Berita Kotama

Sejarah Pangkalan Udara Lanud Supadio (halaman 2)

Dibaca: 289 Oleh 17 Jan 2010Tidak ada komentar
P-51 Mustang, Perintis Tim Aerobatik TNI Angkatan Udara
#TNIAU 

Perubahan Pos Penghubung Angkatan Udara menjadi Detasemen Angkatan Udara Pontianak
 
Dalam perkembangan perjalanan sejarah Pos Penghubung AURI Singkawang I di Pontianak hanya berumur 3 (tiga) bulan, karena pada bulan Agustus tahun 1956 mengalami perubahan status, yaitu berubah nama menjadi “DETASEMEN ANGKATAN UDARA PONTIANAK”. Dengan adanya perubahan status dan nama itu maka Pos penghubung AURI Singkawang I di Pontianak langsung berada dibawah Pangkalan Udara Singkawang II di Sanggau Ledo dan wilayah Komando Regional Udara (KORUD) II Banjarmasin. Pada tahun 1957 perkembangan situasi dan kondisi Detasemen Angkatan Udara Pontianak mulai sedikit ada peningkatan tetapi perlu penanganan yang intensif, baik ditinjau dari segi keamanan dan politik maupun dari segi ekonomi. Dengan adanya peningkatan kondisi Detasemen Angkatan Udara Pontianak maka dilaksanakan Tour of Duty yaitu penggantian Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak dari Bintara rendah ke Bintara Tinggi. Adapun dampak dari peningkatan situasi dan kondisi tersebut maka dilaksanakan penambahan beberapa personil. Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak yang kedua adalah : Letnan Muda Udara Dua Jachmen.
 
Dengan adanya peningkatan perkembangan situasi dan kondisi politik pada waktu itu, berkaitan dengan pernyataan dari Pemerintah Republik Indonesia tentang adanya pernyataan untuk negara memberlakukan dalam kondisi S.O.B (Staat Orlog van Belog). Latar belakang keluarnya pernyataan pemerintah ini berkaitan dengan adanya pemberontakan Permesta/PRRI di daerah Sulawesi dan di daerah Sumatra. Dampak dari kondisi itu terhadap Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian adalah adanya peningkatan frekwensi kegiatan operasional penerbangan dan pada waktu itu beberapa pesawat Dakota mengangkut Tentara Angkatan Darat Resimen Teritorial Kalimantan Barat dari Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian ke Sumatra untuk melaksanakan Operasi Penumpasan. Pemberangkatan para personil dari Tentara Angkatan Darat Resimen Teritorial Kalimantan Barat ini dilepas dengan Upacara Militer yang diiringi dengan Korp musik sehingga suasana pada upcara pelepasan waktu itu menimbulkan kesan rasa haru dan sedih, terutama bagi pasukan yang akan berangkat tugas operasi.
 
Tugas Pengamanan Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian sejauh ± 5 Km dari titik tengah Pangkalan Udara Sungai Durian dibebankan kepada Detasemen Angkatan Udara Pontianak dan jumlah personil yang melaksanakan tugas pengamanan pangkalan udara adalah sebanyak 3 (tiga) polisi negara yang dilengkapi persenjataan Gerrund. Dalam pelaksanaan kegiatan pelaporan tentang hasil pelaksanan tugas dari hasil operasi pengamatan yang dilaksanakan oleh pesawat Pengintai Udara kepada komando atas dan termasuk laporan situasi pangkalan udara, menggunakan personil yang harus bersepeda sejauh 17 km, sedangkan perbandinga kekuatan jumlah personil dengan berat beban tugas yang ditanggung maka dirasakan tidak seimbang karena kekuatan personil yang ada tidk mencukupi untuk mengemban tugas itu.
 
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka pada tahun 1958 telah diperbantukan kekuatan personil dari Komando Resimen Angkatan Darat Teritorial Kalimantan Barat dengan menempatkan kekuatan personil sebanyak 1 (satu) Kompi Pasukan Infanteri Angkatan Darat. Tugas yang dilaksanakan para personil Resimen Angkatan Darat itu adalah membantu didalam tugas menjaga keamanan di sekeliling Lapangan Terbang Sungai Durian dan pasukan tersebut dilengkapi dengan persenjataan E.L, Stengun, Bren dan Mortir. Dengan adanya bantuan tenaga personil ini maka Detasemen Angkatan Udara Pontianak merasa sangat terbantu dan diantara mereka selalu ada koordinasi didalam pelaksanaan tugas.
 
Setelah para personil dari Komando Resimen Angkatan Darat Teritorial Kalimantan Barat melaksanakan tugas pengamanan Lapangan Udara Sei./Sungai Durian selama ± 6 (enam) bulan kemudian maka pasukan/personil tersebut diganti dengan PSU (Penangkis Serangan Udara) Kodam XII Tanjungpura. PSU (Arteleri Serangan Udara) ini selain dibekali dengan persenjataan senjata Gerrund, mereka dilengkapi dengan persenjataan berat 12,7 yang mempunyai roda berkaki 2 (dua) dan bisa berputar untuk memudahkan menembak sasaran udara dari segala arah. Penempatan persenjataan berat ini, berada disekeliling landasan dengan membuat perlindungan dari benteng tanah yang diisi pasir didalam karung kemudian disusun seperti gua.
 
Komando penembakan berada dibawah kendali AURI dan petugas ATC dari Detasemen Angkatan Udara yang selalu memonitor pembicaraan pesawat terbang yang melintas di daerah Pangkalan Udara Sei./Sungai melalui Tower Lapangan Terbang Sungai Durian. Tugas ini dahulu selain dilaksanakan oleh Komandan sendiri dan beliau dibantu anggota PAU (Polisi Angkatan Udara) yaitu Sersan Udara II OM. Hekakaja, dengan melihat Komandan Detasemen yang turun langsung dalam memonitor pergerakan pesawat yang melintas di Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian maka moril pasukan yang melaksanakan tugas pengamanan di lapangan menjadi bertambah, bahkan ditambah dengan adanya persenjataan Penangkis Serangan Udara maka kekuatan pertahanan strategis pangkalan Udara Sei./Sungai Durian mulai menjadi kuat.

Pada tahun 1958 pernah terjadi ada pesawat yang tidak dikenal yang oleh anggota kita dianggap pesawat musuh dan pesawat itu melintasi Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian. Pesawat itu beberapa kali berputar mengelilingi landasan yang diperkirakan melakukan pemotretan udara dan pesawat itu berkali-kali dipanggil tidak mau menyahut. Pesawat tidak dikenal tersebut melaksanakan terbang tinggi sekitar jam 10.00 pagi dan setelah diteropong secara samar-samar bahwa pesawat tidak dikenal itu menggunakan bendera Taiwan tetapi tampak tidak jelas karena pesawat keburu ditutupi awan. Semua persenjataan berat sudah disiagakan, termasuk persenjataan PSU (Penangkis Serangan Udara) yang ditempatkan di berbagai sudut telah mengarahkan larasnya kepada pesawat tidak dikenal tersebut dan tinggal menunggu “Komando” dari Tower. Masyarakat sekitar Kampung Sei./Sungai Durian terutama di daerah Simpang III semuanya disuruh mencari tempat perlindungan oleh 3 (tiga) Polisi Negara dan kepanikan itu memakan waktu kurang lebih satu setengah jam.
 
Untunglah pesawat tidak dikenal tersebut tidak memuntahkan apa-apa karena diperkirakan pesawat itu hanya melakukan kegiatan pemotretan udara. Setelah berputar-putar lalu menukik keatas lalu menghilang ditutupi awan, namun demikian pesawat tidak dikenal masih sempat membuat kepanikan bagi petugas-petugas dan masyarakat disekitar Lapangan Sei./Sungai Durian. Untuk menjaga dan meningkatkan faktor keamanan dan kerahasiaan daerah Pangkalan Udara Sei./Sungai pada malam hari masyarakat tidak diperbolehkan memasang lampu yang bersinar keluar dan atap-atap seng banyak yang dicat dengan mempergunakan warna hitam. Dalam mensosialisasikan faktor keamanan dan kerahasian daerah pangkalan udara maka masyarakat sering pula diberi penerangan /penjelasan, terutama dalam pengamanan masing-masing warga apabila sewaktu-waktu ada bahaya serangan udara.
 
Seiring dengan adanya perkembangan peningkatan frekwensi penerbangan pesawat AURI ke Pontianak maka tugas dan tanggung jawab yang harus ditanggung oleh Detasemen Angkatan Udara Pontianak semakin berat dan menindak lanjuti penambahan beban tugas itu maka pada tahun 1960 juga terjadi lagi Tour of Duty yaitu penggantian Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak, Letnan Muda Udara Satu Roedito dipercaya oleh pimpinan untuk menjadi Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak. Semasa Letnan Muda Udara Satu Roedito menjabat Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak, telah dilaksanakan kegiatan pembangunan sebuah gudang darurat dari kayu bulat bercampur kayu Belian dengan menggunakan atap Mabang. Bangunan ini dipergunakan untuk menyimpan drum-drum minyak udara yang ditimbun dirumput alang-alang dan disamping gudang tersebut juga dibangun Pos penjagaan dari kayu belian, kerangka kayu bulat, lantai papan dan atap Mabang.
 
Dalam perkembangannya bahwa Pos penjagaan ini pernah pula berfungs
i sebagai kantor dan bahkan pos ini pernah berfungsi sebagai pos “PAKUPERDA” yang berarti pelaksana kuasa perang daerah. Dalam pembangunan pos dan gudang ini memiliki kenangan tersendiri bagi Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak karena dalam pelaksananaan pembangunan gudang dan pos darurat ini dikerjakan oleh orang-orang penjara peristiwa “Cikini” yang dibuang dari penjara pulau Jawa ke penjara bebas Sie Durian darat lapangan. Sewaktu Detasemen belum memiliki bangunan gudang perminyakan darurat, maka untuk pelaksanaan penyimpanan disimpan pada drum-drum minyak dan drum-drum minyak tersebut ditimbun di rerumputan sampai berbulan-bulan.
 
Dengan adanya penarikan beberapa personil ke Lapangan Udara Singkawang II Sanggau Ledo maka personil yang tersisa hanya tinggal 5 orang, yaitu 3 orang militer dan 2 orang sipil, lainnya telah ditarik kembali ke PAU Singkawang II Sanggau Ledo. Adapun kelima orang tersebut antara lain Letnan Muda Udara Satu Roedito sebagai Komandan, Sersan Udara Dua E.A Dirdja sebagai PAU (Polisi Angkatan Udara), Prajurit Udara Satu Surak Binpa Denma bagian perminyakan, PHT Ajub Muslimin Staf merangkap tenaga Administrasi dan PHT Ranjani Rabudin sebagai tukang listrik. Pengendalian operasi Detasemen Angkatan Udara Pontianak masih tetap berada dibawah Komando Pangkalan Udara Singkawang II Sanggau Ledo.
 
Dengan hanya memiliki kekuatan personil sebanyak 5 (lima) orang, maka sementara waktu untuk mengatasi kekurangan personil di Detasemen Angkatan Udara Pontianak telah mengajukan permintaan penambahan ke MBAU. Di samping menunggu penambahan personil dari pusat maka secara sukarela Detasemen Angkatan Udara Pontianak membuka pendaftaran bagi para pemuda Arang Limbung untuk dididik menjadi PPKP (Pembantu Pasukan Komandan Pangkalan) dan hasil yang didapat dari pendaftaran itu adalah terdaftar pemuda sebanyak 35 orang atau 1 (satu peleton).
 
Detasemen Angkatan Udara Pontianak dalam menggembleng mereka menggunakan program kegiatan latihan kemiliteran dan dalam pelaksanaan program kemiliteraan itu, mereka di ajari/dibekali cara baris berbaris (PBB), cara membawa senjata yang benar dan cara menggunakan senjata dengan menggunakan senjata peraga dari kayu karet. Setelah mereka dianggap sudah mahir dalam menggunakan senjata, maka mereka baru diberikan senjata yang sebenarnya dengan jenis “L.E” berikut dengan pelurunya. Mereka dipersenjatai dalam pelaksanaan tugas menjaga keamanan pangkalan udara, terutama kalau sedang melaksanakan tugas jaga di gudang perminyakan dan di kantor Detasemen serta di penyeberangan landasan. Tugas jaga penyeberangan landasan sebelumnya dijaga oleh tiga orang Polisi Negara, tetapi pada tahun 1961 polisi negara tersebut ditarik kembali dan pengamanan selanjutnya digantikan oleh PPKP.
 
Dalam perkembangan selanjutnya, para anggota PPKP ini banyak yang diangkat menjadi Pegawai Harian Lepas (PHL) dan bahkan ada 4 (empat) orang yang berhasil menjadi anggota militer setelah mengikuti pendidikan kemeliteran di Pangkalan Udara Kalijati Subang Jawa Barat. Ke 4 (empat) orang PPKP yang lulus menjadi anggota militer dengan menyandang pangkat Prajurit Udara Dua, sekarang lebih dikenal dengan sebutan Prada (Prajurit Dua). Ke 4 (empat) anggota PPKP yang lulus itu adalah Prajurit Dua Paudji Kasan, Prajurit Dua Mohammad Abd. Madjid, Prajurit Udara Dua Samad Junus dan Prajurit Udara Dua Ansyari. Seiring dengan perkembangan waktu yang berjalan dan adanya perubahan pengecilan struktur organisasi di Pangkalan Udara Singkawang II Sanggau Ledo maka berdampak terhadap pengecilan struktur organisasi Detasemen Angkatan Udara Singkawang II dengan Komandannya Kapten Udara R. Soekahar.
 
Pada akhir tahun 1961 Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak mengalami pergantian lagi, yaitu dari pejabat lama ke pejabat baru dan pergantian komandan ini dalam rangka menindak lanjuti adanya perkembangan situasi negara pada saat itu. Perkembangan situasi atau perubahan suhu politik negara ini disebabkan adanya konflik politik antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Malaysia mengenai pendirian negara Malaysia bersatu. Dampak dari perubahan suhu politik yang mulai menghangat maka Pemerintah Republik Indonesia melancarkan operasi “Dwikora” dalam rangka menggagalkan usaha untuk mendirikan Negara Persemakmuran Malaysia.
 
Pada waktu itu yang menjabat sebagai Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak yang keempat atau terakhir adalah : Letnan Muda Udara Satu R. Eddy Soeradiman Koesoema, beliau memangku jabatan sebagai Komandan Detasemen Angkatan Udara dalam kurun waktu yang cukup lama. Jabatan komandan ini, beliau jabat semenjak beliau berpangkat Letnan Muda Udara Satu kemudian naik menjadi Komandan Pangkalan, adapun masa jabatan beliau adalah mulai dari tahun 1961 sampai dengan tahun 1969. Masa jabatan beliau telah terjadi perkembangan sejarah Detasemen Angkatan Udara Pontianak, adapun perkembangan sejarah itu secara garis besar terdiri dari Perkembangan komando Detasemen Angkatan Udara Pontianak mulai di bawah Komando PAU Singkawang II sampai langsung berdiri sendiri di bawah Pangkorud II Banjarmasin dan perubahan nama dari nama Pangkalan Sei./Sungai Durian sampai menjadi Pangkalan Udara Supadio.
 
Komandan pangkalan Udara Singkawang II Sanggau Ledo yang ketika itu masih dijabat oleh Kapten Udara R. Soekahar, sedangkan Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak dijabat oleh Letnan Muda Udara Satu R. Eddy Soeradiman Koesoema. Bapak Edy ini memiliki karakter yang cukup berwibawa dan bisa bergaul di dalam menyesuaikan diri dengan pejabat-pejabat Panca Tunggal yang berpangkat Pamen atau Perwira Tinggi. Latar belakang dari keberhasilan beliau dalam cepat menyesuaikan dengan pejabat-pejabat Panca Tunggal adalah sebelum masuk menjadi AURI, telah menyandang pangkat Kapten Angkatan Darat di zaman Revolusi Perjuangan Kemerdekaan dan beliau memiliki beberapa tanda jasa. Menurut keterangannya, latar belakang yang menyebabkan beliau keluar dari kedinasan Angkatan Darat adalah ketidaksepahaman beliau dengan komandannya sehingga beliau memutuskan untuk keluar dari kedinasan Angkatan Darat.
 
Dalam struktur organisasi Pemerintahan Daerah Panca Tunggal bahwa Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak mewakili Pangkorud II Banjarmasin di dalam setiap pelaksanaan rapat-rapat atau kegiatan daerah lainnya. Secara kebetulan sewaktu menjabat Komandan Detasemen Angkatan Udara Pontianak, pejabat-pejabat teras Kodam XII/Tanjungpura banyak bekas teman seperjuangan semasa di Angkatan Darat, bahkan ada diantaranya bekas anak buahnya. Dengan adanya keakraban ini maka hubungan antara Kodam XII/Tanjungpura dengan Detasemen Angkatan Udara Pontianak semakin lancar. Apa saja yang diperlukan AURI ketika itu semuanya dilayani, bahkan Perumahan Pamen di Jln. Cemara diberikan kepadanya untuk diperbaiki.
 
Beliau mulai melaksanakan pembangunan penyempurnaan Gudang minyak udara di Lapangan Udara Sei/Sungai Durian dengan membuat tongkat galangan dari kayu Belian. Sewaktu pelaksanaan pembangunan galangan ini, beliau turun tangan langsung ke lapangan dan tidak segan-segan memikul kayu Belian ditengah pasar dekat pelabuhan Senghi Pontianak bersama-sama anggota PPKP lainnya. Dari hasil kerja borongan ini, beliau telah dapat membelikan baju biru masing-masing 2 Stel untuk setiap anggota PPKP. Dalam mengikuti kegiatan pawai keliling kota Pontianak, para anggota PPKP ini sering pula dipasangkan pangkat lokal Prajurit Udara Dua untuk mengimbangi jumlah kekuatan dan penampilan Angkatan lain. Beliau melakukan hal ini disebabkan jumlah kekuatan yang dimiliki tidak mencukupi dan kekuatan yang ada untuk anggota TNI AU ketika itu baru ada 5 orang, sedangkan permintaan dari Garnizun didalam setiap kegiatan, untuk Detasemen Angkatan Udara Pontianak sebanyak 1 (satu) Peleton. Demikian juga setelah menjadi Pegawai Sipil dalam mengikuti apel 17-an selain pangkat juga dipersenjatai.
 
Permulaan Pembangunan Fisik Secara Permanen.
 
Pada tahun 1963 Kantor Detasemen Angkatan Udara Pontianak dari Arang Limbung dipindahkan ke kota, yaitu menyewa beberapa kamar di L
osmen Jeruju sekarang hotel Jeruju Baru Pontianak. Dalam kegiatan penyimpanan beras, sebelumnya gudang beras AURI ditempatkan di Losmen ini. Dalam tahun yang sama, Detasemen Angkatan Udara Pontianak mulai membangun bangunan fisik secara permanen yaitu 1 (satu) buah mess yang berukuran panjang dan diberi nama “Mess Comulus” dan 1 (satu) buah MessPerwira untuk Perwira Penerbang Hellikopter.
 
Selain itu dibangun juga, Kamar Listrik, Pemancar Radio, Gudang Senjata, Bengkel, dan Gudang PK. Bangunan ini dikerjakan oleh C.V IRIAN. Dengan dibangunnya kedua gedung ini, barulah masyarakat disekitar Pangkalan, percaya kalau AURI benar-benar akan menetap di daerah ini karena sebelumnya AURI hanya menyewa sebuah rumah di Arang Limbung dan membuat Gudang Perminyakan serta Pos Penjagaan dari kayu Bulat. Pembangunan kedua gedung ini terletak diatas tanah Negara yang diserahkan oleh pihak Penerbangan Sipil kepada AURI. Setelah Kantor AURI berpindah ke Losmen ini barulah masyarakat kota Pontianak banyak mengenal AURI, hal ini terbukti dengan mengalirnya permohonan untuk menjadi pegawai sipil AURI di Pontianak. Disamping itu, Detasemen Angkatan Udara Pontianak dengan statusnya sudah ditingkatkan dan beban tugas yang cukup berat maka untuk menyelesaikan beban tugas itu diperlukan banyak personil.
 
Dengan adanya rencana pelaksanaan Operasi “Dwikora” maka peranan Detasemen Angkatan Udara Pontianak semakin meningkat. Peningkatan peran ini dapat dilihat dengan adanya gelar kekuatan persenjataan dan personil pasukan. Adapun pesawat-pesawat yang digelar di Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian meliputi Pesawat Bomber B-29, Mustang, Hellikopter dan seluruh sistim persenjataan AURI ini mulai disiapsiagakan di Lapangan Udara Sei Durian.
 
Kesibukan para personil yang terlibat pelaksanaan operasi “Dwikora” setiap pagi sangat jelas terlihat di Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian dan kesibukan ini dikarenakan setiap pagi para crew pesawat sibuk memanaskan mesin dan mengisi bahan bakar serta peluru-peluru 12,7 dan roket disiapkan di pesawat. Suara derungan pesawat disubuh buta membuat suasana tambah hiruk pikuk di Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian. Kondisi suasana di daerah Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian, ketika itu benar-benar gawat dan para personil yang terlibat dalam pelaksanaan operasi “Dwikora” keadaan siap tempur tinggal menunggu komando dari atas. Demikian halnya dengan kekuatan personil Detasemen Angkatan Udara Pontianak mulai ditingkatkan dari 1 (satu) Peleton menjadi 1 (satu) kompi lebih. Mereka berdatangan untuk didrop ke daerah-daerah dan jumlah kekuatan pegawai-pegawai negeri sipil ditingkatkan dari 19 orang menjadi 121 orang.
 
Dengan banyaknya jumlah personil dan padatnya kegiatan pelaksanaan operasi dalam rangka menghadapi Konfrontasi dengan Malaysia ketika itu, maka kantor Detasemen Angkatan Udara Pontianak dipindah lagi ke Kantor Angdam XII Tanjungpura dan lokasinya berada dipojok sebelah kanan. Alasan pelaksanaan pemindahan kantor Detasemen Angkatan Udara adalah didasari atas pertimbangan faktor keamanan dimana AURI mulai melancarkan operasi Penerbangan ke daerah-daerah sektor Timur dan sektor Barat. Saat itu kondisi kekuatan yang dimiliki oleh AURI adalah mulai dilengkapinya sarana fasilitas-fasilitas penunjang operasi penerbangan dengan tenaga-tenaga ahli serta lengkap dengan perlengkapannya.
 
Tenaga-tenaga ahli tersebut diantaranya adalah petugas Meteo, PHB, PLLU, Sandi, PK (Pemadam Kebakaran) dan Dokter Kesehatan serta peralatan lain. Tenaga-tenaga ahli ini berasal dari hasil mutasi M.B.A.U (Markas Besar Angkatan Udara), Korud II Banjarmasin, PAU Singkawang II dan Pangkalan lain dan sebagian tenaga-tenaga ahli ini, ada yang dipindahkan ke Pontianak sebagai anggota organik yaitu menetap di Detasemen Angkatan Udara Pontianak. Beberapa waktu kemudian Kantor AURI dari Angdam dipindahkan lagi ke Kantor Kodim 1207 Pontianak, menumpang dipojok sebelah kanan. Jadi suasana ketika itu, Kantor Staf Markas Detasemen Angakatan Udara Pontianak selalu berpindah-pindah. Alasan pelaksanaan perpindahan kantor Detasemen Angkatan Udara Pontianak ini, tidak lain dimaksudkan selain pertimbangan faktor keamanan, untuk lebih mendekatkan hubungan kerja antara AURI dengan Kodam XII di Pontianak. Maksud dari lebih mendekatkan hubungan kerja AURI dengan Kodan XII di Pontianak adalah untuk membantu kelancaran Kodam XII Tanjungpura dalam tugas-tugas operasi sesuai perintah KOTI.
 
Detasemen Angkatan Udara Pontianak selain mengurus kesibukan pesawat-pesawat terbang di Lapangan Udara Sei. Durian, juga mengurus penempatan Perwakilan AURI di daerah-daerah. Yaitu Sintang, Putussibau, Sanggau Kapuas, Semitau dan Ngabang. Dalam rangka kegiatan dukungan personil dan logistik dalam pelaksanaan operasi “Dwikora” ini, semuanya ditangani oleh Detasemen Angkatan Udara Pontianak. Adapun maksud dari penempatan perwakilan ini adalah dalam rangka pelaksanaan tugas untuk melayani pengisian bahan bakar bagi pesawat-pesawat Hellikopter AURI yang mendarat di sana dan mengangkut pasukan dalam rangka pelaksanaan kegiatan operasi “Dwikora”.

Baca juga:  Komandan Lanud Atang Sendjaja Buka MPLS Angasa Bogor

Di daerah Sintang AURI sempat membuat Lapangan Terbang yang dikerjakan pasukan P.G.T (Pasukan Gerak Tjepat) Pioner yang diterjunkan di daerah aman. Lamanya pelaksanaan pekerjaan membuat lapangan terbang ini memakan waktu kurang lebih 6 (enam) bulan baru selesai dan menggunakan tenaga mekanis. Pasukan P.G.T yang melaksanakan tugas pembuatan Lapangan Terbang Sintang ini dalam jumlah yang cukup besar, terdiri dari beberapa kompi. Hanya saja, setelah pelaksanaan operasi “Dwikora” Lapangan Terbang Sintang ini tidak dirawat lagi sehingga kondisinya kembali menjadi hutan. Setelah akhir tahun 1964 barulah Kantor Markas Pangkalan Detasemen Angkatan Udara Pontianak kembali pindah ke Sei./Sungai Durian dan kembali menempati Kantor baru yang dilengkapi beberapa perumahan mess kopel.
 
Pelaksanaan kegiatan pembangunan Kantor Staf Markas Pangkalan Detasemen Angkatan Udara Pontianak secara historis dan kronologis mempunyai hubungan erat dengan pembangunan PAU Singkawang II. Sejarah awal pelaksanaan kegiatan pembangunannya didasari dengan berbagai dasar pertimbangan. Dasar pertimbangan dalam pelaksanaan pembangunan itu adalah pada tahun 1964 ada rencana untuk akan memperkecil keberadaan Lanud Singkawang II Sanggau Ledo. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang seharusnya diperuntukkan bagi Pangkalan Udara Singkawang II Sanggau Ledo, secara bertahap telah dialihkan beberapa pelaksanaan kegiatan pembangunan, bahkan termasuk kerangka yang sudah didirikan dibongkar kembali untuk dibawa ke Detasemen Angkatan Udara Pontianak. Apalagi Letnan Udara Satu J.C. Halil pejabat Dan Lanud Singkawang II mempunyai keinginan untuk pindah ke Pontianak, sehingga beliau sangat mendukung pemekaran keberadaan Detasemen Angkatan Udara Pontianak menjadi Pangkalan Angkatan Udara. Sejak saat itulah Detasemen mempunyai perkantoran sendiri dan menetap sampai sekarang.
 
Dengan selesainya pembangunan kantor ini maka segala kegiatan operasi penerbangan dipusatkan ditempat ini, yang sebelumnya banyak menumpang di Perumahan Penerbangan Sipil. Ditempat inilah para Perwira Staf bekerja keras menggerakkan roda pembangunan, sehingga Pangkalan
Udara Pontianak menjadi cerah. Pada awal tahun 1965. Setelah pelaksanaan kegiatan mendirikan bangunan-bangunan tersebut diatas selesai dikerjakan secara keseluruhan maka Detasemen Angkatan Udara Pontianak berubah statusnya menjadi Pangkalan Udara Kelas III. Sejak saat itu secara admistrasi keberadaannya bukan lagi dibawah Pangkalan Udara Singkawang II, namun langsung berada dibawah kendali Komando Regional Udara II (KORUD II) di Banjarmasin Kalimnatan Selatan.
 
Adapun Komandan Pangkalan Udara Pontianak yang pertama masih dipercayakan kepada : Letnan Muda Udara Satu Capa R.Eddy Soeradiman Koesoema. Dengan meningkatnya status Detasemen Angkatan Udara Pontianak menjadi Pangkalan Udara Kelas III dengan nama “Pangkalan Udara Sungai Durian”, maka sejak saat itulah Pangkalan Udara Sungai Durian semakin semangat did
alam kegiatan membenahi diri. Pelaksanaan kegiatan pembangunan tetap dilaksanakan sehingga jumlah bangunan-bangunan fisik semakin bertambah diantaranya pembangunan Dapur Umum, Mess Ampera, Mess Perwira, Mess Angkasa dan Mess Dirgantara di Jalan Imam Bonjol Pontianak.
 
Seiring dengan perkembangan penambahan bangunan maka jumlah kekuatan personil mulai bertambah dan pelaksanaan penambahan jumlah personil mendapat perhatian dari pimpinan Angkatan Udara. Adapun jumlah personil yang ditambah sebanyak 196 personil, yang terdiri dari personil militer 75 orang dan personil sipil 121 orang. Disamping adanya penambahan jumlah personil, maka sarana perhubunganpun dilengkapi dan bahkan sarana fasilitas-fasilitas penerbangan militer yang mendukung pelakasanaan kegiatan operasi di Kalimantan Barat juga meningkat.

Baca juga:  KEGIATAN DAN KEMAMPUAN PEMELIHARAAN

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel