Koopsau 1

Semplak Selayang Pandang (halaman 1)

Oleh 13 Nov 2010 Tidak ada komentar
9b842766a265b99c2bf19666b186f743
#TNIAU 

SEMPLAK SELAYANG PANDANG
 
Semplak dikenal dahulu sebagai nama salah satu Pangkalan Udara. Nama ini di pakai sejak masa penjajahan kolonial Belanda, penjajahan Jepang serta masa kemerdekaan. Mulai tahun 1966 nama Pangkalan Udara Semplak diganti namanya menjadi Pangkalan TNI Angkatan Udara Atang Sendjaja.

Tahukan para pembaca apa itu Semplak ?. Menurut tokoh-tokoh masyarakat di sekitar daerah ini, Semplak itu berarti somplak atau terpenggal. Kampung Semplak merupakan penggalan wilayah atau sisa wilayah Desa Bantar Kambing.
“Semplak itu artinya tanah sisa, dahulu Semplak termasuk wilayah Bantar Kambing” jelas bapak Nohen (83 Th) warga kampung Bojong Sompok, Ranca Bungur menjelaskan kepada penulis. Menurut mantan pejuang ini tanah-tanah di sekitar Semplak banyak ditinggalkan pemiliknya karena mereka trauma dan ketakutan diintimidasi para penjajah.
 
Ketika ditanya tentang para penjajah, kebanyakan para sesepuh di sekitar wilayah Semplak lebih senang ketika pendudukan tentara Jepang dibandingkan dengan ketika masih dalam pendudukan tentara Belanda. “Belanda di wilayah kami kejam dan ganas, tetapi Jepang tidak seganas Belanda. Mungkin ini semua juga berkat do’a kami dan para ulama di sini. Kami selalu memanjatkan do’a kepada Gusti Allah agar pengganti Belanda tidak sekeji mereka dan pendudukannya juga tidak terlalu lama”, seru Haji Sanusi (82 Th) salah satu sesepuh kampung Babakan Asli, Cimulang, Ranca Bungur. Haji Sanusi juga salah satu pejuang dan bahkan ia menyaksikan langsung jatuhnya pesawat Belanda yang ditembak oleh pesawat-pesawat Jepang, ketika berlangsungnya pertempuran merebutkan Pangkalan Udara Semplak.
 
Lahan-lahan disekitar wilayah Semplak merupakan persawahan tadah hujan milik pribumi. Hasil panen padinya melimpah ruah dan bahkan menjadi komoditi utama bagi daerah ini yang letaknya berbatasan dengan Parung. Awalnya Kolonial Belanda turut berpatisipasi dengan mengatur perairannya, tetapi setelah melihat begitu hebatnya hasil panen masyarakat berubahlah kebijaksanaanya yaitu dengan mengharuskan masyarakat membayar pajak penghasilan yang tinggi. “Karena tidak sanggup, masyarakat terpaksa mengandalkan turunnya hujan, tetapi Belanda terus mengejarnya dengan peraturan-peraturan lain” Jelas Haji Sanusi. Teror demi teror menghantui masyarakat yang mengakibatkan masyarakat menjadi trauma. Masyarakat yang sadar akan eksistensinya sebagai manusia merdeka kemudian bergabung dengan para pejuang untuk melawan sepak terjang Belanda dengan konsekuensi ditinggalkannya lahan-lahan persawahan milik mereka.

Mengetahui hal tersebut maka pihak Belanda menguasai lahan persawahan yang subur itu. Masyarakat yang masih menetap dijadikannya sapi perahan untuk mengelola lahan-lahan persawahan.
Seperti hal nya dengan wilayah lain, wilayah di sekitar Semplak seperti antara lain; Ranca Bungur, Cimulang, Bantar Kmbing, Parung dan Lebak Wangi habis pula dilalap keganasan penjajahan Belanda. Tak ayal kegetiran masyarakat menghadapi penjajah Belanda membuat masyarakatr angkat senjata melakukan perlawanan. Semangat berjuang masyarakat begitu menggelora, karena itu walaupun hanya bermodalkan bambu runcing dan senjata tajam ala kadarnya mereka yakin kebebasan dalam bentuk kebebasan yang hakiki di tanah air tercinta ini pasti akan tiba.
 
“Semangat juang kami tidak pernah pudar. Kami sadar betul bahwa kami tidak berjuang sendiri, karena di belakang kami beribu-ribu do’a menghantar perjuangan kami yaitu doa-doa dari saudara-saudara kami yang terhina dan menderita, serta doa-doa dari para alim ulama”. Seru Haji Sanusi sambil mengenang masa mudanya dahulu.
 
Semplak menurut pejuang local itu seperti bapak Nohen, H Sanusi, bapak Amad dan bapak Anggal mempunyai arti sendiri dalam perjuangan mereka. Seperti misalnya sama saja Nohen yang sekarang bekerja sebagai petani ini. Bapak tiga anak itu pernah ditugaskan menarik meriam pertahanan udara milik Jepang yang dibawanya mulai dari Ciampea-Ranca Bungur, Bantar Kambing menuju Semplak. “Saya dan beberapa teman saya dipaksa mengerjakannya dan Alhamdulillah di beri upah sepicis“,serunya yang disetujui dua kawan seperjuangannya waktu itu yaitu Amad dan Anggal.
 
Masyarakat disekitar daerah ini seperti kebanyakan masyarakat di daerah Indonesia lainnya, pada awalnya tidak mengetahui kedatangan tentara Jepang juga sebenarnya akan menjajah negeri ini. Taktik Jepang menarik simpati masyarakat memang jitu. Jepang pada mulanya memberikan perhatian penuh kapada masyarakat pribumi. Sebut saja tuan Kanai yang menduduki sebagai koordinator tuan tanah setelah wilayah Ranca Bungur di rebut dan dikuasai Jepang. Tuan Kanai penuh inovatif mengembangkan perkebunan masyarakat. Tuan Kanai banyak memperkenalkan jenis-jenis tumbuh-tumbuhan yang potensial yang menguntungkasn masyarakat.

Lahan persawahan banyak disulap menjadi perkebunan teh, kemudian disulap lagi menjadi perkebunan karet, seperti yang masih dapat kita lihat sekarang ini di daerah Cimulang. Sekarang lokasi perkebunan tersebut masuk dalam pengelolaan PT Perkebunan VIII Cimulang, Bogor, Jawa Barat. “Sampai saat ini masih banyak buruh tani yang tadinya menggantikan kedudukan para orang tua nya pada waktu tuan Kanai masih berkuasa”, jelas Haji Sanusi salah satu mantan buruh tani tuan Kanai.
 
Masa penjajahan Belanda-Jepang sebenarnya membawa dampak sama saja. Pengecualian yang diutarakan sebagian para tokoh-tokoh masyarakat tersebut dikarenakan kedekatan Jepang dengan rumpun Asia. Awal kedatangannya bangsa matahari terbit itu mepropagandakan dirinya sebagai ‘Penyelamat Asia’ dari imperialisme negara barat khususnya Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Portugis dan Belanda. Jepang menyebut dirinya sebagai ‘saudara tua’ yang segera membebaskan penderitaan bangsa-bangsa di Asia-khususnya Asia Tenggara dari cengkeraman kuku penjajahan Sekutu. Tetapi pada akhirnya kenyataannya Jepang juga berperilaku sama terhadap setiap negara yang diduduki nya pada masa itu, seperti Indonesia ini. “Setali tiga uang”, kalimat yang tepat untuk mengatakannya.
 
Saksi sejarah lokal di sekitar wilayah Semplak juga bercerita tentang kondisi landasan udara yang cukup terkenal pada masa dahulu itu. Bapak Arnali (84 Th) mantan buruh perkebunan Cimulang yang tinggal di Kampung Bubud Legok salah satu kampung di sekitar Gunung Bubud mengatakan bahwa dalam penguasaan Belanda Semplak masih berupa landasan udara yang dibuat dari pengerasan tanah persawahan. Pembuatannya dikerjakan oleh masyarakat sekitar Semplak dengan sistem kerja paksa. “Landasannya dari tanah yang dikeraskan” tuturnya.
 
Pada masa penguasaan Belanda di Semplak belum banyak fasilitas yang dibangun. Menurut sesepuh masyarakat disini, pada masa Belanda di samping Landasan Udara juga dibangun sebuah hangar untuk menyimpan beberapa pesawat (sekarang disebut hanggar lengkung). Adapun kekuatan pesawat Belanda saat itu tidak kurang dari 4 sampai 5 pesawat saja, “Kami sering melihat pesawat mereka terbang mengelilingi wilayah kami, penumpangnya terkadang dua orang “, jelas Nohen, Amad, Anggal, Sanusi dan Arnali ketika diminta merinci pesawat yang dimaksud.
 
Tokoh masyarakat tersebut juga menyebutkan pesawat-pesawat Belanda yang dimaksud tidak begitu bersuara keras, terkadang terlihat seperti melayang di Udara, sambil berputar-putar mengelilingi daerah sekitar Semplak, Sepeti Bantar Kambing, Cimulang, Rancabungur, Parung Panjang, Lebak Wangi. “Suaranya mendengung seperti pesawat mainan sekarang”, jelas bapak Nohen.
 
Aktivitas penerbangan rutin dilaksanakan pada pagi hari dan kemudian dilanjutkan menjelang waktu sholat Ashar. “Pada jam-jam tersebut sepertinya Belanda tengah mengontrol kegiatan masyarakat di sekitar Sempak dari Udara”, tambahnya. Pesawat Belanda menjadi ‘momok’ masyarakat pribumi. Jangankan melihat dari dekat, mendongakkan kepala saja ketika pesawat tersebut melintas di atas rumah-rumah mereka dianggap suatu dosa yang dihindari.
 
“Kalau pesawat itu terbang, maka sirine meraung-raung dan seluruh
masyarakat tidak boleh melihatnya”, seru Arnali yang pernah sekali-kali mencuri pandang untuk melihatnya.
 
Seperti yang diutarakan sebelumnya, Semplak memang sejak dahulu sudah dikenal. Di Semplak di samping terdapat landasan Udara juga terdapat sebuah pasar yang ramai dikunjungi masyarakat pribumi. Pasar itu bernama pasar Semplak. Adapun lokasi pasar yang dahulu, kini telah berubah menjadi lapangan tennis dan beberapa blok perumahan komplek Lanud Atang Sendjaja. Pasar yang menjadi tempat ‘kongkow-kongkow’ masyarakat kala itu, juga sering dijadikan tempat persinggahan upacara keagamaan masyarakat Cina di sekitar Ciampea, Ranca Bungur dan lainnya.
 
“Ogoh-ogoh (patung besar dari kertas) dan topekong diarak dari Ciampea sampai pasar Semplak biasanya ada pada hari keramat Cina”, ugkap Arnali yang sering meyaksikannya. Di sekitar areal pasar itu tumbuh sebuah pohon yang sampai saat ini melegenda bagi masyarakat asli sekitarnya. Untuk mengenang pohon tersebut, di sekitar Semplak terdapat jalan kampung yang diberi nama jalan Caringin.
 
Pohon Caringin sebenarnya sama juga dengan pohon Beringin. Berdaun rindang, berbatang besar yang merupakan kumpulan dari akar-akarnya yang menjulur ke bawah dan kemudian menempel ke akar lainnya sampai membentuk batang. Begitu rindangnya pohon itu, sehingga sangat diminati masyarakat Semplak untuk sekedar berteduh sambil bersenda gurau, menghabiskan waktu. Pohon Caringin yang diceritakan itu kini telah ditebang dan untuk sekedar mengenangnya dinas pertamanan kota Bogor menanamnya kembali dipertigaan Tugu Heikopter. Banyak cerita yang terjadi di bawah pohon Caringin ini mulai dari cerita asmara, horor dan sebagainya.

Pertempuran Udara Sehari

Saksi-saksi sejarah umumnya menceritakan bahwa tentara Belanda bertekuk lutut kepada tentara Jepang dalam memperebutkan landasan Udara Semplak hanya memerlukan waktu sehari. Rencana kedatangan Jepang jauh-jauh hari telah diperhitungkan oleh pihak Belanda. Guna mengantisipasi kedatangan Jepang itu, pihak Belanda memerintahkan masyarakat agar membuat sebanyak-banyaknya lubang perlindungan . “Di samping rumah saya ini ada lubang bekas pelindungan, tetapi sekarang telah tertimbun tanah”, kata Arnali sambil menunjukan lokasi yang dimaksud. Selain lubang perlindungan untuk mengatisipasi serangan Udara Jepang, Belanda juga mengajarkan bagaimana seharusnya yang dilakukan masyarakat jika serangan udara tersebut datang. “Salah satunya kami diperintahkan untuk menggigit karet agar tidak takut”, tambahnya.
Serangan udara Jepang dilakukan dari bukit Menir, yaitu salah satu bukit yang ada di sekitar Gunung Bubud (berjarak hanya beberapa kilometer dari landasan). Serangan dilakukan pada hari Kamis sekitar jam sebelas siang. “Mungkin sekitar pertangahan bulan Oktober 1942 terang H. Sanusi meyakinkan.
 
Pesawat-pesawat Jepang yang berjumlah kurang lebih tiga buah tersebut melintas membentuk formasi bertingkat. Sesampainya di dekat landasan pesawat tersebut berpencar sambil menembakkan senjata udara. Sebuah pesawat Belanda mengejar pesawat itu dan terjadilah pertempuran udara yang mengakibatkan pesawat Belanda tertembak dan terbakar. “Pesawat Belanda yang tertembak itu mencoba menyelamatkan diri menuju Setu Cimulang, tetapi naas tidak dapat dihindari pesawat jatuh di persawahan milik paman saya Haji Zainudin, penerbang dan pesawatnya habis terbakar tanpa dapat ditolong”, tutur H. Sanusi.
 
Mungkin diakibatkan trauma yang berkepanjangan, maka masyarakat yang melihat kejadian tersebut tidak melakukan pertolongan. “Kita takut lihat dari dekat, habis dulu ‘kan Belanda galak-galak” tambah H Sanusi yang ketika kejadian itu sedang duduk-duduk di samping rumahnya yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari lokasi kejadian. Pesawat yang digunakan Jepang untuk menyerang kedudukan Belanda di Pangkalan Udara Semplak menurut para saksi sejarah ini mempunyai sayap ganda, sedangkan pesawat Belanda yang tertembak tersebut kemungkinan besar dari jenis Auser Mark.
 
Bunyi sirene tanda adanya serangan Udara meraung-raung, membuat masyarakat menjadi kalang kabut. Sesaat berbagai aktivitas mendadak terhenti karena banyak orang yang menyelamatkan diri ke segala tempat yang dianggap aman termasuk bersembunyai di ‘bunker-bunker’ perlindungan. Sepi dan sedikit lengang suasana di sekitar wilayah Semplak saat itu, yang ada terlihat beberapa tentara Belanda hilir mudik menyelamatkan peralatan-peralatan tempurnya. “Belanda memang licik, pesawat-pesawatnya sebenarnya banyak diungsikan di jalan-jalan sekitar Semplak”, ungkap Sanusi.
 
Di dalam landasan itu sendiri, Belanda menempatkan dengan sedimikian rupa pesawat-pesawat tiruan yang terbuat dari kayu dan bilik bambu guna mengelabui Jepang. Pada kenyataannya Jepang terkecoh juga. Karena pada masa itu belum diciptakan kamera pemantau sasaran yang canggih,mengakibatkan Jepang hanya mengandalkan ‘teleskop’ manual untuk melihat lokasi yang dijadikan ajang pertempuran.
 
Jepang dengan penuh semangat memuntahkan peluru-peluru tajamnya dari Udara untuk menghabiskan pesawat Belanda yang sebetulnya telah diungsikan tadi. Menyaksikan yang diserang itu ternyata pesawat tiruan, maka Jepang sangat marah dan kemudian menyisir lokasi sekitar Semplak.
 
Ketika asyik berpatroli, tiba-tiba tentara Jepang dikejutkan dengan kehadiran sebuah pesawat Belanda dari arah belakang yang langsung menembaki pesawat-pesawat Jepang itu. Pesawat Jepang mengambil inisiatif berpencar yang kemudian akhirnya dapat merontokkan pesawat Belanda dan kemudian jatuh di Setu Cimulang.
 
Jatuh dan terbakarnya pesawat Belanda di sekitar Setu Cimulang membuat panik masyarakat sekitar. “Tidak ada satupun warga yang berani menampakkan diri, semuanya menutup pintu rumah”, tutur Sanusi. Para buruh karet yang kebanyakan warga sekitar berhamburan kembali ke rumahnya masing-masing guna menyelamatkan diri dari pada harus menanggung resiko kalau dimintai keterangannya sebagai saksi jatuhnya pesawat Belanda di wilayah mereka.
 
“Di jendela rumah saya sempat mengintip ada dua orang Belanda yang datang ke lokasi jatuhnya pesawat itu dan merekapun tidak lama, beberapa menit kemudian segera bergegas meninggalkannya”, ungkap Sanusi. Perlawanan Belanda berakhir dengan begitu saja setelah menyaksikan kepiawan tentara Jepang , maka Belanda dan kaki tangannya berangsur-angsur hengkang dari Semplak, sampai akhirnya tentara Jepang benar-benar menguasai penuh landasan Udara ini pada sekitar awal bulan November 1942.
 
Masyarakat bergembira menyambut kemenangan Jepang dan Jepang itu sendiri masih ‘malu-malu kucing’ untuk memperlihatkan dirinya sebagi penguasa tunggal.
 
Adapun langkah awal dalam masa peguasaannya, Jepang segera melatih pemuda-pemuda untuk dijadikan tentara-tentara bayangannya. Semua diciptakanya untuk membentuk ‘tameng’ atau tembok yang kuat selama masa pendudukannya di wilayah Semplak. Beberapa kegiatan warga yang terbelenggu pada masa Belanda berkuasa, seperti misalnya mengaji (membaca Al Qur’an), berceramah, serta lainnya, diberikan kelonggaran oleh Jepang.
 
Masyarakat sangat bersyukur dengan adanya kesempatan melaksanakan aktivitas tersebut, walaupun pada kenyataan akhirnya mereka juga sangat tersiksa oleh kuku penjajah Jepang, yang seperti kita ketahui bersama biarpun relatif singkat tetapi mampu membuat tidak berdaya seluruh lapisan masyarakat kita, dan bahkan terkadang lebih bengis dan ganas dibandingkan penjajah Belanda.

 

Halaman 2

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel