Berita Kotama

Sejarah Singkat (halaman 1)

Dibaca: 465 Oleh 16 Jan 2010Tidak ada komentar
P-51 Mustang, Perintis Tim Aerobatik TNI Angkatan Udara
#TNIAU 

SEJARAH SINGKAT

Pangkalan Udara Maimun Saleh di Sabang dibangun sejak zaman penjajahan Belanda. Pada waktu Jepang menguasai Indonesia, Pangkalan Udara Sabang juga merupakan Home Base yang sangat vital dalam rangka mengontrol arus pelayaran di Selat Malaka dan Samudra Hindia, termasuk pelaksanaan operasi udara pemboman di Burma, Malaysia dan kepulauan Ceylon. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, Pangkalan Udara Sabang dikuasai oleh Sekutu (Inggris dan Australia).

Pangkalan Udara Sabang adalah salah satu Pangkalan Udara di wilayah Kodau I yang terletak di Pulau Weh, merupakan Pangkalan Udara terdepan di Wilayah Barat Indonesia, yang juga merupakan pintu gerbang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Pangkalan Udara Sabang mempunyai panjang landasan 1.400 m, terletak di kampung Cot Ba’u kira-kira 4 km disebelah Timur kota Sabang. Keadaan Pangkalan Udara Sabang sendiri merupakan suatu daerah terbuka, tidak berpagar yang dibatasi kampung-kampung, yaitu kampung Cot Ba’u, Ujung Karang dan Cot Abeuk. Landasan membujur dari arah Timur ke Barat berupa rumput, karang dan beton sebagian serta mempunyai dimensi 1.400 x 60 mtr dengan azimut 100 sampai 280. Fasilitas Aerodrome masih sangat sederhana dan mampu didarati pesawat-pesawat transport sampai ukuran C-130 B, pada musim kering. Namun dengan berjalannya waktu perbaikan demi perbaikan telah dilakukan, sehingga falilitas pangkalan terus meningkat dari waktu-ke waktu. Pada tahun 2003 fasilitas aerodrom Pangkalan sudah meningkat cukup pesat dan landasan berukuran 1.850 x 30 dan mampu didarati C-130 Hercules dan F-28 atau sejenis.

Pasang surut perjuangan kemerdekaan ikut mewarnai perkembangan Pangkalan Udara Sabang. Pangkalan Udara Sabang terletak di pulau Weh, yang merupakan pulau terbarat Indonesia. Posisi ini menyebabkan Pangkalan Udara Sabang sangat strategis dipandang dari sudut militer. Dengan adanya surat keputusan dari KSAP dan Menteri Agraria yang tumpang tindih antara AURI dan ALRI, maka masing-masing pihak merasa memiliki Pangkalan Udara Sabang, namun polemik ini akhirnya diakhiri dengan tetap mengacu kepada surat keputusan dari KSAP.

Pangkalan Udara Sabang sangat strategis untuk pelaksanaan operasi udara terutama dalam mengatasi konflik yang terjadi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Oleh karena itu Pangkalan Udara Sabang merupakan salah satu pilihan untuk menjadi pangkalan aju bagi pelaksanaan operasi terpadu di Provinsi NAD.
 
Dengan diterbitkannya Undang-undang tentang kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas Sabang th. 2000, maka Pangkalan Udara Sabang tidak hanya digunakan untuk kepentingan militer tetapi juga dapat berfungsi untuk kepentingan roda perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sabang. Oleh karenanya penggunaan Pangkalan Udara Sabang harus dapat digunakan untuk kepentingan keduanya. Untuk mempersiapkan Pangkalan Udara/Bandar Udara Sabang menjadi pintu gerbang udara Sabang, maka pembangunan berbagai fasilitas telah giat dilaksanakan.

Sejarah Singkat (halaman 1)

Dengan takdir Tuhan Jang Maha Kuasa jang tak dapat dielakkan oleh siapa atau apapun djuga. Maka pada hari Djum’at tanggal 1 Agustus 1952 djam 09.25 telah terdjadi ketjelakaan terbang dengan sebuah pesawat intai Auster IV–R–80 di Pangkalan Udara Semplak (Bogor) jang dikemudikan oleh sdr. Sersan Udara Penerbang Maimun Saleh.

Dalam Ketjelakaan ini sdr. Maimun Saleh gugur pada saat itu djuga. Lebih djauh dapat didjelaskan, bahwa peristiwa jang sangat menjedihkan itu terdjadi ketika diadakan latihan routine diatas Komando Pangkalan Udara Semplak dan apa jang menjebabkan terdjadinja ketjelakaan tersebut belum dapat diketahui.

Catatan Sejarah LANUD MAIMUN SALEH

Esok harinja tanggal 2 Agustus 1952 djam 06.35 djenasah alm. sdr. Maimun diangkut dengan pesawat dari Pangkalan Udara Tjililitan ke Kotaradja (Atjeh) tempat dimana alm. tersebut dilahirkan.

Alm. Maimun Saleh dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1929 di Kotaradja.

Berturut turut ia mendapat didikan pada sekolah ,,Taman Siswa’’ dan ,,Sekolah Menengah Islam’’ di Kota kelahirannja itu.

Baca juga:  Refreshing Alpeka Personel Sarban Lanud Iswahjudi

Pada bulan Agustus 1949 sdr. Maimun Saleh diterima mendjadi murid penerbang di Kotaradja dan pada tahun 1950 ia dipindahkan ke Sekolah Penerbang di Kalidjati dimana ia telah berhasil memperoleh idjasah sebagai penerbang klas 3 pada 1 Pebruari 1951. kemudian ia masuk Squadron IV (Pengintai Darat) dan turut serta dalam semua operasi jang didjalankan oleh Squadron tersebut.

Dengan gugurnja sdr. Maimun Saleh, Angkatan Udara kita kehilangan pula jang mempunjai hari kemudian dalam pambangunan Angkatan Udara Republik Indonesia. Achirnja kepada keluarga alm. sdr. Maimun kami dari Angkasa atas nama seluruh Anggota AURI tak lupa menjampaikan perasaan turut berduka tjita atas gugurnja sdr. Maimun.

Almarhum adalah seorang Penerbang Daerah Istimewa Atjeh, telah gugur pada tanggal 1 Agustus 1952 dalam usia kl. 25 tahun dan dimakamkan di Aneuek Galong Sibreh Ketjamatan Suka makmur Kabupaten Atjeh Besar. Guna mendjadi kenang2an nama : MAIMUN SALEH telah diabadikan untuk lapangan terbang Militer LHO’ NGA dan Detasemen AURI Banda Atjeh (dahulu Koetaradja) pada tanggal 9 April 1954 oleh Angkatan Udara Republik Indonesia.

PEMBENTUKAN KOMANDEMEN III AURI KUTARAJA

Setelah perang kemerdekaan semua instalasi peninggalan tentara Jepang menjadi terbengkalai tidak terurus. Maka diambillah keputusan oleh Pemerintah untuk menyerahkan pengelolaan semua fasilitas peninggalan tentara Jepang kepada TRI. Dengan demikian semua fasilitas bidang keudaraan diserahkan kepada AURI dan mulailah AURI membentuk perwakilan di berbagai wilayah.

Periode 1946 – 1950 Pembentukan Perwakilan AURI di Kutaraja

Pada tanggal 12 November 1946, untuk pertama kalinya dibentuk perwakilan AURI diwilayah Aceh yang berkedudukan di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), dengan komandannya Sersan Djajusadi dan bermarkas di Neusoe, Kutaraja. Anggota staf waktu itu hanya 4 orang saja, kemudian ditambah personil yang didatangkan dari Maguwo (Yogyakarta) dan Padang, sehingga akhirnya personil AURI waktu itu menjadi 17 orang. Lapangan terbang yang digunakan untuk keperluan operasi waktu itu adalah :

1. Lapangan terbang Lhok Nga (sebelah selatan kota Banda Aceh).

2. Lapangan terbang Blang Bintang (sebelah timur kota Banda Aceh).

Dalam tahun 1948, dibentuklah Komandemen III AURI yang berkedudukan di Kutaraja. Bertindak selaku Komandan Komandemen AURI Kutaraja waktu itu adalah O.U.I. Soeyoso Karsono. Dalam tahun itu pula dibentuk Pendidikan Penerbang, yang berpusat dilapangan terbang Lhok Nga dengan instrukturnya Kapten Udara Mulyono. Baru puluhan pemuda pelajar yang ikut melamar, setelah mengikuti testing dengan ketat menurut ukuran waktu itu, 5 orang pemuda yang lulus yaitu :

1. Maimun Saleh.

2. T. Zainal Abidin.

3. T. Iskandar

4. Abubakar.

5. Mukhtar.

Disamping pendidikan Penerbang tersebut diatas, sejak tahun 1948-1950 di lapangan terbang Lhok Nga juga telah dibuka Sekolah Tehnik Udara yang dipimpin oleh O.M.U.i Sadjad, dengan para instrukturnya anggota AURI dari Maguwo (Yogyakarta). Pendidikan tersebut bersifat teori dan praktek. Dalam praktek, para siswa melakukan perbaikan sebuah pesawat terbang pemburu Hayabusha bekas peninggalan Jepang yang tadinya hanya tinggal rongsokan saja, akhirnya berkat ketekunan para siswa Tehnik Udara tersebut, pesawat tersebut telah dapat dihidupkan mesinnya tetapi belum sempat diterbangkan.

Pada masa perjuangan fisik rakyat Aceh telah menyumbangkan sebuah pesawat Dakota RI-001 “Seulawah” kepada pemerintah RI untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan RI dan sebagai modal kekuatan udara yang menghubungkan daerah-daerah di Sumatera-Jawa yang sekaligus untuk memelihara Persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia. Pesawat RI-001 melakukan operasi penerbangan keluar negeri yaitu ke Burma. Dari hasil operasi penerbangan Pesawat RI-001 ini antara lain untuk membeli sebuah pesawat Dakota lagi, untuk membiayai pendidikan AURI di luar negeri serta untuk membeli senjata.

Sedangkan Lapangan Terbang Lhok Nga dipergunakan untuk mendarat pesawat RI-001 yang masih berkedudukan di Burma. Pendaratan dilakukan pada malam hari sekitar pukul 01.00 s/d 03.00 WIB untuk kerahasiaan, dengan mengangkut alat perlengkapan militer, amunisi juga mengangkut tokoh-tokoh perjuangan yang bertugas sebagai penghubung Pemerintah RI. Secara tidak berlebihan dan sebagai fakta peranan AURI dan Lapangan Terbang Lhok Nga pada waktu perjuangan fisik telah memberikan andil/modal yang cukup besar bagi kelanjutan perjuangan RI. Seperti diketahui satu-satunya daerah yang tidak sempat diduduki oleh Belanda pada perang kemerdekaan I dan II adalah daerah Aceh, yang merupakan daerah salah satu modal dasar perjuangan kemerdekaan RI selanjutnya.

Baca juga:  Danlanud El Tari Menghadiri Pembukaan Suskajemenhanneg

Dalam uraian ini dapat di catat tokoh-tokoh AURI yang bergerilya di Aceh pada waktu perang kemerdekaan I dan II adalah sebagai berikut :

1. O.U. I Soeyoso Karsono.

2. O.U. II Berahim Bakti.

3. Kapten Ud. Mulyono.

4. O.M.U. I R. Sadjad.

5. O.M.U. II Zaidun Bakti.

6. O.M.U. II Soenaryo.

7. O.M.U. III Haryono.

8. O.M.U. III Moekarto.

9. O.M.U. Soeratmo.

10. O.M.U. III Djoenaidi.

Lapangan-lapangan terbang yang masih berada dalam keadaan baik sewaktu perang kemerdekaan I dan II di daerah Aceh adalah sebagai berikut :

1. Lapangan terbang Lhok Nga Aceh Besar.

2. Lapangan terbang Blang Bintang Aceh Besar.

3. Lapangan terbang Cot Ba’u Sabang.

4. Lapangan terbang Blang Petik Pidie.

5. Lapangan terbang Tutut Semayum.

6. Lapangan terbang Tambo Bireuen.

7. Lapangan terbang Teupin Mane Bireuen.

8. Lapangan terbang Blang Lacang Lhokseumawe.

9. Lapangan terbang Sungai Yu Kuala Simpang.

10. Lapangan terbang Cot Gapu Bireuen.

Berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Perang Nomor : 023/P/KSAP/1950 tanggal 25 Mei 1950 tentang Lapangan Terbang serta Bangunan-bangunan yang termasuk Lapangan dan Alat-alat yang berada di Lapangan dan sungguh-sungguh diperlukan untuk pemeliharaan Lapangan-lapangan menjadi milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Yang ditandatangani oleh Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB. Simatupang. Dengan adanya surat keputusan tersebut maka menjadi jelas pangkalan mana saja yang menjadi tanggung jawab AURI, dengan demikian AURI perlu membentuk perwakilan untuk mengelola pangkalan-pangkalan tersebut.

Periode 1950 – 1958 Penetapan Sabang sebagai Pangkalan AURI

Dalam bulan Pebruari 1950 sebagian Perwira, Bintara, dan Tamtama AURI Banda Aceh dibawah pimpinan Kapten Udara Mulyono, dipindahkan ke Polonia (Medan), untuk mengadakan penerimaan penyerahan lapangan terbang Polonia dari Militaire Luchvaart Belanda kepada AURI. Ikut serta kadet-kadet penerbang yang dilatih secara teori di kutaraja (Lhok Nga) untuk melanjutkan praktek terbang. Dan dilapangan terbang Polonia ini pula kapten udara Mulyono belajar terbang dengan pesawat Mustang P-51, dibawah pimpinan/instruktur perwira-perwira penerbang
Belanda.

Disamping itu beberapa orang Bintara dan Karyawan Sipil AURI Banda Aceh juga dikirim ke Sabang untuk ditetapkan sebagai penghubung/perwakilan AURI Banda Aceh di Sabang, yang bermar -kas di jln. Melati No. 5 Sabang. Anggota-anggota AURI Banda Aceh yang dikirim ke Sabang diantaranya adalah :

1. Sersan udara Yusuf.

2. Sersan udara Siam.

3. PNS Djakfar.

4. PNS Islan.

Pada tahun 1953-1957 pecah peristiwa DII/TII di Aceh. Perhubungan darat Kutaraja – Medan nyaris terputus, yang sesekali dilewati dengan mempergunakan konvoi, maka peranan pesawat AURI pada waktu itu memegang peranan yang cukup penting dalam mengangkut amunisi, bahan makanan, pasukan dan lain sebagainya, untuk keperluan penumpasan pemberontakan DII/TII tersebut. Mengingat kondisi keamanan di Lhok Nga tidak mengijinkan lagi karena pecahnya peristiwa DII/TII tersebut, maka pada tahun 1958, KSAU Marsekal Suryadarma telah memerintahkan agar AURI yang berkedudukan di Kutaraja/Banda Aceh segera pindah ke Sabang. Pemindahan tersebut dibawah pimpinan Komandan AURI Kutaraja LMU I R. Oetoyo. Sebagian anggota AURI ada yang tinggal di Kutaraja ditetapkan sebagai penghubung/perwakilan dan perwakilan AURI wilayah Aceh berkedudukan di Sabang.

Baca juga:  Panglima Kosekhanudnas III Terima Kunjungan Persatuan Wartawan Indonesia Sumut dan Direktur Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan

Mulai saat itu pangkalan udara Sabang ditetapkan menjadi pangkalan udara AURI dalam bentuk detasemen udara dan seluruh operasi udara di wilayah Aceh dikendalikan dari Lanu Sabang.

PEMBENTUKAN PANGKALAN UDARA SABANG

Pangkalan Udara Sabang memiliki nilai yang sangat strategis karena terletak diujung barat Indonesia atau orang sering menyebut di kilometer nol. Sangat strategis karena pengamatan baik wahana udara maupun laut dapat dilakukan dengan optimal diwilayah Sabang. Oleh karena itu baik AURI maupun ALRI pada saat itu sangat berkepentingan untuk menghadirkan kekuatan Alutsista di wilayah Sabang.

Periode 1958 – 1963 Pembentukan Pangkalan Udara Sabang

Dengan dipindahkannya AURI/TNI AU yang berkedudukan di Banda Aceh ke Sabang, sejak itu pulalah TNI AU mulai benar-benar mengelola pangkalan udara Sabang, untuk dapat melaksanakan tugas pokok TNI AU yaitu Swa Bhuana Paksa atau menjadi sayap tanah air.

Pengelolaan dan peningkatan pangkalan udara Sabang dimantapkan lagi setelah adanya surat keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Muda Udara Omar Dani Nomor 23 Tahun 1963 tanggal 15 Juli 1963 yang menetapkan bahwa Pangkalan Udara Sabang adalah Pangkalan Udara Militer yang dikelola penuh oleh TNI AU. Tanggal 15 Juli 1963 ditetapkan sebagai hari jadi Pangkalan TNI AU Sabang.

Disamping itu Lanud Sabang berkewajiban mengawasi beberapa Air Strip di Aceh yaitu Lhokseumawe, Bireuen, Samalanga, Padang Tidji, Lhok Nga, Troemon.

Periode 1963 – 1982 Sebagai Pangkalan Aju

Dengan adanya Skep Dirjen Agraria Nomor SK. 2/H-Peng-68 tanggal 02 Agustus 1968 tentang pemberian hak pengelolaan tanah militer kepada Departemen Pertahanan Keamanan RI cq. Angkatan Laut RI yang terletak di Sabang (Pulau Weh), maka terdapatlah dua dokumen yang sama mengenai status lapangan terbang Sabang yang terletak di desa Cot Ba’u di Sabang. Hal ini sangat berpengaruh dalam rangka pengembangan Lanud Sabang selanjutnya.

Mengingat letak geografis, politis dan psychologis Sabang sebagai ujung barat dari tanah air kita dan juga meningkatnya objek-objek vital di daerah Aceh, maka meningkat pulalah nilai strategis Lanud Sabang. Oleh karena itu sesuai dengan strategi penggelaran Pangkalan Udara dalam konsepsi Pertahanan Daerah Udara I Tahun 1979-1984 Lanud Sabang ditetapkan sebagai Pangkalan aju bagi operasi-operasi udara untuk pengamatan udara dan maritim di daerah Samudra Hindia, Kepulauan Nikobar, Teluk Benggala dan Selat Malaka. Kedudukan yang strategis dan dengan peningkatan kemampuan Lanud Sabang akan memperluas jangkauan operasi pengamatan udara dan maritim kearah lautan di sekitarnya.

Periode 1982 – 1985 Penggelaran Alutsista

Menyadari Lanud Sabang merupakan pangkalan aju bagi operasi-operasi udara serta meningkatnya nilai strategis dari Lanud Sabang, maka mulai pertengahan tahun 1982 dengan konsentrasi usaha yang optimal Lanud Sabang berusaha untuk meningkatkan segala fasilitas, sarana dan prasarana dalam rangka mendukung kegiatan operasi-operasi udara. Pada saat itu dilaksanakan pembangunan hanggar pesawat, tower pengatur lalu lintas udara dan kantor “base operation” untuk mendukung operasi udara. Dengan fasilitas, sarana dan prasarana yang masih sangat sederhana sejak awal tahun 1983 Lanud Sabang telah mampu menerima dan melaksanakan penggelaran Alutsista udara yaitu Pesawat OV-10 Bronco dalam rangka pelaksanaan operasi udara penumpasan gerakan separatis GAM selama tiga bulan, C-130 B untuk pelaksanaan dukungan logistik dan Paum 112 dengan pesawat F-27 Foker. Hal ini merupakan kebanggaan Lanud Sabang. Disamping itu merupakan harapan bagi masyarakat Sabang khususnya dan masyarakat Aceh pada umumnya, harapan tersebut muncul sejak tahun 1950-an. Karena masyarakat Aceh sejak awal revolusi fisik telah terjadi hubungan yang cukup unik dan mendalam dengan TNI AU yaitu dengan hadirnya pesawat angkut RI-001 Seulawah.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel