Berita Kotama

Sejarah Pangkalan Udara Lanud Supadio (halaman 1)

Dibaca: 162 Oleh 17 Jan 2010Tidak ada komentar
Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala
#TNIAU 

Berdirinya POS Penghubung AURI di Pontianak

Sejarah keberadaan Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio Pontianak sangat erat kaitannya dengan Pangkalan TNI Angkatan Udara Singkawang II (Sanggo Ledo) dan pertama kali dibentuk adalah Perwakilan Singkawang I yang berada di kota Singkawang. Untuk menghubungkan antara Perwakilan Singkawang I dengan Pangkalan Udara Sei./ Sungai Durian (Pontianak) diperlukan adanya suatu pos penghubung, maka atas perintah Komandan Pangkalan Udara Singkawang II didirikan Pos Penghubung Angkatan Udara di Pontianak.
 
Tugas pokok yang diemban oleh Pos Penghubung Angkatan Udara Pontianak adalah untuk melayani pesawat-pesawat AURI yang melaksanakan operasi penerbangan ke Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian dan sekaligus untuk memonitor pergerakan pesawat-pesawat AURI tersebut, tetapi terkadang Pos Penghubung itu digunakan untuk anggota AURI yang transit dalam melaksanakan tugas ke kota Pontianak. Pembagian tugas pokok dan fungsi antara Pos Penghubung Perwakilan Singkawang I melaksanakan tugas pokok dan fungsi bersifat administratif, sedangkan Pos Penghubung Pontianak memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai pelaksana dalam dukungan terhadap operasi penerbangan pesawat-pesawat AURI yang melewati Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian. Dalam pelaksanaan dukungan logistik tetap menginduk kepada Pangkalan Udara Singkawang II-Sanggau Ledo, termasuk dalam permasalahan dukungan administrasi dan logistik berupa UKP, gaji, beras dan lain sebagainya.
 
Latar belakang dari pembentukan Perwakilan Singkawang I dan Pos Penghubung Pontianak adalah dimulai pada tahun 1956 yaitu pada saat negara dinyatakan dalam kondisi darurat oleh Pemerintah RI dan negara sedang merencanakan operasi pengembalian Irian Barat kepada Pangkuan Ibu Pertiwi. Adapun rencana Kegiatan “Operasi Trikora” adalah operasi pelibatan dan penggelaran pesawat-pesawat AURI, adapun dampak dari pelaksanaan penggelaran operasi “Trikora” bagi pangkalan–pangkalan udara yang telah ditunjuk dan telah ditentukan peranannya didalam pelaksanaan operasi ini. Salah satu pangkalan udara yang telah ditunjukkan dan dilibatkan dalam pelaksanaan operasi ini adalah Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian.
 
Pada saat dilibatkannya Pangkalan udara Sei./Sungai Durian oleh Pemerintah Pusat sebagai pangkalan udara alternatif, kondisi Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian masih belum sepenuhnya diawaki oleh personil-personil AURI sedangkan pesawat-pesawat AURI sudah mulai melaksanakan operasi penerbangan dalam persiapan pelaksanaan kegiatan operasi ‘Trikora”. Dampak dari ketidaksiapan Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian dalam pelaksanaan operasi ini dalam bidang dukungan penerbangan adalah banyak pesawat-pesawat AURI yang melewati Pangkalan tersebut, harus menginformasikan dulu ke Pangkalan Udara Singkawang II-Sanggau Ledo, baru pesawat-pesawat itu bisa dilayani /didukung kebutuhan logistiknya.
 
Menindak lanjuti kondisi Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian yang belum diawaki oleh AURI maka Panglima Komando Region Udara II (Pangkorud II) mengeluarkan perintah kepada Komandan Pangkalan Udara Singkawang II untuk membuka Pos Penghubung AURI di Pontianak. Dalam rangka menindak lanjuti perintah itu, maka Komandan Pangkalan Udara Singkawang II (LMU I Doekri Soekirno) memerintahkan 4 (empat) personil untuk berangkat ke Pontianak guna mengawaki Pos Penghubung AURI Pontianak dan para personil dibayar dengan cara ditasir (dibayar perhari). Nama-nama ke-4 (empat) personil yang berangkat itu terdiri dari :
 
a. Letnan Udara I Edy. S : sebagai Komandan
 
b. H. M Saat : sebagai Sekretariat
 
c. Sersan Udara Hengky : sebagai Perminyakan
 
d. : sebagai Perbekalan
 
Salah Satu Perintis Pos Penghubung
(Pak H. M SaaT)

 
Setelah ke 4 (empat) personil tiba di Pontianak maka mereka menyewa kamar di Hotel Metro Pool (Hotel Mahkota) dan kamar hotel dijadikan untuk bertempat tinggal dan kantor, sedangkan dalam penyimpanan bahan bakar pesawat, pihak AURI menitipkan kepada DPU Bandara Sei. Durian. Para personel itu melaksanakan tugasnya dalam pengamatan kondisi Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian untuk didirikan Pos Penghubung dan sekaligus melaksanakan kegiatan dukungan operasi penerbangan terhadap peasawat-peasawt AURI. Sebelum AURI mengawaki Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian, untuk pelaksanaan kegiatan dukunga operasi penerbangan pesawat-pesawat AURI, terkadang dilakukan oleh pihak Bandara Udara Sei./Sungai Durian.
 
Setelah ke-4 (empat) personil Pangkalan Udara Singkawang II melaksanakan perintah itu, maka Komandan Pangkalan Udara Singkawang II untuk memerintahkan terhadap 10 orang personil dari berbagai seksi untuk berangkat ke kota Pontianak dalam merealisasi pembentukan Pos Penghubung Pontianak dan para personil ini berada dibawah pimpinan Sersan Mayor Udara Samino. Pada tanggal 27 Mei 1956, berdasarkan Surat Perintah Komandan Pangkalan Singkawang II (Letnan Udara Dua DOEKRI SOEKIRNO) maka ke 10 orang personil Singkawang II berangkat ke Pontianak untuk melaksanakan pembentukan Pos Penghubung Pontianak tersebut..
 
Perjalanan dari Sanggau Ledo ke Pontianak sangat sulit ditempuh, apabila mengharapkan menggunakan kendaraan karena pada waktu itu, jumlah kendaraan sangat sedikit yang lewat Sanggau Ledo ke kota Singkawang. Dampak dari kesulitan ini adalah lamanya perjalanan dari Sanggau Ledo ke Pontianak memakan waktu selama 3 (tiga) hari dan bahkan apabila kemalaman mereka harus menginap di Kota Singkawang. Setelah rombongan melakukan perjalanan selama 3 (tiga) hari maka pada tanggal 29 Mei 1956 rombongan tiba di kota Pontianak, maka mereka langsung menuju rumah sewaan yang berada di daerah Arang Limbung. Rumah ini disewa AURI dari orang kampung yang bernama Haji ABDUL KADIR, kemudian rumah ini dijadikan kantor Pos Penghubung AURI dan sekaligus sebagai tempat penginapan dan gudang beras.
 
Dalam perjalanan sejarahnya Pos Penghubung AURI Singkawang I-Pontianak hanya berumur 3 (tiga) bulan, karena harus mengalami perubahan status yaitu pada bulan Agustus 1956 dan dampak dari perubahan status itu adalah perubahan nama terhadap Pos Penghubung AURI Pontianak menjadi “DETASEMEN ANGKATAN UDARA PONTIANAK”. Dengan adanya perubahan status dan nama maka status/jalur komando Detasemen Angkatan Udara Pontianak sudah tidak berada di bawah Perwakilan Singkawang I tetapi langsung berada dibawah Komando PAU Singkawang II di Sanggo Ledo dan berada dalam wilayah Komando Regional Udara (KORUD) II/Banjarmasin.
 
Pada saat rombongan tiba di daerah Arang Limbung, keadaan Kampung Sungai Durian dan Daerah Arang Limbung pada tahun 1956 masih ditutupi oleh hutan-hutan karet dan jumlah penduduk disepanjang jalan hanya sedikit sekali. Sarana angkutan yang ada pada waktu itu, secara umum masyarakatnya masih mempergunakan angkutan air di Sungai Kapuas dan Perwakilan AURI di Pontianak mempunyai 1 buah Truk Dodge dan 1 buah Jeep Willys. Jalan yang menghubungkan antara Sei. Durian ke Pontianak masih berupa menggunakan kontruksi perkerasan, apabila kita melakukan perjalanan dari Pontianak ke Sanggau Ledo atau sebaliknya maka lamanya perjalanan akan memakan waktu selama 3 (tiga) hari dan harus menginap di Singkawang I, adapun penyebab lamanya perjalanan dari Sanggau Ledo Ke Pontianak ini dikarenakan sulitnya untuk mendapatkan angkutan darat dan tidak jarang harus berjalan kaki menuju kota Pontianak.

Baca juga:  Danlanud Sim Silaturahmi Dan Buka Puasa Bersama Masyarakat

Sementara ke-10 orang personil tersebut, adalah mereka yang merintis didalam peletakkan dasar bagi pembentukan Detasemen Angkatan Udara Pontianak. Adapun ke 10 orang tersebut adalah para personil yang akan merintis didalam pembentukan Detasemen Angkatan Udara Pontianak dan jalur komando Detasemen Angkatan Udara Pontianai untuk jalur komando operasi dan kendali berada dibawah komando Lanu Singkawang II, sedangkan ke 10 (sepuluh) personil Lanu Singkawang II Sanggau Ledo adalah :
 
11) Sersan Mayor Udara Samino : Komandan
 
12) Kopral Udara A. Demier : Seksi Pempres
 
13) Kopral Udar
a Kasturi : Seksi Perminyakan
 
14) Prajurit Udara I Aweng : Seksi PAU (Provost)
Catrawirya
 
15) PHT Abdul Roni : Seksi SPAA (STAB)
 
16) PHT Ajub Muslimin : Seksi Adm / Montir
 
17) PHT Randjani Rabudin : Seksi DTUM
Tk. Listrik
 
18) PHT Uray Nurdin : Seksi SPAA
sebagai sopir
 
19) PHT Wakidi : Seksi DTUM
Tk Listrik
 
10) PHT Sohor : Seksi Yanpers
sbg. Pelayan
 
Kantor Pos Penghubung AURI di Pontianak.
 
Tugas yang dilaksanakan oleh ke 10 (sepuluh) orang diatas adalah melayani pesawat-pesawat AURI yang datang kePangkalan Udara Sei./Sungai Durian, disamping itu mereka bertugas menjaga keamanan disekitar Detasemen Angkatan Udara Pontianak. Tugas jaga keamanan dalam pelaksanaannya titik utamanya untuk menjaga keamanan tempat penimbunan minyak udara di lapangan udara Sei./Sungai Durian, karena dalam penyimpanan minyak dilaksanakan dengan menggunakan drum-drum dan disimpan/ ditimbun di rerumputan. Dalam kegiatan pengangkutan minyak udara dari M. B. A. U Jakarta ke Pontianak menggunakan kapal AURI II, III & IV yang kemudikan oleh Kapten Sadjab dan beliau adalah orang yang menemukan Pulau Natuna dan yang sekarang kita lebih mengenalnya dengan sebutan “Ranai”.
 
Jalur komando yang ada dalam wilayah Komando Pangkorud II/Banjarmasin pada saat itu adalah posisi Pangkalan Udara Singkawang II dijadikan sebagai Pangkalan induk bagi Pos Penghubung Angkatan Udara Pontianak, Pos Penghubung Pemangkat, Pos Penghubung Ranai dan Pos Penghubung Pangkalan Bun, sedangkan secara jalur komando bahwa Pos Penghubung Angkatan Udara Pontianak membuat laporan dulu kepada Pangkalan Udara Singkawang II, baru setelah itu membuat Laporan kepada Pangkorud II/Banjarmasin. (Lihat Denah Jalurb Komando)
 
Jalur Komando Wilayah Korud II/Banjarmasin
 
Para personil tersebut dalam pelaksanaan tugas pokoknya mengalami beberapa permasalahan dan permasalahan yang dirasakan sangat berat oleh ke 10 (sepuluh) personil itu adalah dalam melaksanakan tugas bidang pelayanan Komunikasi dan Elektronika karena Detasemen Angkatan Udara Pontianak memiliki keterbatasan terhadap sarana Elektronika bidang Komunikasi Perhubungan, sehingga dalam kondisi demikian, pihak Detasemen Angkatan Udara Pontianak dalam melaksanakan tugas ini menumpang kepada PHB Angkatan Darat di kota Pontianak. Keterbatasan ini disebabkan Detasemen Angkatan Udara Pontianak tidak memiliki alat komunikasi didalam pengiriman/penerimaan berita radiogram, sehingga Berita Radiogram yang diterima maupun yang dikirim melalui PHB Angkatan Darat di kota Pontianak.
 
Para personil Detasemen Angkatan Udara dalam melaksanakan tugasnya seringkali menemui kendala di lapangan berupa kendaraan yang dipergunakan mengalami kemacetan lalulintas maka untuk melanjutkan tugas dalam mengirim atau menerima radiogram, terpaksa PHT Randjani Rabudin atau PHT Ajub Muslimin menggunakan sepeda ke kota. Jarak yang harus ditempuh oleh kedua personil menuju kota Pontianak adalah ± 17 Km dengan kondisi jalan yang harus dilalui adalah jalan yang belum beraspal dan tugas ini kadang-kadang dilaksanakan 2 kali dalam seminggu.
 
Dalam melaksanakan kegiatan pengangkutan minyak udara dan bahan makanan lainnya, pihak AURI menggunakan Kapal Laut AURI, untuk kegiatan ini terakhir kalinya dilaksanakan pada tahun 1968 oleh Kapal Laut AURI VII. Kapal Laut AURI yang mengangkut minyak udara dan bahan logistik lainnya, jika bersandar di Pelabuhan Motor Sungai Durian sering memutar film dari kapal untuk menghibur masyarakat disekitar pinggiran Sungai Kapuas. Lamanya pelaksanaan kegiatan bongkar muatan di Pelabuhan Motor Sei. Durian, terkadang memakan waktu 3 hari 3 malam dan untuk mendapatkan tenaga buruh yang banyak maka selama pelaksanaan bongkar muatan berlangsung, para awak kapal AURI sering memutar film.
 
Maksud dari pemutaran film ini adalah disamping menghibur masyarakat kampung Sei./Sungai Durian, juga untuk menarik perhatian masyarakat agar ramai-ramai berkumpul dan setelah mereka berkumpul maka masyarakat diminta untuk membantu kegiatan pelaksanaan bongkar muatan kapal AURI tersebut. Dengan adanya suara musik dengan menggunakan volume suara keras dari piringan hitam maka masyarakat berbondong-bondong dari berbagai jurusan berdatangan menonton film gratis yang diputar AURI, sehingga suasana di steiger Pelabuhan Motor Sei./Sungai Durian seperti pasar malam dan masyarakat desa Sei./Sungai Durian selalu menanti kedatangan kapal laut AURI yang bersandar, karena mereka mengharapkan dapat menonton film gratis dan mendengarkan musik secara gratis pula. Frekwensi kedatangan kapal laut AURI didalam pelaksanaan kegiatan bongkar muatan di Pelabuhan Motor Sei./Sungai Durian adalah antara 3 sampai dengan 6 bulan sekali.
 

Baca juga:  Danlanud Sim Pimpin Ziarah Makam Sersan Mayor Udara Maimun Saleh

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel