Berita Kotama

Sejarah Singkat (halaman 2)

Dibaca: 286 Oleh 16 Jan 2010Tidak ada komentar
9b842766a265b99c2bf19666b186f743
#TNIAU 

Sejarah Singkat (halaman 2)

Dengan diterbitkannya surat keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Muda Udara Omar Dani Nomor 23 Tahun 1963 tanggal 15 juli 1963 yang menetapkan bahwa Pangkalan Udara Sabang adalah Pangkalan Udara Militer yang dikelola penuh oleh TNI AU dan Skep Dirjen Agraria Nomor : SK. 2/H-Peng-68 tanggal 02 Agustus 1968 tentang pemberian hak pengelolaan tanah militer kepada Departemen Pertahanan Keamanan RI cq. Angkatan Laut RI yang terletak di Sabang (Pulau Weh), maka terdapatlah dua dokumen yang sama mengenai status lapangan terbang Cot Ba’u di Sabang. Hal ini menyebabkan masing-masing pihak merasa berhak untuk mengelola lapangan terbang ini.

Aslog KASAL dengan Surat Nomor : B/1285/IX/1984 tanggal 3 September 1984 tentang rencana pembangunan kantor perwakilan TNI AL di Lanud Sabang, TNI AL ingin membangun kantor perwakilan di Lanu Sabang seluas 10 x 30 m2 dengan bangunan bertingkat, namun dijawab oleh Aslog KASAU Marsekal Pertama TNI Ir. Sukendro Wardojo bahwa bangunan tersebut dirasa cukup tidak perlu bertingkat, dengan jawaban surat nomor : B/900-16/239/1/Slog. Dari fakta surat menyurat tersebut masing-masing pihak berkepentingan untuk menggelar Alutsista di Lanud Sabang karena letak yang cukup strategis yaitu di corong barat Indonesia. Namun demikian jauh sebelum itu telah terbit Keputusan Kepala Staf Angkatan Perang Nomor : 023/P/KSAP/1950 tanggal 25 Mei 1950 tentang Lapangan Terbang serta Bangunan-bangunan yang termasuk Lapangan dan Alat-alat yang berada di Lapangan dan sungguh-sungguh diperlukan untuk pemeliharaan Lapangan-lapangan menjadi milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Yang ditandatangani oleh Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB. Simatupang. Maka jelaslah kepemilikan Lanu Sabang.

PENGEMBANGAN PANGKALAN DAN BANDAR UDARA MAIMUN SALEH

Periode 1985 – 1996, Reorganisasi TNI

Reorganisasi TNI dilaksanakan pada tahun 1985, di dalam pelaksanaan reorganisasi tersebut salah satunya adalah pengalihan pembinaan Satuan Radar 209 Sabang dari Kosekhanudnas III Medan (Kohanudnas) ke Lanud Maimun Saleh (Koopsau I), sehingga Satrad 209 Sabang berada di bawah pembinaan Lanu Sabang. Oleh karena itu segala bentuk surat menyurat bidang pembinaan berada dibawah Lanu Sabang. Sedangkan dalam bidang operasi Satrad 209 tetap dibawah kendali Kosek Hanudnas III Medan.

Pengendalian operasional pangkalan semula berada di Kota Sabang tepatnya di Jalan Diponegoro no. 54. Pada tahun 1985 dimulai pembangunan kantor Markas Komando Lanu didalam komplek pangkalan. Maka setelah pembangunan selesai kantor Lanu Sabang di Dirgantara dipindahkan ke Pangkalan pada bulan September 1986.

Tahun 1985 Free Port Sabang ditutup, secara ekonomi sangat berdampak kurang baik terhadap kehidupan masyarakat Sabang dan hal ini juga berpengaruh langsung terhadap kehidupan anggota Lanu. Dalam kedinasan juga berpengaruh, karena peran Pemda cukup besar dalam membantu terselenggaranya operasional Lanu. Dengan ditutupnya Free Port Sabang berarti pendapatan asli daerah menjadi menurun dan berdampak pula kemampuan Pemda Tingkat II untuk membantu operasional Lanu.

Komandan Lanud waktu itu Letkol Lek IW. Sasmito telah memiliki konsep untuk memperpanjang landasan supaya dapat didarati oleh pesawat yang lebih besar dan konsep tersebut disampaikan ke Pemda TK I. Pelaksanaan perpanjangan terrealisasi setelah sekian lama. Disamping itu beliau juga merintis pembuatan lapangan Golf 9 hole yang merupakan lapangan golf pertama di Sabang. Ide kreatif beliau juga melaksanakan program pemagaran pangkalan untuk mengamankan asset pangkalan. Pada saat itu juga mulai dilaksanakan pengaspalan landasan secara bertahap.

Pimpinan TNI AU merasa perlu untuk mengabadikan nama pahlawan kusuma bangsa, terutama putra daerah menjadi nama pangkalan udara. Maka keluarlah Surat Keputusan Perubahan nama Lanu Sabang menjadi Lanud Maimun Saleh dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan KASAU Nomor : Skep/06/I/1986 tanggal 18 Januari 1986 tentang Penggantian Nama Pangkalan TNI AU Sabang menjadi Pangkalan TNI AU Maimun Saleh atau sering disebut Lanud MUS. Maimun Saleh diambil dari putra terbaik Aceh yang telah gugur dalam pelaksanaan tugas operasi penerbangan

Baca juga:  POM AU Siap Mendukung Operasi Gaktib Dan Yustisi Tahun 2018

Sejarah Singkat (halaman 2)

Th. 1986 Lanu Sabang resmi berubah menjadi
Pangkalan TNI AU Maimun Saleh (Lanud MUS) dan
Bangunan Mako Lanud MUS

TNI AU melihat perlu menghadirkan kekuatan udara diwilayah paling barat Indonesia, maka pada tanggal 11 Oktober 1988 Radar Early Warning Thomson TRS 2215 D yang dibeli dari Perancis mulai digelar di Sabang, untuk sementara penempatan disebelah Runway 10, namun karena cakupan (coverage) kurang bagus, maka pada tanggal 13 Juli 1991 Radar dipindahkan diatas puncak gunung Iboih yang memiliki cakupan (coverage) yang sangat bagus dan masih berada didalam pulau Weh. Penggelaran Radar tersebut bertujuan untuk mengawasi udara di wilayah corong barat Indonesia.

Pada tahun 1989 Gerakan Aceh Merdeka mulai meningkatkan kegiatannya dalam bidang kemiliteran, maka pada tahun 1991 mulai digelar “Operasi Rencong Terbang” dengan home base pesawat berada di Bandara Blang Bintang. Pengoperasian Bandara Blang Bintang dilaksanakan oleh personel Lanud Maimun Saleh Sabang untuk mendukung operasi udara dengan alutsista pesawat OV-10 Bronco dan pesawat A-4 Sky Hawk, Lanud Maimun Saleh Sabang sebagai alternate base. Operasi udara Rencong Terbang tersebut berakhir pada tahun 1995.

Lanud Maimun Saleh bukan hanya digunakan untuk kegiatan operasi kemiliteran saja, namun juga mendukung kegiatan lain yang berkaitan dengan ekonomi kerakyatan. Maka pada tahun 1993 Lanud Maimun Saleh selama kurang lebih 3 bulan membantu pelaksanaan export ikan tuna dari Sabang ke Singapura menggunakan pesawat Transhal milik Pelita Air Service yang dioperasikan oleh salah satu perusahaan swasta Singapura.

Pada Th 1994 dengan dimotori oleh Komandan Lanud Letkol Lek Rispandi mencoba membuka kembali Lapangan Golf 9 hole yang telah lama terbengkalai. Lapangan Golf tersebut merupakan sarana berkumpulnya para Pejabat Sabang secara informal untuk memecahkan berbagai persoalan Sabang. Disamping itu juga sebagai sarana olah raga bagi masyarakat Sabang dan sekaligus para tamu yang berkunjung ke Sabang.

Periode 1996 – Sekarang, Pengembangan Pangkalan dan Bandara.

Sejalan dengan berkembangnya wilayah Aceh, maka Pemda Aceh merasa perlu memperpanjang landasan dengan merealisasikan rencana lama Letkol Lek. IW. Sasmito. Pada awal th 1997 dimulai program memperpanjang landasan dan pekerjaan berakhir pada Desember 1998. Landasan yang semula 1.400 m menjadi 1.850 m, run way 28 sepanjang 150 m dan run way 10 sepanjang 300 m. Perpanjangan run way ini sangat besar artinya bagi pelaksanaan operasi udara, karena landasan menjadi sangat mungkin didarati pesawat C-130 Hercules dan F-28 atau sejenis.

TNI AU saat itu merasa perlu melaksanakan validasi organisasi dan dilaksanakan pada tahun th 1999, maka pembinaan Satuan Radar 209 dikembalikan ke Kosek Hanudnas III Medan, berdasarkan Skep Kasau Nomor : Skep/43/II/1999 tgl. 22 Pebruari 1999 tentang pengalihan pembinaan Satuan Radar 209 Sabang dari Lanud MUS (Koopsau I) dikembalikan ke Kosek Hanudnas III Medan (Kohanudnas). Dengan demikian Lanud Maimun Saleh tidak lagi melaksanakan pembinaan terhadap Satuan Radar 209 Sabang, namun statusnya menjadi satuan samping.

Usaha untuk menerbitkan sebuah Undang-undang tentang kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas Sabang sedang dilakukan oleh Pemda TK I bersama Pemerintah Pusat dengan DPR RI. Setelah peluang tersebut ada dan mungkin dilakukan, maka atas prakarsa Pemda TK I Aceh membuat Surat Kesepakatan Bersama (SKB) penggunaan sebagian tanah TNI AU untuk keperluan pengembangan Bandar Udara Nomor : SKB/9/X/2000 tanggal 16 Oktober 2000 ditandatangani oleh Wakasau Marsekal Madya TNI Mudjiono Said, Dirjen Perhubungan Udara Bpk. Sunaryo Y. dan Gubernur DI Aceh H. Ramli Ridwan, SH. SKB tersebut membuktikan adanya tekad yang bulat Pemda TK I Aceh untuk memajukan Sabang dan sekaligus pintu gerbang udara Sabang yaitu Pangkalan Udara/ Bandar Udara Maimun Saleh. Maka mulai saat itu berbagai pembangunan untuk pengembangan Bandar Udara dan Pangkalan Udara dilakukan.

Baca juga:  Upacara Bendera 17-an Bulan Februari 2018 di Lanud Sjamsudin Noor

Pada tanggal 21 Desember 2000, UU Nomor: 37 tahun 2000 tentang Sabang sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas telah diundangkan. Sejalan dengan Undang-undang tersebut semakin besar peluang untuk membangun Sabang sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas, Pangkalan Udara/Bandar Udara Maimun Saleh merupakan salah satu sasaran yang perlu dikembang- kan karena merupakan pintu gerbang udara Sabang. Sebagaimana di pangkalan udara lain diseluruh Indonesia, pangkalan udara akan digunakan secara bersama oleh militer untuk operasi udara dan oleh sipil untuk keperluan kesejahteraan. Penggunaan bersama ini merupakan komitmen bersama insan udara agar investasi yang demikian besar dapat berdaya guna.

Tekad yang demikian kuat Pemda TK I Aceh dan Pamda TK II Sabang untuk membangun, diwujudkan dengan membuat jembatan udara bagi kota-kota kabupaten di wilayah Daerah Istimewa Aceh dengan mensubsidi penerbangan pesawat Sabang Merauke Air Carter (SMAC) yang dimulai pada tahun 2001 dan Lanud Maimun Saleh menjadi salah satu mata rantai jembatan udara tersebut. Penerbangan pertama satu minggu sekali, kemudian meningkat menjadi 2 kali dan sekarang menjadi 3 kali. Dengan demikian Lanud Maimun Saleh merupakan penyambung salah satu mata rantai jembatan udara yang berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat.

Mengingat telah berkembangnya wilayah Aceh dan gejolak politik di wilayah Aceh, maka jembatan udara yang dilakukan TNI AU semula menggunakan pesawat F-27 Foker, mulai tahun 2001 Paum 122 diganti menggunakan pesawat C-130 Hercules, yang kapasitasnya lebih besar. Dengan demikian apabila masih terdapat tempat duduk, maka masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk melaksanakan perjalanan ke Medan dengan pesawat TNI AU.

Berkembangnya Pangkalan Udara/Bandar Udara Maimun Saleh, menuntut adanya fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Oleh karena itu TNI AU perlu membangun Rumah Sakit Lanud Maimun Saleh pada akhir tahun 2002 dengan kapasitas 12 tempat tidur. Dengan adanya fasilitas tersebut maka melengkapi dan meningkatkan pelayanan kesehatan bagi pengguna jasa transportasi pesawat udara.

Sejarah Singkat (halaman 2)

Rumah Sakit Lanud Maimun Saleh

Sebagai konsekuensi logis dari penandatanganan SKB tersebut adalah Pemda TK I Aceh menyelesaikan sertifikasi tanah Lanud MUS. Pada akhir tahun 2003 sertifikasi tanah dengan susah payah telah berhasil diselesaikan. Masalah yang masih tersisa adalah mencarikan dana kompensasi bagi para petani penggarap di tiga blok tanah, hal ini bisa bersumber dari anggaran TNI AU maupun Pemda TK I dan Pemda TK II.

Pembinaan Potensi Nasional Aspek Kedirgantaraan. Pembinaan potensi nasional aspek kedirgantaraan atau yang sering dikenal dengan nama Binpotdirga, adalah sarana untuk mewujudkan Potensi Nasional menjadi kekuatan yang tangguh dan berdaya guna bagi kepentingan Hankamneg di dirgantara atau wewenangnyadalam mengelola ruang, alat dan kondisi yang tangguh dalam rangka sistim pertahanan keamanan negara.

TNI Angkatan Udara adalah institusi yang memiliki tugas untuk menyelenggarakan segala usaha, kegiatan dan pekerjaan dalam membina potensi nasional aspek dirgantara menjadi kekuatan Pertahanan Keamanan Negara. Dalam pelaksaannya, Lanud-lanud yang berada di jajaran Koopsau I dan Koopsau II merupakan ujung tombak pelaksana di lapangan. Lanud-lanud inilah yang memiliki fungsi, antara lain :

1. Melaksanakan kegiatan berdasarkan arahan dan petunjuk dari Komando Operasi Pembinaan.

2. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait yang berada di wilayahnya.

3. Melaporkan pelaksanaan kegiatan.

4. Memberikan saran dan masukan kepada Komando Operasi Pembinaan.

Pangkalan TNI Angkatan Udara Maimun Saleh merupakan salah satu pangkalan di jajaran Koopsau I yang melaksanakan fungsi tersebut di atas. Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan Pangkalan TNI AU Maimun Saleh yang berkaitan dengan pembinaan potensi nasional aspek dirgantara, meliputi :

Baca juga:  Danlanud SIM Resmikan Monumen Helikopter Bell 204 B Iroquois

1. Pendataan dan inventarisasi sumber daya manusia yang berada di wilayah Pangkalan Udara Maimun Saleh, meliputi :

a. Sumber Daya Manusia Militer Aktif dan PNS TNI AU Aktif.

b. Sumber Daya Manusia Lingkungan Penerbangan.

c. Sumber Daya Manusia KBA TNI dan Polri.

d. Sumber Daya Manusia Peminat Dirgantara.

2. Pendataan dan Inventarisasi Sumber Daya Alam yang berada disekitar wilayah Pangkalan Udara Maimun Saleh, seperti; bidang pertanian, perikanan, energi dan sebagainya.

3. Pendataan dan Inventarisasi Potensi Sumber Daya Buatan di sekitar Pangkalan Udara Maimun Saleh diantaranya; bidang pembangkit tenaga listrik, PDAM dan sebagainya.

4. Pendataan dan Inventarisasi Sarana dan Prasarana yang ada di Pangkalan Udara Maimun Saleh diantaranya; fasilitas pendukung penerbangan, Albanav, hanggar dan sebagainya.

5. Pendataan dan Inventarisasi Minat Dirgantara yang meliputi; kegiatan olah raga dirgantara, saka dirgantara dan penggemar radio komunikasi.

Kegiatan pendataan, inventarisasi dan pembinaan potensi nasional aspek kedirgantaraan dilingkungan Pangkalan Udara Maimun Saleh telah dilaksanakan secara maksimal dan menyeluruh, akan tetapi masih ada bidang-bidang pembinaan potensi lainnya yang harus lebih dikembangkan dan dimasyarakatkan seperti pada pembinaan bidang olah raga dirgantara dan pembinaan Pramuka saka dirgantara.

Upaya untuk menumbuhkan minat masyarakat pada olah raga dirgantara mulai diperkenalkan dan didemonstrasikannya olah raga udara aeromodelling dan untuk menambah wawasan pengetahuan generasi muda dibidang dirgantara telah dilaksanakan pembinaan pramuka Saka Dirgantara dimulai dari tingkat SD sampai SMU di wilayah Pangkalan Udara Maimun Saleh. Kegiatan tersebut dilaksanakan dibawah pembinaan personel Pangkalan Udara Maimun Saleh bekerja sama dengan KONI dan Kwarcab Pramuka Kota Sabang.

Koperasi TNI AU Lanud Maimun Saleh. Primkopau Lanud Mimun Saleh merupakan organisasi non struktural Pangkalan TNI AU Maimun Saleh yang didirikan sebagi usaha bersama bagi peningkatan kesejahteraan seluruh anggota Lanud Maimun Saleh. Sebagai salah satu organisasi sosial dibawah Lanud, Primkopau beranggotakan seluruh anggota yang berdinas di Lanud Maimun Saleh, dipimpin seorang Kaprimkopau yang dipilih oleh seluruh anggota dalam Rapat Anggota Tahunan. Sebagai pembina Primkopau adalah Komandan Lanud Maimun Saleh.

Primkopau melaksanakan kegiatan yang pada intinya adalah untuk peningkatan kesejahteraan seluruh anggota. Usaha-usaha yang dilaksanakan oleh Primkopau Lanud Maimun Saleh antara lain adalah Usaha Jasa Niaga yang menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi anggota dan keluarganya serta menyediakan berbagai perlengkapan yang sulit didapatkan anggota, karena Sabang merupakan daerah paling barat di Indonesia. Primkopau berusaha untuk memenuhi dan mengkordinir kebutuhan anggota dengan melaksanakan pengadaan barang melalui pesawat TNI AU ataupun sarana lain yang dapat dilaksanakan. Usaha lainnya yaitu usaha simpan pinjam bagi anggota Lanud MUS.

Sesuai dengan perkembangan Kota Sabang sebagai Free Trade and Free Port Zone, maka Kota Sabang memiliki kemudahan dalam melaksanakan export-import dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Dengan adanya peluang ini, Primkopau tidak tinggal diam dan Primkopau segera mengambil peluang dengan membuat APIU (Angka Pengenal Importir Umum). Sebagai badan usaha yang telah memilki APIU, maka Primkopau dapat memanfaatkan peluang ini dengan mengimport barang dari luar negeri maupun bekerjasama dengan pihak swasta untuk mengimport. Dengan adanya peluang ini SHU primkopau pada tahun 2003 meningkat sangat tajam apabila dibandingkan dengan SHU tahun-tahun sebelumnya.

Primkopau juga selalu berusaha mengembangkan usaha-usahanya dengan menangkap berbagai peluang yang dapat dilaksanakan sehingga usaha Primkopau Lanud Maimun Saleh semakin meningkat. Diharapkan dengan semakin berkembangnya Primkopau, maka kesejahteraan anggota Lanud Maimun Saleh dapat meningkat pula.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel