Pustaka

SERANGAN DI PAGI BUTA

Dibaca: 94 Oleh 26 Apr 2010Tidak ada komentar
BAe Hawk 209
#TNIAU 

Seranglah musuh pada saat mereka lengah, ketika mereka tidak awas dan tidak menduga datangnya serangan! kira – kira itulah salah satu filosofi menyerang saat terjadi peperangan. Sejarah membuktikan bahwa sejak dahulu kala manusia melaksanakan penyerangan terhadap musuh – musuhnya selalu direncanakan dengan matang, pemilihan waktu yang tepat, senjata yang tepat,

Seranglah musuh pada saat mereka lengah, ketika mereka tidak awas  dan tidak menduga datangnya serangan! kira – kira itulah salah satu filosofi menyerang saat terjadi peperangan.  Sejarah membuktikan bahwa sejak dahulu kala manusia melaksanakan penyerangan terhadap musuh – musuhnya selalu direncanakan dengan matang, pemilihan waktu yang tepat, senjata yang tepat, taktik dan tehnik bertempur yang sudah disiapkan.   Salah satu taktik tersebut adalah melaksanakan serangan pada pagi buta, disaat musuh belum terjaga dan masih terlelap di balik selimut mereka yang hangat.

Diharapkan dengan adanya serangan mendadak tersebut, penyerang tidak akan mendapatkan perlawanan yang berarti.    Serangan umum 1 maret adalah salah satu contoh keberhasilan serangan fajar, banyak lagi contoh lain dari berbagai peperangan mulai dari perang dunia I sampai saat ini yang membuktikan keberhasilan serangan fajar.   Waktu penyerangan juga ditentukan oleh tehnologi dalam hal ini kemampuan alutsista yang melaksanakan penyerangan.   Sebagai contoh adalah apabila sebuah pesawat mampu melaksanakan penembakan malam, maka tentu saja penyerangan lebih baik dilaksanakan pada tengah malam saat musuh tertidur pulas.

Dalam Latihan Gabungan TNI tahun 2008 yang dilaksanakan di daerah Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, Skadron Udara 1 Elang khatulistiwa dilibatkan untuk melaksanakan berbagai macam tugas dalam operasi yang dilaksanakan yaitu Melaksanakan BTU (bantuan tembakan udara) pada operasi tempur laut (purla), SUL (serangan udara langsung) pada operasi amphibi, dan BTU pada operasi darat Gabungan.

Dari sekian banyak operasi yang dilaksanakan, ada satu operasi yang menggunakan taktik penyerangan pagi buta (fajar) yaitu operasi amphibi.   Pada operasi ini Elang flight yang terdiri dari 3 pesawat Hawk 109/209 Skadron udara 1 di skenariokan bertugas melaksanakan serangan udara langsung guna menghancurkan kekuatan musuh di daerah pantai Kalimantan Timur yang nantinya akan digunakan sebagai tempat pendaratan pasukan amphibi kawan dalam rangka merebut tumpuan pantai guna mendukung operasi selanjutnya.

Pagi itu.hitamnya langit dan terangnya sinar bintang yang ditemani oleh riak ombak pantai Borneo menyaksikan semangat elang – elang khatulistiwa untuk melaksanakan penyerangan .   Sebenarnya mata masih susah untuk dibuka, selimut masih berat untuk disibakkan tetapi karena tugas negara di depan mata sudah menanti dengan semangat mereka bergegas melaksanakan persiapan, mandi pagi dilanjutkan makan pagi yang seharusnya lebih tepat dikatakan sebagai makan sahur karena dilaksanakan pad pukul 02.30.

Pukul 03.00 tepat briefing subuh dimulai. Diawali oleh prakiraan kondisi cuaca pada pagi sampai sore hari terutama saat pelaksanaan operasi, dilanjutkan dari ATC (air traffic controller), rencana penerbangan tiap – tiap flight , dan penekanan safety oleh Komandan Pangkalan TNI AU Balikpapan Letnan Kolonel Pnb Pandu selaku Komandan Satlakopsud Balikpapan serta tidak lupa ditutupdengan berdoa bersama sebagai wujud hamba yang selalu mengharap ridho dan keselamatan dari Sang maha pencipta.

Pagi itu cuaca cukup cerah tetapi suasana masih gelap karena waktu matahari terbit masih sangat lama.   Empat pesawat Hawk 109/209 melaksanakan start engine.  Elang 1 diawaki oleh kapten Pnb Moh. Sugiyanto, elang 2 oleh Lettu Pnb Wanda S, elang 3 diawaki oleh Letkol Pnb Nurtantio Affan dan Kpt Pnb Sidik.   Sebagai reserve (cadangan) pada misi tersebut adalah Kpt Pnb H.S. Romas.

Baca juga:  K. 09

Keheningan pagi itu telah dipecahkan oleh gemuruh suara engine 4 (empat) pesawat Hawk 109/209 yang meraung – raung seakan sudah tak sabar untuk menyerang kantong – kantong pertahanan musuh yang sudah ditentukan.   Perasaan tegang bercampur bangga berkecamuk dalam hati para penerbang yang mengawakinya.  Belum lagi Pesawat bergeser dari posisinya tetapi keringat para penerbang sudah bercucuran laksana air sungai yang mengalir, jantung berdegup kencang, jari jemari basah dan terasa dingin di telapak tangan.   Sebanyak apapun pengalaman dan jam terbang yang diperoleh pasti tetap ada rasa beban dalam diri para penerbang yang besar kecilnya tergantung dari pribadi masing – masing.

Pukul 05 00 tiga elang khatulistiwa angkat kaki dan melesat menembus kegelapan  malam kota Balikpapan menuju sasaran yang akan dihancurkan. Setelah elang flight dinyatakan safe, elang no 4 kembali ke shelter.   Sesaat setelah airborne, kesunyian menyergap para elang – elang khatulistiwa, yang terdengar hanyalah lamat – lamat suara calling dr tower dan approach yang mengontrol pergerakan pesawat. Selebihnya adalah suara engine pesawat saja.  Elang flight menanjak sampai ketinggian 15.000 kaki dari permukaaan laut, daratan masih tampak gelap gulita bagaikan black hole yang siap menelan benda apa saja yang ada di sekitarnya.   Angkasa dipenuhi bintang gemintang yang seakan menuntun para elang menuju sasaran yang telah di tentukan.   Dengan alat navigasi saat ini yang sudah canggih,  tidak begitu sulit untuk mempertahankan posisi pesawat untuk tetap berada pada track walaupun secara visual keluar cockpit sangat sulit dilakukan.   Bisa dibayangkan betapa handalnya nenek moyang kita pada jaman dahulu kala yang melaksanakan pelayaran ke benua lain hanya mengandalkan bintang – bintang di angkasa.  Rasi bintan waluku , orion , pari dan lain sebagainya.   Kalau mau jujur kita bertanya pada diri kita masing – masing, masih melekatkah ilmu pengetahuan tersebut pada diri kita saat ini ?

Perjalanan menuju holding point di daerah sangatta tidak mengalami hambatan yang berarti, elang  flight merupakan flight pertama yang sampai di holding point, disusul kemudian dengan flight dari unsur tempur kawan baik F – 5, F – 16 dan Sukhoi dengan separasi altitude yang telah disepakati.   Salah satu faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan serangan udara adalah ketepatan waktu sesuai dengan TOT (time over target) yang diberikan oleh komando atas karena hal ini berkaitan dengan unsur – unsur  lain atau pasukan kawan lainnya yang juga akan melaksanakan serangan.   Semua harus dilaksanakan secara simultan dan bersinergi antara satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan serangan yang dahsyat.  Urut – urutannya harus jelas, tidak boleh saling mendahului atau bersamaan datang ke daerah sasaran.   Selain karena alasan keselamatan, juga efektivitas dari serangan yang dilaksanakan tidak akan maksimal.

Pukul 05.30 elang flight sudah berada pada holding point yang posisinya dalam latihan ini disimulasikan berada di dekat FEBA (forward edge battle area) atau garis depan pertempuran dan masih berada di daerah kawan.     Untuk memperoleh hasil yang maksimal perhitungan disini harus cermat.   Diharapkan leaving holding point pesawat sudah sesuai parameter, pada track-nya, sesuai waktu, sesuai ketinggian dan sesuai dengan kecepatan yang direncanakan.   Holding yang dilaksanakan juga tidak sembarangan, kecepatan, pola holding, bank (kemiringan pesawat) serta formasi pesawat saat holding sangat menentukan.   Kondisi alam saat itu masih gelap gulita, yang ada hanyalah secercah cahaya merah di ufuk timur yang masih malu – malu menunjukkan jati dirinya, ketenangan air laut yang gelap dan tidak beriak, anginpun masih enggan keluar dari peraduannya semakin menambah ketegangan para penerbang yang akan melaksanakan serangan.   Hanya bibir yang bergumam memanjatkan doa kepada allah swt memohon supaya cuaca di atas targ
et bagus dan visibility atau pandangan ke arah target jelas.

Baca juga:  GREAT AIRMEN

Sekitar pukul 05.43 elang nomor 1 meninggalkan holding point menuju ke arah target disusul elang 2 dan elang 3.   Ketiga elang meninggalkan holding point satu per satu dengan jeda waktu 15 detik atau 1.8 Nm di belakang pesawat yang lain.   Ini dimaksudkan selain untuk pendadakan, juga untuk safety/ keselamatan bagi pesawat yang dibelakang.   Sudah dihitung sebelumnya bahwa fragmentasi partikel (pecahan) roket yang terjadi akibat impact atau ledakan sudah jatuh ke tanah pada detik yang ke sepuluh setelah terjadinya ledakan sehingga jarak antar pesawat harus lebih besar dari 10 detik.   Apabila jarak antar pesawat kurang dari 10 detik maka sudah bisa dipastikan pesawat yang di belakang akan terkena pecahan roket dari pesawat sebelumnya. Luar biasa!!!! TNI AU memang hitungannya second.tapi bukan berati barangnya second semua…..

Dengan kecepatan 420 knots atau sekitar 800 km / jam, ketiga elang melaju di ketinggian 500 ft atau sekitar 150 meter dari atas permukaan laut ke arah IP (initial point) titik / point yang jelas tandanya yang digunakan oleh penerbang untuk akurasi posisi terakhir pesawat sehingga saat melaksanakan penembakan sesuai dengan parameter yang telah ditentukan.    

Leaving Initial Point, elang flight semakin berkonsentrasi.  ”weapon select!!” terdengar aba – aba dari elang 1 yang berarti menyiapkan senjata. ”one action!!” suara elang 1 yang berarti pada jarak 8 nm dari target pesawat sudah mengambil ancang – ancang off 12 derajat dari track untuk persiapan penyerangan.   Dari atas lautan yang tenang daratan masih belum tampak dengan jelas, hanya cahaya merah di ufuk timur yang terlihat semakin terang tetapi masih belum cukup terang untuk menyinari daratan.   Kondisi inilah yang sering diistilahkan oleh pasukan darat sebagai ”terang tanah” dimana benda – benda sudah terlihat tetapi samar – samar.   Di atas laut tampak berjajar kapal – kapal TNI AL berjajar membentuk formasi penyerangan bersiap menerjunkan pasukan amphibi ke daratan.   Mereka sangat mengharapkan bantuan tembakan dari pesawat udara untuk merebut tumpuan pantai.   Mereka tengah menyiapkan  meriam – meriam mereka untuk dimuntahkan ke arah pantai untuk  melaksanakan bantuan tembakan kapal.   Bantuan tembakan kapal dilaksanakan setelah bantuan tembakan udara secara berurutan sehingga diharapkan pasukan lawan akan melemah dengan serangan bertubi –tubi tersebut.

”One up” suara elang 1  di ujung radio, elang 1 kemudian menanjak dengan climb angle 30 derajat sampai ketinggian 3800 ft dari permukaan laut.        ”masya allah ” sampai ketinggian tersebut, penerbang belum melihat target.  Sinar matahari belum mampu memberikan penerangan yang cukup. Degup jantung berdetak semakin kencang, beban di pundak semakin berat, keringat kian mengucur deras….Dengan bantuan alat navigasi yang sudah canggih pada pesawat Hawk 209 koordinat target diharapkan dapat diketahui dengan tepat.   Penerbang kemudian menukik 15 derajat kearah koordinat target, tetapi di tempat yang dituju masih belum terlihat apa – apa. Ketinggian pesawat semakin rendah….”one final ” suara elang satu.   Pada ketinggian 1500 ft samar – samar terlihat benda berbentuk segi empat berwarna orange yang ternyata berada sedikit di sebelah kiri symbology bidikan roket, ”one target insigt !!!” kembali terdengar suara elang satu dengan semangat karena targetsudah  terlihat walaupun tidak begitu jelas.   Sambil memiringkan pesawat ke arah target, bersamaan pula time circle di HUD (head up display) pesawat bergerak melewati batas maximum penembakan.   Saat itu pula penerbang melaksanakan pickle ”tret….tret…tret….!!!” dhuarrrrr!!! 38 rocket FFAR secara beruntun melesat secepat kilat dengan cahayanya yang sangat menyilaukan mata meluncur menghunjam tepat ditengah target dan menimbulkan ledakan yang dahsyat.    Semburat tanah dan pecahan partikel rocket akibat tembakan tersebut mencapai ketinggian 150 ft dan membentuk cendawan hitam  di angkasa, rumput dan terpal yang dibuat sebagai bahan target terbakar dan apinya menjalar kemana – mana.

Baca juga:  K. 121

Elang 2 dan 3 kemudian menyusul berikutnya menyebabkan target semakin hancur dan tidak terlihat bekasnya sama sekali.   Di atas tanah tempat target yang tadinya berdiri tegak,  muncul cekungan yang cukup dalam berwarna hitam dan masih mengeluarkan asap hitam akibat serangan rocket elang – elang khatulistiwa.   Sesaat setelah elang leaving target, kapal- kapal TNI AL segera memuntahkan rocket – rocketnya sehingga menambah fatal kerusakan di pihak lawan.

Misi elang flight sudah 90 % complish,  jantung sudah tidak berdebar – debar lagi, telapak tangan yang tadinya dingin mengkerut sudah mulai dialiri darah dan terasa hangat, badan yang mengeluarkan keringat dingin juga sudah menghangat.   Itulah salah satu keajaiban yang diciptakan Tuhan, bagaimana reaksi yang diterima oleh kelima panca indera kita diterjemahkan oleh chip – chip yang tertanam dan terjalin satu sama lain di dalam otak kita menimbulkan efek terhadap metabolisme tubuh manusia dan dapat berubah seketika hanya karena aksi jari teluncuk menekan tombol (pickle) dari roket, subhanallah…maha suci allah hanya kepadamu aku bersandar….

Ternyata pukul 05.45 bukan waktu yang tepat untuk melaksanakan penembakan karena penerbang dari posisi apex (posisi tertinggi saat melaksanakan penembakan) masih belum melihat target.   Penembakan ini seharusnya dilakukan oleh pesawat – pesawat yang sudah memiliki kemampuan menembak malam yang pelurunya atau roketnya sudah dilengkapi dengan laser guidance. ”masih untung” kata itulah yang sering dinyatakan oleh umumnya orang Indonesia meskipun yang diterimanya adalah musibah, pesawat Hawk 109/209 sudah dilengkapi dengan GPS (global positioning system) yang terintegrasi dengan alat navigasi dan system senjatanya sehingga saat final melaksanakan penembakan, posisi target tidak terlalu jauh dari yang dibidik.

Misi hari itu selesai dilaksanakan dengan nyaris sempurna.   Seluruh target dapat dihancurkan sesuai dengan rencana dan semua pesawat dapat kembali ke pangkalan dengan aman dan selamat.  ”Viva Elang Khatulistiwa Little but lethal.. !!!”

_______________________

”By H.S. ”condor” Romas

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel