Koopsau 1

Semplak Selayang Pandang (halaman 2)

Oleh 13 Nov 2010 Tidak ada komentar
Semplak Selayang Pandang (halaman 2)
#TNIAU 

Pak Bilik yang Rajin

Sejak landasan udara dibuat Belanda, ada seorang pemuda local yang dipekerjakan untuk membantu kegiatan penerbangan, namanya pak Bilik. Saksi-saksi sejarah mengatakan bahwa Pak Bilik itu adalah salah satu warga masyarakat yang tinggal di kampung Bondol yang tidak jauh dari Lanud Atang Sendjaja. Pak Bilik diberikan tanggung jawab untuk membuat asap di pinggiran landasan setiap pesawat Belanda akan take off maupun landing.
 
Asap yang dibuat Pak Bilik digunakan untuk menentukan arah angin yang berhembus pada hari itu, sehingga pesawat dapat dengan mudah menentukan sudut terbang dan mendaratnya. Nama Bilik merupakan julukan yang diberikan kepada pemuda Bondol itu, karena disamping sebagai ahli membuat asap ia juga dipercaya Belanda untuk membuat pesawat tiruan dari bilik bambu dalam rangka mengantisipasi serangan udara Jepang.
 
Pak Bilik sampai saat ini sudah tidak diketahui lagi keberadaannya selepas hengkangnya Belanda dari Semplak. “Ada yang bilang ia di boyong ke Belanda ke Negeri leluhurnya”, seru Pak Amad. Pak Bilik merupakan pekerja yang setia yang setiap harinya selalu melintasi kober (kuburan Cina). Pergi selepas Subuh dan kembali setelah azan Magrib berkumandang dengan lentera yang selalu dibawanya. Kober (kuburan Cina) yang dimaksud kini telah berubah menjadi bangunan STM Penerbangan “Angkasa” milik Yasarini Lanud Atang Sendjaja. Kober itu diperuntukkan untuk memakamkan jenazah warga masyarakat Cina yang tinggal di sekitar Ciampea, Ranca Bungur,

Bantar Kambing, Semplak, Kemang dan Parung Panjang. Itulah salah satu alasan mengapa arak-arakan ogoh-ogoh dan tapekong masyarakat Cina yang menyemarakan acara hari besarnya bisa sampai ke Semplak. Ditinjau dari cerita ini dapat disimpulkan bahwa pada masa lalu pola hubungan pergaulan dan persahabatan antar masyarakat pribumi yang mayoritas muslim dengan masyarakat yang penganut agama maupun kepercayaan lainnya, tampak akrab dan penuh toleransi.
 
“Sejak dulu kami hidup dalam kebersamaan dengan masyarakat pribumi lainnya. Kami saling mengisi dan saling membantu, sehingga jarang terdengar konflik diantara kami dalam pergaulan sehari-hari”, kata Pak Benny, mantan anggota Pasukan Gerak Tjepat (PGT/sekarang Korpaskhasau), yang kebetulan masih berdarah keturunan masyarakat Cina yang tinggal di Gang Mangga yang bertetangga dekat dengan Komplek Blok H-2 Lanud Atang Sendjaja.

Keluarga Pak Benny dan masyarakat keturunan Cina lainnya sangat berperan aktif dalam meningkatkan perekonomian lingkungan Semplak terutama dalam penyediaan sembilan bahan pokok (sembako). Masyarakat keturunan Cina mayoritas berperan sebagi pedagang yang membuka warung-warung kelontongnya terutama di pasar Semplak pada masa lalu, sedangkan masyarakat pribumi kebanyakan berprofesi sebagai petani yang mengandalkan kesuburan sawahnya dari turunnya air hujan. Walaupun Belanda mengurangi jatah pengairan untuk persawahan milik masyarakat, sawah-sawah yang terbentang luas tetap dapat memproduksi padi dengan baik, karena curah hujan yang membasahi bumi Semplak rutin datang mengunjungi. Inilah salah satu kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa atas umat-Nya yang tertindas dan terjajah saat itu.

Dikuasai Republik

Dikuasainya landasan udara Semplak oleh para pejuang kemerdekaan tidak lepas dari cerita sejarah perjuangan rakyat Bogor dalam menghadapi penjajah. Dalam usaha mencapai kemerdekaan rakyat Jawa Barat, termasuk Bogor telah menukar cara perjuangan lama dengan cara perjuangan baru yaitu dalam bentuk pergerakan-pergerakan.
 
Dalam tulisannya yang berjudul “Sebuah Setudi Sedjarah Sekitar Lahirnya Divisi Siliwangi Pada Tanggal 20 Mei 1946”, yang dibahas dalam Seminar Sedjarah Nasional II, tanggal 26-29 Agustus 1970, Didi Surjadi, mengemukakan bahwa selepas kekalahan Jepang pada tentara Sekutu yang berdampak akan kembalinya Belanda melanjutkan kekuasaannya, membangkitkan kesadaran rakyat Jawa Barat khususnya Bogor untuk menyiapkan perjuangan bersenjata. Oleh karena itu rakyat Jawa Barat khususnya para pemuda baik dalam jumlah kecil maupun perorangan dengan susah payah masuk dalam pendidikan militer seperti pendidikan KMA, Breda, Coro dan Hogere Krigschool, yang telah dibuka guna mengantisipasi bayangan perang dunia ke II. Diantara pemuda-pemuda

tersebut terdapat nama-nama antara lain Didi Kartasasmita, R.M.A Rachmat Kartakusumah, A.H Nasution dan Suryadi Suryadarma. Para pemuda itu kelak dikemudian hari mempelopori perjuangan bersenjatapada awal revolusi di Jawa Barat.
 
Seorang tokoh sejarah Gatot Mangkupraja jauh-jauh hari pada masa Jepang telah mengantisipasi hal tersebut. Pemuda itu menuntut dibentuknya Tentara Pembela Tanah Air (PETA), yaitu pada tanggal 3 Oktober 1943. Jepang menyetujuinya dan keluarlah ‘Osamu Seirei No.44’, yang mendasari terbentuknya PETA. Setelah PETA terbentuk, maka dimulai dibuka pendidikan ketentaraan “Seinendodjo” di Tangerang dan kemudian dilanjutkan di Bogor. Adapun pemuda-pemuda yang dilatih di Bogor meliputi Gatot Mengkupraja, Arudji Kartawinata, Sukanda Bratamanggala, Kasman Singodimedjo dan Muljadi Djojomartono. Disamping PETA dibentuk pula Seinendan, Keibodan, Barisan Pelopor, Fidjinkai, Hisbullah, Suisintai dan Heiho. Semuanya dalam rangka persiapan untuk perjuangan di bidang bersenjata menyongsong dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, seluruh rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Bogor merasa berkewajiban mempertahankan keutuhannya. Dalam rangka upaya mempertahankan itu pada tanggal 2 September 1945 di bentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) propinsi Jawa Barat bersama dengan badan Keamanan Rakyat (BKR) nya. Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945 menyempurnakan BKR dengan membentuk atau mengadakan Markas Tinggi Komandemen yang meliputi 3 Divisi yaitu ; Divisi I untuk Bogor dan Banten, Devisi II untuk Jakarta dan Cirebon, serta Divisi III untuk Priangan.
 
Pembinaan teritorial dan pembentukan pemerintahan militer oleh Pemerintah RI di Keresidenan Bogor baru dapat dilaksanakan pada bulan Juli 1949 yaitu dengan ditunjuknya Letnan Kolonel Kosasih sebagai Komandan Miliiter Daerah IV (KMD IV) oleh Panglima Divisi Siliwangi. Secara garis besar menurut Mayor Djenderal A.H. Nasution, dalam bukunya berjudul “TNI” yang diterbitkan Jajasan Poestaka Militer, Djakarta, 1956, Djilid 1, halaman 139 dan 140, disebutkan bahwa di Jawa Barat setelah itu di susun kurang lebih 15 Resimen untuk menjaga wilayah Jawa Barat.
 
Kelimabelas resimen tersebut yaitu Resimen I, dipimpin Kiyai Samaun, menguasai daerah Banten. Resimen II, dipimpin Husein Sastranegara (Bogor). Resimen III, Edy Sukardi (Sukabumi), Resimen IV, Singgih (Tanggerang). Resimen V, Mufraeni (Cikampek), Resimen VI, Sumarna (Purwakarta), Resimen VII, Sapari (Cirebon), Resimen VIII, Omon Abdurachman (Bandung). Resimen IX, Ganda Widjaja (Padalarang). Resimen X, Punto Sukawidjaja (Garut). Resimen XI, Sofyan Iskandar (Tasikmalaya). Resimen XII, Sumarno (Jatiwangi). Resimen XIII, Umang (Sumedang). Resimen XIV, Letkol Djaja Rukmantra (Rangkasbitung) dan Resimen XV, Mayor Abdullah Saleh (Bandung). Semplak yang merupakan bagian dari Bogor secara khusus termasuk dalam pengawasan Husein Sastranegara yang memegang jabatan sebagai Komandan Resimen II.
 
Kehadiran kembali Belanda telah menyulut semangat kebersamaan dan kekompakan seluruh komponen masyarakat Bogor yang sudah tidak ingin lagi menderita akibat kekejaman penjajahan. Kekacauan timbul silih berganti merongrong kewibawaan Belanda yang membuat mereka kewalahan menghadapinya. Seperti misalnya di Semplak yang diaktifkan Belanda kembali sebagai salah satu basis kekuatan untuk mempertahankan kedudukannya di Bogor, sehingga aktifitas pesawat Auster Skadron ke-enam yang ber-home base di sini terancam. Menghadapi hal tersebut landasan Semplak mendapat penjagaan ekstra ketat, dengan konsekuensi masyarakat sekitarnya menjadi semakin trauma dan ketakutan.
 
Melihat situasi Bogor semakin meruncing dan memanas, Pemerintah
Daerah Bogor segera membentuk Dewan Bersama Daerah untuk mengurus pelaksanaan penghentian permusuhan, sebagai tindak lanjut apa yang dilakukan Pemerintah Pusat. Dewan ini bertugas untuk menampung semua persoalan untuk di bahas oleh kedua belah pihak (Belanda dan perwakilan masyarakat).
 
Keresidenan Bogor dengan wilayahnya Kota Bogor, Kabupaten Bogor (tanpa kewedanan Jasinga dan Bogor Timur), Kabupaten Sukabumi dan Cianjur diketuai Mayor Taswin Yang dalam melaksanakan tugasnya di Dewan tersebut dibantu oleh antara lain : Mayor R.S. Kosasih, Mayor Kemal Idris, Kapten Ulamat Kusumah, Letnan Dua Utut Zainuddin, Bupati Ipik Gandamana, Kepala Jawatan Penerangan R.I. Keresidenan Bogor Mohamad Nazir, serta Kepala Jawatan Penerangan Kota Bogor A. Rahman. Di pihak Belanda diwakili Overste Jansen dan Major Pot. Tugas Dewan Bersama Daerah ini cukup efektif menekan permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat sampai hengkangnya kembali Belanda dari tanah air dan Pangkalan Semplak dapat dikuasai sepenuhnya lagi, oleh para pejuang Kemerdekaan Indonesia (TKR).
 
TKR sesuai isi Maklumat Pemerintah R.I. No. 6 tanggal 5 Oktober 1945 harus bertanggungjawab atas seluruh ketertiban dan kemanan Negara baik dari Darat, Laut dan Udara. Sejalan dengan hal itu maka seluruh Pangkalan-Pangkalan Udara yang telah di rebut dari Jepang berada dalam penguasaan TKR yang mewilayahi pangkalan tersebut dan selanjjutnya di serahkan kepada

Markas Besar Umum di bidang penerbangan, sesuai Keputusan Konperensi Besar TKR seluruh Indonesia yang dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 12 Nopember 1945.
 
Penyerahan pertama dilakukan oleh Panglima Divisi Yogyakarta Kolonel R.P. Sudarsono pada tanggal 17 Desember 1945. Pada tanggal itu secara resmi Pangkalan Udara Maguwo beserta segenap personel dan materiil penerbangan diserahkan kepada Markas Besar Umum di bidang penerbangan. Setelah Maguwo diserahkan, selanjutnya Panglima Divisi lainnya juga menyerahkan Pangkalan-Pangkalan Udara dalam teritorialnya kepada Markas Besar Umum di bidang penerbangan termasuk dalam hal ini Pangkalan Udara Semplak.
 
Setelah melaksanakan perjuangan bersenjata yang berat maka akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia. Pengakuan tersebut tepatnya dilakukan Belanda pada tangghal 27 Desember 1949, yaitu dengan ditandatanganinya hasil perundingan Konfrensi Meja Bundar di Den Haag Belanda. Hasil konferensi itu baik secara de facto maupun de jure menyebutkan berakhirnya masa kolonial Belanda di Indonesia, yang kemudian kedaulatan R.I tersebut diakui secara internasional.
 
Dari hasil keputusan KMB kemudian dilanjutkan dengan penyerahan wewenang baik sipil maupun militer oleh pihak Belanda kepada bangsa Indonesia. Khusus di Pangkalan Udara Semplak, pada tanggal 20 Maret 1950, Belanda telah menyerahkan beberapa pesawatnya dari jenis Auster Mark bermotor tunggal X 130 pk Gipsy Majoor warisan dari 6e Artilery Verkenning Afdeling (ARVA) Skadron ke enam Luchtvaart Militaire Nederland untuk dioperasikan AURI.
 
Pesawat-pesawat yang telah diserahkan itu tidak seluruhnya berada dalam kondisi siap pakai, dimana perbaikan-perbaikan di sana-sini terpaksa dilakukan oleh teknisi-teknisi lokal kita pada masa itu. Walaupun hanya bermodalkan keahlian sekedarnya, teknisi kita mampu mengaktifkan kembali pesawat-pesawat tersebut sehingga dapat kita terbangkan lagi. Begitulah kenyataan dari loyalitas dan tanggung jawab yang muncul pada diri para pelopor AURI, telah mampu membuahkan hasil yang sangat dibanggakan. Dengan dilandasi semangat pantang menyerah dan kesetiakawanan yang tinggi mereka mampu menghasilkan karya terbaiknya demi perkembangn AURI yang kita cintai bersama, yang semuanya patut kita hargai dan lestarikan bersama.
 
Penyerahan itu juga sesui hasil keputusan rapat Staf Angkatan Perang tanggal 25 Mei 1950, yang dituangkan dalam Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Perang No. 023/P/KSAP/1950, memutuskan antara lain bahwa lapangan terbang serta bangunan-bangunan yang termasuk lapangan dan alat-alat yang berada dilapangan sungguh-sungguh diperlukan untuk memelihara lapangan-lapangan tersebut menjadi milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Dalam rangka itu untuk menyelenggarakan hal tersebut di atas diadakan kerja sama yang erat antara Dinas Bangunan Tentara dan Jawatan Teknik Umum Angkatan Udara Republik Indonesia.

Skadron Udara Pertama Dibentuk

Setahun setelah penyerahan aset Belanda di Pangkalan Udara Semplak, maka sesuai pengumuman Kasau Nomor: 28/11/Peng/KS/51 tangga 21 Maret 1951, di Pangkalan Udara Semplak dibentuklah Skadron Udara 4 yang mengoperasikan pesawat Auster peninggalan Belanda tersebut.
 
Dalam buku Perkembangan Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdurahman Saleh Malang 1945-2000, halaman 75-79, disebutkan bahwa Skadron Udara 4 merupakan skadron bantuan bagi pasukan di darat untuk mengintai dan menuntun penembakan senjata arteleri. Skadron ini mulanya terdiri dari pesawat-pesawat Auster Mark bermotor tunggal X 130 dk Gipsy Majoor (Inggris), warisan dari 6e ARVA (Artillery Verkenneing Afdeling),Skadron ke enam dari Luchtvaart Militaire Nederland. Penyerahan skadron dilakukan pada tanggal 20 Maret 1950 di Pangkalan Udara Semplak (sekarang Pangkalan TNI Angkatan Udara Atang Sendjaja) Bogor dari Luchtvaart Militaire Nederland. Berhubung semua anggota 6e ARVA Skadron adalah orang-orang Belanda, sehingga pada waktu penyerahan tidak ada yang mau masuk AURI. Sebagai konsekuensi tersebut maka Skadron ini dibangun dengan kekuatan inti dari mantan anggota Pangkalan Udara Gorda Banten, terutama dari anggota teknik dan penerbang.
 
Selain para teknisi dan penerbang dari Pangkalan Udara Gorda, perkembangan selanjutnya di Skadron Udara 4 ini juga telah ditempatkan penerbang lulusan SPL Kalijati (penerbang kelas III) antara lain; SMU Kasmoeri, SU Soempil Basoeki, SU Soedarman, SU Slamet Sutopo, SU Soetardjo, SU Soegianto, SU Walujo, SU Koesnidar, SU Maimoen Saleh, SU Abu Bakar, SU Moechtar dan SU Iskandar. Pada tahap transisi para penerbang tersebut mendapat latihan awal dengan pesawat Piper Cub minimal 70 jam terbang di Kalijati, selanjutnya diteruskan menggunakan pesawat Auster lebih kurang 40 jam terbang. Latihan terbang solo dan air work selama 15 jam terbang, terbang formasi selama 10 jam. Terbang instrumen 5 jam, sehingga setelah menyelesaikan latihan tersebut seluruh penerbang dapat menjadi penerbang kelas II.
 
Dalam catatan sejarah perjalanan pengabdiannya, Skadron Udara 4 walaupun relatif masih muda kala itu, telah mampu melakukan operasi militer, SAR dan pemotretan Udara. Tugas-tugas tersebut antara lain :

1. Pada tahun 1951 membantu pasukan TNI AD di Tasikmalaya, Indramayu, Cirebon dan Gunung Galunggung untuk menumpas gerombolan DI/TII S.M Kartosuwirjo.

2. Pada bulan Nopember 1951 berhasil menemukan pusat gerombolan (lebih kurang 1000 orang) di lereng Gunung Malabar.

3. Melaksanakan SAR dan penyebaran pamflet.

Sampai pada akhirnya sejak tahun 1958 Skadron Udara 4 Intai Darat tidak aktif lagi di jajaran TNI Angkatan Udara. Selama berada di Pangkalan Udara Semplak Skadron Udara 4 pernah melaksanakan beberapa kali poergantian Komandan Skadron antara lain :

1. Kapten Udara Suhodo (1951-1953)
2. Kapten Udara Makki Perdanakusuma (1953-1954)
3. Kapten Udara Bill Sukamto (1954-1956)
4. Kapten Udara Suyitno Sukirno (1956-1957)
5. Letkol Udara Suwoto Sukendar (1957-1958)

Seperti telah disebutkan ternyata bahwa Pangkalan Udara Semplak sebelumnya bukan merupakan ‘home base’ pesawat helikopter. Tetapi Semplak merupakan ‘home base’ pesawat Auster peninggalan Belanda. Pesawat yang menjadi kekuatan Skadron Udara 4 saat itu yang mempunyai tugas pokok untuk melakukan pengintaian dan penuntunan penembakan senjata artileri. Adapun pejabat Komandan Pangkalan Udara Semplak pada sat itu adalah Letnan Udara I Dhumay Agam (1952-1954, kemudian digantikan oleh Kapten Udara A. Basuki (1956-1958).
 
Sejak tahun 1958 sampai dengan tahun 1985 Skadron Udara 4 Intai Darat tidak aktif di jajaran TNI Angkatan Udara, m
aka berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor : Kep/ 02 / I /1985 tanggal 17 Januari 1985, Skadron Udara 4 Intai Darat diaktifkan kembali dengan nama baru Skadron Udara 4 Angkut Ringan dan ber-home base di Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdurachman Saleh Malang.
 
Di Pangkalan Udara Semplak sendiri setelah tidak beroperasinya Skadron Udara 4 Intai Darat, maka kegiatan operasi penerbangan juga turut beku sesaat. Beberapa proyek pembangunan yang berhasil di catat penulis dari laporan Sub Dinas Pembinaan Barang Tidak Bergerak Dinas Fasilitas dan Konstruksi TNI AU (Subdis Bin BTB Disfaskonau), antara tahun 1945 sampai dengan 1965 telah dibangung beberapa fasilitas pangkalan antara lain Gudang Persenjataan, Mess Skadron Pendidikan 503 dibangun tahun 1945, kantor Dinas Operasi tahun 1946, gudang bahan makanan tahun 1950, kantor Perbekalan Umum tahun 1963, Hanggar Skadron Teknik 024 tahun 1965, kantor pemegang kas tahun 1965 dan renovasi hangar lengkung tahun 1965.
 
Realisai semua proyek pembangunan tersebut merupakan salah satu dari kebijaksanaan pimpinan AURI untuk mengembangkan kinerja Pangkalan Udara Semplak, sehingga Pangkalan Udara semplak dapat tampil lebih percaya diri lagi dalam mengemban misi-misi pengabdiannya kepada tanah air tercinta.
 
Semakin berkembangnya proyek pembangunan Pangkalan Udara Semplak, juga berdampak kuat dalam aktivitas masyarakat sekitarnya. “Wilayah kami semakin dikenal masyarakat daerah lainnya”’ tutur Letda (Pur) Subarna, Ketua RT 01 RW 02 Semplak yang wilayahnya berdekatan dengan Pangkalan Udara Semplak. Subarna yang sekarang bekerja sebagai salah satu pengurus Primkopau Lanud Atang Sendjaja mengatakan bahwa dengan adanya perkembangan Pangkalan Udara Semplak, semakin mempererat hubungan kekeluargaan antara masyarakat sekitar dengan warga Pangkalan Udara Semplak. “ Kalau masyarakat menyebut tinggal di Semplak, maka secara otomatis orang bertanya akan mengatakan sebagai orang AURI”, jelasnya. Semplak dengan AURI sudah tidak dapat dipisahkan dari benak pikiran masyarakat, khususnya masyarakat Bogor. Menyatunya hubungan antara masyarakat dengan kegiatan Pangkalan dapat juga terlihat dari suasana aktifitas sehari-hari. Pemanfaatan sarana-sarana yang terdapat di Pangkalan Udara merupakan kebanggaan masyarakat Semplak. Sarana-sarana tersebut antara lain lapangan sepak bola Angkasa, Masjid dan Rumah Sakit, yang tampak jelas begitu banyak minat masyarakat yang turut memanfaatkan sarana tersebut.
 
Hampir setiap sore dan terutama pada hari-hari libur, masyarakat sekitar pangkalan banyak yang memanfaatkan areal pangkalan sebagai sarana untuk olah raga, baik untuk bermain sepak bola, jogging, bersepeda, bermain volley, atau sekedar mencari Udara segar pagi hari bersama keluarga.

Komentar

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel