Pustaka

Selamat Datang F-16C/D-52ID: Petarung Baru TNI AU

Oleh 12 Agu 2014 Tidak ada komentar
Sukhoi Su-27
#TNIAU 

 

Selamat Datang F-16C/D-52ID: Petarung Baru TNI AU

Foto-foto: Dok. TNI AU

Penantian dua setengah tahun pesawat tempur F-16C/D untuk menambah kekuatan F-16A/B Skadron Udara 3 TNI Angkatan Udara terjawab sudah ketika tiga unit F-16C/D-52ID tiba di Lanud Iswahjudi setelah diterbangkan dari Hill AFB, Utah, Amerika Serikat bulan lalu. Pesawat ini merupakan bagian pertama dari pengadaan 24 F-16C/D dengan sandi “Peace Bima Sena II” melalui program Foreign Military Sales (FMS) yang ditandatangani Pemerintah Indonesia 2012. Setelah tiga unit pertama, F-16C/D berikutnya akan diterbangkan ke Indonesia secara bertahap hingga selesai pada akhir 2015. Apa saja keunggulan F-16C/D-52ID yang membuatnya jadi petarung baru TNI AU yang dapat mengungguli F-16C/D Block 52? Berikut diuraikan Kolonel Pnb Agung “Sharky” Sasongkojati dan Roni Sontani.

 

Beragam pertanyaan muncul sejak kajian terhadap penawaran hibah 24 pesawat tempur F-16C/D dari Amerika Serikat kepada Indonesia mengemuka tahun 2010. Salah satunya mengapa Indonesia harus memilih hibah 24 pesawat F-16C/D bekas pakai AU AS (USAF) yang sudah teronggok dan harus dihidupkan serta di-upgrade terlebih dahulu, dengan biaya 600 juta dolar (terakhir meningkat jadi 750 juta dolar) AS? Bukankah masih banyak pilihan lain, termasuk membeli F-16 baru Blok mutakhir walau dengan unit lebih sedikit?

 

Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara pun melaksanakan kajian yang kemudian hasilnya telah dirumuskan melalui berbagai pertimbangan. Disebutkan, salah satu yang menjadi pertimbangan mengapa memilih 24 F-16C/D Block 25 adalah karena faktor kebutuhan jumlah dan kemampuannya setara yang bisa setara Block 52 bila di-upgradeterlebih dahulu. F-16 juga dinilai sebagai pesawat tempur yang memiliki kemampuan mumpuni dalam pertempuran udara ke udara maupun pertempuran udara ke darat.

 

Pesawat tempur terlaris ini digunakan oleh 28 negara dan hingga kini telah diproduksi hingga 4.500 unit. Kemampuannya telah teruji secara riil di berbagai medan pertempuran sejak 1991 saat digunakan AS dan sekutunya di Irak pada Operation Desert Stormhingga operasi militer di Afghanistan yang masih dilaksanakan hingga saat ini. Pesawat F-16 terbukti battle proven dengan segala macam operasional yang telah dilakoninya.

Silang pendapat dan polemik yang terus bergulir di berbagai media akhirnya selesai pada Oktober 2011 ketika Komisi I DPR RI yang membidangi Pertahanan dan Luar Negeri, mengetok palu menyetujui hibah 24 F-16 dari AS. “Alhamdulillah, Komisi I DPR sudah menyetuji (pesawat hibah itu) akan di-upgrade ke Block 52 supaya menjadi versi terbaru,” kata Menhan Purnomo Yusgiantoro, 25 Oktober 2011.

 

Sebelumnya, Komisi I sempat menolak rencana Kementerian Pertahanan untuk menerima hibah pesawat tempur bekas ini. Komisi I menilai, meski harga 24 F-16 bekas itu setara dengan enam pesawat F-16 baru, namun biaya pemeliharaan pesawat bekas akan jauh lebih mahal.

 

Selain itu, dalam proposal awalnya, Kementerian Pertahanan menginginkan pemutakhiran (upgrade) F-16 dari awalnya Block 25 menjadi Block 32. Sedangkan Komisi Pertahanan menginginkan pemutakhiran pesawat dari Block 25 menjadi edisi terbaru Block 52.

 

Dan, pada 17 Januari 2012 kepastian Indonesia memilih hibah 24 F-16 dari AS itu akhirnya dilakukan dengan penandatanganan kontrak pengadaannya. Pesawat ini dihibahkan oleh AS sebagai bagian dari Excessive Defense Articles (EDA), sehingga pihak Indonesia secara kuantitas mendapatkan 24 pesawat F-16C/D Block 25 secara cuma-cuma. Namun, secara kualitas Pemerintah Indonesia tetap harus mengeluarkan biaya untuk upgrade dan refurbishsemua sistem yang ada di pesawat agar memiliki kemampuan mutakhir setara kemampuan avionik pada F-16C/D Block 52.

 

4 peningkatan

Paket pengadaan FMS yang dimaksud mencakup kegiatan training pilot dan teknisi, spare parttestersupport equipmentalternate mission equipmentJoint Mission Planning System (JMPS), Precision Measurement Equipment Laboratory (PMEL), dan perangkat Rack Mounted Intermediate Avionics Integrated System (RIAIS).

“Untuk meningkatkan kemampuan 24 pesawat F-16 C/D Block 25 bekas pakai USAF, maka terlebih dahulu dilaksanakan beberapa upgrade dan refurbish yang dalam bahasa teknis disebut regeneration dengan tujuan untuk mendongkrak kemampuan yang ada,” ujar Kadispenau Marsma TNI Hadi Tjahjanto, S.IP. Beberapa hal signifikan yang dimaksud, terurai sebagai berikut.

 

Pertama, Falcon Star atau Falcon Structural Augmentation Roadmap. Program ini terkait dengan penguatan struktur pesawat sehingga masa usia pakai pesawat bisa digunakan secara maksimal hingga mencapai 10.800 EFH. Ke-24 pesawat yang dihibahkan, telah disimpan selama 4-5 tahun di AMARG (Aerospace Maintenance & Regeneration Group), Davis Montana AFB. Pesawat kemudian di-re-assembly dan selanjutnya dikirimkan ke 309th Maintenance Wing, Hill AFB. Kegiatan yang dilaksanakan di tempat ini meliputi pengecekan, perbaikan, dan peningkatan kondisi struktur pesawat secara detail dan menyeluruh. Dengan demikian meskipun menggunakan rangka “bekas” namun pesawat-pesawat ini masih bisa digunakan untuk menjaga kedaulatan bangsa di udara dalam jangka waktu yang cukup lama.

 

Kedua, Avionic Upgrade. Program ini mencakup penggantian semua sistem avionik F-16 Block 25 menjadi setara Block 52. Penggantian yang paling menonjol dan mampu meningkatkan kemampuan dalam hal air superiority secara signifikan adalah digunakannya Radar APG-68 yang memiliki cakupan hingga 184 nm (296 km) dan softwarepersenjataan yang mampu menembakkan rudal AMRAAM (Advanced Medium Range Air To Air Missile). Hal lain yang cukup penting adalah penggunaan Modular Mission Computer (MMC) sebagai sistem komputer yang mampu mengintegrasikan semua jenis senjata mutakhir pada F-16.

 

Sumber: //angkasa.co.id

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel