Berita Kotama

Skadron Udara 6 (halaman 2)

Dibaca: 149 Oleh 13 Feb 2010Tidak ada komentar
BAe Hawk 209
#TNIAU 

Awal Terbentuknya Skadron Udara 6

Skadron Udara 6 yang dibentuk sebagai tindak lanjut pengembangan dari Skadron 6 Helikopter, merupakan cikal bakal seluruh satuan helikopter yang ada sekarang ini. Dengan demikian tidaklah mengherankan apabila dalam goresan sejarah pendahulu baik personil maupun alutsistanya yang ada di Skadron Udara 7 maupun Skadron Udara 8 pada awalnya berada satu atap di Skadron Udara 6.
 
Wingops 004 Helikopter yang dibentuk kemudian membawahi Skadron Udara 6, Skadron Udara7 dan Skadron Udara 8. Skadron Udara 6 mewadahi sejumlah pesawat jenis Mi-4 dan sebagai komandannya adalah Letnan Udara Satu SP Oetomo dengan perwira tekniknya LU II Tohari. Pada saat ini Skadron Udara 6 Wing 4 Lanud Atang Sendjaja, merupakan ‘rumah induk’-nya pesawat Helikopter S 58 T “Twin Pac” (jenis helikopter hasil modifikasi pesawat helikopter UH-34 D “Sikorsky”) dan pesawat NAS-332 “Super Puma”.
 
Berdirinya Wing Operasi (Wing Ops) 004 menandai suatu era baru di lingkungan TNI Angkatan Udara secara umum, khususnya komunitas helikopter. Organisasi ini ditata sedemikian rupa untuk mewadahi segala aktivitas yang dilaksanakan oleh satuan helikopter pada masa-masa yang penuh konflik dan ketegangan politik dalam negeri. Pada era ini, Skadron 6 dengan Mi-4nya menunjukkan eksistensi yang cukup signifikan dalam pembangunan bangsa, di samping pengembangan lingkungan sekitarnya. Pada operasi penumpasan gerombolan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo di Jawa Barat tahun 1962, Mi-4 “Hound” terlibat hingga pemberontak menyerah pada tanggal 4 Juni 1962. Mi-4 “Hound” juga terlibat dalam operasi perebutan kembali Irian Barat “Trikora” pada tahun 1962 dengan melaksanakan misi patroli dan angkutan personel dari Lanud Pattimura ke Lanud Amahai dan sebaliknya. Juga ketika terjadi letusan Gunung Agung di Bali bulan April 1963, Hound melaksanakan dropping obat-obatan dan tenaga medis ke daerah-daerah yang terisolir oleh lahar Gunung Agung.
 
Pada saat operasi penumpasan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan sampai Sulawesi Tenggara, Mi-4 “Hound” ditempatkan di Lanud Hasanudin Makassar. Tanggal 3 Februari 1965 pagi (bertepatan dengan Idul Fitri), Kahar Muzakar dapat disergap dan diupayakan untuk dapat ditangkap hidup-hidup. Namun karena melakukan perlawanan, ia akhirnya tewas diberondong peluru TNI di tepi Sungai Lasolo di Sulawesi Tenggara. Karena berita tewasnya Kahar Muzakar baru diterima sore harinya di Pakoe (pangkalan depan AURI di Sulawesi Tenggara), jenazah Kahar Muzakar baru diambil esok harinya. Jenazah diterbangkan petang harinya ke Pakoe dari tepi Sungai Lasolo dan dilanjutkan ke Makassar.
 
Pada bulan Juni 1965, pesawat Mi-4 “ Hound” dari Skadron 6 dan Mi-6 dari Skadron 8 terlibat dalam bulan dana PMI yang saat itu diketuai oleh Letnan Kolonel Udara Soewoto Soekendar. Hasil yang dicapaipun sangat menggembirakan, di tengah situasi negara yang serba tidak menentu. Masih di tahun 1965, pada bulan Nopember sebuah kapal Norwegia “Corval” terdampar di Ujung Kulon. Seluruh awak kapal selamat setelah Mi-4 dari Skadron 6 dan SM-1 dari Skadron 7 melaksanakan misi Search And Rescue (SAR) di lokasi kejadian. Dalam kancah operasi-operasi keamanan dalam negeri yang digelar saat itupun, helikopter Skadron 6 terlibat aktif, diantaranya dalam Operasi “Penegak” di Jawa Barat yang melibatkan 1 Mi-4 dan 1 Bell-204B dari Skadron 7 dan Operasi “Mental” di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang melibatkan sekaligus 3 Mi-4 Skadron 6. Operasi ini dimaksudkan untuk menumpas sisa-sisa gerombolan G30S/PKI yang masih ada dan berlangsung hingga tahun 1967 dan selama itu pula Skadron 6 dengan segenap kekuatannya mengabdikan dirinya bagi kepentingan bangsa.
 
Pengabdian Skadron 6 bukan tanpa pengorbanan. Pada saat melaksanakan misi SAR terhadap korban kecelakaan pesawat Garuda Indonesian Airways (GIA) di Pagardewa Palembang tanggal 2 Februari 1966, yang melibatkan 2 Mi-4 Skadron 6 dan 1 Mi-6 Skadron 8, kita kehilangan 1 pesawat akibat stall, karena pesawat yang diawaki oleh Letnan Udara I Josowinarno itu hover terlalu tinggi. Misi ini sendiri berlangsung selama 1 minggu. Skadron 6 dari dahulu hingga kini menyadari bahwa kapabilitas pesawat yang mampu terbang dengan altitude dan kecepatan yang rendah, bahkan hover, selain membawa keuntungan tersendiri juga menyimpan resiko yang besar, dengan nyawa sebagai taruhannya. Kemungkinan tail rotor atau main rotor blades menyambar pohon atau obyek-obyek lain di darat sangat besar, padahal justru dengan cara terbang seperti itulah misi SAR dilaksanakan. Disinilah skill, adjustment dan judgment penerbang, dengan bantuan engineernya, diuji. Bila ada kesalahan perhitungan, faktor luck-pun kadang berbicara.

Baca juga:  Danlanud Sim Pimpin Ziarah Makam Sersan Mayor Udara Maimun Saleh

Peran serta Skadron 6 sebagai bagian dari masyarakatpun berlanjut. Dua pesawat Mi-4 diterbangkan pada tanggal 14 Februari 1966 ke pedalaman Pulau Lombok dan Sumbawa di Nusa Tenggara. Misinya adalah membawa tim kesehatan dan obat-obatan guna memberantas penyakit cacar di NTT. Operasi ini bersandi Operasi “Bratawali” yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1966. Pada tanggal 18 sampai 19 Maret 1966, 1 Mi-4 Skadron 6 dan 1 Mi-6 Skadron 8 diterbangkan ke Solo guna melaksanakan SAR terhadap korban banjir di sana. Operasi penting lainnya yang diikuti oleh Skadron 6 dengan Mi-4 “Hound”-nya adalah Operasi “Cendrawasih” untuk menentukan tapal batas Irian Barat-Papua Nugini yang diselenggarakan oleh Pemerintah RI dan Australia. Dengan tugas menentukan tempat-tempat di Pulau Papua yang dilintasi meridian (garis bujur) 141 0’ 0” Bujur Timur, Hound melakukan penerbangan mengangkut personel perintis, keamanan dan astronomi beserta logistik bahan makanan, peralatan teropong bintang dan material pembuatan tugu batas RI-Papua Nugini. Operasi ini juga melibatkan Bell-204B “Iroquois” dari Skadron 7.

Baca juga:  PROFIL

Di Bogor kembali terjadi pergantian pucuk pimpinan. Selain pergantian juga terjadi pemisahan jabatan di lingkungan Wing Ops 004 dan PAU Semplak. Pada tanggal 13 Juni 1966 Letnan Kolonel Slamet Soetopo yang mendapat kenaikan pangkat menjadi Kolonel meyerahkan jabatan Komandan Wing Ops 004 kepada Letnan Kolonel Udara Suti Harsono, sementara jabatan Komandan PAU Semplak diserahkan kepada Letnan Kolonel Udara Hamsana. Pemisahan ini berimplikasi secara signifikan terhadap tugas dan kewajiban tiap instansi, di mana Wing Ops 004 bertanggungjawab terhadap masalah operasi dan latihan penerbangan, sementara PAU Semplak bertanggungjawab terhadap masalah kewilayahan (teritorial).
 
Kurang dari 1 bulan setelah pemisahan organisasi itu, Skadron 6 kembali kehilangan putra-putra terbaiknya. Tepatnya tanggal 8 Juli 1966, sebuah pesawat Hound dengan registrasi H-236 jatuh di daerah Kiaracondong Bandung beberapa saat setelah take-off. Kecelakaan yang belum diketahui sebabnya ini menelan korban jiwa seluruh awak pesawatnya. Mereka gugur dalam melaksanakan Operasi “Penegak” di wilayah Jawa Barat. Sekali lagi, pengabdian senantiasa menuntut pengorbanan yang kadang amat mahal. Adapun awak pesawat yang gugur adalah :

1. Letnan Udara I Soeradjim (Captain Pilot)
2. Letnan Udara II Soeranto (Co-Pilot)
3. Sersan Udara I Roesdarmojo (Mechanic)
4. Sersan Udara I Soeroto (Mechanic)

Saat terjadi letusan Gunung Kelud di Kabupaten Blitar Jawa Timur, Skadron 6 melibatkan sebuah pesawat Mi-4 (H-233) pada tanggal 19 September 1966 dengan tugas-tugas antara lain :

1. Mengadakan peninjauan untuk mencari lubang lahar dan daerah-daerah berbahaya.
2. Mengadakan peninjauan ke daerah-daerah tempat pengungsian.
3. Angkutan VIP.
4. Pengiriman bantuan logistik/obat-obatan.
5. Evakuasi medis.

Selain itu, Skadron 6 terlibat juga dalam kegiatan memberi bantuan logistik pada penduduk yang terisolir akibat tanah longsor di Cianjur Selatan dengan 1 pesawat MI-4nya. Langkah-langkah kecil bagi kemanusiaan, yang sampai hari ini masih diteruskan sesuai kemampuan yang dimiliki Skadron Udara 6.
 
Pada tahun 1967, seiring dengan pergantian pejabat Komandan Wing Ops 004 yang di jabat o
leh Mayor Udara Imam Soewongso, Skadron 6 dipimpin oleh Mayor Udara SP.Oetomo. Lebih kurang setahun kemudian, tepatnya tanggal 20 Februari 1968, jabatan itu diserahterimakan lagi kepada Kapten Udara Slamet Mochtar, karena Mayor Udara SP.Oetomo mendapat promosi jabatan sebagai Komandan Wing Ops 004 menggantikan Letnan Kolonel Udara Imam Soewongso.
 
Operasi pemulihan keamanan dalam negeri yang melibatkan Skadron 6 tidak hanya berlangsung di Jawa dan Sumatera saja. Di Kalimantan Barat, Skadron 6 dengan Mi-4nya terlibat dalam sebuah operasi yang digelar AURI “Samber Kilat” yang dimaksudkan untuk menunjang Operasi “Sapu Bersih” yang dibentuk Kodam XII/Tanjungpura. Untuk apa operasi-operasi itu? Saat itu tengah bergejolak gerakan separatis yang disebut Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat dan sepanjang daerah perbatasan. Pada masa konfrontasi dengan Malaysia, PGRS adalah teman di pihak Indonesia, namun pada akhirnya mereka berbalik menjadi lawan setelah konfrontasi berakhir. Permusuhan pertama mereka terhadap AURI terjadi dengan cara menyerang dan merampas senjata AURI di PAU Sanggau Lido (Singkawang II) pada tanggal 16 Juli 1967 yang menewaskan beberapa korban di pangkalan tersebut. Empat pesawat Mi-4 dan 2 Bell-204B yang baru selesai melaksanakan tugas dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia langsung diperbantukan kepada Operasi “Samber Kilat” di bawah pimpinan Mayor Udara Sudjatio Adi. Tugas-tugas helikopter saat itu antara lain :

Baca juga:  Pangkosekhanudnas IV Menutup Latihan Kilat dan Cakra D 18

1. Dropping pasukan ke daerah sasaran
2. Dropping bantuan logistik
3. Angkutan VIP/pesawat Kodal (Komando Pengendalian)
4. Evakuasi medis
5. Pengintaian (recce flight)

Operasi ini berakhir pada bulan September 1968 dengan hasil memuaskan. Bahkan Pangdam XII/Tanjungpura saat itu Brigadir Jenderal TNI A.Y.Witono menjuluki helikopter sebagai “angel of the field/malaikat di medan laga”. Sangat membanggakan memang, namun sekali lagi pengorbanan harus diberikan bagi semua prestasi itu. Pada tanggal 27 Januari 1967, sebuah pesawat H-225 yang diawaki Kapten Udara Supandi (Captain Pilot) dan Letnan Udara I F.X.Soewarno (Co-Pilot) jatuh di Sungkung akibat tail wind (angin dari arah belakang pesawat) saat short final (menjelang pendaratan). Umumnya, masalah seperti ini dapat di-recover dengan cara menambah power pesawat (dengan mengangkat collective pitch). Namun karena power yang terbatas, yang terjadi adalah overpitch yang mengakibatkan pesawat hilang kendali dan total lost (hancur). Untunglah, tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini. Kecelakaan lain yang menelan korban jiwa terjadi pada pesawat Bell-204B H-264 yang merenggut nyawa Kapten Udara Sardijo dan Letnan Udara I Soebagio.

 

Halaman 3

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel