Berita Kotama

Riwayatmu Doeloe (halaman 6)

Dibaca: 213 Oleh 12 Feb 20103 komentar
M 458 NA B 25 Mitchell Indonesian Airforce 7168661149
#TNIAU 

Kurikulum

Sebagai mata pelajaran pokok dari Sekolah Penerbangan ini adalah “Cakap Terbang”. Pelajaran ini langsung dipegang oleh Laksamana Muda Udara Anumerta A.Adisutjipto. Sebelum latihan terbang diberikan pendidikan-pendidikan teori (ground school) yang antara lain meliputi pelajaran : PLLU, Navigasi, Aerodinamica, Savety Flying, Ilmu Motor, Aerodrome, Control, Radio Telegrafis.
Di samping itu diberi pendidikan-pendidikan tambahan sebagai syarat minimal dari calon militer antara lain: Pelajaran beris berbaris, Politik Militer, Pengetahuan Bersenjata. Lama pendidikan yang mereka tempuh tidak lama, hal ini ditentukan oleh dasar pengetahuan yang mereka miliki. Bagi siswa penerbang yang belum pernah mendapat pendidikan penerbangan sama sekali waktunya akan lebih lama dan kira-kira dua bulan dapat terbang solo (sendiri).
Sedang bagi siswa yang pernah mendapatkan pendidikan penerbangan, dalam waktu tiga minggu sudah dapat melakukan terbang solo. Sesungguhnya segala latihan-latihan yang dilakukan oleh para kadet itu semata-mata latihan yang sekaligus berupa eksperimen penerbang yang sangat besar resiko buatnya.
Tetapi berkat kemauan keras dan semangat serta keberanian daripada kadet-kadet itu, semuanya dapat dikatakan berhasil.

Fasilitas Pendidikan

Sesuai dengan situasi dan kondisi waktu itu, maka peralatan-peralatan pendidikan masih sederhana dan mementingkan hal-hal yang praktis saja. Untuk mendapat pendidikan-pendidikan teori yang seharusnya membutuhkan ruangan kelas, cukup mengambil tempat di bawah pohon-pohon talok atau pohon waru sekitar lapangan udara. Sedang pakaian yang dipergunakan latihan terbang adalah overall yang dibuat dari kain blacu yang dicelup dengan maoni sehingga warnanya kecoklatan, dan pakaian peninggalan Jepang.

Riwayatmu Doeloe (halaman 6)

Siswa Sekbang Maguwo

Asrama untuk kadet-kadet penerbang pada awalnya bertempat di Hotel Tugu Yogyakarta (sekarang digunakan untuk Kodim Yogyakarta). Pesawat-pesawat terbang yang mereka gunakan sebagai pesawat latih adalah pesawat sayap dua “Cureng”. Pesawat itu adalah buatan pabrik Jepang tahun 1933 dan dipakai oleh tentara-tentara Jepang selama pendudukannya di Indonesia. Pesawat Cureng itu seharusnya digunakan sebagai pesawat latih lanjutan. Tetapi di Sekolah Penerbangan darurat ini dipergunakan sebagai pesawat latih permulaan. Namun dalam keadaan demikianpun membawa hasil yang menyakinkan pula.
 
Sementara itu pesawat-pesawat tersebut kebanyakan mengalami perbaikan bahkan ada pula yang merupakan hasil perombakan dari onderdil beberpa pesawat. Pesawat Cureng yang dipakai latihan dimana sayapnya dilapisi kain, ada yang tempat duduknya tanpa canopi, sehingga bagian kepala dan dada dari penerbangnya akan kelihatan jelas dari luar. Walaupun keadaan pesawat demikian, namun tidak menjadi rintangan bagi kadet-kadet untuk menyelesaikan pendidikan.

Riwayatmu Doeloe (halaman 6)

Pesawat Cureng: Pesawat latih yang nekat diterbangkan untuk menyerang kedudukan musuh

Sungguh merupakan suatu tindakan ksatria dari kadet-kadet yang dengan beranunya berhasil menjadi penerbang Indonesia yang tangguh. Sehingga penerbang-penerbang Royal Air Force yang kadang-kadang datang di lapangan udara Maguwo dan menyaksikan pesawat-pesawat latih tersebut, memuji atas keberanian kadet-kadet itu. Mereka mengatakan bahwa mungkin hanya di Indonesia berlaku latihan-latiahan semacam itu. Karena menurut mereka pesawat-pesawat Cureng itu sudah lama seharusnya diganti dengan yang baru.
 
Dalam rangka melancarkan Sekolah Penerbangan ini, pimpinan Pangkalan Udara Bugis (waktu itu masih otoriter statusnya) Bapak Imam Supeno yang dibantu oleh Bapak Kid Darlim, Bapak A.S Hanandjuddin dll. Telah memberi bantuan pesawat-pesawat udaranya kepada Sekolah Penerbang di Yogyakarta yang minim pesawatnya itu.
 
Demikianlah pada tanggal 7 Februari 1946 rombongan Bapak Penerbang A.Adisutjipto dengan beberapa orang kadetnya antara lain Win Prajitno, Sunardjo, Makmur Suhodo, Abdurrachman Saleh, H. Sujono. Aryono, Mulyono dan Sulistyo ke Pangkalan Udara Bugis untuk mengambil bantuan pesawat udara dari Pangkalan Udara Bugis yang seluruhnya berjumlah 37 buah. Berkat bantuan tersebut sangat besar artinya bagi kelancaran Sekolah Penerbang di Indonesia.

Terbanglah Pesawatku

Sementara itu penerbangan dalam formasi mulai dilakukan oleh penerbang-penerbang lulusan sekolah tersebut maupun kadet-kadet penerbang yang melakukan praktek penerbangan antara lain dapat dicatat peristiwa-peristiwa tersebut sebagai berikut :
 
Pada tanggal 15 April 1946 dilakukan penerbangan formasi dan lintas udara antar daerah Yogya, Semarang, Cilacap, Solo, Madiun dan terakhir sampai di Malang. Adapun penerbang-penerbangnya adalah Husain Sastranegara, Tugijo, Santoso dan Wim Prajitno.
 
Pada tanggal 23 April 1946 penerbangan formasi dari Pangkalan Udara Maguwo menuju Kemayoran dilakukan oleh tiga buah pesawat. Penerbangan ini disamping penerbangan latihan, bertugas membawa Jenderal Mayor Sudibyo dan Komodor Udara S. Suryadarma ke Jakarta, untuk mengadakan perudingan-perundingan dengan pihak sekutu mengenai soal tawanan dan interniran sekutu. Pesawat-pesawatnya adalah bekas pesawat pengintai Jepang yang disebut “Cukiu”. Jarak Maguwo – Kemayoran ditempuh kurang dari 105 menit.
 
Hal itu merupkan prestasi, jika dlakukan penerbanagn yang agak jauh dari pusat Maguwo. Penerbangan ini menunjukan kesanggupan putra-putra Indonesia dan sekaligus membuktikan bahwa penerbangan itu bukan dilakukan oleh orang Jepang. Ketika pesawat dikemudikan oleh Komodor Udara A. Adisutjipto, Opsir Udara II Iswahyudi dan Opsir Udara III Imam Wirjosaputro.
 
Penerbangan ini disambut bangga oleh rakyat dan kenang-kenangantentang kisah pendaratan meninggalkan bekas-bekas yang tak mudah dilupakan. Dalam masa kegentingan dan suasana tertekan Opsir Udara III Imam Wirjosaputro dan Opsir Udara Sunarjo, Opsir Udara II Iswahyudi dan Opsir Udara III Makmur Suhodo.
 
Pada tanggal 23 Juli 1946 bertolak dari Pangkalan Udara Maguwo dengan menggunakan pesawat Cureng T-106 yang dikemudikan oleh Opsir Udara II Husain Sastranegara dan Kedat Udara II Wim Prajitno menuju ke Pnagkalan Udara Gorda di Banten dengan melalui Tasikmalaya. Dari Gorda bersama dengan pesawat “Cures T-05” yang dikemudikan oleh Kadet Udara Wim Prajitno disertai Opsir Muda Udara II Rasjidi dan Komandan Pangkalan Gorda menuju ke Pangkalan Udara Karang Endah (Sumatera).
 
Pada tanggal 27 Agustus 1946 dilakukan terbang formasi dengan 6 buah pesawat Type “Nishikoren”, Cukiu dan Cureng menuju ke Pangkalan Udara Cibereum/ Tasikmalaya. Kemudian melanjutkan penerbangannya ke PAU Gorda Banten. Di Pangkalan ini terpaksa sebuah pesawat Cureng ditinggalkan karena kerusakan mesinnya. Keesokan harinya dilanjutkan penerbangannya ke PAU Branti/Tanjungkarang dengan melintasi Selat Sunda. Kelima pesawat tersebut kembali ke PAU Maguwo pada tanggal 2 september 1946 dengan melalui PAU Gorda. Di Gorda ditinggalkan lagi sebuah pesawat Cukiu karena kerusakan mesinnya.
 
Dalam perjalanan kembali tiga buah diantara keempat pesawat tersebut terpaksa mengalami pendaratan darurat. Sebuah pesawat yang dikemudikan oleh Komodor Muda Udara A.Adisutjipto dan Mayor Udara Tarsono Rudjito mendapat kecelakaan di Cipatujuh/tasikmalaya karena kerusakan mesinnya. Sewaktu akan melakukan pendaratan darurat pesawat tersebut melanggar pohon kelapa yang melintang di pantai, pesawat terjungkir dan tali temali crew putus, sehingga mengakibatkan kecelakaan atas diri Mayor Udara Tarsono Rudjit, yakni tulang belakangnya patah, beberapa hari kemudian beliau meninggal dunia, sedang Komodor Muda Udara A.Adisutjipto mendapat luka-luka ringan saja.
 
Dua buah pesawat lainnya melakukan pendaratan darurat di Garut dengan air crew Opsir Udara II Iswahyudi, Opsir Udara II Sunarjo, Kadet Udara I Wim Prajitno, Opsir Udara III Santoso dan Komodor Udara S. Suryadarma mendapat luka-luka ringan. Pesawat yang kembali ke Maguwo dengan selamat hanya sebah yakni yang dikemudikan oleh Opsir Udara II Imam Wirjosaputro.
 
Pada tanggal 26 September 1946 dalam melakukan tugas test flight pesawat “Cukiu” yang direncanakan untuk mengangkut Perdana Menteri Sutan Sjahrir ke Malang, telah mengalami kecelakaan dan terbakar di kampung Gowongan Lor Yogyakarta. Peristiwa ini membawa korban air crew pesawat O.U I Husain Sastranegara (Komodor Muda Udara Anumerta) gugur sebagai kusuma bangsa. Untuk menggantikannya dalam tugas penerbangan Sutan Sjahrir ke Malang adalah Kadet Udara Wim Prajitno.
 
Pada tanggal 3 Oktober 1946 dalam melakukan tugas rutin (latihan penerbangan) di atas Ambarawa Kadet I Wim Prajitno dan Kadet Udara I Suharto dengan menggunakan pesawat Cukiu telah jatuh dan keduanya gugur. Dengan berhasilnya penerbangan-penerbangan tersebut, berarti suatu kemajuan yang telah dipelopori AURI, yaitu dari yang tiada menjadi ada.

Baca juga:  Pangkoopsau I Buka Taklimat Awal Wasrikkap Itjenau Makoopsau I dan Lanud jajaran di Lanud Halim Perdana Kusuma

Pendidikan Penerbangan di India

Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melancarkan agresinya yang pertama terhadap daerah Republik. Pangkalan-pangkalan udarapun tidak luput mendapat serangan juga, terkecuali Pangkalan Maguwo terhindar serangan musuh karena waktu itu pangkalan tersebut tertutup kabut yang sangat tebal. Dengan agresi tersebut tidak sedikit anggota AURI gugur untuk membela demi tegaknya Negara Proklamasi.
Oleh karena itu perlu diperbanyak tenaga penerbang yang sangat urgent pada waktu itu. Fungsi tenaga penerbang tersebut antara lain:

Diterjunkan secara langsung untuk mengimbangi kekuatan lawan yang pada waktu itu betul-betul merajai Angkasa Indonesia.

Tenaga-tenaga penerbang tersebut persiapan di dalam rangka membina penerbangan nasional di kemudian hari.

Untuk memperbanyak tenaga-tenaga AURI agar benar-benar merupakan salah satu dari Angkatan Perang Indonesia yang kokoh dan kuat, dengan demikian musuh akan menyegani.

Sesuai dengan cita-cita tersebut Pimpinan AURI mengambil kebijaksanaan untuk mengirimkan para kadetnya untuk dididik ke luar negeri yaitu ke negara India. Perlu diketahui bahwa Pemerintah India adalah satu-satunya negara tetangga yang sangat gigih membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lihat saja pada saat bergejolaknya revolusi fisik di Indonesia. Pemerintah India mengirimkan obat-obatan dan pakaian sebagai sumbangan kepada rakyat Indonesia. Sebagai imbalan, Pemerintah RI mengirimkan bahan makanan berupa beras pada Pemerintah India.
 
Dengan dikirimkannya para kadet ke negara sahabat di India itu, ini tidak berarti bahwa Pendidikan Penerbangan Darurat di Maguwo diragukan mutunya. Ini sama sekali tidak, pengiriman itu dimaksudkan untuk memperbanyak jumlah penerbang di Indonesia. Di samping itu diharapkan simpati pemerintah India terhadap perjuangan rakyat Indonesia.
 
Dengan demikian maka pada Bulan Desember 1947 AURI telah membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Indonesia lulusan SMA/B atau yang sederajat untuk dididik sebagai P
enerbang di India. Untuk memilih pemuda yang benar-benar dapat diandalkan sebagai penerbang dari para pelamar yang mendaftarkan terpaksa harus diadakan screening. Tempat yang dipilih untuk mengadakan screening ialah di Pangkalan Maguwo. Dari sekian banyak pelamar itu yang dapat diterima sebagai kadet hanyalah 20 orang saja.
 
Sebelum mereka diberangkatkan ke India, mereka harus dilatih lebih dahulu dengan sejenis peluncur yang dipakai pada saat itu, tidak seperti pesawat luncur zaman sekarang. Keadaannya masih sangat sederhana, dan kita namakan zogling, ciptaan Bapak Wioweko Supono dan Bapak Nurtanio Pringgoadisurjo. Dengan berhasilnya pembuatan pesawat tersebut, membuktikan bahwa untuk mutu tehnik bangsa Indonesia sudah tinggi pada saat itu. Kedua beliau dapat menghasilkan 6 buah pesawat luncur/zogling yang dipakai untuk melatih sebanyak 20 orang AURI tersebut dan dilatih di Pangkalan Maospati Madiun dengan uniknya.
 
Cara melatih kadet tersebut sangat sederhana mula-mula pesawat dikaitkan dengan seutas tali pada sebuah kendaraan Hardly Davidson dan kemudian ditarik. Setelah pesawat mencapai ketinggian yang cukup, kait tali penghela dilepaskan dan pesawat akan terbang dan melayang-layang di udara. Pada waktu melepaskan tali pengait ini, harus dilakukan hati-hati sekali. Kelengahan sedikit saja, misalnya pada saat melepaskan tali tersebut terlambat beberapa menit saja, kendaraan hardly davidson itu pasti akan terangkut ke atas.
 
Memang berat resiko para pelatih beserta kadetnya pada waktu itu, mereka harus betul-betul berani menyabung nyawa. Ke-20 kadet tersebut ialah: Sri Bimo Arietejo, Sudarmo, Susatyo, Pardjaman, Sudjalmo, Sugandi, Pratojo, Hadi Susanto, Partono, A. Mutalib, Sukarsono, B. Iskak, Sudarjono, Sjamsuddin Noor, Agus Legowo, Hasan, Nurprapto.
 
Setelah selesai mengikuti latihan di Maospati kemudian dikirim ke Bukittinggi untuk mengikuti Latihan Dasar kemiliteran. Tetapi memang akibat cuaca yang jelek, kedatangan ke Bukittinggi terpaksa harus ditangguhkan. Rombongan harus mendarat di Singapure kemudian melanjutkan menuju Kualalumpur. Dari Kualalumpur menyeberang laut untuk menuju labuhan Bilik di Sumatera Timur. Dengan berjalan kaki sejauh 260 km mereka menuju Tapanuli, dan akhirnya sampai ketujuan akhir yaitu Bukittinggi.
 
Selesai mengikuti Latihan dasar Kemiliteran secukupnya, pada bulan Mei 1948 rombongan diterbangkan ke luar negeri yaitu ke India. Semula direncanakan pendidikan yang akan diperoleh para kadet tersebut adalah penerbangan militer. Karena kekurangan tenaga instruktur khusus penerbang, pemerintah India menolong. Untuk menjaga jangan sampai timbul kerenggangan antara kedua pemerintahan yang sudah terjalin baik itu, kesulitan dapat diatasi dengan jalan mengikrimkan rombongan kadet ke Lucknow dan Allahabad yaitu tempat penerbangan dari “flying school of United Province”
 
Biaya dalam pelaksanaan pendidikan sepenuhnya ditanggung oleh AURI. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda menjalankan agresinya yang ke II. Seluruh pangkalan Udara RI diserang. Dengan sendirinya untuk sementara waktu pembiayaan terhadap kadet Indonesia yang belajar di India putus. Disamping itu timbul kegelisahan para kadet tersebut, sebab mau tak mau mereka juga memikirkan saudaranya di tanah air yang berjuang mati-matian mempertahankan negara proklamasi.
 
Kesulitan pembiayaan akhirnya dapat diatasi oleh Bapak Wiweko Supono. Perlu diketahui bahwa Bapak Wiweko Supono adalah pendiri Perusahaan Penerbangan “Indonesian Airways” dengan pusat di Rangoon (Burma). Perusahaan Penerbangan ini menhasilkan uang cukup banyak sebagian dipakai untuk simpanan dan sebagian lagi untuk membiayai kadet-kadet kita di India. Demikian pelaksanaan pendidikannya dapat berjalan dengan lancar.
 
Lama pendidikan 2 tahun dengan mendapat brevet A Penerbangan sipil. Sebanyak 19 orang kadet dapat kembali dengan selamat ke tanah air. Seorang lagi yaitu kadet Udara Surjadi gugur di sebelah tenggara Baumrali pada waktu tugas pada tanggal 26 Mei 1949. Pesawat yang dipakai ialah Pesawat Latih De Havelland “Chipmunh” – VT- CVN. Bersama kadet Udara Surjadi pula assisten penerbang hardless yaitu seorang instruktur dari Hind Privincal Flying Club.
 
Pada tanggal 17 Maret 1950 para kadet sampai tanah air dan oleh karena pendidikan penerbangan yang diperoleh di India adalah penerbangan sipil, mereka harus menyiapkan diri guna melanjutkan Pendidikan Penerbangan Militer di Pangkalan Udara Andir. Terkecuali beberapa orang kadet tetap tinggal di Rangoon untuk membantu Perusahaan Penerbangan yang pernah membiayai mereka.
 
Mereka itu ialah : Kadet Budiarto Iskak, Kadet Susatyo, Kadet Samsuddin Noor, Kadet Sudarjono. Perlu diketahui bahwa Kadet Samsuddin Noor gugur pada tanggal 226 November 1950 bersama pesawatnya yaitu Dakota T-446 dalam perjalanan dari Bandung ke Tasikmalaya, 13 orang penumpang tewas dan 13 orang lagi luka-luka.
 
Dalam melaksanakan Pendidikan Penerbangan Militer di Andir, mereka bersama-sama dengan penerbang ex Maguwo. Ternyata dari pendidikan ini ada 4 orang penerbang qualified dan berhak menerima brevet Penerbang Militer (Lanjutan) 4 orang lulusan Penerbang maguwo, 14 orang Penerbang lainnya lulusan sekolah penerbang India. Mereka adalah : Kapten Udara Makmur Suhodo, LUS. Imam Wirjosaputro, LUS. Muljono, LUD. Sri Bimo Arietejo.
 
Dengan kembalinya Kadet Udara dari India ini ternyata ada beberapa orang penerbang yang dapat dikatakan penerbang yang qualified, sebagian dari rencana kerja dan kebutuhan AURI dapat dipenuhi. Dengan ini pula kemajuan AURI segera dapat dikembangkan.

Baca juga:  Profil Komadan

 

Halaman 7

Gabung dalam diskusi 3 komentar

  • nugrohoPASDS berkata:

    Catatan:

    kami dapat dihubungi lewat WA dengan nomor 085333403168 atau 085737605168
    Terimakasih..

    nugrohoPASDS

  • nugrohoPASDS berkata:

    Mohon maaf.. seharusnya kami tidak masukkan nama2 sbb. pada surat kami..

    Oom Kusumo Sujanto,
    Oom Darmo,
    Oom Mantri,
    Oom Partono, Alm.
    Oom Susetyo, Alm.

    Nama yang seharusnya ditulis dimulai dari Bapak Sri Bimo Ariotedjo sampai dengan Slamet Nurprapto (Ayah kami).

    Demikian, terimakasih..

    nugrohoPASDS

  • nugrohoPASDS berkata:

    Bersama ini kami mohon diberi ijin untuk dapat bertanya dan mendapatkan informasi yang lebih lanjut mengenai sejarah pada saat:
    Oom Kusumo Sujanto,
    Oom Darmo,
    Oom Mantri,
    Oom Partono, Alm.
    Oom Susetyo, Alm.

    Sri Bimo Ariotedjo,
    Sudarmo,
    Susatyo,
    Pardjaman,
    Sudjalmo,
    Sugandi,
    Pratojo,
    Hadi Susanto,
    Partono,
    Abdul Mutalib,
    Sukarsono,
    Budiarto Iskak,
    Sudarjono,
    Sjamsuddin Noor,
    Agus Legowo,
    Hasan,
    Slamet Nurprapto.

    Dipilih untuk diberangkatkan ke India untuk belajar terbang.. persiapan keberangkatan, tiba ditempat, kejadian2 selama pendidikan, persiapan pulang, setiba di Indonesia dan selanjutnya..

    Demikian permohonan kami, terimakasih.

    nugrohoPASDS

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel