Berita Kotama

Riwayatmu Doeloe (halaman 2)

Oleh 12 Feb 2010 Tidak ada komentar
Riwayatmu Doeloe (halaman 2)
#TNIAU 

Bapak Penerbang RI

Nama Agustinus Adisutjipto tidak dapat dipisahkan dengan sejarah berdirinya Angkatan Udara Republik Indonesia. Ia merupakan pembina, perintis serta penumbuh AURI. Dialah putera Indonesia yang pertama mendapatkan Brevet Penerbang Militer. Sebenarnya ada seorang lagi yakni Sambujo Hurip yang telah gugur di masa Perang Dunia II. Tetapi ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan, hanya Adisutjipto satu-satunya yang memiliki tanda itu.
 
Sejak diserahkannya wewenang bidang keudaraan kepada Jawatan Penerbangan, diantara personelnya terdapat dua orang tokoh perintis di dalam sejarah pendidikan dan pertumbuhan penerbangan di Indonesia, dan TNI AU khususnya. Siapakah kedua tukoh itu? Tidak lain ialah almarhum Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjitpo dan almarhum Mayor Udara Anumerta Tarsono Rudjito.
 
Sesuai dengan peningkatan posisi bagian penerbangan waktu itu, maka pemerintah Republik Indonesia telah menunjuk dan menetapkan S. Suryadarma sebagai Kepala Bagian Penerbangan. Sedangkan Agustinus Adisutjipto dan Sukarnen Matodisumo sebagai pembantu-pembantunya.
 
Dengan selesainya tugas penyerahan pada Markas Tertinggi Jawatan Penerbangan tersebut, maka pimpinan dihadapkan kepada suatu masalah yang cukup rumit. Yaitu bagaimana seharusnya menata dan menyusun struktur serta memanfaatkan segala materi yang telah mereka kuasai.
 
Dalam keadaan yang terbatas dan didesak oleh kepentingan nasional untuk mempertahankan kedaulatan negara, maka tercetuslah gagasan untuk mendirikan sekolah penerbang secara darurat, agar dalam waktu singkat dapat dihasilkan tenaga-tenaga pilot yang sangat dibutuhkan itu.
 
Selain itu untuk membangun penerbangan militer dan membuka penerbangan sipil kita belum mempunyai tenaga ahli yang cukup. Sedangkan pesawat yang dimiliki hanyalah terdiri dari peninggalan Jepang yang sulit diandalkan. Namun para perintisnya tidak putus harapan. Semuanya itu kendati dihadapi dengan prihatin, tetapi dengan moril dan semangat yang tinggi karena kecintaannya terhadap Republik Indonesia yang baru berdiri ini. Maka atas prakarsa pemuda Adisutjipto didirikanlah Sekolah Penerbangan yang pertama. Sekolah itu berdiri sejak 15 November 1945 di Maguwo Yogyakarta.
 
Sekolah penerbangan inilah yang kemudian menjadi titik tolak berdirinya Lembaga Pendidikan Angkatan Udara. Memang di samping Maguwo, telah ada juga Sekolah Penerbangan yang bersifat darurat di Pangkalan Udara Bugis, Malang atas prakarsa kawan-kawan Adisutjipto yakni Suhud dan H. Suyono. Tetapi Sekolah Penerbangan di Malang hanyalah merupakan kursus pengetahuan praktis yang berisi ceramah-ceramah saja. Sifatnya hanya menyebarkan pengetahuan tentang penerbangan, jadi bukanlah merupakan sekolah.
 
Sedangkan Sekolah Penerbangan di Yogyakarta yang dipimpin oleh seorang ahli, didirikan dalam situasi perjuangan kemerdekaan, untuk segera dapat dicetak pilot-pilot kebangsaan Indonesia.
 
Dalam rangka melancarkan usaha Sekolah Penerbangan ini, pimpinan Pangkalan Udara Bugis di Malang, yaitu Imam Soepono, telah memberikan bantuan pesawat udara kepada Sekolah Penerbangan di Yogyakarta. Bantuan pesawat itu seluruhnya berjumlah 37 buah. Dan sebagai kelanjutannya, kedua lembaga pendidikan itupun berintegrasi, sehingga sejak itu hanya dikenal satu Sekolah Penerbang yang ada di Yogyakarta. Lembaga Pendidikan Penerbangan inilah yang kemudian menjadi embrio dari Akademi Angkatan Udara yang sebenarnya.
 
Dalam Sekolah penerbangan itu, tugas pendidikan dan latihan dipegang langsung oleh Adisutjipto, sedang bidang administrasi dan operasi dipegang oleh Suryadarma. Karena itulah, Adisutjipto disebut sebagai Bapak Penerbang Indonesia.
 
Yang dipakai sebagai pesawat latih mula tetap pesawat jenis Cureng. Walaupun sudah tua tetapi merupakan warisan yang sangat berguna bagi dunia pendidikan penerbangan Indonesia. Bahkan jenis pesawat ini juga dipakai sebagai pesawat pemburu. Dan harus diingat, karena kondisi pesawat tidak sepenuhnya baik, maka para calon penerbang di samping harus memiliki mental dan fisik kuat, nyawanya seringkali menjadi taruhannya.
 
Namun para pemuda Indonesia waktu itu, benar-benar telah menyediakan diri mereka untuk rela berkorban demi kemerdekaan tanah air dan bangsanya. Dan karena terjalin hubungan yang erat antara para pimpinan Angkatan Udara, terutama Suryadarma dan Adisutjipto, maka dapat dihasilkan berpuluh-puluh pemuda yang menjadi “Gatotkaca Indonesia”, yang siap sedia menghancurkan lawan dari udara. Juga karena berkat gemblengan dan bimbingan Adisutjipto, “Rasa Cinta Udara” menjadi terkenal di kalangan pemuda Indonesia.
 
Menuju Akademi Angkatan Udara

Baca juga:  MT Arraudah IKKT Kosekhanudnas IV Kunjungi RRI Biak

Bulan September 1947 TNI Angkatan Udara untuk pertama pertama kalinya menerima pemuda-pemuda lulusan SMA untuk dididik sebagai siswa penerbang. Dalam angkatan pertama ini, termasuk adik kandung Adisutjipto sendiri menjadi siswanya yaitu A. Daryono.
 
Bulan November 1950, TNI AU mengirimkan 60 orang kadet ke California. Di samping mengirimkan kadet-kadet ke luar negeri, di Bandung Pangkalan Udara Husein Sastranegara juga dibuka Pendidikan Tehnik dan Materiil. Tetapi pendidikan angkatan selanjutnya sampai sekarang berlokasi di Pangkalan Udara Adisutjipto, yang semula bernama Maguwo.
 
Sebagai pimpinan Sekolah Penerbangan yang mempunyai tanggung jawab besar, Adisutjipto juga aktif mencari bantuan ke luar negeri. Ia sering herus menerobos blokade musuh, untuk bertindak selaku utusan atau liasion officer, seperti ke India, Pakistan dan Filipina. Dari perjalanan diplomasinya itulah dapat dihasilkan bantuan berupa obat-obatan, senjata, tenaga pelatih dan bantuan lainnya lagi. Khusus dengan India, yang telah memberikan bantuan pesawat jenis dakota VT-CLA yang ternyata membuat sejarah tersendiri bagi Bapak Penerbang kita.
 
Pada tanggal 9 April 1960 di Lanuma Adisutjipto diadakan upacara peletakan batu pertama pendirian gedung Akademi Angkatan Udara. Dengan demikain secara resmi Lanuma Adisutjipto menjadi tempat pendidikan para calon-calon perwira TNI Angkatan Udara. Pada tahun 1965 tempat pendidikan itu diresmikan menjadi Akademi Angkatan Udara (AAU) dengan patakanya yang bersemboyan “Vidya Karma Vira Pakca”. Sedangkan untuk panggilan para Taruna Akademi Angkatan Udara diubah menjadi “Karbol”.
 
Bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tanggal 5 Oktober 1966, Lembaga-lembaga pendidikan Militer yaitu: Akademi Militer Nasional (AMN), Akademi Angkatan laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Angkatan Kepolisian (AAK) diintegrasikan menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Dengan demikian sebutan Akademi Angkatan Udara kini menjadi AKABRI Bagian Udara.
 
Demikianlah sekilas pertumbuhan Sekolah Penerbang hingga menjadi AKABRI Bagian Udara, yang telah dirintis oleh bapak penerbang Indonesia, Adisutjipto.

Baca juga:  KEGIATAN DAN KEMAMPUAN PEMELIHARAAN

Kisah Gugurnya Adisutjipto

Seperti telah kita ketahui, selain kariernya di bidang kemiliteran, Adisutjipto juga seorang diplomat yang cukup berhasil dalam menangani masalah-masalah sarana pertahanan udara dengan luar negeri. Dari hasil misinya itu, ia mendapat bantuan tenaga pelatih dan instruktur dari negara-negara sahabat, seperti Filipina dan India untuk Sekolah Penerbangan yang sedang dibinanya. Di samping itu, juga mencari pinjaman atau membeli pesawat terbang.
 
Untuk mencari dana guna pembelian pesawat terbang ini, di dalam negeri sendiri diusahakan oleh Adisutjipto dengan bergabagi cara, antara lain menyelenggarakan malam hiburan amal. Misalnya pada “Malam Pembeli Bomber”. Saat itu diundang beberapa tokoh, para pengusaha, dan dermawan. Dengan menyelenggarakan seperti itu ternyata hasilnya cukup baik dalam memperoleh dana.
 
Dalam kunjungan ke India, oleh Sri Jawaharlal Nehru telah diperkenalkan kepada Adisutjipto, seorang industrialis India yang terkenal, Patnaik. Dalam pertemuan itu
, Patnaik akhirnya setuju untuk meminjamkan sebuah pesawat Dakota kepada Pemerintah Indonesia untuk keperluan penerbangannya.
 
Kapergian yang kedua kali ditemani oleh bekas dosennya yang juga sebagai kawan karibnya Prof. Dr. Abdurrachman Saleh, untuk membawa pesawat Dakota VT-CLA yang telah dijanjikan oleh Patnaik itu. Dari India mereka singgah di Singapura, di mana penguasa setempat yakni Pemerintah Inggris dan juga Belanda telah mengizinkan pesawat itu meneruskan perjalanannya ke Indonesia untuk mengangkut obat-obatan.
 
Demikianlah, pada tanggal 29 Juli 1947 di senja hari, pesawat Dakota VT-CLA bertolak dari Singapura menuju Yogyakarta mengangkut obat-obatan bantuan Palang Merah Malaya kepada Palang Merah Indonesia. Kepala Staf S. Suryadarma dengan mengendarai jeep, secara khusus datang menyambutnya ke lapangan udara Maguwo.
 
Beberapa saat pesawat itu berputar-putar mengelilingi landasan untuk mengadakan pendaratan, namun di luar dugaan dari arah utara muncul dua buah pesawat pemburu Kittyhawk milik Belanda, yang langsung memuntahkan pelurunya ke arah pesawat Dakota VT-CLA yang tak bersenjata itu. Tembakannya tepat mengenai sasaran, akibatnya keseimbangan pesawat itu hilang. Saat itu nampak pilot masih berusaha mengadakan pendaratan darurat, namun pesawat terus meluncur menabrak sebatang pohon yang akhirnya jatuh dan terbakar.
 
Peristiwa yang sangat menyedihkan ini terjadi di dekat daerah Jatingarang, sebelah utara Ngoto dekat kali Code. Ternyata hanya seorang penumpang saja yang selamat yaitu A. Gani Handonocokro. Yang lain gugur semua yaitu :
 
Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto
Komodor Muda Udara Prof. Dr Abdurrachman Saleh
Penerbang berkebangsaan Australia A.N. Constantine
Co-pilot berkebangsaan Inggris R. hazelhurst
Juru Radio Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusumo
Juru Teknik berkebangsaan India Bhida Ram
Nyonya Constantine
Zainal Arifin, wakil Perdagangan RI di Singapura

Baca juga:  Farewell Asintel Kosekhanuudnas II Dengan Sepeda Santai Makassar Safety Bikers Community

Dengan rasa duka yang mendalam, rakyat berjejal memadati jalan-jalan yang dilalui iringan jenazah. Mereka ingin menyaksikan dan melepaskan kepergian yang terkhir bagi pahlawan-pahlawannya itu. Peristiwa ini sudah tentu merupakan pukulan berat yang dirasakan oleh Suryadarma sendiri, karena telah kehilangan dua orang pembantu utamanya yang terpercaya dalam pembangunan AURI.
 
Jenazah para pahlawan itu kemudian dimakamkan di pekuburan Pakuncen Yogyakarta. Saat itu Bendera Merah Putih, Union Jack (Bendera Inggris) dan Bendera India berkibar setengah tiang tanda berduka cita. AURI telah kehilangan dua orang pelopor dan pahlawannya demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto gugur dalam usia masih muda, 31 tahun. Namun namanya akan tetap tergores abadi dalam kalbu setiap penerbang Indonesia.
 
Bagi Ibu Adisutjipto sendiri masih terngiang ucapan terakhir Adisutjipto, sebelum suaminya gugur di medan tugas: “Kalau nanti ada waktu, nanti jij (kamu) saya jemput”. Kata-kata itu ditulis almarhum dalam surat terakhir untuk isterinya.
 
Untuk mengenang peristiwa tragis tersebut, maka oleh pihak pimpinan Angkatan Udara tanggal 29 Juli ditetapkan sebagai Hari Bhakti dengan tujuan :
 
Mengenang dan mempelajari kembali perjuangan dan pengorbanan Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dan Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrahman Saleh serta Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusumo.
 
Menjadikan Hari Peringatan Umum bagi seluruh pahlawan-pahlawan Angkatan Udara, yang telah gugur dalam menunaikan tugas perjuangannya.

Melalui peringatan tersebut, maka secara langsung atau tidak, kita dihadapkan kepada suatu tuntutan pertanggungjawaban moral terhadap pengorbanan dan perjuangan mereka yang telah gugur mendahului kita termasuk kedua tokoh AURI tersebut.

Sebagai penghargaan atas kepahlawanan Adisutjipto, Presiden RI telah menganugerahkan Bintang Garuda dan Bintang Mahaputra Tingkat IV yang diterimakan kepada isteri almarhum. Di samping itu almarhum dinaikkan pangkatnya menjadi Laksamana Muda Udara Anumerta
 
Sebagai kenang-kenangan dan tanda terima kasih atas pengorbanan yang diberikan Adisutjipto, beberapa tahun kemudian yakni pada tanggal 29 Juli 1965, oleh pimpinan AURI telah diserahkan sebuah rumah kepada isteri almarhum yang terletak di Jalan Sagan 12 Yogyakarta. Namun demikian, pemberian itu bukanlah merupakan ukuran atau nilai perjuangannya, sebab setiap pengorbanan pahlawan tidak dapat dinilai dengan materi.

Halaman 3

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel