Pustaka

Satuan Radar 243 Timika Resmi Beroperasi

Dibaca: 461 Oleh 07 Mar 2012Tidak ada komentar
emb 314
#TNIAU 

TIMIKA – Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI, Imam Sufaat, S.IP telah meresmikan operasional Satuan Radar (Satrad) 243 Timika yang dibangun sejak tahun 2009. Kegiatan peresmian dilaksanakan Senin (5/3) di Pangkalan Satrad 243 Timika, Kilometer 8, Kampung Kamoro Jaya, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua.

Peresmian Satrad 243 Timika dilakukan dengan ditandainya pembukaan selubung papan nama pangkalan Satrad dan penandatanganan prasasti Satrad oleh Kasau. Dengan diresmikannya Satrad 243 Timika, maka jumlah Satuan Radar yang berada di Kawasan Udara Sektor IV berjumlah lima buah, yakni yang terletak di Kupang, Saumlaki, Biak, Merauke, dan Timika.

Kasau yang ditemui wartawan mengatakan, dengan sudah beroperasinya Satrad 243 Timika ini, tentunya mata pertahanan udara nasional semakin terbuka. Karena saat ini, sudah tidak ada ruang terbuka lagi yang bisa dilewati oleh pesawat tidak dikenal tanpa diketahui TNI AU.

“Radar yang dibangun ini, dalam sistem pertahanan udara nasional sebagai mata. Sehingga kalau ada target yang diluar jadwal dan tidak dikenal, maka pesawat tempur yang stand by di Papua, bisa segera melakukan identifikasi. Kalaupun terpaksa disuruh turun, maka akan diturunkan. Atau kalau ada perintah untuk dihancurkan, maka akan dihancurkan,” jelas Kasau.

Lanjut Kasau, keberadaan lima Satrad di Indonesia Timur saat ini, yaitu di Kupang, Saumlaki, Merauke, Biak, dan Timika, dirasa masih kurang. Sebab, masih ada beberapa wilayah di Papua belum terkaver secara lengkap. Sehingga kedepan pihaknya merencanakan melakukan pemasangan Radar di Jayapura dan Manokwari. “Dengan demikian, seluruh daerah yang ada di Papua bisa terdeteksi dan terkaver dengan baik,” ujar Kasau.

Kasau menjelaskan, Satrad 243 Timika yang baru diresmikan, merupakan pembangunan Satrad ke 19, dari 32 Satrad yang masuk dalam perencanaan Sistem Pertahanan Udara Nasional (Sishanudnas) pada tahun 2024. Sebanyak 32 Radar direncanakan dibangun hingga tahun 2024.

Menurutnya, selain target pembangunan 32 Radar tersebut, masih ada radar-radar lain yang akan dibangun. “Radar yang sudah ada ini, bisa menangkap benda yang jauh, tetapi sudutnya agak ke atas, sehingga perlu radar-radar yang lebih kecil untuk melihat sasaran yang di bawah,” jelasnya.

Disinggung mengenai potensi pelanggaran udara di Indonesia Timur, khususnya Timika, Kasau pengatakan, pembangunan Satuan Tadar ini untuk menjaga wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga diharapkan, tidak ada pesawat asing atau tidak dikenal yang masuk wilayah udara tanpa seijin TNI AU, terlebih lagi tanpa sepengetahuan TNI AU.

“Ibaratnya sebuah rumah, biar lebih aman dan nyaman, maka rumah itu akan dipagari. Dimana pagar tersebut bertujuan agar orang masuk bisa diketahui. Mungkin dengan kamera tv, penjaga dan yang lainnya, agar rumah kita tidak kemalingan,” paparnya.

Kasau menegaskan, pembangunan radar ini menyangkut harga diri sebuah bangsa. “Apabila Negara lain sampai bisa masuk ke wilayah kita, berarti negara ini bisa diobok-obok dan tidak ada harga dirinya. Maka dari itu, pemasangan radar untuk melakukan pemantauan terhadap pesawat yang tidak dikenal masuk ke wilayah udara Indonesia,” tegasnya.

Kasau menambahkan, memang ada rencana untuk penempatan pesawat tempur, namun saat ini hal itu belum dilakukan, karena masih dalam tahap pengenalan medan terhadap pesawat-pesawat yang ada di markas. Selain itu untuk melatih satu pangkalan bisa menerima pesawat tempur. Hal ini bertujuan agar pangkalan tersebut mengerti bagaimana cara menghandlenya, mengisi bahan bakarnya, dan lainnya.

Kasau menilai, Bandara Mozes Kilangin Timika layak untuk didarati pesawat tempur. Tetapi yang menjadi kendala adalah bahan bakarnya. Lantaran pengisian bahan bakar untuk Pesawat Hercules bisa langsung ke Biak dan dimana saja, namun untuk pesawat tempur membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Kita berharap Pertamina bisa masuk ke Timika, agar pesawat tempur bisa beroperasi dari sini. Namun bukan berarti kawasan udara Mimika tidak aman,” tutupnya. (upg/sms/rex

Sumber: www.jpnn.com

Baca juga:  Kliping Berita Media 14 Januari 2013

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel