengan moril dan semangat yang tinggi karena kecintaannya terhadap Republik Indonesia yang baru berdiri ini. Maka atas prakarsa pemuda Adisutjipto didirikanlah Sekolah Penerbangan yang pertama. Sekolah itu berdiri sejak 15 November 1945 di Maguwo Yogyakarta.
 

Sekolah penerbangan inilah yang kemudian menjadi titik tolak berdirinya Lembaga Pendidikan Angkatan Udara. Memang di samping Maguwo, telah ada juga Sekolah Penerbangan yang bersifat darurat di Pangkalan Udara Bugis, Malang atas prakarsa kawan-kawan Adisutjipto yakni Suhud dan H. Suyono. Tetapi Sekolah Penerbangan di Malang hanyalah merupakan kursus pengetahuan praktis yang berisi ceramah-ceramah saja. Sifatnya hanya menyebarkan pengetahuan tentang penerbangan, jadi bukanlah merupakan sekolah.
 

Sedangkan Sekolah Penerbangan di Yogyakarta yang dipimpin oleh seorang ahli, didirikan dalam situasi perjuangan kemerdekaan, untuk segera dapat dicetak pilot-pilot kebangsaan Indonesia.
 

Dalam rangka melancarkan usaha Sekolah Penerbangan ini, pimpinan Pangkalan Udara Bugis di Malang, yaitu Imam Soepono, telah memberikan bantuan pesawat udara kepada Sekolah Penerbangan di Yogyakarta. Bantuan pesawat itu seluruhnya berjumlah 37 buah. Dan sebagai kelanjutannya, kedua lembaga pendidikan itupun berintegrasi, sehingga sejak itu hanya dikenal satu Sekolah Penerbang yang ada di Yogyakarta. Lembaga Pendidikan Penerbangan inilah yang kemudian menjadi embrio dari Akademi Angkatan Udara yang sebenarnya.
 

Dalam Sekolah penerbangan itu, tugas pendidikan dan latihan dipegang langsung oleh Adisutjipto, sedang bidang administrasi dan operasi dipegang oleh Suryadarma. Karena itulah, Adisutjipto disebut sebagai Bapak Penerbang Indonesia.
 

Yang dipakai sebagai pesawat latih mula tetap pesawat jenis Cureng. Walaupun sudah tua tetapi merupakan warisan yang sangat berguna bagi dunia pendidikan penerbangan Indonesia. Bahkan jenis pesawat ini juga dipakai sebagai pesawat pemburu. Dan harus diingat, karena kondisi pesawat tidak sepenuhnya baik, maka para calon penerbang di samping harus memiliki mental dan fisik kuat, nyawanya seringkali menjadi taruhannya.
 

Namun para pemuda Indonesia waktu itu, benar-benar telah menyediakan diri mereka untuk rela berkorban demi kemerdekaan tanah air dan bangsanya. Dan karena terjalin hubungan yang erat antara para pimpinan Angkatan Udara, terutama Suryadarma dan Adisutjipto, maka dapat dihasilkan berpuluh-puluh pemuda yang menjadi “Gatotkaca Indonesia”, yang siap sedia menghancurkan lawan dari udara. Juga karena berkat gemblengan dan bimbingan Adisutjipto, “Rasa Cinta Udara” menjadi terkenal di kalangan pemuda Indonesia.
 


Menuju Akademi Angkatan Udara

Bulan September 1947 TNI Angkatan Udara untuk pertama pertama kalinya menerima pemuda-pemuda lulusan SMA untuk dididik sebagai siswa penerbang. Dalam angkatan pertama ini, termasuk adik kandung Adisutjipto sendiri menjadi siswanya yaitu A. Daryono.
 

Bulan November 1950, TNI AU mengirimkan 60 orang kadet ke California. Di samping mengirimkan kadet-kadet ke luar negeri, di Bandung Pangkalan Udara Husein Sastranegara juga dibuka Pendidikan Tehnik dan Materiil. Tetapi pendidikan angkatan selanjutnya sampai sekarang berlokasi di Pangkalan Udara Adisutjipto, yang semula bernama Maguwo.
 

Sebagai pimpinan Sekolah Penerbangan yang mempunyai tanggung jawab besar, Adisutjipto juga aktif mencari bantuan ke luar negeri. Ia sering herus menerobos blokade musuh, untuk bertindak selaku utusan atau liasion officer, seperti ke India, Pakistan dan Filipina. Dari perjalanan diplomasinya itulah dapat dihasilkan bantuan berupa obat-obatan, senjata, tenaga pelatih dan bantuan lainnya lagi. Khusus dengan India, yang telah memberikan bantuan pesawat jenis dakota VT-CLA yang ternyata membuat sejarah tersendiri bagi Bapak Penerbang kita.
 

Pada tanggal 9 April 1960 di Lanuma Adisutjipto diadakan upacara peletakan batu pertama pendirian gedung Akademi Angkatan Udara. Dengan demikain secara resmi Lanuma Adisutjipto menjadi tempat pendidikan para calon-calon perwira TNI Angkatan Udara. Pada tahun 1965 tempat pendidikan itu diresmikan menjadi Akademi Angkatan Udara (AAU) dengan patakanya yang bersemboyan “Vidya Karma Vira Pakca”. Sedangkan untuk panggilan para Taruna Akademi Angkatan Udara diubah menjadi “Karbol”.
 

Bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tanggal 5 Oktober 1966, Lembaga-lembaga pendidikan Militer yaitu: Akademi Militer Nasional (AMN), Akademi Angkatan laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Angkatan Kepolisian (AAK) diintegrasikan menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Dengan demikian sebutan Akademi Angkatan Udara kini menjadi AKABRI Bagian Udara.
 

Demikianlah sekilas pertumbuhan Sekolah Penerbang hingga menjadi AKABRI Bagian Udara, yang telah dirintis oleh bapak penerbang Indonesia, Adisutjipto.

Kisah Gugurnya Adisutjipto

Seperti telah kita ketahui, selain kariernya di bidang kemiliteran, Adisutjipto juga seorang diplomat yang cukup berhasil dalam menangani masalah-masalah sarana pertahanan udara dengan luar negeri. Dari hasil misinya itu, ia mendapat bantuan tenaga pelatih dan instruktur dari negara-negara sahabat, seperti Filipina dan India untuk Sekolah Penerbangan yang sedang dibinanya. Di samping itu, juga mencari pinjaman atau membeli pesawat terbang.
 

Untuk mencari dana guna pembelian pesawat terbang ini, di dalam negeri sendiri diusahakan oleh Adisutjipto dengan bergabagi cara, antara lain menyelenggarakan malam hiburan amal. Misalnya pada “Malam Pembeli Bomber”. Saat itu diundang beberapa tokoh, para pengusaha, dan dermawan. Dengan menyelenggarakan seperti itu ternyata hasilnya cukup baik dalam memperoleh dana.
 

Dalam kunjungan ke India, oleh Sri Jawaharlal Nehru telah diperkenalkan kepada Adisutjipto, seorang industrialis India yang terkenal, Patnaik. Dalam pertemuan itu, Patnaik akhirnya setuju untuk meminjamkan sebuah pesawat Dakota kepada Pemerintah Indonesia untuk keperluan penerbangannya.
 

Kapergian yang kedua kali ditemani oleh bekas dosennya yang juga sebagai kawan karibnya Prof. Dr. Abdurrachman Saleh, untuk membawa pesawat Dakota VT-CLA yang telah dijanjikan oleh Patnaik itu. Dari India mereka singgah di Singapura, di mana penguasa setempat yakni Pemerintah Inggris dan juga Belanda telah mengizinkan pesawat itu meneruskan perjalanannya ke Indonesia untuk mengangkut obat-obatan.
 

Demikianlah, pada tanggal 29 Juli 1947 di senja hari, pesawat Dakota VT-CLA bertolak dari Singapura menuju Yogyakarta mengangkut obat-obatan bantuan Palang Merah Malaya kepada Palang Merah Indonesia. Kepala Staf S. Suryadarma dengan mengendarai jeep, secara khusus datang menyambutnya ke lapangan udara Maguwo.
 

Beberapa saat pesawat itu berputar-putar mengelilingi landasan untuk mengadakan pendaratan, namun di luar dugaan dari arah utara muncul dua buah pesawat pemburu Kittyhawk milik Belanda, yang langsung memuntahkan pelurunya ke arah pesawat Dakota VT-CLA yang tak bersenjata itu. Tembakannya tepat mengenai sasaran, akibatnya keseimbangan pesawat itu hilang. Saat itu nampak pilot masih berusaha mengadakan pendaratan darurat, namun pesawat terus meluncur menabrak sebatang pohon yang akhirnya jatuh dan terbakar.
 

Peristiwa yang sangat menyedihkan ini terjadi di dekat daerah Jatingarang, sebelah utara Ngoto dekat kali Code. Ternyata hanya seorang penumpang saja yang selamat yaitu A. Gani Handonocokro. Yang lain gugur semua yaitu :
 

Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto
Komodor Muda Udara Prof. Dr Abdurrachman Saleh
Penerbang berkebangsaan Australia A.N. Constantine
Co-pilot berkebangsaan Inggris R. hazelhurst
Juru Radio Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusumo
Juru Teknik berkebangsaan India Bhida Ram
Nyonya Constantine
Zainal Arifin, wakil Perdagangan RI di Singapura

Dengan rasa duka yang mendalam, rakyat berjejal memadati jalan-jalan yang dilalui iringan jenazah. Mereka ingin menyaksikan dan melepaskan kepergian yang terkhir bagi pahlawan-pahlawannya itu. Peristiwa ini sudah tentu merupakan pukulan berat yang dirasakan oleh Suryadarma sendiri, karena telah kehilangan dua orang pembantu utamanya yang terpercaya dalam pembangunan AURI.
 

Jenazah para pahlawan itu kemudian dimakamkan di pekuburan Pakuncen Yogyakarta. Saat itu Bendera Merah Putih, Union Jack (Bendera Inggris) dan Bendera India berkibar setengah tiang tanda berduka cita. AURI telah kehilangan dua orang pelopor dan pahlawannya demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 

Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto gugur dalam usia masih muda, 31 tahun. Namun namanya akan tetap tergores abadi dalam kalbu setiap penerbang Indonesia.
 

Bagi Ibu Adisutjipto sendiri masih terngiang ucapan terakhir Adisutjipto, sebelum suaminya gugur di medan tugas: “Kalau nanti ada waktu, nanti jij (kamu) saya jemput”. Kata-kata itu ditulis almarhum dalam surat terakhir untuk isterinya.
 

Untuk mengenang peristiwa tragis tersebut, maka oleh pihak pimpinan Angkatan Udara tanggal 29 Juli ditetapkan sebagai Hari Bhakti dengan tujuan :
 

Mengenang dan mempelajari kembali perjuangan dan pengorbanan Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dan Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrahman Saleh serta Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusumo.
 

Menjadikan Hari Peringatan Umum bagi seluruh pahlawan-pahlawan Angkatan Udara, yang telah gugur dalam menunaikan tugas perjuangannya.

Baca juga:  Profil Lanud / Satuan

Melalui peringatan tersebut, maka secara langsung atau tidak, kita dihadapkan kepada suatu tuntutan pertanggungjawaban moral terhadap pengorbanan dan perjuangan mereka yang telah gugur mendahului kita termasuk kedua tokoh AURI tersebut.
 

Sebagai penghargaan atas kepahlawanan Adisutjipto, Presiden RI telah menganugerahkan Bintang Garuda dan Bintang Mahaputra Tingkat IV yang diterimakan kepada isteri almarhum. Di samping itu almarhum dinaikkan pangkatnya menjadi Laksamana Muda Udara Anumerta
 

Sebagai kenang-kenangan dan tanda terima kasih atas pengorbanan yang diberikan Adisutjipto, beberapa tahun kemudian yakni pada tanggal 29 Juli 1965, oleh pimpinan AURI telah diserahkan sebuah rumah kepada isteri almarhum yang terletak di Jalan Sagan 12 Yogyakarta. Namun demikian, pemberian itu bukanlah merupakan ukuran atau nilai perjuangannya, sebab setiap pengorbanan pahlawan tidak dapat dinilai dengan materi.

Akhirnya

Setelah mengikuti dan mempelajari riwayat hidup dan perjuangan Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto, maka kita sampai kepada suatu kesimpulan:

Adisutjipto memiliki kepribadian yang kokoh. Kendatipun ayah menghendaki ia menjadi dokter, namun cita-citanya untuk menjadi penerbang tidak pernah luntur. Padahal saat itu tidaklah mudah untuk menjadi penerbang. Tetapi karena ketabahan dan keuletannya, akhirnya terkabul juga ia mewujudkan cita-citanya itu.

Dalam kariernya yang singkat, beliau telah mampu menunjukkan kepada pihak penguasa waktu itu, bahwa putera Indonesia juga tidak kalah kemahirannya dengan bangsa lain dalam menerbangkan pesawat udara. Dan karena kemampuannya itulah, Adisutjipto mendapat kepercayaan sebagai Wakil Komandan dan Sekretaris Umum pada Sekolah Penerbang Hindia Belanda ”Militaire Luchtvaart”. Suatu jabatan yang sulit diperoleh bagi seorang pribumi.

Meskipun tentara Dai Nippon sangat disegani oleh sementara penduduk, tetapi Adisutjipto tetap menunjukkan ketegasannya. Tidak ada rasa gentar di hatinya menghadapi mereka, kendati ia bekerja di perusahaan bis milik Jepang. Bahkan beliaulah yang mengambil alih perusahaan itu dan menaikkan bendera sang Merah Putih.

Dalam masa perjuangan fisik, beliau aktif menghimpun para pemuda untuk dilatih kemiliteran dan bersama kawan-kawan seperjuangannya menegakkan kemerdekaan Indonesia secara gigih.

Selain terkenal sebagai pilot yang qualified dan berpengalaman, Adisutjipto juga mampu memanfaatkan kembali pesawat-pesawat yang sudah tidak digunakan lagi. Dengan kemampuan yang dimilikinya, ia bersama kawan-kawannya berhasil merevisi dan memperbaiki kembali pesawat-pesawat peninggalan Jepang yang sudah menjadi barang rongsokan. Dengan demikian merupakan modal utama dalam dunia penerbangan di Indonesia.

Almarhum Adisutjipto tidak mempunyai ambisi pribadi dan penonjolan diri. Ketika pemerintah mengangkat Suryadarma sebagai Kepala Staf TKR-Jawatan Penerbangan yang kemudian berkembang menjadi AURI, Adisutjipto diangkat sebagai wakilnya yang kedua. Padahal dinilai dari jenjang pendidikan, ia lebih tepat; karena syarat-syaratnya lebih memenuhi. Walaupun demikian ia mendukung pengangkatan itu. Baginya yang penting adalah pengabdian terhadap negara.

Dalam kesibukannya sebagai Wakil Kepala Staf AURI, almarhum juga berusaha mewujudkan didirikannya Sekolah Penerbang untuk mendidik calon-calon penerbang dan menanganinya secara langsung. Kemudian mengintegrasikan seluruh lembaga pendidikan penerbangan yang ada di negeri ini. Oleh karenanya, Adisutjipto dicatat sebagai pelopor dan pembina penerbangan di Indonesia. Beliau dikenal sebagai Bapak Penerbang Indonesia.

Sebagai pemimpin, Adisutjipto tidak hanya memerintah, tetapi juga mampu melaksanakan dan memberi contoh apa yang harus dilakukan anak buahnya. Di samping itu rasa tanggung jawabnya besar sekali. Ia tidak akan menyerahkan tugas kepada anak buahnya untuk menerbangkan pesawat yang baru diperbaiki, sebelum memeriksa dan mencobanya sendiri. Maka tepatlah kalau ia disebut sebagai prajurit dan sekaligus pemimpin teladan.

Adisutjipto lebih mementingkan tugas negara di atas segalanya. Hampir seluruh hidupnya, daya, dan kemampuannya dicurahkan untuk kejayaan tanah air dan bangsanya. Filsafat perjuangannya ditujukan kepada angkatan muda : “Jadilah penerbang yang ulung dan berjiwa pahlawan, agar selalu dapat mengabdi kepada Nusa dan Bangsa Indonesia”, tentunya dapat diwujudkan oleh generasi penerusnya.
Gugurnya Marsekal Muda TNI AU Anumerta Agustinus Adisutjipto, merupakan suatu kehilangan besar bagi seluruh rakyat terutama bagi warga Angkatan Udara Republik Indonesia. Karena ia seorang penerbang senior yang masih sangat dibutuhkan dalam masa pembangunan Indonesia dan AURI khususnya.

Mengingat darma bhakti almarhum yang begitu besar, maka wajarlah jika Pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan penghargaan kepadanya berupa :

Satyalancana Perang kemerdekaan Pertama
Bintang Garuda
Bintang Mahaputra Tingkat IV
Rumah Pahlawan untuk Ibu S. Rahayu Agustinus Adisutjipto.

Penghargaan tersebut makin mantap dan lengkap, dengan adanya keputusan Presiden No 071 / TK / TH / 1974 tanggal 9 September 1974 yaitu menganugerahkan predikat Pahlawan Nasional untuk almarhum, mengingat jasa-jasa dan pengorbanan yang telah diberikan untuk Negara dan bangsa Indonesia.
Hanya bangsa yang dapat menghargai pahlawan-pahlawannya, dapat menjadi bangsa yang besar.

 


“MAGUWO MEMBARA”
 

Untuk membuat suatu uraian tentang Sejarah Pangkalan Udara Utama Adisutjipto di Yogyakarta ini, maka kita tidak dapat melepaskan diri dari rangkaian sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia dalam menegakkan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
 

Demikian pula sangat erat berhubungan dengan sejarah perjuangan Angkatan Udara Republik Indonesia yang secara resmi berdiri sejajar dengan Angkatan – Angkatan lainnya pada tanggal 9 April 1946. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

Yogyakarta pada saat itu menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia yang terkenal pula sebagai Ibu Kota Revolusi dan Perjuangan.

Yogyakarta merupakan tempat lahir dan menjadi Pusat Pimpinan Angkatan Udara Republik Indonesia sejak masih merupakan Markas Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan.

Maguwo 1945 – 1950

Kesadaran bangsa Indonesia terhadap pentingnya AU sudah tumbuh sejak Proklamasi Kemerdekaan. Hal ini ditandai dengan adanya gagasan dari mantan Mayor KNIL (Koninklijk Nederlands Indish Leger), Urip Sumoharjo, untuk membentuk suatu kekuatan udara yang disampaikan kepada seorang mantan perwira Militaire Luchvaart, yang mempunyai pengalaman dalam Perang Dunia II, yaitu mantan Letnan R. Suryadi Suryadarma di Jogjakarta pada bulan September 1945.
 

Gagasan mantan Mayor KNIL, Urip Sumoharjo yang disampaikan kepada mantan Letnan Militaire Luchvaart Suryadi Suryadarma, pada dasarnya dapat diterima, karena ada beberapa pemuda Indonesia yang pada saat itu mempunyai kemampuan dan pengalaman di bidang keudaraan antara lain: Iswahyudi, Halim Perdanakusuma dan A. Adisutjipto.
 

Masalah kekuatan angkatan udara mulai dibicarakan dalam Konferensi Tentara Keamanan Rakyat, tanggal 12 November 1945 di Yogjakarta. Sebagai realisasinya pada tanggal 12 Desember 1945, Markas Tertinggi Keamanan Rakyat ( MT-TKR) mengeluarkan sebuah pengumuman yang ditandatangani oleh Kepala Staf Umum, Letnan Kolonel Urip Sumoharjo, yang menyatakan bahwa pada MT-TKR dibentuk bagian penerbangan yang dikepalai oleh R. Suryadi Suryadarma dan R. Sukarnen Martokusumo sebagai wakilnya.
 

Sejalan dengan peningkatan Tentara Keselamatan Rakyat menjadi TRI / Tentara Republik Indonesia tanggal 25 Januari 1946, yaitu melalui perubahan nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, 7 Januari 1946 maka TKR Jawatan Penerbangan juga mengalami perubahan, karena makin besarnya kepercayaan pemerintah dan rakyat yang diberikan kepada Tentara Keselamatan Rakyat Jawatan Penerbangan.
 

Hal ini terbukti dengan keluarnya Penetapan Pemerintah no: 6 / S.D tahun 1946 tertanggal 9 April, tentang pembentukan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara yang kemudian dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara. Di dalamnya ditetapkan pula R. Suryadi Suryadarma menjadi Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia, dengan pangkat Komodor Udara (setara Mayor Jenderal) dan R. Sukarnen Martokusumo menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Udara dengan pangkat Komodor Udara serta mengangkat Agustinus Adisutjipto menjadi Wakil Kepala Kedua Staf Angkatan Udara dengan pangkat Komodor Muda Udara (Kolonel).
 

Dengan demikian, berdasarkan Penetapan Pemerintah tersebut tanggal 9 April 1946 merupakan saat bersejarah, yaitu sebagai tanggal peresmian peningkatan Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan menjadi suatu Angkatan, yakni Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara.

Perebutan Pangkalan Udara Maguwo

Semangat untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya. Yogyakarta juga merupakan salah satu tempat pemusatan kekuatan udara Jepang, di samping Lapangan Udara Andir di Bandung, Jawa Barat dan Lapangan Udara Bugis di Malang, Jawa Timur. Maka selain usaha untuk melucuti Tentara Jepang di Kotabaru, bagian kota Yogyakarta, pada tanggal 6 dan 7 Oktober 1945 terjadi penyerangan Pangkalan Udara Maguwo.
 

Pangkalan Udara Maguwo (kini Pangkalan Udara Adisutjipto) terletak di sebelah timur kota Yogyakarta (± 8 kilometer) dengan ketinggian ± 131 M dari permukaan laut. Pangkalan udara ini dipergunakan oleh Militaire Luchtvaart pada tahun 1942 dan dibangun sejak tahun 1940. Setelah kapitulasi Belanda kepada Jepang, maka Pangkalan Udara Maguwo ini dipergunakan sebagai basis militer oleh Bala Tentara Jepang di bawah Penerbangan Angkatan Laut (Kaigun Kokusho) yang berkedudukan di Surabaya.
 

Mula-mula Komandan BKR Cabang Yogyakarta Timur Suroyo mendekati sasarannya lalu melemparkan sebuah granat ke arah tower Pangkalan Udara Maguwo. Dengan ledakan granat tersebut sebagai isyarat awal penyerangan, maka serentak seluruh pasukan baik BKR Yogyakarta Timur maupun BKR Pusat, mulai menyerang pangkalan. Karena paniknya, tentara-tentara Jepang tidak dapat lagi mempertahankan diri dan melarikan diri ke arah selatan di Desa Padasan. Mereka bersembunyi di lubang-lubang perlindungan yang telah mereka siapkan sebelumnya.
 

Di tengah-tengah pertempuran itu 3 buah pesawat udara sempat dilarikan, tetapi seorang pilotnya tertembak mati sewaktu akan naik memasuki cockpit pesawatnya. Akhirnya tentara Jepang menyerah kalah, sehingga seluruh Pangkalan Udara Maguwo termasuk kurang lebih 50 pesawat udara dapat dikuasai dan di bawah penguasaan Bangsa Indonesia.

Penyerangan Pos PHB Jepang di Sambilegi

Sementara itu, sebagaimana halnya di daerah-daerah lain, di Yogyakarta segera dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang keanggotaannya terdiri dari para pembantu Tentara Jepang (Heiho).
 

Demikian pula di Yogyakarta bagian Timur, terbentuk BKR yang merupakan cabang dari BKR Yogyakarta. BKR cabang Yogyakarta Timur beranggotakan 80 orang, di bawah pimpinan Suroyo, yakni seorang bekas penembak udara (luchtschutter) di jaman Militaire Luchtvaart Belanda.
 

Badan Keamanan Rakyat cabang Yogyakarta Timur segera melaksanakan konsolidasi kekuatan pasukan dan mulai merencanakan perebutan wilayah di sekitarnya. Pelucutan persenjataan Tentara Jepang dimaksudkan untuk memperkuat kesatuan tersebut sehingga memiliki daya ukur terhadap lawan.
 

Mengingat besarnya arti dan fungsi Perhubungan (Pemancar Radio) dalam kemiliteran, maka pada tanggal 2 Oktober 1945, sebuah Pos Perhubungan (PHB) milik Jepang yang terletak di Desa Sambilegi sebelah utara Pangkalan Maguwo, menjadi sasaran serangan utama BKR cabang Yogyakarta Timur tersebut.
 

Pimpinan penyerangan dipegang oleh Suroyo sendiri, dengan kekuatan 200 massa bersenjata beberapa pucuk stein, bambu runcing dan senjata tajam lainnya. Dengan taktik pendadakan di siang hari sewaktu Tentara Jepang sedang beristirahat maka 25 orang Jepang berhasil ditawan dan dapat disita pula 17 pucuk senapan, 6 pucuk stein dan 2 pucuk pistol. Dengan hasil tersebut berarti BKR Cabang Yogyakarta Timur bertambah persenjataannya.
 

Keadaan kota Yogayakarta sementara itu semakin genting, karena pihak Jepang tidak bersedia menyerahkan diri kepada para pejuang Republik Indonesia. Padahal persenjataan masih banyak yang berada di tangan Tentara Jepang.

Pertempuran Perebutan Senjata di Kotabaru

Pada tanggal 6 dan 7 Oktober 1946 terjadi suatu peristiwa berdarah di Yogyakarta, karena adanya pertempuran perebutan senjata dari tangan tentara Jepang di Kotabaru. Pasukan BKR Cabang Yogyakarta Timur mendapat tugas khusus untuk mengisolir tentara-tentara Jepang yang berada di Wonocatur dan Maguwo agar tidak dapat memberikan bantuan kepada rekan- rekannya yang di Kotabaru yang sedang dikepung oleh Rakyat Yogyakarta.
 

Dari arah Timur datanglah 2 buah truk penuh dengan tentara Jepang yang tak bersenjata. Setelah kendaraan tersebut melewati pos di Janti, maka diberhentikan dan semua penumpangnya diperintahkan turun. Waktu dilakukan pemeriksaan oleh petugas BKR, maka ternyata di bawah bak disembunyikan senjata-senjatanya, masing-masing 28 dan 39 pucuk senjata.
 

Siasat penyembunyian senjata-senjata tersebut, dimaksudkan agar usaha untuk memberikan bantuan kepada rekan-rekannya di Kotabaru tidak diketahui oleh pasukan-pasukan BKR kita. Tetapi berkat kewaspadaan pasukan-pasukan kita, siasat muslihat Jepang ini tidak berhasil. Setelah senjata-senjata tersebut dirampas dan sopir digantikan oleh anggota BKR, semua tentara Jepang diperintahkan naik kembali dan dibawa ke tempat tawanan dan dikumpulkan bersama-sama dengan tawanan-tawanan Jepang sebelumnya.
 

Dengan selesainya tugas pelucutan dan penawanan tersebut, maka pasukan BKR Cabang Yogyakarta Timur bergerak ke barat untuk memberikan bantuan dalam pertempuran perebutan senjata di Kotabaru yang tengah berlangsung dengan hebatnya.
Perebutan senjata di Kotabaru selesai dengan meminta korban jiwa 18 orang gugur sebagai kusuma bangsa dan berpuluh-puluh yang luka.

Penyerahan Wewenang Maguwo

Untuk merawat dan memanfaatkan pesawat-pesawat udara yang telah kita miliki sebagai asil ramapasan tentara Jepang, maka diperlukan tenaga-tenaga yang telah memiliki pengalaman dan atau pendidikan di bidang kedirgantaraan. Dalam hal ini, Djarot Djojoprawiro sebagai anggota Dewan Pimpinan Penerbangan Angkatan Laut di Surabaya mendapat surat perintah dari Ketua Dewan Pimpinan yang ditandatangani pula oleh Menteri Pertahanan dengan tugas untuk mengurusi penyelenggaraan penerbangan di Pangkalan Udara Maguwo yang secara historis di bawah wewenang Penerbangan Angkatan Laut yang berkedudukan di Surabaya.
 

Untuk memikul tugas yang tidak ringan tersebut, maka Djarot mempersiapkan ± 30 tenaga yang berpengalaman di bidang penyelenggaraan penerbangan. Berhubung pada waktu itu Pangkalan Udara Maguwo ditempatkan ± 1 Kompi TKR Batalyon X, maka guna melaksanakan surat perintah tersebut, Djarot menghubungi Komandan Divisi IX Yogyakarta Kolonel Sudarsono (terakhir Mayor Jendral TNI Purnawirawan). Dalam konferensi Markas Tertinggi TKR tertanggal 13 November 1945 diantaranya diputuskan, bahwa segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas-tugas penerbangan langsung diurus dan diselenggarakan oleh Markas Besar Umum Bagian Penerbangan.
 

Berdasarkan keputusan tersebut, maka pada tanggal 17 Desember 1945 Komandan Divisi IX Yogyakarta menyerahkan wewenang dan penguasaan Pangkalan Udara Maguwo kepada MBO (dalam hal ini Markas Besar Tertinggi TKR Jawatan Penerbangan) beserta dengan pilot-pilotnya antara lain: A. Adisutjipto (Laksamana Muda Udara Anumerta), A.D. Tarsono Rudjito (Mayor Udara Anumerta), sejumlah pesawat-pesawat dan personelnya.
 

Sejak saat itu Pangkalan Udara Maguwo diurus oleh Bangsa Indonesia yang minimal mempunyai pengalaman dalam hal pekerjaan di bidang penerbangan dan mereka yang pernah mendapat didikan pada Militaire Luchtvaart atau Penerbangan di zaman Jepang. Pekerjaan yang sangat berat itu dipelopori oleh A. Adisutjipto.
 

Adapun kegiatan yang nampak pada waktu antara lain mengadakan perbaikan-perbaikan, perawatan-perawatan dan perombakan-perombakan terhadap pesawat-pesawat peninggalan/perampasan Jepang yang kebanyakan sudah parah keadaannya mendekati barang rongsokan, di samping mengadakan test flight yang sangat besar resikonya. Hal ini semata-mata karena dorongan semangat untuk segera menguasai wilayah udaranya.

Kegiatan-kegiatan Penerbangan Kita

Berkat kegiatan ahli-ahli kita, satu demi satu pesawat-pesawat tersebut dapat disiapkan kembali, sehingga dapatlah dimanfaatkan bagi mereka yang pernah mendapat didikan terbang sebelum perang. Hasil-hasil percobaan terbang sungguh sangat mengagumkan, bila diingat bahwa pesawat-pesawat udara Jepang ini sangat asing bagi mereka, apalagi tidak adanya petunjuk-petunjuk yang dapat dipergunakan; kalaupun ada buku-buku petunjuk tersebut selalu ditulis dengan huruf Jepang. Adapun kegiatan-kegiatan tersebut antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :

Pada tanggal 10 Oktober 1945 A. Adisutjipto berhasil menerbangkan sebuah pesawat Type “Nishikoren” BANTENG di Cibeureum (Tasikmalaya).

Pada tanggal 28 Oktober 1945 penduduk Yogyakarta gembira dan bangga, karena untuk pertama kalinya dapat menyaksikan sebuah pesawat udara yang mempunyai identitas Merah Putih melayang-layang di atas Kota Yogyakarta. Pesawat udara ini adalah pesawat latih bersayap dua Type “Cureng” yang dikemudikan oleh A. Adisutjipto.

Pada tanggal 8 November 1945 telah tiba di Pangkalan Udara Maguwo sebuah pesawat udara bersayap satu tipe “Nishikoren” dari Pangkalan Udara Cibeureum (Tasikmalaya) yang dikemudikan oleh A. Adisutjipto dan A.D. Tarsono Rudjito.

Sekolah Penerbangan

Dengan diresmikannya Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan, sesuai dengan hasil konferensi Markas Tertinggi TKR di Yogyakarta pada tanggal 13 November 1945, yang berpusat di Yogyakarta, maka Pangkalan Udara Maguwo memegang peranan yang penting bagi perjuangan di bidang penerbangan, dan pembinaan air power serta penyebaran airmindness di kalangan pemuda-pemuda kita.
 

Pada awal Desember 1945 dimulailah pendidikan calon penerbang secara darurat di Maguwo yang ternyata kelak menjadi dasar pengembangan ke arah berdirinya Akademi Angkatan Udara (AAU). Adapun kadet-kadetnya terdiri dari pemuda-pemuda, baik dari mereka yang pernah mendapat didikan / pengalaman M.L. maupun pemuda-pemuda (pejuang) yang sama sekali belum pernah berpengalaman. Dapat dikemukakan di sini, bahwa diantara siswa-siswanya antara lain Iswahyudi dan R. Imam Suwongso Wiryosaputro yang hanya dalam tempo 3 minggu kedua kadet tersebut telah dapat terbang solo dengan baik.
 

Sementara itu di Pangkalan Udara Maguwo berkat kegiatan dan ketekunan para teknisi kita dapat melayani kegiatan-kegiatan pendidikan dan penerbangan sehingga 27 buah pesawat udara “Cureng”dapat disiapkan. Instrukturnya adalah A. Adisutjipto yang pernah menjadi Vaandrig Piloot kort-verband vlieger pada Militaire Luchtvaart di zaman sebelum perang.
 

Di samping kegiatan sebagai instruktur, maka beliaupun adalah penerbang yang tak kenal lelah untuk penerbangan bermacam-macam pesawat udara. Antara lain pada bulan Februari 1946 Adisutjipto telah mendarat di Pangkalan Udara Maguwo dengan menggunakan pesawat bersayap satu tipe “Cukiu” dari Pangkalan Udara Bugis (Malang).

Merintis Industri Pesawat Terbang

Tanpa adanya pesawat-pesawat terbang, maka tak mungkin kita menyelenggarakan pendidikan calon-calon penerbang. Di samping para teknisi kita melaksanakan perbaikan – perbaikan dan perawatan – perawatan (maintenance) pesawat-pesawat terbang yang telah ada, tak ketinggalan pula para ahli kita berusaha untuk menciptakan sendiri pesawat-pesawat udara dengan bahan-bahan yang ada pada kita waktu itu. Usaha Biro Rencana dan Konstruksi patut kita hargai, meskipun menghadapi seribu satu kesulitan khususnya dalam hal pembiayaan dan peralatan.
 

Namun demikian dalam waktu satu tahun telah juga berhasil memproduksi 6 buah pesawat luncur. Perlu dikemukakan, bahwa yang digolomgkan sebagi pelopor dan penciptanya antara lain Wiweko Supono dan Nurtanio Pringgoadisurjo. Hasil karya Biro tersebut sangat besar artinya bagi pendidikan pendahuluan (Basic Training) para calon penerbang kita, karena ternyata mereka yang lulus ujian dengan pesawat-peswat luncur tersebut dapat terus dikirim ke luar negeri untuk mengikuti pendidikan lanjutan (Advance Training).
 

Di samping pesawat luncur tersebut, maka telah selesai pula pembuatan pesawat terbang olah raga yang seluruh bahan materialnya berasal dari dalam negri. Demikian pula berhasil membuat pesawat transport jarak jauh yang merupakan hasil kombinasi antara bekas pesawat terbang Bristol “Blenheim” dan 2 buah motor pesawat terbang Nakajima “Sakae”. Kemudian suatu hal yang mengagumkan sekali, yakni hasil cipta J. Sumarsono untuk mengadakan percobaan pembuatan sebuah pesawat helikopter yang dinamakan RI-H.
 

Tetapi sayang Helikopter yang hampir selesai itu hancur akibat keganasan Agresi Militer I Belanda. Inilah pesawat Helikopter yang pertama buatan Bangsa Indonesia. Dengan demikian hasil produksi pesawat-pesawat tersebut merupakan rintisan yang kelak berkembang menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) dan yang selanjutnya kemudian dikenal dengan nama Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR) di Bandung. Nama Nurtanio dipergunakan sebagai penghargaan atas jasa-jasa Laksamana Muda Udara Anumerta Nurtanio Pringgoadisurjo. Belakangan industri pesawat terbang nasional tersebut berubah nama menjadi IPTN dan terakhir PT Dirgantara Indonesia.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel