Berita Kotama

Skadron Udara 6 (halaman 3)

Dibaca: 495 Oleh 13 Feb 2010Tidak ada komentar
Sukhoi Su-27
#TNIAU 

Masa-masa Kritis Pesawat Timur

Dalam periode akhir 1970, akibat tidak adanya suku cadang bagi pesawat-pesawat Mi-4 dan Mi-6 yang berasal dari Uni Sovyet (Rusia), tingkat kesiapan pesawat menurun drastis. Ini berdampak pada turunnya kesiapan operasi dan aktivitas Wing Ops 004 sehingga kegiatan Wing ini praktis beku. Pada tanggal 1 Nopember 1970, Mayor Udara Slamet Mochtar digantikan oleh Mayor Udara Alip Soeparman. Lebih kurang 10 bulan kemudian, tepatnya tanggal 22 September 1971, Mayor Udara Alip Soeparman digantikan oleh Mayor Udara M.Sofjan. Pada tahun ini pula, Skadron 8 dibekukan kegiatannya akibat ketiadaan suku cadang. Selanjutnya, salah satu peristiwa yang termasuk penting dan bersejarah bagi Skadron 6 adalah diterimanya 4 pesawat UH-34D “Sikorsky” dari Pemerintah Amerika Serikat. Untuk diketahui, pesawat ini adalah pesawat yang telah digunakan oleh Amerika dalam perang Vietnam. Pesawat helikopter dengan penampilan yang menakutkan, tinggi, besar dan tangguh ini menjadi kekuatan dan lambang kebanggaan baru bagi warga Skadron 6.
 
Operasi-operasi yang melibatkan Skadron 6 masih terus berlanjut. Salah satunya adalah Operasi “Wisnu” yang masih berkaitan dengan operasi “Samber Kilat” yang bertujuan menumpas sisa-sisa gerombolan PGRS/Paraku di Kalimantan Barat dan dimulai sejak September 1972. Pada awal operasi, pesawat yang digunakan adalah Bell-204B “Iroquois”. Namun setelah diterimanya pesawat UH-34D, 3 pesawat ini langsung diterjunkan ke medan operasi pada bulan Mei 1973 dengan rute ferry flight Atang Sendjaja-Palembang-Tanjung Pandan-Supadio. Tahun 1975, pesawat Iroquois ditarik dari operasi tersebut dan Sikorsky mengemban tugas penuh.
 
Mayor Udara M.Sofjan kemudian menyerahkan jabatan Komandan Skadron 6 kepada Mayor Udara Pramono Adam. Setelah menjabat sampai tanggal 1 Mei 1976, Mayor Pnb. Pramono Adam menyerahkan jabatan kepada Mayor Pnb. Andaja Lestari. Lebih kurang satu setengah bulan setelah itu, dalam Operasi “Wisnu” di Kal-Bar, 2 Sikorsky kita mengalami kecelakaan. Yang pertama terjadi tanggal 13 Juni 1976 terhadap pesawat bernomor registrasi H-3409 yang mengalami power lost di lereng Gunung Rawan di daerah Serawak. Yang kedua menimpa pesawat H-3402 yang mengalami flame out (mesin terbakar) dalam penerbangannya dari Sambas ke Singkawang dan menewaskan 2 teknisi Sersan Mayor Aminoto dan Sersan Kepala Soebadiono.

Modifikasi Pesawat UH-34 D dan Kedatangan SA-330 “Puma”

Untuk meningkatkan kemampuan pesawat UH-34D “Sikorsky”, TNI AU kemudian melakukan modifikasi dengan mengganti piston engine pada UH-34D menjadi turbo-shaft engine PT6T-6 produksi pabrik Pratt-Whitney Kanada. Modifikasi ini dilakukan di Skadron Teknik 016 Bandung (yang saat ini kita kenal sebagai Satuan Pemeliharaan 16 di Lanud Husein Sastranegara) menjelang akhir tahun 1978. Setelah modifikasi ini, jenis atau type pesawat ini menjadi S-58T “Twin Pac” karena mesinnya terdiri dari 2 mesin yang identik (kembar).
 
Tonggak sejarah lainnya kembali terjadi ketika diterimanya pesawat SA-330 “Puma” yang dibeli pemerintah RI dari perusahaan Aerospatiale Perancis. Kedatangan pertama adalah sebanyak 6 pesawat pada tanggal 3 Mei 1978. Pesawat-pesawat ini langsung melaksanakan ferry flight dari Perancis dan diberi registrasi H-3301 sampai dengan H-3306. Ini menjadi tantangan baru bagi satuan Skadron Udara 6, mengingat karakteristik pesawat Puma yang merupakan pesawat Eropa tidak sama dengan Twin Pac atau Sikorsky yang pesawat Amerika, meskipun secara umum helikopter bekerja dan terbang dengan prinsip yang sama.
 
Pada bulan Desember 1978, Operasi “Wisnu” dinyatakan selesai dan pesawat Sikorsky ditarik dari Kalimantan Barat. Lima bulan kemudian, terjadi lagi pergantian pimpinan Skadron Udara 6 dari Mayor Pnb. Andaja Lestari kepada Mayor Pnb. J.S.Prijono. Dalam masa ini pula pesawat Puma yang baru menjadi kekuatan Skadron Udara 6 langsung dilibatkan dalam Operasi “Seroja” yang merupakan salah satu operasi legendaris bagi ABRI/TNI maupun bangsa Indonesia. Operasi yang dilangsungkan di Timor Timur ini menjadi tantangan pertama bagi Puma, yang seperti “seniornya” Sikorsky, harus menjalankan tugas-tugas seperti : dropping pasukan dan logistik, evakuasi medis, SAR, angkutan VIP, pengintaian (recce) dan sebagainya.
 
Salah satu prestasi penting Puma dalam operasi ini adalah keberhasilannya dalam misi pengejaran dan penembakan terhadap Lobato, yang menyebut dirinya Presiden Fretilin, pada bulan Desember 1978. Prestasi yang mendapat penghargaan langsung dari Menhankam/Pangab. Tidak hanya Puma milik TNI AU sendiri, PT.Pelita Air Service (PAS) pun menyerahkan Pumanya untuk dioperasikan oleh para penerbang dan teknisi Skadron Udara 6. Salah satu penerbang kita, Mayor Pnb. Soegihartono gugur di daerah Turiscai ketika menerbangkan pesawat milik PAS ini dari Same ke Dilli. Akhirnya, setelah bertugas cukup lama, pada pertengahan tahun 1979 Puma ditarik ke home base dan digantikan oleh pesawat Twin Pac H-3406.
 
Kisah menegangkan sekaligus unik terjadi pada pesawat ini. Saat menjalankan misi dropping senjata berat untuk 1 regu pasukan dari Batalyon 641 Kodam XII yang sedang terjepit, dengan menggunakan pesawat S 58 T Twin Pac yang saat itu diawaki oleh Captain Pilot Kapten Pnb. Moetanto Joewono dan Co-Pilot Lettu Pnb. F.Soelaksito ditembaki musuh di daerah Nahareka di sebelah utara Lanu Baucau. Pesawat tetap berhasil menjalankan misinya dan pasukan berhasil lolos berkat bantuan yang diterimanya. Pesawatpun kembali ke Baucau dengan menderita 23 tembakan di sekujur badan pesawat. Uniknya, walaupun landing light (lampu untuk pendaratan) di bawah badan pesawat tertembak di sekelilingnya, tidak satu pelurupun mengenai bola lampunya!
 
Misi atau kegiatan yang dilaksanakan oleh Skadron Udara 6 tidak hanya sebatas operasi-operasi atau kegiatan SAR semata. Untuk meningkatkan dan mempertahankan kemampuan awak pesawatnya, selain menyelenggarakan latihan (training) secara mandiri sesuai program kerja satuan, Skadron Udara 6 juga terlibat dalam berbagai latihan yang diadakan oleh TNI AU, baik antar satuan TNI AU maupun latihan bersama dengan negara lain. Salah satu latihan bersama yang akan dikenang adalah “Elang Malindo VI” tahun 1979, sebuah latihan bersama antara TNI AU dengan TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) yang saat itu di laksanakan di Kuching, Malaysia. Sepulang dari mengikuti latihan tersebut, dua Puma H-3301 dan H-3302 terjebak dalam cuaca buruk di atas Kepulauan Seribu. Akibat minimnya jarak pandang (visibility), dua pesawat tersebut justru mengalami kecelakaan yang mengakibatkan gugurnya seluruh awak pesawat yaitu :
 
1. Mayor Pnb. J.S. Prijono
2. Mayor Pnb. Iping Soerjadi
3. Mayor Pnb. Djoko Poernomo
4. Kapten Pnb. Prastowo
5. Kapten Pnb. Kadar Moedjoko
6. Kapten TPT Larito A. Arif
7. Kapten TPT Hardanto
8. Lettu Pnb. Soetiksno
9. Pelda Dasro
10. Pelda Nico
11. Pelda Soetjipto
12. Serma Kamil

Baca juga:  PIA AG Gabungan IV Korpaskhas Peduli Korban Banjir Jayapura

Di Kalimantan Barat, terjadi perkembangan baru menyangkut kondisi keamanan wilayah, sehingga pesawat helikopter S-58T “Twin Pac” kembali terjun ke kancah pertempuran. Keterlibatan kembali Twin Pac ini dimulai sejak bulan Juli tahun 1979 hingga Februari 1981 untuk kemudian digantikan oleh pesawat Bell Iroquois. Sementara itu, untuk mengisi kekosongan jabatan Komandan Skadron 6 setelah accident yang menyebabkan gugurnya Mayor Pnb J.S.Prijono di atas Kepulauan Seribu, pada bulan Januari 1980 dilaksanakan pelantikan Letnan Kolonel Pnb. S.P.Siregar sebagai Komandan Skadron 6. Aktivitas SAR kembali diemban Skadron 6 ketika menyertakan 2 pesawat Puma untuk menolong korban bencana alam di Sinila, Jawa Tengah tahun 1980.
 
Di tahun 1980 ini pula, kembali 5 pesawat SA-330 masuk memperkuat armada Skadron 6. Seperti halnya delivery pertama, kelima pesawat inipun langsung diterbangkan dari Perancis dengan route Paris-Abu Dhabi-Islamabad-Colombo-Medan-Jakarta dengan menggunakan 4 ferry tank di tiap pesawatnya. Penambahan kekuatan yang juga merupakan tantangan bagi Skad
ron ini, di tengah keterbatasan personil dan fasilitas yang dimilikinya. Dengan keterbatasan itu, keberhasilan pelaksanaan tugas tetap prioritas utama bagi Skadron 6. Dalam operasi pembebasan  sandera pesawat komersil “Bali Air” tahun 1980, Puma terlibat dengan mendapat air cover (perlindungan udara) dari pesawat OV-10F Bronco.
 
Pada bulan Desember 1980, pesawat Twin Pac untuk pertama kalinya melaksanakan tugas di belahan Timur bumi Indonesia setelah pesawat H-3410 diperintahkan untuk menggantikan pesawat Iroquois yang telah melaksanakan tugas di Irian Jaya (Irja) sejak bulan Maret 1977. Tugas di Irian Jaya relatif berat dan berbahaya, karena saat itu kita sedang berusaha menumpas gerombolan bersenjata yang dipimpin oleh Martin Tabu dan kawan-kawannya. Ferry flight H-3410 dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 1980.
 
Operasi SAR lainnya kembali dilaksanakan oleh Skadron 6 saat terjadi musibah yang tergolong besar bagi dunia kelautan Indonesia yaitu yang menimpa kapal penumpang “Tampomas II” di Kepulauan Masalembo pada tanggal 25 Januari 1981.
 
Pada tanggal 17 Juli 1981, tugas H-3410 di Irja berakhir dan pesawat Puma mengantikannya. Selain tugas dalam rangka pemulihan keamanan di sana, tugas lain yang berhubungan dengan pembangunan kawasan pedalaman Irian Jaya turut diemban pesawat ini.
 
Pergantian pucuk pimpinan Skadron 6 kembali terjadi pada tahun 1981 saat Letnan Kolonel Pnb.F.X. Soewarno menggantikan Letnan Kolonel Pnb.S.P.Siregar. Pada era inilah terjadi likuidasi satuan di lingkungan Wing Ops 004 yang cukup penting. Guna mewadahi alut sista yang cukup banyak di lingkungan Wing Ops 004, diputuskan untuk menghidupkan kembali Skadron 8 yang telah dibekukan sejak 1971. Dengan dihidupkannya kembali Skadron 8, pesawat Puma yang telah menjadi bagian dari Skadron 6 sejak kedatangannya yang pertama tahun 1978 dialihkan menjadi kekuatan Skadron 8. Sebagai Komandan Skadron 8, diangkatlah Letnan Kolonel Pnb. Soeparman, yang sebelumnya adalah Perwira Operasi Skadron 6. Dengan demikian, komposisi Wing Ops 004 kembali seperti semula ketika didirikan, yaitu membawahi 3 Skadron Udara (Skadron 6, 7 dan 8) dan 1 Skadron Teknik (Skatek 024). Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Juli 1981 dan sampai saat ini, pesawat SA-330 “Puma” tetap memperkuat Skadron Udara 8.
 
Bernaung Di Bawah Lanud Atang Sendjaja

Di Kalimantan Barat, gejolak yang ditimbulkan oleh sisa-sisa PGRS/Paraku masih saja berlanjut. TNI pun menggelar operasi bersama Malaysia yang dikenal dengan sandi Operasi “Kemudi” di utara Banua Martinus, Kabupaten Sintang dan Skadron 6 melibatkan diri kembali dengan 2 pesawat Twin Pacnya : H-3403 dan H-3410. Kedua pesawat ini berangkat pada tanggal 17 Januari 1982 dan operasi ini berlangsung selama sekitar setengah tahun.
 
Letnan Kolonel Pnb. F.X. Soewarno yang mendapat tugas sebagai Perwira Penuntun di Sesko ABRI Bagian Udara (sekarang Seskoau) menyerahkan jabatan Komandan Skadron 6 kepada Mayor Pnb.Soetardjo pada bulan Mei 1984. Bila anda baca buku ini, akan terlihat betapa sering terjadi pergantian Komandan atau jabatan lainnya. Memang, sebagai bentuk regenerasi dan penyegaran lingkungan tugas serta guna mempertahankan prestasi kerja di sebuah satuan TNI (termasuk TNI AU), pergantian pimpinan satuan adalah suatu kegiatan yang lumrah dan wajar.

Perkembangan situasi pada saat itu mengharuskan TNI Angkatan Udara melaksanakan penyempurnaan organisasinya, sehingga berdasarkan Instruksi Kepala Staf TNI Angkatan Udara nomor : Ins/03/III/1985 tanggal 12 Maret 1985, terjadilah sebuah peristiwa reorganisasi yang tergolong penting. Instruksi ini berisi tentang penghentian segala aktivitas organisasi Wing di lingkungan TNI AU. Dengan demikian, seluruh kegiatan Skadron Udara dan Skadron Teknik serta satuan lain yang semula berada di bawah kendali Wing, dialihkan ke dalam kendali Pangkalan Udara setempat.

Baca juga:  Danlanud El Tari Menghadiri Pembukaan Suskajemenhanneg

Itu berarti, Skadron Udara 6, Skadron Udara 7 dan Skadron Udara 8 serta Skadron Teknik 024 yang semula berada di bawah Wing Ops 004 dialihkan ke dalam kendali Lanud Atang Sendjaja yang berlaku sejak 28 Maret 1985. Demikian juga seluruh personel, fasilitas dan instalasi yang semula di bawah Wing Operasi 004, diserahkan kepada Pangkalan TNI AU Atang Sendjaja.

Era Baru Alutsista Skadron Udara 6

Pengembangan kekuatan sebuah Angkatan Udara biasanya identik dengan upaya modernisasi alat utama dan sistem senjatanya (alut sista). Demikian pula yang terjadi pada TNI Angkatan Udara. Menyadari pentingnya pembaharuan alutsista, dikaitkan dengan prospek tantangan masa depan, beberapa langkah telah diambil oleh para pemimpin TNI AU untuk membenahi kemampuan perangnya. Untuk pesawat tempur misalnya, telah dibeli sekitar 40 pesawat Hawk-100 dan Hawk-200 dari industri British Aerospace Inggris yang saat ini menghuni skadron-skadron di Lanud Pekanbaru dan Pontianak. Pesawat transport kita juga kemudian diperkuat dengan beberapa CN-235 dari PT. Dirgantara Indonesia Bandung. Mengingat pesawat helikopter yang ada saat ini umumnya adalah pesawat-pesawat tua, yang telah mengabdikan dirinya untuk TNI AU sejak 1962 dan 1978, maka diputuskan untuk membeli sejumlah helikopter baru yang sesuai dengan karakteristik geografi kita serta sesuai pula dengan kemampuan anggaran yang dimiliki negara dan tentu saja, sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan strategis yang sedang berkembang (hubungan luar negeri, peta politik internasional dan sebagainya). Pilihan akhirnya jatuh pada jenis pesawat AS-332 “Super Puma” yang diproduksi oleh PT. Dirgantara (PT.DI) Bandung, yang sebelumnya dikenal sebagai Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).
 
Di TNI AU, sebenarnya pesawat Super Puma produksi PT.DI/IPTN bukanlah barang baru. Pesawat yang kodenya ditambah huruf “N”—menjadi NAS-332—sebagai singkatan dari “Nusantara” telah dioperasikan oleh TNI AU sejak IPTN memperoleh license dari Aerospatiale (sekarang Eurocopter) Perancis untuk memproduksi pesawat ini. Hanya saja, 2 pesawat yang dibeli saat itu (bulan Februari 1993) berada di bawah Sekretariat Negara (Setneg) yang dipergunakan untuk tugas-tugas penerbangan VVIP/VIP dan sampai saat ini berada di Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta. Jadi, TNI AU hanya bertindak sebagai operator dan maintainer (pemelihara) saja.
 
Sebagai realisasi rencana pengembangan kekuatan itulah, Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan PT.DI menandatangani sebuah Kontrak Jual Beli (KJB) nomor : KJB/010/DN/M/1998 tertanggal 9 Februari 1998 yang berisi tentang Pengadaan 16 (enam belas) pesawat NAS-332 “Super Puma” untuk TNI AU. Adapun rincian keenambelas pesawat tersebut 1 (satu) pesawat VVIP dengan type L1, 2 (dua) pesawat VIP dengan type L1, 7 (tujuh) pesawat Tactical Transport (TT) dengan type C1 dan L1, dan 6 (enam) pesawat Combat SAR (CS) dengan type C1. Untuk diketahui bahwa perbedaan antara C1 dan L1 terletak pada panjang pesawat (L1 lebih panjang 76,5 cm dari pada C1), sementara konfigurasi lainnya boleh dikatakan sama, tergantung dari versi pesawat tersebut (VIP,TT atau CS). Adapun keenam belas pesawat itu nantinya akan ditempatkan di Skadron Udara 17 untuk pesawat VVIP dan VIP, serta Skadron Udara 6 untuk pesawat TT dan CS. Pesawat VVIP dan VIP akan dicat warna putih dengan kombinasi abu-abu sementara pesawat TT dan CS akan dicat loreng hijau.
 
Perlengkapan pesawat pun akan berbeda sesuai konfigurasinya. Versi VVIP/VIP dilengkapi air conditioner (AC), seat (kursi) VIP, pesawat telepon, dan penataan interior yang luxurious. Sementara pesawat TT dan CS akan dilengkapi hoist, sling (kelengkapan untuk mengangkut barang di luar badan pesawat/digantung di bawah pesawat), persenjataan (gunnery) dan sebagainya.
 
Keunggulan teknis pesawat ini—ciri khas pesawat modern—adalah pada tingkat safety-nya yang tinggi. Baik sistem hidrolik, elektrik, bahan bakar dan engine dirancang dengan metode dual-power. Artinya, bila salah satu sistem (kiri atau kanan, sistem 1 atau 2) mengalami masalah, sistem lain yang masih berfungsi akan secara otomatis mengambilalih per
an sistem yang bermasalah tadi. Begitu pula dengan engine (power plant)-nya. Makila 1A1 disusun secara modular (per bagian) sehingga bila ada masalah dengan engine, kita cukup mengganti bagian (module) yang rusak, tidak perlu satu engine penuh. Module-nya sendiri ada 5 buah dan meskipun terkait satu sama lain, kita dapat melepas dan memisahkan dengan mudah module-module tersebut. Melepas engine Makila hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit, jauh lebih mudah dibandingkan melepas engine PT6T-6 yang bisa memakan waktu setengah sampai satu hari.
 
Kontrak jual beli ini berdampak sangat signifikan pada Skadron Udara 6. Memang, secara garis besar dapat dikatakan bahwa pesawat Super Puma ini kelak akan menggantikan armada Twin Pac yang sudah habis masa pengabdiannya dan terlalu tua untuk terus dioperasikan. Namun pada prakteknya, penggantian ini tentu tidak dilakukan secara radikal dan sekaligus, melainkan secara bertahap. Selain faktor kesiapan Twin Pac yang masih cukup tinggi (rata-rata kesiapannya di atas 75%), PT.DI juga mempunyai kendala dalam memenuhi target pengiriman (delivery) pesawat ke pihak TNI AU. Mengingat PT.DI belum secara mandiri memproduksi atau mengadakan spare parts dan komponen yang dipasangkan ke pesawat. Ketergantungannya pada Eurocopter untuk memperoleh barang-barang tersebut masih tinggi, sehingga bila terjadi keterlambatan pengiriman spare parts atau komponen dari Perancis, maka produksi pesawat seperti tercantum pada klausul kontrak tersebut di atas akan ikut terhambat. Inilah yang menyebabkan pengiriman pesawat tersebut tidak sesuai jadwal.
 
Selamat datang “Cougar” di Skadron Udara 6, akhirnya setelah mengalami keterlambatan sekian lama, pesawat pertama dari enam belas pesawat yang dibeli TNI AU tiba di apron Skadron Udara 6 pada tanggal 5 September 2001. Pesawat ini di PT.DI dikenal dengan nomor seri (serial number atau S/N) NSP-11 dan oleh TNI AU diberi registrasi H-3212. Pesawat di-delivery dari hanggar PT.DI oleh Letnan Kolonel Pnb Deri Pemba Syafar (saat itu sebagai Komandan Skadron Udara 6) dan Mayor Pnb Suparmono serta JMU Letda Tek Jery Purnomo. Ini menjadi tonggak sejarah bagi Skadron Udara 6 yang untuk kesekian kalinya menerima alut sista baru. Tantangan menghadang di depan, sebuah jenis pesawat yang karakteristik dan kofigurasinya berbeda dari S-58T “Twin Pac”, penuh dengan sistem elektrik dan digital serta berdaya angkut lebih besar.

Baca juga:  Denhanud 474 Paskhas Turut Menyukseskan Acara Hari Lanjut Usia Nasional

Untuk mengantisipasi tantangan itulah, sebagai bagian dari kontrak jual beli alat perang yang umum di berbagai belahan dunia, TNI AU dalam hal ini Lanud Atang Sendjaja mengirimkan beberapa personelnya untuk mengikuti pendidikan Super Puma di PT.DI. Pendidikan ini merupakan paket dari KJB tersebut dan beberapa personel Skadron Udara 6 termasuk di dalamnya. Personel Skadron Udara 6 yang mengikuti course Super Puma di PT.DI dibagi dalam beberapa kategori sebagai berikut :

Penerbang :

1. Letkol Pnb Deri Pemba Syafar
2. Mayor Pnb Irwan Dunggio (sekarang Letkol)
3. Mayor Pnb Suparmono
4. Mayor Pnb Eding Sungkana
5. Mayor Pnb Agus Pandu
6. Mayor Pnb Bayu Gihartara
7. Kapten Pnb Fachrizet (sekarang Mayor)

Flight Engineer (FE) :

1. Kapten Tek Hendrison
2. Letda Tek Jery Purnomo
3. Serka Haryadi

Air Frame and Engine Maintenance (A/F and E) :

1. Kapten Tek Akbar Yunus (sekarang Mayor)
2 . Serka Ngadiman
3. Serka Edi Riswantoro
4. Serka Joko Subroto

Avionic, Electric and Instrument (AEI) :

1. Letda Tek Dedem Dimyati
2. Serma Endang Jaelani
3. Serka Agus Pirmanto
4. Serka Kasroh

Mereka ditambah beberapa personel dari satuan lain seperti pilot Skadron Udara 7, teknisi Skatek 024, Sathar 16 dan Skadron Udara 17 adalah personel yang mengikuti pendidikan batch (tahap) I. Sesuai kontrak, pengadaan pesawat ini akan dibagi dalam 6 batch. Batch I 5 pesawat (1 VVIP, 1 VIP dan 3 TT), batch II 2 pesawat (1 VIP dan 1 TT), batch III 2 pesawat (2 CS), batch IV 2 pesawat (1 TT dan 1 CS), batch V 2 pesawat (2 TT) dan batch VI 3 pesawat (3 CS). Dalam batch I, pendidikan A/F and E dilaksanakan 2 gelombang. Setelah gelombang I yang tersebut di atas, personel Skadron Udara 6 yang mengikuti course berikutnya adalah :

1. Kapten Tek Dedy Cahyadi
2. Serka Herman
3. Serka Bukhori
4. Serka Cucu S.
5. Sertu Murdoko

Dengan demikian Skadron Udara 6 telah siap mengantisipasi tantangan alut sista baru ini. Pembudayaan dan sosialisasi ilmu (transfer of knowledge)pun di lakukan secara mandiri di Skadron. Baik penerbang, teknisi maupun personel avionik mengadakan kursus-kursus kilat (crash program) untuk menularkan ilmu masing-masing, sesuai profesi. Bila tidak, akan terjadi kesenjangan dan keterlambatan regenerasi, sementara di kemudian hari pesawat baru akan datang dan datang lagi.
 
Pesawat kedua datang satu minggu setelah pesawat pertama, tepatnya tanggal 11 September 2001. Yang mengawakinya adalah Letkol Pnb Deri, Mayor Pnb Bayu dan JMU Serka Haryadi. Pesawat ini oleh PT.DI dikenal sebagai NSP-10 dan di TNI AU diberi registrasi H-3211. Sebenarnya, pesawat ini lebih tua usianya dibandingkan pesawat H-3212 yang datang lebih dulu ke Bogor dan ia diproduksi lebih dulu oleh PT.DI. Namun untuk keperluan mendidik para pilot dan JMU kita, pesawat ini tidak langsung di-delivery ke Lanud Atang Sendjaja melainkan digunakan dulu di PT.DI. Setelah training selesai seluruhnya, barulah pesawat tersebut dibawa ke Skadron Udara 6.

Antisipasi Perang Kota

Seperti telah disebutkan di atas, salah satu konfigurasi pesawat NAS-332 “Super Puma” yang diterima Skadron Udara 6 adalah combat SAR (CS). Pesawat CS ini nantinya berdasarkan kontrak akan dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan seperti gunnery, tandu pasien (casualty stretchers), pintu dan kursi anti peluru (armour plating doors and seats), colour weather and search radar, weapon support assembly, rocket launcher, cannon pods serta gun sight camera. Ini tentu belum termasuk dengan perlengkapan standar lain seperti troop seats, hoist, sling dan sebagainya yang memang merupakan ciri khas sebuah helikopter militer.
 
Penggunaan kelengkapan pada pesawat-pesawat CS tersebut salah satunya adalah sebagai upaya TNI AU mengantisipasi apa yang disebut ”Perang Kota”. Yang termasuk perang kota ini adalah kejadian-kejadian seperti : demonstrasi massa, kerusuhan-kerusuhan yang belakangan ini marak terjadi di berbagai belahan tanah air. Namun, ini bukan berarti kita hendak memerangi rakyat atau warga kita sendiri. Ini tidak lebih dari upaya TNI AU menjalankan tugas pokoknya sebagai bagian integral dari TNI yang merupakan salah satu alat keamanan negara di samping Polri. Bagaimanapun, TNI tetap harus bersikap antisipatif terhadap segala kemungkinan yang dapat membahayakan keselamatan negara secara keseluruhan.

 

Halaman 4

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel