Berita Kotama

Riwayatmu Doeloe (halaman 3)

Dibaca: 341 Oleh 12 Feb 2010Juli 13th, 2020Tidak ada komentar
c130 hercules indonesian air force approaching
#TNIAU 

Akhirnya

Setelah mengikuti dan mempelajari riwayat hidup dan perjuangan Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto, maka kita sampai kepada suatu kesimpulan:

Adisutjipto memiliki kepribadian yang kokoh. Kendatipun ayah menghendaki ia menjadi dokter, namun cita-citanya untuk menjadi penerbang tidak pernah luntur. Padahal saat itu tidaklah mudah untuk menjadi penerbang. Tetapi karena ketabahan dan keuletannya, akhirnya terkabul juga ia mewujudkan cita-citanya itu.

Dalam kariernya yang singkat, beliau telah mampu menunjukkan kepada pihak penguasa waktu itu, bahwa putera Indonesia juga tidak kalah kemahirannya dengan bangsa lain dalam menerbangkan pesawat udara. Dan karena kemampuannya itulah, Adisutjipto mendapat kepercayaan sebagai Wakil Komandan dan Sekretaris Umum pada Sekolah Penerbang Hindia Belanda ”Militaire Luchtvaart”. Suatu jabatan yang sulit diperoleh bagi seorang pribumi.

Meskipun tentara Dai Nippon sangat disegani oleh sementara penduduk, tetapi Adisutjipto tetap menunjukkan ketegasannya. Tidak ada rasa gentar di hatinya menghadapi mereka, kendati ia bekerja di perusahaan bis milik Jepang. Bahkan beliaulah yang mengambil alih perusahaan itu dan menaikkan bendera sang Merah Putih.

Dalam masa perjuangan fisik, beliau aktif menghimpun para pemuda untuk dilatih kemiliteran dan bersama kawan-kawan seperjuangannya menegakkan kemerdekaan Indonesia secara gigih.

Selain terkenal sebagai pilot yang qualified dan berpengalaman, Adisutjipto juga mampu memanfaatkan kembali pesawat-pesawat yang sudah tidak digunakan lagi. Dengan kemampuan yang dimilikinya, ia bersama kawan-kawannya berhasil merevisi dan memperbaiki kembali pesawat-pesawat peninggalan Jepang yang sudah menjadi barang rongsokan. Dengan demikian merupakan modal utama dalam dunia penerbangan di Indonesia.

Almarhum Adisutjipto tidak mempunyai ambisi pribadi dan penonjolan diri. Ketika pemerintah mengangkat Suryadarma sebagai Kepala Staf TKR-Jawatan Penerbangan yang kemudian berkembang menjadi AURI, Adisutjipto diangkat sebagai wakilnya yang kedua. Padahal dinilai dari jenjang pendidikan, ia lebih tepat; karena syarat-syaratnya lebih memenuhi. Walaupun demikian ia mendukung pengangkatan itu. Baginya yang penting adalah pengabdian terhadap negara.

Dalam kesibukannya sebagai Wakil Kepala Staf AURI, almarhum juga berusaha mewujudkan didirikannya Sekolah Penerbang untuk mendidik calon-calon penerbang dan menanganinya secara langsung. Kemudian mengintegrasikan seluruh lembaga pendidikan penerbangan yang ada di negeri ini. Oleh karenanya, Adisutjipto dicatat sebagai pelopor dan pembina penerbangan di Indonesia. Beliau dikenal sebagai Bapak Penerbang Indonesia.

Sebagai pemimpin, Adisutjipto tidak hanya memerintah, tetapi juga mampu melaksanakan dan memberi contoh apa yang harus dilakukan anak buahnya. Di samping itu rasa tanggung jawabnya besar sekali. Ia tidak akan menyerahkan tugas kepada anak buahnya untuk menerbangkan pesawat yang baru diperbaiki, sebelum memeriksa dan mencobanya sendiri. Maka tepatlah kalau ia disebut sebagai prajurit dan sekaligus pemimpin teladan.

Adisutjipto lebih mementingkan tugas negara di atas segalanya. Hampir seluruh hidupnya, daya, dan kemampuannya dicurahkan untuk kejayaan tanah air dan bangsanya. Filsafat perjuangannya ditujukan kepada angkatan muda : “Jadilah penerbang yang ulung dan berjiwa pahlawan, agar selalu dapat mengabdi kepada Nusa dan Bangsa Indonesia”, tentunya dapat diwujudkan oleh generasi penerusnya.
Gugurnya Marsekal Muda TNI AU Anumerta Agustinus Adisutjipto, merupakan suatu kehilangan besar bagi seluruh rakyat terutama bagi warga Angkatan Udara Republik Indonesia. Karena ia seorang penerbang senior yang masih sangat dibutuhkan dalam masa pembangunan Indonesia dan AURI khususnya.

Mengingat darma bhakti almarhum yang begitu besar, maka wajarlah jika Pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan penghargaan kepadanya berupa :

Satyalancana Perang kemerdekaan Pertama
Bintang Garuda
Bintang Mahaputra Tingkat IV
Rumah Pahlawan untuk Ibu S. Rahayu Agustinus Adisutjipto.

Penghargaan tersebut makin mantap dan lengkap, dengan adanya keputusan Presiden No 071 / TK / TH / 1974 tanggal 9 September 1974 yaitu menganugerahkan predikat Pahlawan Nasional untuk almarhum, mengingat jasa-jasa dan pengorbanan yang telah diberikan untuk Negara dan bangsa Indonesia.
Hanya bangsa yang dapat menghargai pahlawan-pahlawannya, dapat menjadi bangsa yang besar.

“MAGUWO MEMBARA”

Untuk membuat suatu uraian tentang Sejarah Pangkalan Udara Utama Adisutjipto di Yogyakarta ini, maka kita tidak dapat melepaskan diri dari rangkaian sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia dalam menegakkan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Demikian pula sangat erat berhubungan dengan sejarah perjuangan Angkatan Udara Republik Indonesia yang secara resmi berdiri sejajar dengan Angkatan – Angkatan lainnya pada tanggal 9 April 1946. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

Yogyakarta pada saat itu menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia yang terkenal pula sebagai Ibu Kota Revolusi dan Perjuangan.

Yogyakarta merupakan tempat lahir dan menjadi Pusat Pimpinan Angkatan Udara Republik Indonesia sejak masih merupakan Markas Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan.

Maguwo 1945 – 1950

Baca juga:  Upacara Pembukaan Hardha Marutha 2019

Kesadaran bangsa Indonesia terhadap pentingnya AU sudah tumbuh sejak Proklamasi Kemerdekaan. Hal ini ditandai dengan adanya gagasan dari mantan Mayor KNIL (Koninklijk Nederlands Indish Leger), Urip Sumoharjo, untuk membentuk suatu kekuatan udara yang disampaikan kepada seorang mantan perwira Militaire Luchvaart, yang mempunyai pengalaman dalam Perang Dunia II, yaitu mantan Letnan R. Suryadi Suryadarma di Jogjakarta pada bulan September 1945.

Gagasan mantan Mayor KNIL, Urip Sumoharjo yang disampaikan kepada mantan Letnan Militaire Luchvaart Suryadi Suryadarma, pada dasarnya dapat diterima, karena ada beberapa pemuda Indonesia yang pada saat itu mempunyai kemampuan dan pengalaman di bidang keudaraan antara lain: Iswahyudi, Halim Perdanakusuma dan A. Adisutjipto.

Masalah kekuatan angkatan udara mulai dibicarakan dalam Konferensi Tentara Keamanan Rakyat, tanggal 12 November 1945 di Yogjakarta. Sebagai realisasinya pada tanggal 12 Desember 1945, Markas Tertinggi Keamanan Rakyat ( MT-TKR) mengeluarkan sebuah pengumuman yang ditandatangani oleh Kepala Staf Umum, Letnan Kolonel Urip Sumoharjo, yang menyatakan bahwa pada MT-TKR dibentuk bagian penerbangan yang dikepalai oleh R. Suryadi Suryadarma dan R. Sukarnen Martokusumo sebagai wakilnya.

Sejalan dengan peningkatan Tentara Keselamatan Rakyat menjadi TRI / Tentara Republik Indonesia tanggal 25 Januari 1946, yaitu melalui perubahan nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, 7 Januari 1946 maka TKR Jawatan Penerbangan juga mengalami perubahan, karena makin besarnya kepercayaan pemerintah dan rakyat yang diberikan kepada Tentara Keselamatan Rakyat Jawatan Penerbangan.

Hal ini terbukti dengan keluarnya Penetapan Pemerintah no: 6 / S.D tahun 1946 tertanggal 9 April, tentang pembentukan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara yang kemudian dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara. Di dalamnya ditetapkan pula R. Suryadi Suryadarma menjadi Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia, dengan pangkat Komodor Udara (setara Mayor Jenderal) dan R. Sukarnen Martokusumo menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Udara dengan pangkat Komodor Udara serta mengangkat Agustinus Adisutjipto menjadi Wakil Kepala Kedua Staf Angkatan Udara dengan pangkat Komodor Muda Udara (Kolonel).

Dengan demikian, berdasarkan Penetapan Pemerintah tersebut tanggal 9 April 1946 merupakan saat bersejarah, yaitu sebagai tanggal peresmian peningkatan Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan menjadi suatu Angkatan, yakni Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara.

Perebutan Pangkalan Udara Maguwo

Semangat untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya. Yogyakarta juga merupakan salah satu tempat pemusatan kekuatan udara Jepang, di samping Lapangan Udara Andir di Bandung, Jawa Barat dan Lapangan Udara Bugis di Malang, Jawa Timur. Maka selain usaha untuk melucuti Tentara Jepang di Kotabaru, bagian kota Yogyakarta, pada tanggal 6 dan 7 Oktober 1945 terjadi penyerangan Pangkalan Udara Maguwo.

Pangkalan Udara Maguwo (kini Pangkalan Udara Adisutjipto) terletak di sebelah timur kota Yogyakarta (± 8 kilometer) dengan ketinggian ± 131 M dari permukaan laut. Pangkalan udara ini dipergunakan oleh Militaire Luchtvaart pada tahun 1942 dan dibangun sejak tahun 1940. Setelah kapitulasi Belanda kepada Jepang, maka Pangkalan Udara Maguwo ini dipergunakan sebagai basis militer oleh Bala Tentara Jepang di bawah Penerbangan Angkatan Laut (Kaigun Kokusho) yang berkedudukan di Surabaya.

Mula-mula Komandan BKR Cabang Yogyakarta Timur Suroyo mendekati sasarannya lalu melemparkan sebuah granat ke arah tower Pangkalan Udara Maguwo. Dengan ledakan granat tersebut sebagai isyarat awal penyerangan, maka serentak seluruh pasukan baik BKR Yogyakarta Timur maupun BKR Pusat, mulai menyerang pangkalan. Karena paniknya, tentara-tentara Jepang tidak dapat lagi mempertahankan diri dan melarikan diri ke arah selatan di Desa Padasan. Mereka bersembunyi di lubang-lubang perlindungan yang telah mereka siapkan sebelumnya.

Di tengah-tengah pertempuran itu 3 buah pesawat udara sempat dilarikan, tetapi seorang pilotnya tertembak mati sewaktu akan naik memasuki cockpit pesawatnya. Akhirnya tentara Jepang menyerah kalah, sehingga seluruh Pangkalan Udara Maguwo termasuk kurang lebih 50 pesawat udara dapat dikuasai dan di bawah penguasaan Bangsa Indonesia.

Penyerangan Pos PHB Jepang di Sambilegi

Sementara itu, sebagaimana halnya di daerah-daerah lain, di Yogyakarta segera dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang keanggotaannya terdiri dari para pembantu Tentara Jepang (Heiho).

Demikian pula di Yogyakarta bagian Timur, terbentuk BKR yang merupakan cabang dari BKR Yogyakarta. BKR cabang Yogyakarta Timur beranggotakan 80 orang, di bawah pimpinan Suroyo, yakni seorang bekas penembak udara (luchtschutter) di jaman Militaire Luchtvaart Belanda.

Badan Keamanan Rakyat cabang Yogyakarta Timur segera melaksanakan konsolidasi kekuatan pasukan dan mulai merencanakan perebutan wilayah di sekitarnya. Pelucutan persenjataan Tentara Jepang dimaksudkan untuk memperkuat kesatuan tersebut sehingga memiliki daya ukur terhadap lawan.

Baca juga:  92 Personel Lanud Rsn dan Yonko 462 Paskhas Naik Pangkat

Mengingat besarnya arti dan fungsi Perhubungan (Pemancar Radio) dalam kemiliteran, maka pada tanggal 2 Oktober 1945, sebuah Pos Perhubungan (PHB) milik Jepang yang terletak di Desa Sambilegi sebelah utara Pangkalan Maguwo, menjadi sasaran serangan utama BKR cabang Yogyakarta Timur tersebut.

Pimpinan penyerangan dipegang oleh Suroyo sendiri, dengan kekuatan 200 massa bersenjata beberapa pucuk stein, bambu runcing dan senjata tajam lainnya. Dengan taktik pendadakan di siang hari sewaktu Tentara Jepang sedang beristirahat maka 25 orang Jepang berhasil ditawan dan dapat disita pula 17 pucuk senapan, 6 pucuk stein dan 2 pucuk pistol. Dengan hasil tersebut berarti BKR Cabang Yogyakarta Timur bertambah persenjataannya.

Keadaan kota Yogayakarta sementara itu semakin genting, karena pihak Jepang tidak bersedia menyerahkan diri kepada para pejuang Republik Indonesia. Padahal persenjataan masih banyak yang berada di tangan Tentara Jepang.

Pertempuran Perebutan Senjata di Kotabaru

Pada tanggal 6 dan 7 Oktober 1945 terjadi suatu peristiwa berdarah di Yogyakarta, karena adanya pertempuran perebutan senjata dari tangan tentara Jepang di Kotabaru. Pasukan BKR Cabang Yogyakarta Timur mendapat tugas khusus untuk mengisolir tentara-tentara Jepang yang berada di Wonocatur dan Maguwo agar tidak dapat memberikan bantuan kepada rekan- rekannya yang di Kotabaru yang sedang dikepung oleh Rakyat Yogyakarta.

Dari arah Timur datanglah 2 buah truk penuh dengan tentara Jepang yang tak bersenjata. Setelah kendaraan tersebut melewati pos di Janti, maka diberhentikan dan semua penumpangnya diperintahkan turun. Waktu dilakukan pemeriksaan oleh petugas BKR, maka ternyata di bawah bak disembunyikan senjata-senjatanya, masing-masing 28 dan 39 pucuk senjata.

Siasat penyembunyian senjata-senjata tersebut, dimaksudkan agar usaha untuk memberikan bantuan kepada rekan-rekannya di Kotabaru tidak diketahui oleh pasukan-pasukan BKR kita. Tetapi berkat kewaspadaan pasukan-pasukan kita, siasat muslihat Jepang ini tidak berhasil. Setelah senjata-senjata tersebut dirampas dan sopir digantikan oleh anggota BKR, semua tentara Jepang diperintahkan naik kembali dan dibawa ke tempat tawanan dan dikumpulkan bersama-sama dengan tawanan-tawanan Jepang sebelumnya.

Dengan selesainya tugas pelucutan dan penawanan tersebut, maka pasukan BKR Cabang Yogyakarta Timur bergerak ke barat untuk memberikan bantuan dalam pertempuran perebutan senjata di Kotabaru yang tengah berlangsung dengan hebatnya.
Perebutan senjata di Kotabaru selesai dengan meminta korban jiwa 18 orang gugur sebagai kusuma bangsa dan berpuluh-puluh yang luka.

Penyerahan Wewenang Maguwo

Untuk merawat dan memanfaatkan pesawat-pesawat udara yang telah kita miliki sebagai asil ramapasan tentara Jepang, maka diperlukan tenaga-tenaga yang telah memiliki pengalaman dan atau pendidikan di bidang kedirgantaraan. Dalam hal ini, Djarot Djojoprawiro sebagai anggota Dewan Pimpinan Penerbangan Angkatan Laut di Surabaya mendapat surat perintah dari Ketua Dewan Pimpinan yang ditandatangani pula oleh Menteri Pertahanan dengan tugas untuk mengurusi penyelenggaraan penerbangan di Pangkalan Udara Maguwo yang secara historis di bawah wewenang Penerbangan Angkatan Laut yang berkedudukan di Surabaya.

Untuk memikul tugas yang tidak ringan tersebut, maka Djarot mempersiapkan ± 30 tenaga yang berpengalaman di bidang penyelenggaraan penerbangan. Berhubung pada waktu itu Pangkalan Udara Maguwo ditempatkan ± 1 Kompi TKR Batalyon X, maka guna melaksanakan surat perintah tersebut, Djarot menghubungi Komandan Divisi IX Yogyakarta Kolonel Sudarsono (terakhir Mayor Jendral TNI Purnawirawan). Dalam konferensi Markas Tertinggi TKR tertanggal 13 November 1945 diantaranya diputuskan, bahwa segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas-tugas penerbangan langsung diurus dan diselenggarakan oleh Markas Besar Umum Bagian Penerbangan.

Berdasarkan keputusan tersebut, maka pada tanggal 17 Desember 1945 Komandan Divisi IX Yogyakarta menyerahkan wewenang dan penguasaan Pangkalan Udara Maguwo kepada MBO (dalam hal ini Markas Besar Tertinggi TKR Jawatan Penerbangan) beserta dengan pilot-pilotnya antara lain: A. Adisutjipto (Laksamana Muda Udara Anumerta), A.D. Tarsono Rudjito (Mayor Udara Anumerta), sejumlah pesawat-pesawat dan personelnya.

Sejak saat itu Pangkalan Udara Maguwo diurus oleh Bangsa Indonesia yang minimal mempunyai pengalaman dalam hal pekerjaan di bidang penerbangan dan mereka yang pernah mendapat didikan pada Militaire Luchtvaart atau Penerbangan di zaman Jepang. Pekerjaan yang sangat berat itu dipelopori oleh A. Adisutjipto.

Adapun kegiatan yang nampak pada waktu antara lain mengadakan perbaikan-perbaikan, perawatan-perawatan dan perombakan-perombakan terhadap pesawat-pesawat peninggalan/perampasan Jepang yang kebanyakan sudah parah keadaannya mendekati barang rongsokan, di samping mengadakan test flight yang sangat besar resikonya. Hal ini semata-mata karena dorongan semangat untuk segera menguasai wilayah udaranya.

Baca juga:  Proses Akreditasi Rumah Sakit Tingkat IV Lanud Sjamsudin Noor Menuju Rumah Sakit Tingkat III

Kegiatan-kegiatan Penerbangan Kita

Berkat kegiatan ahli-ahli kita, satu demi satu pesawat-pesawat tersebut dapat disiapkan kembali, sehingga dapatlah dimanfaatkan bagi mereka yang pernah mendapat didikan terbang sebelum perang. Hasil-hasil percobaan terbang sungguh sangat m
engagumkan, bila diingat bahwa pesawat-pesawat udara Jepang ini sangat asing bagi mereka, apalagi tidak adanya petunjuk-petunjuk yang dapat dipergunakan; kalaupun ada buku-buku petunjuk tersebut selalu ditulis dengan huruf Jepang. Adapun kegiatan-kegiatan tersebut antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :

Pada tanggal 10 Oktober 1945 A. Adisutjipto berhasil menerbangkan sebuah pesawat Type “Nishikoren” BANTENG di Cibeureum (Tasikmalaya).

Pada tanggal 28 Oktober 1945 penduduk Yogyakarta gembira dan bangga, karena untuk pertama kalinya dapat menyaksikan sebuah pesawat udara yang mempunyai identitas Merah Putih melayang-layang di atas Kota Yogyakarta. Pesawat udara ini adalah pesawat latih bersayap dua Type “Cureng” yang dikemudikan oleh A. Adisutjipto.

Pada tanggal 8 November 1945 telah tiba di Pangkalan Udara Maguwo sebuah pesawat udara bersayap satu tipe “Nishikoren” dari Pangkalan Udara Cibeureum (Tasikmalaya) yang dikemudikan oleh A. Adisutjipto dan A.D. Tarsono Rudjito.

Sekolah Penerbangan

Dengan diresmikannya Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan, sesuai dengan hasil konferensi Markas Tertinggi TKR di Yogyakarta pada tanggal 13 November 1945, yang berpusat di Yogyakarta, maka Pangkalan Udara Maguwo memegang peranan yang penting bagi perjuangan di bidang penerbangan, dan pembinaan air power serta penyebaran airmindness di kalangan pemuda-pemuda kita.

Pada awal Desember 1945 dimulailah pendidikan calon penerbang secara darurat di Maguwo yang ternyata kelak menjadi dasar pengembangan ke arah berdirinya Akademi Angkatan Udara (AAU). Adapun kadet-kadetnya terdiri dari pemuda-pemuda, baik dari mereka yang pernah mendapat didikan / pengalaman M.L. maupun pemuda-pemuda (pejuang) yang sama sekali belum pernah berpengalaman. Dapat dikemukakan di sini, bahwa diantara siswa-siswanya antara lain Iswahyudi dan R. Imam Suwongso Wiryosaputro yang hanya dalam tempo 3 minggu kedua kadet tersebut telah dapat terbang solo dengan baik.

Sementara itu di Pangkalan Udara Maguwo berkat kegiatan dan ketekunan para teknisi kita dapat melayani kegiatan-kegiatan pendidikan dan penerbangan sehingga 27 buah pesawat udara “Cureng”dapat disiapkan. Instrukturnya adalah A. Adisutjipto yang pernah menjadi Vaandrig Piloot kort-verband vlieger pada Militaire Luchtvaart di zaman sebelum perang.

Di samping kegiatan sebagai instruktur, maka beliaupun adalah penerbang yang tak kenal lelah untuk penerbangan bermacam-macam pesawat udara. Antara lain pada bulan Februari 1946 Adisutjipto telah mendarat di Pangkalan Udara Maguwo dengan menggunakan pesawat bersayap satu tipe “Cukiu” dari Pangkalan Udara Bugis (Malang).

Merintis Industri Pesawat Terbang

Tanpa adanya pesawat-pesawat terbang, maka tak mungkin kita menyelenggarakan pendidikan calon-calon penerbang. Di samping para teknisi kita melaksanakan perbaikan – perbaikan dan perawatan – perawatan (maintenance) pesawat-pesawat terbang yang telah ada, tak ketinggalan pula para ahli kita berusaha untuk menciptakan sendiri pesawat-pesawat udara dengan bahan-bahan yang ada pada kita waktu itu. Usaha Biro Rencana dan Konstruksi patut kita hargai, meskipun menghadapi seribu satu kesulitan khususnya dalam hal pembiayaan dan peralatan.

Namun demikian dalam waktu satu tahun telah juga berhasil memproduksi 6 buah pesawat luncur. Perlu dikemukakan, bahwa yang digolomgkan sebagi pelopor dan penciptanya antara lain Wiweko Supono dan Nurtanio Pringgoadisurjo. Hasil karya Biro tersebut sangat besar artinya bagi pendidikan pendahuluan (Basic Training) para calon penerbang kita, karena ternyata mereka yang lulus ujian dengan pesawat-peswat luncur tersebut dapat terus dikirim ke luar negeri untuk mengikuti pendidikan lanjutan (Advance Training).

Di samping pesawat luncur tersebut, maka telah selesai pula pembuatan pesawat terbang olah raga yang seluruh bahan materialnya berasal dari dalam negri. Demikian pula berhasil membuat pesawat transport jarak jauh yang merupakan hasil kombinasi antara bekas pesawat terbang Bristol “Blenheim” dan 2 buah motor pesawat terbang Nakajima “Sakae”. Kemudian suatu hal yang mengagumkan sekali, yakni hasil cipta J. Sumarsono untuk mengadakan percobaan pembuatan sebuah pesawat helikopter yang dinamakan RI-H.

Tetapi sayang Helikopter yang hampir selesai itu hancur akibat keganasan Agresi Militer I Belanda. Inilah pesawat Helikopter yang pertama buatan Bangsa Indonesia. Dengan demikian hasil produksi pesawat-pesawat tersebut merupakan rintisan yang kelak berkembang menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) dan yang selanjutnya kemudian dikenal dengan nama Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR) di Bandung. Nama Nurtanio dipergunakan sebagai penghargaan atas jasa-jasa Laksamana Muda Udara Anumerta Nurtanio Pringgoadisurjo. Belakangan industri pesawat terbang nasional tersebut berubah nama menjadi IPTN dan terakhir PT Dirgantara Indonesia.

Halaman 4

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel