Berita Kotama

Riwayatmu Doeloe (halaman 7)

Dibaca: 926 Oleh 12 Feb 2010Tidak ada komentar
emb 314
#TNIAU 

LAHIRNYA AKADEMI TNI AU (AAU)

Melihat kenyataan bahwa pendidikan-pendidikan perwira di AURI tiap-tiap jurusan mempunyai perkembangan sendiri-sendiri di mana wadah dari tiap-tiap pendidikannya pada Kesatuan Pendidikan yang berbeda-beda. Dengan demikian seolah-olah antara jurusan yang satu dengan yang lain terpisah-pisah. Sedangkan kenyataan yang harus diwaspadai adalah bahwa mereka itu nantinya menjadi perwira-perwira yang bersama-sama mengabdikan diri di Angkatan Udara.

Dan Perwira-perwira itulah sebagai pewaris semangat proklamasi dan jiwa keprajuritan Indonesia 1945 dan berwawasan Dirgantara. Mengingat kondisi-kondisi tersebut di atas maka gagasan Pimpinan Angkatan Udara RI yang telah dicetuskan dalam Surat Ketetapan KSAU No 035/Instr/KS/50 tanggal 11 Desember 1950 mulai direalisir.Lembaga-lembaga pendidikan yang ada antara lain Sekolah Penerbang Kalijati, sekolah Teknik Udara Perwira (STUPA) dan Sekolah Materiil Perwira (SMAPA) disatukan menjadi satu Akademi, di mana PAU (kini Lanud) Adisutjipto terpilih sebagai kawah candradimukanya pendidikan Akademi Angkatan Udara. Kemudian lembaga-lembaga pendidikan tersebut secara berangsur-angsur dipindahkan ke Adisutjipto Yogyakarta.
 
Selanjutnya diadakan perubahan-perubahan untuk meningkat ke arah situasi pendidikan Akademi. Pada awal tahun 1960 pembangunan di gedung-gedung Akademi Angkatan Udara dimulai. Semua jawatan seksi di PAU Adisutjipto diarahkan ke pendidikan, diadakanlah reorganisasi dengan three-prong systemnya U.A.L (Udara – Administrasi – Logistik). Pada tahun 1962 pendidikan-pendidikan berangsur-angsur tampak baik. Pembangunan gedung-gedung AAU tampak lancar.
 
Dalam kurikulum oleh Komando Pendidikan diadakan perubahan-perubahan dengan penambahan beberapa mata pelajaran sosial-science dan melengkapi isi mata pelajaran lainnya yang dianggap perlu untuk meningkat kepada kurikulum Akademi. Kehidupan Kadet (Cadets Life) mengalami perubahan-perubahan dengan extra kurikuler. Fasilitas dan perlengkapan-perlengkapan kehidupan Akademi kepada para kadet maupun kepada para Instruktur.
 
Sejak tempat pendidikan di PAU Adisutjipto berturut-turut telah terjadi Upacara Pelantikan kadet menjadi Perwira. Pada tanggal 30 Juni 1960 terjadilah Upacara pelantikan yang pertama-tama di Wing pendidikan No I PAU Adisutjipto. Mereka semua berjumlah 24 orang kadet yang dilantik menjadi Letnan Udara II. Pada Graduation Day yang berikutnya pada tanggal 2 Februari 1963 dilantik 47 kadet dan pada tanggal 7 Juni 1964 telah dilantik 95 orang kadet menjadi Letnan Udara II.

Pembangunan Gedung-gedung AAU

Pada tahun 1959 SPL Angkatan IX dipindahkan dari PAU Kalijati ke PAU Adisutjipto, dengan dasar faktor keamanan di Kalijati sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi. Faktor keamanan ini sangat mempengaruhi kelancaran jalannya pendidikan sebab pada waktu itu pemberontakan-pemberontakan DI/TII Jawa Barat masih giat melancarkan serangan-serangannya. Sementara itu untuk pendidikan Sekolah Perwira Tehnik Udara (STUPA) tetap berkedudukan di Kes Dik 006 Husein Sastranegara, sedang Sekolah Materiil Perwira (SMAPA) kemudian berangsur-angsur dipindahkan juga ke PAU Adisutijpto.
 
Pelaksanaan pemindahan ini dilakukan dengan suatu operasi yang dinamakan “Operasi Taruna” yang dipimpin oleh Mayor Udara Sri Bimo Ariotedjo. Pemindahan ini juga atas dasar gagasan dari Pak Suryadarma untuk segera mendirikan Akademi Angkatan Udara di Adisutjipto.
 
Pada bulan Desember 1959 telah dikeluarkan perintah oleh Menteri/Pangau untuk segera membuat dan merencanakan Akademi Angkatan Udara Indonesia dan harus selesai tanggal 9 April 1960. Mengingat terbatasnya waktu yang ditentukan AURI dengan besarnya proyek dan persoalan yang harus dipecahkan, lagi pula tanpa adanya kesempatan mengadakan research dan membandingkan Akademi yang telah ada di negara lain, maka daya cipta dan hasil karya para perencana maupun arsitek muda tersebut adalah hasil yang terbaik pada waktu itu. Pemilihan tempat untuk Akademi Angkatan Udara di Yogyakarta ini telah disesuaikan dengan faktor teknis maupun historis.
 
Pada tanggal 9 April 1960 bertepatan dengan Hari AURI yang ke XIV diadakan upacara peletakan batu pertama pembangunan gedung-gedung Akademi Angkatan Udara yang peresmiannya dilakukan oleh Laksamana Muda Udara Abdurachmat atas nama Menteri/Pangau. Sejak peresmian tersebut, pembangunan gedung-gedung di AAU dimulai, begitu pula pembangunan perumahannya dilaksanakan fase per fase. Pembangunan tersebut dilaksanakan menurut suatu “master plan” yang dibuat oleh Panitia Pusat begitu pula pelaksanaannya langsung di bawah Direksi dari Panitia Pusat dengan pengawasan dari DEPAU ADFAS. PAU Adisutjipto hanya diserahi pengawasan pengamanan pembangunan dan penyimpanan uang proyek tersebut.
 
Bangunan-bangunan dirancang menurut gaya arsitektur modern dengan beton bertulang dan menggunakan banyak kaca-kaca yang memungkinkan para kadet setiap saat dapat memandang bebas tempat pengabdian mereka dimasa mendatang, dalam memupuk angan-angan dan cita-cita mereka. Menurut fungsinya bangunan-bangunan Akademi Angkatan Udara dapat digolongkan menjadi 3 kompleks yaitu: kompleks kuliah, asrama kadet, dan kompleks olah raga.
 
Komplek Akademi Angkatan Udara dipakai untuk pertama kalinya pada bulan Juli 1963, untuk keperluan penyelenggaraan PORAKTA III. Pada PORAKTA III ini tidak dapat dipisahkan dari dinamikanya pembangunan gedung-gedung sebab dalam PORAKTA III itulah para kadet menghuni halaman Akademi dengan fasilitas-fasilitas yang ada, dengan meubelair bekas fasilitas Kalijati.
 
Untuk kelancaran pelaksanaan proyek AAU, mengingat keadaan ekonomi akan mempengaruhi kelancaran bekerja – maklum, ketika itu material harganya tak terkendalikan lagi – dan mengingat soal-soal personil yang kurang serta pekerjaan rutin sehari-hari, maka terbentuklah suatu Panitia Pusat Proyek Akademi Angkatan Udara.
 
Panitia tersebut bertugas merencanakan penyelenggaraan dan pengusahaan pembiayaan khusus untuk membangun gedung-gedung dan fasilitas lainnya pada proyek AAU. Sesuai dengan Surat Keputusan menteri/Panglima Angkatan Udara No. 82 tahun 1964 tertanggal 25 September maka telah ditunjuk Susunan Panitia Proyek AAU yang anggota-anggotanya sebagai berikut :

Ketua : Kolonel Udara Moh. Slamet
Wakil Ketua : Letkol Udara Sudjatmiko
Anggota : Letkol Udara Ir Surjanto
Letkol Udara Saleh Basarah
Letkol Udara Bob Soerasaputra.
 
Sejak dibentuknya panitia tersebut telah mengalami banyak penyempurnaan-penyempurnaan hingga diresmikan berdirinya Akademi Angkatan Udara. Demikianlah tentang komplek Akademi yang menjadi “Kawah Candradimuka tempat penggodokan Gatotkaca Indonesia”.

Akademi Angkatan Udara

Sesuai dengan Surat Keputusan MEN/PANGAU No. 52 tahun 1965 maka Wing Pendidikan No. I Adisutjipto ditingkatkan statusnya menjadi Akademi Angkatan Udara. Peresmian penggantian Wing Pendidikan No I tersebut dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 1965, bersamaan dengan dilantiknya Komandan Jenderal Akademi Angkatan Udara yang pertama yakni Komodor Udara S. Dono Indarto.
Sesungguhnya pelantikan Komodor Udara S. Dono Indarto sebagai Komandan AAU tersebut, adalah merupakan lanjutan serta pelaksanaan dari cita-cita pelopor dan pahlawan udara kita, ialah Almarhum Laksamana Muda Udara A. Adisutjipto. Dialah sebagai peletak batu pertama Akademi Angkatan Udara yang ketika itu dinamakan Sekolah Penerbangan, bersama-sama rekan lain yakni Laksamana Muda Udara Prof. Dr Abdurrachman Saleh, telah merintis AAU ini dengan semangat maupun fikiran. Bahkan kemudian pada saat melaksanakan tugas penting bagi negara, keduanya terpaksa mengakhiri pengabdiannya dengan pengorbanan jiwa dan raga.
Oleh karena itu untuk menghargai para Pahlawan Udara Pembina Angkatan Udara Republik Indonesia, perlu mengabadikan nama para Pahlawan Udara. Alm Laksamana Muda Udara Prof. Dr. Abdurachman Saleh atau lebih dikenal dengan nama panggilan “Pak Karbol” adalah salah satu dianta
ra Pahlawan Pembina Angkatan Udara Republik Indonesia yang serba bisa dan serba guna atau “all round”. Betapa tidak, dia adalah seorang Penerbang sekaligus perwira Teknik Radio, seorang guru besar dalam Ilmu Kesehatan/Ilmu Faal, seorang bintang lapangan dalam olah raga, seorang pemimpin yang pandai, berwibawa dan jujur dan mendahulukan kepentingan tugas negara di atas kepentingan sendiri.

Baca juga:  Gerakan Sekolah Angkasa Peduli Lingkungan Lanud Iwj, Ngecat dan bersih bersih pesawat

Riwayatmu Doeloe (halaman 7)

Karbol dengan berbagai atribut seragam lengkap mereka:
meneruskan perjuangan dan pengabdian para pendahulu

Oleh karena itu Taruna Akademi Angkatan Udara sangat perlu mengambil suri tauladan dari pahlawan tersebut dalam semangat, kepandaian dan pengorbanan. Untuk penghargaan, penghormatan dan pengabdian nama Pahlawan Udara tersebut, maka sesuai dengan Surat keputusan Komandan Akademi Angkatan Udara No. 145/KPTS/AAU/1965 tertanggal 3 Agustus 1965 nama “Pak Karbol” dianugerahkan kepada Taruna Akademi. Panggilan “Kadet” yang diberikan pada Taruna Akademi Angkatan Udara diubah dan diganti dengan nama panggilan “KARBOL”.
 
Pada tanggap 29 Juli 1965 Pataka AAU diserahkan oleh Presiden RI kepada Komandan Jenderal Akademi Angkatan Udara. Pataka AAU memuat slogan falsafah hidup ksatria “VIDYA KARMA VIRA PAKCA”. Vidya berarti pengetahuan; Karma berarti perbuatan, amal atau bhakti; Vira berarti berani, jujur serta bijaksana; Pakca berarti melindungi.
 
Kesimpulan arti slogan tersebut adalah setiap Perwira hasil godokan Kawah Candradimuka (Akademi Angkatan Udara) dengan bersenjatakan ilmu sakti yang didapatnya sanggup dan berani bertindak mengamalkan darma bhaktinya sebagai ksatria yang berani, jujur dan bijaksana, berjuang tanpa pamrih demi keselamatan dan kejayaan bangsa dan negara.
 
Dengan berdirinya AAU tersebut maka peningkatan mutu pendidikan dalam tubuh AURI akan dapat terpenuhi. Untuk itu diadakan persetujuan kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dalam bidang pengetahuan: Ilmu Eksakta/Teknik, Ilmu Sosial, Ilmu Kebudayaan, Ilmu Agama dan Kerokhanian.
 
Di samping itu diadakan pula persetujuan kerja sama AAU dengan Sekolah Tinggi Olah Raga Yogyakarta tentang pendidikan/ pengajaran dan pembinaan dalam bidang keolahragaan seperti: senam, atletik, permainan, renang dan bela diri.
 
Melihat pendidikan Perwira di AAU tiap jurusan mempunyai perkembangan sendiri-sendiri dan seolah-olah antara jurusan yang satu dengan jurusan yang lainnya tidak ada hubungan sama sekali, sedangkan dalam kenyataannya mereka ini harus mampu melaksanakan kerja secara bersama-sama, maka pada tahun 1960 AURI mendidik calon-calon Perwiranya dalam suatu Akademi. Sebenarnya hal ini adalah merupakan ide Pimpinan yang sudah lama tertuang dalam Ketetapan KSAU No. 035/Instr/KS/50 tanggal 11 Desember 1950 tentang adanya satu Akademi untuk mendidik Perwira-perwira Angkatan Udara Republik Indonesia.
 
Selanjutnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang sudah ada waktu itu antara lain: Sekolah Penerbang Lanjut (SPL), Sekolah Teknik Udara Perwira (STUPA) dan Sekolah Materiil Perwira (SMAPA) diintegrasikan dalam satu wadah yaitu Akademi Angkatan Udara. Kemudian lembaga-lembaga pendidikan tersebut berangsur-angsur pindah ketempatnya yang baru di Pangkalan Udara Adisutjipto. Peresmian AAU dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 1965 dengan Surat Keputusan Men/Pangau Nomor : 52 tahun 1965. Pataka AAU “VIDYA KARMA VIRA PAKCA” diserahkan Presiden kepada Komandan Jenderal Akademi Angkatan Udara. Dengan demikian untuk sementara waktu tidak ada Wing Pendidikan 1. Tugas Akademi Angkatan Udara pada waktu itu adalah mendidik semua calon Perwira TNI AU : Penerbang, Navigator, Teknik, Materiil dan lain-lain.
 
Setelah AAU berdiri maka berbagai kegiatan, fasilitas dan tradisi-tradisi akademi mulai diadakan. Dikenal pada waktu itu Board of Instructors dan Flight Recommendation yaitu badan-badan yang memberikan pertimbangan dan penilaian bagi Kadet, Tradisi Saniri bagi kadet-kadet baru, Passing-In dan Passing-Out Parade, Wing-Day yaitu tradisi sekaligus penyematan wing bagi para perwira Remaja, apel embun dan masih banyak lagi lainnya. Semua kegiatan fasilitas dan tradisi-tradisi itu untuk menanamkan rasa “honor, pride and responsibility“ (kehormatan, kebanggaan, dan tanggung jawab) yang tertuang sebagai Kode Etik Perwira.
 
Dengan terbentuknya Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), maka pada tanggal 5 Otober 1966 AAU diintegrasikan ke dalam AKABRI. Setahun kemudian dibentuk Wing Sekolah Penerbang yang secara organisatoris di bawah AKABRI Bagian Udara.

TERBENTUKNYA WANITA ANGKATAN UDARA (WARA)

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan puncak perjuangan Bangsa Indonesia. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya Proklamasi Kemerdekaan melahirkan konflik yang bersifat fundamental antara kita dan Belanda mengenai siapa yang berdaulat atas Indonesia, Belanda atau kita. Periode-periode selanjutnya lebih dikenal dengan ‘Revolusi fisik’ ditandai oleh perlawanan-perlawanan yang heroik.
 
Kaum wanita merasa terpanggil untuk ikut serta berjuang membela dan mempertahankan Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Bersama-sama dengan kaum pria kaum wanita berjuang, baik di garis belakang maupun di garis depan medan pertempuran. Banyak sekali wanita yang terjun dalam kegiatan dapur umum, palang merah (waktu itu namanya belum palang merah), pesuruh, pengantar berita (koerir), mencari senjata, tempat-tempat perlindungan dan persembunyian, obat-obatan, makanan dan sebagainya. Di seluruh Indonesia muncullah laskar-laskar / badan-badan perjuangan bersenjata yang keanggotaannya terdiri dari kaum wanita.
 
Adapun laskar-laskar/badan-badan perjuangan bersenjata tersebut antara lain dapat disebut di sini: Barisan Puteri di Jakarta, Laskar Wanita Indonesia (Laswi) di Bandung, Laskar Puteri Indonesia (LPI) di Surakarta, Wanita Pembantu Perjuangan (WPP) di Yogyakarta, Laskar Muslihat di Bukittinggi, laskar Sabil Muslihat di Sumatera Tengah dan lain-lainnya. Di Sumatera selain terbentuk laskar-laskar/ badan-badan perjuangan bersenjata seperti halnya di Jawa, juga beberapa orang wanita memasuki dinas Kepolisian RI dan dinas pada AURI di Bukittinggi.

Baca juga:  12 Personel Lanud Rembiga Naik Pangkat

Di Yogyakarta

Sudah menjadi suatu keharusan bahwa lahirnya suatu negara diikuti dengan lahirnya militer sebagai penjaga keamanan negaranya. Oleh karena itu sesudah bangsa Indonesia menyatakan dirinya merdeka dan kemudian mendirikan Negara Kesatuan Indonesia yang berwilayahkan seluruh bekas daerah Hindia Belanda, maka mulai saat itu rakyat Indonesia berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya dari ancaman kembalinya belenggu penjajahan Belanda dan Jepang.
 
Pada tanggal 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya telah memutuskan :
 
Komite Nasional Indonesia (KNI) yang bertugas membantu Presiden dalam tugas pemerintahan
Partai Nasional Indonesia (PNI) yang bertugas memperjuangkan kemerdekaan dalam bidang politik dan sekaligus merupakan motornya revolusi.
Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang bertugas menjaga terjaminnya keamanan dan ketertiban umum.

BKR merupakan bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP). Meskipun BKR bukanlah tentara namun merupakan perwujudan dari suatu kehendak untuk mempertahankan kelestarian proklamasi Bangsa Indonesia. Sungguhpun demikian dalam kenyataannya BKR tidaklah hanya sekedar “penjaga”, melainkan merupakan suatu Korps Pejuang Bersenjata yang memelopori, mendorong dan memutar roda revolusi. BKR lah yang memimpin perebutan-perebutan kekuasaan sipil dan militer dari Jepang. Usaha pertama dari BKR dan rakyat adalah merebut pangkalan-pangkalan udara dari tangan Jepang. Dalam waktu singkat pangkalan-pangkalan udara beserta seluruh pesawat dari berbagai jenis dan tipe, fasilitas dan peralatannya telah dapat dikuasai oleh bangsa Indonesia.
 
Dengan terbentuknya KNI-KNI setempat serta adanya tuntutan perjuangan pada waktu itu, maka perjuangan BKR hakekatnya telah sesuai dengan tujuan pembentukan semula sebagai pengaman perjuangan bangsa Indonesia dalam pelbagai bidang. Akibat dari penyesuaian lapangan perjuangan tersebut timbullah beberapa nama BKR sejalan dengan bidang tugas pengabdiannya seperti : BKR Laut, BKR Kereta Api, BKR Pos, BKR Udara dan sebagainya.
 
Adapun BKR Udara berdiri di daerah-daerah pangkalan udara atau pemusatan unsur-unsur penerbangan seperti di Pandanwangi (Lumaj
ang), Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Morokrembangan (Surabaya), Panasan (Solo), Kalibanteng (Semarang), Maguwo (Yogyakarta), Andir (Bandung), Cibeureum (Tasikmalaya), Jatiwangi (Cirebon), Cililitan (Jakarta), Gorda (Banten) dan beberapa tempat di luar Jawa. Dengan demikian BKR Udara hanya terdapat di daerah-daerah tertentu saja (umumnya yang terdapat pangkalan udaranya) yang tumbuh dan berkembang sendiri, karena masing-masing secara organisatoris berada di bawah wewenang KNI-KNI setempat.
 
Sehubungan dengan terbentuknya BKR, maka pada tanggal 23 Agustus 1945 dalam pidatonya Presiden Sukarno mengajak pemuda-pemuda bekas Peta, Heiho, Kaigun Heiho dan pemuda-pemuda lainnya untuk sementara waktu bekerja dalam BKR dan bersiap-siap untuk dipanggil menjadi prajurit Tentara Kebangsaan jika telah datang saatnya. BKR berdiri di daerah-daerah dan menjelma menjadi badan-badan revolusi yang memimpin perebutan kekuasaan setempat.
 
Dalam pertumbuhannya selain BKR terdiri dari matra darat juga berdiri pula BKR Laut dan di daerah-daerah yang memiliki pangkalan udara berdiri pula BKR Udara. Di beberapa pangkalan udara yang terbentuk BKR Udara keanggotaannya terdiri dari bekas anggota penerbangan di jaman Belanda seperti Militaire Luchtvaart (ML), Marine Luchtvaart Dienst (MLD), Vrijwilling Vliger Corps (VVC), juga penerbangan di jaman Jepang seperti Kaigun Koku Butai, Rikugun Koku Butai dan Nanpo Koku Kabusyiki di samping para pemuda pejuang lainnya.
 
Selanjutnya sebagai peningkatan organisasi BKR maka pada tanggal 5 Oktober 1945 diresmikanlah pembentukan tentara reguler yang dinamakan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sejajar dengan ditingkatkannya BKR menjadi TKR, maka BKR-BKR Udara pun otomatis menjadi TKR Udara yang lazimnya kita kenal juga dengan nama TKR Jawatan Penerbangan. Berdasarkan Maklumat Pemerintah RI No 6 tanggal 5 Oktober 1945 menggariskan, bahwa TKR harus bertanggung jawab atas seluruh ketertiban dan keamanan Negara baik di darat, laut dan di udara, maka pertanggungjawaban atas pangkalan-pangkalan udara beserta seluruh perlengkapannya yang telah berhasil direbut dari tangan Jepang kemudian langsung berada di bawah kekuasaan TKR yang mewilayahi pangkalan udara tersebut. Dengan demikian akan mempermudah pelaksanaan tugas-tugas TKR Jawatan Penerbangan.
 
Sejak saat itu pangkalan-pangkalan udara yang semula dikuasai oleh panglima divisi diserahkan kepada Markas Tertinggi (MT) TKR dan selanjutnya oleh MT TKR diserahkan kepada TKR Bagian Penerbangan. Dalam rangka mengembangkan kekuatan itu, dirintislah oleh TKR bagian penerbang untuk memiliki pesawat terbang sendiri. Caranya ialah memperbaiki pesawat-pesawat tua peninggalan Zaman Jepang. Pesawat-pesawat inilah yang menjadi modal pertama TKR bagian penerbangan. TKR bagian penerbangan ini kemudian menjadi TKR Jawatan Penerbangan. MT TKR Jawatan Penerbangan terletak di Jalan Terban Taman No 1 Yogyakarta, berseberangan dengan letak Mabes TKR.
 
Setelah terbentuk TKR Jawatan Penerbangan, segera pembangunan-pembangunan di mulai. Yogyakarta dipilih dan sebagai pusatnya adalah Pangkalan Udara Maguwo. Setelah menerima pangkalan-pangkalan udara, kemudian diadakan perbaikan-perbaikan. Banyak lapangan terbang yang dalam keadaan terlantar. Bahkan ada yang sudah dijadikan kebun penduduk, sehingga tinggal landasannya saja. Semua ini memerlukan kerja berat dan pembiayaan yang banyak. Selain tugas itu juga harus dibentuk dinas-dinas yang belum ada, seperti dinas teknik, dinas perminyakan, dinas perhubungan, dinas pemberitaan cuaca dan lain-lain.
 
Sesuai dengan urgensinya konsolidasi TKR Jawatan Penerbangan menitikberatkan kepada tiga hal yaitu: Pertama, konsolidasi organisasi pusat (Markas Besar); kedua, persiapan untuk ikut segera dalam operasi perjuangan kemerdekaan (Kesatuan Udara, lapangan terbang dan fasilitas). Ketiga, pendidikan yang bersifat ulangan, lanjutan dan baru.
 
Dalam perkembangan selanjutnya pada tanggal 9 April 1946 dengan Penetapan Pemerintaah Nomor 6 / SD tahun 1946, TKR Bagian Penerbangan atau dikenal dengan nama TKR Jawatan penerbangan ditingkatkan menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Oedara. Orang juga biasa menyebut singkatannya dengan TRIO, AORI ataupun AURI. Dalam diktum Penetapan Pemerintah tersebut disebutkan, bahwa Panglima Besar TRI Jenderal Sudirman sebagai Pimpinan Tertinggi, Komodor Udara R. Suryadi Suryadarma sebagai Kepala Staf, Komodor R. Sukarnen Martodisumo sebagai Wakil I Kepala Staf dan Komodor Muda Udara A. Adisurtjipto sebagai Wakil II Kepala Staf.
 
Dengan adanya peningkatan TKR Jawatan Penerbangan menjadi TRI Angkatan Udara, juga diadakan penyempurnaan organisasi yaitu Direktorat Penerbangan Sipil, Biro Rencana dan Konstruksi dan Biro Penerangan. Jawatan Penerbangan Sipil kemudian diubah menjadi Direktorat Penerbangan Sipil, berkantor di Gedung yang letaknya di Jalan Tugu, Yogyakarta.

Baca juga:  Dua Skadron Udara Lanud Roesmin Nurjadin Laksanakan Latihan "Weapon Delivery"

Di Markas Tertinggi AURI Yogyakarta, terdapat susunan organisasi yang sangat sederhana dengan personil yang minim sekali. Dalam pertumbuhan dan perkembangan AURI ini kaum wanita ikut berperan dalam mendarmabaktikan demi pembangunan lebih lanjut. Antara lain beberapa orang wanita bertugas dalam bidang administrasi, pelipat payung, pengatur lalu lintas udara, penyiar radio, penerangan, kesehatan, kebidanan dan lain-lainnya sesuai dengan kodrat kewanitaannya.
 
Diantara wanita-wanita tersebut dapat disebutkan disini antara lain: Kustiati, Siti Mariah, Sri Asmillah, Sri Wardhani dan Corry. Corry bertugas menyebarkan cinta udara (airmindedness – atau sekarang semacam binpotdirga), melalui kegiatan olah raga terbang layang dengan pesawat glider zogling NWG (Nurtanto Wiweko Glider) hasil buatan Bengkel Teknik AURI Maospati.
 
Pada tanggal 16 Juni 1948 Corry bersama dengan beberapa perwira AURI mengikuti kegiatan pengumpulan dana untuk pembelian pesawat terbang Dakota C-47 yang kita kenal dengan nama RI-001 “Seulawah”.
Dalam perkembangannya selain nama-nama di atas, karena kebutuhan akan tenaga kerja masih kurang maka ada penambahan jumlah tenaga-tenaga wanita di lingkungan AURI. Mereka ditugaskan di jawatan-jawatan yang ada di lingkungan AURI sesuai dengan kodrat kewanitaan dan keahliannya. Adapun jawatan-jawatan yang ada tenaga wanitanya adalah: Jawatan Perawatan Payung, Jawatan Penerangan, Jawatan Kesehatan Penerbang, Jawatan Staf Umum, Jawatan PHB, Jawatan Keuangan, Jawatan Kesejahteraan / Sosial, Jawatan Administrasi Personel, Sekretariat, Jawatan pengatur lalu Lintas Udara (PLLU) dan Meteo, Jawatan Olah Raga, Jawatan Pem. Pers dan lain-lain.

30 WARA Pertama

Pada tahun 1962 ketika Deputy Menteri / Pangau Urusan Administrasi Laksamana Muda Udara Suharnoko Harbani mendapat tugas dan wewenang untuk membentuk Wara, dalam penugasannya telah digariskan bahwa kedudukan Wara tersebut bukan merupakan korps tersendiri sebagaimana Kowad, Kowal ataupun Kowak yang sudah terbentuk lebih dahulu. Keanggotaan/kedudukan Wara diintegrasikan ke dalam korps/kecabangan yang ada, sama dengan anggota militer pria lainnya. Mereka digolongkan dalam korps sesuai dengan tugas dan keahliannya.
 
Memang ada perbedaan prinsipil mengenai korps ini. Bila pada Angkatan Bersenjata lainnya, anggota-anggota wanitanya menjadi satu korps tersendiri dan merupakan kompi atau batalion ataupun mungkin nantinya resimen tersendiri, anggota militer wanita sukarela AURI tidak mempunyai korps dan tidak merupakan kompi atau batalion khusus. Jadi dalam AURI pembagian korps-korps tidak berdasarkan atas kompi/batalion atau jumlah kekuatan dan juga tidak berdasarkan atas perbedaan jenis kelamin. Karenanya anggota wanita AURI tidak merupakan korps tersendiri, dan tidak dinamai Kowau (korps Wanita Angkatan Udara), melainkan cukup dengan Wara.
 
Realisasi pembentukan Wara terlaksana ketika keluar Skep Menpangau No. 794/T-MKS/I/63 tahun 1963 yang isinya mengesahkan 30 orang sarjana/sarjana muda yang telah menyelesaikan Pendidikan Dasar Militer diangkat menjadi militer sukarela dengan pangkat Letnan Satu dan Letnan Dua.
 
Rekruitmen Wara pertama kali dilangsungka
n tahun 1963 melalui program militer sukarela. Calon anggota diambil dari wanita-wanita lulusan sarjana dan sarjana muda dari bermacam-macam jurusan melalui pengumuman yang disebarluaskan media massa dan mereka dipusatkan di empat tempat testing ialah Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Malang. Adapun pertimbangannya yaitu dari wanita ada hal-hal yang dapat ditangani lebih efisien, misalnya melalui keuletan, ketekunan dan ketelitiannya.
 
Setelah melalui berbagai saringan dan ujian-ujian psikotest serta kesehatan badan yang diselenggarakan oleh AURI, mereka itu dikumpulkan di Yogyakarta. Jumlah yang memenuhi syarat-syarat semula adalah 35 orang. Pada saat pendidikan dan latihan kemiliteran dimulai tanggal 10 Juni 1963 di Kaliurang – Yogyakarta (kira-kira 25 Km sebelah Utara Yogyakarta), maka karena satu dan lain hal lima orang diantaranya terpaksa tidak dapat meneruskan mengikuti latihan dan pendidikan, sehingga angkatan pertama ini hanya berjumlah 30 orang.

Riwayatmu Doeloe (halaman 7)

Cantik, gemulai, digembleng di Lembah Kaliurang
menjadi prajurit sejati nan gagah berani

Memang dalam membentuk kader-kader baru, AURI tidak menitikberatkan kepada jumlah atau kwantitasnya, melainkan kualitasnya. Tempat pendidikan menempati rumah bapak Rasid, tempat penginapan para siswa menggunakan Guest House “Griya Taruna”
Pendidikan dan latihan-latihan militer bagi angkatan pertama Wara ini hanyalah dua bulan, karena pada waktu itu baru saja ABRI selesai melaksanakan operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat. Justru dalam rangka TNI AU mengadakan konsolidasi di segala bidang pembinaan, operasional dan operasi bhakti dipandang perlu segera menugaskan hasil pendidikan perwira Wara yang pertama kalinya ini. Memang dalam waktu yang singkat itu tidak mudah untuk membentuk anggota-anggota sipil menjadi anggota militer yang betul-betul sudah sempurna, lebih-lebih kaum wanitanya.
 
Tetapi bagaimanapun juga, AURI sebagai suatu angkatan yang dinamis dan hidup dalam alam revolusi harus dapat menyesuaikan diri dengan tempat, keadaan dan kebutuhan dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan yang minimal.
 
Dalam waktu yang hanya 60 x 24 jam, di lembah bukit-bukit perpaduan kaki-kaki gunung Merapi dan Merbabu yang berhawa dingin sejuk itu, gadis-gadis remaja yang tadinya lemah gemulai itu ditempa, digodok, digembleng dengan bermacam-macam latihan-latihan dan pelajaran-pelajaran yang sama sekali baru baginya, menjadi perwira-perwira Angkatan Udara yang tegap dan cekatan.
 
Demikianlah setelah 60 hari dididik, dilatih, digembleng akhirnya pada saat ujian penghabisan, ketiga puluh siswa Wara itu kesemuanya lulus pada tanggal 10 Agustus 1963 dan berdasarkan Skep Menpangau No. 794/T-MKS/I/63 tahun 1963 mereka ditetapkan sebagai militer sukarela dengan pangkat Letnan Satu dan Letnan Dua.
 
Selanjutnya oleh JM Menteri/Pangau sendiri pada tanggal 12 Agustus 1963 di Pangkalan Adisutjipto Yogyakarta mereka dilantik dengan resmi menjadi perwira AURI. Dua sarjana diantara mereka dilantik menjadi Letnan Udara Satu sedangkan 28 sarjana muda lainnya diangkat menjadi Letnan Udara Dua. Pada akhirnya hari pelantikan itu ditetapkan sebagai hari jadi Wara.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel