Berita

SEWINDU NAMA SURYADARMA DIPAKAI SEBAGAI NAMA PANGKALAN TNI AU

Dibaca: 146 Oleh 16 Mei 2010Tidak ada komentar
M 458 NA B 25 Mitchell Indonesian Airforce 7168661149
#TNIAU 

Sebuah Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) yang berlokasi di Kecamatan Kalijati, Subang, Jawa Barat pada tanggal 7 September 2001 yang lalu diubah namanya dari Lanud Kalijati menjadi Lanud Suryadarma. Sehingga nama Lanud Suryadarma pada hari ini, Senin (7/9) telah memasuki satu windu atau 8 tahun. Sebagai Pangkalan Operasi dalam jajaran Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Koopsau) I, Jakarta, Lanud Suryadarma hingga kini tetap menjalankan tugas pokok serta mendukung operasi udara satuan lain, pendidikan penerbang helikopter TNI dan kegiatan-kegiatan lainnya. Mengapa pangkalan TNI AU tertua tersebut dalam perjalanannya baru di ganti menjadi Lanud Suryadarma pada tahun 2001.

 

PANGKALAN UDARA PERTAMA DAN TERTUA

 

Lanud Suryadarma awalnya bernama Lanud Kalijati didirikan Pemerintah penjajahan Kolonial Belanda pada 30 Mei 1914 untuk melengkapi angkatan perang Belanda (KNIL) pada aspek pertahanan udaranya. Kalijati dipilih sebagai lokasi bagi pangkalan udara pertama Belanda berdasarkan survei dari perwira pelopor pembangun angkatan udara KNIL di Hindia Belanda yaitu H. ter Poorten dengan pertimbangan iklim, cuaca dan angin cenderung stabil sehingga aman untuk penerbangan, secara geografis tidak terlalu jauh dari Batavia sehingga dapat memberikan bantuan operasi udara dan lokasinya relatif terlindungi oleh kondisi alam karena terletak di pedalaman, tidak nampak dari jalan raya.

 

Karena masih rintisan, maka semuanya masih darurat seperti nama satuannya masih percobaan yaitu Proef Vlieg Afdeling/PVA (Bagian Penerbangan Percobaan). Demikian juga pesawat udaranya yang pertama-tama datang adalah dua unit pesawat amphibi Glen Martin buatan Amerika Serikat yang tidak dapat mendarat di tanah. Oleh karena itu, terpaksa harus diberi roda tambahan agar dapat mendarat di landasan tanah. Di samping itu, kondisi landasan Pangkalan Udara Kalijati juga sederhana, berupa lapangan rumput dengan bangsal-bangsal terbuat dari bambu.

Baca juga:  Ketua Yasarini Cabang Lanud Sutan Sjahrir Turut Sosialisasikan SMA Pradita Dirgantara di SMPN 25 Padang

 

Pada 1917 kegiatan PVA bertambah dengan datangnya 8 Pesawat Pengintai dan 4 Pesawat Latih. Keempat Pesawat Latih itu digunakan untuk kegiatan pendidikan bagi calon pilot/penerbang, sehingga pembangunan sarana prasarana untuk pendidikan pilot di Pangkalan Udara Kalijati mulai dikerjakan dengan intensif. Sekolah penerbang tersebut merupakan satu-satunya di Hindia Belanda. Oleh karena itu mulai tahun 1935, ketika Belanda memerlukan penerbang pribumi para tokoh TNI AU seperti Suryadi Suryadarma, Adi Sutjipto, Husein S dan lainnya mendaftar dan bersekolah di tempat tersebut.

 

Keberadaan Pangkalan Udara Kalijati selama 28 tahun (1914-1942) di bawah Belanda mulai nampak perkembangan yang berarti ditandai telah banyaknya sarana-prasarana serta bangunan fisik lainnya yang dibangun. Sehingga saat Tentara Jepang berhasil merebutnya mereka tinggal menggunakannya.

 

Mengingat berharganya Lanud Kalijati bagi Belanda, setelah Jepang meninggalkan Indonesia 1945 beberapa Tentara Udara Belanda kembali ke Kalijati sebagai teknisi yang bertahan hingga penyerahan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949. Enam bulan kemudian pada 27 Juni 1950 semua fasilitas militer Belanda di Pangkalan Kalijati diserahkan ke AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Sejak itu penataan fasilitas dan pendayagunaan sarana dilaksanakan diantaranya pembentukan kesatuan pendidikan 001/sekolah penerbang untuk tingkat dasar dan lanjutan, juga kesatuan pendidikan 002 dan 007 yang melaksanakan pendidikan Pengatur Lalu Lintas Udara (PLLU), Meteorologi, Perhubungan, Telegrapis dan Sekolah Setir Mobil, cikal-bakal satuan pendidikan Wingdiktekkal. Sejak 1960 sekolah penerbang dipindahkan ke Yogyakarta disatukan di tingkat akademi bernama Akademi TNI Angkatan Udara.

 

BERGANTI NAMA

 

Pemindahan sekolah penerbang tersebut, menjadikan Lanud Kalijati sepi dari kegiatan penerbangan, tapi ramai oleh siswa TNI AU dari korps teknik dan pembekalan yang bersekolah di Wingdiktekkal sebagai satuan samping. Kesunyian dari kegiatan penerbangan berubah pada April 1989, saat Skadron Udara 7 sebagai skadron helikopter jenis khusus dan pendidikan pilot helikopter pindah home basenya dari Lanud Atang Senjaya, Bogor ke Kalijati. Sehingga sejak Januari 1990 Skadron Udara 7 telah menjadi satuan bawah Lanud Kalijati.

Baca juga:  ASOPS KASAU : TERCAPAINYA KEMAMPUAN OPTIMAL SATUAN

 

Perkembangan berikutnya nama Lanud Kalijati berdasarkan keputusan Kepala Staf TNI AU diganti namanya menjadi dengan Lanud Suryadarma pada 7 September 2001 dengan alasan untuk menghargai jasa-jasa Bapak AURI Marsekal TNI S. Suryadarma sebagai pelopor AURI yang pernah sekolah penerbang di Kalijati. Peresmian penggantian nama Lanud tersebut dilaksanakan dalam suatu upacara militer dipimpin KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan, dihadiri ahli waris almarhum Marsekal TNI (Purn.) S. Suryadarma.

 

Berdasarkan uraian sejarah Lanud Suryadarma tersebut dapat kita pahami bahwa nama Suryadarma masih muda untuk dipakai sebagai sebuah nama pangkalan udara walaupun secara fakta telah tua usianya. Hal ini dikarenakan penggantian nama Lanud Kalijati menjadi Lanud Suryadarma baru dilaksanakan sejak 7 September 2001, padahal pangkalan udara tersebut sebenarnya telah ada jauh sebelum tahun 2001. Pergantian nama Lanud Kalijati tersebut diikuti pula dengan pergantian nama Lanud Tasikmalaya menjadi Lanud Wiriadinata pada 20 September 2001, yang juga salah satu tokoh AURI.

 

Sehingga nama Suryadarma baru sewindu dipakai sebagai nama Pangkalan TNI AU di Kalijati, Subang sedangkan usia sebenarnya adalah 60 tahun setelah pangkalan tersebut diambil alih TKR Jawatan Penerbangan sejak 27 Desember 1947. Hal ini juga menjadi perhatian Komandan Lanud Suryadarma Kol Pnb Widiantoro, MBA yang memutuskan usia Lanud Suryadarma pada 2009 ini adalah 60 tahun karena pada tanggal 27 Desember 1949 pangkalan itu untuk pertama kalinya dipakai Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan sebagai salah satu pangkalan udaranya.

 

PERANNYA KINI

 

Baca juga:  CERDAS CERMAT BELA NEGARA

Kini sejak 1946 Lanud Suryadarma telah berganti komandan sebanyak 34 kali dan pada 2009 ini Lanud Suryadarma di bawah kepemimpinanan Kolonel Pnb Widiantoro, MBA (Alumni AAU 1984) yang menjabat sejak April 2009. Sebagai Lanud tipe B, di Lanud Suryadarma terdapat sebuah satuan udara yaitu Skadron Udara 7 yang mengawaki dua jenis Pesawat Helikopter Bell 47 G Solooy dan EC 120 Colibri.

 

Dengan dua jenis helikopter tersebut tugas dukungan operasi udara bagi satuan lain dapat dilaksanakan. Demikian pula tugas tambahan pendidikan penerbang bagi Prajurit TNI dan TNI AU jurusan helikopter (rotary wing). Sehingga, sejak 1991 sampai kini Lanud Suryadarma dikenal sebagai home base bagi dilahirkannya para penerbang Helikopter (chopper) TNI dengan julukan “All Choppers were born in here”.

 

Staf-staf dan satuan lain di Lanud Suryadarma meliputi staf operasi, staf personel, staf logistik dan beberapa staf khusus. Terdapat pula Satuan Polisi Militer TNI AU (Satpomau) dan Rumah Sakit Tingkat IV. Sedangkan satuan samping di Lanud Suryadarma meliputi Wing Pendidikan Teknik dan Pembekalan (Wingdiktekkal), Kompi B BS Paskhas, Satuan Udara Pertanian dan Museum Amerta Dirgantara Mandala serta Museum Rumah Sejarah Kalijati, tempat bersejarah saat perundingan penyerahan kekuasaan penjajahan dari Belanda ke Jepang tahun 1942 sebagai Benda Cagar Budaya Subang.

 

Mensyukuri bertambahnya usia dari pergantian nama Lanud Kalijati menjadi Lanud Suryadarma tersebut, besok Selasa (8/9) bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran 1430 Hijriah, keluarga besar Lanud Suryadarma mengadakan acara buka bersama di Masjid Jami Ar Rohman dengan penceramah K.H. Musfiq Amrullah Lc dengan pemotongan nasi tumpeng. Acara tersebut rencanannya juga mengundang Bupati Subang dan Muspida Kabupaten Subang.

 

Dirgahayu Lanud Suryadarma.

 

_________________________

Kapten Sus D. Agus Priyo Susilo

Kapentak Lanud Sdm

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel