Berita Kotama

Sejarah Lanud

Dibaca: 710 Oleh 25 Jan 2010Tidak ada komentar
indonesianf16pesawat0170 tniau
#TNIAU 

LAPANGAN  TERBANG  PENFUI

Cikal Bakal Lanud El Tari

Nama PENFUI dalam bahasa daerah Timor adalah PEN berarti bendera, sedangkan FUI berarti asing (liar), jadi artinya Bendera Asing.   Hal ini dikarenakan pada saat pertama penjajah Belanda menduduki wilayah ini, bendera Kerajaan Belanda dikibarkan dan membuat rakyat sangat kaget dan heran terhadap benda asing tersebut.   Lapangan terbang Penfui adalah merupakan daratan yang luas, tandus, kering dan datar serta merupakan lapangan terbang alam.   Lapangan terbang tersebut pertama kali didarati oleh sebuah pesawat Amerika yang diterbangkan oleh orang berkebangsaan Amerika yang  bernama Emij Johson dengan tujuan Australia pada tahun 1928.  (disarikan dari buku De Slag by Penfui Tijdschrieft Voor Indischo Land On Vulkendo Batavia.   Archief Negara Tahun 1882, Jilid ke 27 Hal 295 s/d 408, Pengarang Lt Col  A.  Haga). 

Pada waktu perang dunia kedua (Pasific Fair) tahun 1940 lapangan terbang ini dibangun secara semi permanent dan dikerjakan oleh Australia, Pulau timor   merupakan tempat yang sangat strategis bagi sekutu dimasa perang kemerdekaan II, sebab dekat dengan Australia. Oleh karenanya, sekutu memperkuat pertahanan di pulau timor khususnya daerah Kupang.  Sebelum Jepang datang, secara rahasia pasukan Australia sudah mengirimkan beberapa orang intelnya menyamar sebagai orang sipil di Kupang. Kekuatan sekutu yang sebagian besar dari pasukan Australia dipusatkan di pantai Oesao dan Babao serta pangkalan udara Penfui.

Seperti halnya Australia, Jepang juga menyusupkan mata-matanya di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor. Sepuluh tahun sebelumnya telah menyebar di pelosok Kupang, Jepang  mengirimkan mata-mata ke Kupang dengan menyamar sebagai pedagang China, mendirikan toko obat dan menjual kain dengan harga murah masuk kekampung-kampung sampai jauh di pedalaman. Berarti sebelum perang antara Sekutu dan Jepang di Kupang.   Kota Kupang yang relatif kecil, terutama antara tahun 1939 – 1942 sudah berkeliaran mata-mata Australia dan Jepang  yang berkuasa.

Pendudukan Sekutu

Pada tanggal 14 Desember 1941 Bala tentara Sekutu mendarat di Timor  untuk memperkuat dan mempertahakan pulau ini dengan kekuatan 1 Brigade  di bawah Pimpinan Brigadir Jenderal Veal. Untuk meningkatkan kekuatan agar mampu menahan Jepang, Pemerintah Kolonial Belanda meningkatkan kekuatan pertahanannya di sekitar Pantai Tenau, Kota Kupang, Oesapa dan Oesao.  Perhitungan Sekutu adalah bahwa pantai – pantai ini sangat strategis untuk pendaratan dan diperkirakan  bala pasukan dari Negeri Matahari Terbit akan mendarat di tempat-tempat ini.

Pada tanggal 19 Februari 1942, bala tentara Jepang secara besar-besaran datang di NTT terutama di Timor. Tetapi Jepang tidak mendaratkan pasukannya di Pantai yang sudah diperkirakan Belanda dan Australia melainkan mendarat di Atapupu (Belu),  Kolbano dan di Batulesa dekat Kupang. Pendaratan ini dengan sendirinya tidak ada yang menghadang sehingga dengan cepat dan mudah menyusup ke Sunlili, Mantasi dan Air Mata.

Hari berikutnya sejumlah besar pasukan Jepang  diterjunkan di Penfui dan Oesao. Terutama di Penfui selain menerjunkan pasukan, Jepang juga membom dan melancarkan serangan dengan senjata mesin.

Pendudukan Jepang

Pada saat Jepang melaksanakan pendaratan di pantai tidak mendapatkan penghadangan dari Sekutu, lain halnya pada saat melaksanakan pendaratan di Penfui pasukan Jepang mendapat perlawanan yang cukup sengit dari pasukan Sekutu.  Begitu sengitnya pertempuran di Penfui, banyak pasukan yang saling berhadapan muka. Dalam pertempuran ini terjadi banyak korban terutama dari pihak pasukan Sekutu.    Kemudian pasukan Sekutu mundur ke Oesao dan disini pula terjadi pertempuran hebat. Mendapat serangan yang  gencar ini, pasukan Australia banyak yang mengundurkan diri ke Camplong  dan Pedalaman Pulau Timor.

Baca juga:  Danlanud Sim Sambut Kedatangan Panglima Angkatan Bersenjata Brunei Darusalam

Pada tanggal 20 Februari 1942 Jepang menguasai kota Kupang. Pasukan dipimpin oleh Mayor Hayakawa, mendengar pasukan Jepang dan mengkocar-kacirkan pasukan Australia, para pembesar pemerintah Kolonial di Kupang lari ke pedalaman daerah Soe, yang terlebih dahulu  menghancurkan peralatan dan sebagian bangunan. Sedangkan pejabat dan pegawai yang berasal dari putra asli Indonesia dibiarkan tetap tinggal ditempat mereka bekerja. Sementara itu para pejabat dari golongan Indo Belanda kebanyakan larinya ke arah Amarasi.

Pada mulanya Jepang sewaktu datang bersikap manis dengan memberikan semboyan Jepang datang sebagai pembebas Asia serta antara Jepang dan Indonesia itu sama sedangkan Jepang mengaku sebagai saudara tua. Selain para pegawai putra Indonesia dibiarkan terus bekerja, para raja juga diijinkan berkuasa lagi. Namun lama kelamaan tindakannya menunjukkan sifat kejam dan tidak manusiawi serta tidak bersusila. Tindakan Jepang yang tidak bersusila antara lain menuntut para raja agar menyediakan wanita-wanita muda untuk kepentingan para pasukan atau tentaranya. Menghindari agar tidak kehilangan anak gadisnya, banyak orang-orang cepat mengawinkan anak-anak gadisnya, bahkan di antaranya ada yang berpura – pura mengawinkan anaknya agar tidak diganggu serdadu jepang.

Jepang Menyerah

Menghadapi apabila pasukan Australia datang sewaktu – waktu,  Jepang memperkuat pangkalan udara Penfui dengan membuat banyak goa, bunker, dan benteng.  Pangkalan udara Penfui di perkuat karena serangan yang datang dalam waktu singkat dan mendadak adalah dari udara.  Jepang melakukan perbaikan landasan dengan memperbudak bangsa Indonesia dengan cara cara kerja, tidak hanya landasan kerja paksa juga dilakukan membuat jalan, goa, bunker dan  benteng.  Goa – goa kebanyakan dibuat di tebing  – tebing karang atau di bibir bukit, di masa pendudukan Jepang goa-goa dan bunker-bunker tersebut dipergunakan antara lain untuk menyimpan bahan bakar, mesiu, logistik di samping untuk bersembunyi.     Salah satu goa yang terbesar adalah di tepi jalan raya Penfui – Baumata sekitar dua km dari pangkalan udara Penfui.Goa yang menghadap ke laut mulutnya kecil saja sehingga mobil jeeppun tidak dapat masuk. Namun konon di dalam mampu menampung satu kompi pasukan.   Tidak sedikit rakyat yang mati akibat kekejaman Jepang dalam melancarkan kerja paksa atau yang di kenal Romusha (peninggalan-peninggalan tersebut  sampai saat ini masih terpelihara).   Pada tanggal 11 September 1945 pasukan Sekutu datang ke Timor dan tentara Jepang menyerah dan melucuti persenjataannya.

Penyerahan Pangkalan Udara

Perundingan Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda yang ditanda tangani pada tanggal 27 Desember 1949, menandai berakhirnya masa kolonial Belanda di Indonesia, tanggal tersebut merupakan tanggal yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena sesudah melalui perjuangan bersenjata yang berat, Belanda mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia yang telah di proklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.  Dengan demikian Negara Republik Indonesia telah diakui kadaulatan baik secara de facto maupun de jure oleh negara-negara lain di dunia Internasional. Dalam konferensi Meja Bundar tersebut salah satu pasalnya menyebutkan mengenai pengorganisasian angkatan perang masing-masing pihak. 

Likwidasi Militaire Luchtvaart

Dalam pentahapan mengenai reorganisasi kurun waktu 6 bulan, konsolidasi dan pembinaan organisasi diharapkan selesai dilaksanakan, selanjutnya adalah secara bertahap dilaksanakan serah terima pangkalan-pangkalan udara di seluruh Indonesia.   Sekalipun dalam pelaksanaan reorganisasi Angkatan Udara banyak ditemui hambatan-hambatan baik dari dalam maupun dari luar, namun setelah 6 bulan sesuai dengan rencana telah selesai melaksanakan reorganisasi hal ini dapat terlihat dari keberhasilan dan kemampuan Angkatan Udara untuk melikwidasi “Militaire Luchtvaart” (ML) kedalam AURI (S) dalam waktu yang relatif singkat.   Dalam Surat Ketetapan Kasau No. 88 / SI IV / II tanggal 27 April 1950 telah ditentukan pentahapan reorganisasi antara lain berbunyi bahwa setelah fase (ke I) konsolidasi AURI dan fase (ke II) reorganisasi “Militaire Luchtvaart” yang menurut rencana akan berakhir pada ultimo bulan Juli 1950, akan segera dimulai dengan fase (ke III) ialah fase konstruksi AURI (S).  Ketetapan Kasau tersebut diatas pada dasarnya merupakan fundamental bagi Angkatan Udara untuk menyusun organisasinya dengan baik, namun kebijaksanaan tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan karena masih adanya masa transisi perpolitikan di Indonesia.

Baca juga:  Apel Khusus Dan Pisah Sambut Danlanud Soewondo

Maka pada tanggal 6 Mei 1950 Pangkalan Udara Militer Penfui diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia (Angkatan Perang).   Penyerahan Pangkalan Udara Kupang dari “Militaire Luchtvaart” Belanda kepada AURI disaksikan oleh team inspeksi pejabat dari AURI Jakarta, yang dipimpin oleh Kapten Udara Mantiri dan Letnan Udara  J. Luhukay sedangkan dari pihak ML Belanda diwakili oleh Letnan Fille.  Pada saat upacara penyerahan Pangkalan bendera Merah Putih dan Merah Putih Biru berkibar ditempat yang terpisah, kemudian Kapten Udara Mantiri mengumumkan agar para serdadu ML memisahkan diri dan dikelompokkan sesuai dengan keinginan para serdadu ML itu, pengelompokkan yang ingin menjadi anggota AURI, yang ingin tetap jadi ML atau yang ingin keluar dari ML, tetapi sebagian besar ingin keluar dari ML karena diberi pesangon sebesar 75 golden, sedangkan 20 orang bergabung dengan AURI. Setelah acara tersebut bendera Merah Putih Biru diturunkan dan Merah Putih tetap berkibar.  Dalam penyerahan pangkalan tersebut pihak Belanda menyerahkan fasilitas dan alat peralatan lengkap dan dalam keadaan baik.   Fasilitas pangkalan yang diserahkan antara lain landasan lengkap dengan fasilitas meteo, radio komunikasi, pemadam kebakaran, persenjataan, kendaraan bermotor, perumahan, kantor,  asrama, intalasi air dan instalasi listrik.

Pembentukan Komando Pangkalan Udara

Untuk melanjutkan organisasi dan pelaksanaan tugas kemudian dibentuk Komando Pangkalan Udara Kupang (KPU Kupang) dengan komandannya Letnan Udara Satu Gunadi dengan stafnya yang berjumlah 5 orang pada tanggal 6 Mei tahun 1950,   selanjutnya  KPU Kupang diperkuat lagi personel sebanyak 20 personel yang  berasal dari anggota ex Militaire Luchtvaart Belanda, kemudian disusul dengan penerimaan anggota-anggota Sipil yang diangkat sebagai Pegawai Sipil AURI serta penambahan anggota-anggota aktif militer lannya.   Pada tahun 1951, Status Komando Pangkalan Udara  secara administratif  berada dibawah Distrik Udara 56 Makassar.

Dalam perkembangan selanjutnya sesuai dengan Skep Kasau Nomor 165/125/Peng/KS/1954 tanggal 27 Juli 1954 Komando Operasi dirubah menjadi Komando Group Komposisi.   Selanjutnya Komando Pangkalan Kupang berubah nama menjadi Sqadron 14 Kupang, administratif  berada dibawah Distrik Udara 56 Makassar.   Namun  bentuk organisasi tersebut dinilai kurang tepat dan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan Angkatan Udara, maka pada tanggal 5 Oktober 1959 dikeluarkan lagi Skep Kasau Nomor 313 yang diantaranya mengatur tentang tugas pokok Komando Operasional yang menyangkut penyelenggaraan Pertahanan Udara Nasional, operasi Udara Taktis dan penyeleggaraan Pertahanan udara.  Pada tahun 1959 Sqadron 14 Kupang ditetapkan menjadi Pangkalan Udara kelas III.

Untuk menghadapi operasi militer yang akan dilaksanakan dalam rangka pembebasan Irian Barat yaitu dengan cara merebut dan mempertahankan seluruh Irian Barat dalam waktu secepat-cepatnya dengan tujuan memperoleh kekuasaan de-facto atas seluruh wilayah tersebut.   Persiapan-persiapan sudah dilakukan masing-masing Angkatan termasuk Angkatan Udara.  Dalam rangka menghadapi operasi tersebut dan Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi ABRI tanggal 5 Juli 1960 Kasau mengeluarkan Skep Nomor  0401 tanggal 9 April 1960 tentang pembentukan Organisasi Angkatan Udara.   Dalam Surat Keputusan tersebut Panglima Angkatan Udara memegang langsung Komando Operasi,   kemudian berdasarkan Keputusan Menteri/Kepala Staf AU Nomor 131 tanggal 17 Juli 1962, maka susunan dan tugas Departemen Angkatan Udara mengalami perubahan besar diantaranya terdapat dua Komando yaitu Komando Fungfsional dan Komando Regional Udara   Komando Regional secara administratif membawahi pangkalan yang ada didaerah tersebut yang terbentuk pada tanggal 10 Januari 1962    dengan pembagian menjadi 8 Komando Regional Udara (Korud), maka pada saat itu Pangkalan Udara Kupang pembinaan operasionalnya dan administratif berada dibawah Korud III yang berkedudukan di Pangkalan Angkatan Udara Hasanuddin (Makassar).

Baca juga:  Pertandingan Menembak Meriahkan Bulan Dirgantara Di Biak

Pembentukan Komando Operasi Udara

Berdasarkan Keppres Nomor 79 Tahun 1969 dan Instruksi Menhankam/Pangab Nomor : Ins/A/1950/69 maka dikeluarkan Skep Kasau Nomor 38 Tahun 1970 tentang Pokok-pokok Organisasi dan Prosedur di AURI, perubahan yang mendasar dari organisasi Angkatan Udara antara lain Komando Operasi (Koops) dan Komando Pasukan Gerak Cepat (PGT) dijadikan satu dibawah Komando Paduan Tempur Udara (Kopatdara), sedangkan tugas dan fungsi Pangkalan Udara mengalami perubahan sesuai dengan Keputusan Kasau Nomor : 52 Tahun 1971 tanggal 8 September 1971.   Maka sejak saat itu Pangkalan Udara Kupang berada dalam kewenangan KODAU VI Nusa Tenggara yang berkedudukan di Rembiga/Lombok.   Pada tahun 1972 Pangkalan Udara Kupang ditetapkan menjadi pangkalan bersama antara TNI AU dan Jawatan Penerbangan Sipil.

Peningkatan Pangkalan Udara dan Penggantian Nama Pangkalan Udara pada tanggal 30 Mei 1978 dengan semakin meningkatnya kegiatan Lanu Kupang dan dalam rangka pelayanan dan persiapan operasi penerbangan ke Timor Timur maka sesuai dengan Kep/20/V/1978 Klasifikasi Lanu III Kupang ditingkatkan menjadi Lanu II.

Berdasarkan dengan usulan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang tertuang dalam surat Pernyataan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur Nomor : 1/DPRD/1978 tanggal 20 Mei 1978 tentang usul perubahan nama pelabuhan udara Penfui menjadi pelabuhan udara El Tari, dalam surat pernyataan tersebut diusulkan juga mengenai perubahan nama menjadi Pangkalan Angkatan Udara El Tari.  Adapun usulan tersebut berisikan adanya keinginan masyarakat Propinsi Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur untuk mengganti nama pelabuhan Udara Penfui menjadi pelabuhan udara El Tari, dengan dasar pertimbangan peranan Mayor Jenderal TNI Anumerta El Tari sewaktu beliau menjadi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur selama 13 tahun tehitung dari tahun 1965 sampai dengan akhir hayatnya tanggal 29 April 1978.  Almarhum adalah yang meletakkan dasar pembangunan di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang sampai sekarang telah dirasakan menfaatnya oleh rakyat banyak, almarhum juga merupakan pencetus ide dan penggerak pelaksanaan pembangunan lapangan terbang perintis serta pembangunan jalan yang menghubungkan daerah terisolir. Untuk mengenang jasa-jasa almarhum seperti tersebut diatas, maka dianggap perlu mengabadikan nama almarhum pada setiap pintu gerbang utama Propinsi Nusa Tenggara Timur.   Usulan tersebut mendapat persetujuan dari Skep Menhankam/Pangab Nomor : Skep/1166/VIII/1978 tentang Nama Pangkalan Angkatan Udara (Lanu) Kupang diganti menjadi Pangkalan Udara (Lanu) El­ Tari, dan sesuai dengan Skep Kasau Nomor : Skep/22/X/1978 tanggal 23 Oktober 1978 tentang Peresmian Nama Pangkalan Angkatan Udara Kupang Menjadi Pangkalan Angkatan Udara El Tari.   Secara resmi peresmian pergantian nama tersebut dilaksanakan bertepatan dengan Ulang Tahun Propinsi Nusa Tenggara Timur ke XX tanggal 20 Desember 1978 oleh Pangkodau IV Marsma TNI Oetomo.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel