Berita Kotama

Riwayatmu Doeloe (halaman 4)

Dibaca: 378 Oleh 12 Feb 2010Tidak ada komentar
IndonesianAF 1
#TNIAU 

Hari Jadi

Setelah melalui proses peningkatan organisasi sejak dari BKR, TKR dan TRI, maka berdasarkan Penetapan Pemerintah Tahun 1946 Nomor 6 tanggal 9 April 1946 TKR Jawatan Penerbangan ini telah ditingkatkan menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara sejajar dengan Angkatan-angkatan lainnya, yang kemudian lazimnya disebut Angkatan Udara Republik Indonesia atau singkatannya AURI.
Dalam Penetapan tersebut tercantum Komodor Udara R. Suryadi Suryadarma sebagai Kepala Staf, sedangkan Komodor Udara R. Sukarnen Martodisumo dan Komodor Udara A. Adisutjipto masing-masing sebagai Wakil I dan II. Dengan demikian, maka tanggal 9 April 1946 tersebut merupakan Hari jadi AURI (TNI AU) dan juga sebagai Hari Penerbangan Nasional yang setiap tahunnya kita rayakan.

Riwayatmu Doeloe (halaman 4)

Pak Suryadarma (bercelana pendek) bersama teknisi dan penerbang

Terbang Solo dan Formasi

Pendidikan dan latihan terbang berjalan terus, karena animo peminatnya makin hari makin bertambah besar. Tidaklah heran, kalau pada tahun-ahun ini dapat kita saksikan beberapa kali mereka melakukan penerbangan baik terbang solo maupun terbang formasi, di mana Pangkalan Udara Maguwo menjadi tempat untuk take off dan landing garuna-garuda kita. Secara kronologis peristiwa-peristiwa tersebut adalah sebagai berikut :

Pada tanggal 15 April 1946 diadakan terbang formasi dan lintas antar daerah di sekitar Yogyakarta, Semarang, Cilacap, Solo, Madiun sampai Malang. Adapun Penerbang-penerbangnya yakni Husein Sastranegara, Tugijo, Santoso dan Wim Prayitno mulai terbang solo.

Pada tanggal 23 April 1946 sebuah formasi yang terdiridari 3 buah pesawat Tipe “Cukiu” take off dari Pangkalan Udara Maguwo menuju ke arah Barat dan landing di Lapangan Udara Kemayoran. Di samping latihan rutin, penerbangan ini juga membawa serta Jenderal Major Sudibjo dan Komodor Udara S. Suryadarma selaku anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan penyingkiran RAPWI (Interniran Serikat dan Tawanan-Tawanan Perang). Adapun penerbangan selanjutnya sebagai berikut.

Pesawat “Cukiu” TK 06 keesokan harinya melanjutkan penerbangan ke Pangkalan Udara Gorda (Banten) dengan crew Opsir Udara III Iswahyudi, Opsir Muda Udara II Rasjidi dan Komodor Udara S. Suryadarma. Dari Gorda kemudian melanjutkan penerbangannya dengan melintasi Selat Sunda menuju ke Teluk Betung dan Branti (Sumatera Selatan)

Pesawat “Cukiu” TK 05 dikemudikan oleh Komodor Udara A. Adisutjipto dan penumpangnya Jenderal Major Sudibjo kembali ke Maguwo melalui Pangkalan Udara Kalijati.

Pesawat “Cukiu” TK 04 berhubung dengan kerusakan landing gearsnya terpaksa ditinggalkan di Kemayoran. Terjadilah insiden dengan air crewnya di masa Opsir Udara II Imam Wiryosaputro dan Opsir Muda Udara Kasnan Sumowirdojo ditangkap Belanda di Jatinegara. Akhirnya mereka dilepaskan dan kembali ke Yogyakarta dengan kereta api.

Pada tanggal 1 Mei 1946 dari Pangkalan Udara Maguwo telah bertolak beberapa pesawat udara dalam melakukan terbang formasi disertai tugas penyebaran pamflet-pamflet di sekitar daerah Yogyakarta, Solo dan daerah-daerah lainnya.

Pada tanggal 12 Mei 1946 Opsir Udara II H. Sujono menerbangkan sebuah pesawat “Cureng” ke arah Timur dan mengadakan dropping seorang anggota AD dengan payung udara di daerah Madura.

Pada tanggal 21 Mei 1946 dilakukan penerbangan-penerbangan ke arah Jawa Barat dan Jawa Timur yakni dua buah pesawat udara terbang ke Semarang dengan Opsir Udara II Husein Sastranegara disertai seorang penumpang H. Semaun dan sebuah pesawat lainnya dengan Opsir Udara III Santoso disertai Suharto. Sebuah pesawat udara menuju ke Malang dengan Opsir Udara II Sunarjo disertai Suparman. Sebuah pesawat udara lainnya dengan Opsir Udara II Sujono dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma dalam penerbangannya ke arah Timur mencapai Pulau Madura dan mendarat di sebuah tempat pembuatan garam, karena belum dipersiapkan lapangan terbang di sana.

Selama penerbangan tersebut Opsir Udara III Iswahyudi dan Opsir Udara II Imam Wirjosaputro bertindak selaku instruktur untuk pesawat “Cureng” sedang Komodor Muda Udara A. Adisutjipto sebagai instruktur untuk pesawat “Cukiu”. Setelah 5 hari mengadakan penerbangan tersebut, maka pada tanggal 26 Mei 1946 pesawat-pesawat tersebut kembali ke Maguwo dengan selamat.

Baca juga:  Hanmars Warnai Minggu Militer Di Lanud Sam Ratulangi

Pada tanggal 10 Juni 1946 dari Pangkalan Udara Maguwo telah take off 5 buah pesawat udara “Cureng” untuk mengadakan penerbangan formasi dengan tujuan pangkalan Udara Cibeureum (Tasikmalaya). Penerbangan tersebut dimaksudkan untuk ikut serta memeriahkan peresmian pembukaan Pangkalan Udara Cibeureum dan pekan penerbangan guna menyebarkan air mindedness di kalangan para pemuda dan pelajar setempat. Adapun para air crew masing-masing pesawat ialah Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dan Opsir Udara II Husein Sastranegara; Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrahman Saleh dan Tulus Martoatmodjo; Opsir Udara II H. Sujono dan Opsir Udara III Kaswan; Opsir Udara II Imam Wirjosaputro dan Opsir Udara II Sunaryo; Opsir Udara II Iswahyudi dan Opsir Udara III Makmur Sukodo.

Pada tanggal 23 Juli 1946 bertolaklah dari Pangkalan Udara Maguwo sebuah pesawat “Cureng” T-86 yang dikemudikan oleh Opsir Udara II Husein Sastranegara dan Kadet Udara I Win Prajitno menuju ke Pangkalan Udara Gorda (Banten) melalui Tasikmalaya. Dari Gorda bersama dengan pesawat “Tjureng” T-C5 yang dikemudikan Kadet Udara I WIN PRAJITNO disertai Opsir Muda Udara II RASJIDI dan Komandan Pangkalan Udara Gorda menuju ke Pangkalan Udara Karang Endah (Sumatera).

Untuk meningkatkan daya kemampuan dan kecakapan terbang para kadet penerbang kita, maka pada bulan-bulan Juni dan Juli 1946 dilakukan latihan-latihan terbang, baik di Pangkalan Udara Maguwo maupun Pangkalan Udara Maospati.

Pada tanggal 5 Agustus 1946 telah mendarat di Pangkalan Udara Maguwo sebuah pesawat udara pembom “Diponegoro II” yang dikemudikan Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dari Pangkalan Udara Bugis (Malang). Demikian pula telah mendarat sebuah pesawat “Cureng T-86” dari Pangkalan Udara Gorda dengan awak pesawat Opsir Udara II Husein Sastranegara dan Opsir Muda Udara Djunaedi.

Pada tanggal 10 Agustus 1946 dari Pangkalan Udara Maguwo telah bertolak menuju ke Pangkalan Udara Maospati sebuah pesawat pembom “Diponegoro II” dengan awak pesawat yang terdiri dari Komodor Muda Udara A. Adisutjipto, Opsir Udara II Husein Sastranegara disertai juru teknik Opsir Muda Udara III Kaswan dan Opsir Muda Udara II Rasjidi.

Dalam rangka acara peringatan 17 Agustus, maka di Yogyakarta diadakan pameran penerbangan selama 2 hari. Demikian juga dalam rangkaiannya pada tanggal 22 Agustus 1946 selama 3 hari diselenggarakan pekan penerbangan yang mendapat perhatian besar di kalangan rakyat kita.

Pada tanggal 27 Agustus 1946 bertolaklah dari Pangkalan Udara Maguwo 6 buah pesawat Tipe “Nishikoren”, “Cukiu” dan “Cureng” dalam rangka terbang formasi menuju ke arah barat. Setelah landing sebentar di Pangkalan Udara Cibeureum (Tasikmalaya), kemudian melanjutkan penerbangannya menuju ke Pangkalan Udara Gorda (Banten). Di Pangkalan ini terpaksa sebuah pesawat “Cureng” ditinggalkan, karena kerusakan mesinnya. Penerbangan dilanjutkan dengan melintasi Selat Sunda pada tanggal 28 Agustus 1946 menuju ke Pangkalan Udara Branti (Tanjung Karang). Baru pada tanggal 2 September 1946 ke 5 buah pesawat tersebut terbang kembali menuju ke Maguwo dengan melalui Pangkalan Udara Gorda. Di Gorda terpaksa sebuah pesawat udara “Cukiu” ditinggalkan lagi, karena kerusakan mesinnya. Dalam perjalanan kembali itu, ketiga pesawat diantara empat pesawat tersebut terpaksa mengalami pendaratan darurat yakni :

Sebuah pesawat yang dikemudikan oleh Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dan Major Udara A.D. Tarsono Rdjito mendapat kecelakaan di Cipatudjah (Tasikmalaya) karena kerusakan mesinnya. Sewaktu akan melakukan pendaratan darurat, maka pesawat tersebut melanggar sebatang pohon kelapa yang melintang di pantai. Pesawat terjungkir dan tali temali crew putus, sehingga mengakibatkan kecelakaan atas diri Major Udara A.D. Tarsono Rudjito yakni tulang belakangnya patah. Beberapa hari kemudian beliau meninggal dunia, sedangkan Komodor Muda Udara A. Adisutjipto mendapat luka-luka ringan.

Baca juga:  PIA AG Denhanud 474 Paskhas Bagi Takjil

Dua buah pesawat lainnya melakukan pendaratan darurat di Pameungpeuk (Garut) dengan para air crew Opsir Udara II Iswahyudi, Opsir Udara II Sunarjo, Kadet Udara I Win Prajitno, Opsir Udara III Santoso dan Komodor Udara S. Suryadarma yang mendapat luka-luka ringan. Dengan demikain dalam penerbangan formasi dari Yogyakarta – Banten – Tandjung Karang ini hanya sebuah pesawat yang kembali ke Maguwo dengan selamat, yakni yang dikemudikan oleh Opsir Udara II Imam Wirjosaputro. Dalam peristiwa ini menunjukan, bahwa Major Udara A.D. Tarsono Rudjito merupakan korban pertama kali dalam sejarah
pahlawan AURI akibat kecelakaan pesawat udara.

Pada tanggal 13 September 1946, 2 buah pesawat “Cureng” melayang-layang di atas makam almarhum Major Udara A.D. Tarsono Rudjito di Salatiga, ketika diadakan upacara pemakamannya. Adapun para crew pesawat tersebut masing-masing ialah Opsir Udara II Iswahyudi (Pilot) disertai Opsir Muda Udara II Rasjidi dan Opsir Udara I Husein Sastranegara (Pilot) disertai seorang juru potret.

Pada tanggal 24 September 1946 telah landing di Pangkalan Udara Maguwo sebuah pesawat Cureng T-6 dari Pangkalan Karang Endah (Sumatera Selatan) yang dikemudikan oleh Opsir Udara II Imam Wirjosaputro dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma.

Pada tanggal 26 September 1946 dalam rangka tugas untuk melaksanakan test flight pesawat “Cukiu”, yang semula direncanakan untuk mengangkut Perdana Menteri Sutan Sjahrir ke Malang, telah mengalami kecelakaan dan jatuh terbakar di atas kampung Gowongan Lor (Yogyakarta). Peristiwa ini membawa korban crew pesawat yakni Opsir Udara I Husein Sastranegara (Komodor Muda Udara Anumerta) dan Sersan Mayor Udara Rukidi (Juru Tehnik) gugur sebagai kusuma bangsa. Kemudian selanjutnya Kadet Udara I Win Prajitno ditugaskan untuk menerbangkan Perdana Menteri Sutan Sjahrir ke Malang.

Pada tanggal 3 Oktober 1946 dalam penerbangannya di atas Ambarawa, sebuah pesawat “Cukiu” yang dikemudikan oleh Kadet Udara I Win Prajitno (Letnan Udara I Anumerta) dan Kadet Udara I Sunarto (Letnan Udara I Anumerta), telah jatuh akibat kecelakaan pesawat, sehingga kedua air crew gugur sebagai kusuma bangsa.

Pada tanggal 4 Oktober 1946 sebuah pesawat pembom “Diponegoro II” telah mendarat di Pangkalan Udara Maguwo yang dikemudikan oleh Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrahman Saleh dari Pangkalan Udara Bugis (Malang).

Pada tanggal 5 Oktober 1946 dalam rangka hari Angkatan Perang, 3 buah pesawat “Cukiu” take off dari Pangkalan Udara Maguwo dengan tugas penyebaran pamflet-pamflet dan pemotretan dari udara. Air crew terdiri dari Penerbang Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrahman Saleh disertai seorang juru potret, Penerbang Opsir Udara II H. Sujono disertai Arjono dan Penerbang Opsir Udara II Iswahyudi. Diantara 3 buah pesawat tersebut, maka sebuah pesawat yang dikemudikan oleh Opsir Udara II H. Sujono jatuh di Sagan (Yogyakarta), tetapi awak pesawat selamat.

Pada bulan November 1946 juga diadakan latihan pemboman di daerah Maguwo bagian Selatan dengan mempergunakan sebuah pesawat pembom Mitsubishi 98 “Guntei” (Sonia). Pesawat tersebut diperlengkapi dengan bom-bom senapan mesin12,7mm dan dilakukan oleh Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dan Komodor Udara S. Suryadarma.

Pembentukan Pasukan Pertahanan Pangkalan

Mengingat situasi yang genting pada waktu itu di Pangkalan Udara Maguwo telah disusun dan dibentuk Pasukan Pertahanan Pangkalan yang bertugas menjaga keamanan pangkalan udara dan menghadapi kemungkinan adanya usaha-usaha serangan dari udara oleh pesawat-pesawat udara lawan.
Mula-mula kekuatan Pasukan Pertahanan Pangkalan ini hanya terdiri dari 1 Seksi (60 orang) yang telah terdidik dan terlatih sebagai penembak udara, tetapi kemudian ditingkatkan menjadi 1 Kompi sesuai dengan luasnya pangkalan. Pasukan yang masih muda ini pernah berhasil menembak jatuh sebuah pesawat Mustang Belanda di Salatiga.

Baca juga:  Ratusan Siswa TK dan SMA Kunjungi Lanud Sultan Hasanuddin

Hubungan dengan Penerbangan Asing

Sebagai perintis jalan dalam hal ini patut dicatat jasa-jasa Opsir Udara III Muharto (terakhir Letnan Kolonel Udara Purnawirawan) yang pada akhir 1946 dengan sebuah perahu layar menyamar dapat sampai keluar negeri, terutama mengadakan approach dengan negara-negara tetangga untuk mengadakan perhubungan udara dengan Negara Republik Indonesia.
 
Berkat jasa dan usahanya, maka pada awal tahun 1947 berturut-turut beberapa pesawat asing telah mendarat di Pangkalan Udara Maguwo antara lain : DAKOTA VT-CLA, Commercial Air Lines Incorporated (Filipina), Cathay Pacific Airlines. Dengan datangnya pesawat-pesawat asing tersebut, maka terbukalah kedok kepalsuan Belanda yang dalam propagandanya keluar negeri selalu digambarkan tentang adanya kekacauan dan ketidakamanan di wilayah Republik Indonesia. Bertambah kuat lagi kedudukan RI, sebab pada tanggal 13 Maret 1947 dengan datangnya di Ibu kota Yogyakarta Konsul Jenderal Mesir Abdul Moun’em yang menumpang CALI (Commercial Air Lines Inc).
 
Dengan demikian dia dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana keadaan yang sebenarnya perjuangan saudara-saudara Bangsa Indonesia yang telah mengusir kaum penjajah dalam menegakkan Negara Republik Indonesia.

Maju Terus Pantang Mundur

Untuk menambah kepercayaan dan daya jelajah penerbang-penerbang kita, maka latihan-latihan terbang terus menerus dilakukan. Meskpun para air crew seorang demi seorang telah gugur mendahului kita, namun semangat dan tekad juang mereka maju terus pantang mundur, bahkan bertambah kuat dan besar kegiatan mereka dalam pembinaan air power nasional kita. Kegiatan-kegiatan mereka antara lain:

Pada awal Februari 1947 dengan ditanya Dakota VT-CLA bersama pemiliknya seorang bangsa India Patnaik, maka Komodor Muda Udara A.Adisutjipto dan Opsir Udara II Iswahyudi tidak hanya tinggal diam, melainkan dalam waktu 2 atau 3 hari telah berhasil dapat mengemudikan pesawat Dakota tersebut.

Pada tanggal 10 Februari 1947 Opsir Udara I H. Sujono dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma melakukan penerbangan ke arah Timur sampai di Sumenep (Madiun).

Pada tanggal 8 Maret 1947 dalam rangka perayaan Hari Penerbangan ke-X di Pangkalan Udara Maguwo diselenggarakan pameran dua atraksi penerbangan pesawat-pesawat kita yang mendapat kunjungan besar sekali dari rakyat dan tidak kurang dari 5.000 pelajar-pelajar hadir. Pengunjung dapat menyaksikan 27 pesawat udara yang mengadakan berbagai air show antara lain terbang formasi, aerobatic dan mengangkut juga peminat-peminat udara ke angkasa. Perayaan tersebut diramaikan pula dengan hadirnya pesawat Dakota CALI (Filipina) yang sedang berada di Maguwo.

Pada tanggal 17 Maret 1947 Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrahman Saleh menerbangkan sebuah pesawat buru Hayabusa dari Malang dan tiba di Pangkalan Udara Maguwo yang kemudian pesawat tersebut diregistrasi dengan HN-201.

Pada tanggal 24 Maret 1947 dalam rangka persiapan pembukaan pangkalan-pangkalan udara di Sumatera, maka sebuah pesawat udara telah bertolak dari Pangkalan Udara Maguwo menuju ke Sumatera Barat dengan membawa Opsir Udara II Sujono (terakhir Laksamana Muda Udara) dan Opsir Muda Udara II Sukoco (terakhir Mayor Udara Purnawirawan) yang diterjunkan dengan parachute di Bukittinggi.

Pada tanggal 6 Juni 1947 telah tiba di Pangkalan Udara Maguwo seorang Penerbang Amerika Robert Earl Freeberg beserta pesawat transport miliknya membelah angkasa dari Manila melintasi Labuan (British North Borneo) menuju ke daerah pedalaman RI. Dalam penerbangannya tersesat, sehingga terpaksa harus mengadakan pendaratan darurat di Pantai Pangandaran (Ciamis) yang selanjutnya dapat sampai di Maguwo. Pesawat tersebut adalah sebuah Dakota Dauglas C-47 “SKYTRAIN” yang selanjutnya diubah registrasinya menjadi RI-002 sebagai sumbangan atas simpatinya kepada perjuangan RI.

Halaman 5

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel