Berita Kotama

Skadron Udara 6 (halaman 4)

Oleh 16 Jan 2010 Tidak ada komentar
Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala
#TNIAU 

Bergelut Dengan Persoalan

Layaknya sebuah barang baru, para penerbang dan teknisi asyik menggeluti pesawat ini. Semangat memang sedang tinggi-tingginya dan antusiasme anggota Skadron Udara 6 memberi warna tersendiri di awal milenium ketiga, abad ke-21. Namun demikian, persoalanpun banyak bermunculan seiring datangnya pesawat Super Puma. Persoalan di sini adalah yang berhubungan dengan teknis pesawat, baik dari sisi operator (pilot) maupun maintainer (mekanik). Sesuai kontrak, setiap pesawat yang kita terima memiliki masa garansi (warranty term) selama duabelas bulan atau 300 jam terbang (mana yang lebih dulu tercapai) terhitung sejak tanggal pesawat diterima TNI AU (aircraft delivery date).
 
Selama masa warranty ini, technical assistance/TA (tenaga bantuan teknis) dari pabrik (PT.DI) ikut memantau perkembangan pesawat di Skadron. Kepada para TA inilah para mekanik banyak bertanya tentang perawatan pesawat. Di sisi lain, pelajaran di kelas yang merupakan upaya getok tular ilmu pesawat terus berlanjut.
 
Transisi yang prinsipil dari pesawat era 60-an yang berteknologi mekanis ke pesawat produksi tahun 90-an yang berteknologi elektris digital membawa konsekuensi yang cukup ekstrim. Pesawat Twin Pac dirancang murni secara mekanis, dan elektrik tidak terlalu banyak berperan pada pesawat, sehingga pesawat ini cenderung tahan banting dan “bandel”. Penerbang-penerbang yang hobby bereksperimen dalam terbang tentu menyukai pesawat ini karena ketangguhannya. Namun, pesawat ini mempunyai daya muat yang kecil (kurang dari 1 ton) dan endurance (ketahanan terbang) yang pendek karena kapasitas bahan bakarnya lebih sedikit dibanding Super Puma. Belum lagi masalah kondisi alat komunikasi dan navigasi yang sudah termakan usia, pesawat ini memang semakin terasa kurang efektif untuk penerbangan jarak jauh, apalagi melintasi lautan (oversea flight).
 
Pesawat Twin Pac memerlukan perawatan yang sederhana. Karena rangkaian mekanis memang lebih mudah ditelusuri dibandingkan melacak wiring diagram digital. Di samping instinc mekanik yang umumnya sudah terlatih dengan permasalahan Twin Pac, secara umum Twin Pac memang memiliki sistem yang simple. Sikap mental yang telah terbentuk dengan sendirinya di kalangan maintainer, juga pilot adalah don’t worry about this aircraft, mate! It’s gonna be easy! (easy to fly, easy to keep). Dengan mentalitas seperti inilah kita menghadapi dan menerima Super Puma. Sesuatu yang sangat mendasar yang terlebih dahulu kita kerjakan adalah merevisi mentalitas ini. Untuk para pilot, pesawat ini tidak dapat diperlakukan seperti Twin Pac di udara (istilah yang populer di Skadron “ditekuk-tekuk”). Handling dan pengoperasian throttle, stick dan collective harus benar-benar smooth. Untuk para mekanik, pesawat ini tidak dapat asal ditebak bila ada trouble.
 
Setiap permasalahan harus ditelusuri seperti dicantumkan dalam maintenance manual. Adjustment atau resetting terhadap suatu bagian sistem harus dilakukan secara perlahan, dengan peralatan khusus (special tools) yang akurat. Bila tidak, dengan cepat permasalahan akan merambat ke bagian-bagian lain, dapak lainnya akan mudah ditebak yaitu pesawat bukan semakin baik, tapi justru semakin tidak karuan.
 
Perlengkapan pesawat yang serba elektrik menyebabkan pesawat menjadi begitu sensitif terhadap kondisi sekitar. Misalnya, ia tidak boleh diparkir terlalu lama di tempat terbuka, terutama bila cuaca panas karena instrument wiring-nya akan terpengaruh. Perangkat komunikasi di pesawat ini umumnya menggunakan optic fibre (serat optik) yang sensitif terhadap panas. Bila sudah memuai, ia tidak dapat berfungsi normal dan komunikasi dalam penerbangan akan terganggu. Penguasaan terhadap sistem pesawat pada akhirnya menjadi sesuatu yang mutlak. Sampai hari ini Skadron Udara 6 masih terus belajar dan belajar dengan berbagai cara : berkonsultasi dengan pabrik, dengan satuan lain yang telah terlebih dulu mengoperasikan Super Puma dan memeliharanya, juga dengan membaca sebanyak mungkin buku. Selain itu, beberapa pilot kita berkesempatan mengikuti pelatihan AS-332 Flight Simulator Training yang diselenggarakan di Marignane Perancis pada bulan Juli 2002. Mereka adalah Letkol Pnb Hari Budianto (Komandan Skadron Udara 6), Mayor Pnb Irwan (sekarang Letkol), Mayor Pnb Bayu, Mayor Pnb Pandu dan Mayor Pnb Fachrizet.

Pesawat ketiga dengan registrasi H-3213 (NSP-13) telah memperkuat Skadron sejak 30 Oktober 2002. Pesawat ini di-delivery langsung oleh Komandan Lanud Atang Sendjaja Kolonel Pnb T. Djohan Basyar bersama Letkol Pnb Irwan Dunggio dan JMU Serka Bukhori. Sejak Oktober 2002 ini pula satu pesawat ditempatkan di Lanud Supadio Pontianak dalam rangka stand by SAR pesawat tempur TNI AU yang ada di sana. Jelas komplikasi persoalan bertambah, karena meskipun baru, kelengkapan pesawat ini yang berupa tools maupun dokumentasi tekniknya terbatas. Namun sekali lagi, tekad untuk mengabdi mangalahkan semua keterbatasan itu dan hingga hari ini pengabdian Skadron Udara 6 belum berubah.
 
Pembinaan sumber daya manusia yang dilakukan secara mandiri oleh Skadron dalam upaya regenerasi pada pesawat inipun telah membawa hasil. Ini terbukti Skadron Udara 6 telah menghasilkan beberapa pilot lagi yang dididik oleh Skadron sendiri, dengan ditangani oleh penerbang instruktur yang telah diluluskan oleh PT.DI. Bahkan, Skadron Udara 6 juga telah berhasil mendidik beberapa pilot dari Skadron Udara 8 sehingga mereka berhak menyandang Cougar Number yang merupakan call sign para pilot Super Puma Skadron Udara 6. Di lingkungan mekanik, beberapa pembantu JMU yang capable pun telah dihasilkan sebagai output dari pembinaan mandiri ini. Dukungan pimpinanpun besar artinya dalam semua keberhasilan ini. Saat ini, apron di di depan hanggar sudah diperbaharui sehingga menjadi lebih mulus dan sebuah shelter (bangunan tempat parkir pesawat di luar hanggar) dengan kapasitas 6 pesawat telah dibangun.
 
Kepercayaan negara dan masyarakat Indonesia ini diterima sebagai sebuah anugerah yang sangat disyukuri oleh segenap anggota Skadron Udara 6 dan kami bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kepercayaan itu. Saat ini, Skadron Udara 6 mengawaki 2 type pesawat dan sebagian diantaranya ditempatkan di luar home base. Satu pesawat S-58T dan satu NAS-332 berada di kawasan Aceh dalam rangka Operasi Terpadu/darurat militer menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Satu pesawat berada untuk keperluan standby SAR pesawat tempur di Lanud Pekanbaru (S-58T “Twin Pac”), satu di Lanud Iswahjudi Madiun (S-58T “Twin Pac”), satu di Lanud Supadio Pontianak (NAS-332 “Super Puma”) dan satu pesawat berada di bawah kendali operasi (BKO) Kodam VII/Trikora Jayapura (S-58T “Twin Pac”).

Rotasi penggantian crew dilakukan rata-rata 2 minggu sekali untuk spot selain Jayapura, yang sebulan sekali. Dengan rotasi penugasan yang seperti ini saja, Skadron ini sudah sedemikian sibuk dengan kegiatan. Ini belum ditambah dengan penugasan tidak terjadwal yang bisa datang kapan saja : misi-misi Kodal, SAR atau penugasan lain yang tidak direncanakan sebelumnya. “Twin Pac” saat ini berjumlah 9 pesawat , dengan 7 pesawat yang disirkulasikan dalam satu tahun anggaran. Sementara, “Super Puma” ada 3 pesawat dengan 2 pesawat yang disirkulasikan.

Sirkulasi pesawat berguna untuk menjaga kesiapan pesawat tetap tinggi, sehingga bila ada pesawat yang menjalani perawatan, kesiapan relatif tidak berubah. Perawatan yang dimaksud adalah yang dilakukan secara berkala (tiap 25,50 dan 100 jam untuk S-58T “Twin Pac” dan 50,100,250 dan 500 jam untuk NAS-332 “Super Puma”).
 
Dengan frekwensi dinas luar yang tinggi, penerbang ataupun mekanik bisa jarang berada di rumah. Baru di rumah beberapa hari, tugas luar berikutnya menanti. Atau ada unscheduled flight yang tidak diduga. Inilah pentingnya “membina sebuah keluarga”. Semua anggota yang berada di luar Skadron harus dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan tenang tanpa terganggu pikiran-pikiran tentang anak istrinya di rumah. Skadron berusaha menjamin semuanya itu, sehingga keluarga-ke
luarga yang ditinggal sang Bapak ke luar daerah dalam jangka waktu yang cukup lama tidak khawatir, karena di sekeliling mereka ada orang-orang yang siap membantu bila ada masalah. Bahkan boleh percaya boleh tidak pernah ada seorang anggota yang telah mempunyai tiga orang anak tanpa pernah sekalipun menunggui istrinya saat melahirkan anak-anaknya, karena sedang berdinas di luar pulau. Juga, seorang anggota yang harus pergi berdinas tanpa sempat memberi nama anaknya yang baru lahir. Sebuah pengorbanan yang bila tidak ada rasa saling membantu dan memiliki, hanya akan menimbulkan kesedihan serta rasa khawatir bagi yang bersangkutan. Remember, we are a family!

Suka Duka Di “Luar Rumah”

Berada jauh dari rumah dalam waktu relatif lama adalah hal yang familiar bagi anggota Skadron Udara 6. Dengan 6 pesawat (sampai saat buku ini disusun) berada di luar home base—5 pesawat bahkan di luar Jawa—penugasan keluar (dinas luar) menjadi makanan “periodik” warga Skadron : dari Perwira sampai PNS. Penggantian crew untuk spot Medan/Aceh,Madiun, Pekanbaru dan Pontianak normalnya dilaksanakan 2 minggu sekali. Tugas mereka di sana adalah sebagai standby crew untuk SAR pesawat tempur TNI AU (F-16, F-5 dan Hawk 100/200), sementara untuk daerah Aceh mereka berada di bawah kendali Koops TNI dalam pelaksanaan Operasi Terpadu. Di home base pesawat tempur, untuk mempertahankan profisiensi awak pesawat, training biasanya dilakukan pagi hari sebelum para fighter memulai penerbangan. Setelah pesawat-pesawat tempur mulai menderu, crew helikopter akan standby bila sesuatu terjadi dengan pesawat-pesawat tempur tersebut dan diperlukan tindakan cepat untuk mengamankan pilot tempur kita.

Mereka kembali ke mess setelah pesawat tempur selesai melaksanakan latihan dan tidak terjadi apapun di luar rencana.
 
Di Papua, kondisinya sedikit berbeda. Karena tempatnya yang relatif jauh dan memakan waktu lama untuk mencapainya, penggantian crew dilaksanakan sebulan sekali (biasanya pada pertengahan bulan dengan pesawat C-130 “Hercules”). Tugasnyapun berbeda karena helikopter berada di bawah kendali operasi (BKO) Kodam VII/Trikora. Tugas utamanya adalah mendukung operasi dan mobilitas pasukan TNI di sana, baik personel maupun logistik. Disinilah helikopter kita terbang melintasi alam Papua dengan angkutan yang beraneka ragam : bahan makanan, senjata dan amunisi, pasukan, sampai bahan bangunan yang akan dipakai oleh TNI untuk membuka daerah pedalaman. Bila misi yang diemban menyangkut tawanan perang (dari gerombolan bersenjata pengacau keamanan), atau dropping pasukan ke kawasan konflik, helikopter harus siap dengan resiko tembakan musuh. Ini belum termasuk resiko berhadapan dengan alam Papua yang ganas dan tak bersahabat : hutan yang lebat, bukit-bukit, tebing terjal, sungai yang deras, binatang buas dan cuaca yang bisa berubah dengan cepat. Kesalahan kecil akan memberi kesulitan amat besar mengingat pesawat bisa jatuh atau mendarat darurat ”in the middle-of-nowhere”. Tidak ada tempat bertanya, tidak ada orang untuk minta tolong. Yang ada hanya alam yang belum tersentuh dengan segala keganasannya atau suku pedalaman yang belum tentu bersahabat dengan kita.
 
Di Skadron Udara 6, jam dinas dimulai pukul 07.00 WIB ditandai dengan apel pagi dan diakhiri pada pukul 14.45 WIB saat apel siang. Setelah apel pagi, aktivitas penerbangan dimulai. Baling-baling menderu menghangatkan pagi di kota hujan. Yang tidak terlibat dalam penerbangan memiliki kesibukan masing-masing : membersihkan lingkungan hanggar, meyiapkan laporan penerbangan harian atau berolahraga pada hari Selasa dan Jumat. Bila ada pesawat yang sedang dirawat, anggota yang telah ditentukan untuk tugas itupun bekerja dengan pengawasan perwira teknik atau inspektor.
 
Setiap pekerjaan selalu memiliki seni tersendiri. Yang jelas, apapun pekerjaannya, kita berusaha untuk senang berada di dalamnya. Rasa senang itulah yang membuat pekerjaan tidak terasa melelahkan, cepat selesai dan memuaskan pada akhirnya. Kalaupun ada persoalan, organisasi telah menyediakan wahana yang cukup memadai. Untuk masalah kesehatan, ada dokter Skadron dan sebuah ruang kesehatan. Untuk masalah lain, biasanya anggota menyampaikan kepada Dan Flight atau Kepala Urdal yang selalu siap menampung. Bila masalah-masalah tersebut tidak dapat diselesaikan di “bawah”, barulah dilaporkan pada Komandan Skadron.
 
Fasilitas saat ini memang relatif lebih baik dibandingkan masa-masa dulu (bila kita mendengar cerita para senior). Sekarang ada komputer, ada televisi di berbagai ruangan, ada fasilitas telepon, facsimile dan sebagainya. Fasilitas pemeliharaan—sekalipun belum lengkap—sudah cukup baik. Selain hanggar yang representative, ada fasilitas bengkel, air compressor, listrik yang cukup dan lain-lain. Pembenahan terus dilakukan dan kitapun berusaha agar segala keterbatasan ini tidak menjadi rintangan untuk memenuhi kewajiban bagi nusa dan bangsa.
 
Hari tidak pernah terasa panjang bagi Skadron Udara 6. Kesibukan telah membawa kita melalui hari-hari dengan cepat. Rutinitas, aktivitas terbang, permasalahan pesawat dan aktivitas yang lain telah cukup untuk menghantar kita ke sore hari, saat matahari telah semakin condong ke barat, saat keluarga telah menanti di rumah……Cukup untuk hari ini, hari esok sudah menanti. Tetaplah berbakti!

Prestasi Yang Pernah Dicapai Skadron Udara 6

1. Juara Umum Pekan Olah Raga HUT Wingops 004 ke 11 tahun 1976.
2. Juara Umum Pekan Olah Raga HUT Wingops 004 ke 13 tahun 1978.
3. Juara I Lomba Cerdas Cermat Antar Kedinasan dalam rangka HUT PIA Ardhya Garini Ke 32 tahun 1988.
4. Juara kelompok Helikopter Skadron Operasional tahun 1988.
5. Juara Kelompok Progress Pembinaan Tahun 1990-1991.
6. Juara Kelompok Helikopter Tahun 1992-1993.
7. Trophy Bergilir Bidang ilmu Pengetahuan Kejuangan Periode April- Maret tahun 1993-1994.
8. Trophy Bergilir Bidang Kambangja Periode April-Maret 1993-1994.
9. Terbaik Umum Uji Terampil Satuan TNI AU Tahun 1994-1995.
10. Terbaik Helikopter Tahun 1994-1995.
11. Terbaik Umum Uji Terampil Satuan TNI-AU Tahun 1995-1996.
12. Terbaik Helikopter Tahun 1995-1996.
13 Terbaik Helikopter Tahun 1996-1997.
14. Terbaik Helikopter Tahun 1997-1998.
15. Juara II Sepak Bola dalam rangka HUT TNI AU ke 56 Tahun 2002.
 
Para Pejabat Komandan Skadron Udara 6

1. KAPTEN UDARA R. SOEMARSONO 1961
2. MAYOR UDARA SOEWOTO SOEKENDAR 1961 – 1964
3. KAPTEN UDARA IMAM SOEWONGSO 1964 – 1965
4. LETNAN UDARA I SP OETOMO 1965 – 1968
5. KAPTEN UDARA SLAMET MOCHTAR 1968 – 1970
6. MAYOR UDARA ALIP SUPARMAN 1970 – 1971
7. MAYOR UDARA M. SOFYAN 1971 – 1973
8. MAYOR PNB PRAMONO ADAM 1973 – 1976
9. MAYOR PNB ANDAYA LESTARI 1976 – 1979
10. MAYOR PNB JS PRIYONO 1979 – 1980
11. LETKOL PNB SP SIREGAR 1980 – 1981
12. LETKOL PNB FX SUWARNO 1981 – 1984
13. MAYOR PNB SUTARDJO W. 1984 – 1987
14. LETKOL PNB RUKMA SUSETYASTA 1987 – 1989
15. LETKOL PNB SUBIYARTO 1989 – 1991
16. MAYOR PNB HASTANTO 1991 – 1992
17. LETKOL PNB BAMBANG SUGITO 1992 – 1994
18. LETKOL PNB IGN BASUKI 1994 – 1996
19. LETKOL PNB M. BARKAH 1996 – 1998
20. LETKOL PNB ZULHASYMI 1998 – 2000
21. LETKOL PNB DERI PEMBA SYAFAR 2000 – 2002
22. LETKOL PNB HARI BUDIANTO 2002 -sekarang

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel