Berita Kotama

Riwayatmu Doeloe (halaman 5)

Dibaca: 475 Oleh 12 Feb 2010Tidak ada komentar
indonesianf16pesawat0170 tniau
#TNIAU 

Maguwo in The Agression Part I

Dengan dalih untuk melakukan apa yang mereka namakan “Politionele Actie”, maka pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melancarkan gerakan militernya dengan menyerang seluruh wilayah RI dari segala jurusan, baik dari darat, laut maupun udara. Pasukan-pasukan kita, pada waktu itu tidak berada dalam “siaga tempur” karena mentaati akan perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada tanggal 25 Maret1947 oleh kedua belah pihak, Belanda dan Indonesia.

Pesawat-pesawat udara Belanda menjatuhkan bom-bom, roket, dan penembakan-penembakan dengan senjata-senjata mesin terhadap semua pangkalan-pangkalan udara kita, sejak dari Pangkalan Udara Gorda, Jatiwangi, Kalijati, Cibeureum, Panasan, Maospati, Pandanwangi sampai Bugis. Akibatnya selain pangkalan-pangkalan tersebut menderita kerusakan hebat, juga beberapa buah pesawat udara kita hancur di tanah antara lain pesawat pembom “Diponegoro”, Pesawat Intai Strategis “Shinsitei” dan pesawat buru “Hayabusa”.
 
Untunglah Pangkalan Udara Maguwo dapat terhindar dari serangan pesawat-pesawat udara Belanda tersebut, karena adanya kabut tebal yang melindungi Maguwo pada waktu itu. Dalam pada itu 15 menit sebelum penyerangan tersebut, maka Perdana Menteri Sutan Sjahrir telah bertolak ke Lake Success dengan menumpang pesawat Dakota.

Serangan Balasan

Atas penginjak-injakan naskah Linggarjati yang baru saja ditandatangani oleh kedua belah pihak ini dengan melancarkan agresi militer yang I ke wilayah republik Indonesia terutama penyerangan atas Pangkalan Udara kita, maka Angkatan Udara kita dengan serta merta mengadakan reaksi untuk mengadakan serangan balas pengeboman atas basis-basis militer Belanda di kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang.
 
Demikianlah pada tanggal 29 Juli 1947 jam 05.00 bertolaklah dari Pangkalan Udara Maguwo 3 buah pesawat udara kita yang terdiri dari 2 buah pesawat latih “Cureng” dan 1 buah pesawat pembom Mitsubishi 98 “Guntei” yang dilepas oleh KSAU Komodor Udara S. Suryadarma dan Pa Ops. Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma.
 
Ketiga buah pesawat tersebut menuju ke arah utara dan masing-masing mendapat perintah operasi sebagai berikut :

Kadet Penerbang Suharnoko Harbani dan disertai penembak udara Kaput dengan pesawat “Cureng” menuju ke sasaran Kota Ambarawa.

Kadet Penerbang Sutardjo Sigit dan disertai penembak udara Sutardjo dengan pesawat “Cureng” menuju ke sasaran Kota Salatiga.

Kadet Penerbang Muljono disertai penembak udara Abdurrahman dengan pesawat pembom Mitsubishi 98 “Guntei” (Sonia) menuju ke sasaran Kota Semarang.

Riwayatmu Doeloe (halaman 5)

Merencanakan serangan balasan di pagi buta

Dalam operasi serang balas pengeboman ini, maka garuda-garuda kita berhasil menjatuhkan bom-bom sejumlah 400 kg beratnya yang mengenai sasaran-sasaran lawan sehingga musuh tidak sedikit menderita kerugian. Meskipun hasil relatif tidak besar namun operasi serangan balas ini mempunyai efek psikologis yang besar bagi Belanda.
Bangsa Indonesia sangat bangga atas tindakan heroik dan patriotik para penerbang-penerbang muda kita tersebut, karena operasi penyerangan udara tersebut adalah merupakan operasi udara yang baru pertama kalinya sejak kita membina Angkatan Udara.

Tragedi Dakota VT-CLA

Karena kekalapan lawan setelah peristiwa pemboman garuda-garuda kita atas basis-basis militer di Kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang, dimana Belanda tidak berhasil mengerahkan 3 buah pesawat buru “Kittyhawk” untuk mengejarnya, maka pada tanggal 29 Juli 1947 sore hari terjadilah suatu peristiwa yang menyedihkan dalam sejarah perjuangan kita.
Dalam peristiwa tersebut sebuah Dakota India VT-CLA yang membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaja sewaktu akan mendarat di Pangkalan Udara Maguwo telah menjadi korban sasaran keganasan 2 buah pesawat udara “Kittyhawk” Belanda, sehingga peswat Dakota yang tak bersenjata tersebut jatuh terbakar di daerah NGOTO (3 km sebelah tenggara Kota Yogyakarta).

Riwayatmu Doeloe (halaman 5)

Reruntuhan VT-CLA setelah ditembak Kitty Hawk Belanda

Semua air crew dan penumpangnya gugur, kecuali A. Gani Handonocokro yang masih hidup. Adapun para crew yang gugur terdiri dari Pilot A.N. Constantine (Australia), Co Pilot R. Hazelhurst (Inggris) dan Mekanik Bhidaram (India); sedangkan para penumpangnya adalah : Komodor Udara A.Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrahman Saleh, Opsir Udara Adisumarmo, Zainal Arifin dan satu-satunya wanita Ny. A.N. Constantine.

Peristiwa jatuh tertembaknya pesawat Dakota VT-CLA tersebut tiap tahun kita peringati sebagai HARI BERKABUNG AURI dan selanjutnya telah ditingkatkan menjadi HARI BHAKTI AURI sejak tahun 1962.

Simpati Tetangga

Di daerah Republik Indonesia terasa sekali kekurangan obat-obatan akibat blokade Belanda. Terlebih-lebih dengan adanya Agresi Militer Belanda I, urgensi obat-obatan tersebut sangat besar terutama untuk keperluan prajurit-prajurit kita di garis depan (front).
 
Berkat simpati negara-negara tetangga, maka mengalirlah bantuan obat-obatan antara lain pada tanggal 26 Agustus 1947 telah mendarat di Pangkalan Udara Maguwo sebuah pesawat terbang yang membawa obat-obatan bantuan dari India, kemudian disusul bantuan obat-obatan dari Internasional Red Cross.
 
Berhubung dengan adanya perintah Cease Fire (gencatan senjata) sejak tanggal 4 Agustus 1947, maka kesempatan ini digunakan untuk pengiriman obat-obatan tersebut ke daerah Jawa Barat dengan diangkut oleh 2 buah pesawat Cureng yang mesing-masing dikemudikan Opsir Udara II Sunarjo dan Opsir Udara III Muljono dan bertolak dari Pangkalan Udara Maguwo.
 
Selain pengiriman obat-obatan, juga mengangkut pula pengiriman uang, pos dan lain-lainnya. Dalam perjalanan pulang kembali terpaksa sebuah pesawat Cureng tersebut ditinggalkan di Pangkalan Udara Gorda (Banten) karena terbatasnya radius giat dan kesulitan bahan bakar pada waktu itu.

Pendidikan Pasukan Payung (Para)

Di samping adanya kegiatan percobaan terbang dan latihan terbang, maka di Pangkalan Udara Maguwo nampak adanya kegiatan-kegiatan lainnya diantaranya latihan/pendidikan penerjunan dengan payung udara (parachute).
 
Dengan peralatan yang serba kurang dan latihan yang jauh dari kesempurnaan, maka sejak tanggal 11 Februari 1946 telah dilakukan latihan-latihan terjun dengan mempergunakan 3 buah pesawat Cureng yang masing-masing dikemudikan oleh :

Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dan disertai seorang peloncat payung Amir Hamzah.

Opsir Udara II Iswahyudi dan disertai seorang peloncat payung Legino.

Opsir Udara III Makmur Suhodo dan disertai seorang peloncat payung Pungut.

Dengan demikian, maka ketiga peloncat payung tersebut (Amir Hamzah, Legino dan Pungut) adalah merupakan pelopor penerjuanan yang pertama kalinya dalam sejarah Angkatan Udara kita.

Baca juga:  460 Casis Taruna AAU Ikuti Seleksi di Lanud Halim Perdanakusuma

Riwayatmu Doeloe (halaman 5)

Inilah para pemuda yang mengikuti
Pendidikan Pasukan Payung (Para) pertama

Kemudian Sukotjo (terakhir Mayor Udara Purnawirawan) yang baru saja kembali dari Australia berhasil melatih dan mendidik calon-calon “Jumping Master” untuk pertama kalinya yakni : Major Udara Sudjono (terakhir Laksamana Muda Udara), Kapten Udara Sugihardjo (terakhir Kapten Udara Purnawirawan), Opsir Muda Udara III Surojo, Sersan Udara Legino dan Sersan Udara Suroto.
Untuk keperluan latihan/pendidikan “Jumping Master”ini dipegunakan cockpit pesawat, sedang peralatan payung udara (parachute) buatan Jepang dan overall dari kain blacu putih yang lekas robek. Setelah selesai dengan pendidikan “Jumping Master”ini, kemudian dilanjutkan dengan mendidik calon-calon anggota pasukan payung angkatan pertama. Dari hasil pendidikan ini lalu diadakan seleksi anggota yang memenuhi syarat untuk ditugaskan keluar Jawa.

Operasi Penerjunan di Kalimantan

Untuk mengadakan konsolidasi dan bantuan dari Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia dengan daerah-daerah di luar Jawa, maka pada tanggal 17 Oktober 1947 diadakan operasi penerjunan ke daerah Kalimantan.
 
Mereka diangkut dengan pesawat Dakota RI-002 yang dikemudikan oleh Penerbang Robert Earl Freeberg (Pilot), Opsir Udara II Makmur Suhodo (Co-Pilot) dengan membawa 14 orang anggota pasukan payung yang telah terlatih di bawah pimpinan Opsir Muda Udara III Amir Hamzah selaku jumping master dan Mayor Tjilik Riwut sebagai penunjuk jalan.
 
Mereka diterjunkan di daerah Supadio (Kabupaten Kotawaringin) dengan maksud antara lain :

Membuka stasiun radio untuk dinas PHB antara Yogyakarta dan Kalimantan

Membentuk dan menyusun gerilyawan asal suku Dayak.

Menyempurnakan tempat “dropping zone” untuk penerjunan selanjutnya.

Penerjunan tersebut dilengkapi dengan dropping peralatan dan bahan-bahan perbekalan untuk persediaan bergerilya di hutan. Akibat penyergapan tentara Belanda yang tidak terduga-duga, maka ketiga anggota yakni Opsir Muda Udara II Harry Hadisumantri (Kapten Udara Anumerta), Opsir Muda Udara III Iskandar (Letnan Udara II Anumerta) dan Sersan Udara Achmad Kosasih (Sersan Udara Anumerta) telah gugur sebagai kusuma negara, setelah mempertahankan diri mati-matian terhadap tembakan gencar lawan.
 
Sejarah penerjunan ini membuktikan, bahwa meskipun keadaan serba sulit dan darurat pada waktu itu, namun perjuangan kita tetap gigih untuk membina pasukan-pasukan payung. Sebagai penghargaan atas perjuangan yang patriotik ini, maka tanggal 17 oktober 1947 tersebut dinyatakan sebagai hari lahirnya PGT / KOPASGAT (kini Paskhas AU) yang setiap tahun diperingati oleh keluarga besar Angkatan Udara kita.

Pengiriman Kadet ke Luar Negeri

Berhubung dengan adanya aksi Militer Belanda I, maka Pimpinan AURI terpaksa mengambil langkah-langkah kebijaksanaan untuk mengirimkan kader-kader penerbangnya ke luar negeri. Untuk itu pada akhir tahun 1947 telah dilakukan testing dan seleksi diantara calon-calon lulusan SMA dan sederajat bertempat di Pangkalan Udara Maguwo, kemudian dilakukan screening lagi melalui pendidikan pesawat luncur. Sejumlah 20 orang pemuda yang telah berhasil lulus itu kemudian dikirim ke Bukit Tinggi untuk mengikuti pendidikan kemiliteran.
Berhubung keadaan cuaca yang buruk, maka rombongan tersebut terpaksa mendarat di Singapura. Dari sini menuju Kuala Lumpur dan selanjutnya menyeberang ke Labuhan Bilik (Sumatera Timur). Dari sini mereka terpaksa menempuh jarak 260 km dengan berjalan kaki menuju Tapanuli dan akhirnya setelah mengalami 1001 macam kesulitan sampailah di Bukit Tinggi. Setelah selesai mendapat pendidikan / latihan dasar kemiliteran, barulah mereka menuju ke Pangkalan Udara Alahabad (India) untuk mengikuti pendidikan penerbang lanjutan.

Tragedi Dakota RI-003 di Mancanegara

Dari Pangkalan Udara Maguwo bertolaklah sebuah Dakota RI-003 “Avro Aneon” keluar negeri untuk membawa seorang volunteer bangsa Amerika yang telah menjual pesawat tersebut seharga 12 kg emas murni hasil sumbangan rakyat Sumatera kepada Pemerintah Republik Indoneisa.
 
Dalam perjalanan kembali pada tanggal 14 Desember 1947 dari Siam (Thailand) ke Singapura pesawat transport ringan tersebut mendapat kecelakaan, sehingga penerbang-penerbangnya Opsir Udara I Iswahyudi (Komodor Udara Anumerta) dan Komodor Muda Udara Halim Perdana Kusuma (Laksamana Muda Udara Anumerta) gugur sebagai kusumanegara di daerah Tanjung Hantu (Malaya).

Penerbangan ke Luar Jawa

Meskipun tiap saat Angkatan Udara kita mengalami kerugian, baik personel yang menyebabkan gugurnya awak pesawat sebagai pahlawan-pahlawan angkasa maupun material yang berupa kerusakan-kerusakan landasan, bangunan-bangunan dan kehancuran/ kehilangan pesawat-pesawat udara serta peralatan-peralatan lainnya, tetapi perjuangan keudaraan tetap berjalan terus, diantaranya sebagai berikut :

Pada tanggal 26 Desember 1947 dari Pangkalan Udara Maguwo telah bertolak sebuah pesawat Dakota RI-002 menuju Bukittinggi diantaranya membawa 2 orang anggota PHB untuk menyelenggarakan Stasion Radio PHB di Sumatera.

Pada tanggal 10 Juni 1948 untuk pertama kalinya telah mendarat di Pangkalan Udara Blang Bintang (Kotaradja) sebuah pesawat udara kita yang dikemudikan Opsir Udara II Muljono.

Pada tanggal 16 Juni 1948 rombongan Presiden RI dengan sebuah pesawat Dakota RI-002 telah berangkat dari Pangkalan Udara Maguwo menuju ke daerah Sumatera, dalam rangka mendapatkan fonds Dakota. Realisasi usaha tersebut dapat mewujudkan sebuah pesawat Dakota RI-001 “Seulawah” sebagai sumbangan rakyat Aceh seharga 130.000 Straits Dollar. Pesawat RI-001 “Seulawah” in sangat besar arti dan jasanya bagi perjuangan Bangsa Indonesia dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada tanggal 7 Juli 1948 dalam penerbangan antara Jambi dan Bengkulu, sebuah pesawat udara kita Stinson L-5 “Sentilen” telah hilang. Pesawat yang tidak diketahui nasibnya tersebut mempunyai awak pesawat Penerbang Opsir Udara II Sunarjo (Mayor Udara Anumerta) dan Juru Tehnik Opsir Muda Udara III Salin Nandi (Letnan Udara II Anumerta).

Pada tanggal 10 Juli 1948 penerbang Opsir Udara II Muljono menerbangkan sebuah pesawat “Avro Anson” dengan route Bukittinggi, Bengkulu, Tanjungkarang, Banten, Yogyakarta dan Maospati.

Madiun’s Affair

Peristiwa tragedi nasional yang tak akan dilupakan dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia ialah adanya pemberontakan PKI/Muso atau yang sering disebutkan dengan Madiun’s Affair. Pemberontakan tersebut diawali dengan masanere secara besar-besaran terhadap golongan Nasionalis dan Agama, bermaksud akan menenggelamkan Negara Republik Indonesia di bawah telapak ideologi Komunis yang bertentangan dengan dasar dan falsafah Negara Pancasila.

Baca juga:  Bangkit Indonesia, Generasi Millenial Taklukan Digitalisasi

Sesuai dengan misi AURI sebagai Bhanyangkara Negara, maka dengan segala konsekuensinya AURI selalu bertindak tegas dengan menghantam seluruh bentuk intervensi dan provokasi. Baik dari dalam maupun berasal dari luar negeri, yang langsung atau tidak langsung hendak merongrong dan/ atau merobohkan sendi-sendi ketatanegaraan Negara Republik Indonesia.
 
Dengan terjadinya pemberontakan Komunis pada tanggal 18 September 1948 tersebut, maka Angkatan Udara kita ikut serta aktif dalam melaksanakan operasi penghancuran terhadap petualangan tersebut. Dalam hal ini pesawat-pesawat udara kita mengadakan pengintaian, penghajaran dari udara (air straffing), penyebaran pamflet-pamflet, pemberian bantuan udara (air support) dalam dropping obat-obatan, pembekalan, logistik dan lain sebagainya bagi pasukan-pasukan kita yang terpencil atau terkurung oleh lawan.
 
Diantaranya daerah-daerah Cepu, Ambarawa, Purwodadi, Madiun dan juga penerjunan beberapa Perwira TNI AD di dekat kesatuannya masing-masing di daerah Trenggalek.

Kehilangan Pesawat Dakota RI-002

Tiada perjuangan tanpa adanya pengorbanan. Demikian tiap saat bertambahlah korban-korban dari Angkatan Udara k
ita, baik material maupun korban personil. Pada tanggal 1 Oktober 1948 dalam penerbangannya antara Tanjungkarang – Bengkulu, sebuah pesawat Dakota RI-002 (Douglas C-47 “Skytrain”) hilang.
Adapun awak pesawat dan penumpangnya yang tidak diketahui nasibnya tersebut yakni : Penerbang Robert Earl Freeberg, Opsir Udara III Bambang Saptoadji (Kapten Udara Anumerta), Radio Operator Kopral Udara Surjatman (Sersan Mayor Udara Anumerta) dan seorang penumpang Wakil Residen Banten Semaun Bakri.

Konsolidasi Pusat dan Daerah

Pada bulan November 1948 dari Pangkalan Udara Maguwo telah bertolak sebuah pesawat Dakota RI-001 “Seulawah” menuju ke Pulau Pertja (Sumatera) dengan membawa rombongan Pemerintah Pusat yang dikepalai oleh Wakil Presiden RI Drs. Moh Hatta. Peserta rombongan antara lain KSAU Komodor Udara S. Suryadarma dan KSAL Kolonel Laut Subjakto yang masing-masing disertai stafnya.
Maksud perjalanan tersebut dalam rangka mengadakan konsolidasi Pemerintah RI di daerah Sumatera baik sipil maupun militer. Adapun Wakil Presiden mendarat di Bukit Tinggi, sedangkan KSAU melanjutkan perjalanannya ke Aceh untuk merundingkan masalah-masalah yang penting dengan pejabat-pejabat setempat.
Setelah pesawat Dakota RI-001 “Seulawah” mengalami overhaul di Birma, maka dari Kotaradja (Banda Aceh) rombongan tersebut kembali ke Yogyakarta, kecuali KSAL tinggal di Aceh dalam rangka pembentukan Pangkalan –Pangkalan Laut di sana. Ternyata kegiatan para pemimpin kita tersebut tidak akan sia-sia karena 3 minggu kemudian terjadilah Agresi Militer Belanda II.

Maguwo in The Agression Part II

Baru saja pemberontakan PKI/Muso dapat teratasi, maka dengan serta merta tanpa diduga-duga Belanda telah menginjak-injak persetujuan Renville yang telah ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948. Belanda mengadakan Agresi Militer II terhadap seluruh wilayah Republik Indonesia, baik serangan dari darat, laut maupun udaranya.
Bertepatan dengan tanggal 19 Desember 1948 Pangkalan Udara Maguwo diserang oleh pesawat-pesawat udara Belanda dengan melakukan penembakan-penembakan dari udara. Serangan udara disusul dengan dropping pasukan-pasukan payung Belanda ± 400 orang bersenjata lengkap dan modern. Lebih kurang 40 anggota AURI di bawah pimpinan Kadet Udara Kasmiran (Letnan Udara I Anumerta) mempertahankan diri dengan mati-matian meskipun tidak seimbang dalam hal persenjataan dan jumlahnya dari pada pihak lawan. Korban-korabn material dan jiwa tidak sedikit, sehingga akhirnya Pangkalan Udara Maguwo dapat dikuasai musuh.
Di samping korban-korban manusia dan kerusakan-kerusakan material, maka beberapa pesawat udara kita hancur dan jatuh ke tangan musuh diantaranya ialah :

Sebuah pesawat udara “Do Havilland-86” yang baru saja terbeli telah jatuh ke tangan musuh.

Sebuah pesawat udara Catalina RI-006 masuk perangkap, karena ketiadaan perhubungan dengan Ground Station sewaktu pesawat tersebut mendarat di Pangkalan Udara Maguwo. Awak pesawat, Penerbang James Flening dan Penerbang Opsir Udara II Suharnoko Harbani tertangkap.

Sebuah pesawat udara Catalina RI-005 dalam usaha meloloskan diri telah jatuh terbakar di Jambi, sehingga akibatnya telah gugur awak pesawat yakni Penerbang R. Cobdry (Pilot), Warton (Co-Pilot), Opsir Muda Udara II J. Londa (Letnan Udara I Anumerta), sedang seorang penumpang lainnya Letnan Kolonel Prangko luka-luka berat dan masih hidup.

Gugurnya Sang Bapak Penerbang

Di balik kebanggaan yang patut dikenang atas tindakan-tindakan kadet dalam pemboman Ambarawa, Salatiga dan Semarang, terjadi peristiwa yang menyedihkan dalam sejarah perjuangan.
Peristiwa tersebut adalah gugurnya Bapak Penerbang Laksamana Muda Udara A. Adisutjipto serta Laksamana Muda Abdurrachman Saleh pada tanggal 29 Juli 1947 sore hari, setelah pesawat udara yang ditumpangi jatuh ditembak pihak Belanda dengan secara khianat. Pesawat tersebut adalah pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan dari Palang Merah Malaya dan ketika akan mendarat di Pangkalan Maguwo, telah menjadikorban sasaran 2 buah Pesawat Pemburu Belanda hingga jatuh terbakar di Desa Ngoto (sebelah Tenggara Yogyakarta).
Dengan gugurnya Bapak Penerbang Indonesia merupakan keprihatinan yang sedalam-dalamnya bagi Sekolah Penerbang Angkatan Udara. Peristiwa yang menyedihkan itu kemudian diperingati setiap tanggal 29 Juli sebagai Hari Bhakti TNI AU.
Untuk menghormati jasa-jasa almarhum itu, nama kedua nya diabadikan sebagai pengganti nama Pangkalan Udara Maguwo dan Bugis.

CIKAL BAKAL SEKBANG

Proklamasi Kemerdekaan dan “Revolusi Indonesia” yang meletus pada tanggal 17 Agustus 1945 telah melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kekuatan-kekuatan bersenjata, dimana Angkatan Udara menjadi salah satu unsurnya. Di dalam perebutan kekuasaan dari tangan Jepang, pejuang-pejuang kita berhasil merebut dan menguasai lapangan-lapangan udara di Indonesia, misalnya Lapangan Udara Pandan Wangi (Lumajang), Panasan (Solo), Jatiwangi (Cirebon) dan Ciberum (Tasikmalaya).
 
Pejuang-pejuang kemerdekaan ini bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945 ditingkatkan menjadi Tentara Kemanan Rakyat (TKR). Sesuai dengan Maklumat pemerintah Republik Indonesia nomor 6 tanggal 5 Oktober bahwa TKR harus bertanggung jawab kepada seluruh ketertiban dan keamanan negara, baik di darat, di laut maupun di udara.
 
Oleh karena itu, pangkalan udara beserta isinya yang telah berhasil direbut dan dikuasai menjadi tanggung jawab langsung dari pada Devisi-Devisi TKR setempat. Pada saat itu Markas Tertinggi TKR oleh Oerip Soemaohardjo, yang oleh Pemerintah RI telah diangkat sesuai Formateur Angkatan Perang, sedang diadakan usaha-usaha untuk secepat mungkin mengkonsolidir bentuk organisasi dan personalia TKR serta menentukan garis strategi umum / pertahanan guna dapat mengahadapi setiap serangan musuh.
 
Hal ini juga membuktikan kepada dunia luar bahwa disamping atribut-atribut lainnya yang perlu dimiliki setiap negara yang berdaulat, juga telah ada atribut Angkatan Perang yang terorganisir baik. Dalam rangka itulah banyak tenaga bekas KNIL, PETA dipanggil ke Yogyakarta antara lain S. Suryadarma seorang Letnan I Pengintai (Waarnemer) Militeire Luchvaart KNIL, yang diserahi tugas-tugas khusus dan kemudian diserahi tugas sebagai Formateur Angkatan Udara.
 
Berkat pengalamannya di bidang Penerbangan Militer mengusulkan pembentukan TKR Jawatan Penerbangan sebagai bagian percobaan, yang kemudian bilamana terbukti kemampuannya dapat ditingkatkan menjadi Angkatan Udara (9 April 1946).
 
Kemudian pada tanggal 13 November 1945 telah diselenggarakan konferensi untuk pertama kalinya di Markas Tertinggi TKR di Yogyakarta yang dihadiri oleh segenap Jenderal Staf, para Komandan Devisi dan Resimen.
 
Konferensi ini diantaranya memutuskan agar para Komandan yang bersangkutan segera menggolong-golongkan seluruh materiil serta personil, yang mempunyai hubungan kerja dan tugas keudaraan (penerbangan) ke dalam Markas Besar Umum (MBU) di bidang keudaraan lazim disebut Markas Tertinggi TKR Jawatan Penerbangan.
 
Serah terima segenap wewenang keudaraan / penerbangan kepada Markas Tertinggi TKR Jawatan Penerbangan secara resmi dimulai pada tanggal 17 Desember 1945 yang dilakukan oleh Kolonel TNI R.P Soedarsono sebagai Panglima Devisi Yogyakarta. Kemudian sejak ini diikuti oleh Panglma Devisi lainnya yang ada sangkut pautnya dengan TKR Jawatan Penerbangan.
 
Sesuai dengan fase perkembangan pada waktu itu TKR Jawatan Penerbangan mengadakan panggilan secara meluas melalui segala mass media terutama kepada semua ex anggota M. L (Militeire Luchtvaart), M.L.D (Marine Luchtvaart Dient), K.N.I.L.M. (Koninklijke Ned. Indische Luchtvaart Matschappij) dan pula semua tenaga-tenaga yang pernah kerja pada penerbangan Jepang. Terutama A.Adisutjipto dalam rangka BKR telah mondar-mandir ke Yogya dari rumahnya di salatiga, tetapi berhubung belum ada kepastian status dan ketentuan mengenai Lapangan Terbang Maguwo beserta inventarisnya, maka ia belum bisa bertindak secara organisatoris.
 
Dengan dikeluarkannya Perintah Markas Tertinggi TKR kepada semua Devisi-Devisi TKR, dengan segera Adisutjipto diserahi tugas pengambilalihan seluruh materiil, personil dan instalasi-instalasi di Lapangan Terbang Maguwo dari tangan devisi setempat (Kolonel R.P Soedarsono). Mengingat program urgensi untuk konsolidasi TKR Jawatan Penerbangan, maka usaha-usaha dititikberatkan kepada tiga hal pokok yakni :
 
Konsolidasi Organisasi Pusat (Markas Besar), Persiapan operasi sesegera mungkin, dapat ikut serta dalam perjuangan Kemerdekaan (Kesatuan Udara, Lapangan Terbang, dan Fasilitas), Pendidikan baik yang bersifat ulangan / lanjutan (Up-grading) maupun yang baru.

Baca juga:  Danlanud Sim Hadiri Upacara HUT ke-74 Republik Indonesia

Berdasarkan pengalamannya di masa M.L ( Belanda) maka pada A Adisutjiptolah satu-satu nya yang memiliki Ijazah Terbang G. M. B.( Groote Militaire Brevet ) diserahi tugas ke 3 (Pendidikan) dengan wewenang penuh. Di samping tugas pendidikan tersebut juga diserahi tugas Kesatuan Operasionil dengan basisnya Maguwo yang menurut penyelidikan memenuhi segala persyaratan. Dengan demikian A. Adisutjipto menjadi Perintis Utama dalam Sejarah Pendidikan Penerbangan di Indonesia. Dalam tugas itu ia dibantu oleh Tarsono Rudjito seorang bekas Tjudantyo yang besar sekali minatnya kepada penerbangan.
 
Adapun siswa-siswa penerbang itu dapat digolongkan sesuai dengan dasar pengetahuan yang mereka miliki. Mereka ini dapat di golongkan :

Pemuda yang pernah mengikuti pendidikan penerbangan dari pendidikan Aspirant Officer Kortvermand Leerling Vlieger. Mereka ini telah memeperoleh klien-brevet. Sebenarnya mereka akan memperoleh “groot-brevet”, tetapi karena situasi phisik antara lain Jepang dan Belanda. Yang termasuk golongan ini antara lain : Husain Sastranegara, Sulistyo, H. Sujono, Aryono, Tugiyo, Sunarjo, dan Makmur Suhodo.

Yang pernah mendapat pendidikan penerbangan dari pendidikan Aspirant Onder Officier Kort Vermand Lerling Vlieger yang sama sekali belum pernah memperoleh brevet, baik klien-brevet maupun “broot-brevet”. Diantara mereka adalah Mintri dan Iswahyudi.

Yang pernah mendapat pendidikan penerbangan dari pendidikan Vrijwilliger Vliger Corps (VVC) yaitu suatu korps penerbang sukarela, mereka kebanyakan terbatas pada kemampuan terbang dengan pesawat olah raga/ringan. Dari kadet-kadet tersebut ada yang pernah di masa Belanda mencapai Ijazah KMB (Klien Militaire Brevet) sampai dengan tingkat type pesawat latih / pengangkut ringan bermotor dua (Lockheed) yakni Husain Sastranegara, Sulistyo sedang H. Sujono mencapai ijazah yang sama sampai dengan tingkat pesawat latih bermotor satu. Dalam pendidikan ulangan yang kemudian diberikan kepada semua bekas siswa Sekolah Penerbang M.L (zaman dahulu), mereka rata-rata lulus dengan baik dan terbongkarlah ketidakobyektifan beberapa Instruktur Belanda dan politik diskriminasi Belanda terhadap pemuda bangsa Indonesia yang beranggapan bahwa bangsa bumi putra tidak sanggup jadi penerbang yang baik disebabkan mudah gugup.

Pemuda-pemuda yang belum pernah mengikuti pendidikan penerbangan sama sekali. Pendatang-pendatang baru ini antara lain kadet-kadet : Suharnoko Harbani, Gunadi, Yusran, Fatah, Mulyono, Sugoro, Wim Prajitno, Sutardjo Sigit, Darjono, Santoso, Bambang Saptoadji, Sun Harto, Suprapto, Endeng, Yulianto, Cokrohamiprojo.

Dalam menilai hasil-hasil yang dicapai oleh siswa pada zaman Belanda perlu diperhitungkan faktor politik diskriminasi yang oleh setiap penjajah dipraktekkan dalam koloninya. Pembukaan pintu terhadap siswa penerbangan bagi Bangsa Indonesia sebenarnya dipaksakan kepada Belanda oleh situasi Internasional pada umumnya dan di Asia Tenggara pada khususnya beserta perjuangaan dari pada para politisi bangsa Indonesia waktu itu yang mendesak pemerintah Hindia belanda agar pribumi secara lebih luas diikutsertakan dalam pertahanan (Petisi Sutardjo cs.). Maka tidak mengherankan bahwa dalam pelaksanaan perubahan politik pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu banyak yang tidak setuju bahkan mencemoohkannya.
 
Hal itu terjadi pula di bidang penerbangan seperti penindakan terhadap Husain Sastranegara dan Sulistyo yang di “Washet-out” padahal mereka telah dapat terbang “solo” dan sudah diperkenankan membawa penumpang tetapi tiba-tiba dieliminir dari Sekolah Penerbangan. Setelah Indonesia merdeka dimana praktek diskriminasi tersebut tidak ada, siswa tersebut telah menunjukkan kemampuannya sebagai penerbang yang baik.

 

Halaman 6

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel